Bab 2

Hari itu, Amara berdiri di depan gedung tinggi yang megah dengan tangan gemetar. Nama Baskara Group terpampang besar di atas pintu masuk, mencerminkan kemewahan dan kekuatan perusahaan yang telah membawa Rendra Baskara ke puncak kesuksesan. Tapi bagi Amara, nama itu lebih dari sekadar lambang kekayaan. Nama itu kini menjadi satu-satunya jalan keluar dari keputusasaan yang mengikat hidupnya.

Ia mengenakan blus putih dan rok hitam sederhana yang sudah lama tak digunakan, berharap penampilannya cukup layak untuk memenuhi panggilan Rendra. Namun, ada sesuatu di dadanya yang terasa berat-sebuah firasat gelap yang tidak bisa ia abaikan.

"Bu Amara?" Sebuah suara mengejutkannya. Seorang wanita berusia sekitar 30-an dengan seragam resepsionis tersenyum ramah ke arahnya. "Pak Rendra sudah menunggu Anda di lantai 30."

Amara hanya mengangguk tanpa suara, mengikuti arahan menuju lift. Saat pintu lift menutup, ia merasakan ruangan kecil itu seperti menekan tubuhnya. Napasnya terasa berat, dan ia berusaha mengingat wajah kecil Aksa yang tertidur lemah di rumah sakit. **Demi Aksa, aku akan lakukan ini.**

Sesampainya di lantai 30, pintu lift terbuka langsung menuju sebuah ruangan besar dengan desain interior minimalis namun mewah. Dinding kaca memperlihatkan pemandangan kota Jakarta yang sibuk, sementara meja besar di ujung ruangan tampak rapi tanpa satu pun berkas berserakan.

Di sana, seorang pria berdiri membelakanginya, mengenakan setelan abu-abu gelap yang pas di tubuhnya. Rambutnya hitam pekat, dan posturnya memancarkan wibawa yang dingin. Saat ia berbalik, tatapan matanya yang tajam seperti menusuk langsung ke jiwa Amara.

"Amara Pratama." Suaranya berat dan dalam, seperti yang ia dengar di telepon.

"Iya, Pak. Terima kasih sudah memberikan kesempatan ini," jawab Amara, mencoba terdengar percaya diri meski suaranya sedikit gemetar.

Rendra melangkah mendekat, matanya tidak pernah lepas dari wajah Amara. "Kau tahu apa yang sedang kau hadapi, bukan?"

Amara mengangguk. "Saya hanya ingin menyelamatkan anak saya."

"Dan kau paham apa yang aku minta?" Pria itu tidak mengubah nada suaranya, tetap datar dan dingin, tapi ada sesuatu yang membuat Amara merasa kecil di hadapannya.

"Saya akan bekerja sebagai sekretaris Anda," jawab Amara, meskipun ada keraguan dalam suaranya.

Rendra menyeringai tipis, senyumnya tidak pernah sampai ke matanya. "Benar, tapi ada lebih dari itu. Aku membutuhkan seseorang yang bisa memenuhi kebutuhanku di luar urusan pekerjaan. Kau harus siap kapan pun aku memintamu."

Kata-kata itu seperti petir yang menyambar Amara. Meski ia sudah menduganya sejak awal, mendengar langsung pernyataan itu membuat tubuhnya menegang. "Anda... Anda meminta saya untuk..."

"Bukan hanya sekretaris," potong Rendra, tatapannya semakin tajam. "Aku butuh seseorang yang bisa menjaga 'kenyamananku'. Aku tidak akan memaksamu. Kau bisa pergi sekarang jika merasa tidak sanggup. Tapi jika kau menerima, aku pastikan Aksa akan mendapatkan semua yang dia butuhkan."

Air mata Amara menggenang di pelupuk mata. Hatinya berteriak ingin menolak, ingin melarikan diri dari ruangan ini, dari pria ini. Tapi bayangan Aksa di rumah sakit menghancurkan semua kebanggaannya. Anak itu membutuhkan dirinya, dan jika ini harga yang harus ia bayar, maka ia tidak punya pilihan lain.

"Aku terima," jawabnya dengan suara lirih, hampir seperti bisikan.

Rendra tersenyum lagi, kali ini sedikit lebih lebar. "Bagus. Aku tahu kau adalah wanita yang cerdas. Sekarang, tandatangani ini."

Ia menyerahkan selembar dokumen kontrak kepada Amara. Dengan tangan gemetar, Amara membaca sekilas isi kontrak itu. Semua terlihat formal dan profesional, kecuali satu pasal yang membuat tenggorokannya tercekat: **'Karyawan bersedia memenuhi permintaan pribadi direktur tanpa batasan waktu selama kontrak berlangsung.'**

"Berapa lama kontraknya?" tanya Amara pelan.

"Setahun," jawab Rendra singkat. "Dan setelah itu, kita lihat saja."

Amara tahu tidak ada jalan mundur. Ia menandatangani kontrak itu dengan tangan gemetar, menuliskan namanya seperti seorang narapidana yang menandatangani hukuman seumur hidup.

"Sangat baik," ujar Rendra, mengambil kembali kontrak itu. "Mulai hari ini, kau akan bekerja di sini setiap hari, dan pastikan kau selalu tersedia saat aku memanggilmu, tak peduli jam berapa pun."

Amara mengangguk lemah. Ia ingin bertanya lebih banyak, ingin memastikan semua ini hanya mimpi buruk, tapi ia tahu jawabannya sudah jelas. Ia telah menyerahkan dirinya ke dalam tangan pria yang bahkan tidak memandangnya sebagai manusia, melainkan sekadar alat untuk memenuhi kebutuhannya.

"Bersiaplah, Amara. Dunia yang kau masuki bukan dunia yang mudah," ujar Rendra sebelum berbalik dan berjalan menuju mejanya.

Saat Amara keluar dari ruangan itu, ia merasa tubuhnya semakin berat. Langkah-langkah kecilnya menuju lift seperti membawa beban yang tak terlihat, tapi ia tahu ini baru awal dari mimpi buruk yang sebenarnya. Demi Aksa, aku harus bertahan, gumamnya dalam hati, meski bayangan pria dingin itu terus menghantui pikirannya.

Bab 3

Hari pertama Amara bekerja di Baskara Group adalah hari yang terasa seperti ujian mental tanpa akhir. Ia tiba di kantor pagi-pagi sekali, berusaha menghindari tatapan tajam karyawan lain. Ia sadar, posisinya sebagai sekretaris pribadi Rendra Baskara akan menjadi perhatian banyak orang. Apa pun langkahnya, ia harus sangat berhati-hati agar tidak mengundang kecurigaan.

Ruangan kerja Rendra terasa sunyi saat ia tiba. Pria itu belum datang, jadi Amara duduk di meja kecil di luar ruangannya, mencoba mempersiapkan mental. Di atas meja, sebuah jadwal kerja telah disiapkan untuknya-rincian tugas administrasi yang tampak formal dan profesional. Namun, itu tidak membuat kegelisahannya berkurang.

Jam menunjukkan pukul delapan lewat lima belas saat suara langkah berat terdengar dari arah lorong. Semua orang yang sedang berjalan di sekitar kantor langsung berhenti dan memberi salam dengan membungkukkan badan. Rendra Baskara telah datang.

Amara berdiri buru-buru, tangan gemetar saat pria itu melintas di depannya. Ia hanya melirik Amara sekilas dengan tatapan dingin, lalu masuk ke ruangannya tanpa sepatah kata. Pintu tertutup dengan suara pelan, tapi rasanya seperti pintu besi yang mengurungnya di dalam perangkap.

Lima menit kemudian, interkom di meja Amara berbunyi. Ia terkejut, hampir menjatuhkan pena yang sedang dipegangnya. Dengan napas tertahan, ia mengangkat gagang telepon.

"Masuk," suara berat itu terdengar singkat di seberang.

Amara menelan ludah. Ia berdiri, merapikan bajunya yang sudah rapi, lalu mengetuk pintu sebelum masuk. Di dalam, Rendra duduk di kursi kulit besar, matanya tertuju pada layar komputer di depannya. Ia tidak segera menoleh saat Amara masuk, membuat wanita itu merasa semakin kecil.

"Kau tahu apa yang harus kau lakukan hari ini?" tanyanya tanpa basa-basi, matanya masih terpaku pada layar.

Amara mengangguk, meskipun ia tahu pria itu tidak melihatnya. "Ya, Pak. Saya sudah membaca jadwalnya."

Rendra akhirnya menoleh, menatap Amara dengan mata dingin yang membuatnya merinding. "Bagus. Tapi ada satu hal lagi yang perlu kau ingat, Amara. Mulai hari ini, kau bukan hanya sekretarisku. Kau adalah milikku."

Kalimat itu menghantam Amara seperti pukulan di dada. Ia tahu peran tambahan itu sejak awal, tapi mendengarnya langsung dari mulut pria itu membuat semua terasa lebih nyata dan lebih mengerikan.

"Saya mengerti, Pak," jawabnya pelan, mencoba menyembunyikan getaran dalam suaranya.

"Bagus," ujar Rendra. Ia berdiri, melangkah mendekat hingga jaraknya hanya beberapa langkah dari Amara. "Ingat, tidak ada yang boleh tahu tentang perjanjian kita. Jika aku mendengar ada rumor sedikit saja, kau tahu apa yang akan terjadi."

Amara mengangguk lagi, kali ini lebih tegas meski hatinya berdebar kencang. Rendra kembali ke mejanya, seolah tidak ada yang terjadi. "Kau bisa keluar. Aku akan memanggilmu jika butuh sesuatu."

Dengan cepat, Amara melangkah keluar, menutup pintu di belakangnya. Napasnya terasa berat, dan tangannya mencengkeram meja kecil di ruangannya untuk menenangkan diri. **Apa yang sudah aku masuki?** pikirnya.

---

Hari-hari berikutnya berjalan seperti mimpi buruk yang tiada akhir. Amara melakukan tugas administrasinya dengan baik, tapi setiap malam ia harus tetap berada di kantor hingga larut, memenuhi permintaan Rendra yang sering kali tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Kadang hanya untuk duduk menemaninya bekerja, kadang untuk mendengar pria itu berbicara tentang hal-hal yang bahkan tidak ia pahami.

Namun, malam itu berbeda. Saat jam menunjukkan pukul sembilan malam, Rendra memanggilnya ke ruangan. Amara masuk, berusaha menjaga ekspresinya tetap tenang meski tubuhnya terasa tegang.

"Kau sudah makan malam?" tanya Rendra tiba-tiba, nadanya terdengar lebih santai daripada biasanya.

Pertanyaan itu membuat Amara bingung. Ia ragu sejenak sebelum menjawab, "Belum, Pak."

Rendra berdiri dari kursinya, melepas jasnya, lalu berjalan menuju jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta di malam hari. "Aku tidak suka makan sendirian. Temani aku."

Amara terkejut. Ia ingin menolak, tapi tatapan dingin Rendra saat berbalik memotong semua alasan yang mungkin keluar dari mulutnya. "Tentu, Pak."

Mereka berdua pergi ke restoran mewah di lantai atas gedung. Tempat itu sudah sepi, hanya ada mereka berdua di meja besar dengan lampu-lampu gantung kristal yang memancarkan cahaya lembut. Amara merasa tidak nyaman, tapi ia berusaha menjaga sikapnya.

Saat makanan datang, Rendra mulai berbicara. Untuk pertama kalinya, ia berbicara panjang lebar, bercerita tentang perusahaannya, ambisinya, bahkan sedikit tentang masa lalunya. Amara mendengarkan dengan hati-hati, mencoba memahami sisi lain dari pria itu.

"Kau tahu," kata Rendra tiba-tiba, menatap Amara dengan tatapan yang berbeda. "Aku bukan pria baik. Tapi aku juga tidak percaya pada cinta atau hal-hal bodoh seperti itu."

Amara terdiam, tidak tahu bagaimana harus merespons.

"Namun," lanjutnya, suaranya lebih pelan, "ada sesuatu dalam dirimu yang menarik. Kau membuatku penasaran."

Pernyataan itu membuat Amara merasa terjebak. Ia menunduk, menyembunyikan ekspresi wajahnya, meski hatinya berteriak.

Malam itu, saat mereka kembali ke ruangan, Rendra menghentikan langkahnya di depan pintu kantor. "Ingat, Amara. Tidak ada perasaan dalam perjanjian kita. Jangan pernah lupa posisimu."

Kata-kata itu terasa seperti pisau yang menusuk hati Amara. Tapi ia hanya mengangguk, menahan semua emosi yang bergejolak dalam dirinya.

**"Aku tidak akan lupa, Pak,"** bisiknya sebelum melangkah pergi, meninggalkan pria itu dengan rasa yang mulai bercampur aduk di dalam hatinya.

Amara tidak tahu, malam itu adalah awal dari perang yang lebih besar-bukan hanya antara dirinya dan Rendra, tapi juga antara logika dan perasaannya sendiri.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED