Bab 2

“Untung kita sekelas.” Kata Yola senang, ia menyengir kearah Kirana yang berjalan bersamanya menuju kelas setelah upacara penyambutan.

“Iya, aku senang kita sekelas.” Sahut Kirana, ia tersenyum kearah Yola, teman barunya.

Belum kenal dekat saja Kirana sudah tahu Yola seorang Balerina yang ceria dan supel, berbeda dengan dirinya yang pendiam. Namun begitu karena Yola bersamanya ia jadi kenal semua siswa dan siswi yang diajak mengobrol oleh Yola. Kirana juga tidak menyangka Yola sama seperti dirinya mengidolakan Rangga Ferdinand, Yola mendaftar ke sekolah BBI karena Rangga Ferdinand, dan sepertinya murid baru yang mendaftar di sekolah BBI sama seperti dirinya dan Yola, mereka mendaftar karena Rangga Ferdinand. Yola yakin lulus karena pada saat ujian masuk ia membawakan Swan Lake dengan anggun.

Sepanjang upacara penyambutan murid baru di aula, Kirana dan Yola hampir sebagian besar membicarakan Rangga Ferdinand dan berharap Rangga Ferdinand muncul ketika upacara, namun yang diharapkan mereka tidak terjadi. Rangga Ferdinand tidak hadir dalam upacara penyambutan murid baru. Kirana sedikit kecewa karena Rangga Ferdinand tidak hadir, begitu juga Yola dan Balerina yang mengharapkan Rangga Ferdinand hadir dalam upacara penyambutan murid baru.

“Kirana kamu mau ikut pemilihan untuk kompetisi balet di Swiss? Tanya Yola mengalihkan pikirannya.

“Memangnya bisa? Kita kan murid baru.” Jawab Kirana.

“Kamu gak dengar tadi, semua boleh ikut pemilihan untuk kompetisi, aku sih mau ikut, terpilih syukur, gak juga gak apa apa.” Kata Yola terkekeh. “Siapa tahu aku terpilih jadi pasangan Rangga Ferdinand.” Tambah Yola cekikikan, ia tahu itu tidak mungkin, namun ia senang dengan khayalannya yang menari balet dengan Rangga Ferdinand yang tampan.

“Mengkhayal.” Tukas Kirana tertawa seolah melihat khayalan Yola. Kirana memang tidak mendengar tentang hal itu karena ia mendapat sms dari teman teman SMA nya yang akan mengadakan reuni 3 bulan kedepan.

“Gak mungkin tingkatan kita terpilih menjadi pasangan sang profesional.” Lanjut Kirana.

Itu memang benar, pasti banyak yang ingin menjadi pasangan menari Rangga Ferdinand. Terutama tingkat profesional yang sama dengan Rangga Ferdinand, sedangkan tingkat seperti mereka tidak mungkin terpilih menjadi pasangan menari Rangga Ferdinand. Meskipun mereka terpilih untuk mengikuti kompetisi di Swiss, tapi tidak akan mungkin menjadi pasangan menari Rangga Ferdinand.

Rangga Ferdinand berada di Proffesional Grade, sedangkan mereka dibawah satu tingkat dari Proffesional Grade, mereka mendapat kelas Advanced dan Contemporary karena nilai mereka tertinggi ketika ujian masuk. Namun ada juga yang murid baru seperti mereka yang masuk tingkat intermediate, tergantung nilai ujian masuk.

Di sekolah BBI ada 4 tingkat. Tingkat Elementary untuk kelas pemula, Intermediate untuk kelas menengah, Advanced dan Contemporary untuk kelas yang sudah jago, dan Proffesional Grade untuk tingkat kelas yang sudah profesional. Kirana juga tidak menyangka ia masuk ke kelas Advanced, ia kira akan masuk ke kelas Intermediate. Meskipun begitu ia akan bekerja keras untuk naik tingkat, namun untuk naik tingkat ke kelas Profesional syaratnya pernah ikut kompetisi di luar negeri, mau juara atau tidak, itu yang dikatakan di internet tentang kelas tingkat di sekolah BBI.

“Yola, kamu mau ikut pemilihan?” Tanya Kirana, tiba tiba ia ingin ikut pemilihan itu.

“Iya, aku ingin ikut kompetisi di luar negeri pasti sangat seru, selain mengasah kemampuanku, aku juga ingin mendapat teman Balerina atau Danseur diluar negeri.” Jawab Yola berbinar binar.

“Kalau kita terpilih, kelas kita juga naik ke kelas Profesional.” Kata Kirana menambahkan.

“Iya benar, bisa setingkat dengan Rangga Ferdinand.” Kata Yola ceria.

“Betul.” Kirana mengiyakan.

“Ok, kita berdua mendaftar dan jangan pikirkan saingan yang banyak, fokus dengan tujuan kita.” Saran Yola.

“Iya, kita harus semangat.”

“Benar, besok pemilihan baru dibuka dan besok setelah pelajaran di kelas kita langsung daftar.”

“Ok.” Kata Kirana sambil mengangguk.

Mereka melangkah ke kelas mereka dengan ceria. Sebelum masuk mereka melakukan finger print dulu, dan dengan otomatis nama mereka muncul. Pintu ganda kaca itu terbuka ketika nama mereka muncul. Kelas Advanced berbentuk bulat pipih, aula untuk menarinya luas lengkap dengan kaca besar panjang, dan tiang barre, besi panjang untuk melatih kaki agar tidak kram sebelum memulai menari balet, dan terdapat beberapa kursi empuk disebelah sisinya dekat jendela untuk para siswa dan siswi kelas Advanced, sebuah papan putih didepannya dengan meja disampingnya untuk instruktur, dan infokus disisi yang lain. Diseberang aula terdapat lorong menuju loker dan kamar ganti lengkap dengan kamar mandinya. Sungguh mewah gedung kelas Advanced, kelas ini bahkan dilengkapi beberapa kursi untuk menonton yang menghadap kearah aula, dan sebuah pintu yang menghadap ke lapangan berumput yang luas dengan taman yang mengelilingi lapangan itu, ditengah lapangan itu terdapat kolam besar yang diatasnya bunga teratai yang lebar, dan tempat duduk panjang yang tersebar di lapangan itu lengkap dengan mejanya. Lapangan itu biasa untuk tempat berkumpul para Balerina dan Danseur yang sedang istirahat atau sudah pulang sambil mengobrol atau sambil makan siang.

Kirana dan Yola memilih duduk didekat jendela sambil menunggu instruktur kelas Advanced datang. Sudah banyak yang duduk dikelas itu dan mereka sama sedang menunggu.

“Sepertinya banyak sekali yang masuk ke kelas advanced.” Kata Yola kepada Kirana yang duduk disampingnya.

“Iya.” Sahut Kirana sambil melayangkan pandangannya kearah siswa dan siswi kelas Advanced yang hampir sudah menduduki kursi. Nilai mereka pasti tinggi sama seperti dirinya ketika pengetesan ujian masuk.

Tiba tiba seorang instruktur wanita masuk melalui pintu kearah lapangan, ia sangat cantik dan rambutnya panjang, kulitnya sangat putih, seputih salju. Ia memakai setelan putih tulang dengan blouse dari sutra bertali tipis yang ditutupi oleh jas yang sama putihnya dengan blouse dan celananya. Ia melangkah kedepan dan berhenti didepan papan putih.

“Cantik sekali.” Bisik Yola kepada Kirana. Kirana mengangguk mengiyakan.

“Selamat datang di kelas Advanced and contemporary, perkenalkan saya Michelle Nayoko, saya salah satu instruktur kalian selama di kelas Advanced.” Katanya sambil tersenyum.

“Kenapa dikelas ini disebut contemporary, ada yang tahu?”

“Contemporary bersifat sementara Miss Michelle, dan karena sifatnya sementara maka kita bisa masuk kelas Profesional secara otomatis jika kita mengikuti kejuaraan diluar negeri, baik itu menang sebagai juara ataupun gak sama sekali.” Jawab seorang pemuda tampan, dengan rambut panjang diikat dan hidungnya mancung, tubuhnya tinggi dan atletis. Pemuda itu baru datang dan yang terakhir datang, ia melangkah kearah Michelle lalu berhenti didepan Michelle, hampir sangat dekat dengan Michelle, ia sengaja membelakangi siswa dan siswi kelas Advanced.

“Aku akan naik kelas secara otomatis.” Katanya pelan tanpa terdengar semua murid kelas Advanced.

“Jika kau ingin naik kelas ikuti peraturan disini, Revan.” Bisik Michelle tanpa risih karena berbicara berdekatan.

“Tentu saja, aku akan ikuti asal ada kamu disini.” Kata Revan Manggala seraya tersenyum, kedua matanya menatap Michelle tanpa berkedip. Ia berbalik dan melangkah kearah kursi yang satu satunya masih kosong.

“Ganteng banget.” Bisik Yola kepada Kirana, kedua matanya tampak terpesona.

“Gantengan Rangga.” Kirana balik berbisik. Pemuda itu memang ganteng, tapi seganteng apapun pemuda itu, menurut Kirana lebih ganteng Rangga Ferdinand. Ok ganteng itu relatif kan, dan Kirana tetap memilih Rangga Ferdinand.

“Tentu saja Rangga, dia sih gak ada saingannya.” Bisik Yola menyetujui sambil terkekeh.

“Benar, contemporary itu artinya bisa naik kelas ke kelas Profesional dengan mengikuti kompetisi di luar negeri.” Ujar Michelle kepada siswa dan siswi kelas Advanced, sehingga mengalihkan perhatian Kirana dan Yola kembali.

Tiba tiba ada tiga orang yang datang menghampiri, satu perempuan dengan rambut pendek seperti laki laki namun dengan gaya rambut yang modis, dan dua orang laki laki. Michelle berpaling kearah mereka dan tersenyum.

“Ini adalah Mrs. Nita Andira, Mr. Henry Raymond, dan Mr. Lui Ji hun, mereka instruktur kelas Advanced seperti saya.”

“Halo.” Sapa mereka kepada siswa dan siswi kelas Advanced.

Suara riuh ramai para siswa dan siswi menyambut mereka dengan membalas sapaan mereka secara bersamaan.

“Ok, sekarang dimulai dengan Mrs. Nita Andira untuk menjelaskan lebih lanjut, saya sebagai wali kelas akan menyerahkan jadwal latihan dan pelajaran melalui grup.” Kata Michelle, lalu ia berpaling dan berbicara kepada Mrs. Nita untuk melanjutkan, kemudian ia keluar dengan dua orang instruktur.

Kirana memperhatikan wanita cantik itu pergi dengan dua orang instruktur. Jadi Miss Michelle Nayoko itu wali kelas dari kelas Advanced. Pikir Kirana. Miss Michelle pasti akan sering sering melatih kelas Advanced.

“Baiklah sebelum memulai, saya akan absensi dulu.” Kata Mrs. Nita, ia mulai memanggil satu persatu anggota kelas Advanced.

Giliran Kirana yang dipanggil, Kirana segera mengangkat tangannya seraya berkata hadir. Mrs. Nita tiba tiba berhenti sesaat sambil memperhatikan Kirana agak lama, lalu ia melanjutkan mengabsen. Kirana tidak tahu kenapa ia diperhatikan oleh Mrs. Nita, tapi ia tidak mau memperpanjang soal itu, dan mulai menghitung lagi teman temannya yang diabsen satu persatu oleh Mrs. Nita. Dari awal Kirana sudah menghitung teman temannya, ia ingin tahu ada berapa teman temannya di kelas Advanced. Beberapa detik berlalu, absensi itu selesai, dan Kirana mendapati teman temannya berjumlah 50 orang, 35 orang perempuan, dan 15 orang laki laki. Entah mengapa Kirana dengan mudah menghitung dan hitungannya selalu tepat. Ketika ia menghitung jumlah teman temannya 50 orang, Mrs. Nita pun mengatakan semua anggota yang masuk ke kelas Advanced ada 50 orang. Hitungan Kirana benar, dan ia sudah mengetahuinya. Kirana tiba tiba tersenyum.

“Baiklah untuk kelas Advanced perlu kalian ketahui, kami instruktur kelas Advanced akan mendaftarkan kalian langsung mengikuti pemilihan untuk kompetisi di Swiss.”

Terdengar suara riuh ramai dikelas Advanced dan mereka tidak mengeluh atau tidak ada ekspresi tidak mau sebaliknya mereka tampak sangat senang. Yola berpaling kearah Kirana, dan Kirana juga berpaling kearah Yola. Mereka berdua senang karena mereka tidak perlu daftar sendiri.

“Aku tahu kalian pasti sangat senang, dan untuk bersaing dengan kelas Profesional kami sudah menentukan tema untuk kalian bawakan nanti pada saat ujian pemilihan, dan….”

“Mrs. Nita.” Kata Revan memotong sambil mengangkat tangannya.

“Iya Revan.”

“Bisa gak aku bawa tema pilihanku sendiri?”

“Tentu saja boleh.” Jawab Mrs. Nita lalu berpaling kearah siswa dan siswi kelas Advanced. “Kalian boleh menentukan tema apa yang akan kalian bawakan, atau mengikuti tema yang kami pilih.” Lanjutnya sambil tersenyum. Kembali riuh ramai dikelas Advanced

“Mrs. Nita mungkinkah kami bisa terpilih berpasangan dengan Rangga Ferdinand?” Kata salah satu anggota kelas Advanced, ia tertawa malu. Pertanyaannya membuat kelas itu ramai lagi.

“Tentu saja, tergantung usaha kalian menari balet nanti pada saat ujian pemilihan.” Jawab Mrs. Nita sambil tersenyum senang. Yola dan Kirana kembali saling bertatapan, mereka berdua sangat senang, ternyata kelas mereka bisa menjadi pasangan Rangga Ferdinand.

“Ada lagi yang bertanya?” Tanya Mrs. Nita, dan mengalihkan perhatian Kirana dan Yola kembali.

“Memangnya Rangga ikut lagi di kompetisi Swiss?” Tanya Revan.

“Iya, Rangga ikut.” Jawab Mrs. Nita, ia tidak melihat perubahan ekspresi dari Revan karena ia berpaling lagi kearah siswa dan siswi kelas Advanced. “Ada lagi pertanyaan?”

Tidak ada yang mengatakan apa pun sehingga Mrs. Nita melanjutkan. “Baiklah, untuk hari ini saya akan bagikan tema yang akan kalian bawakan di ujian pemilihan, kalian boleh memilihnya, tapi kalian juga boleh membawakan tema dari kalian sendiri. “Mrs. Nita berhenti sebentar, sambil mengambil spidol yang tersedia di meja itu.

“Setelah kalian memilih, nanti baru kita latihan sesuai dengan tema yang akan kalian bawakan untuk ujian pemilihan.” Lanjut Mrs. Nita lalu melangkah kearah papan putih untuk menulis tema pilihan instruktur kelas Advanced.

Semuanya ada 4 tema yang disarankan para instruktur kelas Advanced, salah satunya Harlequinade. Kirana senang Harlequinade ada, dan ia pasti akan memilih tema itu.

“Kirana, kamu pilih yang mana?” Tanya Yola disampingnya.

“Harlequinade, kalau kamu?” Kirana balik tanya kepada Yola.

“Tentu saja Swan lake.” Jawab Yola berseri. “Kita pilih tema yang sama ketika kita ujian masuk, aku senang Swan lake menjadi pilihan dari para instruktur, begitu juga dengan Harlequinade.” Lanjut Yola, ia mengerling kearah Kirana.

“Benar.” Kirana menyetujui ucapan Yola, tentu saja mereka tadi masing masing sudah cerita tema apa yang mereka bawa ketika ujian masuk ke sekolah BBI dan lolos dengan mendapat nilai tertinggi.

“Ok, silakan tentukan pilihan kalian atau jika gak ada tema yang cocok untuk kalian diantara tema yang sudah kami sarankan, boleh kalian beritahu kepada kami.” Ucap Mrs. Nita.

“Harus sekarang?” Tanya Revan.

“Harus sekarang karena besok akan di daftarkan.” Jawab Mrs. Nita lalu ia melanjutkan, “silahkan mengisi formulir yang akan saya bagikan.”

“Maaf Mrs. Nita, untuk pendaftaran berlangsung sampai satu minggu, jadi gak harus sekarang kan?” Tanya Revan lagi.

“Jika kamu masih belum menemukan tema yang cocok, boleh nanti mengumpulkan formulirnya.” Jelas Mrs. Nita.

“Makasih Mrs. Nita.” Ucap Revan.

Mrs. Nita mengangguk lalu melangkah kearah siswa dan siswi kelas Advanced untuk membagikan formulir.

“Silahkan kalian isi, jika sudah pasti kumpulkan formulirnya setelah istirahat, dan setelah istirahat berkumpulah di aula kelas Advanced.” Kata Mrs. Nita, ia berhenti sebentar, kedua matanya menatap kearah Revan, “yang sudah pasti tentunya.” Lanjutnya.

“Ok, istirahat dulu dan sampai ketemu nanti di aula setelah istirahat.” Kata Mrs. Nita setelah berpaling lagi kearah siswa dan siswi kelas Advanced. Lalu ia berbalik pergi menuju pintu keluar kearah lapangan.

Bab 3

“Kamu Kirana?”

Kirana mendongak dari formulir yang sedang diisinya. Ia sedang duduk sendiri dikelas dan sedang menunggu Yola yang membelikan makanan untuk mereka berdua. Kirana dan Yola memutuskan untuk makan dikelas, berbeda dengan para Balerina dan Danseur kelas Advanced yang lebih memilih makan di lapangan atau di kantin.

“Iya.” Jawab Kirana.

Kirana tidak menyangka pemuda ganteng yang banyak bertanya kepada Mrs. Nita melakukan percakapan dengannya. Pemuda itu sedang duduk didepan Kirana, kedua tangannya dikaitkan didepan dadanya sambil menatap Kirana tampak penasaran.

“Aku Revan.” Kata Revan, memperkenalkan diri dengan singkat, dan ia tahu Kirana pasti sudah mengetahui namanya dari absensi tadi, sama seperti dirinya yang mengetahui Kirana yang terkenal dikalangan para instruktur dari absensi.

Kirana mengangguk. “Bisa saya bantu?” Tanya Kirana.

Tiba tiba Revan tertawa, Kirana mengerutkan keningnya bingung.

“Kamu sangat formal.” Kata Revan setelah menguasai diri. “Gak usah formal karena kita akan sekelas.” Revan berhenti sebentar sambil membetulkan posisi duduknya. “Kau tahu aku penasaran dengan tarianmu, kau sangat terkenal karena nilaimu paling tinggi.” Lanjutnya

“Aku gak terkenal dan nilaiku sama seperti murid disini.” Ujar Kirana.

Kirana tidak tahu apa yang dibicarakan Revan. Nilainya paling tertinggi dan ia terkenal. Betulkah itu. Kirana baru mengetahuinya. Kirana memang tidak melihat data nilai secara menyeluruh di kelas Advanced karena ia terlalu senang dengan hanya lolos masuk ke sekolah BBI. Tiba tiba ia teringat sikap Mrs. Nita kepadanya waktu absensi. Benarkah ia terkenal?

“Ayolah jangan merendah.” Kata Revan sambil menarik lengan kaos turtleneck abu abunya, namun tatapannya tidak beralih dari Kirana. “Semua instruktur memuji tarian baletmu, dan aku sangat penasaran bagaimana rasanya menari denganmu, mungkin saja kita bisa berpasangan untuk menari di kompetisi di Swiss.” Lanjut Revan sehingga membuat Kirana tercengang mendengar kalimat frontal yang dilontarkan Revan yang ingin berpasangan dengannya, padahal baru kenal.

“Kirana akan menari balet denganku.” Sahut seseorang yang baru datang.

Kirana berpaling kearah orang itu. Rangga Ferdinand melangkah menghampiri mereka. Kirana semakin tercengang dan ia tidak bisa mengatakan sepatah katapun saking terkejutnya melihat orang yang diidolakannya berada satu ruangan dengannya. Rangga Ferdinand sangat tampan. Jantung Kirana berdegup kencang melihat ketampanan Rangga Ferdinand. Rambutnya yang hitam dan kulitnya yang putih juga hidungnya yang macung seakan terpatri didalam benak Karina, bahkan Rangga Ferdinand lebih tampan ketika melihatnya langsung. Ia memakai kemeja putih dengan outer sweater hitam berlengan panjang dan celana hitam.

“Sang Profesional sebaiknya memilih kelas Profesional daripada kelas Advanced.” Saran Revan, kedua matanya berubah dingin.

“Aku yang memilih pasanganku sendiri.” Kata Rangga ketika berhenti didepan Revan yang sudah berdiri dari tempat duduknya ketika melihat Rangga, kedua mata Rangga sama dinginnya dengan Revan

“Tentu saja, gak ada yang melarangmu, tapi semua orang pasti akan membicarakanmu karena kau nepotisme.” Ejek Revan, ia tersenyum sinis.

Rangga tidak mengatakan apa apa, tatapannya berubah tajam kearah Revan.

Tunggu dulu. Apa Rangga dan Revan saling kenal? Mereka terlihat seperti bermusuhan. Pikir Kirana. Kirana berdiri dari kursinya tanpa mengatakan sepatah katapun karena ia tidak mengerti apa yang terjadi diantara Rangga dan Revan. Dan apa maksud Rangga barusan. Rangga ingin menari berpasangan dengannya. Tidak mungkin. Ini pasti mimpi. Kirana menelan ludahnya, ia tidak tahu harus melakukan apa.

“Rangga!” Seru seorang perempuan.

Semua berpaling kearah perempuan itu. Perempuan itu sangat cantik dan berwajah blasteran. Rambutnya berwarna coklat dan digerai sampai punggung. Ia memakai rok mini hijau muda, dan blouse putih berlengan pendek. Perempuan itu menghampiri dan sebelum ia berhenti ia melihat kearah Kirana agak lama, lalu ia berpaling kearah Rangga.

“Latihan akan dimulai kenapa kamu pergi ke kelas Advanced.” Kata Perempuan itu, ia berpaling kearah Revan ketika mengatakan kata terakhir seolah menyindir kalau kelas Advanced dibawah kelasnya.

“Avery Claudia long time no see.” Ucap Revan, ia tahu sindiran yang diarahkan kepadanya. “Kau gak berubah, gak kangen padaku?” Tanya Revan.

Avery tertawa. “Kau kemana saja Revan, kenapa baru kesini?”

“Bukan aku baru kesini tapi Rangga yang gak suka aku disini.” Sindir Revan kepada Rangga.

Rangga memincing. “Kau lupa kau melakukan kesalahan kepadaku.” Katanya dingin.

“Kau yang melakukan kesalahan bukan aku.” Tukas Revan sama dinginnya.

“Sudahlah, bisakah kalian lupakan masa lalu?” Tanya Avery melihat tatapan tajam dari Rangga dan Revan.

Tidak ada tanggapan dari Rangga dan Revan, mereka masih saling bertatapan tajam. Kirana terdiam mematung. Ia tahu seharusnya pergi dari situ karena ia tidak mau ikut campur masalah masa lalu pertemanan. Ia menyadari dari sejak Rangga datang, Rangga tidak melirik kearahnya meskipun Rangga berbicara ingin berpasangan dengannya. Entah mengapa hati Kirana merasa kecewa. Tiba tiba Rangga melangkah pergi tanpa mengatakan apa apa, dan tanpa melirik kearah Kirana. Avery melihat Rangga pergi, sebelum ia mengikuti Rangga pergi ia melihat kearah Revan, mereka saling berpandangan sesaat lalu Avery melangkah pergi.

Setelah Rangga dan Avery keluar dari kelas Advanced, suasana hening menguasai ruangan itu. Kirana kembali duduk dikursinya, ia merenung setelah apa yang dilihatnya tentang Rangga Ferdinand barusan. Ïa tidak menyangka sikap Rangga Ferdinand seperti itu kepadanya seolah ia tidak ada. Kekecewaan bercampur rasa kesal meliputi hatinya. Ia bahkan tidak mengatakan apapun kepada Revan, ia sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Kirana!” Seru Yola, ia berlari menghampiri sambil membawa dua kotak makan siang. Kirana mendongak melihat Yola, dan ia merasa lega karena temannya sudah datang.

Revan berpaling kearah Kirana. “Aku tetap ingin berpasangan denganmu, please pikirkan tawaranku.” Kata Revan sebelum Yola sampai, tampak permohonan terpancar dari kedua matanya sebelum ia berpaling dan melangkah pergi.

Apa apaan itu? Kenapa Kirana merasa ia diperebutkan. Sebenarnya apa yang terjadi dan kenapa Rangga bisa tahu tentang dirinya. Sebaiknya ia mencari tahu daripada ia merasa bodoh karena diperebutkan oleh dua orang yang Kirana belum kenal. Untuk Rangga mungkin ia kenal sedikit melalui TV dan Internet.

“Kirana, aku lihat Rangga Ferdinand keluar dari kelas Advanced, apa yang terjadi?” Tanya Yola ingin tahu, ia melirik kearah Revan pergi. “Kenapa Revan berbicara kepadamu?” Tanya Yola lagi.

“Revan ingin berpasangan denganku.”

“Apa!” Seru Yola tampak tidak percaya. “Lalu Rangga?”

“Entahlah.” Jawab Kirana. Ia tidak mengatakan kalau Rangga juga ingin berpasangan dengannya. Ia tidak yakin karena melihat sikap Rangga seperti itu kepadanya. Rasa kecewa dan kesal masih menguasai hatinya.

“Kamu beli apa?” Tanya Kirana sengaja mengalihkan pembicaraan. Kirana tidak mau membicarakan Rangga atau kejadian barusan yang menganggap seolah ia tidak ada, selain itu perutnya sudah lapar.

“Aku beli cheese rice fried dan mango jus.” Jawab Yola, namun ia masih penasaran sehingga ia angkat bicara lagi. “Kirana, apa yang terjadi barusan, kenapa Rangga kesini?”

“Kita makan dulu.” Sahut Kirana sambil mengambil makanannya.

“Tapi….”

“Mmm….” Kirana menggeleng sambil mengunyah dan menunjuk nunjuk makanan didepan mereka bermaksud makan dulu kepada Yola sehingga menghentikan pertanyaan Yola yang tampak masih penasaran. Yola mengalah dan mengambil makanannya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED