Membutuhkan waktu hampir setengah jam lebih untuk Kanae akhirya kembali tersadar dari tidurnya. Gadis itu memerhatikan ke sekitar dengan wajah bingung sekaligus heran. Seingat gadis itu, Kanae telah membukakan pintu untu seorang tamu yang datang dan setelah itu, dirinya tidak mengingat apa pun lagi.
Kanae mencoba mengingat-ingat dengan lamat alasan dirinya berada di dalam kamar kedua orang tuanya saat ini, namun dirinya masih tidak mengerti bagaimana caranya. Dan ketika gadis itu sibuk memikirkan ulang apa yang terjadi pada dirinya saat ini, pintu kamar tiba-tiba terbuka dari luar menampakkan seorang pria tampan yang juga tengah menatap ke arahnya.
Kanae tertegun sejenak menatap kehadiran pria itu, sebelum kemudian gadis itu terperanjat kaget dan langsung bangun dari tidurnya. Kanae merasa terkejut melihat ada seorang pria asing yang sudah masuk ke dalam rumah, bahkan kamarnya. Ah maksudnya kamar kedua orang tuanya.
“Kau, kau siapa?!” seru Kanae yang menatap waspada kepada pria itu. gadis itu merapatkan diri pada dashboard kasur. Shima yang masih berdiri di dekat pintu, lalu mulai melangkah masuk semakin ke dalam kamar dengan wajah datar menatap Kanae.
Melihat pria itu mendekat ke arahnya sontak membuat Kanae semakin panik. Gadis itu langsung menyebarkan pandangan matanya ke arah sekitar untuk mencari alat yang bisa digunakannya sebagai senjata. Mata bulatnya hanya bisa menangkan sebuah kamus tebal berbahasa inggris di atas meja nakas.
Segera gadis itu meraih kamus tersebut dan memegangnya dengan erat. Melihat tingkah laku gadis di depannya itu yang terlihat begitu panik dan waspada ke arahnya, Shima hanya terdiam membiarkan gadis itu berlaku semaunya saat ini. Dilihatnya gadis itu kembali memasang sikap waspada ke arahnya.
Dilihat dari tingkah lakunya yang dinilai memasang sikap waspada layaknya seorang marmut kecil yang tengah terpojok di sudut ruang membuat pria itu menatapnya dengan pandangan mata kasihan, sekaligus kecewa. Tidak ada yang spesial dalam diri gadis itu dalam penilaian pribadinya.
Kanae merupakan gadis biasa yang lemah. Sangat mudah untuk mengalahkn dan merusaknya. Shima merasa kecewa karena gadis yang mereka cari, sayang sekali adalah gadis yang ada di depannya ini. gadis itu tidak kn bisa bertahan dalam dunia yang tengah mereka geluti saat ini.
“Aku bertanya, siapa kau?! Kenapa kau bisa masuk ke sini ha?!” tanya Kanae lagi dengan suara lebih keras. Napasnya masih terlihat memberat, menunjukkan bahwa gadis itu masih dalam kondisi lemahnya saat ini.
“Bisakah kita berbicara dengan tenang? Aku datang ke sini untuk menemuimu, nona Kanae. Putri dari mantan pelayan tuan kami yang bernama Ayuni,” jawab pria berwajah dingin itu dengan tegas sembari menatap Kanae dengan lekat. Sontak Kanae mengernyitkan kedua alisnya merasa bingung dengan ucapan pria tampan itu. Tidak diduga bahwa pria asing itu mengetahui nama bundanya.
“Dari mana kau tahu nama Bundaku? Siapa kau?” tanya Kanae sekali lagi. Gadis itu mulai menatap Shima dengan tatapan menyelidik. Meski begitu, nampak pertahanan dirinya mulai menurun ketika mengetahui bahwa pria itu juga mengenal bundanya.
Shima sendiri meraih kursi terdekat dan menariknya untuk menempatkannya di dekat ranjang Kanae. Dengan santai pria bertubuh tegap itu mendudukinya, membuat Kanae yang melihat pria itu yang bergerak tanpa terlihat melakukan sesuatu yang mencurigakan, menjadi semakin menatapnya dengan wajah heran. Gadis itu mendudukkan tubuhnya di bagian ranjang yang paling jauh dari Shima berada.
“Perkenalkan nona Kanae. Nama saya Shima. Haru Shima. Saya telah ditugaskan oleh tuan Iyoto untuk menjemput anda.”
“Ha? Iyoto? Siapa dia? Aku tidak mengenal kau, apalagi seseorang yang bernama ... Iyoto?!”
Shima terdiam sejenak mendengar penjelasan dan pertanyaan gadis itu. Sebelum kemudian pria itu menjawab ucapan Kanae.
“Sepertinya nyonya Ayuni tidak mengatakan apa pun kepada anda, nona Kanae. Yang bisa saya katakan hanyalah tuan Iyoto merupakan kakek anda. Iyoto Matsumoto menyuruh saya untuk menjemput anda, nona Kanae.”
“A—apa maksudmu sebenarnya? Menjemput ke mana?”
“Menjemput ke Jepang.”
***
Seketika terjadi jeda sejenak di antara mereka berdua setelah Kanae mendengar penjelasan singkat dari pria asing itu. Kanae merasa linglung mendadak. berpikir bahwa mungkinkah dirinya kini tengah bermimpi? Atau kah mungkin ini hanya semacam permainan Kamera Tersembunyi?
Yang lebih jelas, Kanae yakin bahwa dirinya tengah dibohongi oleh pria tampan di depannya ini. Tapi pertanyaan besar dalam kepala Kanae saat ini adalah, bagaimana pria itu bisa mengetahui nama ibunya? Kenapa dia harus datang tepat di saat Papa dan Bundanya telah tiada?
Kanae tidak memiliki sanak saudara lagi yang bisa dihubungi untuk memastikan kebenaran tersebut. Tentu saja Kanae tidak bisa mempercayai tiap ucapan pria itu dengan mudah.
“Aku tidak bisa ikut denganmu. Apa lagi ke Jepang? Aku tidak pernah pergi ke sana. Dan tempat sejauh itu, mana bisa aku akan ikut begitu saja. Aku tidak mengenalmu atau pun tidak pernah mendengar cerita yang kau katakan itu. Mungkin saja kau telah membohongiku,” jawab Kanae dengan mantap.
Tentu saja dirinya tidak mungkin akan mengikuti ucapan pria asing itu begitu saja, walau pria itu memiliki wajah tampan sekali pun. Jaman sekarang banyak aksi penculikan yang dilakukan orang pro, lalu mereka tidak sean untuk membunuhnya. Kanae tidak ingin terjebak dalam situasi mengerikan itu.
Sementara pria di depannya itu nampak tetap tenang mendengar penolakan Kanae, seolah hal itu bukanlah masalah berarti baginya. Dengan santai pria itu menyandarkan punggung tegap serta lebarnya pada punggung kursi dengan tetap memerhatikan Kanae dengan lekat.
Mata jelaga hitam itu seolah tengah mengawasi Kanae dengan begitu tajam tanpa sedikit pun pergerakan yang terlewat. Membuat Kanae merasa semakin tegang di tempat. Kanae merasa pria itu tengah menilai dirinya dengan kedua mata tajam itu, dan Kanae sangat tidak suka. Pria itu sangat tidak sopan bagi Kanae.
“Saya sudah mengatakan hal yang sesungguhnya, Nona Kanae. Dan sejujurnya saya juga tidak perduli akan pendapat anda. Baik menerima atau tidak, yang jelas saya sudah ditugaskan untuk membawa anda ke Jepang, bersama dengan saya. Untuk sekarang, tolong bersiaplah segera. Sebentar lagi kita akan berangkat,” ucap Shima menjelaskan.
Kening Kanae seketika mengerut tajam mendengar ucapan pria itu. Bagaimana bisa pria itu memutuskan pilihannya tanpa meminta persetujuannya lebih dulu? Kanae semakin tidak menyukai pria tersebut.
“Aku sudah mengatakannya padamu. Aku tidak akan ikut denganmu. Lagi pula bagaimana aku bisa berangkat dengan kondisi tubuhku seperti ini? Lebih baik sekarang kau pergi dari rumahku, dan jangan pernah mengganggu hidupku lagi. Apa kau mengerti itu?!” tegas Kanae sembari menunjuk pintu kamarnya yang tertutup, menyuruh pria bernama Shima itu pergi dari hadapannya.
Kanae sangat serius dengan ucapannya itu. Kepalanya saat ini terasa berat, dan tubuhnya terasa sangat lemas. Perutnya terasa begitu lapar. Kanae sudah cukup menderita untuk beberapa hari belakangan ini. Jadi gadis itu tidak ingin menambah beban hidupnya lagi dengan melibatkan diri pada pria asing yang tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya dengan bebas dan menyuruhnya untuk ikut bersamanya ke Jepang ini.
Kanae hanya ingin makan, lalu beristirahat penuh dalam kamarnya seharian ini. Itu saja. Namun sepertinya penegasan Kanae itu tidak berarti apa-apa untuk Shima. Bahkan pria itu tidak berjengit sedikit pun dengan bentakan Kanae, atau bahkan menolehkan pandangannya ke arah pintu yang Kanae tunjuk.
Dia hanya tetap bersikap tenang tanpa beban dan menatap lurus ke arah Kanae dengan kedua mata yang begitu tajam, seolah dia siap membius tiap orang yang ada di depannya dengan sorot mata miliknya itu. Sikap tenang pria itu justru membuat Kanae semakin tidak sabar melihatnya.
“Kenapa kau hanya diam saja?! Kubilang cepat pergi dari rumahku sekarang juga! Aku tidak ingin berurusan denganmu atau siapa pun itu!” bentak Kanae sekali lagi dengan suara satu oktaf lebih tinggi.
“Sayangnya saya tidak bisa menuruti keinginan anda, Nona Kanae. Saya hanya menjalankan perintah yang diberikan pada saya. Jika anda ingin menolaknya, maka silahkan anda mengatakannya sendiri secara langsung pada Tuan Iyoto nanti,” balas Shima dengan wajah datarnya. “Di Jepang tentunya,” tambahnya.
“Dan untuk masalah kesehatan anda, anda jangan khawatir, Nona Kanae. Kami telah menyiapkan pesawat berkualitas terbaik. Anda bisa beristirahat di sana selama perjalanan nanti. Dan kami juga telah menyiapkan perawat yang akan menjaga anda selama penerbangan nanti. Lagi pula kami juga berencana akan tetap membawa anda jika pun anda belum sadarkan diri tadi. Untuk sekarang bawahan saya sedang menyiapkan keberangkatan kita yang akan dilakukan tidak lama lagi,” jelas Shima.
“Apa?”
Kanae mau tidak mau hanya bisa melongo di tempat mendengar ucapannya yang terasa tidak masuk akal itu. Bagaimana bisa pria itu akan membawa tubuhnya yang tidak sadarkan diri ke Jepang secara paksa.
“Bukankah ini tindakan kriminal? Dia berusaha menculikku?”
Pikiran Kanae tidak bisa berhenti memikirkan hal buruk karena ucapan pria itu. Bukankah ini tidak bisa dibiarkan? Pria itu ingin menculiknya secara terang-terangan. Tidakkah seharusnya Kanae pergi keluar untuk mencari bantuan sekarang? Ya, hanya itu yang bisa dipikirkan Kanae saat ini.
Gadis itu langsung memegang kepalanya ketika secara tiba-tiba dia merasakan nyeri di sana. Kanae harus menahan tubuhnya yang condong ke depan untuk tetap menegak, sembari menahan rasa nyeri yang melanda kepalanya. Sepertinya berbicara dengan pria Jepang itu membuat demam Kanae menjadi semakin parah.
“Ugh, menyebalkan!” keluh Kanae dengan suara lirih.
“Lebih baik anda beristirahat saja, Nona Kanae. Sebentar lagi bawahan saya akan datang untuk membawa kita pergi,” celetuk Shima yang menyadari kondisi gadis itu menjadi semakin parah.
“Diam. Aku tidak ingin berbicara denganmu lagi,” sambut Kanae dengan ketus. Sungguh, Kanae hanya tidak ingin berdebat saat ini. Apa lagi dengan pria asing tidak jelas seperti Shima. Namun di waktu yang tepat, pintu kamar Kanae tiba-tiba diketuk dari luar.
“Shima-san, persiapan sudah selesai. Kita bisa berangkat kapan pun yang diperintahkan,” lapor salah satu pria di luar sana. Membuat Kanae langsung tertegun mendengarnya. Kanae tidak tahu apa yang tengah pria itu katakan karena pria luar di sana berbicara dengan Bahasa Jepang.
Namun apa pun itu, Kanae bisa merasakan bahwa pria itu mengatakan hal yang tidak Kanae inginkan. Tubuh Kanae kembali menegang secara otomatis. Gadis itu melirik ke arah Shima yang masih menatap lurus ke arahnya.
“Penerbangan kita sudah selesai dipersiapkan, Nona Kanae. Kita akan pergi sekarang juga,” ucap Shima yang lalu bangkit berdiri dari duduknya. Membuat Kanae seketika mendongak dan membolakan kedua matanya dengan bingung sekaligus panik secara bersamaan.
“Ap—apa ... apa yang kau katakan itu?!” tanya Kanae dengan nada gagap menatap Shima dengan pandangan waspada. Namun pria itu bersikap tidak perduli dengan respon yang ditunjukkan Kanae. Pria itu menoleh ke arah pintu kamar yang masih tertutup.
“Masuklah. Bawa Nona Kanae sekarang juga!” titah pria Jepang itu dengan mantap. Detik kemudian pintu kamar terbuka lebar menunjukkan 3 pria besar yang sempat Kanae lihat sebelum gadis itu tidak sadarkan diri tadi. Melihat ketiga pria itu tiba-tiba masuk ke dalam kamarnya begitu saja, membuat Kanae semakin panik di tempat.
“Hei hei! Siapa kalian?! Siapa yang menyuruh kalian masuk begitu saja?! Pergi! Pergi!” teriakan Kanae semakin mengencang ketika ketiga pria itu langsung mengelilingi tubuhnya dan mulai mengangkatnya dengan mudah. Kanae ketakutan. Bahkan mereka langsung menutup mulut Kanae untuk mencegahnya berteriak lebih keras.
Kanae berusaha memberontak sebrutal mungkin. Namun tentu saja tenaganya yang lemah dan dalam kondisi lemas seperti itu tidak bisa dibandingkan dengan kekuatan dari tenaga 3 pria besar berotot seperti mereka. Kanae tidak bisa melakukan perlawanan lebih.
Mata lebar Kanae sempat melihat ke arah Shima yang menatapnya dengan wajah dingin tanpa bermaksud untuk menolongnya sama sekali. Pria itu bahkan mengalihkan pandang ke arah lain untuk berbicara dengan satu pria yang berdiri di sebelahnya. Tidak memedulikan Kanae lagi.
Membuat gadis itu merasa semakin membencinya. Mereka dengan serempak membawa Kanae ke dalam mobil hitam yang terparkir persis di depan rumahnya. Entah kenapa tidak ada siapa pun orang yang melihat dan datang untuk menolongnya. Membuat aksi penculikan itu berjalan begitu lancar.
Kanae hanya bisa menangis dalam diam, memikirkan masa depannya setelah ini. Dan pintu mobil akhirnya tertutup rapat, menyembunyikan Kanae yang berada di dalam mobil bersama dengan semua pria besar itu.
Duduk terdiam di tempat tanpa bisa melakukan apa-apa lagi. Kanae hanya membisu menatap pria asing berwajah tampan yang juga tengah duduk di depannya menyilangkan kaki dengan nyaman sembari membaca surat kabar di kedua tangannya tanpa berniat menoleh sedikit pun pada Kanae, seolah gadis itu sama sekali tidak pernah ada di hadapannya.
Sejak beberapa jam yang lalu Kanae telah terjebak di dalam pesawat yang walau Kanae tidak pernah menaiki pesawat, namun dirinya langsung mengetahui bahwa pesawat yang ditupanginya ini merupakan pesawat kelas VIP melihat betapa mewahnya isi di dalamnya, bersama dengan lelaki di depannya yang mengaku bernama Haru Shima ini.
Kanae benar-benar tidak bisa berkutik lagi. Ingatannya kembali mengarah pada saat dirinya memasuki Bandara tempat penerbangannya tadi. Baik dari semua Penjaga berbaju hitam yang berbaris dengan rapi seolah menyambut kedatangan Kanae dan pria asing itu, Awak Kapal, dan petugas Pramugari yang melayani mereka di Pesawat, mereka semua hanya memilih diam seolah tuli dengan jeritan Kanae yang meminta tolong untuk dilepaskan.
Melihat bagaimana pasifnya reaksi yang mereka tunjukkan itu, membuat Kanae seketika merasa lemas. Gadis itu menyadari bahwa tidak ada seorang pun dari mereka yang berada di pihak dirinya, sekaligus membuat Kanae juga menyadari bahwa pria yang tengah membawanya dengan paksa ini memang memiliki kekuasaan besar untuk bisa membungkam mereka semua atas tindakan kriminal ini.
Karena itu, Kanae akhirnya mau tidak mau hanya bisa pasrah menuruti keinginan mereka tanpa bisa melakukan perlawanan apa pun lagi hingga saat ini. Waktu berjalan beberapa jam, entah berapa lama pastinya waktu berjalan, Kanae hanya bisa menanti kapan pesawat mewah ini akan berhenti membawanya pergi.
Tubuh Kanae sudah merasa lemas dan begitu tegang, namun dirinya berusaha menahannya. Kanae tidak tahu apa yang akan pria itu lakukan kepadanya setelah ini. Kanae tidak bsa menurunkan penjagaan dirinya di depan pria asing yang merupakan penculiknya ini. Meski begitu, karena pada dasarnya Kanae memang sedang berada dalam kondisi tubuh yang tidak sehat, gadis itu tidak bisa menyembunyikan sakitnya lebih lama.
Keringat dingin sudah menetes membasahi beberapa bagian wajahnya dengan rona wajah yang masih sama pucatnya sejak awal. Pandangan mata Kanae juga telah berkunang-kunang kembali sejak beberapa menit yang lalu namun gadis itu masih bersikap sok kuat di depan pria itu.
Tanpa sadar Kanae menghembuskan napas dengan kasar karena merasa marah pada keadaan sendiri yang menjadi lemah tidak pada tempatnya, sembari menegakkan kembali punggungnya yang terasa kaku dan sakit di banyak bagian. Membuat Haru Shima diam-diam memerhatikan dirinya di balik surat kabar yang tengah dibacanya sedari tadi.
Sedari awal pria itu sudah menyarankan Kanae untuk beristirahat saja di tempat tidur yang merupakan salah satu fasilitas dalam pesawat tersebut, sesuai yang pria itu telah janjikan pada Kanae untuk gadis itu bisa beristirahat di sepanjang perjalanan mereka. Namun Kanae tetap keras kepala tidak berniat untuk menurunkan penjagaannya di depan mereka. Alhasil pria itu hanya membiarkan saja Kanae ingin berlaku seperti apa.
Kini gadis itu telah merasakannya sendiri bagaimana beratnya beban yang ditanggung tubuhnya ketika dia dalam kondisi lemah seperti ini. Haru Shima sengaja hanya duduk diam memerhatikan Kanae tanpa gadis itu sadari, untuk melihat seberapa lama gadis itu akan bertahan.
Hampir 3 jam, di luar prediksi pria itu yang mengira bahwa Kanae tidak akan bertahan kurang dari 2 jam. Cukup membuat Haru Shima takjub mengingat penampilan gadis itu yang terlihat seperti seorang putri yang manja di mata pria itu. Pintu ruang mereka terbuka menampilkan seorang Pramugari yang berjalan masuk dengan membawa beberapa makanan dan minuman.
“Mister, apa anda membutuhkan minuman atau makanan apa pun?” tanya wanita itu dengan senyuman ramahnya pada Haru Shima, tidak perduli bagaimana dinginnya wajah yang pria itu tunjukkan sedari tadi. Kanae hanya melirik dan mendengarkan interaksi di antara mereka tanpa bisa mengartikan tiap kata yang mereka bicarakan, karena keduanya lagi-lagi berbicara dengan bahasa Jepang.
“Berikan aku kopi, dan Nona Kanae segelas air jeruk hangat, juga makanan,” jawab Haru Shima. Lalu pria itu menoleh ke arah Kanae. “Apa ada makanan atau minuman yang anda inginkan, Nona?” tanya pria itu pada Kanae untuk memastikan apa yang Kanae butuhkan sekali lagi. Sementara Pramugari itu mulai menuangkan segelas kopi untuk Haru Shima.
“Air putih,” jawab Kanae yang menundukkan wajahnya ke bawah karena menahan pusing yang melanda kepalanya. Bahkan napas gadis itu sudah tidak teratur. Kanae merasa dunianya sedang berputar saat ini. Sepertinya gadis itu sudah tidak bisa menahan pandangannya lagi.
“Dan air putih,” tambah pria itu pada Pramugari. Setelah itu, Pramugari tersebut mulai meletakkan makanan dan minuman untuk Kanae di depan mejanya, membuat gadis itu yang baru menyadari semua makanan itu menjadi bingung karena merasa tidak memesannya.
“Aku hanya ingin air putih,” protes gadis itu. Mungkin tadi pagi dirinya merasa sangat lapar sampai rasanya membuat perut Kanae dicubit dengan begitu keras dari dalam. Tapi saat ini, setelah waktu lama terlewati, begitu juga dengan situasi dirinya yang membingungkan bersama dengan pria asing itu, nafsu makan Kanae menjadi hilang.
Gadis itu sudah tidak merasa lapar sedikit pun pada perutnya. Semua terganti dengan kondisi tubuhnya yang semakin melemas. Sejujurnya Kanae merasa dirinya sudah tidak bisa menahan tubuhnya lagi saat ini.
“Anda perlu mengisi perut untuk menguatkan stamina, Nona Kanae,” balas Haru Shima tidak perduli. Mendengar jawaban pria itu membuat Kanae hanya bisa menghembuskan napas kasar. Kanae juga tidak ingin perduli dengan apa pun yang pria itu ucapkan lagi.
Gadis itu beralih meraih segelas air putih yang telah disiapkan oleh Pramugari tersebut tanpa berniat untuk menyentuh makanan yang telah tersedia di atas mejanya sedikit pun. Tenaga Kanae yang melemas membuat tangan gadis itu cukup bergetar ketika membawa gelas berisi air tersebut mendekat pada bibirnya, dan pergerakan itu tertangkap jelas di indera mata Haru Shima yang sedari tadi memerhatikan pergerakan Kanae.
Berpikir bahwa kondisi gadis itu nampaknya sudah sampai pada batasnya, detik kemudian dugaan Haru Shima menjadi benar adanya. gelas yang dipegang Kanae berakhir terjun ke bawah dari tangan kecil gadis itu. Beruntung Haru Shima berhasil menangkap gelas itu pada detik terakhir sebelum gelas itu menghantam lantai pesawat.
Namun mereka tidak bisa menghindari isi gelas yang jatuh berceceran di atas lantai pesawat, meski semua itu bukan masalah berarti baginya. Dengan sigap pria itu meletakkan kembali gelas tersebut di atas meja sementara Pramugari di sana masih terlihat terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Haru Shima langsung beralih pada Kanae yang sudah melemas di tempat dengan kedua mata tertutup.
“Panggil Perawat!” perintah pria itu dengan tegas sembari mulai mengangkat tubuh kecil Kanae dengan mudah dan membawanya menuju ranjang yang telah disediakan. Dengan hati-hati pria itu meletakkan Kanae di sana. Melihat bagaimana keras kepalanya Kanae hingga sampai berada di titik ini membuat Haru Shima menghela napas lelah.
Tidak lama kemudian Perawat datang untuk memeriksa kondisinya, sementara Haru Shima berdiri tidak jauh dari sana sembari memerhatikan pekerjaan perawat itu dengan lekat. Kedua tangannya terlipat di depan dada, sembari sesekali akan melihat wajah Kanae yang masih menutup kedua matanya.
Jika kondisinya terus begini, maka mereka tidak akan bisa bertemu Iyoto Matsumoto yang merupakan Tuan mereka dengan segera.
“Jika kau selesai memeriksanya, panggil penjaga ke sini segera,” pesan pria itu pada perawat tersebut. Setelah melakukan tugasnya, perawat itu bergegas memanggil penjaga seperti yang diperintahkan.
“Shima-san?” Pria berpakaian hitam datang mendekati pria itu. Haru Shima menoleh ke arahnya.
“Gonjo-san, katakan pada mereka bahwa kita tidak bisa menyiapkan nona Kanae dengan segera. Dan persiapkan tempat itu karena setiba kita datang, kita akan membawanya ke sana,” tegas Shima.
“Baiklah. Saya akan menyuruh mereka untuk menyiapkannya segera,” balas pria bernama Gonjo tersebut.