Selepas subuh aku menghampiri Ambu yang sedang mencuci pakaian, ingin mengutarakan niat ingin ke gunung Kawi.
“Ambu ....” Perempuan bertubuh kurus itu menoleh.
“Naon Neng?” Ibu menjawab sambil tetap menggilas pakaian di atas papan.
Tanganku mengucek-ucek pakaian yang direndam dalam bak sambil jongkok.
“Jangan nyuci, nanti tangan Neng kasar. Udah biarin Ambu aja.”
“Tangan halus juga percuma Ambu, Neng tetap jomblo.” Aku menjawab sambil terkekeh. Tapi tidak Ambu, tatapan matanya seolah menyiratkan kesedihan.
“Gak apa-apa Neng. Mungkin belum ketemu aja. Ambu yakin Neng geulis bakal punya suami yang tampan. Kaya raya.” Penuh harap dibalik kedua bola mata Ambu. Aku merunduk.
Kami terdiam, bergelut dalam pikiran masing-masing. Hanya terdengar kucuran air dari kran dan suara kokokan ayam milik tetanggaku, Teh Ijah.
“Ambuu ....” panggilku pelan.
“Naon Neng? (Apa Neng?)”
Kepalaku merunduk. Mengaduk-aduk busa detergen di dalam bak.
“Ambu, Neng pengen ke gunung Kawi.” Mendengar ucapanku, Ambu menghentikkan kegiatannya.
“Rek naon? (Mau apa?)”
“Mau bertapa supaya cepet kaya Ambu. Neng bosen hidup melarat terus. Dihina orang terus. Neng pengen banyak uang kayak Kang Mardun.”
Terdengar helaan napas Ambu. Pandangannya nanar ke depan. Lalu menghadapku.
“Neng, Ambu juga pengen kaya raya, banyak uang, dihormati orang. Tapi Neng ... kalau pesugihan itu harus memakai tumbal. Yang Ambu dengar, tumbalnya itu orang-orang terdekat.” Aku menyimak penuturan Ambu.
“Contohnya si Mardun, Martinah anak keduanya meninggal mendadak kan setelah setahunan dia jadi orang kaya?” Kali ini bulu kudukku meremang. Membayangkan salah satu anggota keluargaku menjadi tumbal. Seketika niat di hati menciut.
“Maafin Neng, Ambu ....”
“Gak apa-apa. Ambu ngerti. Kalau Neng mau, mendingan ke kota. Cari kerjaan yang dapat menghasilkan uang banyak. Tapi gak boleh jual diri. Ambu gak mau, keluarga kita makin dihina kalau tau Neng bekerja jual diri.”
“Kalau gitu, hari ini juga Neng mau ke kota.”
Ambu mengembuskan napas. Melanjutkan mencuci.
“Ke kota itu harus punya uang banyak Neng. Kita uang dari mana? Bisa makan sehari sekali juga udah lumayan. Sudahlah, di rumah saja. Gak usah kemana-mana!” tukas Ambu pesimis.
Aku berdiri, masuk ke dalam. Mengganti pakaian hendak meminjam uang pada Juragan Beras, Kang Darso.
***
Tiba di depan gerbang rumah Kang Darso, dua truk sedang diisi berkarung-karung beras. Memerhatikan para pekerja yang hilir mudik mengangkut karung beras di atas punggung. Para pekerja itu tidak semuanya masih muda. Ada juga yang seumuran Abah. Andai saja Abah juga bekerja, mungkin ... ah sudahlah.
Rasanya berat sekali melangkahkan kaki untuk menemui juragan beras itu. Semua orang di desa ini tahu siapa laki-laki berambut panjang sebahu memiliki tato ular di atas lengan kanannya.
Walaupun pinjam uang padanya tidak sulit, tapi bunganya setinggi langit. Bilamana tidak dapat membayar dengan harta, maka harus bersedia menjadi babunya seumur hidup atau menjadi istrinya yang kesekian.
Sepertinya harus kuurungkan niat ini. Baru saja tubuhku berbalik tiba-tiba ada seseorang yang memanggil. Aku pun menoleh.
Rupanya Kang Darso sudah menyadari kedatanganku. Laki-laki itu melambaikan tangan. Aku celingukkan.
“Iya, kamu Wulandari! Sini!!” Suara bas itu memanggilku.
Tiba-tiba rasa takut menjalar dalam diri. Apalagi Ambu dan Abah tidak tahu menahu tentang keinginanku untuk meminjam uang pada Kang Darso.
“Kamu mau ketemu Akang kan Lan?” tanyanya dengan tangan kiri di pinggang, dan tangan kanannya memegang rokok.
Aku mengangguk pelan. Tak jauh dari tubuh Kang Darso nampak Teh Ningsih sedang berdiri, memerhatikanku dengan tatapan tak menyenangkan.
“Kenapa atuh malah balik lagi?” Aku masih takut untuk menjawab, hanya mampu tersenyum.
“Ya sudah-sudah, duduk dulu di situ. Akang jadi penasaran, dengan niat kamu datang ke sini sendirian.”
Aku duduk di kursi dekat Teh Ningsih. Wanita itu wajahnya masih masam. Tidak ada keramahan sedikitpun di sana.
“Eh, Ningsih! Ambilin air buat Neng Wulan.”
“Nya Kang.” Sahut Teh Ningsih seraya berlalu.
“Ada apa Lan? Sok atuh ngomong.” Ucap Kang Darso. Bibir hitamnya menghisap kembali rokok yang tinggal setengah.
Aku menelan air liur, mengumpulkan segenap keberanian.
“Eta Kang ... Wulan ... pengen pinjam uang.” Akhirnya kalimat itu lolos juga dari mulutku. Aku bernapas lega.
“Baraha?(Berapa?)”
Aku mendongak, menatap dengan rasa takut pada laki-laki yang hanya mengenakan kaos oblong itu.
“Du, dua juta Kang.”
Teh Ningsih datang kembali dengan membawa dua gelas air putih.
“Emang kamu teh mau kemana Wulan?” Teh Ningsih bertanya setelah meletakkan dua gelas itu di atas meja.
“Wulan pengen ke kota Teh. Pengen kerja di sana.”
Mendengar jawabanku, bibir Teh Ningsih tersenyum mengejek.
Aku tahu, akan banyak orang yang meragukanku untuk berhasil. Mereka tidak akan pernah memberi dukungan apalagi mendoakan agar aku dapat berhasil apalagi bisa kaya raya hasil bekerja di kota sana.
“Halaaah ... paling kerja jadi jab ...”
“Ningsih cicing! Asup ka jero!!(Ningsi Diam! Masuk ke dalam!!)” Aku memegang dada, kaget mendengar bentakkan Kang Darso.
Teh Ningsih nampak kesal ucapannya terpotong. Bergegas wanita yang usianya lima tahun lebih tua dariku itu ke dalam rumah.
“Wulan teh mau kerja apa di sana?”Suara Kang Darso melembut kembali. Aku menggeleng.
Tangan kanan lelaki yang berkumis lebat itu merogoh saku celana.
“Nih uang dua jutanya. Kamu hitung dulu.” Aku menatap tak percaya.
Mudah sekali Kang Darso memberikan pinjaman padaku. Aku meraih lembaran-lembaran uang yang bergambar presiden pertama dengan tangan bergetar. Menghitungnya satu persatu. Setelah dihitung, uangnya las dua juta rupiah.
“Pas Kang.”
“ Ya sudah ambil.” Ucapnya lagi sambil menghisap rokok lalu membuang puntung itu ke bawah, diinjak oleh kakinya yang beralaskan sandal bermerk.
“Makasih banyak ya Kang. Wulan pasti cepat-cepat menggantinya.” Janjiku penuh keyakinan.
“Akang punya kenalan di kota sana. Namanya Suryadi. Biasa dipanggil Abang Sur. Kamu mau gak kerja di tempatnya?” Mendengar info itu, seketika wajahku sumringah.
“Mau Kang mau.” Jawabku dengan wajah berbinar. Kang Darso terkekeh.
“Kamu itu mau-mau aja Lan. Emang tau kerja apaan?”
Iya juga ya? Gimana kalau kerjanya jadi pengedar narkoba? Atau disuruh jual diri? Amit-amit.
“Emangnya kerja apa Kang?”
Kang Darso membetulkan posisi tempat duduk. Menatapku dengan tatapan yang sulit aku mengerti.
“Tenang atuh Lan, mukanya jangan tegang gitu. Kerjanya moal capek. Enak. Akang jamin kamu bakalan betah.”
“Kerja apa emang Kang?” tanyaku makin penasaran.
Jantungku mendadak berdegup, menanti jawaban Kang Darso. Menerka-nerka pekerjaan apa yang tidak capek?
Tak terasa sudah satu bulan aku bekerja di tempat ini, bekerja sebagai pemandu karaoke.
Beruntung gaji yang kuterima adalah harian. Bahkan uang tips dari pelanggan murni hakku. Tak ayal tiap harinya aku bisa mengantongi sejuta bahkan dua juta rupiah.
Ambu dan Abah tiap minggu aku kirimkan uang. Sebelumnya kusuruh Jaka adik pertama membuka rekening.
Hutang Kang Darso pun sudah lunas. Meskipun jadi dua kali lipat. Bagiku tak masalah. Yang penting Kang Darso tidak menceritakan pekerjaanku yang sesungguhnya. Memang yang mengetahui kerjaan ini hanya Kang Darso, Ambu dan Abah.
Aku memberitahu mereka, kalau ada orang yang bertanya aku kerja apa di kota? Katakan saja kerja di kantoran. Di perusahaan besar. Supaya masyrakat sana tidak memandang keluargaku dengan remeh lagi. Semoga saja kebohongan itu menjadi doa.
***
Baru sepuluh hari kedatanganku di tempat ini, Bang Sur bilang, tempatnya makin ramai. Banyak pengunjung dari kalangan pembisnis. Apalagi tempat karaoke ini cukup tertutup. Jadi aman untuk para bos-bos besar itu singgah.
“Kamu itu punya daya pikat tersendiri, Lan. Abang harap Wulan betah di sini, ya? Jangan sampe berhenti.” Bang Sur memuji sekaligus memohon.
Aku tersenyum bangga. Baru kali ini bersyukur memiliki paras cantik. Ternyata kecantikanku ada gunanya juga.
Namun, tidak sedikit pula pemandu karaoke dan artis dangdut di sini terlihat sinis padaku. Entah karena mereka iri atau dengki atau mungkin karena mereka tidak memiliki apa yang aku miliki.
Aku pernah mendengar percakapan Tiara dan Delia di toilet.
“Aku curiga sama si Wulan, Del.” Celetuk Tiara tanpa tahu keberadaanku di salah satu bilik toilet.
“Curiga kenapa?”
“Curiga kalau si Wulan itu pake susuk.”
Susuk? Dia berpikir aku pakai susuk? Susuk sate kali. Ada-ada aja mereka.
“Iya ih, aku juga mikir gitu. Bayangkan saja, sejak kehadiran dia, tempat ini jadi rame. Sampe kedatangan pengusaha-pengusaha. Edan!” Bicara Tiara bernada sinis, iri dan dengki.
“Udah gitu ya, para pengunjung maunya ditemenin dia. Terutama bos-bos. Aku penasaran deh, dia masang susuknya di dukun mana ya?” tanya Tiara. Kalimat terakhirnya bikin aku geli.
Kembali kutajamkan pendengaran.
“Aku juga gak tau. Eh, bukannya kamu juga pake susuk ya?”
“Ssssttt ... jangan keras-keras, Del. Nanti kalau ada yang denger berabe.” Kubuka pintu toilet sedikit, temannya itu menempelkan jari telunjuk pada bibirnya.
“Maaf. Tapi yang aku tahu, si Wulan itu gak mau dibooking lho.”
“Masa? Sok jual mahal amat. Munafik!”
Aku menggelengkan kepala mendengarkan percakapan mereka. sudah tidak dapat dibiarkan mulut Tiara dan si Delia. Dengan kasar aku membuka pintu toilet.
“Siapa yang munafik? Aku?” Tiara dan Delia terperanjat. Mereka saling pandang. Tiara dan Delia pasti tidak menyangka kalau aku ada di balik toilet. Aku menyilangkan kedua tangan di depan dada.
Di sini aku tidak boleh lemah. Tidak boleh ada orang yang menghinaku. Cukup di desa saja. Aku harus pandai memanfaatkan perhatian istimewa pemilik karaoke ini.
“Kalian mau aku laporin ke Bang Sur?” Aku memicingkan mata, memberi ancaman pada mereka.
“Laporin apa? Emang kita ngomong apaan?” Tiara pura-pura dungu. Aku mencebik. Aku tahu dalam hati mereka pasti ketar-ketir.
Tangan kananku mengeluarkan ponsel. Mengangkat benda canggih itu ke depan wajah. Menakuti mereka dengan pura-pura merekam pembicaraan Tiara dan Delia.
“Pembicaraan kalian sudah aku rekam. Aku bisa saja, nyuruh Bang Sur memilih. Pilih pecat kalian berdua, atau pilih aku yang pergi dari tempat ini!” Ancamku penuh penekanan. Wajah Tiara dan Delia langsung pias.
Semua orang di sini tahu, kalau aku karyawan spesial Bang Sur. Adanya aku di sini, omset Bang Sur naik drastis. Apalagi aku mampu menggaet pelanggan dari kalangan atas.
“Ja-jangan Wulan. Kami minta maaf. Tolong jangan laporin ke Bang Sur.” Aku menghela napas. Menatap satu persatu wajah seniorku itu.
Harusnya mereka lebih kuat dan berkuasa dari pada aku. Tiara dan Delia kabarnya sudah tiga tahun bekerja di tempat ini. Sedangakan aku, satu tahun pun belum.
Lagi-lagi aku bangga akan diriku sendiri yang dianugrahi kecantikan alami.
“Oke, aku gak akan lapor, asalkan omongan kalian tentang aku dijaga. Denger baik-baik, aku Wulandari tidak pernah dan tidak akan memakai susuk! Tidak akan pernah mau dibooking. Bukan aku munafik, tapi aku masih punya harga diri sebagai wanita. Tidak akan menghinakan diri sendiri hanya demi beberapa lembar rupiah seperti kalian! Kalian ngerti??” Suaraku meninggi. Seperti seorang bos yang memarahi bawahannya yang bekerja tidak becus.
“Ngerti, Lan .... ngerti,” sahut mereka dengan kepala merunduk dalam. Aku tersenyum puas.
“Bagus. Sekali lagi aku tau kalian berdua ngomongin buruk tentang aku, aku gak akan segan-segan bilang ke Bang Sur untuk pecat kalian berdua.” Jari telunjukku mengarah pada kedua hidung mereka. puas nian ... rasanya aku memarahi si Tiara dan Delia.
“Kami janji, Lan, gak akan ulangi lagi.”
Aku tersenyum puas menyaksikan ketakutan mereka. Mungkin dulu ekpresi wajah aku seperti mereka saat diancam ketika Ambu dan Abah tidak mampu membayar hutang Teh Marni.
***
Malam ini pelanggan dari kalangan bos besar datang. Namanya Pak Sutiyoso. Awalnya dia datang bersama Pak Dewantara. Namun sudah tiga kali dia datang sendirian.
Katanya Pak Dewa dan Pak Sutiyoso teman karib sedari mereka masih sekolah menengah.
Pak Sutiyoso ke tempat ini bukan untuk bernyanyi tapi untuk berkeluh kesah atau istilahnya curhat padaku.
Seperti biasa, aku minta bayaran tiap jam ketika menemani laki-laki berperut gendut itu. Hari gini tidak ada yang gratis. Semuanya serba aku uangkan. Pak Sutiyoso langsung menyanggupi, dia tidak keberatan.
“Kalau perlu, Om bayar lebih dari yang kamu minta. Tapi syaratnya ....”
“Apa Om syaratnya?” tanyaku penasaran. Pak Sutiyoso mendekatkan bibirnya di telingaku.
“Wulan mau Om booking.”
________