Tetesan air yang menyentuh kulit wajahku terasa dingin.
"Ng...," aku mengeluh dan suara tawa yang begitu ku hafal terdengar seketika diikuti pelukan yang membuat bibirku yang terasa kering, tersenyum dengan mata masih terpejam rapat.
Rasanya tubuhku lemas sekali.
Aku sama sekali tak bertenaga bahkan saat suamiku mengecupi bagian belakang kepala juga telingaku, karena wajahku tenggelam dalam bantal yang aromanya penuh dengan aroma khasnya.
"Jangan tidur lagi, sleepy head," protesnya yang kujawab dengan tawa pelan, rasanya mataku berat sekali untuk kubuka.
"Memangnya ini jam berapa? maaf aku tak dengar kamu pulang," ucapku masih membenamkan kepalaku yang rasanya pening.
Ia terdiam, lalu tertawa dan kecupannya kurasakan lagi. "Kamu masih mimpi ternyata," ucapnya membuat diri mengernyitkan dahiku di atas bantal empuk yang aromanya menenangkan. "Aku sudah bilang aku menginap di rumah ibu, bukan?"
Mendengar itu aku langsung membuka mataku cepat. Secepat aku bangun dan itu membuatnya yang sedang memelukku terkejut. Matanya yang sudah kaget itu makin membulat saat memperhatikan wajahku yang diusapnya, "apa kamu menangis? kenapa?"
Aku hanya membisu, menatapinya yang penuh tanya. Potret pernikahan kami yang tergeletak di atas kasur juga sebotol air mineral yang masih tersegel membuat tubuhku kaku.
"Yang? kamu kenapa?"
'Aku kenapa?' ulangku berkali-kali dalam kepala, sampai kurasakan tubuhku ditarik dalam dekapan hangat yang tak terasa. Tanganku sama sekali tak bergerak kecuali meremas kuat sprei kasur kami.
"Kamu kenapa, Yang? Kenapa menangis?"
Suaranya yang terdengar pelan sedikit bergetar, ia terus memelukku yang tak membalas. Aroma shampo dan sabun yang kuhafal menyeruak dari ceruk lehernya yang kokoh.
Lelaki yang sedang memelukku ini begitu hangat, begitu penuh kasih, begitu bisa diandalkan, begitu bertanggung jawab, begitu pandai menyimpan apa yang baru kuketahui.
Rasanya aku ingin mengatakan apa yang kulihat, apa yang kuketahui, apa yang kulakukan kemarin. Tapi, mulutku begitu Kelu sampai tak ada kalimat yang keluar, kecuali isak yang kembali kuperdengarkan.
Airmataku lolos begitu saja meski mulutku masih membisu tanpa kata.
Namun, kini aku tak menangis sendirian karena sumber tangisku mengusapi punggungku, berusaha menenangkan diriku yang hanya terus menangis dalam bisu.
'Tuhan, kenapa aku mencintainya sampai seperti ini?'
Tanganku bergerak memeluk pria yang sudah membagi tubuh dan hatinya dengan wanita lain.Kini, aku bahkan tak bisa mencium keringatnya yang pasti bercampur dengan wanita itu, karena aroma sabun dan sampo yang biasa kami pakailah yang menyeruak dari tubuhnya. Tubuhnya yang pasti sudah bertukar keringat juga cairan lain yang-!!
"Yang?"
Aku langsung mendorong suamiku yang terkejut, apalagi saat aku berlari cepat ke kamar mandi dan memuntahkan apapun yang ingin kumuntahkan meski yang keluar hanya air. Mengingat aku belum makan apapun sejak kemarin kecuali dua butir pil tidur.
Suamiku ikut berlari menyusulku, ia mengusapi punggungku tapi rasa mualku makin menjadi sampai kudorong tangannya, "keluarlah, aku hanya pusing."
"Jangan main-main, Ri, kamu tidak baik-baik saja."
"Aku akan baik-baik saja, Ken, please."
Namun, suamiku tetap tinggal sampai perutku berhenti bergejolak. Ia masih Ken yang lembut, masih Ken yang bertanggung jawab, masih Ken yang kuingat.
Tapi, masih Ken yang sama berarti selama ini aku hidup dalam ... "Ri?"
Aku terlonjak merasakan sentuhan tangan Ken yang besar di pipiku. Matanya memperhatikanku yang jadi diam, "pa--pakailah bajumu, Ken."
Suamiku--Ken tertawa pelan, kurasa ia bisa melihat wajahku menegang saat ia hendak menciumku, sampai ciumannya berahir mendarat di kening, "aku penasaran kenapa kamu menangis, Ri? Kuharap kamu mau cerita padaku nanti."
Aku tidak menjawab, hanya menatap Ken yang senyumnya sama tapi terasa berbeda.
Punggungnya pun masih terlihat sama. Lebar dan bisa diandalkan.
Namun, kenapa rasanya ada yang berubah dari penglihatanku? Kurasa aku tak akan pernah lagi melihat suamiku dengan penglihatan yang sama lagi. Tidak akan pernah lagi.
'Ken masih sama, hanya aku yang berbeda.'
Kutatapi pantulan diri dalam cermin sementara kran air menyala. Aku tidak pernah merasa diriku jelek, tidak sekalipun. Tapi, saat aku menatap manik mataku sendiri, rasanya aku bisa menemukan kekurangan yang biasanya tak kulihat.
Mataku kurang besar.Hidungku kurang mancung.Bibirku kurang seksi.Pipiku kurang tirus.Perutku kurang ramping.Lenganku kurang kecil.
Tidak! tidak! tidak!
'Mungkin aku kurang tinggi, mungkin aku kurang berisi, mungkin aku kurang putih, mungkin aku kurang--!'
Aku terkejut sendiri saat aku membandingkan diri dengan wanita yang bersama suamiku. Jika aku mau mungkin aku bisa berubah sepertinya dengan bantuan dokter.
Aku bisa merubah tampilanku dengan berbelanja dan menghabiskan uangku, meski mungkin aku tak akan bisa setinggi wanita itu karena cangkok kaki belum ditemukan.
"ha-ha..ha...," aku tertawa! Aku menertawakan apa yang kupikirkan meski mataku kuyu seolah seluruh kehidupanku tersedot, menghilang entah kemana.
"Yang?"
suara panggilan itu membuatku kembali dari apapun yang kulamunkan, ketukan pelan di pintu membuatku sadar kakiku sudah kesemutan juga kebas, dan sebanyak apa tagihan PAM bulan ini nanti karena aku memutar kran sampai pol.
Aku langsung membasuh wajahku, pura-pura tak mendengar ketukan di pintu. Setelah melepas seluruh pakaian yang kukenakan, aku berdiri di bawah shower dan menyalakan air dingin. Tubuhku kaget saat guyuran air menyapa. Aku bahkan sengaja membuka mata saat merasakan wajahku dijatuhi buliran air yang serasa memijiti kulit.
Setidaknya, tubuhku terasa lebih segar saat aku selesai dengan higienisku, bukan? Tapi, aku lupa membawa handuk ataupun baju ganti. Hanya ada baju kotor dalam keranjang. Tanganku ingin meraih kemeja suamiku tapi tanganku berhenti seketika.
Dalam tiap langkah aku berusaha menghilangkan pikiran burukku tak perduli pada tetesan air yang jatuh ke atas lantai.
Aku keluar dengan rambut basah tanpa sehelai benang pun menutupi. Meski, mataku menatapi tumpukan pakaian di lemari yang lebar kubuka, pikiranku melayang jauh dan tanganku mengambil pakaian apapun yang ada di bagian paling atas.
Kurasa, aku baru sadar suamiku ada di dalam kamar setelah aku selesai memakai baju. Ia diam di tempatnya duduk, melihatku seperti melihat mahluk asing yang baru pertama kali ia temui.
Aku yang juga diam di tempatku jadi lupa pada apa yang biasanya kami lakukan saat hari minggu.
Memoriku seolah terdistorsi berkeping-keping yang rasanya sulit kusatukan, sampai ia berdiri dan mengajakku sarapan.
10.12. kami sarapan.
Dua tangkup roti, sebutir telur mata sapi, juga 2 sosis goreng. Sambil menggoreng telur aku berusaha mengingat apa telur yang biasa ia makan. 'Setengah matang ataukah matang?'
Nihil. Aku tak ingat. Aku sama sekali tidak mengingat telur macam apa yang biasa kami makan.
Kopi ataukah teh? Atau hanya air putih sebagai pelengkap sarapan?
'Tuhan, aku sama sekali tak ingat hal-hal yang biasanya kulakukan. Apa pengaruh dua butir obat tidur masih menguasai sistem sarafku?'
Dahi Ken sedikit mengerut saat aku meletakan telur matang di hadapannya, "aku kelamaan memasak telurku, Ken."
Alasan paling mudah, bukan?
"Tidak apa, Yang, ayo kita sarapan."
Aku mengangguk dan duduk. Selama makan, aku hanya diam memakan sarapanku tanpa rasa. Dua butir pil tidur sama sekali tak mampu mengganjal perutku yang nyatanya masih bisa merasa lapar dan haus tak perduli dengan apa yang kurasakan.
Aku lapar hanya tak berselera.
"Apa kamu tak mau menungguku?" tanya Ken saat aku menyuapkan potongan terakhir dari sosis yang kukunyah cepat lalu kutelan.
"Kamu ingin kutunggu?"
Ah, wajah Ken terlihat kaget mendengar tanyaku.
Apa aku selalu menunggunya? Jawabannya iya, aku selalu menunggunya.
Aku seperti anjing setia yang akan menunggu Ken selesai dengan apapun. Belajar, bekerja, makan, mandi, aku bahkan akan menunggunya berbaring di ranjang kami sebelum benar-benar menata tubuhku di sampingnya.
Aku selalu menunggunya. Dan itu juga yang akan kulakukan saat piringku sudah kosong.
"Apa kamu akan diam saja dan menatapiku, Ri?"
"Tak bolehkah?" tanyaku pada suamiku yang makan dengan senyum di wajahnya, "Ibu apa kabar?"
WAJAH Ken sedikit berubah sebelum menelan lalu menatapku, "baik, seperti biasa."
Aku hanya mengangguk saat melihat wajah suamiku terlihat tak nyaman, "apa Minggu depan kamu juga akan ke rumah ibu lagi?"
Mata Ken membesar sesaat.
"Aku tau ibu tak akan suka melihatku tapi, mungkin aku bisa mengiriminya opor dan sambal goreng kentang."
"Ibu pasti akan menyukainya," ucap Ken meremas tanganku yang tak menemukan balasan apapun saat senyumnya yang kukenali nampak sama.
Mungkin ibu tak akan benar-benar menyukai makananku. Tapi, aku tahu di rumah itu akan ada orang yang mau memakannya. Hanya saja, apa makanan yang kubuat akan benar-benar sampai di rumah mertuaku atau tidak?
"Masih tak ingin bercerita kenapa kamu menangis?"
Aku merasakan tanganku yang diremas Ken rambut halusnya berdiri.
"Suatu hari-- mungkin." Aku tak tahu kenapa bibirku bisa tersenyum saat melihat wajah Ken yang alisnya bertautan heran, "dan habiskan sarapanmu, Ken."
Aku tidak tahu, apa yang kulakukan ini sungguh diriku atau hanya impuls semata. Tapi, yang manapun itu rasanya tidak penting lagi. Karena yang terpenting Ken ada bersamaku sekarang. Bukan bersama wanita itu.
Namun, sampai kapan aku akan merasa aman?
Karena saat Ken jauh dariku, seluruh kesadaranku membayangkan ia sedang bersama wanita itu. Sedangkan aku duduk sendirian di rumah kami. Menunggu. Menunggu. Dan menunggu dalam bisuku yang menyesakkan.
Sampai kapan aku akan merasa aman? Jika saat keluar, mataku akan berkeliling mencari keberadaan wanita itu dan suamiku. Aku merasa takut sendiri jika mereka yang sedang bersama melihatku.
'Bodohnya diriku.'
Dengan pikiran seperti itu, aku memilih berbelanja di tempat yang jauh dari rumahku tinggal. Melewati tol panjang yang berlawanan arah baik dari lingkunganku tinggal maupun lingkup kerja suamiku. Tapi, mataku yang sudah hafal siluet Ken tak bisa berpaling saat aku melihat bayangannya.
Dan aku hanya bisa bersembunyi memperhatikan suamiku menemani wanita itu masuk ke dalam toko pakaian.
Aku, istrinya, hanya bisa melihat di samping manekin tak bernyawa yang seolah menertawakan diri dan pilihanku.
Meski tak mendengar suara mereka, Ken terlihat memuji tiap kali wanita itu keluar dengan pakaian yang berbeda, tawanya ... 'apa Ken juga tertawa seperti itu saat bersamaku? Apa wajahnya berseri-seri saat menemaniku? Apa Ken terlihat bersenang-senang saat ia keluar bersamaku? Apa ia terlihat bahagia saat berada di sampingku?'
Pertanyaan-pertanyaan itu mulai muncul silih berganti tanpa mau berhenti, meski aku hanya diam membisu di samping manekin yang bisa menyembunyikan diriku begitu rapi tak terlihat.
Sampai suamiku menyambut uluran tangan lentik wanita yang terus ia gandeng. Bahkan, setelah keluar dari toko pakaian, pegawai toko pun tampak terkesima melihat keduanya.
Rasanya, aku bisa mendengar pujian seberapa serasi suamiku dan wanita itu. Sesabar apa suamiku menunggu wanita itu, sebaik apa suamiku mau memuji kecantikan wanita yang memang mempesona itu.
"Sudah selesai?"
"Tentu saja sudah kecuali kamu masih mau berkeliling."
Mendengar suara manja itu Ken tertawa, tangannya mengusap kepala dari pemilik suara manja yang rasanya bak duri untuk telingaku. Bahkan, dua punggung yang menjauh dariku memancarkan kebahagiaan. Pembicaraan mereka terdengar begitu menyenangkan.
Sampai aku mencopot topi lebar manekin di sampingku lalu berbalik cepat saat Ken menoleh ke belakang.
Dadaku berdebar kencang, takut suamiku yang sedang bersama wanita itu menyadari keberadaanku.
Menyedihkan sekali, bukan?
"Ada apa, Ken?"
Tanya manja itu membuatku menahan nafas. Dadaku berdebar keras berharap topi kelebaran yang menutupi kepalaku bisa menyamarkan tampilan diri yang mungkin akan Ken kenali, sebagaimana aku menyadari siluetnya begitu mudah.
"Bukan apa-apa, hanya salah lihat."
Tapi, aku merasa kecewa setelah mendengar jawaban Ken sampai bibirku menarik garis senyum yang terasa menyakitkan. Ia yang rasanya melihatku tak mengenali punggungku, istrinya yang bersembunyi.
Ken menjauh dengan terus menggandeng erat tangan wanita itu, sementara mataku masih terus menatap punggungnya dari kaca toko yang pegawainya memperhatikanku curiga.
Bagaimana tidak curiga? Aku berdiri di samping manekin tokonya begitu lama. Tapi, menatapi toko lain dengan pandangan awas, 'tentu saja ia akan curiga padaku.'
"Sa--saya beli ini," ucapku tapi meminta warna lain.
Meski aku yakin, tidak akan pernah memakai topi kebesaran yang sudah terbungkus rapi di tanganku. Itu hanya akan mengingatkan diriku pada hari ini. Hari di mana aku memilih bersembunyi dari suamiku dan wanita itu.
Hari di mana aku merasa takut suamiku yang sedang bersama selingkuhannya melihatku.
Namun, toko ini hanya menyediakan satu warna topi dan tinggal satu, topi yang kupegang, 'bisa seberuntung apa diriku?'
Aku tahu, aku takkan bisa terus-terusan seperti ini. Aku bisa gila sendiri.
Tapi, siapa yang bisa ku ajak bicara? Siapa-- 'ibu!?'
Ya, kurasa setaksuka apapun mertuaku pada keberadaanku, ia bisa memberiku solusi atau paling tidak nasehat. Tapi, apa yang harus kukatakan padanya, "ibu anakmu dan wanita itu berselingkuh, bisakah ibu memberiku solusi?"
Gila!
Bukannya diberi solusi aku mungkin akan langsung diminta bercerai dengan putranya.
Apa pemikiranku saja yang terlalu buruk? Tidak mungkin ibu akan membiarkan putranya berbuat asusila, bukan?
'Ah, kepalaku makin pusing, aku sudah lelah menangis sendiri, menyalahkan diri dan mencari kesalahan diri sendiri!'
"AWAS!"
Seruan itu terdengar bersama botol selai yang jatuh ke lantai dingin lalu pecah.
Tidak hanya satu, bahkan botol berikutnya menyusul. Hanya saja, botol itu lebih beruntung karena ada tangan yang menangkapnya sebelum jatuh.
Tangan besar yang terlihat sangat bisa diandalkan itu membuatku mendongak. Dan, barisan gigi yang rapi langsung terlihat saat lelaki di hadapanku tersenyum.
Rasanya aku pernah melihat barisan gigi nan rapi itu, tapi di mana?
Namun, itu tidak penting sekarang!
"Maaf, apa anda baik-baik saja?" tanyaku. Tapi, lelaki di hadapanku malah menautkan alis, manik matanya bahkan membesar menatapiku ..., tidak ia menatapi dahiku.
"Ng," keluhku pelan saat aku mengusap dahiku yang berkeringat di dalam gedung perbelanjaan yang pendingin udaranya menusuki kulit.
"Jangan diusap seperti itu," ucapnya membuatku berhenti dan baru sadar belakang tanganku sudah dipenuhi cairan merah.
Darah? Apa dahiku berdarah? Kenapa?
Apa aku jadi pelupa? Aku bahkan tak ingat apa yang menggoresku. Ataukah rasa sakitku jadi tumpul kini?
"Tuan, anda baik-baik saja?" tanya pegawai supermarket yang terlihat takut-takut pada lelaki ramah yang tersenyum. Aku tak begitu paham apa yang di katakan lelaki di hadapanku ini, sampai aku sadar aku sudah duduk di sebuah ruangan yang aromanya harum.
Kopi, teh dan musk.
BRAKK!!
"Maaf, membuat anda menunggu."
Aku langsung berdiri dari kursi empuk yang terasa nyaman, "sa--saya bisa sendiri," ucapku saat tangan wanita yang pakian formalnya berbunyi setiap ia bergerak mendekatkan kain kasa yang sudah diolesi cairan antiseptik ke dahiku.
"Maaf, Nona. Tapi, tuan Arga bilang saya harus mengobati anda." Ucapnya dengan pandangan mata malas namun tetap memaksa, "tolong, pahami posisi saya. Terimakasih."
Aku hanya bisa mengangguk, ingin rasanya bertanya siapa tuan Arga yang ia sebut namanya. Tapi, aku terlalu takut bertanya pada wanita yang wajahnya terlihat lega saat tugasnya sudah selesai.
"Ma--maaf, berapa yang saya harus ganti?"
"Apa?" tanya wanita dengan name tag 'TIANA BESTARI' menatapiku heran.
"Botol selai yang jatuh, sa--saya harus menggantinya berapa?" tanyaku jadi bingung memanggil wanita di hadapanku mbak atau bu?
"Oh, tidak perlu, Nona."
"Nyonya."
"Ya?"
"Saya seorang nyonya," ucapku pada wanita yang mengernyitkan dahinya dalam lalu mengangguk saat aku menunjukan cincin di jari manisku. Entah kenapa, tatapan malasnya berubah sedikit bersahabat sebelum ia keluar ruangan, meninggalkanku duduk sendiri setelah aku berterimakasih.
Aku yang jadi bingung harus apa dalam ruangan yang aroma maskulinnya begitu terasa menatap berkeliling. Kesan pertamaku pada tempat asing ini hanya luas dan nyaman-
PING!
Tubuhku selalu kaku setiap kali ponselku berbunyi saat Ken tak disampingku. Rasanya, meski belum melihat barisan kalimat yang ia kirim, mataku sudah bisa membaca isi chatnya, batinku juga sudah mampu menebak. Dan, perutku bergejolak tanpa mampu kucegah.
Aku yang berada di tempat asing langsung masuk ke dalam kamar mandi, mengeluarkan apapun yang kumakan.
'Tuhan, sampai kapan aku akan seperti ini?'
Kupikir dengan berjalannya waktu aku bisa terbiasa.
Namun, aku merasa makin buruk juga lemah di saat yang sama.
Bahkan, aku tak mampu menahan air mata di tempat asing ini. Menahan seperti apapun, isakku tetap keluar dan aku hanya bisa menggigit keras bibir agar isak yang keluar tak akan didengar benda-benda mati yang ada di luar sana. Di dalam ruangan nyaman dan luas itu.
Entah berapa lama waktu berlalu, sampai isakku usai dan aku langsung keluar setelah memastikan wajah sembabku tertutupi make up.
Lega rasanya saat tak ada seorang pun yang masuk ataupun duduk di salah satu sofa empuk itu. Meski aku jadi merasa canggung sendiri.
Cklekk!
Suara pintu yang terbuka membuatku berdiri, senyum lelaki yang giginya begitu rapi itu menyuruhku kembali duduk.
"Tidak perlu berdiri," ramah, suara bariton itu terdengar. Seramah wajah lelaki yang kini duduk di hadapanku.
"Tuan, berapa banyak yang harus saya ganti?"
Alis hitam lebat itu menyatu menatapku yang jadi merapatkan kaki juga tangan di atas pangkuan, "sa--saya harus segera pulang, suami saya sudah hampir pulang dari kantor."
Ah, semudah ini bohongku terucap, saat aku tahu Ken tidak akan pulang sampai hari berganti esok.
Sekalipun saat pulang hanya sepi yang akan menyambut diri dan kurasa, aku tak bisa ke rumah ibu hari ini. Itu akan mencurigakan saat dalam chatnya, Ken menulis ia akan menginap di rumah ibu.
"Anda terlihat lebih kurus dari saat terakhir kita bertemu."
"Maaf?" Tanyaku mendongak, menatap lelaki yang duduk begitu nyaman di kursinya lalu menggeleng.
Aku jatuh dalam pikiranku sendiri. Ah, betapa sopannya diriku pada lelaki yang menolongku, menyuruh orang mengobati lukaku, juga membiarkan aku menggunakan kamar mandinya begitu lama meski ia tidak tahu, 'tapi, tetap saja betapa sopannya diriku?'
"Anda cukup membayar untuk satu botol selai yang pecah, Nona." Ucap suara bariton yang membuatku mengalihkan pandangan dari jemariku yang bertautan.
Lelaki pemilik barisan gigi rapi ini terlihat tak tersinggung karena aku tidak mendengarkan ucapannya. Syukurlah.
"Nyonya, Tuan."
"Nyonya adalah panggilan yang terlalu tua untuk anda, Nona."
"Tapi, saya lebih nyaman di panggil seperti itu, Tuan." Jawabku membuka tas dan mengeluarkan uang, "saya benar-benar minta maaf, Tuan. Dan-," aku menggigit bibir bagian bawahku ragu, menatap lelaki yang senyumnya terlihat menenangkan, "-terimakasih, saya harus segera pulang."
"Apa anda bisa menyetir, No--Nyonya?"
Aku mengangguk lalu berdiri dengan lembaran uang di tangan. Bingung sendiri pada siapa aku harus membayar sebotol selai yang kupecahkan
"Berikan saja pada saya, Nyonya."
Aku merasa lega meski tak kukatakan, "terimakasih, Tuan," ucapku lalu menunduk sebelum keluar dari ruangan luas nan nyaman yang aroma maskulinnya masih bisa kucium.
Di luar, aku bisa melihat secangkir teh dingin yang hanya dipandangi wanita yang rok pendeknya memperlihatkan kakinya yang mulus, "apa yang harus kulakukan pada teh ini, tuan Arga?"
Wanita dengan rok super pendek itu terlihat terkejut saat melihatku yang menunduk pamit, matanya beralih antara diriku dan gelas teh di hadapannya beberapa kali.
'Arga? Apa itu nama lelaki yang menolongku?'
Aku bahkan tak menanyakan namanya, sudah jadi sesopan inikah diriku kini?
Saat sampai rumah, hari sudah begitu gelap. Aku yang membawa mobil jauh melewati tol malah lupa belanja dan hanya membawa topi lebar yang tak akan kupakai juga sebungkus nasi goreng yang kubeli di jalan depan.
Rasa aku akan langsung tidur saja karena sama sekali tak merasa lapar. Nasi goreng ini bisa kumakan esok hari-
"Tunggu!"
Aku langsung menahan tombol 'hold' agar pintu lift yang kunaiki tak tertutup.
Derap langkah kaki yang memecah area parkir sepi, membuat diri sadar aku akan berdua saja dengan siapapun yang sedang berlari dan ia lelaki. Tapi, saat aku melihat CCTV aku merasa sedikit aman meski tanganku memegang erat plastik berisi nasi goreng yang aroma sedapnya tak menggodaku.
"Terimakasih," ucap suara bariton yang membuatku mengangguk. Suara itu terasanya tidak asing di telingaku. Tapi, aku terlalu takut untuk menoleh sampai ia memencet nomer lantai yang sama dengan tempat tinggalku.
"Saya pikir anda sudah pulang sejak tadi, Nyonya."
Aku tertegun sebelum memberanikan diri untuk menatap tampilan lelaki yang menyandarkan badannya pada dinding lift.
Barisan gigi yang rapi tersusun terlihat begitu mata kami bertemu di pantulan dinding lift yang naik ke atas.
"!" lelaki itu, 'Arga?'
DING!
Belum sempat merespon apapun, aku langsung menatap pintu lift yang terbuka. Seorang bocah yang begitu semangat masuk, berjinjit dan tersenyum saat aku mengangkatnya agar bisa menyentuh nomer manapun yang ia mau.
"Thanks, Onty."
"Your welcome," jawabku.
Suasana lift jadi ramai dengan manusia yang asik dengan dunia mereka sendiri, hanya bertukar pandang lalu kembali pada layar ponsel, sedang aku hanya diam di samping bocah yang mendongak menatapi nomer lift yang menyala lalu terbuka tiap kali ada yang masuk ataupun keluar.
Aku ingin bertanya apa ia akan mudah menemukan pintu apartemennya nanti, tapi kehawatiranku hilang saat di depan pintu lift yang terbuka, sudah ada yang menunggu bocah kecil yang melambai semangat padaku.
Nyut!! 'ugh... Sakit...'
Rasa menusuk di bagian perut membuatku menyenderkan badan ke dinding lift. Aku bisa merasakan keringat dingin mulai membasahi bagian punggungku.
Lantai tempatku tinggal masih jauh. Aku ingin duduk tapi lift yang penuh sesak membuat itu tak mungkin kulakukan. Rasanya, perutku seperti ditusuki ujung pisau meski aku tak pernah menusuki perutku sendiri dengan pisau.
Ini pasti karena aku jadi jarang makan, kalau tahu akan sesakit ini sedang seburuk apapun rasaku, aku tetap akan memaksakan diri menelan.
Mataku jadi menatapi nomer yang menyala, rasanya bahkan jadi tak sabar saat pintu terbuka tapi bukan di lantai tempatku tinggal.
Namun, bibirku yang terasa kering tersenyum mengingat aku melakukan hal sama seperti bocah kecil tadi. Meski rasa sakit di perutku tak berkurang mengingat anak lucu yang tampaknya belum bisa berbahasa Indonesia.
Memgingat segembil apa pipi bocah lucu itu aku jadi sedikit terhibur dan segera keluar begitu lift terbuka di lantai tempatku tinggal.
Aku ingin berjalan cepat tapi rasanya ada yang menahan kakiku. Tidak. Bahkan kakiku terasa melayang dan tubuhku miring ke depan.
BRUGG!!
"Nyonya!?"
'Suara itu lagi ... lagi? Ugh. Lantai ini nyaman sekali, Ken.'
Rasa sakit di perutku hilang bersama kesadaranku.