Bab 2

Rebeka kaget alang-kepalang mendengar penuturan Alina yang mengatakan kalau mereka bukanlah saudara kandung. Sudah dua puluh dua tahun umurnya, baru kali ini Rebeka mengetahui hal itu. Entah itu hanya guyonan dari sang kakak, atau memang benar adanya. Namun, apa yang diucapkan Alina mampu membuat jantung Rebeka terasa ingin meledak saat itu juga.

"Kakak lagi bercanda, kan?" tanya Alina meyakinkan apa yang dia dengar adalah sebuah kebohongan Alina untuk mengerjainya.

Alina hanya menggeleng pelan tanpa menjawab sepatah kata pun pertanyaan dari Rebeca. Dia sebenarnya tidak mau mengasih tahu Alina tentang hal yang ditutupi selama ini. Bahkan ini ditutupi berpuluh tahun lamanya. Namun, Alina merasa ini waktu yang tepat dia mengungkap rahasia yang sebenarnya tidak boleh dibocorkan oleh orang tua mereka. Alina ingin Rebeka tahu status mereka yang sebenarnya dan seberapa besar cinta serta sayang Alina pada Rebeka.

"Kakak, kamu bercanda." Rebeka memegang erat tangan Alina dan masih berharap ini adalah guyonan semata.

"Maafkan kakak, Re. Kakak mengatakan hal yang sebenarnya. Kakak mau kamu mengetahui ini sebelum kamu jauh dari kakak. Walau kamu bukan adik kandung kakak, tetapi sayang kakak padamu selalu utuh. Bahkan, dibandingkan rasa cinta dan sayang suamimu nanti, sayang dan cinta kakak tidak akan bisa dia tandingi untukmu."

"Kakak bercanda!" tangis Rebeka pecah, dia masih enggan menerima kenyataan yg harus dia terima.

"Jangan menangis. Kamu adalah adikku! Kamu harus kuat dan tidak cengeng lagi. Satu hal yang harus selalu kamu ingat, kakak sayang kamu, Re. Sekarang hapus air matamu. Mau kakak bukanlah kakak kandungmu, ataupun sekandung sekalipun, sayang kakak tetap sama kepadamu. Besar, sangatlah besar sayang kakak padamu, Re." Alina memberikan senyum termanis pada Rebeka yang masih syok dengan apa yang dia dengar.

"Status bukanlah hal yang penting, Re. Yang terpenting itu kakak sangat sayang padamu, dan kakak minta kamu berhentilah jadi gadis manja yang suka sekali menangis. Dari kecil kamu selalu saja manja dan suka menangis, apa stok air matamu gak habis-habis?" canda Alina disela pesannya.

"Kakak, aku masih tidak percaya ini," ungkap Rebeka tentang hatinya yang menolak kenyataan yang dia terima.

"Abaikan saja. Itu tidaklah penting. Mau aku kakak kandungmu atau bukan, status itu tidak akan merubah sayang kakak padamu." Alina menggandeng Rebeka dan mengajaknya kembali menuruni tangga.

"Hapus air matamu! Jangan lupa nanti tersenyum menyambut para tamu." Ujar Alina dengan kaki yang terus mengayun menuruni tangga.

Rebeka hanya diam tanpa berkata apapun. Cerewetnya yang biasa tidak pernah berhenti, kini seakan pensiun tanpa pamit. Dia melaksanakan perintah Alina untuk menghapus air matanya, tetapi dia sudah menjadi orang yang irit bicara dengan kekecewaan yang tidak terbatas untuk saat ini.

"Jangan lupa senyum pada tamu undangan! Untuk yang kita bicarakan tadi, kamu tidak perlu menanyakan sama Mama atau Papa. Namun, kalau kamu ingin tahu kebenarannya, boleh saja tanya sama Mama dan Papa, tapi tunggu acara selesai dan tamu undangan sudah pergi. Biar tidak mengganggu acara sakral pernikahanmu," ujar Alina.

Sekarang Rebeka benar-benar irit bicara. Dia tidak membalas ucapan apapun dari Alina. Sampai langkah kaki mereka menginjak lantai satu, Rebeka masih saja diam dan tidak ada niat sedikit pun untuk angkat bicara.

"Senyum!" bisik Alina untuk mengingatkan Rebeka.

Lagi dan lagi, Rebeka tidak berbicara, tetapi dia menuruti apa yang dikatakan kakaknya. Ngilu bersarang di ulu hatinya yang terus menusuk bagaikan berling dalam daging.

"Anak papa," sambut Basril ketika Alina dan Rebeka sudah berada di dekatnya.

Rebeka hanya diam. Dia begitu kecewa, kenapa papanya itu menyimpan rahasia yang tidak dia beritahu pada Rebeka selama ini. Melihat perubahan anaknya yang biasa periang dan cerewet, Basril mengernyitkan dahinya penuh tanda tanya.

"Adikmu kenapa, Lin?" tanya Basril meminta penjelasan Alina. Karena selama ini yang bersangkutan dengan Rebeka, pasti Alina tahu segalanya.

"Maklum calon pengantin, Pa. Mungkin dia grogi dan mempengaruhi mood dia," jawab Alina yang langsung ditarik pergi oleh Rebeka dari hadapan orang tuanya.

Kepergian Rebeka dan Alina dari hadapannya menyisakan banyak tanya di kepala Basril. Rebeka adalah anak yang begitu cerewet, tetapi hari ini jauh berbeda dari sifat aslinya. Hal itu membuat Basril bingung dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi pada Rebeka. Jika memang karena grogi, Basril sangsi atas itu. Karena sangat tidak mungkin mood Rebeka berubah 180° secara otomatis seperti itu.

"Jangan cemberut begitu. Kalau kamu tidak senyum dan akan selalu cemberut seperti itu, kakak akan tinggalkan kamu di sini. Biar kamu saja sendirian yang menyambut para tamu," ancam Alina, tetapi tidak digubris Rebeka.

Alina yang tidak terbiasa dengan diamnya si gadis cerewet yang selalu manja padanya, dia pun merasa janggal. Penyesalan datang tiba-tiba di hati Alina. Andai dia tidak jujur tentang status mereka, pasti Rebeka tidak akan seperti ini. Ternyata diamnya Rebeka membuat sobekan di hati Alina.

"Perasaan dari rumah Zidan ke sini hanya lima belas menit, tetapi kenapa dia belum datang?" tanya Alina pada Rebeka untuk memancing adiknya itu angkat bicara.

"Tadi sudah mau jalan kesini," jawab Rebeka yang berhasil dipancing Alina.

"Coba kamu telpon dia," usul Alina yang masih ingin adiknya kembali cerewet seperti semula.

Kini sepertinya mereka sudah berubah posisi. Alina yang biasanya pendiam, sekarang banyak bicara. Sedangkan Rebeka, dia yang biasanya over cerewet, sekarang malah jadi pendiam.

"Gimana? Apa gak diangkat?" selidik Alina.

"Nomornya gak aktif, Kak," jawab Rebeka kembali menutup beranda ponselnya.

"Coba telpon lagi. Mungkin karena jaringan tidak bagus," usul Alina yang langsung diangguki oleh Rebeka.

Rebeka kembali mencari nomor kontak calon suaminya, dan menelepon nomor itu kembali. Namun, nomornya masih tidak aktif. Kecemasan datang melanda hati Rebeka saat itu juga.

"Memang tidak aktif, Kak. Apa ponsel dia ketinggalan, habis baterai atau hilang," tebak Rebeka yang mulai panik nomor telepon Zidan tidak bisa dihubungi.

"Coba kamu chat dia saja. Biar saat aktif dia bisa membaca pesanmu. Terkadang nomor tidak aktif itu karena jaringan yang tidak bagus. Apalagi dia di perjalanan. 'Kan katamu tadi dia sudah berangkat kesini. Di jalanan memang sering sinyal hilang," Alina mencoba menenangkan adiknya agar tetap berpikiran positif agar mood dia tidak semakin hancur.

"Atau dia tadi sudah chat kamu sebelum nomornya tidak aktif. Coba cek dulu," imbuh Alina kembali.

Rebeka yang dari tadi memang tidak mengecek aplikasi chat di ponselnya, dengan segera mencari aplikasi itu di layar benda pipih miliknya dan membuka aplikasi itu dengan tidak sabar. Ternyata memang ada beberapa pesan dari Zidan. Bahkan di sana telah menumpuk puluhan chat yang belum dia baca.

"Beneran, Kak. Ternyata dia sudah dari tadi chat aku. Sudah banyak sekali pesannya," ujar Rebeka memberi tahu Alina tentang hasil dari buka aplikasi chat di ponselnya.

"Kak," panggil Rebeka dengan suara bergetar.

"Ada apa, Re? Kamu kenapa?" tanya Alina yang kaget ketika ponsel Rebeka jatuh begitu saja dari tangan sang adik.

Bab 3

Ponsel Rebeka yang tadinya digenggam untuk mengecek pesan dari calon suaminya, kini jatuh ke lantai begitu saja. Sontak membuat Alina kaget dan bertanya-tanya apa yang terjadi. Pikiran Alina langsung dipenuhi hal-hal negatif yang telah terjadi pada Zidan–calon suami Rebeka.

"Ada apa, Re? Apa terjadi sesuatu yang tidak diinginkan?" Tanya Alina sambil mengambil ponsel yang sudah tergeletak di lantai.

Rebeka tidak bisa berkata apapun untuk menjawab pertanyaan kakaknya. Dia tidak menyangka cobaan untuk dirinya hadir pada hari yang seharusnya dia sangat bahagia. Mulai dari dia yang memgetahui kebenaran tentang dirinya yang bukan adik kandung Alina, kini datang lagi cobaan yang tidak kalah dahsyatnya menghantam hati Rebeka.

"Astaga!" Alina terlonjak kaget ketika melihat foto di layar ponsel Rebeka yang sedang berada di tangannya.

"Re, ini seriusan?" tanya Alina minta penjelasan dari Rebeka.

Rebeka tidak menjawab pertanyaan Alina. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya. Berharap Alina tidak percaya pada apa yang terpampang nyata di layar ponselnya.

"Katakan yang sejujurnya, Re! Kamu mau mempermalukan keluarga kita!" Bentak Alina mencengkram lengan adiknya.

"Tidak, Kak. Aku tidak pernah seperti itu," bantah Rebeka dengan berurai air mata.

Alina kembali memperhatikan foto di ponsel Rebeka dengan saksama. Dia meneliti setiap inci foto itu, sesekali dia coba untuk zoom fotonya. Namun, tidak dia temukan tanda-tanda kalau itu adalah sebuah editan. Foto itu bisa dipastikan keasliannya. Sedikit pun tidak ada kejanggalan di dalamnya. Terlihat sangat real sebagaimana foto yang tidak ada manipulasi sedikit pun.

"Ini benar-benar foto asli tanpa editan. Ini kamu, Re. Beraninya kamu berbuat seperti ini!" Alina menatap Rebeka dengan begitu tajamnya.

Alina sangat kecewa pada Rebeka yang dia sayangi selama ini. Alina tidak menyangka Rebeka akan melakukan hal bodoh dan memalukan seperti itu. Apalagi, di saat hari pernikahannya, Rebeka ditinggalkan oleh Zidan. Dengan jelas Zidan memutus hubungannya dengan Rebeka dan membatalkan pernikahan mereka yang seharusnya berlangsung hari ini. Zidan mengirim pesan terakhir pada Rebeka dengan menyematkan beberapa foto Rebeka bersama pria lain. Yang mana di dalam foto itu terlihat Rebeka tertidur pulas dan dipeluk mesra oleh seorang pria dengan tubuh terbuka tanpa busana. Hanya separuh badannya yang tertutup oleh selimut, sehingga tubuhnya masih bisa aman dari potret itu. Namun, dari potret dalam foto yang dikirim oleh Zidan, bisa dilihat kalau saat itu Rebeka dan pria itu sedang tidak memakai baju.

"Kak, tolong percaya padaku. Kakak tahu aku, dan Kakak mengenal siapa aku sepenuhnya. Aku bukanlah wanita murahan seperti itu. Aku tidak pernah tidur dengan laki-laki mana pun, Kak," mohon Rebeka, berharap Alina akan percaya padanya.

"Aku memang mengenalmu, tapi sepertinya aku salah dalam menilaimu. Aku juga kecewa pada diriku sendiri yang tidak bisa menjadi kakak yang baik untuk menjagamu dari hal kotor seperti itu," ujar Alina dengan mata yang sudah menganak sungai.

Rebeka meraih ponselnya dari tangan Alina. Dia mencoba menghubungi nomor ponsel Zidan. Namun, nomor itu sudah tidak aktif lagi. Dengan tangan gemetar, Rebeka menelepon nomor Zidan berulang kali, tetapi hasilnya tetap sama. Nomor Zidan sudah tidak aktif dan sangat mustahil akan tersambung panggilan teleponnya. Rebeka tidak mau menyerah, dia mencoba menelepon Mama Zidan, tetapi panggilan teleponnya selalu ditolak.

"Rebeka!" tiba-tiba suara yang begitu jelas diselimuti kemarahan datang dari arah belakang Rebeka.

Rebeka sudah tahu apa yang akan terjadi. Dia tetap bergeming di tempatnya berdiri. Badai dan gelombang sudah siap menghantamnya. Kini Rebeka hanya bisa pasrah. Kakak yang biasa melindunginya saja sudah tidak percaya, apalagi mama dan papanya yang sudah pasti tidak akan mendengarkan penjelasan Rebeka.

"Dasar anak kotor!" Cacian bersamaan dengan sebuah tamparan berhasil diterima oleh Rebeka dengan hati yang telah hancur.

"Tega kamu mempermalukan keluargamu sendiri!" ujar mamanya dengan pancaran mata yang seakan siap menerkam.

"Bunuh aku!" pinta Rebeka yang sudah putus asa.

Masalah yang datang bertubi-tubi tidak lagi bisa Rebeka tahan di hatinya. Keputusasaan datang tanpa memberi celah untuk akal sehat Rebeka berpikir ulang atas ucapannya. Yang ada dipikiran Rebeka saat ini hanya dengan dia mati, semua masalahnya akan berakhir. Apalagi, Alina yang biasa menyayanginya, membela dikala Rebeka dimarahi mama dan papanya, kini Rebeka merasa Alina sudah tidak lagi ada dipihaknya.

"Jika aku adalah anak kotor yang selalu bikin kalian malu, dan selalu berulah. Silahkan Mama bunuh saja aku," ujar Rebeka dengan suara bergetar.

"Kalau tahu begini, memang lebih baik kamu mati dari kecil. Bisanya hanya membuat malu!" sentilan dari mamanya yang langsung menusuk hati Rebeka.

"Ma, ada apa ribut-ribut begini," sela Papa Rebeka yang baru saja menghampiri mereka.

"Ini, Pa. Zidan membatalkan pernikahannya dengan Rebeka, karena Rebeka ketahuan tidur dengan pria lain. Mana dia tidurnya bawa pria itu ke rumah ini," jelas Mama yang tersulut emosi.

"Astaga. Benar, Re?" tanya papa Rebeka meminta penjelasan anaknya.

Rebeka hanya diam. Dia tidak menjawab sepatah kata pun. "Percuma aku menjawab dan menjelaskan. Semua juga tidak akan percaya," batin Rebeka yang memilih diam daripada menjelaskan.

"Re, jawab papa! Apakah benar apa yang dibilang mamamu?" tanya papa Rebeka kembali meminta penjelasan.

"Papa lihat saja ini." Anita menyodorkan ponselnya pada Bagas.

Di layar ponsel itu terlihat Rebeka yang sedang tertidur pulas bersama seorang pria dengan keadaan sama-sama telanjang. Dapat dilihat kalau mereka berdua sedang tidur di ranjang Rebeka. Itu artinya Rebeka membawa pria itu ke dalam rumah mereka.

"Re! Papa kecewa sama kamu. Papa tidak menyangka kamu akan melakukan hal seperti ini. Mau ditaruh di mana muka papa," ucap Bagas dengan penuh kekecewaan pada anaknya.

"Bagaimana ini, Pa. Tamu sudah pada datang. Jika kita umumkan tentang pernikahan Zidan dan Rebeka yang batal, apa kata teman-teman sosialita mama. Mereka akan mencemooh mama … Pa," keluh Anita.

"Begini saja. Rebeka akan tetap menikah, biar semua berjalan seperti yang telah direncanakan dan nama baik keluarga kita terselamatkan. Kita cari pria yang tidur bersama Rebeka, lalu suruh dia menikahi Rebeka. Ini demi keluarga kita. Biar tidak kena hujat dan tidak diolok-olok oleh tamu yang sudah datang," usul Alina begitu tegas.

"Mama setuju," jawab Anggita cepat.

"Yang tidur sama Rebeka itu adalah salah satu karyawan papa. Biar papa telepon dia," ujar Bagas menyetujui usulan Alina.

Bagas, dia adalah papa Alina dan Rebeka. Dia menelepon orang yang dia sangka tidur dengan Rebeka. Mimiknya terlihat begitu serius. Panggilan telepon itu hanya berlangsung sebentar saja. Tidak banyak yang mereka bicarakan.

"Dia setuju," ungkap Bagas sesaat setelah dia memutus panggilan teleponnya.

"Sebentar lagi dia akan sampai di sini. Kebetulan memang dia dapat undangan untuk menghadiri pernikahan Rebeka," imbuh Bagas kemudian.

Mendengar apa yang dikatakan papanya sesaat setelah menelepon, Rebeka tidak bisa membendung kesedihan yang memberi rasa perih di ulu hatinya. Dia menatap papanya yang acuh padanya, dan beralih menatap Alina meminta kekuatan. Namun, Alina juga mengabaikannya. Kekecewaan terpancar jelas dari air muka Alina.

"Kak," panggil Rebeka ketika Alina melangkahkan kaki akan meninggalkannya.

"Hmm," jawab Alina acuh. Namun, dia memberhentikan langkahnya walau terasa berat.

"Kakak percaya aku melakukannya?" tanya Rebeka memastikan kakaknya.

"Entahlah." Jawab Rebeka yang kembali mengayunkan langkahnya meninggalkan Alina.

"Kakak!" panggil Rebeka kembali, tetapi kali ini Alina sudah tidak menghiraukannya lagi.

"Jika kamu sudah tidak menaruh kepercayaan padaku, Kak. Bagaimana bisa aku meminta kepercayaan pada yang lain. Aku memang hidup di tengah keluarga utuh, tetapi aku bagaikan orang asing ditengah keluarga ini. Hanya kamu yang selalu ada untukku, tetapi kamu juga sudah mencampakkan aku," lirih Rebeka menatap punggung kakaknya yang semakin menjauh.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED