Jauh terasa dekat tapi saat dekat ternyata mereka jauh banget!!!.
Begitulah kenyataan yang tanpa disadari dua orang gadis yang katanya sedang nongkrong di sebuah kafe yang bernama KoKam ini.
Monalisa, meskipun sedang duduk di depan sahabatnya ini, tapi sebenarnya dia sedang berada dikota paris. Mona sedang memanjakan matanya dengan keluar masuk butik-butik disana. Dia berharap menemukan item yang cocok dengan saldo akun PayPal nya saat ini.
Sedangkan Mora?, Gadis itu saat ini sedang berada di dalam sebuah kasino di Las Vegas. Duduk dimeja Blackjack dengan empat orang yang dia tidak tau sama sekali asal usulnya.
Yah begitulah gambaran yang tepat untuk kedua sahabat ini. Keduanya memiliki hoby atau bisa dibilang penyakit yang mengerikan. Mona dengan shopaholic nya, sedangkan Mora sendiri?, Ini jauh lebih mengerikan lagi. Entah bagaimana ceritanya dia bisa kecanduan game yang lebih tepatnya dibilang Judi, apapun jenisnyaaa.
Keduanya duduk berhadapan disebuah meja dengan kursi couple dan sama-sama tertunduk sibuk dengan ponselnya masing-masing. hikmat.
" Anjiiiinggg...!!! " tiba-tiba Mora berteriak kesal.
Tentu saja Mona yang saat itu berhalusinasi sedang berada diparis tersentak. Tiba-tiba makhluk cantik penggila judi ini berteriak sedikit keras didepannya, kesal.
" Kenapa lo nyet?, Bikin kaget gue aja!! "
" Ini nih, bandar ngen... !!! " Mora menjawab dengan kesal dan membanting ponsel nya ke Meja.
Tidak terhitung lagi berapa kali Mona menyaksikan adegan banting handphone ala Mora ini.
" Kurang kenceng !! " ejek Mona.
Mora yang emosi kembali mengambil ponselnya dan mengangkatnya lebih tinggi.
" Eh nggak. Nggak. Becanda gue Becanda. Hehehe "
Mora kembali melempar ponselnya asal keatas meja. " Tobat gue, Sumpah! "
" Alah, palingan kalo ada duit lagi, pasti lo deposit lagi, gak caya gue"
" Ya sekarang gue tobat. Ntar klo ada modal lagi, ya maen lagi,Hihi! "
" Maen apaan lo emang ? "
" Poker "
" Kalah berapa? "
" Semuaaaa... " jawab Mora masih kesal.
Mona terkesima dengan jawaban Mora ingin memastikan.
Mona memajukan tubuhnya mendekat pada Mora yang berada diseberang meja," Maksud lo semua yang dikirim nyokap lo?," tanya Mona sedikit berbisik.
Mora menunduk dan membenturkan kepalanya pelan tapi berulang-ulang pada tepi meja yang berbahan kayu tersebut.
" Iyaaa!!!, termasuk uang buat praktek juggaaa!! " jawab nya dengan suara menyedihkan dan penuh sesal.
Tentu saja Mona tidak terkejut sama sekali dengan kekalahan Mora. Masalahnya sesaat kemudian ada perasaan yang tidak mengenakkan yang tiba-tiba muncul dalam fikiran nya. Mona segera berdiri berakting panik seolah-olah lupa akan sesuatu.
" Eh gue lupa, gue ada kelas, gue cabut dulu ya, daa..!! " katanya buru-buru mau kabur.
Belum sempat Mona melangkah tiba-tiba sebuah tangan menyebrang meja kecil yang memisahkan mereka, tangan itu langsung meraih tas yang baru saja disandangnya. Mona menatap sang pemilik tangan ngeri.
" Mau kemana lo?," tanya Mora dengan kepala masih tertunduk di meja tapi sebelah tangannya mencengkram erat tas Mona.
" Gue ada kelas " Jawab Mona gugup.
" Gak ada!! jadwal lo ama gue hari ini sama!! "
" eh itu, gue ada janji sama Karin! " Mona mencoba mencari alasan lain secepat nya.
Tiba-tiba Mora menoleh, menatap nya tajam penuh tuduhan.
" Lo mau ninggalin gue?! " tanya Mora sinis.
" Nggak, beneran Sumpah , serius gue ada janji sama Selly !! " jawab Mona panik.
" Bukannya kata lo, Lo janjiannya sama Ririn? "
" Oh iya, iya sama Ririn, salah sebut gue, soalnya tuh anak bedua rada mirip sih, hahaha... Yaudah gue cabut ya " kata Mona hendak berlalu.
Saat Mona ingin melangkah lagi, ternyata tetap tidak bisa. Cengkraman Mora pada tasnya semakit erat.
Kini Mora malah berdiri dan menatapnya tajam, Mora menyipitkan matanya, memberikan tatapan membunuh!.
" Terus Karin gimana? "
Mata Mona langsung melebar, dia tersadar bahwa ternyata nama yang pertama kali dia sebut adalah Karin bukannya Ririn.
" Ya sama Karin juga, hmm... sama tu anak bedua gue janjinya " jawab Mona semakin gugup, berharap Mora bisa mempercayai nya.
" Duduk lo..!! "
Mona yang merasa kebohongannya gagal total hanya bisa kembali duduk dengan pasrah.
" Iya. Iya.l. Gue duduk nih. Mangap deh " Jawab Mona setelah duduk kembali.
Melihat Mona yang merasa bersalah, karin melioat tangan didadanya. " Satu kampus tau kalo Karin sama Ririn gak pernah akur, lo janjian di ring tinju?, mau jadi wasit lo?!!."
Gagal, ternyata susah emang mau bohong dadakan, apalagi didepan sahabatnya ini. " iya maap, gue khilap " Jawab Mona lemah.
" Pinjem duit lo!! " kata Karin ketus.
" Gak..!! " jawab Mona tak kalah ketusnya
Mendengar jawaban Mona yang lebih ketus membuat Mora tersadar, duh salah konsep nih gue!!, dia langsung mengubah taktiknya. Mora langsung berjalan memutari meja dan berlutut pada Mona. Ekpresi wajah diubah memelas, dan... Action..!!
" Mon... Bantuin gue, Please...!! " rengek nya.
Mona melipat tangan didada sambil membuang padangan sedikit kesamping, dan menaikkan dagunya agar terkesan sedikit angkuh, kemudian..
" Gak..!! " jawabnya singkat dan tegas, matanya melirik Mora sepersekian detik lalu kembali melihat langit-langit kafe itu.
Tak lama Semua mata orang yang berada di kafe tersebut menoleh pada keduanya. Mereka seolah mendapatkan tontonan drama gratis dari dua orang mahasiswi cantik yang ' aneh ' ini.
" Mon... Cuma lo doang yang bisa nyelamatin hidup gue Mon... " Rayu Mora dengan wajah seolah-olah hendak menangis.
Mona berbalik menatap sahabatnya ini dengan pandangan tidak suka dan mulai berceramah.
" lo tu ya!. Udah berapa kali gue ingetin, jangan main gituan, tapi ga mau dengerin, rasaiiinn.!!! "
" Yah mon, lo kok gitu sama guee... Abis ini gue beneran insap, ga main poker lagi, pinjemin guee, yaaa...??!!"
Mora menaikan satu tangan dan membuka telunjuk dan jari tengah sementara jari yang lainnya terlipat tanda berjanji, tidak lupa memasang wajah yang meminta belas kasihan.
" Gak main poker?, Terus lo mau main apa?!! "pancing Mona.
" Main slot aja, kali aja jekpot!. Pinjemin yaaa... Please... !! " Jawab Mora polos.
Mona menggeleng heran dan menghela nafas panjang dan membuangnya kasar. Tak habis fikir dengan jawaban konyol sahabatnya ini.
" Gak!, Tetep aja itu judi, dan lo ga pernah tuh sejarahnya menang!. "
" Yaudah gue gak main lagi, tapi pinjemin gue duit yaa... Please... Gue mau bayar uang praktek... Moooonn... "
" Gitu mulu, tapi gak bayar-bayar!! " ketus Mona.
" Gue janji bakal balikin, kali ini pake bunga! " Jawab Mora cepat.
Mona terbelalak mendengar Rayuan Mora. " Lo kata gue bank keliling, Rentenir getooh?!! " kesal.
" Yah mon... Please... Demi masa depan gue Mon... Hiks!! " Mora kembali menunduk lemah, suaranya dibuat agar terdengar nyaris menangis.
Sepertinya Mora sudah memakai semua stok ekspresi memelas yang dia punya untuk meluluhkan hati sahabatnya ini, biasanya sampai tahap ini sudah manjur, tapi sekarang kok belom ya?. Sabar..!!
Mona geleng-geleng kepala lagi, bagaimanapun Mora adalah sahabatnya, Partner in Crime nya. Saking dekatnya, mereka sudah sampe tahap bisa tukaran CelanaDalam, tentu saja Mona sudah terbiasa luluh dengan rayuan Mora yang sangat tidak kreatif ini.
" Yaudah deh, gue pinjemin. Lo butuh berapa? " Mona mengalah.
Mendengar persetujuan Mona, Mora langsung berdiri. Ekspresi nya berubah cerah seketika, kemudian memeluk sahabatnya itu dengan haru. Ternyata memang masih ampuh, dalam hatinya lega.
Sedangkan Mona hanya bisa memutar kedua bola matanya. Heran, bagaimana dia dengan mudahnya terkena rayuan gombal rubah betina ekor sebelas yang menjelma jadi sahabatnya ini, tapi akhirnya tersenyum juga.
Setelah pelukan haru tersebut kedua tangan Mora masih di bahu Mona. Meyakinkan
" Lima belas juta!! " katanya mantap.
" Oke..!, Tapi abis ini Atm lo gue tahan!!" Tegas Mona.
" Siap...!! " Jawab Mora tanpa ragu sedikit pun dengan ujung jari dipelipis mata dan tapak tangan terkembang. Hormat.
Mereka kembali duduk seperti semula, dan melanjutkan acara nongkrong tersebut, bedanya sekarang mereka benar-benar berada disana tidak seperti sebelumnya.
Tak lama Mora tampak berfikir, dia kini menatap Mona dengan senyuman termanisnya.
" Eh Mon, tambahin lima juta ya " pinta Mora sambil mengedip-ngedipkan matanya. Menggoda.
Mona langsung menghela nafas panjang putus asa.
" Eh kutu bening, gue ama lo tu sama, Begoo..!!!. Gue juga dijatah, gak bisaa!!"
" Yah Mon... bulan ini gue makan apa dong?, " Mora mulai merubah ekspresinya lagi dengan wajah sedih.
" MAKANYA PACARAN!! " teriak Mona.
Seisi kafe langsung menoleh lagi pada dua ratu drama dadakan ini.
Dan mereka berdua, tentu saja tak peduli dengan semua tatapan itu, karna keduanya sudah terbiasa jadi pusat perhatian, terlebih lagi Mora.
" Gak mau gue!!, semua cowok itu brengsek !!! " Tolak Mora.
" Ya paling nggak salah satu dari brengsek itu bisa ngasih lo makan sebulan. Lagian pernah pacaran sekali doang, sok bilang semua cowok brengsek segala!! " Jawab mona ketus.
" Tega lo Mon sama gue!! " Mora menunduk dengan suara dan ekspresi menyedihkan lagi.
" Drama apalagi sih lo berdua? "
Seorang laki-laki mengintrupsi keduanya, Mora dan Mona langsung menoleh padanya.
" Tau nih, kalah judi mulu " jawab Mona sambil menunjuk dengan cara mengakat dagunya ke arah Mora.
Mora yang melihat kedatangan laki-laki tersebut langsung tersenyum. Sebuah ide cemerlang seketika terbesit dikepalanya.
" Eh Nick, lo punya cewek gak? " tanya Mora dengan memasang wajah tercantiknya.
Laki-laki yang bernama Nickolas tersebut keheranan dengan pertanyaan Mora, apalagi ini?
" Kenapa emang kalo gue ada cewek? Mau gue kenalin?? "
" Ngapain gue kenalan sama cewek lo, ga penting buanget!! kalo lo punya, putusin sekarang!. " perintah Mora.
" Loh, kenapa harus gue putusin? " Nicolas heran.
" Iya dong, Karna gue mau macarin lo, lo mau ga jadi cowok gue ?" Mora. mengedip-ngedipkan matanya.
" GAAAKK!! " teriak Mona sambil menggebrak meja.
Keduanya terkejut dan otomatis langsung melihat Mona.
" Lah Kenapa lo yang nolak, kan gue nembaknya Nicolas bukan lo? " tanya Mora tak terima.
" Ga boleh, gue gak restuin, gue gak mau masa depan Nickolas suram karna pacaran sama lo!!! " jawab Mona dengan tatapan mengancam.
" Yah Mon, tadi lo nyuruh gue pacaran, giliran gue mau pacaran malah gak lo restuin " Mora kecewa.
" Nicolas adek gue, makanya ga boleh, ntar dia jadi Atm lo, bisa bangkrut kafe nya dalam sebulan, No No No No Noo...!!! " jawab Mona mengeleng-gelengkan kepala nya cepat .
" Gak nyampe bangkrut kok, gue cuma minta makan tiga kali sehari aja sampe bulan depan abis itu putus. Nicolas deh yang mutusin, gue ikhlas " Jawab Mora santai.
Mona melihat wajah Mora dengan kesal dan mengalihkan pandangannya pada Nicolas, melototi Nickolas dan menunjuk tepat diujung hidung adiknya tersebut.
" Nick, walaupun rubah betina depan gue ini super Cantik, lo gak boleh tergoda, Awas lo kalo sampai tergoda!!!"
Mona benar-benar kelihatan serius mengancam Nickolas adiknya.
" yah Mon, sebulan doang. .. !!" Rayu Mora tak tau malu.
" Pokoknya nggak boleh, mending gue yang ngempanin lo makan, daripada lo macarin adek gue, ga rela gue!!! " jawab Mona cepat.
Mendengar itu senyum Mora langsung terkembang, Yes berhasil..!!
" Oke, Deal..!! " Putus Mora bangga sambil memukul meja.
Melihat ekspresi Mora. Detik itu juga Mona langsung menyesali ucapannya sendiri, dia kembali tersadar bahwa dia sudah termakan umpan Mora dengan begitu mudahnya.
" dasar Koceng aer!! " kata Mona kesal.
Mora sama sekali tidak terganggu dengan itu dan mengalihkan pandangannya pada Nickolas.
" Nick, elo mesti dengerin kata-kata sahabat gue yang juga kakak lo ini, jangan pernah tergoda dengan kecantikan gue, bisa suram masa depan lo!! " kata Mora mengingatkan Nickolas. Sok bijak.
Nickolas hanya bisa menggelengkan kepala nya melihat dua orang gadis didepannya ini, bagaimanapun Nicolas juga sudah terbiasa dengan keduanya.
****
Nickolas Aprilio Chandra adalah saudara laki-laki dari Monalisa julia Chandra sahabat Mora. Lahir dua tahun lebih dahulu otomatis menjadikan Mona yang Cantik seorang kakak dan Nickolas yang tampan sebagai Adiknya.
Meski adik kakak ini sangat Akur, tapi mereka memiliki sifat yang sangat bertolak belakang. Mona tumbuh sebagai gadis yang sangat manja, sedangkan Nickolas sejak kecil sudah menunjukkan sifat-sifat pemberontak.
Mona dan Mora sudah berteman sejak SMP, sebagai sahabat kakaknya, tentu saja Mora sudah tidak asing lagi bagi Nickolas.
Mora melempar ponselnya kasar masuk kedalam tas. Kesal. Yang membuatnya kesal bukan karna kalah judi, lagi ga ada modal soalnya, tapi kali ini Iqbal yang jadi beiang keroknya.
Mantan pacar Mora yang sudah sejak tiga bulan yang lalu memutuskan hubungan mereka secara sepihak. eh, Ya... bisa dibilang gitu.! dari kemarin malam selalu mencoba menghubunginya dan meminta bertemu. Mora yang baru saja merasa bisa Move-on, kesal dong, jadinya!
Tentu saja Mona yang sedang menyetir otomatis melihat ke Arah Mora, heran!
" Kenapa lagi sih, lo? "
" Si brengsek ngajakin ketemu. Mau ngapain, coba? " jawab Mora
" Block!! Ribet amat " kata Mona santai.
" Udah..!! nih dia pake nomer baru lagi, rese banget kan jadi orang! "
" Nyesel itu pasti, hahaha.. "
" Nyesel kenapa? " Mora heran.
" Ya gitu deh, tu kunyuk pasti pengen balikan lagi kayak biasa, Gak Usah Mau.. !!" perintah Mona.
" Gue juga ga mau, Ngapain? "
Mona melihat pada Mora sebentar dan kembali melihat kedepan sambil menggeleng kan kepala tidak percaya.
" Lo ngemeng begini karna gak ada orangnya, eh pas ada pasti langsung gagu!" Ejek mona
" Nggak!!, kali ini gue udah ga mau balik lagi. Terakhir udah sakit banget hati gue, ish... Anjing!! "
" Alah, Gak caya gue!! "
Mora memandang jauh kedepan dengan tatapan kosong, fikirannya melayang pada kejadian tiga bulan yang lalu. Saat itu dia merasa dicampakkan oleh pacar nya sendiri.
" Gak mungkin gue mau balik lagi sama si brengsek ga tau diri itu, lo juga liat kan, waktu itu dia sama Emily? "
" Hmm.. Makanya lo Move On dong!. Banyak yang ngantri ini, tinggal pilih satu atau dua, tiga juga gapapa!!" Goda Mona.
Mora mengernyit keheranan melihat sahabatnya.
" Emangnya lo??!! Kayak mau beli kancut aja tinggal pilih " Jawab Mora kesal.
" Hahahaha.. Lagian lo make kancut itu mulu, ganti dong ganteeii..!! "
" kok lo jadi ngeselin banget sih?, Babi..!"
" hahahaha..!! "
****
Mereka baru saja tiba di kafe KoKam, tempat favorit mereka untuk menghabiskan waktu sejak Nickolas membuka kafe ini. Saking seringnya kesini, ada meja yang memang dikhususkan untuk mereka, gak gitu juga sih, tapi hampir tiap kesini mereka selalu duduk disana.
Mora langsung menuju area kekuasaannya, tapi tidak dengan Mona, Gadis itu langsung mendekati Bar tempat nickolas sedang menyeduh kopi.
" Nick yang biasa yaa!! " pinta Mona pada adiknya.
" Oke,!! "
Mona bergabung dengan Mora di meja mereka, sebelum duduk matanya melihat sekilas sosok laki-laki sedang duduk sendiri menatapnya dan tersenyum.
" Nyet, kancut lo disini..!! "
" Maksud lo? "
" Iqbal disini, arah pukul enam!! " jelas Mona sambil menunjuk pake dagu, seperti kebiasaanya dan langsung duduk setelah itu.
Mora tidak melihat tapi Mendengar itu, perasaan Mora langsung tidak enak, gadis ini benar-benar tidak ingin lagi bertemu dengan laki-laki itu. Terus pukul enam?!, Apa maksudnya?
Mora menoleh pada jam dinding. Waktu saat itu menunjukkan pukul tiga lewat tujuh belas menit, jam enam?, oh... mungkin dibawah. dia melihat orang yang duduk di meja tepat dibawah jam, Om-om??, Mora mengernyit segera berbalik pada Mona.
" becanda lo ga lucu, Anjing!! " kata Mora kesal.
Mona menggeleng saat melihat Mora dengan putus asa, Anak Babi ini memang tidak tertolong, fikirnya. Mora mendesah.
" eh tolol, arah pukul enam itu maksudnya di belakang Elooooo, begooo..!!! "
Mora kesal dengan cara Mona memberitahu Arah.
" Emang lo pikir kita lagi perang?!" protes Mora.
Mora kemudian membalikkan badannya. Padangan langsung bertemu dengan tatapan mata Iqbal yang seolah memang menunggu untuk melihat ke arahnya.
" Yaudah sono!, jangan bikin ribut disini, ntar pelanggan disini pada kabur!! " ingat Mona pada Mora.
Mora meluruskan kembali badannya dan menatap Mona penuh harap.
" Mon... Gue lagi ga mau ketemu. Bisa gak lo usir aja tuh orang? " pinta Mora memelas.
Mora heran dengan permintaan konyol sahabatnya ini, " Gimana cara ngusirnya, ini bukan rumah gue. Walaupun ini kafe Nickolas, tapi tetap aja brengsek itu pelanggan sini. Yaudah sono gih, lo aja yang usir sendiri. hushus!! "
" Ish parah lo jadi temen!! " ketus Mora.
Dengan berat hati dia berdiri dan berjalan menghampiri meja dimana Iqbal sedang menunggunya.
Mona melihatnya dengan tatapan prihatin. jika ini bukan kafe milik Nickolas, pasti Mona sudah menyerang Iqbal tanpa pikir panjang lagi, karena dari awal Mona memang tidak pernah suka dengan Iqbal. ditambah kejadian beberapa bulan yang lalu, Mona sangat bernafsu untuk menggaruk muka laki-laki brengsek itu dengan garpu.
Sampai di meja Iqbal, Mora tidak langsung duduk. Dia hanya berdiri dan tatapannya sama sekali tidak untuk Iqbal. Mora menatap jauh keluar, entah apa yang menjadi fokusnya dibalik dinding kaca kafe tersebut.
" Ngapain disini? " tanya Mora ketus.
Iqbal yang semula tersenyum, kini memasang wajah sedikit kecewa dengan pertanyaan Mora, Iqbal tidak menjawab pertanyaannya," Sayang, duduk dulu, aku pengen ngomong sama kamu" balas Iqbal lembut sambil meminta Mora duduk.
Mendengar panggilan Iqbal padanya, hati Mora langsung memanas. Dia menatap Iqbal tajam dan merapatkan gigi nya.
" Jangan pernah panggil Gue dengan sebutan itu lagi..!! " Desis nya.
Iqbal tidak menyangka Mora akan bersikap seperti itu, yah... walaupun dia tidak mengharap kan Mora tiba-tiba jadi baik dan ramah padanya. Cuma, dia kesini memang bermaksud ingin berbicara dengan Mora, dan berbaikan dengannya. Iqbal berusaha sebaik mungkin memperlakukan gadis yang masih marah ini.
" Iya maaf, aku udah salah sama kamu, makanya aku kesini pengen ketemu langsung. Ada yang ingin aku jelasin sama kamu, makanya duduk dulu. Kita bicara baik-baik." pinta Iqbal sekali lagi.
Mora mungkin sedang marah, tapi entah kenapa setiap berhadapan dengan Iqbal dia tidak pernah mampu meluapkan kemarahannya. Seperti saat sekarang ini saja. Mora malah mengikuti keinginan Iqbal dan duduk disana, Bego emang!!
Mona yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepala, dia tau kejadian ini akan terjadi, lagi!. Iqbal akan meminta Mora memaafkannya, dan mereka akan kembali berpacaran. Seperti biasanya, dan Mona sangat membenci itu.
" Mora mana? "
Mona menoleh pada Nickolas adiknya yang datang membawa pesanan mereka.
" Tuh lagi sama si brengsek itu..!! " Jawab Mona ketus sambil menunjuk dengan dagunya. Kebiasaan.
Nicolas melihat sebentar ke arah Mora, tapi Mora yang duduk membelakangi mereka, tentu saja tidak melihatnya. " Oh " katanya.
" Lo juga duduk!, gue pengen ngomong..!! " titah Mona pada adiknya.
Nickolas tau apa yang akan dibicarakan oleh kakaknya. Walaupun enggan, tapi dia tetap menuruti kata-kata Mona dan duduk didepannya.
Masih menarik nafas, tapi belum sempat Mona menyampaikan maksudnya. Nickolas malah mendahului nya.
" Gue gak bakal balik kerumah!. " potong Nickolas langsung.
" Mau sampai kapan sih, Nick??" tanya Mona.
" Gue udah putusin buat mulai hidup gue sendiri, Kak!. Sekarang gue udah punya usaha, jadi gue gak butuh bantuan dari dia lagi " kata Nickolas sedikit datar.
Mona melebarkan matanya, kesal. Tidak percaya dengan kata-kata adiknya sendiri.
" Dia Papa kita !!, Gue ingetin kalo lo lupa " kata Mona sebal.
" Dulu, sekarang udah nggak lagi..!!"
Mona sangat tau karakter adiknya, sekali sudah memutuskan sesuatu Nickolas tidak akan pernah mengubahnya. Mona tau betul dari mana sifat itu Nickolas dapatkan, tentu saja dari Papa mereka. Makanya akan sangat susah sekali membuat dua orang keras kepala yang sedang berseteru ini, menjadi akur kembali.
" Nick, Oke deh lo boleh marah sama Papa, dan gue ga akan ikut campur disana, karna lo dan papa memilih bungkam. Tapi lo jangan bikin Mama sedih dong!. Tiap hari nanyain lo mulu, Inget Mama kita udah gak sesehat dulu !! " Mona mengingatkan.
Mendengar Mona membawa Mama mereka disini, hati Nickolas langsung melembut, rasa bersalah langsung tampak di wajahnya.
" Makanya, lo bantu bilang sama Mama, gue baik-baik aja " pintanya pada Mona kakaknya.
" Lo mesti sering nelfon Mama, biar dia yakin kalo lo baik-baik aja " Nasehat Mona.
Nickolas mengangguk mengerti maksud kakaknya, dia berjanji dalam hati akan lebih sering mengabari Mama mereka.
" Oke, ntar gue telfon deh " Putusnya.
Mendengar janji Nickolas membuat Mona lega. Setidaknya, adiknya ini masih bisa berpikir jernih. " trus Satu lagi, lo tinggal dimana Sih, sebenernya? "
Nickolas langsung gugup begitu pertanyaan ini meluncur dari mulut kakak nya, dia bisa membohongi orang lain, tapi belum pernah sukses membohongi Mona sekalipun. Kakak yang sangat menyayanginya ini, sangat mengenal dirinya.
" Gue tinggal samaaa—" belum sempat Nicolas menyelesaikan, perkatakaannya tiba-tiba dipotong.
" Minggir, gue pengen duduk !! "
Mora sudah berdiri di antara mereka, mengusir Nickolas atau lebih tepatnya secara tidak langsung Mora sedang menyelamatkan Nickolas dari upaya berbohong yang berkemungkinan besar, GAGAL!.
" Eh, Gue lagi ngomong sama adek gue, gangguin aja sih lo, urus dulu noh kancut lo..!! " Mona tidak terima.
" Udah gue usiiiirrrr... tuh udah ngacir!! "kata Mora pada Mona dan berbalik menatap Nickolas lagi. Namun Nickolas malah melihat kepergian Iqbal dari kafenya. Begitupula dengan Mona.
" masih duduk aja lagi. Udah sana lo, buruan, layanin pelanggan. hus hus hus.. !!" usir Mora tidak sabaran.
Nickolas hanya tersenyum pasrah saat Mora mengusir nya, kemudian menatap Mona dengan sedikit menyesal, Nickolas berdiri dan berlalu pergi begitu saja.
Melihat Mora menggantikan posisi duduk Nickolas didepannya, Mona tidak terima. " Eh Vampir udik, kenapa lo jadi ngusir adek gue juga??!! "
Mora tidak perduli dengan protes Mona. " Ngomong apaan sih lo bedua? Ga penting juga kan? " remeh nya.
" Penting dong!!, gue mau nanyaiinn... "
Kata-kata Mona terhenti, kemudian berfikir. Hampir saja tanpa sengaja mengungkap sendiri rahasia nya pada Mora.
Mona tidak pernah mengatakan pada Mora bahwa Nickolas sudah keluar dari Rumah sejak empat bulan yang lalu.
Dia bukannya takut Mora tau Nickolas keluar rumah. Mora pasti tau sekeras apa sifat Nickolas. Tapi masalahnya Mona tidak siap menceritakan pada sahabatnya ini, apa yang membuat Nickolas sampai keluar dari rumah, karna dia juga belum yakin dengan kebenarannya. Apalagi baik Nicko maupun papa mereka memilih tidak membahas masalahnya.
Mora yang melihat omongan Mona yang menggantung, sebenarnya juga sudah tahu ada sesuatu yang dirahasiakan Mona dan Nickolas dari diri nya, dan dia mengerti itu. Mora mengabaikannya.
" Lo mau nanyain cewek nya pasti? " tanya Mora pura-pura keheranan.
" Iya, gue mau tau siapa ceweknya " jawab Mona cepat dan langsung memasang wajah lega, hampir keceplosan Njir..!!
" Ngapain lo nanya-nanya? Nicolas cakep ini, ya banyak pasti ceweknya!! " kata Mora ketus.
" Oh iya, bener juga lo, hahaha.. " tawa Mona beneran hambar, Sumpahh!!
" bego lo..!! "
" Lo yang bego, Anjing!! "
" kok, gue?? Gue B aja!! " jawab Mora cuek.
Mona mendekatkan tubuhnya pada Mora diseberang meja, dan menatapnya dengan tatapan tuduh penuh keyakinan. " Pasti lo balikan sama si Babi kan?!! "
Mendengar tuduhan Mona yang kali ini meleset, Mora tersenyum angkuh.
Mora menggeleng seperti tidak percaya." Ck. Ck. Ck. Maaf kali ini gue harus mengecewakan elo, Jamilah "
Ekspresi apa lagi ini coba? " Maksud lo? " Mona penasaran.
" Gue bilang ke Iqbal, kalo gue udah punya Cowok.!! " tegas Mora.
Mora bersandar dan melipat tangannya didepan dada, alis nya turun naik setidaknya tiga kali sambil terseyum bangga pada Mona.
Mata Mona melebar, kepalanya menggeleng sekali kekanan sekali kekiri berkali-kali dengan cepat. Seperti tidak percaya mendengar apa yang baru saja dikatakan Mora, hampir saja mulutnya yang kecil itu terkoyak karna ternganga. sebelum itu sempat terjadi dia langsung mengerjap.
" Eh, lo beneran punya cowok? Siapa ?!! " tanya Mona dengan tampang bodohnya.
" Bego emang Lo!!! "