Mikaela pov.
Jalanan Bangkok di siang hari cukup ramai. Namun, terasa sepi jika itu yang melewati kami. Laju motor sport pelan membelah jalanan menuju sebuah resto yang terletak sepuluh menit dari rumahku. Jadi, kami menikmati makan siang di sana tanpa rasa takut bahwa Paman akan mencariku.
Terlambat sedikit tidak akan masalah.
Resto yang kami tuju menyediakan menu khas Thai. Tom Yam Kung yang memiliki ciri khas sup kuah asam pedas yang berisikan mie dengan ditambahkan udang segar.
J.H memesan makanan tersebut. Lalu matanya menatapku intens memberi kode agar aku memilih dari buku menu. Rasa gugup kembali menyapaku, membayangkan makan berdua dengan orang asing tentu akan sulit untukku bahkan membuka mulut untuk sesuap nasi.
"Apakah sesulit itu menentukan pilihan?"
"Ah ... maaf." Lalu aku menoleh pada waitress yang telah menunggu beberapa menit hanya untuk sebuah nasi goreng Thai yang terlontar dari mulutku.
"Hu'um, nasi goreng tanpa udang atau apapun yang berbau seafood. Tapi kumohon jangan biarkan apapun yang berhubungan dengan bawang merah tercium oleh hidungku. Lalu beri aku segelas air jeruk hangat. Ah-ya, semangkuk salad buah dengan isi beberapa irisan pear, apel Fuji, anggur merah manis karena aku tidak suka selain itu. Lalu topping keju di atasnya," ucapku yang akhirnya mengeluarkan pilihan dari buku menu. Pelayan cantik dari resto ini mencatatnya dengan begitu cermat dan hati-hati.
"Anda akan mendapatkan pesanan dalam waktu lima belas menit, mohon menunggu Miss Mikaela," jawabnya dengan senyum terulas kemudian menarik mundur dirinya.
"Ah-aku lupa bahwa tempat ini berada sebelum rumahmu!" sahut J.H dengan terkekeh seakan menjawab rasa penasarannya sendiri.
Lalu kami hanya diam karena sibuk dengan pemikirian masing-masing. Hingga waktu telah bergeser lima belas menit dari tengah hari. Seharusnya panas dan gerah yang kurasakan, tapi aku adalah omega yang sensitif dengan suhu rendah. Jadi suhu 30° aku hanya merasakannya sebagai hangat.
Dua orang waitress menghampiri kami untuk menu yang telah siap. Kami makan dengan sesekali bercanda untuk topik random. Dia nampak memperhatikan cara makanku yang aneh. Kebiasaanku makan dengan beberapa sendok nasi, lalu minum, dan mengambil sepotong salad buah.
Mata tajamnya seakan tak terima, lalu senyum lebarku menjadikannya terkekeh dan mengulurkan tangan untuk mengusak rambutku.
"Lalu biarkan aku tahu alasanmu, kenapa kau membawaku untuk makan siang? Bukankah terlalu baik untuk seseorang yang baru kenal lima jam lamanya?"
"Karena aku gurumu."
"Kau hanya pengganti Miss Cloe–yang tidak seharusnya memiliki kedekatan dengan muridmu. Karena kau akan segera berhenti bagaimanapun juga."
"Bagaimana jika aku mengambil alasan karena aku mendengar suara 'kruukk' dari perutmu–yang tidak bersalah seolah menjerit meminta diisi. Karena kau tidak suka orang lain memandangmu dengan rasa kasihan. Tapi aku hanya mengambil rasa kasihan pada perutmu, bolehkah?"
"No, aku juga tidak suka. Maka biarkan nanti aku yang akan membayar semua, jika itu alasanmu. Atau ... aku akan merasa kesal terhadapmu!"
J.H nampak berpikir sejenak untuk kalimatku, mungkin dia menggali jawaban yang dapat memuaskan aku.
"Lalu bagaimana jika kukatakan bahwa aku ingin lebih lama bersamamu?" jawabnya kemudian mengunci mataku.
"Karena apa? Kau harus punya alasan untuk itu. Kalau kau merasa nyaman karena aku seorang omega resesif dengan feromon samar maka kau salah besar, aku akan menjauhimu kemudian setelah hari ini jika itu masalahnya," jawabku. Meski aku menjadi pembohong besar, karena faktanya dia adalah satu-satunya orang asing pertama yang dapat menyentuhku–karena kuijinkan.
Mulutku melarangnya menggunakan feromonku sebagai alasan, tapi alasan utama kami duduk di resto ini adalah bau feromon yang menguar samar dari spot yang ada di lehernya. Bagian tubuhnya yang menjadi salah satu sumber keluar aroma mint menenangkan hatiku. Dan sungguh egois aku untuk melarangnya tapi aku membawa tubuhku untuk berada di dekatnya karena hal tersebut.
Selain ....
Aura merah maroon cukup pekat–yang berusaha dia tutupi menarikku mendekat padanya secara alami. Kurasa jika dia seorang jahat akan menjadi bajingan yang mampu membantaiku tanpa sadar, karena aku telah dengan rela menjatuhkan hati dan jiwaku untuk dia ambil.
'J.H …,' batinku tanpa sadar memanggil namanya lagi.
Dia tersenyum, sebuah senyum ketika hatiku memanggil namanya. Kurasa dia dapat merasakannya. Untuk sesaat aku menjadi lebih gugup dan memilih menutupi dengan melemparkan kalimat yang dapat menekannya karena sejak tadi belum mendapat jawaban. Sebuah jawaban yang memuaskan jiwa rewelku.
"Okay, maka biarkan aku yang membayar tagihan kemudian." Aku mengeluarkan dompet untuk mengambil sebuah black card.
"Kau …, karena itu kau dengan segala yang ada di balik manik cokelat terangmu. Kau telah menarikku mendekat secara alami sejak mataku menangkap siluet ungu violetmu. Apakah kau juga ingin aku mengatakan jika saat ini aku mulai berpikir bahwa kau seorang berbahaya karena instingku berkata, kau akan mengambil semua dariku–hati, otak, jiwa ... bahkan tubuhku," jawabnya dengan menatapku serius, sementara tangannya menggenggam pergelangan tanganku agar berhenti dari mengambil black card.
"Haruskah aku percaya untuk seseorang yang bahkan belum genap sehari kenal?" jawabku dengan tidak terima. Padahal jauh di dalam sudut hatiku, rasanya ingin jungkir balik dan berguling-guling lalu mengayunkan kaki ke atas. Bahwa dia memiliki rasa yang sama denganku.
Apakah dia fated pair-ku?
"Apakah kau fated pair-ku?" dia bertanya dengan tanpa memutus tatapan mata kami.
Aku menjadi gugup dengan sangat, jika dia seorang bajingan dengan mulut manis tentu dia telah menang dan memukul jackpot saat ini.
"Aku puas dengan jawabanmu!" Suaraku memecah kecanggungan di antara kami.
Lalu ponselku bergetar.
Itu paman Third yang menelpon, aku segera mengangkatnya tanpa meninggalkan kursiku.
Mikaela: "Iya, Paman."
Third: "Apakah nasi gorengnya lebih baik dari buatanku?"
Untuk sesaat aku mengedarkan pandanganku ke setiap sudut ruangan mencari keberadaannya. Bukan rasa takut, tapi lebih dari konyol.
Mikaela: "Ish, kau bahkan memasang mata di setiap dinding resto, Paman. Tentu buatanmu lebih enak."
Third: "Kau tentu tidak memakan udang, 'kan?"
Mikaela: "Hem, aku tidak makan apapun yang berbau seafood. Apakah kau akan datang untuk menjemputku? Lalu kau akan menjadikan aku kecewa bahwa seseorang yang ada bersamaku tidak jadi mengantarku pulang?"
Aku menjawab dengan nada manja, lalu menangkap tatapan mata J.H dengan binar yang kugambarkan sebagai pemujaan terhadapku. Hatiku berdesir untuk sesaat.
Third: "Alpha dominan yang keren, dengan motor yang keren juga. Aku lega kau memilih …, selera yang bagus."
Jawaban paman Third perlahan membuat wajahku memanas, kurasa aku butuh setidaknya kardus besar untuk menyembunyikan wajahku saat ini.
_________
"Uhm, tidakkah kau ingin mampir? Setidaknya untuk secangkir teh?" tanyaku ketika kami telah sampai di depan rumahku.
"Hem, apakah itu baik? Lalu bukankah kita baru kenal untuk waktu lima jam dan tiga puluh lima menit?" jawabnya bertanya sembari melepaskan helm yang dia pakai.
Tubuhnya bergerak turun dari motor dengan tangannya meraih pinggangku untuk diangkatnya turun. Dadaku berdebar seketika merasakan sentuhannya, seolah tubuhku berada dalam genggamannya yang kokoh.
"Oh, aku lupa. Okay, kau benar. Untuk seorang omega akan berbahaya jika mengundang alpha asing memasuki rumah," jawabku sembari memicingkan mata, untuk mengalihkan perasaan canggungku. Tanganku secara serabutan melepas helm lalu menyerahkan padanya. Aku berpura-pura marah dan berbalik meninggalkannya yang masih berdiri mematung menatapku.
"Setidaknya kenalkan aku pada seseorang yang kau panggil Paman!" Suaranya mengagetkanku. Rupanya dia telah berjalan mengikuti di belakangku.
"Kenapa? Bukankah kau tidak percaya diri sesaat lalu?" tanyaku tanpa memalingkan wajah.
"Aku tidak!" jawabnya datar.
"Ah, ada yang lupa bahwa sesaat lalu dia mengkhawatirkan keselamatanku atas jiwa alpha-nya," jawabku dengan berhenti mendadak–yang membuatnya menubruk punggungku.
"Akhh!" teriakku karena terhuyung ke depan ketika tidak kuat menahan beban tubuhnya.
Tangannya yang kokoh telah melingkari perutku untuk menopang tubuhku dari terjatuh. Lalu jantungku berdetak semakin keras ketika tubuh kami saling berhimpitan. Kurasakan degub jantungnya pun tidak jauh beda.
"B-bisakah kau lepaskan aku?" tanyaku gugup.
"Hem, jika kau hentikan marahmu!" jawabnya.
Dari nadanya berbicara tertangkap olehku yang bodoh ini, bahwa dia berlaku seperti seorang yang telah mengenalku lebih, padahal faktanya kami baru saling kenal dalam hitungan jam.
Untuk alasan yang tidak dapat kujelaskan, sepertinya hatiku telah lama mengenalnya.
"J.H ... aku telah berlebihan. Tidak seharusnya aku tersinggung atas rasa khawatirmu yang cukup rasional," jawabku sembari melepaskan tangannya dari perutku dan berbalik, lalu wajahku telah mendongak untuk menatapnya lekat. Aku berusaha mencari kejujuran di balik manik legamnya, sebuah kejujuran akan rasa khawatirnya–jika aku mengundang alpha asing ke rumah.
Apakah dia sungguh-sungguh memiliki rasa peduli terhadapku?
Matanya yang tak berkedip masih memberiku tatapan teduh, seolah menyuguhkan jawaban, atau membiarkanku meraup sebanyak yang aku mau hingga rasa puas menyapa pikiranku.
"Namun, kau juga harus tahu bahwa terlepas dari sikap posesif Paman Third, aku menjaga diriku dari orang lain," lanjutku sembari berbalik untuk kembali melangkah memasuki teras rumahku. Hatiku dapat merasakan aura ketenangan miliknya yang masih mengikutiku. Kurasa aku tak butuh telinga untuk mendengar derap langkahnya. Cukup hatiku, aku hanya perlu menggunakan hati, juga ... indera penciumanku.
"Lalu bisakah kau tunjukkan padaku dimana kau menarikan jari-jari lentikmu, Kae?" tanyanya.
"Bukankah kau lebih tertarik pada pemilik feromon yang meninggalkan sedikit aromanya pada tubuhku agar alpha lain mengira aku telah termiliki?" jawabku. Aku tahu dia menangkap aroma Paman yang sengaja dia tinggalkan di tubuhku untuk mengaburkan milikku, hanya karena aku belajar di luar rumah tanpa dirinya–yang biasanya selalu mengikuti setiap jengkal kakiku melangkah.
"Ka-kau tahu itu?" jawabnya terdengar gugup.
"Tentu, bahkan tanpa kau tunjukkan, aku telah tahu itu," jawabku dengan tersenyum.
"Ekhem–" Suara Paman menginterupsi percakapan kami, dan aku sontak berlari padanya. Seperti biasa aku bahkan telah bergelayut manja memegang lengannya.
"Selamat siang, aku J.H ...," sapa alpha dominan yang berdiri kaku seakan mematung di depan kami. Lalu Paman yang mengelus rambutku berusaha membujukku agar berhenti menjadi manja. Dia berjalan mendekati J.H untuk mengulurkan tangannya.
"Aku adalah Third, aku tahu bahwa kau guru pengganti Miss Cloe. Lalu sampai berapa lama kau akan tinggal di Thailand dan meninggalkan–" Kalimat Paman terhenti oleh tanganku yang menarik kemejanya.
"Paman curang! Kau telah mencuri start dengan bergerak maju, aku bahkan tidak ingin tahu siapa dia," jawabku sembari cemberut kesal karena Paman telah menyelidiki guruku hanya karena mendapat perhatian dariku.
"Mungkin dua bulan, aku akan menghabiskan masa liburku di Thailand, tepatnya di Bangkok. Ada beberapa tempat yang menarik minatku untuk tetap di sini sedikit lebih lama," jawab J.H dengan senyum terulas.
"Lalu pekerjaanmu? Kau pasti memiliki satu di tempat asalmu, 'kan?" Paman kembali bertanya.
"Ada seseorang yang mengurus untukku. By the way, kau terlihat masih sangat muda. Bukankah usia kita hanya terpaut beberapa tahun? Lalu bisakah aku memanggilmu Hyungnim?" J.H bertanya pada Paman.
Menit berikutnya mereka tampak terkekeh bersama, dengan Paman yang mengusak rambutku.
"Kau tahu? Aku hanyalah penjaga bayangannya saja. Namun, dia merasa nyaman dengan memanggilku Paman," ucap paman Third, ternyata dia lebih terbuka dari yang kukira, "apakah sekarang kau akan memiliki perasaan bahwa aku berdiri sebagai pesaingmu? Jika iya maka lupakan, kau pasti kalah. Dia akan sangat mencintaiku. Ehheee ...," lanjutnya lalu kembali terkekeh.
"Tidak, karena dari feromon yang kau tinggalkan pada tubuhnya aku tahu bahwa perasaanmu murni sebagai kerabat, maka aku akan menghormatimu, Hyungnim," jawab J.H sembari mengulas senyum.
"Hyung …, hanya Hyung saja, J.H!" sahut Paman bermaksud memangkas jarak di antara mereka.
"Bukankah dia hanya mampir karena penasaran denganmu? Lalu kami bahkan baru memasuki enam jam dari berkenalan, kenapa kalian berbicara seolah J.H akan menikahiku?" jawabku sinis, menjadikan alpha yang mengantarku pulang terlihat gugup dan serba salah.
Setelah sesi perkenalan dengan Paman, aku mengajak J.H untuk naik ke lantai atas. Tepat di sebelah kamarku terdapat sebuah kamar yang kujadikan studio lukis pribadi.
"Ini studio lukis pribadimu?"
"Hu'um, sebelum aku mendapat ijin mengikuti kelas seni, inilah surga keduaku setelah kamar."
"Bolehkah aku–"
"Tentu, kau boleh melihat gambar serta lukisan-lukisanku. Setiap dari mereka butuh komentar membangun darimu, J.H," jawabku dengan tersenyum cerah.
Sebenarnya aku adalah seorang yang sulit membuka diri untuk orang lain, tapi dengan J.H semua terasa bagai air yang mengalir.
Alpha dominan ini berjalan meneliti setiap hal yang tertata dengan rapi. Semua …, aku tak menyangka dia begitu mengamati dengan detail, lalu atensinya tertuju pada lemari besar dengan susunan rak laci.
Dia membuka satu per satu seolah itu hal yang menarik minatnya untuk tahu.
Mulai dari kuas. Lalu, dia menarik laci kedua untuk menemukan beberapa palet yang tertata rapi. Palet adalah tempat untuk mencampur cat atau tempat untuk menyiapkan cat sebelum diaplikasikan ke kanvas.
Selanjutnya, dia tersenyum untuk menatap isinya yang berupa cat air/aquarel. Ada juga beberapa cat poster–yang berbahan dasar air juga.
"Pada laci berikutnya adalah favoritku."
"Benarkah?"
"Hu'um, buka dan lihatlah!" ucapku.
Itu adalah beberapa pensil warna. Aku memiliki cukup banyak set warna.
Dan rak yang terakhir berisi buku gambar dengan beberapa ukuran serta setumpuk lembaran kertas.
"Apa yang kau pikirkan?" tanyaku.
"Semua alat ini hanya untuk melukis dengan media kertas."
"Itu benar, aku belum pada tahap menggunakan cat minyak, masih berusaha," jawabku dengan antusias.
"Hem, aku tahu. Semua begitu detail …, setiap hal yang kau siapkan!"
"Bukan aku, aku tidak merapikannya, aku seorang pemalas kalau kau ingin tahu. Aku bahkan takut mandi dan keramas, karena aku sensitif dengan suhu rendah," jawabku dengan menunduk dalam.
"Lalu biarkan aku menatap matamu saat kau berbicara," jawabnya dengan meraih daguku untuk menatapnya. Dengan tiba-tiba dadaku terasa sedikit panas, bahkan hidungku telah menangkap aroma mint yang menguar darinya.
"Apakah kau selalu menatap lekat pada orang lain, selain aku?" tanyaku.
"Tidak, aku bukan seorang yang mudah bergaul dengan orang asing," jawabnya dengan mendekatkan wajah padaku. Aroma mint terasa hangat menyembur dari hidungnya menerpa wajahku, ini terlalu dekat hingga membuatku memejamkan mata untuk perasaan aneh di dalam dadaku.
Aku merasa dia akan menciumku.
Bibirnya telah menempel pada bibirku, dan aku hanya terdiam tanpa tahu apa yang harus kulakukan. Jika itu sebuah ciuman, dia pasti merasakan kecanggungan yang aku rasakan. Untuk sesaat bibir J.H telah beralih mengendus pelan leherku dan menjatuhkan wajahnya di sana.
"Apakah yang kau rasakan?" tanyaku dengan perasaan sedikit kecewa karena kesempatan untuk berciuman telah lenyap.
Yang kurasakan saat ini adalah aura frustrasi di dalam feromonnya.
"Andai kau bisa merasakan feromonku, pasti kau tahu betapa aku telah merasakan frustrasi akan dirimu," jawabnya lirih, masih dengan mengubur wajahnya untuk menjatuhkannya pada ceruk leherku. Untuk sesaat aku menekan napas atas kalimatnya yang membawa perasaan sakit di dalam hatiku.
Tapi, aku sadar hanya berada di luar hatinya saat ini, meski untuk dua orang yang dekat dalam waktu lima jam lima puluh menit itu telah menjadi cukup aneh–yang lebih kukatakan sebagai keajaiban.
"Ada hal yang tidak dapat kukatakan padamu, karena kita baru saling mengenal dalam hitungan jam. Aku tahu itu akan cukup aneh ketika aku menceritakan, tapi sungguh ... aku mengubur diriku di negara ini hanya untuk menghindar dari urusan hati. Tapi rupanya Tuhan sedang menunjukkan KuasaNya, membalik hatiku, meluluhkan setiap pemikiranku–bahwa aku tidak akan menjatuhkan hati dan tubuhku hanya untuk cinta. Aku membenci perasaan ini, ketika kau dengan alami telah menarikku mendekat, bahwa kau tanpa paksaan dan rengekan telah membuatku mendekat hingga aku berpikir akan terjatuh dengan sendirinya. Aku tidak berpikir akan dapat menarik diriku lagi untuk jauh darimu." Jawaban panjang darinya membuatku kembali menekan napas–yang bahkan untuk menarik napas aku merasa lupa bagaimana caranya.
Adakah hal kebetulan semacam ini?
"Adakah hal kebetulan semacam ini?" Dia kembali bertanya lirih. Lalu aku mengusap lembut rambutnya, sementara tanganku yang lain telah melingkari tubuhnya.
"Kalau kau bertanya padaku, lalu aku harus bertanya pada siapa untuk pertanyaan sama yang berputar di kepalaku sejak lima jam lima puluh menit yang lalu?" jawabku lirih. Seolah setiap kata yang keluar dari mulutku adalah aliran air yang tak dapat kubendung.
J.H mengangkat wajahnya untuk menangkup kedua pipiku, matanya yang sayu dengan manik legam masih menyimpan rasa frustrasi di dalamnya.
"Karena itu kau, hanya kau. Persetan dengan waktu ataupun status, semua karena kau adalah Mikaela," ucapnya lirih dengan suara serak, yang membuatku seketika merasa tidak menginjak bumi.
Perasaan tercekat oleh rindu yang sangat meski kami berhimpitan. Perasaan bahwa mungkin kami hanya terbawa oleh suasana, dan dunia akan memberi label untuk hubungan kami sebagai cinta lokasi.
Serta ... siapa dia?
Bahkan hanya nama yang aku tahu darinya. Semua menjadi tumpang tindih yang membuatku tanpa sadar meneteskan air mata.
"Aku mungkin telah gila, atau ini mungkin juga terdengar konyol, tapi aku menyukaimu!" ucapku.
Lalu semua seakan berhenti, jam berhenti dari berputar, bahkan tak lagi kudengar kicau burung di luar jendela. Karena hanya degub jantung dan deru napas kami yang terdengar, seolah mengatakan bahwa J.H dan Mikaela adalah fated pair.
tbc
Mikaela pov.
"Apakah kalian akan pergi untuk sesuatu?" tanyaku ketika keluar dari kamar dan menatap dari ujung tangga, nampak dua orang alphaku tengah bersiap untuk keluar.
"Hanya menunjukkan bagaimana Bangkok di malam hari," jawab Paman dengan gaya sok kerennya seolah dia adalah pria gaul.
"Uhm, aku mengikutinya," imbuh J.H dengan bergaya bagai seorang sahabat meski baru tiga minggu mereka kenal.
"Oh, ayolah! Bukankah dia telah memiliki tempat tinggal di Bangkok? Apakah perlu mengenalkannya pada kehidupan malam di sini?" ucapku memprotes, tiba-tiba menjadi kesal tanpa alasan jelas.
"Apakah itu membuatmu keberatan, bahkan jika kami sesama alpha?" tanya paman dengan mengerutkan dahi.
"Tentu, jika itu menyangkut J.H!" jawabku.
"Maka kau tidak harus melakukannya, karena Leon akan bersama kami. Bukankah dia memiliki tujuan pada Third?" tanya J.H dengan sedikit menyeringai. Aku semakin merengut kesal.
"Maka ikut! Ikutlah dan menjadi roda ketiga di antara mereka!" ucapku lirih dengan merengut kesal, seiring langkah kakiku menuruni anak tangga.
Entah pemikiran konyol apa yang ada di dalam otak mereka saat ini.
Apakah tidak menjadikannya berpikir secara rasional bahwa meski second gender mereka adalah alpha dominan, namun tubuh fana mereka adalah pria dan wanita?
Lalu bukankah night club yang akan menjadi tujuan mereka malam ini?
Nyala lampu sorot, suara musik menggelegar, gadis-gadis seksi, atau mungkin male omega yang jelas memiliki tubuh lebih ramping dariku, wajah lebih cantik dariku–yang aku pun belum tentu dapat membedakan first gender mereka saat menghambur di antara lautan orang yang bergerak dengan mengikuti musik yang mengalun.
Belum lagi ... jajaran minuman beralkohol yang tentu akan dia minum, maksudku J.H. Aku tahu dan mengerti bahwa alpha dominan memiliki toleransi alkohol tinggi, tapi tidak jika itu menyangkut omega, aku tidak yakin. Terutama omega yang tiba-tiba mengalami heat, aroma manis yang menyengat pasti memerangkapnya, ditambah minuman yang meski beberapa persen tentu mengikis kewarasannya.
J.H ... tentu alpha-ku yang kumaksud dengan segala alasan meresahkan saat ini.
Waktu tiga minggu begitu kurang untukku mempelajari sifat, sikap, dan kebiasaannya. Terlepas dari rasa suka dan pemujaanku terhadap jiwa alpha-nya, bahkan jika dia berada di dalam pelukanku, hatiku masih akan ragu akan setianya jika itu menyangkut fated pair-nya.
Mungkinkah aku seorang spesial itu?
Ataukah orang lain yang telah ada di kehidupan yang saat ini dia tinggalkan sementara?
Atau seseorang yang masih belum dia temui?
Apakah ikatan kami sekuat itu dan akan bisa mengikis ikatan alami saat salah satu dari kami bertemu the fated pair?
Aku mulai dan telah sedang tenggelam dalam pikiranku hingga tanpa sadar kakiku telah sampai dan memijak anak tangga terakhir, tiba-tiba kurasakan jemari J.H meraih daguku untuk menatapnya.
"Bukankah kau akan ikut, lalu bagaimana aku menjadi roda ketiga?" ucapnya menatapku lekat.
"B-benarkah?" jawabku tergagap.
"Apakah kau pikir aku bisa bernapas lega untuk membiarkanmu sendiri di rumah sementara aku bersenang-senang di luar?" sahut paman Third.
"Lalu sejak kapan pamanku menjadi penggila kehidupan malam? Katakan, kita mau ke mana?" tanyaku lirih.
Lalu mereka telah terkekeh berdua seakan memberi kode bahwa telah berhasil memprovokasi aku hingga marah. Sedangkan tangan J.H telah terulur untuk mengusak kasar rambutku.
Kini kedua tangannya telah menangkup pipiku agar menatap matanya lekat seolah membiarkanku mencari dan menggali jawaban dari rasa penasaran yang mengusik pikiranku. Tanpa kata dan suara, hanya hembusan napas ringan dengan rasa hangat kurasakan menyembur wajahku. Aroma mint khas yang menguar samar memberiku sedikit rasa nyaman.
'Alpha-ku …, J.H,' batinku memanggil namanya.
"Nde?" sahut J.H seolah mendengar apa yang hatiku katakan.
"Nothing!" jawabku dengan mata mengerjap, kurasakan wajahku sedikit memanas, mungkin itu telah merona merah.
________
21.20 waktu Thailand.
Motor sport besar milik dua orang alpha-ku tengah melaju cepat membelah jalanan kota Bangkok di malam hari ini. Meski terdengar aneh untuk dua orang yang sibuk esok pagi pergi clubbing di hari kerja, tapi untuk mereka ini sah.
J.H memegang jemariku yang bertautan melingkari perutnya, seolah dia meletakkan keselamatanku di atas kepalanya. Selama tiga minggu aku mengenalnya, dengan dia menjemputku serta mengantarkanku pulang setelah kelas selesai, belum pernah dia melajukan motornya secepat ini. Meski tanpa dia tahu bahwa aku bukan omega selemah yang dia pikirkan, bahwa sebelum kami saling mengenal dan dia menjagaku layaknya telur emas, Paman bahkan telah mengajariku cara mempertahankan diri.
Pemikiran bahwa aku seorang omega rapuh menjadikannya seorang asing yang posesif terhadapku. Lihat saja saat ini aku memakai jaket kulit berwarna cokelat kopi, sarung tangan kulit, lalu celana berbahan denim.
"Itu akan sangat dingin oleh karena angin malam!" ucapnya ketika aku memprotes.
Tadinya dia juga memaksa untuk memakai sepatu boots, tapi aku menolak keras dan memilih memakai slip on, sebuah sepatu tanpa tali. Nyaman, aku butuh itu, dan tentu saja aku bukan seorang penurut yang dia kira.
J.H hanya belum tahu bagaimana jiwa pemberontakku keluar, kurasa dia akan mengalami migrain saat tahu itu.
Masih kuingat sesaat sebelum kami berangkat, alpha cantikku sempat terperangah ketika melihat Paman membawa keluar motor serupa miliknya. Lalu dia melirikku dengan rasa penasaran tergurat di wajahnya.
"Kau juga berkendara dengannya saat bebas?" bisik J.H memenuhi rasa penasarannya.
"Tentu," hanya itu jawabanku. Lalu kami menaiki miliknya, sementara Paman dengan berat hati berkendara sendiri dan kami pergi menyusul omeganya.
Kurasa J.H sedang menata hatinya dari terkejut.
_________
Dari kejauhan nampak Paman tengah membonceng Dokter Leon, aku yang menyuruhnya untuk menjemput pria omega tersebut. Bukankah terlalu kasihan melihat sang omega yang selalu memohon perhatian pada Paman, tetapi hanya tatapan datar yang dia dapatkan?
Dulu aku berpikir mungkin Lian adalah alasannya, tapi ternyata aku salah. Paman bahkan tidak menjatuhkan hatinya pada siapapun. Pemikiran bahwa alasan dari semua itu adalah aku, kadang membuatku merasa bersalah.
"Apakah kau kedinginan?" teriak J.H bertanya padaku.
"Sedikit, tapi aku bisa menahannya!" jawabku dengan berteriak juga.
"Eratkan pelukanmu pada tubuhku!" jawabnya, lalu sesaat kurasakan feromonnya sedikit bocor atau mungkin dia berusaha menghangatkan tubuhku dengan melepas sedikit aromanya. Bau mint yang tercium samar olehku membawa rasa hangat, juga sebuah perasaan yang sedikit mencekat dadaku dengan rindu yang lebih. Lalu aku berusaha mengeratkan pelukanku dengan mengikis habis jarak di antara kami.
Merasakan pengalaman kehidupan malam yang mempesona di antara pemandangan kota Bangkok yang menakjubkan. Dua puluh menit dari rumahku adalah salah satu pilihan terbaik, yaitu sebuah night club yang terletak di lantai 39 Sathorn Square Tower N Sathon Rd, Silom, Bang Rak, Bangkok, Thailand.
Lokasinya sendiri juga menawarkan panorama lampu malam Bangkok serta pemandangan Kota Malaikat yang spektakuler melalui panel kaca ekstra besar. Ini adalah klub Chic dengan jajaran DJ internasional & restoran Jepang/California, plus pemandangan kota. Destinasi multi-faset gaya hidup kelas dunia yang menawarkan pengalaman clubbing dan hiburan kelas dunia di jantung kota Bangkok.
Kurasa ide Paman cukup brilian dengan memilih tempat clubbing yang bagus dan paling menginspirasi, terlebih karena saat ini adalah ladies night. Rabu adalah hari terbaik sejauh ini.
"Apa yang kau pikirkan?" tanyaku saat memasuki pintu klub.
"Secara keseluruhan, tempat ini bagus jika ingin menikmati koktail di tempat yang mewah. Pemandangan luar biasa ke luar jendela ke kota di malam hari," jawab J.H dengan datar.
"Tetapi bahkan lebih menyenangkan untuk melihat wanita seksi dan pria tampan, bukan?" sahut Paman Third dengan senyum smirk, "lalu hal-hal yang bermanfaat dan hebat dari tempat ini, koktail lezat dan musik trendi! Nikmatilah!" lanjut paman.
Lalu kami telah tenggelam bersama di tengah lautan manusia yang mulai menggerakkan tubuh mereka mengikuti irama yang mengalun.
Ruangan yang begitu megah dengan dance floor yang luas, musik menggelegar yang didukung oleh kilatan lampu sorot membawa suasana bergemuruh–yang menggiring setiap tubuh di dalamnya untuk bergerak, menari dan berjingkrak, bahkan tak jarang setiap dari kami bersorak karena terbawa suasana. Seorang DJ yang memainkan perannya dengan lincah bagai memberi bensin di atas bara api.
Saat ini tubuhku bahkan tak dapat berhenti dari bergerak, gelak tawa telah menghiasi suasana malam yang sangat riuh ini.
"Kau sering ke sini?" teriak J.H karena suara musik memecah suaranya.
"Sesekali, jika sepupuku berkunjung!" teriakku menjawab.
"Kau juga minum alkohol?" tanyanya kembali.
"Tidak banyak! Hanya saat ingin saja, kenapa?" tanyaku sembari berteriak tak kalah keras.
"Apakah dia juga menemanimu?" Dia kembali bertanya sembari melempar tatapan matanya pada Paman yang hanya duduk di kursi menikmati segelas wine. Sementara Dokter Leon tampak mengajaknya berbincang.
Alih-alih menjawab pertanyaan alpha dominan yang tengah berjingkrak bersamaku saat ini, aku lebih sibuk memperhatikan pasangan yang terlihat serasi, tetapi mirip dua roda yang tidak sejalan. Dari yang kutangkap saat ini, bahwa Dokter Leon sedang berusaha mencairkan suasana, tapi Paman hanya menanggapi dengan datar.
"Kae?" Suara rendah J.H membangunkanku dari menatap lekat paman.
"Uhm ... tentu," jawabku dengan berteriak. Lalu kemudian dia telah memerangkapku di dalam kedua lengannya yang melingkari tubuhku. Aku sedikit berjengit untuk tindakannya yang cukup berani malam ini, didukung oleh bergantinya musik menjadi lebih pelan dengan kesan sensual–kembali menggiring emosi pada setiap tubuh yang memanas sesaat lalu hingga tanpa terasa tubuhku dan tubuhnya pun telah saling menghimpit tanpa jarak.
Sekilas dari ekor mataku dapat menangkap tatapan tajam dari Paman, sesaat lalu dia hendak berdiri tapi dengan cepat omega-nya berusaha menghentikan.
"Kau tidak takut pada Paman, hem?" tanyaku.
"Apakah aku harus menyentuhmu di belakang dia?" tanyanya dengan tenang. Tidak ada gurat takut tergambar di wajahnya.
"Ish, kau selalu mengatakan bahkan tanpa filter," jawabku sembari menunduk dalam.
"Wae? Kau malu? Tatap mataku saat berbicara, Kae!" ucapnya dengan menunduk untuk berbisik di telingaku.
"Biarkan aku pergi ke toilet sebentar!" ucapku lirih sembari membebaskan diriku darinya.
"Kutemani!" sahutnya seraya menarik tanganku lalu kami berjalan ke sudut ruangan di sayap kiri gedung.
"Aku bisa jalan sendiri," kataku seraya melepaskan diriku dari tangannya yang masih melingkari pinggangku. Tatapan aneh dari semua orang yang kami lewati memberiku perasaan tidak nyaman.
"Aku tahu, tapi hatiku tak dapat membiarkan kau disentuh oleh siapapun," bisiknya dengan suara rendah. Hanya dengan mendengarnya tubuhku terasa tak berdaya untuk menolak, hanya dapat menurutinya dengan mengangguk pelan.
Apakah J.H bahkan tak menyadari bahwa hanya hal-hal kecil yang mungkin tidak dia pikirkan untuk aku terganggu justru menekanku lebih?
Termasuk bau feromonnya.
Dan sekarang kami berjalan dengan dia merengkuh posesif tubuhku, sementara aroma mengintimidasi telah dia keluarkan hingga tak ada satu tangan pun yang berani menyentuhku.
"Lalu apakah kau juga akan ikut masuk ke dalam?" tanyaku lirih.
"Kau mau?" jawabnya sambil berbisik seduktif yang membuat tengkukku meremang hanya dengan mendengarnya.
"Uhm, kurasa tidak!" jawabku sembari berjalan cepat meninggalkannya.
Di dalam kamar mandi yang berukuran cukup luas, setelah selesai melakukan urusan mendesak, aku mencuci kedua tanganku dan berdiam sebentar untuk menatap wajahku sendiri di depan cermin besar. Sebuah benda pipih yang tak pernah bisa berbohong pada siapapun, dia diciptakan untuk selalu mengatakan apa yang dia tangkap dengan jujur tanpa menambah atau menguranginya.
Menatap wajahku yang terlihat sedikit pucat, mengamati setiap gurat pada wajahku, tidak dapat kupungkiri bahwa aku pun berpikiran sama layaknya gadis lain, kadang merasa insecure oleh kelemahanku, kadang sedikit bangga ketika merasa bahwa aku cantik.
"Lalu bukankah aku juga terlihat menawan?" gumamku lirih dengan mengulas senyum percaya diri, "bahkan J.H menempel setiap waktu padaku!" lanjutku bermonolog di depan cermin. Tatapan mataku meneliti setiap inci yang kutangkap sebagai keindahan, lalu berhenti pada cuping telingaku.
Untuk sepersekian detik aku terdiam dengan ingatan yang terlempar pada kejadian beberapa menit sebelumnya.
Tubuhku mematung sembari mengingat setiap hembusan napasnya yang terasa hangat saat menyembur telingaku. Lalu berpikir bahwa dia dengan bibirnya tetap berada di sana untuk membisikkan beberapa kata rayuan yang menggiring imajinasiku agar terperangkap ke dalam jiwanya.
Dan di antara kesibukannya dengan beberapa kata rayuan yang menyamankan hatiku tersebut bibir basahnya sesekali mengecup untuk sebuah hisapan dalam, dengan ujung lidahnya yang menjilat serta bermain di cuping telingaku. Tiba-tiba aku harus menekan mulutku dari mendesah pelan.
God, gejolak di hatiku tiba-tiba muncul, menyeret semua keinginan yang terpendam atas dirinya. Sebuah keinginan akan sentuhannya agar diriku merasa nyaman. Lalu kurasakan tubuhku sedikit memanas. Aku menginginkannya saat ini juga.
"J-ahh! J.H-nghh!" lenguhku lirih. Lalu mataku mengabur, kubawa tubuhku dengan langkah gontai kembali memasuki salah satu bilik toilet yang berjajar di belakangku.
______
"Kae …, Mikaela!"
Suara serak basah yang terdengar seksi membelai pendengaranku, tertangkap olehku dia tengah berusaha mengembalikan kesadaranku.
Dua telapak tangan dingin tengah menangkup pipiku yang masih terasa panas. Air mataku meluncur begitu saja tanpa kusadari, lalu kembali kurasakan lembut sebuah ibu jari yang bergerak untuk mengusap pipiku dari lelehan air mataku. Kupaksa mataku untuk terbuka dan mendapati alpha dominan yang tengah kuinginkan agar menyentuhku sedang berjongkok di depanku menatap lekat wajahku.
"J.H-nghh!" lenguhku, yang bahkan terlontar dari mulutku diikuti oleh isakku lirih.
Mataku terlalu kabur untuk menatap wajahnya dengan jelas, tapi tidak dengan hidung dan hatiku karena aku bahkan tak pernah butuh mata fana untuk mengenalinya–mengenali alpha-ku.
"Yes …, it's me, Kae! I'm here for you. Cause I'm your alpha!" jawabnya dengan suara rendah yang kembali memanaskan wajahku hanya dengan mengingat imajinasi mesumku sesaat lalu.
"Ugh ... semua terasa sakit, dan panas!" rintihku, tubuhku bergerak resah di atas closet.
"Lalu bukankah setiap pagi kau meminum pil penekan heat?" dia bertanya.
"I dunno, tapi kupikir ini semua karena kau ... hiks!" jawabku lirih. Detik berikutnya aku kembali menjatuhkan punggungku menubruk sandaran closet dengan mengerang lirih.
"Maka aku akan membantumu, Hon!"
"Hon? Nghhh ... say! Say it again-ahh!"
Dengan ingatan yang timbul tenggelam serta pandangan mata mengabur, selanjutnya tubuhku telah menyerah atas rasa panas serta gejolak yang keluar dengan liar.
Aku menyerah untuk membiarkan dadaku membusung menyuguhkan payud*raku agar bibirnya sudi membungkusnya untuk sesapan nikmat. Aku menyerah, membiarkan mulutku melontarkan rintihan-rintihan memohon atas sentuhannya. Bahkan akupun menyerah untuk membiarkan jari-jariku memegang tangannya agar menyentuh tubuh bagian bawahku.
"Kau telah sangat basah, Hon!" ucapnya terdengar lamat, tapi tertangkap oleh pendengaranku sebagai suara seduktif. Mataku berusaha untuk menatap apa yang dia lakukan saat ini, aku bahkan tak menyadari bahwa tubuh bagian bawahku telah polos tanpa sehelai kain.
"Nghhh!"
"Biarkan aku yang melakukan semuanya ... dengan bibir dan lidahku!"
Suara serak basahnya, napasnya yang terdengar memburu semakin mengikis kewarasanku, lalu aroma mint yang samar tercium semakin kuat, dia membebaskan sebagian miliknya untuk menenangkanku. Aku sadar bahwa kebersamaan selama tiga minggu bukan waktu yang cukup untuk saling melengkapkan titik nikmat kami. Tapi sumpah, aku bahkan tak dapat lagi mengendalikan tubuhku. Kurasa kontrol atas otakku telah mengabur, aku berada di ambang batas kesadaranku. Hanya berusaha bertahan untuk tetap mengingat meski putus-putus. Namun, setidaknya hatiku sedang mematri ingatan akan emosi di setiap perlakuannya atas tubuhku.
Tidak ada lagi pembicaraan yang berarti, hanya bahasa tubuh lah yang saat ini kami lakukan. Secara lembut tangannya menyingkap kaos kasual yang membungkus tubuhku, karena saat tiba aku sengaja menanggalkan jaket kulit dan menyerahkan pada Paman.
Jari-jari rampingnya memainkan payud*raku dengan meremas dan memilin put*ngku yang telah mencuat tegang sebentar. Selanjutnya dia telah mengangkat kedua kakiku agar menyampir di sekitar lehernya, bertumpu pada pundaknya yang kuat, tubuhku tertarik maju hingga p*ssy-ku mengikis habis jarak dengan wajahnya.
Lalu bibirnya telah mengecup pelan labia minoraku dengan menghisapnya dalam seolah itu begitu berharga. Lidahnya mulai mengambil bagian dengan menjilat serta menyapu untuk menggesekkan permukaannya yang kasar pada bibir p*ssy-ku.
Tubuhku merespon dengan bergetar dan menggelepar menahan nikmat, dengan sisa kesadaranku yang mungkin hanya beberapa persen, kubawa tanganku membekap mulutku agar rintihan nikmat teredam, sementara air mataku berurai untuk perasaan nikmat.
Tangannya yang memegang pangkal pahaku kurasakan telah bergetar dan berkeringat, selain ... aroma mint semakin menguar bebas mengubur feromonku yang kurasa telah menguar bebas. Otakku menangkap bahwa dia tengah memblokir ruangan dengan feromon serta aura yang mengintimidasi hingga alpha lain tidak berani mendekat.
Kurasa ruangan toilet telah dipenuhi oleh rintihan serta erangan tertahanku.
Tanganku masih membungkam mulutku dari suara liar, sementara lidah dan bibirnya menyetubuhi liang p*ssy-ku dengan tusukan serta lumatan kasar yang membawa rasa nikmat. Seluruh saraf di sekujur tubuhku kurasa merespon dengan bersorak bahagia untuk setiap sentuhannya yang menggetarkan sukmaku. Memberi rangsangan di sekitar selangkanganku hingga menjadikan otot-otot yang tersebar di sana semakin menegang. Untuk sesaat tubuhku tersentak oleh panas yang menjilat kemaluanku, saat ini tak lagi kutahan mulutku dari merintih dan mengerang nikmat. Sementara lidahnya masih menyetubuhi belahan bawahku yang semakin panas.
"Ahhh-J.H-ahhhhh! Ini aneh-tapi-ahhhhhhh!!" Mulutku meracau tak karuan saat alphaku memperdalam tusukannya di dalam diriku. Lalu, seakan tahu bahwa aku segera sampai, bibirnya mengecup untuk sesapan kuat pada liang p*ssy-ku. Tubuhku bergetar kuat dengan kedut yang membuatku tanpa sadar mengangkat pantatku dengan mulutnya yang masih memakan serta menghisap kuat milikku.
Aku terlempar pada gelombang klimaks.
________
"Uhm, J.H ... apakah ini salah? Aku merasa buruk!" ucapku lirih.
Detik sebelumnya mataku terbuka dan menangkap bahwa tubuhku sedang meringkuk di pelukannya. Lalu otakku samar menyadari bahwa saat ini kami berada di dalam mobil, tapi ini bukan milikku.
"Sssttt, tutup kembali matamu! Lalu kau akan terbangun dengan perasaan lebih baik!" bisiknya di depan wajahku. Setetes bulir air mataku mengalir, ada perasaan sesal begitu mencekat dadaku.
"Aku mirip jalang liar, bukan?" bisikku di antara isak lirihku. Ingatanku telah begitu jelas. Setiap hal memalukan yang kumohon padanya sesaat lalu.
Dia diam, tidak menjawab pertanyaanku, lalu kudengar suara Paman yang berdehem saat bibir J.H melumat lembut bibirku dengan melepaskan sedikit feromonnya–yang membuat tubuhku tak dapat memprotes, hanya meringkuk lemah. Namun, perasaanku membaik.
'J.H, alphaku ….'
"Tidurlah! Malam ini aku akan berada di sisimu untuk memberi apa yang kau butuhkan. Mulai sekarang tidak ada lagi pil penekan heat untukmu, karena ada aku!"
Suara yang samar terdengar dengan kalimat penenang sebelum aku benar-benar menyerah atas rasa kantukku.
tbc