Bab 2

002 Tempat Asing

Di dunia yang lain, di suatu bagian alam semesta. Anindira berdiri dalam keadaan terperangah, dia melihat sekeliling dengan takjub.

''Wahhh... Hebat...''

Anindira yang beberapa saat lalu sempat merasakan kengerian. Mendadak menghilang terlupakan dengan pemandangan alam sekitar yang mulai di resapi dalam keadaan tenang olehnya.

*****

DEG!!!

Tiba-tiba saja kaki Anindira berhenti melangkah.

''Apa yang harus aku lakukan sekarang?!'' tanya Anindira di dalam hatinya.

Kakinya yang sejak tadi melangkah dengan stabil tiba-tiba melambat, bergerak dengan keraguan. Bulu-bulu halus di tubuhnya berdiri. Hatinya mulai merasakan kengerian yang dia tidak tahu apa itu? Kakinya terasa semakin berat untuk bisa terus melangkah maju.

Anindira tidak tahu kenapa tubuhnya bergerak sebelum otaknya memproses sebuah peringatan dalam alam bawah sadarnya bahwa ada sesuatu yang buruk di hadapannya.

Tubuh Anindira bergetar dengan bola mata yang terus mengawasi keadaan di sekitarnya. Rahangnya mengeras, ada perdebatan antara naluri dan logika yang sedang di proses oleh sel-sel otaknya.

''Aku tidak tahu ada apa di depan sana. Tapi, aku juga tidak tahu bagaimana nasibku jika aku berbalik...'' Anindira bergumam sambil berjalan mondar-mandir. Otaknya sibuk berdebat antara perasaan takut di hatinya dan fakta bahwa ada air di depan sana, ''Kalau benar di sana ada sungai maka kemungkinan besar ada pemukiman penduduk. Atau, kalaupun tidak ada, setidaknya aku bisa mengamankan persediaan air sambil terus menyusurinya mencari jalan lain... mereka (keluarga Anindira) pasti sedang mencariku sekarang. Setidaknya sampai bantuan datang, aku harus bisa bertahan!''

Logika dan insting sedang berperang di dalam otak kecilnya, menguji kemampuannya untuk bertahan hidup sekarang.

''Ini sih, keren...''

Mata Anindira terbelalak, dia mulai terpesona dengan tampilan-tampilan megah dari jajaran pepohonan besar yang tinggi menjulang hingga tak terlihat ujungnya.

''Mantap...'' sekali lagi pujian terlontar dari mulutnya.

Kepala Anindira menengadah penasaran dengan seperti apa tampilan langit luas di atas kepalanya jika tidak tertutupi oleh payung alami dari rimbunan pepohonan yang gagah berdiri.

Sinar matahari masuk menyelusup di antara rimbunan dedaunan yang teduh memayungi luasnya hutan yang sunyi. Pepohonan rindang tidak menghalangi sinar matahari terang menyilaukan menerangi hutan dan panas menyengat. Tapi, hawanya terasa sejuk dan bersih. Hutan lestari dengan aroma khas belantara. Bau dedaunan, bau tanah, terasa sangat nyaman dan menyegarkan tanpa tercium bau aneh yang menjijikkan.

Mata Anindira berbinar, mulutnya menganga sulit untuk mengatupkannya kembali. Dia, takjub dengan pemandangan di sekitarnya.

''Hah, apa itu?!''

Sesekali Anindira terpekik karena terkejut oleh suara-suara yang membuatnya waspada. Tapi segera setelah dia mengetahui kemungkinan pemilik suara tersebut dia kembali tenang.

Telinganya sangat nyaman mendengar suara berbagai macam serangga musim panas yang saling bersahut-sahutan.

Gemeresik bunyi tanaman yang daun-daunnya saling bergesek, dan juga kicau berbagai macam spesies unggas, riuh ramai terdengar.

Pemandangan indah sekaligus suram dari hutan belantara lebat yang menghampar luas tak bertepi. Tampak menakjubkan dengan wibawanya, pepohonan yang menjulang tinggi mengiringi dengan gagahnya menantang siapapun yang menatap.

Pepohonan raksasa tegap berdiri, tinggi menjulang meninggalkan kesan gagah perkasa.

Semak rerumputan yang ada di sekitarnya pun sangat rimbun dan tinggi-tinggi. Seolah jika ada sapi yang bersembunyi bisa saja tidak terlihat.

Di tengah kesendiriannya, berbagai pemandangan menakjubkan sesekali membawa pikiran Anindira menerawang.

Ada apa di balik rumput yang nyaman bergoyang mengikuti angin?

''Keluar dan masuk hutan bukan kali pertama untukku... tapi hutan yang seperti ini, tentu saja adalah yang pertama. Hutan di wilayah mana yang aku masuki?'' Anindira bergumam dengan beberapa pertanyaan dalam kesendiriannya, ''Masalahnya, tadi juga aku sedang ada di hutan... di sungai... lah, kok bisa sampai ke sini tuh bagaimana caranya?!''

''Kakek-kakekku pasti lompat-lompat kegirangan kalau tahu ada hutan yang seperti ini. Tapi, gimana cara tahu lokasinya kalau smartphone aja enggak bawa... bodoh, memang. Kenapa juga tadi enggak di kantongin tuh Hp...'' keluh Anindira merasa kesal karena tidak bisa mengabadikan pemandangan di hadapannya sekarang.

Anindira lahir dan tumbuh di kota besar. Tapi, hutan, kebun, dan sawah bukan hal baru baginya.

Hiking dan camping, adalah hal yang disukai Anindira dan keluarganya yang berasal dari kampung. Kegiatan itu menjadi hal yang biasa dilakukan keluarganya saat beristirahat sejenak dari sibuknya suasana perkotaan.

Terbiasa dengan kehidupan kampung tempat kakek dan nenek Anindira tinggal tentu saja hal-hal yang di anggap menjijikkan untuk sebagian besar wanita yang tinggal di perkotaan tidak pernah mengganggu Anindira. Bertani di sawah, berburu di hutan, berkebun di halaman rumah adalah hal yang biasa di lakukan jika Anindira dan keluarganya pulang kampung. Kegiatan yang justru di nanti untuk sejedar berganti suasana dari sibuknya hiruk pikuk kehidupan perkotaan.

''Dira, udah cukup melankolisnya!'' seru Anindira mengingatkan dirinya sendiri, ''Aku sendirian sekarang... beneran, aku bener-bener sendirian!''

Anindira kembali pada kenyataan yang harus di hadapinya. Setelah beberapa kali terpuruk lalu kembali tenang. Kali ini, dia betul-betul menyadari kalau dia tidak sedang bermimipi.

''Bangun Anindira!'' pekik Anindira kembali, ''Kamu harus segera memantau situasi. Ini baru pohon-pohonnya doang... bisa jadi masalah besar kalau yang muncul predatornya.''

Segera Anindira melangkahkan kakinya secepat-cepatnya. Terlihat jelas Anindira yang panik dan cemas, tapi, dia juga berusaha untuk tetap tenang. Dia berusaha mencari jalan keluar. Saat ini, dia tidak bisa berpikir yang lain. Hanya ada pikiran bahwa dia harus keluar dari tempat itu secepatnya dan mencari bantuan.

''Apa aku tidak salah?!'' tanya seorang pria di dalam hatinya, ''Dia, wanita?! Sedang apa dia di sini?!''

Tanpa disadari Anindira, sejak tadi ada sepasang mata biru safir yang selalu menatapnya dari kejauhan. Sepasang bola mata Safir itu terus memperhatikan setiap gerakan yang dibuat Anindira.

''Bagaimana ini?!'' pekik Anindira dengan nada bingung, ''Tidak ada apa pun... rasanya aku sudah berjalan cukup jauh tapi aku belum menemukan apa pun...''

Anindira terus saja melangkah, tidak ada jalan setapak, juga tidak ada bekas goresan di pohon yang biasa ditinggalkan oleh para pendaki, pemburu, atau pun orang-orang desa yang biasa keluar masuk hutan.

''Masa' sih, aku memasuki hutan yang belum pernah di masuki?!''

Benak Anindira mulai menyebar teror di hatinya.

''Enggak ah, enggak mungkin!'' lagi-lagi Anindira memekik bingung, meski sebisa mungkin dia berusaha menepis pikiran negatif.

''Bagaimana ini?!'' kembali lagi dia memekik dengan nada panik, ''Beneran enggak ada... enggak ada tanda-tanda keberadaan manusia di hutan ini.''

Anindira berusaha menenangkan logika di kepalanya, yang terus saja memikirkan hal negatif, karena dia berada di hutan yang sangat tidak biasa. Dia terus berusaha mensugesti dirinya sendiri agar tenang dan tidak akan ada hal buruk yang terjadi padanya kalau dia bisa tetap tenang.

''Tenang... tenang Dira... berusahalah, ayo kita telusuri saja jalan landai. Bagaimana pun harus bisa dapat air dulu...''

Cukup lama dia berjalan, berusaha meraba-raba jejak atau petunjuk. Setidaknya itu adalah, apa yang telah dipelajarinya selama ini.

Waktu terus berjalan, tidak terasa dia ternyata malah semakin jauh dan malah semakin masuk menuju perbatasan *Hutan Larangan. Wilayah bagian hutan terdalam yang sangat berbahaya.

{tempat Anindira tiba tadi berada tidak jauh dari perbatasan Hutan dan Hutan Larangan, yang biasanya hanya mereka yang dari peringkat *Emerald paling rendah yang berani memasukinya}

Bab 3

003 Pertemuan pertama

''Apa hanya perasaanku?'' gumam Anindira bertanya-tanya ketika sedang memikirkan akan terus maju atau berbalik, ''Kenapa rasa-rasanya semakin sunyi?!''

Antara sadar dan tidak, Anindira merasakan keanehan suasana di sekitarnya saat ini. Meski berjalan perlahan karena masih merasa ragu tapi perlahan-lahan Anindira tetap maju melangkahkan kakinya.

''Haruskah aku berbalik... aku merasakan sesuatu yang aneh di depan sana...'' keluh Anindira yang merasakan kengerian di dalam dirinya terasa semakin pekat.

Anindira terdiam sejenak mengumpulkan keberaniannya. Menghirup nafas dalam-dalam sebelum akhirnya mantap dengan keputusannya.

''Masa bodoh! Aku sudah tidak tahu lagi... apa pun yang aku lakukan sekarang sama sekali tidak terlihat secercah petunjuk akan seperti apa konsekuensinya. Melangkah maju atau pun berbalik. Tidak jelas... saat ini hanya ada pikiran positif kalau ada harapan akan adanya sungai di depan sana. Itu lebih baik dari pada tidak ada harapan sama sekali... diam saja di sini sama saja dengan terjebak. Kalau pun terjadi sesuatu, setidaknya aku sudah berusaha.''

Pada akhirnya, Anindira melawan rasa takutnya. Meski hanya sedikit keberanian yang dimiliki Anindira. Tapi hal itu cukup untuk membuat kakinya kembali mendapatkan pijakan.

Musim panas yang terik tidak menghalangi suhu dingin yang terbawa angin berhembus menghampiri Anindira. Tubuh Anindira gemetaran merasakan angin yang terus berhembus melewati pakaian tipis Anindira.

''Uwah!'' pekik Anindira sambil menggosok-gosok tangannya karena merasa kedinginan, ''Makin terasa suram di depan sana. Aku jadi semakin ragu dengan keputusanku untuk terus maju...''

''Ayolah, jangan terus menerus terganggu oleh hal yang tidak jelas. Aku hanya akan terus menakuti diriku sendiri jika terus seperti ini...''

Anindira terus bergumam pen uh harap tapi juga sekaligus terus berkutat dengan kecemasan di dalam hatinya.

''Aku benar-benar ingin menangis sekarang, tapi aku bahkan terlalu takut untuk mengeluarkan air mata. Apa boleh buat, aku tersesat sendirian di hutan antah berantah. Saat ini aku benar-benar merindukan Gavin. Ayah, Mom, apa aku bisa bertemu kalian lagi?''

Perasaan horor yang membuat bulu kuduknya berdiri, terus menyelimuti pikiran Anindira. Saat ini di dalam otaknya tengah terjadi perdebatan seru, saraf takutnya dengan tegas mengatakan ...

''Jangan pergi ke sana!''

''Itu menakutkan...''

''Itu suram dan gelap kau tidak tahu apa yang sedang menantimu di sana?!''

Tapi, salah satu sifat petualangnya menentang keras hal itu.

Anindira bingung memikirkan antara naluri di hatinya dan logika di otaknya. Keduanya beradu argumen di dalam kepalanya, tapi jiwa petualangnya akhirnya memenangkan perdebatan keras di dalam pikirannya.

''Tahu apa, kalau bahkan tidak dicoba?!'' Anindira memekik pada dirinya sendiri di dalam hati, ''Jangan jadi penakut, pengalaman adalah guru terbaik untuk mengajarimu!''

Anindira masih berusaha menyemangati hatinya agar tidak putus harapan.

''Sudah berapa lama waktu berlalu?'' tanya Anindira, ''Sepertinya, hari sudah semakin gelap. Dengan kesunyian hutan akan semakin mencekam ketika malam tiba. Kegelapan akan menjadikanku target mudah untuk pemangsa nokturnal. Aku harus segera menemukan tempat untuk bermalam!''

Beberapa waktu kemudian akhirnya terjawab salah satu pertanyaan Anindira.

Sayup-sayup suara aliran air yang mengalir deras mulai terdengar oleh Anindira.

''Air!'' pekik Anindira yang hampir melompat kegirangan, ''Tidak salah lagi, itu suara aliran air...'' tambah Anindira sambil mempercepat langkah kakinya.

Kabut tebal membuat Anindira tidak bisa melihat dengan jelas kalau deru aliran air yang di dengar oleh Anindira berasal dari sungai yang sangat besar. Hal baiknya adalah, mata Anindira tidak bisa menjangkau hal yang mengerikan dan berbahaya mengintai di seberang sungai.

''Ya ampun, dingin sekali...'' keluh Anindira saat dia menyadari kalau ternyata suhu di tempat itu luar biasa dingin. Berbeda dengan tempat sebelumnya, suhu dingin di sini terasa sangat menyakitkan seolah menusuk hingga ke tulang sum-sum. Gigi Anindira bergemeretak menunjukkan kalau dia menggigil kedinginan.

''Huft... hufth... hufth...'' Anindira mulai kesulitan bernafas,tangannya nmenggosok dadanya yang terasa sesak karena ternyata tubuhnya kesulitan beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang baru saja di masukinya, ''Apa ini, dadaku sesak... apa mungkin ini dataran tinggi?! Apakah oksigen di sini terlalu tipis... kalau seperti ini tidak mungkin bagiku untuk terus maju...''

"BERHENTI!''

Suara berat seorang pria mengejutkan Anindira. Suaranya terdengar datar, tapi terasa seperti memekik dengan tajam kepada Anindira.

"Kau bisa mati jika terus maju,'' ujar pria itu menambahkan peringatannya, ''Sebaiknya kau kembali ke tempat dari mana kau datang sebelumnya!"

''Suara orang!'' pekik Anindira yang terkejut sekaligus gembira ketika mendengar dengan lebih jelas kalau itu memang ada seseorang yang sedang berbicara dengannya, ''Aku tidak sedang berhalusinasi karena kekurangan oksigen bukan?!''

''Hei, kau dengar aku?!'' tanya pria itu lagi karena Anindira tidak segera meresponnya dan malah bergumam aneh menurutnya.

''Itu benar-benar suara orang!'' seru Anindira memekik di dalam hati sambil menengok ke belakang, bersiap lari hendak menghampirinya, "Tuan, tolong aku...'' panggil Anindira pada sosok pria di belakangnya, tapi tiba-tiba dia malah terperagah, ''AH! HAH?!?!"

Kaki yang sudah siap berlari kapan terpaku seketika itu juga seolah membeku oleh dinginnya suhu. Mulut Anindira menganga dengan mata yang terbelalak. Tubuh Anindira yang pendek membuat matanya hanya sedikit lebih tinggi di atas perut pria dengan tampilan sangar dari tubuhnya yang besar.

''Tidak terlihat!'' pekik Anindira di dalam hati setelah menengadahkan kepalanya untuk melihat wajah pria di hadapannya, ''Hanya siluet dagunya saja. Aku tidak bisa melihat wajahnya...''

Pemuda gagah dengan tinggi hampir dua meter berdiri tegap di hadapan Anindira. Rambut hitamnya yang panjang membuat tampilannya semakin samar dengan kabut tebal yang menghalangi pandangan. Tapi, auranya tetap terasa pekat dan berat membuat Anindira terintimidasi.

''Apa-apaan ini... dia akan jadi penolongku atau malah sebaliknya?!'' pekik Anindira di dalam hatinya, ''Lihat saja, hawa dingin sampai seperti ini, tapi dia bahkan tidak pakai baju! Dia hanya memakai bawahan berupa... kain atau kulit binatang?! Sepertinya tidak di jahit?! Hanya dililit, diikat... ini pakaian atau apa? Apa dia suku pribumi? Aksesoris yang di pakai jelas menunjukkan itu bahan-bahan alami...''

''Kau hanya akan berdiri diam di situ?!'' tanya pemuda di hadapan Anindira.

Lagi-lagi Anindira merasa terkejut, dia bingung dengan apa yang di dengarnya barusan.

''Aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan tapi sebaiknya kita segera pergi dari sini atau kau akan mati kedinginan sebelum mereka yang di hadapanmu mendapatkanmu...''

Anindira masih kebingungan sama seperti sebelumnya. Dia tidak tahu harus bagaimana merespon pemuda di hadapannya.

''Huft,'' dengus pemuda itu menghela nafas melihat betapa takut Anindira padanya, ''Aku tahu kalau aku cukup menakutkan tapi setidaknya aku tidak akan mencelakaimu,'' tambah pemuda itu sambil mengulurkan tangannya untuk menuntun Anindira, ''Aku ingin menolongmu, mengeluarkanmu dari sini.''

Anindira masih diam terpaku dengan wajah bingung penuh tanya menatap pemuda yang dia tidak bisa melihat wajahnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED