Di sebuah kamar yang masih tertutup tirai tampak seorang laki-laki yang bertelanjang dada dan hanya memakai celana pendeknya. Ia tampak terlelap tidur karena semalam lagi-lagi ia harus begadang gara-gara banyak pekerjaan yang harus ia kerjakan. Jadi ketika jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi ia masih enggan untuk bangun dari tidurnya. Sampai sebuah ketukan pintu membuat tidurnya terganggu. Berhubung pintunya tak kunjung hingga akhirnya orang yang ada di depan pintu itu masuk. Dan tampaklah seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik walaupun usianya sudah menginjak 56 tahun. Wanita itu masuk ke dalam kamar dan melangkahkan kakinya menuju ranjang dimana ada laki-laki yang masih terlelap tidurnya. Sang wanita itu tersenyum melihat bagaimana laki-laki yang ternyata putranya tampak masih terlelap tidur. Ia pun mencoba untuk membangunkan sang putra sulung yang masih enggan untuk bangun dari tidurnya.
"Dante wake up," kata Wanda mencoba membangunkan sang putra.
"Hhhhmmmm...."
Hanya suara deheman terdengar dari mulut laki-laki bernama Dante itu. Ia seakan enggan untuk bangun. Wanda pun duduk di samping ranjang dan mengelus kepala sang putra dengan penuh sayang. Ia tak menyangka jika putra sulungnya sudah berusia 30 tahun tapi bagi Wanda ia masih mengganggap sang putra seperti anak kecil. Ia tahu jika sang putra pasti merasa lelah karena semenjak sang suami memilih untuk pensiun dari perusahaan yang sudah dia bangun sejak masa mudahnya. Dan sekarang ia memilih untuk menyerahkan kepemimpinan kepada putra sulungnya. Jadi wajar saja jika saat ini putra berat untuk bangun karena ia semalam pulang larut seperti biasa jadi Wanda bisa mengerti.
"Kalau kamu masih ngantuk lebih baik tidur aja. Mommy cuma mau bangunin kamu takutnya kamu terlambat masuk ke kantor tapi kalau kamu masih mengantuk maka tidur lagi," kata Wanda masih membelai kepala.
Dante yang merasakan nyaman ketika sang mommy mengelus kepalanya pun perlahan membuka matanya. Dan ketika ia membuka matanya pertama kali yang ia lihat adalah wajah cantik wanita yang paling berarti dalam hidupnya. Dante pun tersenyum ketika melihat wajah sang mommy yang selalu bisa membuatnya tenang. Bagi Dante sang mommy adalah orang paling Dante jaga dan juga paling ia sayangi di dunia ini. Ia akan melakukan apapun untuk bisa membuat sang mommy bahagia.
Dante pun mendudukkan tubuhnya di ranjang sehingga memperlihatkan tubuh bagian atasnya yang liat dan juga sangat menggoda.
"Sorry mom kalau mommy harus bangunin aku segala. Biasanya aku sudah bangun tadi pagi tapi semalam aku kerja lembur jadi pagi ini aku memutuskan untuk berangkat ke kantor lebih siang," jawab Dante dengan suara khas bangun tidur.
"Its ok sayang. Mommy tahu kalau setelah kamu mengambil alih perusahaan kamu jadi lebih sibuk dan pastinya banyak pekerjaan yang harus kamu kerjakan. Tapi walaupun kamu sibuk seperti itu kamu harus tetap menjaga kesehatan kamu dan juga makan teratur. Jangan sampai gara-gara sibuk bekerja maka kamu jadi sakit," pesan Wanda kepada sang putra.
"I know mom. Aku pasti akan menjaga kesehatan dan gak akan sakit. Lagipula aku masih rutin berolahraga di tengah-tengah kesibukan aku serta aku juga masih meminum vitamin yang mommy berikan kepada aku," jawab Dante yang mengerti apa yang dimaksud sang mommy.
"Good. Oya mommy nanti sore akan terbang ke Amerika untuk menemani adik kamu Dyandra yang sebentar lagi melahirkan. Jadi kamu akan tinggal di rumah ini sendirian selama mommy dan Daddy pergi ke Amerika. Tapi kalau gak usah khawatir mommy sudah memerintahkan para pelayan untuk menyiapkan segala kebutuhan kamu," kata Wanda memberitahukan kepada sang putra.
"Mommy dan Daddy akan pergi ke Amerika sore ini. Memang kapan perkiraan Dyandra melahirkan? Bukannya masih sekitar Minggu depan tapi kenapa mommy dan Daddy sudah berangkat sekarang?" tanya Dante penasaran.
"Adik kamu sudah merengek agar mommy datang kesana karena ini adalah kehamilannya yang pertama jadi ia masih merasa takut ketika harus menjalani persalinan nanti. Sedangkan kamu tahu sendiri jika George kurang mengerti soal seperti itu jadi mommy yang harus menemani Dyandra selama berada disana," jawab Wanda menjelaskan.
Dante menganggukkan kepalanya mengerti. Ia memang memiliki seorang adik perempuan berusia 25 tahun yang sekarang tinggal di Amerika karena mengikuti suaminya yang memang bekerja disana. Dan yang membuat Dante cukup heran ketika sang adik yang manja itu mengatakan ingin menikah dan bahkan setelah menikah ia akan mengikuti suaminya tinggal di Amerika. Awalnya mommy dan daddynya kaget dengan apa yang dikatakan oleh sang adik tapi sang adik mengatakan jika ia ingin bisa hidup mandiri bersama George dan ternyata sang adik bisa membuktikan apa yang ia katakan. Walaupun awalnya memang sulit tapi setelah hampir setahun tinggal disana Dante bisa melihat sang adik baik-baik. Apalagi ketika sang adik di nyatakan hamil maka membuat mommy dan daddynya menjadi jauh lebih bahagia lagi.
"Kapan kamu menyusul Dyandra untuk menikah? Usia kamu sudah menginjak 30 tahun dan mommy kira sudah saatnya kamu memiliki keluarga sendiri. Tapi kenyataannya kamu masih terlalu asik dengan dunia pekerjaan kamu sendiri. Apa perlu mommy carikan wanita yang tepat buat kamu?" tanya Wanda yang sangat ingin putranya menikah juga.
"Aku masih belum memikirkan hal itu mom. Dan mommy gak usah mencarikan aku wanita manapun untuk menjadi istri aku karena memang aku sedang ingin fokus kerja aja," tolak Dante dengan halus.
"Ini bukan karena wanita bernama Alicia itu kan? Bukannya mommy gak suka dengan wanita itu tapi entah kenapa mommy merasa jika dia bukan pasangan yang tepat untuk kamu. Kamu tahu sendiri mommy dan Daddy tak pernah mempermasalahkan soal status sosial menantu mommy. Bagi mommy siapapun menantu mommy nantinya harus bisa membuat anak-anak mommy bahagia. Dulu saja ketika Dyandra membawa George kesini mommy sempat gak yakin jika George serius dengan adik kamu. Tapi George benar-benar membuktikan jika dia benar-benar serius dengan Dyandra bahkan akan bertanggung jawab penuh dengan adik kamu. Walaupun saat itu pekerjaan George belum pasti tapi mommy dan Daddy tak mempermasalahkan hal itu karena mommy dan Daddy bisa melihat kebahagiaan di mata Dyandra. Dan ternyata keputusan mommy dan Daddy untuk menerima George benar. Tapi ketika kamu membawa Alicia kesini entah kenapa mommy merasakan jika wanita itu tidak benar-benar mencintai kamu dan hanya memanfaatkan kamu jadi mommy menentang dengan tegas hubungan kalian berdua. Tapi jika melihat kamu terus sendiri seperti ini membuat mommy sedih dan mommy merasa bersalah sudah menentang hubungan kamu dan juga Alicia," kata Wanda yang menyuarakan isi hatinya.
"Mommy gak perlu menyalahkan diri mommy sendiri. Hubungan aku dan Alicia juga sudah lama berakhir jadi mommy tak perlu mengingat kembali soal hal itu. Sekarang yang paling penting mommy tak perlu mengingat masalah itu dan fokus dengan apa yang ada. Dan soal kapan aku akan menikah aku hanya minta waktu mommy. Aku gak mau terburu-buru hidup dengan seorang wanita yang tak aku kenal di sisa hidup aku. Banyak hal yang perlu aku pertimbangan selain itu seperti apa yang aku bilang tadi jika aku masih ingin fokus bekerja," jawab Dante yang juga menjelaskan panjang lebar.
Wanda tersenyum mendengar jawaban dari sang putra. Ia tahu sang putra memang butuh waktu untuk bisa melangkah ke jenjang serius dengan seorang wanita. Maka dari itu sebagai seorang ibu Wanda tak akan memaksa kehendak.
"Ya udah kamu mau tidur lagi atau mau bangun. Kalau mau bangun biar mommy siapkan sarapan buat kamu. Gimana?" tanya Wanda dengan lembut.
"Aku mau tidur sebentar lagi setelah itu aku akan siap-siap buat ke kantor," jawab Dante dengan suara yang masih serak.
"Ya udah kalau gitu nanti kamu bilang aja sama mommy kalau mau sarapan. Kalau gitu mommy mau turun dulu soalnya Daddy kamu belum minum obat kalau mommy gak menyiapkan jadi mommy harus menyiapkan obat-obatan buat Daddy kamu," kata Wanda yang sudah beranjak dari ranjang sang putra.
Setelah itu Wanda pun memilih keluar dari kamar sang putri. Sedangkan Dante masih memikirkan apa yang dikatakan oleh sang mommy. Apa benar ia belum bisa melupakan Alicia? Entahlah Dante tak mau memikirkan soal hal itu. Ia lebih memilih untuk kembali tidur karena masih merasa mengantuk.
Sekitar pukul 10 pagi Dante sudah menginjakkan kakinya di perusahaan yang dibangun oleh sang Daddy selatan hampir 30 tahun lebih. Sebenarnya perusahaan ini sendiri merupakan warisan dari kakeknya yang memang sudah merintis sejak awal dan sang Daddy yang melanjutkannya. Perusahaan Alfonso memiliki banyak usaha. Tapi bisnis utamanya adalah di bidang otomotif dan juga barang-barang elektronik. Perusahaan Alfonso merupakan perusahaan yang memegang lesensi dari beberapa brand mobil terkenal dan mewah di seluruh dunia. Selain itu perusahaan Alfonso juga membuat beberapa barang elektronik yang dibutuhkan untuk kebutuhan sehari-hari dan tak lupa juga mereka juga memproduksi telepon seluler yang penjualannya sedang sangat bagus.
Dan setelah Tommy Alfonso yang merupakan daddynya Dante memilih pensiun maka Dante sebagai putra sulung melanjutkan bisnis keluarga ini. Di tangan Dante perusahaan jauh lebih berkembang lagi. Bahkan Dante sudah melebarkan sayap bisnis mereka di bidang retail dan saat ini ia sedang mempersiapkan untuk meluncur maskapai pesawatnya sendiri. Tapi semuanya masih dalam tahap pengerjaan dan diskusi panjang.
Jadi dengan segala kelebihan yang dimiliki Dante Alfonso tak heran banyak wanita yang ingin mendapatkan laki-laki berusia 30 tahun itu. Tapi sayangnya Dante sedang tak ingin menjalin hubungan dengan wanita manapun. Hal itu dikarenakan dengan kenangan masa lalunya dengan mantan kekasihnya bernama Alicia Jasmine. Mungkin jika Alicia tak berbuat sesuatu yang membuat Dante marah dan kecewa mungkin sekarang ia sudah menikah dengan Alicia. Tapi sayangnya semuanya sia-sia dan Dante masih betah melajang.
Sesampainya di ruang kerjanya Dante langsung terhanyut dengan pekerjaan yang ada di mejanya sampai ia tak sadar jika sahabat sekaligus rekan kerjanya di kantor ini masuk ke ruang kerjanya.
"Wah big boss kita baru datang ternyata. Apa gara-gara semalam kelelahan setelah bermalam dengan wanita yang aku berikan kepada kamu?" tanya Ryan dengan wajah yang super mesum.
Dante yang sedang menatap dokumennya pun mengehentikan kegiatannya dan menatap kearah Ryan.
"Aku gak memakai wanita yang kamu kirimkan sama aku. Dan berhenti mengirimkan wanita tidak seperti itu lagi. Aku gak suka," jawab Dante tegas.
"Yaaaaa sayang sekali kalau kamu gak memakai wanita itu. Padahal dia wanita terbaik di tempatnya bekerja. Tapi kamu masih gak bergairah dengan wanita seksi itu? Dante kamu masih normal kan?" tanya Ryan penuh selidik.
Dante menatap kearah Ryan dengan sorot marah ketika mengatakan hal itu. Tentu saja ia masih normal hanya saja ia tak bereaksi dengan wanita seperti itu. Entah kenapa sejak berpisah dengan Alicia gairahnya seakan mati. Walaupun begitu Dante masih bisa bilang jika dirinya normal.
"Sorry brother bukannya aku meragukan kamu hanya saja kamu gak bergairah dengan wanita seksi yang aku kirim. Dan itu membuat aku penasaran. Kalau begitu aku akan mencari wanita yang tepat yang bisa membangkitkan gairah kamu. Kami tunggu saja," kata Ryan penuh janji.
Setelah mengatakan hal itu Ryan pun pergi dari ruang kerja Dante. Sedangkan Dante memilih tak menggubris apa yang dikatakan oleh Ryan dan kembali bekerja. Padahal tanpa Dante sadari jika apa yang akan dilakukan oleh Ryan akan benar-benar mengubah hidupnya.
Seorang gadis berumur 21 tahun tampak sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya dan juga sang ibu sebelum ia berangkat kerja. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja di sebuah perusahaan yang besar. Walaupun ia hanya bekerja di bagian administrasi saja tapi ia sudah sangat senang karena setidaknya ia bisa mendapatkan uang yang lebih banyak lagi. Saat ini ia memang kesehatan sang ibu sedang tak baik. Sang ibu sering keluar masuk rumah sakit karena sang ibu memiliki penyakit jantung yang akut. Dan dokter sudah mengatakan untuk segera menjalani operasi. Tapi sampai detik ini ia belum bisa mendapatkan sejumlah uang yang dibutuhkan. Ia harus bekerja lebih keras lagi untuk bisa mengumpulkan biaya operasi sang ibu.
"Lana seharusnya kamu tidak usah repot-repot nenyiapkan sarapan buat ibu dan kamu. Seharusnya biarkan ibu saja yang menyiapkan sarapan buat kita," kata Linda yang ikut masuk ke dapur.
Gadis yang bernama Lana pun hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh sang ibu. Ia senang melihat keadaan sang ibu yang sudah jauh lebih baik saat ini. Tentu saja Lana sangat senang melihat hal itu membuat Lana bisa lebih bisa mengulur waktu lagi untuk bisa mendapatkan uang untuk bisa membayar operasi sang ibu.
"Gak apa-apa Bu. Sekalian aku juga masak buat makan siang jadi gak apa-apa. Lagipula ibu gak ingat kalau dokter meminta ibu untuk istirahat total? Ibu gak mau kan kalau di opname lagi? Jadi lebih baik ibu banyak istirahat agar ibu bisa segera sehat kembali. Kalau ibu sehat ibu bisa melakukan apapun yang mau ibu lakukan," kata Lana mengingatkan sang ibu.
"Iya ibu mengerti. Ibu juga ingin bisa segera sembuh dan bisa kembali bekerja lagi. Terkadang ibu merasa kasihan kepada kamu gara-gara ibu sakit seperti ini kamu harus bekerja keras bahkan kamu tidak bisa melanjutkan kuliah kamu serta tidak bisa merasakan kehidupan remaja seumuran kamu. Tapi kamu malah berkutat dengan dunia dewasa yang seharusnya belum harus kamu lalui. Ibu benar-benar minta maaf karena selama ini selalu menyusahkan kamu saja," jawab Linda yang merasa sedih terhadap sang putri.
Lana yang baru selesai mematikan kompor pun langsung membalikkan tubuhnya untuk mengahadapi kearah sang ibu. Ia tak suka jika ibunya berkata seperti itu. Selama ini apa yang Lana lakukan tidak pernah membuatnya merasa tertekan ataupun merasa sedih karena tak bisa melakukan apapun yang dilakukan oleh gadis seusianya. Ia melakukan semua itu hanya ingin agar sang ibu bisa sehat kembali. Jadi ia tak masalah harus bekerja lebih keras daripada orang lain seusianya. Karena ia melakukan semua itu demi kesehatan sang ibu.
"Ibu tidak usah memikirkan soal itu. Biarkan semuanya Lana yang mengurus. Dan ibu tidak perlu juga meminta maaf kepada Lana karena Lana harus bekerja lebih keras atau tidak bisa melanjutkan kuliah. Bahkan Lana juga tidak merasa sedih tidak seperti teman-teman Lama di luar sana. Sekarang yang ada dipikiran Lana adalah bagaimana caranya Lana bisa membuat ibu sembuh. Karena ibu adalah orang yang paling Lana miliki di dunia ini. Jadi yang harus ibu pikirkan adalah ibu harus bisa sehat kembali," pinta Lana kepada sang ibu.
Linda pun mengelus wajah putrinya yang sangat cantik itu. Ia benar-benar beruntung memiliki Lana dalam hidupnya. Ia berharap jika dirinya bisa segera sembuh dan bisa kembali bekerja untuk bisa membantu sang putri. Setidaknya ia tak mau sampai melihat sang putri bekerja keras terus.
"Ya udah kita sarapan dulu soalnya aku mau berangkat agak awal. Hari ini adalah hari pertama kali bekerja di kantor yang baru. Doain aku ya Bu semoga saja semuanya berjalan dengan lancar dan aku bisa bekerja disitu karena perusahaan ini adalah perusahaan yang besar. Selain itu aku yang hanya lulusan SMA bisa bekerja disana. Aku berharap ini adalah awal yang baik untuk hidup kita kedepannya,"kata Lana yang benar-benar merasa bersemangat.
"Pasti sayang. Ibu akan mendoakan yang terbaik buat kamu," jawab ibu dengan penuh cinta.
Perasaan Lana pun berubah menjadi sangat lega karena setidaknya ia bisa melangkah lebih percaya diri lagi. Karena baginya ini awal yang baik untuk kehidupannya kedepan.
Setelah itu Lana pun sarapan bersama sang ibu lalu ia pun bersiap-siap menuju ke kantor barunya. Lana benar-benar bersemangat untuk menjemput hari yang barunya. Dengan mengendarai angkutan umum untuk sampai ke kantor barunya akhirnya Lana sampai juga di perusahaan Alfonso dimana ia akan memulai pekerjaannya.
Sebelum Lana diterima di perusahaan ini Lana sudah bekerja di beberapa tempat yang lain. Setelah lulus SMA Lana tidak bisa melanjutkan sekolahnya hingga ke jenjang kuliah. Keterbatasan dana membuat Lana tak bisa kuliah apalagi saat itu sang ibu sudah sakit-sakitan sehingga Lana mengubur mimpinya untuk melanjutkan kuliahnya. Padahal dari dulu Lana memiliki cita-cita untuk bisa berkuliah di jurusan kedokteran tapi ia harus mengubur semua cita-citanya karena ia sangat sadar diri bahwa dia bukan dari kalangan keluarga yang kaya raya. Selain itu Lana juga harus realistis bahwa ia membutuhkan banyak uang untuk biaya dirinya dan sang ibu serta biaya berobat sang ibu. Tapi walaupun begitu Lana tak pernah menyesali keputusannya untuk merelakan cita-citanya karena ia yakin ia bisa meraih cita-cita serta mimpinya yang lain. Lana selalu berprinsip jika ia akan menemukan mimpinya yang lain ketika kehidupannya jauh lebih baik lagi.
"Lana kamu pasti bisa menjalani semuanya. Semangat Lana," kata Lana menyemangati dirinya sendiri.
Dan hari-hari Lana menjadi pegawai baru di perusahaan Alfonso pun dimulai. Selama bekerja di perusahaan Alfonso Lana bisa beradaptasi dengan sangat cepat bahkan ia dengan mudah disukai oleh beberapa teman kerjanya. Walaupun latar pendidikan yang dimiliki oleh Lana jauh berbeda dengan yang lain tapi tak membuat Lana kalah dari mereka. Lana sangat cepat belajar sehingga semua pekerjaan yang diberikan kepada Lana pasti ia menyelesaikan semuanya dengan sangat baik dan pastinya para atasannya sangat suka dengan hasil kinerja yang dilakukan oleh Lana. Lana sendiri merasa senang bisa bekerja di perusahaan ini. Setidaknya ia dengan bekerja disini membuat Lana mendapatkan gaji yang lumayan besar. Tapi walaupun begitu sebenarnya Lana memiliki pekerjaan lain setelah selesai bekerja. Pekerjaan yang gajinya yang bisa ia pakai untuk menambah biaya operasi sang ibu. Dan pekerjaan tambahan yang dijalani oleh Lana saat ini adalah pelayan di sebuah club malam yang cukup terkenal di kota ini. Awalnya Lana tak mau melakukan pekerjaan ini tapi pekerjaan ini benar-benar memberikan upah yang lumayan besar untuk biaya pengobatan sang ibu. Walaupun sang ibu memakai pembiayaan dari pemerintah tapi tak semuanya di bayar oleh pemerintah ada beberapa pengobatan yang harus dilakukan sendiri. Maka dari itu Lana mencari tempat tambahan untuk bisa membayar biaya pengobatan sang ibu.
"Ra gimana biaya operasi buat ibu kamu? Apa sudah terkumpul?" tanya Fina pekerja di club ini.
"Belum. Kamu tahu sendiri jika biaya pengobatan untuk penyakit jantung sangat mahal. Sebenarnya dokter sudah meminta aku untuk segera memberikan pengobatan lanjutan untuk ibu tapi lagi-lagi kendala uang yang membuat aku belum bisa membawa ibu buat operasi. Tapi untung aja keadaan ibu sekarang jauh lebih baik jadi setidaknya aku punya sedikit waktu untuk bisa mengumpulkan uang itu," jawab Lana yang sedang istirahat.
Fina tentu saja tahu cerita dibalik Lana bisa bekerja disini. Padahal ia tahu jika Lana adalah anak yang baik-baik hanya saja keadaan yang membuatnya bekerja di club malam ini walaupun hanya sebatas pelayan saja.
"Sebenarnya aku punya cara yang tepat buat kamu bisa dapat uang yang banyak dalam satu malam. Kamu masih perawan kan?" tanya Fina kearah Lana.
"Tentu aja aku masih menjaga keperawanan aku buat suami aku nanti. Maksud kamu pekerjaan yang mudah itu apa?" tanya Lana bingung.
"Kalau kamu mau sih kamu bisa menjual keperawanan kamu kepada laki-laki hidung belang yang berani membayar mahal untuk bisa tidur dengan gadis yang masih perawan. Walaupun ini kesannya tak bermoral tapi jika kamu dalam keadaan genting dan butuh uang yang cepat maka cara ini bisa kamu lakukan," jawab Fina dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Lana kaget ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Fina. Walaupun ia tahu apa pekerjaan asli dari Fina tapi sampai sejauh ini ia tak pernah mengambil keputusan yang ekstrim seperti itu. Walaupun ia cukup tergiur dengan apa yang dikatakan oleh Fina tapi tetap saja ia tak mau menjual keperawanan dan juga harga dirinya kepada orang yang tak dikenal. Ia akan berusaha bekerja sekuat tenaga untuk bisa mendapatkan biaya pengobatan sang ibu.