Romeo pulang dengan perasaan was-was dan benar saja di rumah sudah ada Stefanie yang memang diundang oleh ayahnya untuk datang makan malam bersama.
”Hai Romeo kau pulang lebih cepat rupanya,” seru Stefanie.
”Kau ada apa di sini?” ucap Romeo. Jika bukan karena ingin bertemu dengan Juliet mungkin Romeo akan bertahan di dalam ruangannya hingga nanti malam, keinginannya untuk bertemu dengan gadis itu sangat kuat dan bahkan mengalahkan akal sehatnya itu. Sekarang begitu dia telah melihat langsung wajah cantik Juliet dan juga merasakan tangan lembutnya membuat Romeo merasa menginginkan kembali pertemuan itu dan juga menyentuhnya sepuas yang dia mau.
”Romeo kau melamun?” ujar Stefanie.
”Eoh, maaf aku harus ke kamar.” Tanpa menunggu jawaban darinya, Romeo langsung menuju kamarnya peduli apa dengan kehadirannya di rumah ini toh bukan dia yang mengundangnya ke rumah ini.
Romeo segera membersihkan dirinya dan kembali ke ranjang dia masih membayangkan betapa indahnya pertemuan tadi sore dengan Juliet. Romeo pun memejamkan matanya perlahan rasa kantuk mulai menyerang dirinya.
Sementara di bawah, Rachel ibu Romeo memerintahkan Stefanie untuk memanggil putra semata wayangnya itu, tentu saja Stefanie sangat senang sekali.
Tok...tok...tok...
Tak ada jawaban dari dalam. Ceklek, ’Kenapa gak dikunci?’ gumam Stefanie dengan langkah hati-hati Stefanie masuk dan dilihatnya Romeo sedang tertidur di ranjangnya.
’Oh ternyata dia sedang tidur pantas saja gak ada jawaban,’ ucap Stefanie dalam hati. Stefanie pun memandangi wajah tampan Romeo dengan puasnya karena jika dalam keadaan sadar sudah barang tentu Romeo akan marah-marah dengan kelakuannya.
’Tampan sekali dia, kapan kau akan melamar diriku huhf!’ gumam Stefanie dan dirinya mulai berani duduk di tepi ranjangnya dan mengusap wajahnya. Merasakan ada sentuhan akhirnya Romeo pun terbangun dan terkejut mendapati Stefanie tangah ada di ranjangnya.
”Mau apa kau di sini,” seru Romeo segera bangun dari tidurnya.
”Tante Rachel memintaku untuk membangunkan dirimu buat makan malam,” ujarnya.
”Kalau begitu keluarlah, aku akan ke bawah sepuluh menit lagi,” ucap Romeo malas menghadapi Stefanie dan juga dia tak suka dengan wanita itu, wanita yang selalu disebut-sebut orang tuanya jika hanya dia yang pantas menjadi istrinya.
Dengan langkah gontai Romeo pun turun menuju meja makan. ”Kau terlihat capek sekali apa banyak pekerjaan di kantor?” tanya Steven memandang wajah anaknya dengan lekat.
Romeo hanya diam saja tak menanggapi perkataan Steven membuat Rachel pun kesal dengan sikap putranya tersebut. ”Romeo apakah kau tak menghormati Papamu ini?” ucap Rachel ketus.
”Apa aku harus menghormati orang yang suka selingkuh? Jangan bilang kalau Mama tak tahu kelakuan Papa di belakangmu Ma.” Rachel terdiam mendengar perkataan putranya itu memang benar selama ini dia menutup mata dengan apa yang terjadi bukan karena dia tak tau tapi dia tak ingin membuat masalah baru buat keluarganya.
”Itu dulu Romeo, bukankah Papa sekarang sudah sadar dan tak lagi berbuat seperti itu.” Rachel mencoba menutupi aib suaminya karena sebenarnya hal itu masih saja terjadi dan Rachel tidak tahu pada siapa dia harus bercerita.
Romeo hanya melirik sekilas pada Steven dan menarik kursinya bergegas pergi dari rumahnya tujuannya hanya satu klub.
***
Juliet baru saja menyelesaikan makan malamnya bersama dengan Christina dia berjalan menyusuri jalan di pinggir taman kota hatinya mulai gundah karena Samuel kekasihnya itu tak bisa dihubungi, padahal dia sudah berjanji akan menjemputnya di kafe tapi hingga selesai pun dia tak menampakkan dirinya disana.
’Ah, kemana dia kenapa sulit sekali dihubungi bahkan dia sama sekali tak membalas pesanku!’ gumam Juliet dalam hati.
”Apa kau tengah menunggu sesuatu?” seru Juan yang sedari tadi memperhatikan Juliet dia memang diperintahkan oleh Romeo untuk mengawasi gerak gadis itu.
”Eh, kau bukankah yang bekerja di King Company bukan?” ujar Juliet mencoba menebak karena sepertinya wajah yang ada di depannya ini sangat familiar di kantor.
”Ya kau benar, aku memang bekerja di sana. Kenapa malam-malam masih berkeliaran diluar seorang diri ini akan sangat berbahaya bagi gadis secantik dirimu Nona,” seloroh Juan melihat Juliet yang sepertinya tidak dalam keadaan baik-baik saja.
”Aku baru saja makan malam dengan temanku aku kira kekasihku akan menjemputmu tapi ternyata dia berbohong karena dia sama sekali tak datang bahkan aku mencoba menghubunginya namun tak ada jawaban sama sekali. Jika memang dia sedang dalam masalah seharusnya dia memberitahukan diriku bukan malah membuatku khawatir seperti ini, apa memang semua laki-laki itu sama saja seperti itu?” ungkap Juliet yang masih saja tak percaya dengan apa yang baru saja dialaminya, kenapa kekasihnya sama sekali tak mau membalas pesan darinya.
”Mungkin dia memiliki kekasih lain sehingga dia berbuat seperti itu?” urai Juan dia tak ingin mengatakan hal yang sesungguhnya jika dia melihat kekasih Juliet sedang bersama dengan wanita lain bahkan mereka berdua melakukan check in di hotel.
”Itu tidak mungkin karena setahuku Samuel orang yang baik bahkan selama ini dia tidak pernah menyentuhku sama sekali!” seru Juliet membuat Juan menyipitkan kedua matanya. ”Maksudmu kau dan dia tak pernah ....?”
”Ya, aku tak pernah melakukan apapun dengannya jadi aku rasa dia pria yang baik karena selama itu pula dia menjaga diriku dengan baik, maaf kenapa kita jadi membicarakan tentang orang lain.”
Juan mengerti ada rasa bersalah di hati Juliet padanya. ”Sebaiknya aku antarkan kau pulang ke rumah, aku tak mau bosku memarahiku karena tak bisa menjagamu dengan baik jika terjadi sesuatu yang buruk padamu, silakan Nona ikut aku segera mobilnya disana.” Juan segera menunjuk pada sebuah mobil mewah yang terparkir di pinggir jalan.
”Tunggu apa maksudmu dengan ’bosku’ itu?” seru Juliet menaruh curiga pada Juan.
”Tidak ada mungkin aku salah berucap kau tahu bukan di kantor sedang banyak sekali pekerjaan jadi aku sedikit kurang fokus dengan semua ini. Ayolah Nona!” Juan mempersilakan Juliet untuk masu ke mobilnya tanpa rasa curiga lagi.
Juan pun mengantarkan Juliet pulang dan langsung ke klub menemui Romeo yang sudah menunggunya di sana.
”Maaf aku terlambat!” sesal Juan pada Romeo yang sedang menyesap wine pesanannya yang baru datang.
”Bagaimana keadaan gadis itu? Apa dia baik-baik saja?” todong Romeo tanpa menunggu Juan untuk duduk terlebih dahulu.
”Ya dia baik-baik hanya saja mungkin suasana hatinya sedang tidak bersahabat karena kekasihnya tak ada datang menjemputnya,” ucap Juan pelan.
”Apa maksudmu?” Romeo menjadi kepo dan ingin tahu alasannya dengan tidak sabar dia meminta Juan untuk menjelaskannya.
”Kau tahu, kekasihnya justru tengah check in di hotel dan dia sama sekali tak tahu akan hal itu bukankah itu gadis yang naif. Bagaimana mungkin mereka menjalin hubungan tapi belum pernah saling menyentuh satu sama lain!” Juan sedikit kesal ketika mengingat Rian bahagia di wajah Samuel kekasih Juliet ketika dia masuk ke hotel tadi, Juan yakin jika Samuel akan melakukan hal yang biasanya di lakukan oleh sepasang kekasih di sana.
Romeo semakin tak mengerti dengan arah pembicaraan asistennya Juan.
”She’s still a virgin!” bisik Juan pada Romeo dan hal itu tentu saja membuatnya cukup terkejut.
”Darimana kau yakin tentang itu?” Juan pun tersenyum menyerigai.
Mendengar penuturan dari Juan tentu saja membuat Romeo kembali bersemangat, dia sangat senang karena pada akhirnya dia menemukan sosok yang dia inginkan. ”Apa kau pikirkan?” tanya Juan menatap wajah Romeo dengan heran karena baru kali ini dia melihat wajah sahabatnya itu lebih bersemangat dari biasanya.
”Tak ada aku hanya senang saja membayangkan bagaimana rasanya memiliki gadis itu untuk pertama kali, bukankah itu sangat menyenangkan?” ujar Romeo dengan gurat bahagia terpancar dari wajahnya yang tampan.
”Dasar otak mesum! Tapi aku ikut bahagia jika kau pun bahagia Romeo, tapi bagaimana dengan kedua orang tuamu nantinya mereka pasti tidak akan setuju dengan keputusan dirimu ini?” ujar Juan.
”Kau tak perlu menghawatirkan mereka karena aku sendiri yang akan bicara nantinya yang terpenting buatku adalah bagaimana Juliet mau bersama diriku nampaknya dia tipe wanita yang sulit untuk didekati.”
”Ya kau benar itu karena semalam aku bertemu dengannya sepertinya dia sedang dalam keadaan mood yang tidak baik karena wajahnya terlihat masam dan ketika aku bertanya sesuatu padanya jawabannya sama persis dengan apa yang aku pikirkan,” seloroh Juan membuat Romeo pun melebarkan kedua matanya menatap tak percaya pada asistennya tersebut.
”Kau semalam bertemu dengannya? Dimana dan kenapa dia bisa seperti itu katakan padaku!” Romeo memaksa Juan untuk mengatakan semuanya.
Juan pun terkekeh mendengar Romeo yang khawatir dengan keadaan Juliet. ”Di dekat taman air mancur dekat restoran QnQ dia bilang habis makan malam dengan Christina sepulang kerja, dia berjalan sendirian karena Christina telah lebih dulu dijemput kekasihnya. Cukup lama dia menunggu Samuel tapi ternyata kekasihnya itu tidak datang sama sekali. Kau tahu kemana Samuel pergi?”
Romeo memandang Juan meminta penjelasan, Romeo mengedikkan bahunya. ”Samuel justru pergi ke hotel bersama dengan wanita lain,” seru Juan.
”Damn it! Kenapa itu bisa terjadi? Kenapa kau tak menghajarnya saja? Bahkan kau tak menceritakan ini padaku semalam!” Romeo pun mendengus kesal pada Juan.
”Karena kau tak menanyakannya padaku lagipula aku tak ingin menambah rasa kesal hatimu, aku tahu semalam kau datang ke klub karena kau sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja maka dari itu aku tak mau menambah kekesalannya. Sekarang kau faham maksudku bukan?”
”Maafkan aku jika aku telat memberitahukan dirimu oleh karena itu aku berani berkata she’s still virgin karena dari penuturannya dia bilang sendiri jika Samuel belum pernah sama sekali menyentuh dirinya bukankah itu ’lucky’ untukmu!” seru Juan.
”Segera kau miliki dia sebelum Samuel yang mendahului dirimu, ingat kesempatan tak datang dua kali Romeo.” Juan mengompori sahabatnya sendiri dia hanya ingin Romeo bahagia dan tidak selalu memikirkan bisnisnya, bukankah ada kalanya hati juga harus bahagia. Juan tahu jika Romeo selama ini merasakan kehampaan hati.
”Aku akan mengusahakannya segera, aku ingin dia jadi milikku apapun yang terjadi Juan dan kau harus membantuku!” ucap Romeo penuh penekanan.
”Tentu aku akan membantu dirimu semampuku kau tenang saja, apa sih yang tidak buatmu yang penting kau tambahkan nominal di rekening bank milikku!” Juan tentu saja bersemangat jika sudah bicara soal uang.
”Oke jika semua berjalan dengan baik aku akan memberimu lebih kau tenang saja, oke!”
Tok...tok...tok...
”Sebentar aku buka pintu dulu!” Juan melangkah ke pintu dibukanya pintu tersebut dan terkejut begitu mendapati Juliet berada di depan pintu ruangan Romeo.
”Kau disini? Untuk---?
”Suruh dia masuk Juan aku memang sengaja memanggilnya kesini,” seru Romeo mau tak mau Juan pun mempersilakan Juliet masuk.
”Silakan duduk!” titah Romeo.
”Ini berkas yang Anda minta tolong dicek ulang jika ada yang keliru tolong segera beritahu saya,” ucap Juliet penuh ketegasan. Romeo pun tersenyum mendengar perkataan Juliet yang terdengar merdu di pendengarannya itu. Romeo terus saja memandangi wajah cantik Juliet membuat Juliet menjadi risih dengan sikap bosnya tersebut.
”Maaf apakah ini sudah selesai? Apa ada yang harus saya kerjakan lagi jika tidak saya mau kembali ke ruangan saya,” ungkap Juliet dan bahkan Romeo hanya terdiam tak menyahut perkataan Juliet membuat Juliet kebingungan dengan sikapnya itu. Juliet mengalihkan pandangannya pada Juan dan Juan pun hanya mengedikkan bahunya singkat.
Suasana yang kurang nyaman membuat Juan pun akhirnya menyenggol bahu bosnya tersebut. ”Kau melamun?”
”Oh, maafkan aku. Baiklah kau bisa kembali ke tempat kerjamu sekarang!” ucap Romeo dengan nada dingin. Juliet pun segera pamit melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Setelah kepergian Juliet, Romeo justru merutuki dirinya sendiri kenapa dia tidak banyak bicara tadi sehingga dia melewatkan kesempatan yang datang untuknya. ”Kau seperti orang yang sedang patah hati saja, bukankah kau senang dia Dateng kemari?” goda Juan tersenyum mengejek pada Romeo.
”Aku tidak tahu kenapa setiap ada dia aku seakan bisu tak bisa bicara apapun!” ungkap Romeo membuat Juan mengernyitkan alisnya karena bingung dengan sikap sahabatnya itu.
”Kau pasti benar-benar jatuh cinta padanya, setidaknya kau masih bisa merasakannya Romeo,” ungkap Juan merasa tak percaya jika Romeo yang dingin menjadi Romeo yang lembek hanya karena cinta.
”Tidak tahu aku pun tidak mengerti kenapa aku bisa seperti ini, tolong jangan buatku sakit kepala.” Romeo memijat pelipisnya sendiri menahan pening yang tiba-tiba saja menyerangnya.
”Sebaiknya kau segera periksa ke dokter sebelum penyakitmu semakin bertambah parah,” ujar Juan terkekeh dan sebuah buku tebal melayang ke arah punggungnya itu.
”Awh, kau ini apakah kau tidak bisa berhati-hati sedikit saja ini sangat menyakitkan kau tahu itu!” teriak Juan meringis kesakitan menahan serangan dari bosnya itu.
”Kau benar-benar kelewatan! Akan aku balas kau nanti, bahkan kau sama sekali tak mengucapkan terima kasih padaku karena telah banyak membantu dirimu,’’ gerutu Juan masih saja meringis menahan sakit.
”Oke baiklah, maafkan aku dan terima kasih untuk kontribusinya padaku selama ini,” ujar Romeo meminta maaf pada Juan.
Tok...tok...tok...
Juan pun membantu membuka pintu muncullah Stefanie dan Rachel di depan kedua wanita itu sengaja datang ke kantor Romeo usai berbelanja di mall terlihat dari beberapa paper bag yang dibawa oleh sang mama Rachel.
”Hai sayang, mama sengaja mampir kemari karena di luar hujan deras jadi mama pikir tak ada salahnya jika mama kesini sekalian menjenguk putra mama yang sedang bekerja,” ungkap Rachel meletakkan paper bag miliknya di sofa.
”Oh iya btw siapa wanita yang ada di ujung sana?” Stefanie menunjuk ke arah seorang wanita.
”Ada apa dengannya?” sahut Romeo segera apakah Juliet membuat kesalahan pada Stefanie.
”Tidak ada, aku merasa tidak percaya ada wanita cantik yang mau bekerja keras di kantor ini, seharusnya dia cocok menjadi model,” puji Stefanie membuat Romeo semakin suka.
”Tapi sayang ...”
”Kenapa?” tukas Romeo penasaran kenapa dia tak melanjutkan perkataannya.
”Ya sayang saja,” Stefanie tersenyum mengejek membuat Romeo benci akan hal itu.
”Tadi dia menabrak diriku jadi aku balas balik dia!” Stefanie tersenyum menyerigai.
”Apa? Kenapa kau lakukan itu!” teriak Romeo kesal dengan sikap Stefanie.