Tarikan napas terakhir mu adalah kehancuran duniaku.
“Turut berduka cita atas wafatnya
Ibu Airin Ayu Lestari Binti
Bapak Setyo Nugroho”
Saat itu juga Ghea langsung lari masuk ke dalam rumah. Dia langsung melihat ruang tamu yang dipenuhi orang-orang tengah mengaji disekitar jenazah yang telah dibungkus kain kafan.
Lututnya melemas melihat pemandangan ini, dia berjalan perlahan mendekati jenazah tersebut, sekuat tenaga melangkahkan kakinya, matanya tak sedikitpun menoleh ke arah lain. Ayah dan keluarga memanggil dirinya, tidak dia gubris. Kini, dia hanya benar-benar fokus pada jenazah itu, dia terus mendekat hingga berlabuh di samping jenazah itu.
Gadis itu berusaha mengangkat tangan untuk membuka kain kafan yang menutupi jenazah di depannya. Tangannya gemetar tak kuasa untuk melakukan hal ini. Air matanya semakin deras ketika tangan dia semakin mendekati kain kafan bagian wajah sang jenazah. Dia memejamkan mata, seperti ada batu yang mengganjal hidung, dia bahkan kesulitan bernapas.
Memberanikan diri menarik kain kafan itu secara perlahan. Setelah merasa wajah jenazah itu mulai terlihat, Ghea membuka mata. Bunda, ternyata memang surganya benar-benar pergi. Nyatanya kehilangan Bunda memang menjadi sebuah garis takdir Tuhan yang harus dia telan meski teramat pahit dan sakit. Seketika itu tangisan dahsyat tumpah dari seorang putri kesayangan keluarga konglomerat.
"Bundaaaa...." teriaknya hingga membuat orang-orang disekitar mencoba menenangkan.
"Bunda… Bangun Bundaaa..."
Ghea terus menggerak-gerakkan sang Bunda, seakan Bundanya itu memang bisa hidup kembali. Meski sudah jelas kain kafan membungkus Bundanya. Gadis itu benar-benar menangis sejadi-jadinya, ini adalah tangisan yang paling bergejolak untuk kali pertamanya.
Ternyata video call yang Ghea lakukan dengan sang Bunda menjadi momen terakhir mereka. Usai sudah episode kehidupan seorang putri dengan Bundanya, semuanya diakhiri dengan perpisahan yang tak terbayangkan sama sekali.
Pikiran Ghea berkecamuk membayangkan telah tiada sosok yang selama ini menjadi penyemangat dirinya. Usapan lembut tangan Bunda, uluran tangan yang siap memberdirikan, semangat yang menyublim langkah, selengkung senyum manis yang meringankan beban rasa, canda dan tawa renyah yang mewarnai hari, juga perhatian dan kasih sayang yang tak terhingga, itu semua telah berakhir dengan datangnya hari ini. Hatinya seperti di dorong dari atas gedung pencakar langit, hancur berkeping-keping.
Tak akan gadis itu dapatkan lagi meski ada sosok yang berusaha menggantikan Bunda. Jatuh dan bangun, kini hal itu harus dilakukan sendiri, back up Bunda hanya tinggal bayang-bayang. Kehilangan, kata ini menjadi sesuatu yang memangkas habis semua kebahagiaan dia bersama sang Bunda.
***
One step closer, pemakaman. Hiruk-pikuk orang-orang memadati pemakaman Bunda Airin, semuanya kembali ke tempat semula. Pada akhirnya mereka yang berbondong-bondong pergi mengantar jenazah pulang juga. Sesayang-sayangnya mereka pada sosok yang ditinggalkan tak akan tinggal menginap di kuburan.
Karena pada hakikatnya semua memang akan kembali pada pangkuan Sang Pencipta, hanya saja ini perihal siapa yang lebih dulu pergi.
"Ghea ayo kita pulang," Willy mencoba membujuk sang putri.
"Duluan aja Yah, aku masih mau di sini sebentar lagi," lirih Ghea.
Memeluk erat batu nisan yang bertuliskan nama Bunda, seakan tak mau kehilangan. Gadis itu masih belum bisa merelakan kepergian Bundanya, dia masih sulit beranjak dari samping makam sang Bunda.
Ayah Ghea tak bisa lama-lama di sini. Dirinya tak dapat terus hanyut dalam lautan kesedihan. Dia harus mampu terlihat kuat meskipun faktanya berat.
Melihat situasi semacam ini, Naya mendekat pada Ayah Ghea dan berbisik.
“Om pulang aja, biar aku yang temenin Ghea,” katanya.
"Baiklah, terima kasih. Titip Ghea ya Nay, kalau ada apa-apa langsung telpon aja."
"Tentu."
Naya tak berkata apapun, dia hanya diam menemani sang sahabat yang sedang larut dalam kesedihan. Setelah setengah jam meratapi kepergian Bunda, Ghea berpamitan pada Bunda.
"Bun aku pamit, aku bakal sering berkunjung untuk menemui Bunda. Semoga tenang ya Bun di alam sana, meski dimensi kita berbeda."
Ghea bangun dari tempatnya dan berbalik badan ke belakang. Ternyata Naya ada di belakangnya selama ini.
"Kamu dari tadi belum pulang Nay?" tanya Ghea, kini air matanya telah surut.
Naya mengangguk.
"Udah siap buat pulang ke rumah?" Naya berjalan maju mendekati Ghea.
"Kamu pasti nunggu lama ya Nay, harusnya kamu pulang aja," Ghea tak menjawab pertanyaan Naya.
"Aku lebih suka seperti ini, menunggu dan menjaga kamu dari belakang. Kalau aku ada di samping kamu tadi, mungkin kita malah berdebat, karena kamu bakal nyuruh aku pulang. Aku enggak mau berdebat di depan makam Bunda."
"Kita pulang yuk Nay."
Naya mengangguk. Dia bahkan berjalan di samping Ghea seraya merangkulnya.
Mereka berjalan keluar dari area pemakaman. Dari kejauhan terlihat lelaki muda memakai pakaian serba hitam layaknya seseorang yang telah pergi dari pemakaman.
Lelaki itu melihat ke arah mereka, lalu berjalan mendekat. Setelah jarak antara mereka dan lelaki itu hanya beberapa langkah, lelaki itu melepaskan kacamata hitam yang sedari tadi menghiasi wajahnya. Dia langsung berdiri tepat di depan dua sohib bak magnet ini.
"Ayo masuk mobil, kita pulang bareng," katanya tiba-tiba.
"Kita mau naik taksi aja!" jawab Ghea.
Tak menghiraukan lelaki itu. Dia langsung berjalan melintasi sosok barusan. Naya tak berbicara apapun, hanya mengikuti sahabatnya. Baru beberapa langkah, lelaki itu mengucapkan kalimat yang membuat langkah Ghea berhenti seketika.
"Apa harus bersikap kayak gini di hari kepergian Bunda?" Lelaki itu berbalik badan menghadap punggung Ghea.
Mendengar ucapan itu, Ghea turut berbalik badan hingga akhirnya mereka saling bertatapan kembali.
"Apa harus kehilangan Bunda dulu baru lo peduli?" tegas Ghea.
Lelaki itu diam sejenak, mungkin sedang menyusun kalimat yang layak untuk bisa sepadan dengan perkataan gadis itu.
"Sesusah itu buat percaya sama ketulusan gue?"
Ghea menyunggingkan bibirnya sebelah lalu mendekat, membuat langkah antara dirinya dengan lelaki itu semakin tipis. Raut wajah yang terlihat sedih tadi, dia musnahkan terlebih dahulu lalu berbisik pada telinga kanan lelaki tersebut.
"Gimana gue bisa percaya, ketika hal yang paling enggak gue percaya di dunia ini adalah lo," lalu Ghea akhiri dengan tatapan tajam yang menusuk relung hati.
Setelah mengutarakan kalimat negatif itu, Ghea sontak pergi menarik tangan Naya meninggalkan lelaki itu sendirian. Lelaki itu hanya mematung tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya membalas ucapan pahit tersebut.
Menyaksikan punggung Ghea yang berjalan semakin jauh. Sekeras itu hatinya, hingga begitu tak mempercayai dirinya dikala suasana yang terus berderai air mata.
Galang Pratama Anandyto, itulah kakak lelaki Ghea. Mereka adalah kakak beradik dengan selisih usia enam tahun. Keduanya tak memiliki hubungan harmonis layaknya adik kakak pada umumnya. Bagai musuh, itu mungkin kata yang lebih tepat menggambarkan mereka berdua.
"Tuan ini jadwal yang Tuan minta," sekretaris Chandra menyodorkan iPad berwarna hitam pada Ayah Ghea, Willy Bagaskara.
"Jadi besok ada rapat dan kunjungan juga ke panti asuhan Arunika?" Willy menscroll shcedule yang telah tersusun rapi dalam iPad.
"Iya Tuan," ujar sekretaris Chandra.
Shcedule padat bagi seorang pengusaha adalah hal yang wajar. Kehidupan mereka tergantung kerja keras yang dilakukan. Meski separuh jiwa hilang pergi untuk selamanya. Tetap, pertahanan mengenai perusahaan tidak boleh kendor. Karena banyak nasib yang bergantung di sana.
Tok tok tok
Segenggam tangan mengetuk pintu.
"Siapa?"
"Bibi Yu Tuan " sahut Bibi Yunita dari luar ruangan kerja Willy.
"Masuk," titahnya.
Bibi Yunita masuk ke ruangan kerja Ayah Ghea setelah diperkenankan, dia melangkah maju ke depan menghampiri majikannya yang sedang berada di meja kerja.
"Ada apa?"
"Semuanya sudah siap, pengajian sebentar lagi tinggal dimulai."
"Baiklah saya akan ke sana."
"Kalau begitu saya permisi Tuan," bibi Yunita hendak berbalik badan dan kembali ke ruang tamu untuk persiapan pengajian.
"Sebentar Bi," Ayah Ghea spontan berdiri dari kursinya.
"Iya ada apa Tuan?"
"Ghea di mana?"
"Nona masih di kamarnya, dia tidak ingin diganggu dan melarang siapapun masuk."
"Ghea perlu waktu untuk semua ini," gumam Willy, raut wajah sedih terlihat jelas diwajahnya.
"Ya sudah silakan keluar," responnya lain.
"Baik Tuan."
Pemilik BK Holdings itu berniat turun ke lantai bawah untuk menggelar pengajian dan doa bersama untuk mendiang almarhumah istrinya, Airin. Dia telah mengenakan busana muslim terbaik berwarna putih dengan sedikit corak abu-abu di bagian atas baju.
Doa. Hanya itu yang kini dibutuhkan untuk Bunda Airin. Harta melimpah ruah, kedudukan yang tinggi, keluarga bahagia, kini itu semua tak dibutuhkan lagi. Hanya panjatan doa yang meminta ampun untuk keselamatan dirinya, itulah yang menjadi prioritas utama Bunda Airin.
"Rubahlah jadwal saya sesuai yang tadi di instruksikan sesegera mungkin," Willy tampak menyisir rambutnya sambil berkaca dicermin besar di ruangan itu.
"Baik Tuan," sahut Sekretaris Chandra yang berdiri di belakangnya.
"Turun lebih dahulu ke bawah, saya akan menyusul nanti."
"Siap Tuan."
***
Tok tok tok
Segenggam tangan mengetuk pintu kamar Ghea.
"Aku bilang jangan menggangguku, enyahlah!" teriak Ghea dari dalam kamar.
Mendengar itu Willy langsung membuka pintu kamar lalu masuk, bukannya malah pergi.
"Ayah harap Ayah adalah pengecualian dari mereka yang dilarang masuk."
Ghea hanya diam tak merespon perkataan Ayahnya. Sekujur tubuh gadis itu ditutupi dengan selimut, hingga tak nampak secercah bagian pun yang terlihat. Melihat anaknya yang bersikap demikian, Willy menghampiri. Pria paruh baya itu langsung duduk di kasur tepat di samping si bungsu.
"Ini bukannya jepit rambut yang dibelikan Bunda dari Singapura?" Willy mengambil sebuah jepit rambut panjang dari meja kecil samping kasur. Jepit rambut itu tampak indah dengan hiasan permata di dalamnya.
Ghea masih saja diam tak berbicara. Meski sang Ayah sudah tepat berada di sampingnya, dia tak bereaksi.
"Baik Bunda maupun Ayah tak menyukai sikap anak yang sengaja mengabaikan orang tuanya."
Pertahanannya masih kokoh, tetap tak bereaksi. Tubuh gadis itu masih ditutupi selimut tebal berwarna ungu muda, warna favoritnya. Dia hanya membuka bagian atas selimutnya sedikit sehingga oksigen bisa tetap masuk. Bagaimanapun Ghea masih ingin hidup.
"Kalau Ayah ikut Bunda kira-kira Ghea Alexandra Anandyta bakal gini terus enggak yah?" katanya lain lagi.
"Ayaaahhhhh…" Ghea spontan bangun membuka selimut kemudian duduk. Suaranya tampak kesal setelah mendengar ucapan sadis terlontar dari mulut Ayahnya.
"Apa Ayah ingin membunuhku tanpa menyentuh? Kenapa semuanya terlihat begitu kejam kepadaku?"
"Aish apa yang kamu bicarakan begitu mengerikan sayang. Maksudnya apa membunuh tanpa menyentuh?"
"Aku akan begitu tersiksa di dunia ini. Menghabiskan sisa hidupku dengan air mata dan rasa sakit."
"Sudah, jangan berbicara aneh-aneh lagi, kita turun ke bawah untuk mendoakan Bunda."
"Aku akan tetap di sini," katanya pelan.
Ghea sedikit tertunduk, dia kembali lagi dalam balutan kesedihan. Meski rasa sakit yang begitu ia derita belum usai, bukan berarti dia menghindar dengan tak ikut hadir mendoakan Bunda bersama yang lain. Ini bukan hanya perihal doa, tapi bagaimana cara dia menghormati orang lain yang sengaja datang untuk menguatkan dan menghiburnya.
"Ayah akan menunggu di bawah, datanglah dengan pakaian yang pantas untuk mendoakan Bunda," Willy berdiri, dia hendak pergi dan turun ke bawah.
"Aku enggak bisa Yah, aku masih enggak rela," tutur gadis itu, dia bahkan mengeluarkan buliran bening tanpa dipinta.
Langkah Willy akhirnya terhenti. Dia sepertinya mencoba mencerna suasana.
"Lantas dengan bersikap seperti ini Bunda akan kembali? Jika tidak mau melakukannya karena Bunda, lakukan dengan rasa bersalah karena tak bisa menjadi anak berbakti," Ayahnya kemudian melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti sesaat.
Ghea hanya membisu mendengar kalimat yang diucapkan Ayahnya, dia seketika teringat menangis pilu di hadapan makam sang Bunda meminta maaf karena semasa hidup Bunda belum bisa dikatakan sebagai anak yang berbakti. Terkikis, perasaan dia langsung dilumuri rasa bersalah yang menjalar dalam tubuhnya.
***
"Apa Ghea tidak mau turun Yah?" Galang menyelinap berbisik ke telinga Ayahnya yang tengah duduk di atas permadani bersiap untuk ikut pengajian.
"Dia akan turun, tunggu saja," pungkas Willy.
Benar, ternyata si bungsu hadir. Semua mata tertuju padanya ketika gadis itu melangkah menuruni anak tangga rumahnya. Dengan memakai dress berwarna hitam dia tampak lebih tenang daripada sebelumnya.
Ghea berusaha membuat selengkung senyum, meski senyumannya menyembunyikan serpihan hatinya yang tercecer akibat kepergian sang Bunda. Berjalan perlahan dengan sedikit menunduk kemudian didatangi para kerabatnya yang berniat menyapa serta menguatkannya. Mereka bak kerumunan lebah yang menyerbu sari bunga segar.
"Ghea sayang yang kuat ya," peluk erat Tante Melly.
"Kamu kalau ada apa-apa ke Bude aja ya cantik," sahut yang lain.
"Bunda pasti tenang di alam sana."
Berbagai kalimat penenang gadis itu dengar, dia hanya membalasnya dengan segurat senyuman. Bukan hanya karena dia risih dengan yang lain hingga tak menanggapi lebih, tapi mereka juga pasti paham bagaimana begitu rapuhnya Ghea saat ini.
"Ghea ke sini sayang," panggil Ayahnya dari seberang tempat dirinya berdiri saat ini.
"Aku permisi dulu ya Tante, Bude, juga semuanya," ucap gadis itu meninggalkan karib kerabatnya lalu pergi menuju panggilan Ayahnya.
"Duduklah, jangan bertengkar dulu untuk saat ini."
Ghea dan Galang dipasangkan duduk bersebelahan oleh sang Ayah. Ingin rasanya Ghea menolak, tapi suasana memaksa dia mau tak mau harus menerimanya.
Galang melirik ke arah sang adik, tangan Galang sebenarnya ingin berlabuh dipundak adiknya sekali saja untuk menguatkan seperti yang lain. Atau setidaknya berkata sepatah kata untuk memberikan semangat.
Tapi reaksi yang Galang dapat takut membuat suasana hati Ghea meradang. Hingga akhirnya hanya memilih menatap nanar wajah adiknya dari samping.
***
"Makan dulu lah sebelum pulang, ayo!" Willy sibuk dengan para tamu untuk mempersilakan mereka menyantap makanan yang telah dihidangkan.
Semua orang di rumah mewah itu sibuk dengan dirinya masing-masing usai pengajian. Mereka berjejer di depan meja panjang untuk mengantri parasmanan. Ghea merasa enggan berbaur dengan situasi semacam ini dan memilih untuk kembali ke kamar.
"Ghea makan dulu sayang, mau kemana?" Bude Ajeng menahan tangan Ghea yang berupaya meninggalkan ruang tamu.
"Euuu i-ni Bude, aku kebelet banget," dengan sedikit gelagap gadis itu memilih berbohong.
"Ya sudah cepat, nanti ke sini lagi ya," tangan Bude menjurung keponakannya untuk bersegera pergi.
Ghea kemudian melangkah pergi, membelah kerumunan orang-orang yang memadati rumahnya. Melangkahkan kaki menuju kamarnya di lantai dua.
Tring...
Suara pesan masuk.
Handphone yang dari tadi Ghea genggam tak berbunyi apapun, sekarang tiba-tiba muncul notifikasi pesan masuk. Kakinya yang baru menginjak lima anak tangga untuk menuju ke kamar berhenti sejenak. Dia sontak memeriksa benda pipih tersebut, ternyata ada pesan masuk dari nomor yang tak dia kenali. Gadis itu langsung membuka pesan tersebut..
"Jangan percaya siapapun, ibumu tidak meninggal begitu saja."
Tercengang. Ghea seketika mematung setelah membaca pesan anonim itu. Segudang pertanyaan bermunculan dipikirannya.
"Apa maksudnya ini?" Ghea tergesa-gesa menelpon pemilik nomor.
"Maaf nomor yang anda tuju sedang tidak aktif coba..." Dia matikan panggilan itu.
"Maaf nomor yang anda tuju sed..." Dia panggil lagi, tapi nomor itu tetap tidak aktif.
Ghea mengusap gusar wajahnya, berbalik badan ke arah kerumunan orang-orang yang memadati rumah. Dari atas tangga, matanya berotasi ke kanan dan ke kiri seolah-olah mencari seseorang. Tubuhnya gemetar, mengingat Bunda tidak memiliki riwayat penyakit apapun, apa itu berarti maksud dari pesan yang beberapa menit lalu dia terima, Bunda meninggal karena di bunuh? Spekulasi mengerikan tak berdasar yang diluar terkaan itu bahkan membuat Ghea hampir terjatuh dari tangga.
"Gheaaa kamu kenapa?" Galang berhasil menopang adiknya sebelum terjatuh. Melihat wajah sang adik yang begitu pucat spontan sebagai kakak khawatir.
"Kamu sakit Ghe?"
Sorot mata Ghea yang tadi sayu setengah pingsan, tiba-tiba berubah menatap Galang dengan intens, dia seperti mencari kebenaran dari mata indah itu.
“Orang yang paling tak bisa ku percaya di dunia ini adalah kamu, kak. Apa mungkin kamu yang melakukan perbuatan keji pada Bunda?”
"Kau yang melakukannya bukan?" lirih Ghea. Dirinya bahkan masih dalam topangan tangan Galang. Dan ketika menyadari hal itu, Ghea segera melepaskan tangan sang kakak dari tubuhnya, dia tak sudi disentuh sang kakak walaupun faktanya hal itu membantu dirinya agar tak terjatuh.
"Melakukan apa?" Galang bingung, apa sebenarnya tafsir kalimat itu? Dia tak memahaminya sama sekali.
“Lihatlah kamu berlagak bodoh,” gadis itu mendengus dingin setelah menatap malas pada kakaknya.
"Menyingkirlah, gue enggak butuh bantuan lo,” Ghea melepas kasar tangan kakaknya yang beberapa saat lalu mencengkeram lagi lengannya.
Galang tak heran dengan perlakuan kasar barusan, dia malah terpaku dengan pertanyaan adiknya.
Apa yang sebenarnya Ghea maksud? Dirinya melakukan apa? Lagi-lagi Galang menyaksikan punggung si bungsu berjalan menjauh. Pria itu ingin mengejar, apa yang sebenarnya membuat sang adik menatap dirinya dengan tajam. Tatapan itu membekas dalam hatinya. Dia merasa jika tatapan itu adalah tatapan paling mengerikan dari seorang Ghea untuknya.
"Apa kamu suka membuat orang kebingungan?" Tanya Galang.
Langkah gadis itu terhenti seketika.
"Kamu sadar nggak perkataan itu menggangguku?"
"Sampai kapan kamu akan bersikap seperti anak kecil?"
Mendengar kalimat itu, tubuh Ghea berbalik badan pada sumber suara. "Jika tidak menyukaiku pergilah dari rumah ini, mengapa harus bersusah payah?"
"Kamu selalu punya cara membuatku marah, Ghe!"
"Katakan saja lo ngebenci gue!"
"Apa yang sebenarnya kamu maksud?"
Gadis itu membuat jarak diantara mereka kian menipis. "Dengarkan baik-baik, gue nggak akan ulangi!"
"Tidak perlu memakai topeng agar terlihat baik. Itu menjijikan!"
Deg. Galang geram mendengar penuturan tersebut. Rasanya tangan kekar itu melayang jika bukan adiknya yang mengatakan. Entah setan mana lagi yang merasuki adiknya, sungguh tak ada belas kasihan rasanya. Betapa untaian kata itu bak duri yang sukses menusuk tanpa henti. Menyakitkan.