(Musik by, Ru Frequence - Eutanasia)
Nala berteriak marah, ia membenci semua. Ia memeluk tubuhnya sendiri.
"Maafkan aku ... Mas Dharma, maafkan aku." Nala menangis kencang sambil berteriak.
Nala merasakan sakit pada tubuhnya, ia kenakan terusannya kembali dan berjalan dengan kesakitan sambil menangis lirih nan perih.
"Bapak ... Ibu ... maafkan Nala," lirihnya sambil berjalan kesakitan.
Berjalan seperti tidak tahu arah tujuan hidupnya lagi, ia tidak bergairah dan hatinya terenggut begitu sakit sekali. Ia mengenakan kembali salendangnya untuk menutupi kepalanya dan berjalan menuju rumah.
Mimpi apa dia, merasakan hal tragis seperti ini?
"Allah, aku sudah kotor. Aku sudah ternodai ya Allah," lirih Nala terisak.
Berjalan seperti orang linglung dan ia berhasil memasuki rumahnya tanpa dilihat oleh siapa pun. Bapak dan ibunya entah ke mana. Masih sambil menahan kesakitan, Nala menyiapkan air di baskom dan ia membawa ke dalam kamarnya. Ia membersihkan tubuhnya hanya dengan usapan-usapan kain.
Hingga akhirnya, Nala ketiduran dari tangisan menyesakkannya.
***
Kini, ia berusaha membuka matanya kembali dan tubuhnya serasa di timpuk orang sekampung. Sakit dan merasa tubuhnya sulit bergerak dengan bebas. Nala berusaha bangun, menatap kamarnya dengan tatapan sedih.
Ini memang kenyataan, Nala kembali meremat rambutnya dan mengusap dadanya yang sakit. Air mata kembali menetes, Nala menangis tanpa mengeluarkan suara yang terpekik sakit.
Hingga ke relung hati.
Riuhan bunyi jangkrik yang masih terdengar nyaring di pagi hari menghenyakkan Nala, ia melangkah dengan tubuh yang masih sakit. Keluar dari kamar, menatap sekitar rumah yang sunyi. Mereka semua sedang terpulas tidur dan Nala seorang diri merasakan dunianya hancur. Berjalan sambil terhuyung, menatap bungkusan yang sedikit menunjukkan kebaya-nya yang telah selesai dijahit.
Nala memeluk tubuhnya sendiri, ia sentuh bungkusan itu dan mengeluarkan isinya. Betapa, ingin berteriaknya ia marah pada keadaan yang membuatnya tidak bisa memilih.
Ia harus mengatakan pada Dharma, tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Padahal, besok adalah harusnya hari kebahagiaan mereka. Ia tidak ingin membuat Dharma kecewa setelah menikah. Ia menegarkan hatinya dan berusaha untuk tetap kokoh dalam keadaan rapuh.
Ia memasukkan kembali kebaya pengantin tersebut, pagi sekali ia sudah beranjak keluar rumah dan nekat menemui Dharma. Embusan napas yang masih mengeluarkan kepulan bak asap karena embun pagi dengan suasana dingin.
Udara pagi yang sejuk, tidak membuatnya merasa nyaman menghadapi perjalanan ini.
"Neng?" Dharma kaget, baru saja ia keluar dari rumah.
Keadaan sekitar rumah masih sepi.
Dharma memang akan selalu bangun pagi, sudah menjadi jadwalnya ke perkebunan miliknya untuk melihat perkembangan beberapa tanaman yang ia tanam.
"Mas, mau ke perkebunan?"
"Iya, Neng. Tumben? Kan lagi di pingit? Nggak sabar, ya?" Dharma menggoda.
Dharma Santoso, berusia 19 tahun. Tubuhnya berisi, hatinya baik dan mau menerima Nala apa adanya. Keadaan Nala yang tidak seberuntung gadis di kampung tidak menggoyahkan perasaan mereka berdua untuk mengarungi bahtera rumah tangga.
"Mas, Nala ikut ya ke perkebunan. Nala mau cerita sesuatu sama Mas," ucap Nala berusaha berani.
Mereka pun berjalan menuju perkebunan, Dharma menyentuh tangan Nala dan dengan cepat pula Nala menjauhkan tangannya. Ia tahu, Dharma akan sangat kecewa setelah mendengar berita buruk ini.
Ia tidak tahu langkah apa yang akan ia lakukan, tapi sedang berusaha di fase yang harus siap dan tegar seperti karang di laut.
"Neng, kenapa wajahnya membiru?"
Nala menyentuh pipinya, mencelos dan tubuhnya kembali bergetar takut.
"Sakit?" Dharma menyentuh pipi Nala lembut.
Nala menjauhkan jaraknya, ia mulai ketakutan dan merasa debaran jantungnya semakin tidak karuan. Matanya mulai nanar, seperti ini hanya mimpi.
"Nala, ada apa? Kau terlihat sangat sedih?"
Nala menggigit bibirnya keras, ia menunduk dan air matanya kembali menetes. Ia tersenyum perih, "Bisakah kita berbicara jangan di sini, Mas?" Nala berusaha menegarkan hatinya.
Dharma semakin tidak tenang melihat Nala yang tampak gusar.
"Baiklah, ayo Neng?"
Mereka menuju perkebunan milik Dharma.
Di sinilah tempat yang begitu ia takutkan. Berkata jujur tentang kenyataan pahit yang tengah ia emban.
"Kenapa, Neng?"
"Mas, aku tahu ... ini terkesan mendadak," Nala bersuara bergetar.
Dhama menatapnya lembut, "Neng, mau minta sesuatu? Sepatu pengantin baru?"
Ya Allah, Nala tidak kuasa menahan tangisannya. Hatinya benar-benar remuk dan hancur mendengar kelembutan Dharma.
"Mas, maaf?!" Nala mulai serak dan lirih.
"Neng? Hei, ada apa Neng sayang? Bilang sama, Mas."
Nala menunduk. Dengan lembut, Dharma menyentuh dagu Nala dan mengangkat lembut. Ia berusaha untuk menenangkan hati Nala.
"Maaf, Mas. Aku nggak bisa melanjutkan pernikahan kita."
Dharma tersentak, dadanya seketika sesak seolah sedang di himpit ribuan batu kerikil tajam. Ia menatap Nala lekat dan berharap calon istrinya tersebut sedang berbohong.
"Neng, nggak serius 'kan?" Dharma berusaha tertawa.
"Aku serius, Mas Dharma. Aku nggak bisa melanjutkan pernikahan kita besok."
"K-kenapa?" Dharma melepaskan sentuhan tangan di dagu Nala.
"Aku ... nggak bisa," hanya itu kata-kata yang mampu diucapkan.
"Neng, kamu jangan bercanda seperti ini. Pernikahan itu sakral, bukan untuk main-main. Kita sudah memutuskan untuk ke jenjang lebih serius."
"Aku tahu Mas, maafkan aku," Nala menggeleng dan memecahkan tangisannya.
"Bapak Retno masih nggak setuju?" Dharma tahu, ayah Nala menolak pernikahan muda mereka.
"Ndak, Mas, bukan karena Bapak. Endak'." Nala berucap kental dengan logat kampungnya yang masih fasih.
"Terus, kenapa?" Dharma tidak bisa menerima pembatalan pernikahan ini.
"Mas, Nala nggak pantas. Kumohon ... maafkan Nala," ucapnya bergetar.
"Nggak bisa seperti ini Neng. Mas-mu ini cinta samamu, sayang dan tulus samamu."
Betapa hancurnya hati Dharma, embusan napas yang tadinya terlihat teratur kini harus terembus dengan kasar. Hingga, Dharma menggeleng tidak menyangka. Ia merasa perkataan Nala hanya ingin menguji saja.
"Neng, kau tahu ... kalau kau mengerjaiku seperti ini, kau benar-benar keterlaluan."
"Aku serius, Mas."
Dharma berdecak pinggang, mengalihkan pandangannya. Menatap hamparan kebun yang ditumbuhi berbagai tanaman. Berusaha menstabilkan perasaannya. Menarik napas, ia memejamkan mata sejenak.
Nala yang melihat Dharma di fase yang siap mendengarkan mulai menangis sesunggukkan, ia serius dan tidak tahu harus berkata apa untuk mengungkapkan musibah yang tengah terjadi dan ia rasakan saat ini.
"Mas," ucap Nala lirih.
Dharma pun menoleh, embusan napas pagi hari dan terlihat uapan mengepul keluar dari mulut mereka yang menandakan udara pagi yang masih sangat dingin. Tatapan mata mereka bertemu dan saling tertaut. Seolah sorot mata mereka menunjukkan ada kata ingin terucap, ada sikap yang ingin terjadi.
"Kenapa, kau membatalkannya? Kau bisa menjelaskannya?" Dharma akhirnya berkata dengan nada tegas, tidak seperti biasa lagi.
"Aku nggak mau, kalau Mas mendapatkan wanita yang sama sekali ndak sesuai yang Mas harapkan. Nala ndak seperti wanita yang Mas puja kemarin-kemarin," ucap Nala semakin serak.
"Itu bukan alasan, Nala. Katakan sama Mas, apa yang sudah membuatmu membatalkannya? Mas, akan terima apa pun itu."
Dharma mendekat, ia remat lembut kedua tangan Nala dan menatap mata Nala dengan dala,.
"Katakan, alasannya," ucap Dharma lembut.
"Ndak bisa, Mas. Aku nggak tahu harus memulai dari mana, aku ndak pantas." Nala menggeleng.
"Nala, kau mencintaiku 'kan?"
"Sangat Mas," ucap Nala.
"Lalu, kenapa kau membatalkan pernikahan kita ini?"
Nala hanya diam, sulit menelan saliva dengan baik.
Dharma melemas, semua impian bersama Nala sirna tidak bersisa. Hingga, Dharma memutuskan berlutut dan kedua netranya mulai membasah. Ia tatap Nala dengan tatapan semakin dalam, Nala masih berusaha menggeleng.
"Katakan, Mas-mu ini akan menerima semua kekuranganmu. Bukankah, selama ini kita sudah berjanji untuk saling menerima kekurangan dan kelebihan kita? Kita sudah mengimpikan banyak harapan, Neng sayang."
Nala menggeleng. Kenapa sesulit ini menjelaskan dan berkata kenyataannya?
"Neng, Mas berjanji akan siap menerimanya."
Nala membalikkan tubuhnya ketika Dharma masih berlutut. Hatinya serasa lepas, ia tidak akan melepaskan Nala dan dengan sigap ia berjalan cepat. Kembali, menarik tangan Nala.
"Nala, kenapa?"
"Aku hanya ingin membatalkan pernikahan ini, Mas. Aku ... nggak akan bisa berumah tangga denganmu."
"Kenapa? Aku 'kan sudah bilang, aku siap menerima semuanya." Dharma mulai meninggikan nadanya.
Nala menatap Dharma kembali, kedua netranya menjatuhkan air mata.
"Kau siap, jika calon istrimu sudah ndak perawan lagi?"
Dharma kaget setengah mati mendengar Nala berkata. Mulutnya terdiam, kecemasan mulai menyerang.
"Aku diperkosa, Mas," ucap Nala lirih.
"Siapa yang melakukannya?"
Nala mengusap air matanya sendiri. dadanya serasa dirobek begitu menyakitkan. Napasnya mulai tersengal sesak.
"A-aku ... nggak kenal, Mas."
Dharma memejamkan matanya sejenak. Ia menguasai dirinya, membuka kembali matanya dan menatap Nala dengan tatapan frustasi. Ia pun akhirnya berdiri dan kini menatap tajam.
"Kenapa? Kalau kau nggak kenal mereka, kenapa kau mau? Kenapa nggak bisa menolak, melarikan diri dan berteriak semampu yang kau bisa?" Dharma mulai meninggikan suaranya, nadanya terdengar hancur dan remuk.
"Aku sudah melakukan semuanya, Mas. Aku berteriak, menangis memohon ampun pada mereka. Tapi ... aku nggak bisa melakukan apa pun selain pasrah, mereka memerkosaku." Nala kembali menangis, ia memeluk tubuhnya sendiri.
Dharma berdecak pinggang, "Besok, pernikahan kita. Nggak mungkin batal, Ibuku sudah membayar semuanya. Kau ...," Dharma menghentikan ucapannya.
Spontan, Nala bersujud dan memeluk kaki Dharma sambil menangis pecah.
"Maafkan aku, Mas. Maafkan, aku nggak pernah berniat merelakan semuanya. Aku hanya ingin mengambil beberapa tangkai bunga dan bertemu mereka. Aku juga nggak pernah menyangka, karena tempat itu selalu aman."
"Nala, harusnya kau bisa berbicara denganku. Aku ambilkan bunga sebanyak yang kau mau," ucap Dharma dengan nada penekanan.
"Aku memang salah Mas," lirih Nala.
"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang ke rumah. Aku akan mengatakan pada Ibu dan Bapakmu," ucap Dharma.
Ya Allah apalagi ini?
Dharma menggenggam erat tangan Nala meninggalkan perkebunan. Wajahnya tidak tertebak, hatinya merasa hancur berkeping ketika mendengar wanita yang teramat dia sayangi tidak lagi suci. Ketika kesucian yang tidak dapat dipertahankan dan kepercayaan Dharma saat itu juga menghilang perlahan.
Tangisan Nala tidak terbendung, langkahnya gontai dan hatinya bergemuruh merasakan sesak dan tidak dapat dibayangkan betapa malu kedua orangtuanya nanti setelah mengetahui anak gadis mereka agungkan telah ternodai.
Mata yang perih akibat terlalu banyak air mata keluar seolah tidak berguna dibandingkan hatinya yang saat ini lebih perih lagi.
"Mas Dharma, maafkan aku, maaf kalau aku mengecewakanmu. Aku minta maaf," ucap Nala sepanjang mereka berjalan cukup cepat.
Di dalam hati, Nala bertanya apakah Dharma mau memaafkannya dan menerimanya walau sudah tidak lagi suci?
Mereka pun sampai.
Rumah Nala yang berdindingkan tepas, semakin melukai hati karena ia tidak pernah mampu menjaga kehormatan. Wanita yang telah terenggut kehormatannya itu melemas dan rasanya tidak memiliki arti hidup.
Napas Dharma yang terlihat berat, guratan halus ditangannya beradu dengan sentuhan tangan Nala. Ia melepaskan genggaman erat setelah memasuki rumah. Sontak, Marini dan Retno saling bertukar pandang hingga pada akhirnya menatap Nala dan Dharma kembali.
"Nala dan Nak Dharma?"
Nala kembali menahan lirihan tangisnya, ia menyentuh pergelangan tangannya yang sakit. Dihadapan kedua orangtua ia merasa seorang anak yang tidak perna diajarkan dan gadis nakal.
"Aku pikir, pernikahan kami nggak dapat diteruskan Ibu dan Bapak," ucap Dharma tanpa basa basi.
Nala memejamkan matanya, ia merasakan hatinya kembali perih.
"Ada apa ini?" Retno langsung berdiri.
Dharma menatap Nala sekilas, "Putrimu, nggak bisa mengendalikan dirinya dan dia memberikan kehormatan yang paling berharga dari seorang wanita."
Marini melemas, ia menggeleng dan ikut berdiri, "Maksudnya apa ndok?" tanyanya menatap Nala.
"Ibu, Bapak, maafkan Nala ... maaf," ucapnya lirih.
"Jelaskan kenapa!" Retno mulai membuncah.
Nala merasa marah jika mengulang kejadian itu. Ia hancur, tapi bukankah ia harus mengatakan yang terjadi sebenarnya? Ia takut menatap kedua orangtua telah menyekolahkan hingga ia tamat, gelengan kepala yang terusan ia lakukan seolah tidak berguna.
"Nala ...," ucapannya terhenti.
Marini menatap putrinya dengan tatapan sayup dan mulai merasa jika ini sedang tidak baik-baik saja. Kegelisahan akhir-akhir ini memberikan jawaban pada akhirnya. Walau, hati kecilnya masih berusaha kalau semua ini akan baik saja.
"Nala diperkosa," ucapnya sambil menangis.
Mulut Marini terbuka lebar, Retno yang semula membuncah ikut tersontak kaget. Spontan, Nala berlari ke arah ayahnya dan memeluk kaki sang ayah sambil menangis.
"Maafkan Nala, Aya, maaf."
Isakan tangis pecah dari Nala begitu menyayat hati kecilnya.
Dharma sebenarnya merasa kasihan, tapi ... ia tidak bisa menerima kalau calon istrinya sudah tidak lagi perawan. Ketika keperawanan adalah suatu hal penting untuk seorang pria yang selalu menjaga dan tidak merusak sebelum waktunya.
"Maafkkan Nala, Ibu ... Bapak," Nala memecahkan tangisannya.
"Aku akan menuntut kalian!" Bentak Dharma marah.
Nala menatap Dharma, pria yang ia anggap jodoh terbaiknya malah berkata seperti itu. Tidak menyangka, musibah yang dialaminya justru semakin membuat Dharma marah dn tidak mau memaafkan.
"Kalian harus membayar sakit hatiku. Nala, aku tidak menyangka kalau kau adalah wanita murahan yang sama seperti teman-temanmu itu. Aku memercayakan semua, memberikan cinta, mencurahkan hidupku dan kau tega melakukan hal ini denganku." Dharma marah dan nadanya meninggi.
"Nala minta maaf, Mas," isak Nala.
"Aku nggak bisa meneruskan pernikahan ini, aku akan menuntutmu."
Retno mengepalkan tangannya, menatap Dharma dengan kedua netra mulai membasah. "Bisakah, kau pergi? Kami akan membayar segala kerugian yang telah dilakukan putriku."
Marini menangis, ia memeluk putrinya yang masih terduduk di hapan Retno. Adik perempuan Nala, ikut menangis ketika mendengar kakak keduanya telah ternodai.
Setitik air mata membasahi ujung ekor mata Dharma, ia terluka dan ia usap dengan kasar. Tidak banyak kata ia ungkapkan, ia pun pergi meninggalkan rumah Nala selamanya. Ia sudah menekankan hati kecil, tidak bisa menerima Nala.
"Kenapa bisa terjadi, Nala?" Retno sangat marah.
"Ayah, maafkan aku."
"Siapa yang melakukannya?"
"Aku tidak mengenal mereka," jawab Nala.
"Kenapa bisa mereka memerkosamu?"
"Aku yang salah, Ayah, aku pergi ke bukit."
"Harusnya, kau di rumah. Kau seorang putri petani dan martabat keluarga kita yang rendah semakin lebih rendah karena perbuatanmu ini. Kau tahu? Kau sudah mempermalukan keluargamu, wanita yang sudah ternodai sama halnya dengan wanita malam yang menjajakan dirinya!"
Seperti tersambar petir, bukan mendapat perlindungan ia malah merasakan kesakitannya berkali lipat sakit dan terasa nyeri di dada.
"Bagaimana mungkin, kau tidak mengenali pria yang memerkosamu?"
Nala masih menangis sesunggukkan, "Mereka berjumlah lima orang, Ayah," jawabnya serak.
"Masyaallah," Marini syok dan menangis hancur.
Plak!
Retno menampar Nala karena ikut merasakan hancur, ketika seorang ayah mendengar putrinya ternodai dan ia tidak mampu menyelamatkan ketika sang putri membutuhkannya disitulah ia semakin hancur berkeping.
Nala menyentuh pipinya, ia pun rasanya ingin mati saja. Apalagi arti hidup jika salah satu harta berharganya telah direnggut oleh pria yang bukan suaminya?
"Kau sudah membuat aib dalam keluarga kita, jika kau mencintai keluargamu maka pergilah dari rumah ini."
Bagai tersambar petir, Nala tidak salah dengarkan? Ayah yang teramat ia cintai mengatakan perkataan menyakitkan itu.
"A-ayah?"
"Jangan sebut aku Ayah, kalau kau sudah membuatku malu."
"Ayah!" Marini ikut kaget.
"Pergi, angkat kakimu dari rumah ini! Kau nggak pantas tinggal di rumah ini!" Retno marah.
"Nggak Ayah, aku nggak mau pergi."
"Pergi! Atau kau memilih dipasung?"
Keadaan semakin berat. Nala menggeleng, ia peluk kembali kaki sang ayah dan memohon ampun. Dengan kasar, Retno melepaskan jemari putrinya dan ia meninggalkan Nala yang terluka.
"Ayah!"
Marini memeluk Nala, mereka memuaskan dalam tangisan pecah.
***
Seusai pernyataan itu, Nala duduk di tepi ranjangnya dan masih mengeluarkan air mata. Bibirnya terasa keluh, tenggorokan mengering, napasnya berat.
"Nala," Marini memanggil lembut.
"Ibu?" Nala mengusap air matanya.
"Ibu tahu ... ini berat, tapi demi keluarga kita. Pergilah. Pergi ke mana pun kamu mau, sejauh mungkin."
Nala amenatap ibunya, "Ibu, nggak sedang serius kan?"
"Iya, Ibu serius, Nak, pergilah. Ibu yakin, suatu saat Allah akan menunjukkan jalan terbaik buatmu dan keluarga kita."
"Nggak Bu, Nala harus ke mana?"
"Pergilah ke kota, carilah kehidupan barumu di sana."
Tidak ada seorang pun yang mampu menyembuhkan hatinya, keluarga yang ia anggap tempat perlindungan paling berharga juga tidak memberikannya ruang kenyamanan.
"Pergilah, sebelum matahari kembali terbit dan biarkan Ibu yang menjawab pembatalan pernikahanmu."
Mereka kembali saling menangis, adik perempuan Nala ikut menangis dan tidak merelakan kakak yang ia sayangi pergi untuk selamanya meninggalkan rumah. Ini seperti mimpi.
Dengan segala pemutusan berat, Nala membawa tas yang cukup besar berisi pakaiannya. Marini dan adik perempuannya, masih menangis pilu. Nala berdiri di pintu kamar Retno yang masih betah di kamar.
"Ayah, maafkan putrimu ini. Aku tahu ... perbuatanmu membuat malu keluarga, aku akan pergi dan aku masih tetap berharap ada kata maaf dari Ayah untukku. Kalau saja, aku memiliki kemampuan untuk menolak aku sudah melakukannya. Aku mencintaimu, Ayah. Aku sudah pernah bilang Ayah adalah cinta pertamaku dn selamanya akan menjadi cinta pertamaku, walau Ayah tidak bisa menerimaku lagi dalam hidup Ayah."
Di dalam kamar, Retno menitikkan air mata. Kali pertama, ia menangis mendengar kata-kata putrinya yang teramat ia cintai. Ia ingin melarang, tapi inilah akibat yang harus mereka terima. Merelakan Nala pergi menjauh.
"Aku akan kembali, ketika Allah memberikan aku jalan terbaik. Aku akan tetap mencintaimu, Ayah. Aku pergi," Nala tersenyum perih dan mempercepat langkahnya meninggalkan rumah.
Retno menangis, menahan diri untuk tidak keluar. Marini, juga adiknya menangis melihat kepergian Nala.
"Kakak, tolong menjadi Kakakku yang kuat. Minta petunjuk Allah," ucap adiknya lirih.
Di malam yang sunyi, mencekam, Nala meninggalkan rumah untuk selamanya. Ia tidak tahu arah dan tujuan hidupnya. Ia hanya berharap, Allah akan tetap membantunya di mana pun ia berada.
Tapi, pria mana yang bisa menerima ketika ia tidak lagi wanita yang perawan?