Bab 2

Setelah berhasil mem-blow rambut panjangnya yang sudah melewat bahu tanpa telat ke kantor, Salsabila keluar dari kamarnya. Make-up sudah rapi, walaupun ketika dia sudah sampai di kantor ia akan kembali memeriksanya. Blus sewarna avocado dan rok A-line hitam menjadi pilihannya hari ini untuk semakin menyempurnakan penampilannya.

Satu tangannya menjinjing tas, sementara tangan yang lain menenteng sepatu. Ia melirik ke arah pintu di sebelah kamarnya yang juga baru saja terbuka, menampakkan sesosok pria yang melangkah keluar dari sana, sudah rapi dengan kemeja putih serta jas dan tas kerja yang dijinjing di tangan kanan, lengkap dengan sepatunya yang hitam mengilat.

Alan, pria itu memang punya jadwal kegiatan pagi yang lebih teratur dibandingkan dengan Salsabila.

Keduanya sempat bertukar tatap sebelum Alan yang lebih dahulu mengalihkan pandangan lalu menuruni anak tangga, berlalu begitu saja, meninggalkan Salsabila yang kini tengah duduk di sofa ruang televisi sembari mengenakan sepatunya.

“Selamat pagi, Pak. Bapak mau sarapan apa pagi ini?”

Sayup-sayup Salsabila bisa mendengar suara keibuan yang berasal dari Bude Yun, pembantu rumah tangganya sedang menyapa Alan.

“Iya, selamat pagi,” balas Alan ramah. “Yang ada saja, Bude Yun,” lanjut Alan kembali.

“Pagi ini Bude membuat nasi goreng, Bapak mau?”

Suara Bude Yun kembali terdengar, dan sepertinya Alan sedang melakukan sarapan bisa didengar dari Bude Yun yang sedang sibuk mempersiapkan sesuatu untuk bisa Alan nikmati.

Merasa telah selesai dengan kegiatan mengenakan sepatunya, Salsabila menyusul kemudian mendatangi ruang makan. Di sana Alan tengah sibuk menikmati nasi goreng buatan dari Bude Yun.

“Selamat pagi,” sapa Salsabila berusaha seceria mungkin.

“Pagi, Ibu,” balas Bude Yun. “Mau sekalian ikut sarapan, Ibu?”

Salsabila mengangguk. Sekilas tatapannya terarah kepada Alan yang sama sekali tidak memedulikan keberadaannya, bahkan membalas sapaan selamat paginya pun tidak dipedulikan oleh pria itu. Ya, hubungan pernikahan mereka memang sedingin ini.

Tidak mau ambil pusing, Salsabila mengambil tempat tepat di samping Alan. Tatapannya sesekali terarah ke arah Alan yang kini sudah selesai dengan sarapannya dan telah beralih menatap serius layar i-Pad di tangan, dengan rambut belah samping yang rapi. Rahang tegasnya sesekali bergerak, dengan alis tebal yang agak mengerut, ia mendekatkan layar i-Pad-nya saat menemukan—mungkin—sesuatu yang serius menyangkut pekerjaannya.

Tidak lama kemudian pria itu menyimpan i-Pad-nya ke dalam tas kerja, lalu bangkit dari kursi, meminum segelas air putih yang disediakan oleh Bude Yun untuknya. Berlalu begitu saja tanpa sepatah kata pun.

Alan pergi.

Tanpa pamit pada Salsabila? Tentu saja. Seperti biasa.

Memangnya, sikap apa yang diharapkan dari sepasang suami istri yang sejak awal pernikahan sudah pisah kamar? Mencium kening di pagi hari sebelum pamit berangkat ke kantor? Menggelikan sekali. Mungkin itu hanya akan terjadi di alam mimpi saja, sangat mustahil terjadi di alam nyata.

Setelah Alan berlalu pergi, Salsabila menyusul kemudian. Bersiap untuk berangkat bekerja. Ya, seperti inilah rutinitas keseharian dari Salsabila dan Alan. Pernikahan hanyalah label, karena yang sebenarnya terjadi, dia sama-sama memiliki kesibukan, pagi bekerja dan malamnya mereka pulang untuk beristirahat. Tidak ada yang namanya perbincangan antar suami istri atau apa pun itu. Karena mereka tidak punya waktu untuk hal semenggelikan itu.

****

Salsabila tidak akan menyangka akan mendapat ucapan sebanyak ini. Rangkaian bunga berjejer mendekati pintu masuk. Di lobby kantor pun masih banyak yang berjejer, bunga-bunga dengan pot atau handbouquet juga menghiasi ruang kerjanya. Bau harum berbagai bunga masuk ke hidung membuat Salsabila sedikit pengar.

SELAMAT ULANG TAHUN PERNIKAHAN YANG KETIGA BAPAK ALAN PUTRA DIRGANTARA & IBU AYLA SALSABILA DIRGANTARA

HAPPY ANNYVERSARY 3th BAPAK ALAN & IBU SALSABILA

Itu hanya sebagian yang sempat Salsabila baca, karena semua tulisan papan rangkaian bunga maupun kartu ucapan itu isinya nyaris sama, sebuah ucapan selamat ulang tahun pernikahan antara dirinya dan Alan.

Tiga tahun. Bukan waktu yang sebentar untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Siapa sangka Salsabila mampu bertahan dalam gelanggang pernikahan ini. Bahkan, Salsabila pun seakan tidak mempercayai dirinya sendiri bisa bertahan selama itu.

Menikah dengan salah seorang keturunan Dirgantara memang sulit untuk tidak mendapat atensi semacam ini. Seluruh rekanan dan media tahu kapan ulang tahun pernikahan antara seorang Alan dan Salsabila, dan mereka juga mengingat tanggal-tanggal lainnya. Alih-alih merasa terganggu, Salsabila sudah membiasakan diri menerima perhatian itu. Berat? Tentu saja. Rasa tidak pantas ia mendapat perhatian seperti itu dan sedikit ada perasaan bersalah. Alan bahkan tidak mengingatnya sama sekali, tetapi kenapa orang lain harus lebih mengetahui tanggal penting itu. Terbukti dengan kejadian tadi pagi, pria itu sama sekali tidak mengungkit itu menandakan kalau pria itu memang tidak mengingat kalau umur pernikahan mereka sudah bertambah lagi.

“Bu, selamat, ya,” ujar seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan.

Salsabila yang sedang menilik bunga-bunga di atas nakas samping ruangan berbalik dan tersenyum kepada asisten pribadinya itu.

“Terima kasih. Hari ini kita meeting jam berapa?”

Lebih mudah menanyakan jadwal pekerjaan yang mengantri ketimbang menjawab ucapan selamat itu. Salsabila berjalan ke balik meja kerjanya dan mulai menyalakan laptop. Nina, sekretaris pribadinya itu mulai menyebutkan beberapa meeting yang perlu Salsabila hadiri selaku direktur di perusahaan industri sepatu ini. Salsabila menduduki posisi itu semenjak dua tahun lalu setelah satu tahun sebelumnya menjadi manajer divisi busdev.

Di awal pernikahan, Salsabila masih bisa bekerja menjadi staff biasa di perusahaan ini. Namun, semenjak menikahi seorang Alan Putra Dirgantara, menjadi orang biasa saja adalah pantangan. Bunda Rena sejak saat itu meminta Salsabila untuk menduduki posisi sebagai manajer divisi busdev. Lalu lambat laung, naik pangkat menjadi seorang direktur. Mungkin mereka merasa malu karena anak pemilik kerajaan bisnis memiliki seorang istri yang hanya bekerja menjadi bawahan. Dan dengan berat hati, Salsabila menurut saja.

Meeting berjalan dengan baik. Laporan neraca keuangan perusahaan ini sehat dan kami sedang mempersiapkan linebrand baru. Semenjak duduk di posisi direktur, Salsabila sudah pernah mengalami dua kali kegagalan rencana. Untung saja kerugiannya masih bisa ditutupi dengan pendapatan lainnya. Kali ini linebrand baru yang sedang ia rencanakan tidak boleh gagal. Meskipun Salsabila tahu, gagal pun tidak ada yang berani menegurnya. Tetapi bukankah ada kata, harus tahu diri? Itu yang selama ini Salsabila ingat, sehingga ia tidak mau banyak bertingkah.

“Ibu tidak mau bookingdinner romantis sama bapak?” tanya Nina saat keduanya sudah kembali ke ruangan.

“Tidak usah, Ni. Saya mau di rumah saja. Lagi pula mas Alan juga lebih suka di rumah.”

Perayaan anniversary seperti bayangan Nina atau khayalak umum, tidaklah pernah terjadi di pernikahan mereka. Hari jadi itu sama seperti hari-hari biasa lainnya. Pergi ke kantor, pulang ke rumah dan tenggelam dalam dunia masing-masing. Apa yang mereka pikirkan soal Alan dan Salsabila? Lovey-dovey? Ck. Jauh! Kalau ditanya sejak kapan hal itu berlangsung. Jawabannya adalah semenjak hari pertama keduanya sah sebagai suami istri. Sejak hari pertama mereka disahkan oleh agama dan negara sebagai suami istri, semenjak itu pulalah Alan membentangkan jarak di antara dirinya dan Salsabila.

Bab 3

"Ini kamarmu. Ini kamar aku."

Masih teringat jelas perkataan mas Alan pertama kali ketika kami telah menjadi pasangan suami istri setelah usai merayakan pesta pernikahan. Itu adalah perkataan yang ia lontarkan ketika kami tiba di rumah yang mas Alan beli untuk kami tempati bersama.

Sejak saat itu, Salsabila menyadari arti pernikahan yang akan mereka jalani untuk ke depannya. Ia sadar bahwa pisah kamar artinya lebih dari sekedar tidur di ruangan yang berbeda, ini adalah pertanda bahwa ada tembok batasan sebuah hubungan di mana mereka tidak boleh saling mengusik. Salsabila tahu pernikahan yang mereka jalani tidak biasa, tetapi siapa sangka ternyata memang akan sejauh ini.

Kami hanya hidup bersama dengan urusan masing-masing. Sementara Salsabila menangani perusahaan sepatu, mas Alan menangani properti perusahaan keluarganya. Sebuah perusahaan induk yang menangani segala banyak anak perusahaan, termasuk perusahaan sepatu yang Salsabila kelola. Tidak hanya itu, dia juga banyak membawahi perusahaan lainnya. Sudah bisa dipastikan betapa kaya rayanya seorang keluarga Dirgantara, dan Salsabila menjadi wanita yang begitu beruntung karena kecipratan kekayaan mereka. Ya, begitulah kata-kata orang banyak. Tetapi kalau boleh memilih, Salsabila sama sekali tidak menginginkan kekayaan kalau di dalamnya tidak dibarengi dengan kebahagiaan.

"Halo," sapa Salsabila pada seseorang yang menelepon siang itu. Salsabila tengah berjalan menuju lobby perusahaan saat handphone yang berada dalam tasnya berdering.

"Selamat ulang tahun pernikahan, Sayang." Sebuah suara keibuan terdengar begitu ceria menggema di seberang telepon. Ibu Rena, ibunda dari mas Alan.

Salsabila seketika ikut berbinar mendengar suara ibu Rena yang kelewat ceria. Mau tidak mau, Salsabila ikut bahagia mendengar ucapan selamat dari ibu mertuanya itu.

"Terima kasih, Bunda," jawab Salsabila tersenyum kecil seraya menaiki mobil yang telah menunggunya di pelataran parkir yang dikemudikan oleh sopir pribadinya, Dimas.

Kedua orang tua mas Alan memang begitu menyayangi Salsabila. Dan itu adalah keberuntungan tersendiri bagi Salsabila. Tetapi sebenarnya rasa sayang itu tidak timbul mendadak, mereka menyayangi dirinya semenjak pertemuan pertama mereka di panti asuhan yang saat itu aku masih berumur tujuh tahun. Semenjak itu hingga kini rasa sayang mereka tidak berubah dan Salsabila sangat menghormati mereka.

"Mama dan papa kirim hadiah ke rumah. Semoga kamu dan Alan menyukainya. Sekali lagi selamat ya, Sayang. Semoga kebahagiaan selalu menyertai kalian." Ibu Rena melontarkan sebuah doa di penghujung percakapan setelah mereka membahas satu dua hal lain. Yang tidak orang ketahui, diam-diam Salsabila mengaminkan doa dari ibu mertuanya tersebut.

Hadiah yang dikirimkan ibu mertua Salsabila ternyata adalah sepasang jam tangan. Hadiah itu diletakkan di meja ruang tengah dengan manisnya. Oh, dan jangan tanyakan harganya. Sudah dipastikan, harganya bernilai jutaan rupiah. Mana mungkin keluarga Dirgantara akan mengeluarkan sebuah hadiah dengan harga yang murah.

"Bapak sudah pulang, Bude?" tanya Salsabila kepada bude Yun yang baru saja melintas.

Wajah yang dipenuhi keriput itu tersenyum ke arahnya. "Belum, Bu."

Salsabila tahu ke mana mas Alan pergi kalau sampai harus terlambat pulang. Sudah dipastikan kalau pria itu menghabiskan malam di tempat hiburan malam. Sesuatu kelakuan nakal yang belum bisa pria itu lepaskan bahkan saat mereka sudah menikah. Tetapi Salsabila mana bisa melarang, dia tidak punya hak akan hal itu.

Saat Salsabila akan memasuki kamar, ia mendengar suara deru mobil mas Alan.

"Tolong kasih ini ke bapak. Katakan ini hadiah dari mama," ujar Salsabila sembari menyerahkan box arloji bagian mas Alan ke bude Yun.

Bude Yun tentu saja tidak banyak tanya. Dia sudah tahu bagaimana dinginnya pernikahan kami. Jadi dia hanya akan menjadi perantara di antara keduanya. Dan untungnya juga, dia bisa jaga mulut untuk tidak membocorkan rahasia kelam pernikahan mereka kepada keluarga mas Alan. Sudah bisa dipastikan bagaimana kecewanya ibu Rena dan bunda Fani, bahkan seluruh keluarga besar kalau mengetahui betapa bobroknya hubungan pernikahan yang keduanya jalani. Salsabila tentu saja tidak bisa membayangkan kalau itu sampai terjadi.

Kembali lagi ke mas Alan, tidak bertegur sampai bahkan jarang bertemu bukanlah masalah biasa. Salsabila kemudian memasuki kamar, dia melamun mengingat hari-hari awal menikah dengan mas Alan. Saat itu, kepolosan gadis umur dua puluh empat tahun diuji. Saat itu ia masih berusaha memaklumkan kemauan pria yang enam tahun lebih tua darinya untuk tidur terpisah.

Mungkin orang kaya biasa melakukan itu untuk sebuah privasi, itu adalah pikiran konyol Salsabila dahulu. Sementara itu, Salsabila mencoba menjadi figur istri yang sempurna untuk seorang mas Alan yang sibuk. Seperti bangun lebih pagi untuk menyiapkan makanan dan menyiapkan setelan kerja untuk dikenakan sang suami bekerja. Bahkan Salsabila sebisa mungkin akan menunggui mas Alan untuk makan bersama dan berusaha sebisa mungkin pulang mendahului pria itu, semata-mata ia lakukan agar mas Alan tidak kecewa saat sampai di rumah terlebih dahulu darinya. Konyol bukan? Bahkan sekarang, mengingat akan hal itu rasanya Salsabila ingin menertawakan dirinya dengan keras-keras. Kau sudah banyak berjuang, Salsabila.

Tetapi tahu 'kan segala sesuatu ada batasnya, bahkan kadaluwarsanya? Ya, begitu pula ketekunan yang Salsabila lakukan saat itu. Semua itu karena balasan yang didapat dari mas Alan tidak setimpal. Pria itu menghindarinya. Dia sengaja tak muncul sarapan, bahkan hingga Salsabila berangkat kerja. Mas Alan juga tak pernah pulang di bawah jam sepuluh malam, dan lebih parahnya bahkan tidak pulang. Penasaran di mana mas Alan bermalam? Tentu. Salsabila akhirnya tahu ke mana pria itu pergi untuk melewatkan malam jika tidak pulang. Dan kenyataan itulah yang menghentikan segala usaha Salsabila yang tengah berupaya menjadi seorang istri sesungguhnya, lalu berubah menjadi orang serumah mas Alan saja.

"Sa," panggil seseorang diikuti ketukan pintu kamar.

Hanya satu orang yang memanggilnya demikian. Jika orang panti asuhan, partner kerja, kenalan, atau mertuanya akan memanggilku 'Salsabila, Salsa', hanya mas Alan yang memanggilku, 'Sa'.

Salsabila mengenyahkan segala pikiran masa lalunya. Sebuah kelakuan konyol yang cukup lucu untuk diingat.

Tidak ingin membuat Alan mengetuk pintu terlalu lama. Salsabila berderap membuka pintu dan menemukan wajah pria itu yang kini tengah menatapnya.

"Ada apa, Mas?" tanya Salsabila, saat menyadari kalau mas Alan sama sekali tidak mau memulai arti kedatangannya mengetuk pintu kamarnya malam-malam.

Mas Alan berdeham cepat. "Akhir pekan ini, bisa temani aku menghadiri sebuah acara rekanan?" tanyanya kemudian.

"Kamu kabarkan saja tempat dan jamnya, Mas."

Mas Alan mengangguk setuju.

Inilah salah satu hal ingin aku tertawakan juga. Dulu, susah-susah Salsabila membuat sarapan atau menantinya pulang, tidaklah membuatnya menjadi istri yang sempurna baginya. Tetapi ternyata bagi pria itu, istri yang sempurna itu adalah yang bisa menjadi temannya menghadiri acara penting. Ya, sesederhana itu.

Pandangan Salsabila teralihkan ke satu tangan pria itu memegang box jam tangan, pasti bude Yun telah memberikannya. Di satu tangannya yang lain dia menenteng goodiebag yang sekarang tengah diulurkan kepada dirinya.

"Buat kamu," ucapnya dengan suara datarnya.

Salsabila menerima kado itu kemudian tersenyum tak lupa mengucapkan terima kasih. Ketika mas Alan sudah berlalu, Salsabila kembali memasuki kamar lalu membuka kotak pemberian pria itu. Kemudian membawanya ke ruangan tempat penyimpanan perhiasan lainnya. Kalung berlian itu berjejer dengan perhiasan lainnya. Salsabila heran kenapa orang kaya sangat suka memberi perhiasan sebagai kado. Masih banyak kado yang cukup berarti melebihi perhiasan. Tetapi Salsabila tentu saja akan menerimanya. Ini jelas hadiah pernikahan yang sekian kalinya mas Alan berikan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED