Laura duduk di depan meja Rian dengan buku dan laptop terbuka. Skripsinya terbentang di hadapannya, dengan tanda-tanda koreksi dari Rian yang mencoret-coret beberapa paragraf. Rian duduk di seberangnya, menatapnya dengan tatapan tajam namun mengandung ketertarikan.
"Laura, kamu harus memperbaiki bab metodologi ini. Data yang kamu kumpulkan masih kurang kuat untuk mendukung hipotesismu," kata Rian sambil menunjuk salah satu paragraf di layar laptop Laura.
Laura mengangguk lemah. "Baik, Pak. Saya akan mencoba mengumpulkan data tambahan."
Rian tersenyum tipis, matanya masih terfokus pada Laura. "Bagus. Jangan lupa juga revisi bagian kesimpulan. Pastikan semua poin yang kamu buat jelas dan kuat."
"Terima kasih atas bimbingannya, Pak," jawab Laura, berusaha tetap tenang meskipun hatinya berdebar kencang. Ia tahu bahwa sesi bimbingan ini akan segera berakhir, dan ia tahu apa yang akan terjadi setelahnya.
Selesai bimbingan, Laura segera merapikan barang-barangnya. Ia ingin cepat-cepat pergi dari ruangan itu sebelum Rian melakukan sesuatu. Namun, sebelum ia sempat berdiri, Rian sudah menghentikannya.
"Tunggu sebentar, Laura. Kamu lupa sesuatu," kata Rian sambil berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Laura.
"Pak, saya harus pergi. Ada urusan lain yang harus saya selesaikan," kata Laura dengan nada memohon.
Rian menggelengkan kepala, senyumnya semakin lebar. "Tidak, Laura. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan."
Rian mendekati Laura dengan cepat dan tanpa peringatan, ia mencium bibirnya dengan penuh nafsu. Laura terkejut dan berusaha untuk melepaskan diri, namun cengkeraman Rian terlalu kuat. Rian menekuk lehernya, membuat Laura sulit untuk bergerak.
"Pak, tolong... jangan..." bisik Laura di antara ciuman yang semakin agresif.
Namun, Rian tidak menghiraukan permohonannya. Dengan kekuatan yang kasar, ia menjatuhkan tubuh Laura ke sofa di sudut ruangan. Laura berusaha melawan, tetapi Rian lebih kuat. Dengan cepat, ia membuka seluruh pakaian Laura, meremas kedua dadanya dengan ganas.
Laura berontak, tetapi usahanya sia-sia. Rian sudah membuka pakaian dirinya sendiri, siap untuk melampiaskan hasratnya. Ia memaksa dirinya ke dalam tubuh Laura, membuat gadis itu berteriak kesakitan dan mendesah ketakutan.
"Aku sudah bilang, ini akan tetap menjadi rahasia kita," bisik Rian dengan nada dingin di telinga Laura.
Laura hanya bisa menahan air mata dan rasa sakit yang menggerogoti tubuh dan hatinya. Ia merasa hancur, tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan. Setiap kali ia mencoba melawan, Rian semakin kuat menekannya.
Rian berdiri di depan cermin, merapikan pakaiannya dengan tangan yang sedikit bergetar. Setiap gerakan terampilnya berusaha menutupi jejak-jejak kekacauan yang baru saja terjadi. Ia memandang Laura yang berdiri di dekat pintu, matanya penuh dengan kekhawatiran dan ketakutan.
“Laura,” kata Rian, suaranya terdengar lebih tegas daripada yang diinginkan. “Jangan pernah memberitahu siapa pun tentang apa yang baru saja terjadi. Kalau kamu melakukannya, hidupmu akan menderita.”
Laura hanya mampu mengangguk, tidak bisa menahan rasa sakit yang menusuk di bagian bawah tubuhnya. Kekecewaan dan kepedihan yang mendalam memenuhi dirinya. Dia merasa seolah-olah bagian dari dirinya yang paling berharga telah direnggut dengan kejam oleh orang yang seharusnya menjadi pembimbingnya. Dia merasa terjatuh ke dalam kegelapan yang menenggelamkan seluruh hidupnya.
Dengan hati yang berdebar dan langkah yang goyah, Laura melangkah keluar dari ruangan. Setiap langkahnya terasa berat, seolah beban emosional yang dia tanggung melebihi beban fisik yang dirasakannya. Rasa sakit yang menyiksa masih meresap, dan dia merasa seolah-olah dikhianati oleh dunia yang pernah dia percayai.
Ketika Laura tiba di apotek, dia merasa cemas dan bingung. Dengan tergesa-gesa, dia menuju rak yang penuh dengan berbagai jenis obat. Tangannya bergetar saat ia mengambil beberapa pil kontrasepsi dari rak dan mendekatinya ke konter. Berharap agar tindakan preventif ini bisa menghindarkannya dari kemungkinan kehamilan yang tidak diinginkan, Laura merasa sedikit tertekan oleh realitas yang menyakitkan.
Setelah membayar dan meninggalkan apotek dengan obat-obatan di tangan, Laura melanjutkan perjalanan pulang dengan perasaan campur aduk. Dia berdoa agar tidak ada yang bisa menyadari apa yang terjadi atau mencurigai tindakannya.
Sesampainya di rumah, Laura mencoba menenangkan dirinya, berharap bahwa segala sesuatu bisa berjalan normal. Namun, harapan itu segera terkikis saat papanya muncul di ruang tamu, tampak khawatir dengan ekspresi Laura.
“Bagaimana kuliahmu hari ini, Laura?” tanya papanya dengan nada penuh perhatian.
Laura merasa tenggorokannya tercekat, dan pikirannya berputar mencari jawaban yang tepat. Dia tahu bahwa dia harus menyembunyikan kenyataan yang menyakitkan ini dari papanya, meskipun rasa bersalah dan kepedihan yang mendalam melanda hatinya. Dia memaksakan senyum, meskipun wajahnya terlihat lelah dan cemas.
“Baik, Pa,” jawab Laura dengan suara yang kurang meyakinkan. “Kuliah seperti biasanya.”
Papanya tampak sedikit ragu, tetapi tidak menanyakan lebih lanjut. Dia hanya mengangguk, tampak puas dengan jawaban tersebut. Laura merasa bersyukur karena bisa menutupi kenyataan, meskipun dia tahu betapa sulitnya menjaga rahasia ini sendirian.
Laura berusaha untuk menghadapi malam itu dengan segala upaya, namun pikirannya terus kembali pada kejadian yang telah merusak hidupnya. Setiap detik terasa seperti beban berat, dan dia merasa terjebak dalam gelombang kepedihan yang tidak kunjung surut.
Saat dia berbaring di tempat tidur, Laura menatap langit-langit kamar dengan mata yang tidak bisa menutup. Pikiran dan perasaan yang rumit membanjiri pikirannya, membuatnya sulit untuk tidur. Dia merasa kesepian dan hancur, seperti berada di tengah lautan yang tak berujung tanpa arah untuk melarikan diri.
Dengan hati yang penuh luka, Laura tahu bahwa hidupnya telah berubah selamanya. Kini, dia hanya bisa berdoa agar bisa menemukan cara untuk melanjutkan hidup, meskipun semuanya terasa sangat berat dan tidak pasti.
Laura duduk di tepi tempat tidurnya, menatap ponsel di tangannya dengan hati yang hancur. Ia membuka aplikasi media sosial, berharap bisa mengalihkan pikirannya dari kejadian mengerikan yang terjadi pagi tadi. Namun, yang ia temukan justru membuat hatinya semakin sakit.
Di layar ponselnya, ia melihat postingan dari Pak Rian, dosennya. Foto itu menunjukkan Rian sedang tersenyum bahagia bersama istri dan anak-anaknya di sebuah pesta. Mereka terlihat begitu harmonis dan bahagia, seolah-olah tidak ada yang bisa merusak kebahagiaan mereka. Namun, bagi Laura, gambar itu adalah pengingat yang menyakitkan tentang kejadian pagi tadi di kampus.
"Bagaimana bisa dia melakukan ini padaku?" pikir Laura dengan hati yang pedih. "Hanya untuk bisa cepat lulus saja, aku harus kehilangan kesucianku."
Pikiran itu terus menghantuinya. Ia merasakan ketidakadilan yang begitu besar, seolah-olah seluruh dunia telah bersekongkol untuk menghancurkan hidupnya. Sementara Rian menikmati waktunya bersama keluarganya, Laura harus menanggung beban emosional yang begitu berat.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar, menandakan adanya pesan masuk. Laura membuka pesan itu dengan hati-hati, dan menemukan bahwa pesan itu berasal dari Rian.
"Laura, datang ke hotel sekarang. Aku menunggumu di kamar 305," bunyi pesan tersebut.
Jantung Laura berdegup kencang. Ia merasa marah dan takut sekaligus. Bagaimana bisa Rian meminta sesuatu seperti itu ketika ia baru saja memposting foto bahagia bersama keluarganya? Laura merasa jijik dan marah pada saat yang sama.
"Pak, bukankah Anda sedang bersama istri Anda?" balas Laura dengan nada yang bergetar.
Namun, balasan yang datang dari Rian membuat hatinya semakin ciut. "Kalau kamu tidak datang, aku tidak akan membantu kamu lagi. Kamu tahu apa artinya itu."
Ancaman itu menggantung di udara, membuat Laura merasa semakin terpojok. Ia tahu bahwa tanpa bantuan Rian, harapannya untuk lulus dengan cepat akan hancur. Rian memegang kendali atas masa depannya, dan itu membuatnya merasa tak berdaya.
Dengan hati yang berat, Laura mulai bersiap-siap untuk berangkat. Setiap gerakan terasa seperti beban yang harus ditanggungnya. Ia merasa hancur dan tertekan, namun tidak melihat jalan keluar lain.
Sesampainya di hotel, Laura melangkah dengan hati-hati menuju kamar yang disebutkan Rian dalam pesannya. Kakinya terasa berat, seolah-olah setiap langkahnya membawa beban emosional yang tak tertahankan. Ketika ia tiba di depan kamar 305, ia berhenti sejenak, menarik napas panjang, dan berusaha menenangkan dirinya.
"Ini demi masa depanmu," bisik Laura pada dirinya sendiri. "Kamu harus kuat."
Dengan tangan yang bergetar, ia mengetuk pintu kamar. Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan Rian berdiri di ambang pintu, tersenyum kecil seolah-olah tidak ada yang salah.
"Masuklah, Laura," kata Rian dengan nada yang tenang. "Kita perlu berbicara."
Laura melangkah masuk, hatinya berdebar kencang. Ia tahu bahwa ini adalah pilihan yang berat, namun ia merasa tidak memiliki pilihan lain. Ia harus melanjutkan hidupnya, meskipun itu berarti harus menanggung beban yang lebih berat.
Di dalam kamar, Rian duduk di tepi tempat tidur dan mengisyaratkan Laura untuk duduk di kursi yang berada di dekatnya. Laura duduk dengan hati-hati, matanya tidak bisa lepas dari wajah Rian yang tampak tenang dan penuh kendali.
"Kamu tahu bahwa aku hanya ingin membantu kamu, Laura," kata Rian dengan nada yang tenang namun penuh tekanan. "Tapi kamu harus mengerti bahwa ada harga yang harus dibayar untuk itu."
Laura hanya bisa mengangguk, tidak mampu berkata-kata. Ia merasa terjebak dalam situasi yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Jadi, kamu akan melakukan apa yang aku minta, bukan?" tanya Rian dengan nada yang penuh kepastian.
Laura mengangguk perlahan, air mata mulai mengalir di pipinya. Ia tahu bahwa hidupnya telah berubah selamanya, dan bahwa ia harus menemukan cara untuk bertahan dalam situasi yang sulit ini.
"Baiklah, kita mulai," kata Rian, suaranya terdengar seperti perintah yang tidak bisa ditolak.
Laura berdiri di kamar hotel yang remang-remang, hatinya terasa seolah ditusuk ribuan jarum. Ia berusaha menenangkan dirinya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang masih ada di dalam dirinya. Tapi, bayangan kejadian pagi tadi masih membayangi pikirannya, membuatnya semakin sulit untuk berpikir jernih.
Rian, yang kini berdiri di hadapannya tanpa sehelai pakaian pun, tersenyum dengan pandangan yang penuh dominasi. Tubuhnya yang kekar tampak mengancam, dan juniornya yang mengeras dan panjang menambah ketegangan yang dirasakan Laura.
"Merangkak ke atas tubuhku, Laura," perintah Rian dengan nada yang memaksa.
Laura merasa tubuhnya gemetar, tetapi ia tahu bahwa menolak bukanlah pilihan. Ia perlahan merangkak mendekati Rian, dengan hati yang penuh ketakutan dan rasa tidak berdaya. Tubuhnya terasa berat, seolah-olah setiap gerakan membawa beban yang tak tertahankan.
Rian menariknya lebih dekat, tangannya yang kuat memegang kepala Laura dengan tegas. "Sekarang, masukkan ke dalam mulutmu," katanya dengan nada yang tak bisa dibantah.
Dengan hati yang penuh ketakutan, Laura membuka mulutnya dan perlahan memasukkan junior Rian ke dalam mulutnya. Rasa asing dan tidak nyaman langsung memenuhi indra pengecapnya, dan ia merasa mual. Rian mendesah pelan, suara desahan yang membuat Laura semakin merasa terperangkap dalam situasi yang mengerikan ini.
Rian terus memaksa Laura untuk memasukkan lebih dalam, membuatnya merasa semakin sesak. Air mata mulai mengalir di pipi Laura, tetapi ia tetap bertahan, mencoba untuk tidak menunjukkan rasa sakit dan ketidaknyamanan yang dirasakannya. Rian mendesah lebih keras, menikmati setiap detik dari kontrol yang ia pegang atas Laura.
Setiap gerakan terasa seperti siksaan bagi Laura, tetapi ia tidak berani berhenti. Rian mendesah semakin keras, tubuhnya bergetar ketika ia akhirnya mencapai klimaks. Cairan hangat dan kental mengalir ke dalam mulut Laura, membuatnya merasa semakin jijik dan tidak berdaya.
Rian menarik diri, membiarkan Laura yang tersedu-sedu dan berusaha menenangkan diri. Laura merasa hancur, seperti seluruh dunianya telah runtuh. Ia tahu bahwa kejadian ini akan menghantuinya selamanya, meninggalkan bekas luka yang tidak akan pernah sembuh.
"Bagus, Laura," kata Rian dengan nada puas. "Kamu tahu apa yang harus dilakukan untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan. Jangan pernah lupa itu."
Laura hanya bisa mengangguk, tidak mampu berkata-kata. Ia merasa seperti boneka yang tidak memiliki kendali atas hidupnya. Rian berdiri dan mulai berpakaian kembali, seolah-olah tidak ada yang terjadi. Sementara itu, Laura tetap duduk di lantai, tubuhnya gemetar dan hatinya hancur.
Setelah Rian selesai berpakaian, ia melangkah mendekati Laura dan mengangkat dagunya dengan tangan yang kuat. "Ingat, ini adalah rahasia kita. Kalau kamu berani berbicara, kamu tahu apa yang akan terjadi."
Laura hanya bisa mengangguk lagi, air mata masih mengalir di pipinya. Rian tersenyum, kemudian meninggalkan kamar hotel tanpa berkata apa-apa lagi. Laura tetap duduk di lantai, berusaha mengumpulkan kekuatannya untuk berdiri.
Setelah beberapa menit, Laura akhirnya bisa menggerakkan tubuhnya. Ia berdiri dengan langkah goyah, merasa tubuhnya lemah dan tidak berdaya. Dengan langkah berat, ia meninggalkan kamar hotel itu, berharap bisa melupakan kejadian ini, meskipun ia tahu bahwa itu adalah sesuatu yang tidak mungkin.