"Habis dari mana, Bang?" Saripah bertanya ketika Kakak laki-lakinya pulang saat adzan maghrib sedikit lagi akan berkumandang.
"Kerjalah. Dari mana lagi? Emang Abang lo ini penggangguran?"
"Yeee... Nyolot amat sih, Bang. Nih, nomor handphone Mpok Jejen Ipah kasih kalo mau nih," sahut Saripah membuat langkah kaki Jimmy berhenti di depan pintu dapur.
"Buat apa nomor handphone dia," ketus Jimmy kembali berbalik dan ngacir ke meja makan.
"Ya elah, Bang. Buat di kecengin dong. Buat apaan lagi coba? Kali aja Ipah sering-sering kebagian pisang goreng atau kopi mocca gratis pas nongol di warung barunya tuh. Bener, nggak?" Saripah mengejar Abangnya, dan perkataan tersebut sukses membuat air putih yang hampir Jimmy telan keluar bak air mancur di Bundaran Hotel Indonesia.
"Ukhukkk... Ukhukkk..."
"Astaga, Bang! Kalo minum itu hati-hati kenapa sih? Kebiasaan banget. Kayak anak kecil aja! Mana muncratnya kena tangan Ipah lagi. Basah deh kertas nomor handphone Mpok Jejen nih!"
"Hah?! Serius lo, Pah? Mana sini coba Abang lihat tuh kertasnya," Jimmy segera mencengkeram tangan Saripah dan berniat merebut kertas yang sudah basah itu.
Sayangnya kertas tersebut tersobek dan bagian yang ada di tangan Saripah pun bentuknya sudah seperti bubur kertas akibat muntahan air tadi.
"Ya, Ipahhh... Robek, kannn..." gerutu Jimmy mengangkat potongan kertas dari buku tulis bergaris itu ke udara.
"Alah, gitu aja kok repot! Tuh, warungnya Mpok Jejen masih buka sampai habis Isya, terus bakalan tutup kalo Bapak-Bapak udah habis ngeronda keliling kompleks. Lagian, katanya tadi buat apaan nomor handphone Mpok Jejen! Taunya di rebut juga dari tangan Ipah," sahut gadis itu melepas mukenanya yang basah, "Minat Ping! Minat sosor tuh di bawah. Alasan ngopi kek apa kek. Gitu aj---"
"Mau bilang apaan, hem? Gitu aja kok repot? Terus aja itu kata lo pake sampai tua. Ya iyah Abang repot, Pah. Kan Abang bukan pe-ngang-guran! Jadi selalu repot alias sibuk!" sanggah Jimmy menekan ujung kalimatnya.
"Cih, nyindir! Mentang-mentang udah lama kerja sama Bos Gege yang tampan dan tajir melintir, terus bisanya tiap hari nyindir Adeknya muluk. Huh, dasar! Ipah doain jadi bujang lapuk nggak kawin-kawin baru nyahok!" gerutu Saripah dan Jimmy terkekeh keras.
"Nggak mungkin Abang lo ini jadi bujang lapuk, Pah. Orang tiap hari ada aja yang minta Abang perawanin kok, apalagi yang minta di kawinin? Ban-- Aduhhh... duhhh... Kuping gueee... Sakit, Makkk... Ampunnn...! teriak Jimmy tak menyelesaikan ucapannya.
"Biarin aja sakit! Biarin juga sampai putus kalo perlu! Mak heran ya sama lo ini, Jim. Masih aja lo demen gangguin anak orang rupanya!" kesal Mak Rapeah yang baru keluar dari kamar mandi.
"Becanda kali, Mak. Mana berani lagi Jimmy aneh-aneh sekarang, Mak. 'Kan Jimmy udah kerja tuh sama Bos Gege yang eksklusif gitu," jurus berkelit pun keluar dari mulut Jimmy, "Nih, liat. Baju kerja Jimmy aja udah kayak orang kantoran, Mak. Terus liat juga nih. Kunci mobil, Mak. Ke mana-mana Jimmy naik mobil, terus--"
"Terus lo mandi, karena gue mau sholat maghrib ke musola. Gue nggak mau denger acara ngeles lo yang panjang lebar tentang laut biru. Ayo, Pah. Jalan gih. Nanti ke buru di mulai," repet Mak Rapeah menarik tangan Saripah.
"Wuekkk... Dadahhh... Abanggg..." ejek Saripah menjulurkan lidahnya.
"Ck. Apaan sih Emak ini. Bikin kesel aja. Udah ach mandi dulu mendingan juga," gumam Jimmy mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.
Ritual mandi bersih ala Jimmy Waluyo pun terjadi di detik berikutnya, ketika semua pakaian sudah ia lepaskan. Dan pita suara yang berada di tenggorokannya pun ikut beraksi mendendangkan lagu dari si Raja dangdut, Bang Haji Rhoma Irama.
Sayangnya tepat saat Jimmy baru akan membuka mulut, 'Tok... Tok... Tok...' ketukan di pintu kamar mandi membuat laki-laki dua puluh tiga tahun itu terkejut seketika.
"Astaga, Makkk...! Bikin kaget ajaaa... Tung--"
"Maaf, Bang Jim. Ini bukan Mak Rapeah. Ini Jenny, Bang. Kebetulan tadi goreng kue pisangnya kebanyakan. Karena kata Ipah Abang udah pulang, Jadi Jenny anterin dikit buat ucapan permintaan maaf soal yang tadi pagi itu."
Deg...
Jantung Jimmy hampir melompat keluar saat mendengar suara halus Jenny masuk ke telinganya.
"Jenny taruh di meja aja ya, Bang? Maaf udah bikin Bang Jimmy marah," lanjut Jenny, karena tak kunjung mendengar sahutan dari dalam kamar mandi, "Assalamualaikum, Bang." dan kini ia pun berniat pergi dari sana.
Tapi baru saja tiga kali Jenny melangkah, ternyata Jimmy sudah berhasil meraih tangan gadis itu dan menyudutkan ke tembok di lorong dapur.
"Apa kamu nggak punya cara lain buat minta maaf, selain dengan cara ngagetin aku pas mandi dan ngasih pisang goreng?"
Ampunnn... Dj...
Wanita mana yang bisa bernapas ketika Jimmy bertanya dengan jarak hanya lima sentimeter seperti sekarang ini. Bahkan biasanya ia akan lebih dulu mendapat serangan, karena tatapan mata elangnya yang super memabukkan.
"Ja-jadi..." Jenny menggantungkan ucapannya, "Ap-apa yang Abang mauuu..."
"Cium pipi aku yang kamu tampar tadi," segera saja Jimmy berkata seperti itu, "Gampang, kan?"
Cup
Dan Jenny melakukannya dengan secepat kilat, hingga membuat Jimmy berdiri kaku di tempatnya.
"Permisi, Bang," Jenny mendorong tubuh kekar Jimmy dan berlari menuju pintu keluar.
Namun roh Jimmy yang terbang sudah kembali ke dalam tubuhnya, dan ia tak mau menyia-yiakan kesempatan dari celah pintu yang sudah di buka oleh pemiliknya.
"Bang Jim-- Hemphhh..."
Jimmy dengan beringas melumat habis bibir Jenny, dan lagi-lagi ia merapatkan tubuh sintal buruannya ke daun pintu yang masih tertutup.
Ia bahkan membawa kedua tangan Jenny ke atas kepala, dan dengan bebas pula menghimpitkan tubuhnya agar semakin rapat.
"Achhh..." satu erangan lolos dari pita suara Jenny, karena ternyata bibir Jimmy sudah merambat turun di lehernya.
"Jawab aku, Jen. Kamu masih perawan atau udah janda?" Jimmy ingin memastikan status Jenny, karena tak ingin di grebek masa akibat meniduri Istri tetangga di rusunawanya sendiri.
"Aku..."
"Tolong, Jen. Aku nggak bisa sentuh kamu kalau ternyata Suami mu lagi nungguin di bawah sana," kejujuran pun keluar dari mulut Jimmy.
"Iya! Ak-aku udah punya Suami, Bang!" Jenny menjawab asal, sembari menunjukkan cincin polos yang ia kenakan.
Sial!
Jimmy dengan cepat melonggarkan pelukan, melepaskan genggaman tangannya di kedua pergelangan Jenny, kemudian berbalik menuju ke kamar mandi lagi.
BRAKKK...
Ia bahkan membanting pintu kamar mandi dengan keras, hingga membuat Jenny menutup kedua telinganya dengan telapak tangan.
Deg.
Satu perasaan kecewa tiba-tiba saja timbul dari dalam hati si pemilik warung kopi, namun ia tak mau ambil pusing dengan hal tersebut.
"Maafin aku, Bang," hanya tiga kata itu yang terus Jenny lontarkan di sepanjang perjalanan dari keluar pintu sampai ke bawah tangga.
Seolah paham jika ia sudah salah menempatkan diri, dengan memancing syahwat seorang Jimmy Waluyo.
"Kenapa, sih, Jen. Dari tadi kerjaan lo salah aja terus. Udah tau orang beli kopi susu, lo kasih kopi hitam. Untung tinggal di campur sama susu kental manis, udah jadi deh tuh pesanan orang. Terus juga tadi ngasih kembalian duit orang, malah lebih dua belas ribu. Lo bagaimana sih? Ini niat bikin warung buat nyambung hidup, apa mau buat panti sosial?" gerutu Mak Ratna, saat tak ada lagi pelanggan yang duduk di warung kopi milik sang putri.
Sayangnya Jenny hanya diam saja saat wanita yang melahirkannya itu mengomel dari A sampai Z, karena memang fokusnya sedang terbang ke satu objek yang membuat ia susah tidur dari semalam.
"Jen?" panggil Mak Ratna sembari menggoreng sisa kue pisang berbalur dalam wadah kecil.
"Iya, Mak," sahut Jenny pada akhirnya.
"Kenapa sih, Jen? Ada masalah sama si Januar? Apa dia bilang pernikahan kalian bakalan di tunda lagi?" sekali lagi Mak Ratna mengoceh dan Jenny tetap tidak focus dengan kata demi kata yang keluar dari pita suara sang Ibu.
Sampai-sampai Mak Ratna pun semakin kesal dengan tingkah Jenny, dan segera mendaratkan gelas es teh manis ke pipi putrinya.
"Makkk...! Astaga, dinginnn...!"
"Maka itu jangan ngelamun. Ini tuh udah jam dua, Jen. Sebentar lagi sore dan tau kan itu tandanya apaan?"
"Iya, mak. Paham! Bakalan ada yang jajan pisang goreng coklat atau pisang goreng keju buatan emak kayak biasa dulu keliling, kan?"
"Nah, tuh tau. Jadi sekarang lo parutin dah tuh keju. Anak gadis kok kerjaannya ngelamun aja! Belum juga resmi jadi Nyonya Januar Arifin, udah ketakutan aja mikir dia di ambil orang. Istigfar, Jennn... Nyebut biar nggak curigaan terus sama dia yang sibuk nyari duit bakal nikahan kal--"
"Lo bilang kemarin udah nikah! Mana yang bener lo? Di tangga pas nabrak gue bilang belum, tapi kenapa kemarin lo bilang udah nikah pas gue mau nyi-- Hempphhh... Woiii... Hemphhh..." Jimmy tak dapat melanjutkan perkataannya.
"Sialan! Ada Emak gue, Bego!" bisik Jenny sangat takut ketahuan oleh Ibunya.
"Lepasin! Gue mau minta kejelasan, kenapa sampai kemarin lo bilang status lo udah menikah? Padahal tadi Ipah sama Emak gue bilang, lo belum menikah sama sekali!"
Skak mat!
Wajah Jenny merah seperti kepiting rebus kala itu, Jimmy yang berteriak bahkan sudah berhasil membuat Mak Ratna mematikan kompor gas yang ia pakai untuk menggoreng sisa pisang dan menatap bingung ke arah putrinya.
"Iy-ya, emang kenapa kalo gue bilang gitu?! Masalah buat lo?"
Ups... Jenny benar-benar membuang jauh-jauh letupan mercon sunatan yang beberapa detik lalu beraksi dalam hatinya.
"Ka-karena gue... Karena mau lo bayar utang-utang lo ke gue!"
"Hah? Utang?!" itu suara Mak Ratna yang kaget setengah mati, "Emang si Jejen punya utang apa sama kamu, Nak Jimmy?" dan menanyakan hal tersebut secara baik-baik menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar pada Jimmy.
"Ck! Jangan percaya sama beleguk satu ini, Mak. Jejen nggak mungkin punya utang sama siapa pun, apalagi sama dia! Ogah banget! Makan nasi pake garam juga gue jabanin dah dari pada harus melas-melas ke orang model gini. Amit-amit!" cerocos Jenny, menepis cengkeraman tangan Jimmy.
Ia kembali masuk ke dalam warung kopinya dan Jimmy sangat murka dengan jawaban dari gadis yang sejak kemarin sedikit mengelitik hati terdalamnya.
"Egh, Nak Jimmy. Maafin Jejen, ya? Dia biasa aneh gitu. Mari duduk dulu, Nak. Kebetulan Emak lagi goreng pisang tuh. Masih super anget, apalagi kalau makannya sambil ngopi. Jadi tung--"
"Nggak usah, Mak," sanggah Jimmy secepatnya, "Saya ke sini cuma mau pastiin aja soal status Jenny biar dia nggak nipu saya lagi kalau pas utangnya saya tagih," jelas Jimmy, membuat Jenny lekas berbalik dan menatap tajam ke arahnya.
"Iya, nggak apa-apa. Tapi utang apa itu, Nak Jimmy? Apa Jenny pinjam duit sama kamu buat warung--"
"Nggak, Mak! Jejen nggak punya utang apa-apa sama orang gila yang satu ini! Jejen bikin warung ini juga bukan hasil dari keringat siapa pun, termasuk bukan juga dari duit Bang Januar walaupun dia tunangan Jejen!" sanggah Jenny dan tubuh Jimmy melemas seketika.
"Oh, jadi cincin polos di jari manisnya itu cincin tunangan," batin Jimmy terdiam beberapa detik.
"Duh, Nak Jimmy. Ibu makin bingung deh. Ya udah ngopi dulu aja ya? Pas juga Ibu lagi mau ngangkat cucian nih. Mungkin kalian berdua lagi ada masalah kali, ya? Jadi Mak tinggal dulu aja deh," ujar Mak Ratna, membuat Jimmy sadar dari lamunannya.
"Nggak usah, Mak. Di sini aja dulu. Jejen takut sama nih orang. Seremmm..." bisik Jenny menarik tangan Ibunya.
"Gue apa lo yang serem sampai bisa ngegampar gue duluan kemarin pagi di tangga Rusun?" sinis Jimmy dan Mak Ratna terkejut.
"Astaga, Jejennn... Jadi ini masalahnya?! Lo apaan Nak Jimmy, Jen? Dia ini anak baek yang sering bantuin warga sini kalau mau hajatan tapi kurang modal. Ya ampun, Jennn... Tega bener lo ye? Lo kesambet apaan, Jen?!" amuk Mak Ratna dan Jenny berbalik kembali masuk ke dalam warung.
"Jenny nyenggol saya duluan, Mak. Sampai handphone saya lecah layarnya terus sekarang lagi di Service, tapi sama Jenny malah saya di gampar karena di bilang saya yang duluan nabrak," jujur Jimmy.
"Ya salammm... Maafin si Jejen ya, Nak Jimmy? Dia mah suka sensi orangnya. Maklum mau nikah tapi di tunda terus sama cal--"
"Makkk..." teriak Jenny memotong.
"Alah biarin aja. Emang kenyataannya gitu, kan? Laki pilihan lo itu tukang PHP terus, Jen! Kalau pulang dari Malaysia juga mana pernah mau kunjungi Emak. Dari kita masih ngontrak kost petakan sampai udah pindah ke Rusunawa beginian juga dia emang kagak pernah ada sopan-sopannya. Kalau bukan karena lo yang katanya cinta sama tuh laki? Udah aja lo gue carikan jodoh yang lebih dari tuh laki. Nak Jimmy ini kek contohnya. Iya kan, Nak Jimmy?"
"Egh. I-iya, Mak!" dan Jenny langsung berkacak pinggang mendengar ocehan sang Ibu.
"Gue mendingan kagak usah kawin seumur hidup, dari pada nikah sama laki model dia ini mah. Otaknya mesum banget! Bisa makan hati gue tiap hari. Baru kenal sama cewek aja udah langsung main nyium-nyium segala, apalagi kalah kenal sehari dua hari. Bakalan di ajak tidur kali! Iya kalo sehat tuh cewek, kalo ternyata punya pengakit HIV? Ya pasti Jejen juga ikut ketularan dan mati sia-sia kali, Mak. Ogahhh...!" sahut Jenny dan kedua orang itu meradang di buatnya.
"Jen, jaga bicara lo!"
"Nggak apa-apa, Mak. Biarin aja Jenny mau ngomong apaan. Intinya saya mau kasih ini aja, Mak. Tolong di tebus karena saya lagi butuh banget," ujar Jimmy menyodorkan nota palsu yang ia dapatkan dari konter handphone milik temannya.
"Ini, apaan Nak--"
"Sini, Mak. Biar nanti Jenny yang ke sono buat bayaran," Jenny merampas nota itu dari tangan Mak Ratna, "Maaf udah bikin rusak handphone lo. Tapi gue juga bakalan bikin nota kayak gini, karena kemarin lo udah nyium gue tanpa izin!"
"APAAA...?!" teriak Mak Ratna dengan mata hampir terpelocok keluar.