“Hahaha kau terkejut?” tanya seseorang di seberang telepon. Dea geram melihat cahaya merah menempel di dress putih miliknya.
“Gila, apa maksudmu berbuat seperti ini?” tanya Dea menggebu-gebu. Bagaimana bisa di hari pernikahannya diberi bidikan senapan yang mengerikan. Detak jantungnya bekerja dengan cepat.
“Hahaha...” orang itu tertawa dengan lepas, nampaknya ia kesenangan melihat Dea yang emosi.
“Kau tertawa di atas penderitaan orang?!”
Dea mengehela nafasnya dengan kasar, beberapa hari ini ada banyak hal yang tidak terduga. Namun, hari ini lebih gila lagi.
“Ekhemm...” deham orang itu setelah puas menertawakan wanita yang ditelponnya.
“Apa kau puas?” tanya Dea.
“Tentu saja aku puas. Besok lusa temui aku di lokasi yang sudah aku bagikan di pesan itu.”
Ting! Ada sebuah pesan masuk ke ponsel Dea. Dan itu adalah share location yang baru saja diberitahukan. Wanita itu memutar bola matanya, merasa jengah merespon orang yang tidak jelas.
“Pukul 15.00 WIB, kita harus bertemu secepatnya. Ini sangat penting,” jelas sosok itu.
“Aku menolak. Bye.” Dea langsung memutuskan sambungan teleponnya. Ia benar-benar kesal sudah dipermainkan oleh orang yang tidak di kenal. Infra merah yang sebelumnya berada di dadanya kini telah menghilang. Entah ke mana, sepertinya seseorang itu tidak membidiknya lagi. Dea mengambil nafas dengan lega.
PYARRR!!! tiba-tiba kaca di belakangnya pecah. Dea langsung merundukkan kepalanya, ingatan tragis yang ia alami sebelumnya muncul kembali.
“Hahh... hahh... hahhh...” napasnya tersenggal-senggal. Ia merasa tak ada oksigen yang bisa masuk ke dalam rongga hidungnya.
“Dea!” seru Aiden yang langsung berlari ke balkon. Lelaki itu segera membopong Dea masuk. Semua orang terlihat panik, kecuali Wijaya dan Kusuma.
“Aku bawa Dea ke tempat aman terlebih dahulu Pa,” izin Aiden pada Kusuma.
Ayah Aiden mengangguk dan langsung mengeluarkan pistol dari balik jasnya. Begitu pula Wijaya.
Keadaan Dea benar-benar kacau, ia kini tak sadarkan diri.
Semua orang yang berada di ballroom sangat panik. Beberapa penjaga yang telah disiapkan sudah dalam mode waspada. Aiden dan beberapa penjaga berlari ke kamar yang telah disewa. Ada Lusi dan Rita di depan pintu kamar.
“Ayo masuk,” ucap Lusi, Mama mertua Aiden.
Semua orang masuk, semua tampak tenang. Mereka telah memprediksi ini akan terjadi, sehingga sudah ada plaining untuk menghadapinya.
Di sisi lain, Wijaya dan Kusuma dalam posisi waspada. Ini semua menyangkut keluarga mereka, terutama Dea dan Aiden. Menjadi anak emas di masing-masing keluarga, membuat semua orang harus melindungi mereka.
“Jangan lengah Pak,” perintah Wijaya.
“Baik. Namun, aku tidak pernah memakai pistol seperti ini,” keluh Kusuma.
“Tenang, ada saya. Kalau ada musuh mendekat langsung tembak saja, entah sesuai bidikan atau melesat tidak masalah,” tutur Wijaya menenangkan besannya.
Mereka berjaga hingga 20 menit kemudian.
Ting! Notifikasi ponsel Wijaya berbunyi, menandakan ada pesan masuk.
[Sudah saya bereskan Pak.]
Tulis pesan itu.
“Ekhemm...” deham Wijaya. “Semua sudah beres, kalian boleh pergi sekarang,” perintahnya. Satu persatu orang keluar dari ballroom. Meninggalkan Wijaya dan Kusuma.
“Benarkah sudah beres?” tanya Kusuma.
“Sudah, kita ke anak-anak dulu. Putri saya bisa-bisa kambuh karena insiden ini,” ucap Wijaya yang langsung berjalan cepat menuju kamar Aiden dan Dea. Kusuma mengikuti langkah kaki pria itu dengan tergesa-gesa.
Rita dan Lisa kini sedang menemani Dea yang tak sadarkan diri. Sedangkan Aiden sibuk dengan ponsel miliknya.
“Bagaimana keadaan putriku?” tanya Wijaya dengan napas terengah-engah. Ia berlari cukup jauh utuk menjangkau kamar ini.
Lusi sontak menoleh ke arah suaminya, “Tidak sadarkan diri. Sepertinya dia terlalu kaget.”
Wijaya mendekati Dea, ia menatap putrinya dengan iba. Ada rasa bersalah menyebar di hatinya. Ia sangat menyesali membiarkan Dea pergi ke balkon.
“Ugh...” keluh Dea yang mulai sadar.
“Sayang,” panggil Wijaya dan langsung mendudukkan putrinya agar sadar dan tidak tertidur lagi.
“Ayah, apa yang terjadi?” tanya Dea kebingungan.
“Tidak ada, semua sudah aman. Kamu tidak terluka kan?” Wijaya mengelus rambut putrinya dengan lembut.
Dea meneliti sekujur tubuhnya,“ Tidak ada.”
“Syukurlah.” Wijaya nampak lega.
Setelah keadaan dirasa aman, semua orang keluar dari kamar pengantin. Meninggalkan Dea dan Aiden dalam satu ruangan.
Sedari tadi Aiden hanya sibuk pada dirinya sendiri, begitu pula Dea. Mereka bersikap cuek satu sama lain seperti orang asing.
Keesokan harinya mereka semua pulang ke rumah masing-masing. Kini Dea dan orangtuanya harus berpisah karena ia harus ikut suaminya.
“Hati-hati ya Sayang, jangan lupa memberi kabar Mama sama Ayah,” nasihat Lusi pada putri sulungnya.
Dea hanya menganggukkan kepalanya, dengan berlinang air mata ia memeluk orangtuanya. Wijaya sudah nangis sesenggukan melepas anak perempuan kesayangannya.
“Dea pergi dulu ya Ayah,” pamit Dea pada ayahnya. Wijaya hanya menganggukkan kepalanya, melepaskan kepergian putri tercintanya terasa sangat berat. Dea tersenyum kepada orangtuanya, lantas ia masuk ke dalam mobil.
Kedua orangtuanya melambaikan tangan mengiringi melajunya mobil yang semakin jauh. Tanpa terasa buliran air mata Dea jatuh. Srobb... Srobb... hidungnya penuh dengan ingus karena menahan air mata agar tidak keluar.
Aiden memberikan tisu pada istrinya tanpa mengatakan sepatah katapun. Rasanya sangat berat hidup tanpa orangtua, apalagi Dea belum siap berumah tangga.
Butuh beberapa jam untuk melakukan perjalanan menuju rumah mereka. Kini Dea sudah berada di kamar pribadinya, sendirian. Aiden meminta untuk pisah ranjang sehingga mereka berada di kamar yang berbeda meski pun satu lantai yang sama.
Drrttt... drtttt... getaran ponsel Dea membuatnya terbangun. Ia langsung mencari sumber getaran di sekitar tubuhnya.
“Hallo?” sapanya dengan suara serak.
“Apa kau baru saja bangun tidur?” tanya seseorang di seberang telepon.
Dea mengucek-ucek matanya, ia merasa sangat silau karena diterpa sinar matahari.
“Ya, ada perlu apa?” tanya Dea dalam keadaan belum sepenuhnya sadar.
“Aku sudah mengatakan kemarin lusa, kita akan bertemu di tempat yang sudah aku bagikan,” jelas orang itu. Mata Dea terbelalak, ia sangat terkejut mendengar penjelasannya.
“Ya Tuhan! Kau benar-benar seperti peneror mesum. Aku tidak mengenalmu, tolong berhenti hubungi aku!” tegas Dea yang langsung mematikan ponsel miliknya. Ia benar-benar merasa terganggu dengan panggilan telepon itu.
“Apa yang akan terjadi setelah ini?” batin Dea. Ia mengingat kejadian saat pernikahannya. Setelah memutuskan telepon itu, tiba-tiba ada sebuah tembakan dan menyebabkan kaca balkon pecah.
Tubuh wanita itu merinding, dengan cepat Dea langsung keluar dari kamarnya. Berlari menuju ruang makan.
“Hahh... hahh... hahh....” Berusaha mengatur napasnya supaya lebih stabil, Dea tak menyadari jika ada Aiden yang memperhatikannya.
“Are you okay?” tanya lelaki itu dengan alis yang tertaut, ia merasa aneh dengan tingkah istrinya.
“Ahh! I’m okay, no problem. Take your time,” jawabnya. Dia langsung melangkahkan kakinya menuju kursi makan. Posisinya sedikit jauh dari tempat duduk Aiden. Perempuan itu berusaha bersikap tenang dan anggun.
Lelaki itu hanya memperhatikan Dea dari kejauhan. Dan kembali bersikap acuh. Dea masih sibuk mengatur ritme jantungnya yang tidak karuan.
Bik Asih, kepala pelayan di rumah Aiden dengan perhatian menyiapkan makanan untuk Nyonyanya.
“Terimakasih Bik Asih,” ujar Dea.
“Sama-sama Nyonya,” jawab Asih dengan kepala yang menunduk hormat.
Perempuan itu memakan sarapannya dengan lahap, tiba-tiba terdengar suara dari mulut Aiden.
“Aku akan pulang larut malam karena harus dinner dengan Wendy, jadi kamu di rumah saja. Jangan kemana-mana,” perintah Aiden.
“Aku tidak mendengarnya,” tolak Dea.
______________________________
__________________
Baca juga Novel mimin berjudul “KUREBUT SUAMIKU DARI KEKASIHNYA”, berikut cuplikan sinopsisnya:
Perjanjian Pra-nikah tidak menjamin rumah tangga akan baik-baik saja. Dea terdiam saat suaminya menyembunyikan harta gono-gini tanpa sepengetahuannya, bahkan dipegang oleh wanita lain.
Dia hanya tahu jika Kevin-suaminya Guru PNS ternyata memiliki bisnis yang dipegang Icha dari awal pernikahan mereka.
"Kamu hanya memiliki raga Kevin tidak dengan hatinya. Kekayaan terbesarnya ada di genggamanku. Dia akan MENCERAIKANMU!"
“Dengarkan perintahku Dea. Ini demi keselamatanmu, jangan membuatku marah,” tegas Aiden. Wajah lelaki itu terlihat sangar karena menahan amarah pada istrinya.
“Aku juga memiliki keperluan penting di luar, kamu tidak bisa seenaknya memerintahku seperti ini Aiden. Ingat isi perjanjian kita,” tutur Dea. Perempuan ini tak mau diatur oleh siapa pun, meski pun itu adalah suaminya sendiri.
Aiden hanya menghembuskan napas dengan kasar. Dea benar-benar keras kepala. Padahal Aiden melakukan hal ini demi menjaga keselamatan putri Wijaya, tapi Dea tak bisa diatur.
“Terserah kamu, jika terkena masalah tanggung sendiri,” ucap Aiden yang segera berdiri meninggalkan ruang makan.
Setelah Dea menyelesaikan sarapannya hingga tandas. Ia kembali ke kamar dan membersihkan tubuhnya.
Ketika akan merias wajahnya, lagi-lagi ponselnya berdering. Nama Ayahnya tertera di sana.
‘Apa ayah sudah merindukan aku?’ batin perempuan itu. Senyum manis tercetak di wajahnya.
“Hallo?” sapa Dea.
“Hallo Sayang,” jawab Wijaya dengan semangat. “Bagaimana kabarmu?” tanya lelaki itu pada putrinya.
“Baik Yah. Ada apa menelpon? Kagen Dea ya?” goda Dea dengan mata berbinar. Mereka baru berpisah satu hari, tapi ayahnya sudah menghubunginya lebih dahulu.
“Tidak, ayah akan memberimu tugas Sayang. Tolong kunjungi seseorang yang ada di dalam alamat ini. Ayah sudah mengirimkannya di ponselmu,” perintah Wijaya. Dea memanyunkan bibirnya, ada rasa kecewa dalam hatinya. Baru juga bersantai, dia langsung diberi tugas oleh ayahnya.
“Huft, aku masih capek Yah,” keluh wanita itu tak berdaya.
“Hahaha... apa kamu dan Aiden sudah melakukannya?” kode Wijaya yang tergelak mendengar penuturan putrinya.
“Tidak! Ayah jangan bicara sembarangan!” kesal Dea.
“Hahaha... Itu tidak masalah Sayang. Akan lebih baik kalau ayah bisa menggendong cucu pertama dengan cepat,” kekeh pria itu di seberang telepon.
“Apa hanya itu saja tugasku?” tanya Dea menyudahi pembicaraan ini.
“Ya, hanya itu saja. Cepat kunjungi dia. Itu teman lama ayah, dia akan akan membantumu ketika mendapat kesulitan di Solo. Ayah tidak bisa melindungimu secara langsung karena kita beda wilayah,” ujar Wijaya.
“Iya, kalau begitu aku matikan teleponnya ya,” izin Dea. Perempuan itu ingin menyelesaikan tugas secepat mungkin agar ia bisa bersantai dengan bebas.
“Iya, jaga dirimu baik-baik. Ayah sayang kamu,” tukas Wijaya.
Sambungan telepon pun terputus, kini Dea melanjutkan riasan wajahnya yang sempat tertunda karena mendapatkan telepon dari ayahnya.
Ketika semua dirasa rapi, perempuan itu bergegas pergi ke lantai satu menemui Bik Asih.
“Bik Asih!” panggil Dea. Wanita paruh baya itu langsung menghampiri majikannya.
“Iya Nyonya? Ada yang perlu saya bantu?” tanya Kepala pelayan itu.
“Tidak, aku akan pergi keluar.” Dea langsung berjalan menuju parkiran mobil milik Aiden, dengan sigap Bik Asih mengikutinya dari belakang. Ada banyak model yang bisa ia pilih.
“Apakah semua mobil ini bisa aku pakai?” tanya Dea.
“Bisa Nyonya.” Suara bariton itu sontak membuat Dea menoleh, ia hanya tau jika ada Bik Asih di belakangnya. Ternyata lelaki bertubuh tegap yang terlihat lebih muda darinya sedang menatapnya dengan ramah.
Dea mengerutkan dahinya melihat lelaki itu.
“Siapa kamu?” tanya Dea penasaran.
“Perkenalkan, saya Toni. Supir pribadi Nyonya Dea,” terang lelaki itu.
“Apa kamu disuruh Aiden?” tanya Dea sekali lagi.
Toni melangkah mendekat, lalu berbisik.
“Saya memang direkrut Pak Aiden, tapi ini tugas dari Pak Wijaya,” jelas Toni pelan, ia tak ingin orang lain mendengarnya.
Wanita itu paham dan hanya menganggukkan kepalanya.
“Baiklah, aku ingin naik mobil itu.” Dea menunjuk mobil berbody compact berwarna hitam yang kelihatan usang di pojok parkiran.
“Apa Anda yakin Nyonya?” tanya Toni heran. Di parkiran ini ada banyak mobil keren yang bisa mereka pakai. Namun perempuan itu justru memilih mobil yang terkesan murah dan dekil.
“Ya, ayo cepat!” perintah Dea dan berjalan menuju mobil yang ia inginkan. Toni langsung berlari mendahului Dea untuk membukakan pintu. Jaraknya cukup jauh dari tempat mereka berbincang barusan, sehingga masih ada waktu untuk mencari kunci mobil itu.
“Silakan Nyonya,” ucap Toni ramah dan mempersilakan perempuan itu masuk.
“Tolong berikan kode QR ponselmu, aku akan mengirim lokasi yang ingin kukunjungi,” pinta Dea.
Toni memberikan kode QR tersebut, Dea langsung menyecan dan mengirim lokasi.
“Cepat berangkat,” perintah perempuan itu. Toni dengan cepat melajukan mobil ke jalanan.
Kondisi jalanan sedang sepi, sehingga mereka sampai ke tempat tujuan lebih cepat.
Terlihat rumah lapuk di sana, tetapi memiliki pekarangan yang sangat luas dengan gerbang yang sudah rusak satu sisi. Mobil yang ditumpangi Dea dan Tino masuk ke dalam pekarangan tersebut. Tak ada siapa pun, Dea memperhatikan sekitar.
“Saya turun sebentar Nyonya,” pamit Toni yang langsung turun dari mobil.
Lelaki itu menyelidiki setiap sudut pekarangan. Cukup lama Toni berkeliling di area rumah itu.
Dea yang tak sabar akhirnya ia memilih untuk ikut turun dari mengetuk pintu.
Tok... tok... tok...
“Permisi! Apakah ada orang?” teriak Dea. Toni berjaga di belakang Nyonyanya dengan waspada.
Tak ada sahutan, kedua orang itu menunggu sedikit lebih lama. Mereka mengharapkan ada sahutan seseorang yang ada di dalam rumah ini.
Karena tak ada sahutan apa pun setelah ketukan ketiga kalinya. Akhirnya Dea mendorong pelan pintu yang sebelumnya memang sedikit terbuka.
Dag... dig... dug... dadanya berdetak tak karuan. Takut ada hal yang tidak diinginkan akan terjadi.
Mata perempuan itu menyipit menjelajahi ruangan sekitar. Namun seketika melebar ketika menemukan pria tua tergeletak di lantai.
“Ya Tuhan! Apakah Anda baik-baik saja Pak?” tanya perempuan itu panik.
“Ton! Cepat bawa ke rumah sakit!” teriak Dea. Dengan sigap lelaki itu menjalankan perintah majikannya. Keduanya membopong pria tua tersebut ke dalam mobil. Dengan cepat Toni melajukan mobil itu ke rumah sakit.
“Bertahanlah Pak, kita akan sampai di rumah sakit,” cecar Dea yang merasa iba melihat orang di sampingnya tak berdaya.
Ketika sampai di rumah sakit, Toni langsung turun dan berlari meminta bantuan. Ada beberapa suster dan dokter yang mendorong kereta dorong.
Dea diberhentikan untuk mengisi administrasi agar pasien segera ditangani oleh pihak medis.
Setelah dokter memeriksa pria tua itu, ia memanggil Dea selaku wali dari pasien.
“Bu Dea, bisa ikut ke ruangan saya?” tanya Dokter itu.
“Bisa Dokter,” jawab Dea yang langsung mengikuti dokter laki-laki itu.
Di dalam ruangan Dea mendapatkan berbagai penjelasan mengenai penyakit yang diderita pasien.
“Jadi, Pak Hando menderita struk ringan dan komplikasi jantung? Dan sebagai wali saya harus menjaga emosi beliau agar tetap tenang?” ulang Dea setelah mendengarkan penjelasan yang panjang dari Dokter Richard.
“Iya, benar Bu,” koreksi Dokter Richard.
“Baiklah. Tapi... apakah Pak Hando bisa sembuh dari penyakit ini?” Perempuan itu benar-benar penasaran dengan kondisi teman lama ayahnya.
“Bisa Bu, tapi peluangnya tak besar. Ditambah ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.” Dokter Richard menjelaskannya dengan penuh pengertian. Dea mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Setelah pembicaraan selesai, Dea segera kembali ke ruang Pak Hando. Dengan langkah yang gontai, ia memaksa tubuhnya yang lemah untuk tetap berjalan.
Ketika akan sampai di ruangan Pak Hando, tiba-tiba di pintu masuk terdapat keributan antara Toni dan lelaki asing yang tidak dikenali Dea.
Perempuan itu langsung berjalan cepat menghampiri supirnya.
“Kenapa kalian ribut di lorong rumah sakit!” sungut Dea yang tidak bisa menahan emosinya.