Olivia mengangguk, “Dia berselingkuh dengan Prisa, Ma.” Adelia dibuat terbelalak mendengar nama yang disebut Olivia, wanita itu semakin tak percaya. Prisa adalah sahabat putrinya, mana mungkin dia mengkhianatinya? “Dan … dia … Dia sedang mengandung anaknya Al. Apa yang harus aku lakukan, Ma?” Olivia semakin terisak, dan Adelia langsung lemas diiringi rasa sesak di dadanya.
Adelia merengkuh tubuh Olivia kedalam pelukannya, membuat Olivia semakin menangis tersedu-sedu, menumpahkan seluruh rasa sakitnya.
Tangisan Olivia yang begitu pilu, membuat hati Adelia tersayat dan membeku, hingga ia tak mampu lagi membendung air mata itu. Namun dengan segera, Adelia menghapusnya. Ia tak ingin, air matanya menjadi kelemahan yang membuat Olivia semakin rapuh.
Olivia butuh penenang, Olivia butuh kekuatan, bukan air mata yang membuatnya semakin tak berdaya dalam kesakitan.
Untuk itu, ia harus bisa kuat di hadapan putrinya itu.
“Apakah Prisa sendiri yang mengatakannya padamu?” Olivia mengangguk, tanpa menghentikan isakan tangisnya. “Kamu sudah bertanya pada Alvaro?” Olivia menggeleng. “Jadi, kamu pergi dari rumah tanpa sepengetahuan Alvaro?” Olivia kembali mengangguk. Ia hanya bisa menggerakkan tubuhnya saat ini, mulutnya sudah tak mampu lagi untuk bicara.
Adelia menghela napasnya, berat. “Ya sudah, lebih baik Mama antar kamu ke kamar, kamu istirahat dan tenangkan diri dulu. Nanti biar Mama yang akan bicara dengan Alvaro,” tuturnya.
Adelia pun, mengantar Olivia ke kamarnya.
Adelia bergegas menghubungi Alvaro.
[Alvaro, apa yang kamu lakukan pada putri Mama, Nak?] Adelia langsung bertanya tanpa basa-basi, setelah Alvaro menyapanya dari seberang telepon.
[Maksud Mama?] Alvaro tak mengerti.
[Olivia pergi dari rumah, dia datang pada Mama dan mengatakan, kalau Alvaro telah berselingkuh dengan Prisa.] Alvaro tak langsung membalas. Dalam beberapa detik, Adelia tak mendengar suara Alvaro dari seberang sana. Adelia tau, kalau Alvaro pasti sangat terkejut.
[Ma, itu … itu—]
[Jadi benar, kamu telah berselingkuh dengan Prisa?]
[Bukan begitu Ma, aku—] Lagi-lagi, Adelia memotong ucapan Alvaro, [Alvaro, Nak, Mama dan Papa telah menitipkan Olivia padamu dengan harapan, kamu tidak akan pernah menyakitinya. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu membuat Olivia pulang dengan membawa luka?] Meskipun marah, Adelia berusaha tetap tenang, saat ia bicara dengan menantunya.
[Ma, maafkan aku. Tapi aku juga tidak tau kenapa aku bisa melakukan itu? aku tidak sadar waktu itu….]
[Sampai membuat Prisa hamil, kau bilang tidak sadar, Alvaro? Mama benar-benar kecewa padamu, Nak.] Sebelum emosinya meledak, Adelia bergegas mengakhiri panggilannya.
Sementara di tempat lain, Alvaro terlihat marah. Netranya berubah gelap, wajahnya berubah merah padam. “Prisa! Wanita itu benar-benar telah mengabaikan peringatanku!” desisinya, dengan tangan yang terkepal kuat, hingga urat-urat seksi di tangannya terlihat menyembul jelas.
Dua hari yang lalu, Prisa datang ke kantornya dan mengatakan tentang kehamilannya pada Alvaro, “Aku akan bertanggung jawab atas anak yang kau kandung, aku akan mengirimkan uang setiap bulan padamu dengan syarat, jangan sampai Olivia atau siapapun tau tentang ini. Aku ingin hanya kau dan aku saja yang tau, tutup mulutmu rapat-rapat, atau aku tidak akan mengampunimu!” Namun rupanya, peringatan itu tidak dihiraukan oleh Prisa, sehingga wanita itu dengan terang-terangan mengatakannya pada Olivia.
Darahnya seakan mendidih, bersamaan dengan meluapnya emosi. Alvaro beranjak dari tempat duduknya, membawa langkah lebarnya meninggalkan ruangan itu.
Kemacetan yang sudah menjadi ciri khas di jalanan ibukota, membuat Alvaro tak bisa memacu kendaraannya dengan cepat, sehingga membuat pria itu semakin terbakar emosi. “Kendaraan-kendaraan sialan! Bisakah mereka tidak menghalangi jalanku?!” Alvaro berulangkali menekan klakson, namun itu hanya sia-sia, tak merubah jalanan padat itu menjadi lenggang.
Ingin rasanya Alvaro berteriak, menerobos, dan menabrak kendaraan-kendaraan yang menghalangi jalannya itu, supaya dia bisa melesat, dan segera sampai ke tempat tujuannya. Namun itu hanya akan membuatnya terlihat bodoh, karena bisa saja, menerobos kendaraan-kendaraan itu, bukannya membuat Alvaro melesat lancar di jalan raya, malah akan membuatnya melesat ke alam baka.
Alvaro menarik napasnya dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan, berharap bisa sedikit mengontrol emosinya. Jangan sampai kemarahannya itu membuat nyawa orang-orang tak berdosa melayang begitu saja.
Sesampainya di gedung apartemen dimana Prisa tinggal, Alvaro bergegas membawa langkah lebarnya menuju unit kamar Prisa, ia sungguh tak sabar untuk membuat perhitungan dengan wanita ular itu.
“Alvaro? Masuklah.” Prisa memberi jalan pada Alvaro, dan Alvaro pun melenggang masuk melewati Prisa.
Prisa kembali menutup pintu, seraya tersenyum samar. Ia tentu tau, apa yang membuat Alvaro datang menemuinya.
“Duduklah, aku akan ambilkan minum untukmu.” Namun bukannya duduk, Alvaro malah mendorong tubuh Prisa, hingga punggung wanita itu sedikit membentur dinding, Alvaro mencekik leher Prisa dengan satu tangannya, hingga membuat Prisa kesakitan dan sulit bernapas. “Al … lep-paskan!” Prisa menarik tangan Alvaro yang tengah mencengkeram lehernya.
“Ini adalah hukuman untukmu yang telah mengabaikan peringatanku! Aku sudah bilang supaya kau tutup mulut, tapi kau malah mengatakannya pada Olivia! Haruskah aku memotong lidah berbisamu ini?!” desisnya. Kemarahan tergambar jelas di wajah Alvaro, namun itu tidak membuat Prisa takut sama sekali. Ia hanya tidak kuat menahan sakit dari cengkeraman kuat di lehernya, dan membuatnya hampir kehilangan oksigen. Prisa meraih tangan Alvaro yang lain, dan menempelkan telapak tangan Alvaro di perut ratanya, berharap, hati Alvaro sedikit tersentuh dan mau melonggarkan cengkeraman di lehernya.
Dan ya, Prisa berhasil! Alvaro langsung melonggarkan cengkeraman tangannya.
Alvaro melepaskan cengkeramannya itu dengan kasar, seraya mengumpat, “Sial!” Jika saja tidak ada anaknya di rahim Prisa, Alvaro sudah membunuh wanita itu. Namun janin yang sedang tumbuh itu, membuatnya lemah, dan tak bisa melakukan apa yang dia inginkan terhadap wanita ular itu.
“Uhuk! Uhuk!” Akhirnya, Prisa bisa kembali bernapas. Tersungging sebuah senyuman licik di wajahnya yang tak dilihat oleh Alvaro yang kini membelakanginya. “Aku tau, kau tidak akan bisa melukaiku selama ada anak ini di rahimku,” batinnya.
Ia lalu berjalan beberapa langkah, sampai ia berdiri sejajar dengan Alvaro, “Bukan uang yang aku inginkan Alvaro, tapi tanggung jawab! Aku ingin kau menikahiku, aku tidak ingin anak ini lahir tanpa ayah! Mengatakan kebenaran pada Olivia adalah caraku supaya kau mau bertanggung jawab atas diriku dan anak ini. Aku tidak peduli jika kau akan membunuhku sekalipun! Karena dengan kau membunuhku, maka anak ini akan mati bersamaku!” Netra Alvaro semakin nyalang mendengar ucapan Prisa. Tentu ia tak ingin menjadi penyebab kematian anaknya sendiri.
“Aku tidak perlu menikahimu supaya anak itu mendapat pengakuan dariku! Aku akan mengakuinya meski aku tidak menikahimu, aku akan tetap merawat anakku!” tegas Alvaro.
“Kau pikir, aku ini wanita macam apa, Alvaro? Kau hanya akan mengakui anakmu, tapi tidak ingin mengakuiku yang telah mengandung anak ini? lelucon macam apa, ini?” Prisa terus menyembur Alvaro dengan bisanya.
“Ya, itu benar! Aku bisa mengakui anakku, tapi aku tidak bisa mengakuimu dan menempatkanmu di sisiku, karena tidak ada tempat untuk wanita lain di hatiku selain Olivia!” Alvaro menegaskan dengan memperjelas nama ‘Olivia’, lalu melenggang pergi dari hadapan Prisa.
Mendengar nama Olivia, membuat Prisa terbakar cemburu dan emosi. Napasnya memburu, dadanya naik turun bersamaan dengan kuatnya kepalan tangannya. Prisa membanting tubuhnya ke sofa, tatapannya lurus dan menyalang tajam. Api kemarahan, membuat wajahnya berubah merah padam.
“Olivia! Selalu Olivia! Tidakkah kau melihat cintaku, Alvaro?! Lihat saja, apa yang bisa aku lakukan supaya kau mau menikahiku!” Senyuman seringai, langsung terukir jelas di wajahnya.
Adelia menatap Alvaro yang baru saja datang dengan tatapan yang datar. Tatapan hangat yang selalu diterima Alvaro dari mertuanya, kini seolah hilang, membuat Alvaro merasa malu atas apa yang sudah ia lakukan pada Olivia.
“Ma, di mana Olivia? Aku ingin bertemu dengannya.” Alvaro bertanya dengan merendahkan suaranya.
“Olivia sedang beristirahat di kamarnya. Temuilah, selesaikan masalah kalian berdua. Tapi ingat, jangan memaksa Olivia!” tegas Adelia.
Alvaro mengangguk, “Aku permisi menemui Olivia.” Dengan kepala yang tertunduk, Alvaro melewati mertuanya. Adelia hanya melirik tajam pada menantunya itu.
Alvaro langsung masuk ke kamar Olivia tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Pria itu membawa kaki telanjangnya mencari keberadaan sang istri.
Olivia tampak sedang duduk melamun di ayunan macrame di beranda kamarnya. Alvaro menghampirinya, ia duduk bersimpuh di hadapan Olivia. “Oliv,” panggilnya, lembut, seraya menatap sendu wajah itu. Alvaro semakin merasa bersalah melihat air mata yang terus menetes dari netra yang selalu membuatnya jatuh cinta itu.
“Untuk apa kau datang ke sini?” Olivia bertanya dengan raut wajahnya yang datar, tanpa mau menatap wajah suaminya yang selalu ia damba. Namun sepertinya, kini wajah itu seolah menjadi racun, yang akan membuat dia kesakitan jika menatapnya.
Alvaro mengulurkan tangannya hendak meraih tangan Olivia, namun dengan segera, Olivia menepisnya dengan kasar, “Jangan menyentuhku!” gertaknya, penuh emosi.
Alvaro pun, kembali menarik tangannya. Pria itu menunduk sejenak, seraya menghela napasnya, berat. Lalu kembali menatap wajah Olivia yang sejak tadi enggan menatapnya, “Olivia, aku datang ke sini untuk minta maaf padamu. Ya, aku akui, aku memang salah. Tapi kejadian itu … aku juga tidak tau, kenapa aku bisa melakukan itu? Andai saja waktu itu aku tidak minum, mungkin hal bodoh itu tidak akan terjadi. Aku sungguh tidak berniat untuk mengkhianatimu Oliv. Aku mencintaimu, mana mungkin aku tega menyakitimu. Kumohon, maafkan aku ….” Alvaro yang tak pernah memohon pada siapapun, namun di hadapan Olivia, ia akan melakukan apa saja asalkan cintanya itu mau kembali. Jika Olivia meminta ia mencium kakinya sekalipun, maka Alvaro akan melakukannya.
“Aku bisa memaafkan apapun kesalahanmu, tapi tidak dengan perselingkuhan!” Olivia membalas, tegas.
“Oliv, kejadian itu sungguh diluar kendaliku, aku tidak berniat berseling—”
“Apapun alasannya, kau telah menghamili Prisa! Kau telah menyakitiku, Al. Sakit!” isak tangis kembali lolos dari mulut Olivia, yang membuat dada Alvaro sesak dipenuhi dengan penyesalan.
Alvaro langsung menarik tubuh Olivia ke dalam pelukannya, ia tak peduli meskipun Olivia memberontak. “Lepaskan aku! Aku tidak sudi kau sentuh, Al! Lepaskan aku!” teriaknya, dengan tangisan yang tersedu-sedu.
“Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau mau memaafkanku, Oliv. Kau boleh menghukumku, asal tidak menjauh dariku. Kau adalah hidupku, bagaimana mungkin aku bisa jauh dari sumber kehidupanku? Pulanglah, kembali bersamaku, Oliv.”
“Sudah cukup kau membohongiku, Al! Kau sudah menodai kepercayaan dan kesetiaanku! tidak ada toleransi untuk itu. Akhiri hubungan ini, aku ingin kita bercerai!” Kalimat terakhir Olivia, membuat dada Alvaro tersentak. Perlahan ia melonggarkan pelukannya, diiringin buliran air mata yang mulai terjatuh.
‘Cerai’ tidak pernah terlintas dalam mimpinya sekalipun bercerai dengan Olivia. Tapi kini, Olivia dengan terang-terangan meminta berpisah, mengakhiri kisah cinta mereka. Ini sungguh mimpi buruk baginya. “Oliv, apa yang kau katakan? Aku tidak mungkin bisa melakukan itu, aku tidak ingin kita bercerai. Tolong maafkan aku, Oliv. Kumohon ….” Alvaro mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya, memohon untuk yang kesekian kalinya.
Kesalahannya memang fatal, tapi Alvaro tidak pernah menyangka, kalau kalimat itu akan keluar dari mulut Olivia yang mampu menyayat hatinya. Bagaimana bisa ia berpisah dengan wanita yang telah membuatnya jatuh cinta? Bagaimana mungkin, ia bisa berpisah dengan pujaan hatinya? Olivia lebih dari segalanya bagi Alvaro, ia tak akan bisa melepas Olivia begitu saja meskipun ia menyadari kesalahannya.
“Pulanglah Alvaro, dan berhentilah memohon. Seribu permohonanmu hanya akan sia-sia, aku tidak akan merubah keputusanku. Pulanglah, dan sampai berjumpa di pengadilan, aku akan segera mengurus semuanya.” Seperti yang dikatakannya, Olivia akan memaafkan kesalahan Alvaro, tapi tidak dengan perselingkuhan. Olivia sudah memantapkan hatinya untuk berpisah dengan pria yang selama ini dikaguminya dengan penuh cinta. Tidak ada penyesalan sedikitpun di matanya untuk keputusannya itu. Hatinya sudah tercabik sakit, Olivia tidak akan sanggup untuk tetap bertahan dengan Alvaro. Berpisah adalah jalan terbaik.
“Tidak Oliv ….” Alvaro menggeleng, “Aku tidak mau bercerai denganmu, aku tidak mau! Kumohon maafkan aku, kembalilah pulang bersamaku.” Alvaro tak menyerah, ia terus memohon kepada Olivia. Namun sepertinya, semuanya itu sia-sia.
“Jikapun aku bisa memaafkanmu, tapi aku tidak akan pernah bisa melupakan kesalahnmu dan rasa sakit yang sungguh menyiksa ini Alvaro. Biarkan aku mengasihani hatiku yang sudah kau hancurkan ini, biarkan aku memilih jalanku sendiri!” Olivia menegaskan, dengan menarik napasnya dalam-dalam.
Alvaro tertunduk dalam penyesalannya. Dengan berderai air mata, ia mengatakan, “Oliv, bagaimana aku bisa hidup tanpamu? Itu sangat mustahil bagiku. Bagaimana aku bisa melewati hari-hariku tanpa kau di sisiku? Dan … bagaimana mungkin aku bisa tenang tanpa mendengar kecerewetanmu?” Alvaro lalu terkekeh ketika mengingat kecerewetan Olivia yang terkadang membuat kepalanya pusing. Tapi meskipun begitu, Alvaro selalu rindu dengan kecerewetan Olivia yang mampu meluluhkan hatinya yang sedingin es.
Tidak dipungkiri, mendengar kalimat yang diucapkan Alvaro, membuat Olivia mengingat semua kenangan indahnya bersama Alvaro, yang membuat air matanya semakin mengalir deras. Tapi rasa sakit yang dibuat Alvaro, sungguh tidak bisa ia maafkan, Olivia merasa telah dibodohinya. Jika memang benar Alvaro begitu mencintainya, dan menganggap Olivia adalah hidupnya, apapun keadaannya, Alvaro tidak akan pernah melakukan hal laknat itu dengan Prisa atau wanita manapun. Tapi apa yang sudah Alvaro lakukan? Pria itu telah berkhianat dan merusak kepercayaannya.
“Kau masih ingat pertemuan pertama kita? Waktu itu kau terlihat sangat marah sampai kau melempar botol minumanmu ke kepalaku.” Alvaro tertawa.
Bagaimana mungkin Olivia bisa lupa, begitu arogannya Alvaro saat pria itu komplain kepada pelayan restoran. Olivia yang tak tahan dengan sikap Alvaro, tanpa pertimbangan, langsung melayangkang botol air mineral miliknya yang sudah kosong ke kepala Alvaro. Dan tanpa rasa takut, Olivia memarahi pria itu di hadapan banyak orang yang membuat semua pengunjung menelan ludah atas aksinya itu, meskipun ia tau, siapa yang sedang dihadapinya saat itu.
“Sejak saat itu, bayanganmu selalu menari-nari di kepalaku, makianmu selalu terngiang di telingaku, Olivia. Aku marah dengan kejadian itu, aku ingin meringkus dan mengurungmu karena kau telah lancang padaku.” Alvaro menunduk seraya tersenyum, “Tapi seiring berjalannya waktu, wajahmu menjadi candu yang selalu membuatku tersenyum setiap kali aku memikirkanmu.” Alvaro kembali mengangkat wajahnya, menatap netra yang berkilat itu. “Lalu cinta datang dan membuatku gila, sampai aku rela melakukan apapun supaya aku bisa memilikimu ….” Dadanya semakin sesak seiring kalimat yang terucap dari mulutnya. “Kau tau, betapa sulitnya aku meminta restu kedua orang tuamu dan juga kakakmu, waktu itu? Tapi aku tidak pernah menyesalinya meski aku harus berdarah-darah, karena semua usahaku tidak sia-sia, yang pada akhirnya, aku bisa memilikimu. Aku bahagia waktu itu.” Alvaro menghela napasnya sedikit berat, sebelum ia melanjutkan ucapannya, “Tapi … aku sendiri yang sekarang malah menghancurkan semuanya,” tutupnya, seraya mengusap air matanya.
Sementara Olivia, hanya terdiam dengan menahan gemuruh di dadanya yang semakin bergetar hebat. Semua kalimat yang terlontar dari mulut Alvaro, berhasil membuka sedikit celah keraguan di dasar hatinya untuk berpisah. Namun Olivia terus melawannya, meyakinkan dirinya sendiri, bahwa dia tidak akan pernah menarik kembali keputusannya.