Raya mengerjapkan kedua matanya berulang kali. Rasa sakit di sekujur tubuhnya membuat wanita muda itu meringis menahan sakit.
"Di-di mana aku?" Raya bergumam setengah sadar.
Memegangi kepalanya yang terasa pusing, wanita itu berusaha untuk bangkit. Dengan wajah pucat dan rambut acak-acakkan.
"Auwh ... sa-sakit sekali." Raya semakin meringis kesakitan, begitu merasakan nyeri di bagian inti tubuhnya.
"A-apa yang terjadi?"
Dalam sekejap mata, ingatan wanita itu kembali terlempar pada kejadian beberapa jam yang lalu.
"Itu pasti hanya mimpi! hanya mimpi!"
Dengan tangan gemetar, Raya mencoba memeriksa keadaan tubuhnya di bawah selimut.
Mata gadis itu terbelalak lebar, tubuhnya bergetar hebat. Keringat dingin langsung membasahi tubuh, manakala mendapati dirinya tidak mengenakan selembar benang pun. Tubuh polosnya hanya di tutupi selimut.
"Ti-tidak! Itu tidak mungkin!" Raya meracau tidak karuan. Berusaha menampik ingatan kelam yang membayang di matanya, namun sayang semua itu terpampang nyata di depannya.
Raya lantas menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Namun wanita itu justru berteriak histeris, begitu melihat sosok pria yang tertidur di sampingnya tanpa mengenakan busana.
"Arrgh!"
Teriakan yang begitu keras, memaksa Marcel untuk bangun karena saking terkejut.
Pria itu memijit kepalanya yang terasa pening, masih dengan mata terpejam, belum sepenuhnya menyadari dengan apa yang terjadi.
Samar-samar terdengar suara isak tangis.
Marcel perlahan membuka kedua matanya. Tidak kalah terkejut ketika mendapati dirinya tidak mengenakan selembar benang pun.
"Bajingan! Manusia biadab! Manusia iblis!"
Umpatan kemarahan yang terdengar begitu dekat di telinganya, membuat Marcel reflek menoleh. Kini dirinya yang ganti mengumpat, begitu tatapan matanya bertemu dengan Raya, yang menatapnya dengan penuh kebencian dan kemarahan.
"Siapa kau? Mengapa bisa ada di kamar ini?" tanya Marcel masih bingung.
Di sudut ruangan, wanita itu meringkuk ketakutan seraya memeluk kedua lututnya. Tubuh gemetar dengan air mata yang terus mengalir.
Marcel lantas bergegas turun dari atas tempat tidur. Pria itu memungut pakaiannya yang tercecer di lantai, kemudian memakainya dengan cepat.
Ekor matanya melirik ke atas tempat tidur. Ceceran darah di atas sprei memaksanya mengingat dengan cepat peristiwa yang telah terjadi antara dirinya dan gadis asing itu.
"Shit! Apa yang sudah aku lakukan?!" Marcel kembali mengumpat. Pria itu memejamkan matanya sambil menengadah--menyesali semua perbuatannya kepada gadis itu. Namun, pria itu juga bingung mengapa dirinya sampai tak bisa mengendalikan diri?
Membuang nafas dengan kasar, Marcel tidak tau apa yang harus di lakukannya pada gadis yang menangis ketakutan di sudut kamar.
Hanya saja, pria itu semakin dirundung rasa bersalah.
Marcel pun memberanikan diri untuk menghampiri perempuan yang sedang terluka.
Namun, Raya langsung bangkit. Perempuan itu meremas selimut yang membungkus tubuhnya dengan sangat kuat. "Jangan mendekat! Jangan mendekat bajingan!"
Tubuh ringkih itu terlihat gemetar.
"Hei, tenanglah. Aku tidak akan menyakitimu. Kau bisa mempercayai ucapanku, jangan takut," bujuk Marcel dengan pelan.
Namun, Raya tetap diam. Bagaimana perempuan itu dapat mempercayai ucapannya? Sedang dirinya lah yang membuat hidup wanita itu hancur!
"Iblis! Pergi dari hadapanku! Pergi!" teriak Raya semakin histeris.
Pria yang terkenal kejam dan dingin itu mematung. Untuk pertama kali dalam hidupnya, seorang perempuan dapat membuatnya merasa bersalah begitu hebat. Dia pun tak tahu apa yang harus dilakukan.
Marcel mengerang frustasi. Otaknya tiba-tiba saja buntu--tidak menemukan cara untuk menenangkan gadis itu. Apakah dia harus memaksanya?
Namun, alih-alih memaksa gadis itu, Marcel justru akhirnya mengucap maaf. "A-aku minta ma-maaf."
Hanya saja, suara pria itu seperti tercekik di tenggorokan.
Raya pun terdiam, sebelum akhirnya membanting piring makanan di atas meja yang tak jauh dari tempatnya berdiri.Prang!
"Aku tidak akan memaafkanmu bajingan! Aku tidak akan pernah memaafkanmu!"
Wanita itu bahkan nekad mengambil pecahan piring tersebut, lalu mengarahkannya kepada Marcel yang terus merangsek maju ke arahnya.
"Jangan coba-coba untuk mendekat! Atau aku akan membunuhmu!" jerit Raya dengan penuh amarah.
"Tenanglah. Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya tidak ingin kau semakin terluka, kita bisa membicarakan masalah ini baik-baik. Aku janji, aku akan mengabulkan apa pun yang kau minta." Marcel kembali membujuk dengan segenap daya dan upaya untuk menenangkan gadis itu.
"Aku ingin kau mati! Apa kau bisa mengabulkannya, bajingan?!"
Raya menatap nyalang ke arah Marcel. Seperti ingin mencabik-cabik, tubuh pria yang telah menorehkan luka di hatinya.
Namun, dengan mudah Marcel mengindari setiap serangannya.
"Hentikan! Kau akan melukai tanganmu sendiri!" Pria itu justru khawatir jika wanita yang sedang mengamuk itu malah akan melukai tangannya sendiri.
"Apa pedulimu?"
Emosi Raya semakin menjadi-jadi. Namun, dalam satu kesempatan Marcel berhasil menangkap tangannya, serta dengan cepat membuang pecahan piring di tangan wanita itu.
Dengan satu gerakan, Marcel bahkan membawa tubuh Raya ke dalam pelukannya.
"Ssstt, tenanglah. Aku tidak akan menyakitimu. Aku tidak akan menyakitimu," lirih Marcel. Tangannya bergerak mengusap-usap punggung Raya dengan lembut.
"Lepas bajingan! Lepas!"
Raya terus memberontak, memukul dada Marcel sekuat tenaga, berulang kali. Bahkan gadis itu nekat menggigit bahu pria itu dengan sangat kuat.
Namun, Marcel masih berdiri kokoh. Tidak bergeser dari tempatnya sama sekali.
Justru, pria itu semakin erat memeluk tubuh Raya. Membelai kepala wanita itu dengan lembut. Tidak henti mengusap punggung wanita itu. Entah apa yang terjadi pada dirinya, Marcel pun tak tahu. Yang jelas, saat ini pria itu ingin sekali menenangkan Raya.
"Hidupku sudah hancur. Masa depanku sudah hilang. Mengapa kau tidak membunuhku sekalian?"
Tangis Raya kembali pecah. Wanita itu sudah tidak mengamuk lagi. Tubuhnya lemah di dalam pelukan Marcel.
Marcel memejamkan mata mendengar lirihan gadis itu. Dia membiarkan segala emosi perempuan itu tercurah dalam pelukannya.
"Aku membencimu! Aku tidak akan pernah memaafkanmu! Aku tidak a—"
Tiba-tiba Raya terkulai lemas sebelum dapat menyelesaikan ucapannya.
Menyadari itu, Marcel lantas terkejut. Dicobanya untuk membangunkan Raya dengan wajah panik.
Barulah, pria itu tersadar begitu tangannya tak sengaja menyentuh dahi Raya. Tubuh gadis itu terasa begitu panas dan wajahnya terlihat pucat!
"Hei, bangunlah!"
Marcel mencoba membangunkan Raya dengan menepuk pelan pipi gadis itu.
Namun gadis itu tidak merespon sama sekali. Ia masih setia memejamkan matanya.
Meski panik, Marcel mencoba untuk tetap tenang
Marcel juga sadar keadaan Raya yang tak berpakaian layak.
Dengan tangan gemetar dan keringat dingin, pria itu pun perlahan membuka selimut yang membungkus tubuh gadis itu.
Meski tidak ingin melihat, tapi kedua matanya terbelalak lebar saat mendapati banyak bercak merah dan bekas gigitan di sekujur tubuh bagian atas milik wanita itu.
"Kamu memang bajingan Marcel! Kamu iblis!" desis Marcel memejamkan mata dan mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.
Ia tidak dapat membayangkan betapa gadis di depannya itu sangat ketakutan saat itu.
Selesai memakaikan baju, Marcel bergegas membopong tubuh Raya keluar dari kamar. Dia tidak ingin membuatnya sampai terlambat membawa gadis itu ke rumah sakit.
"Peter!"
Setengah berlari menuruni tangga, Marcel berteriak memanggil nama sang asisten.
Seorang pria muda langsung datang dengan tergopoh-gopoh.
Menahan rasa terkejutnya melihat sang tuan membopong tubuh seorang gadis Peter pun bertanya, "Ada apa, Tuan?"
"Cepat siapkan mobil!"
Mendengar perintah itu, Peter langsung melesat keluar dan menyiapkan mobil untuk sang tuan yang sedang di landa kecemasan.
"Mau di bawa ke mana, Tuan?"
"Kuburan!"
Peter nyaris tersedak ludahnya sendiri. Suasana horor tiba-tiba saja begitu terasa di dalam mobil.
"Tentu saja ke rumah sakit! Ke mana lagi?!" teriak Marcel--nyaris hilang kesabaran.
Peter segera menelan ludahnya. Sang tuan terlihat kacau di pagi buta begini, salah sedikit saja Peter yang bakal jadi sasaran empuk kemarahannya.
"Baik, Tuan. Apa tidak sebaiknya kita bawa saja ke rumah sakit milik Helena, Tuan?" usul Peter hati-hati.
"Kalau begitu cepatlah!" sentak Marcel. Dia tidak peduli kerabatnya itu akan bertanya macam-macam. Yang jelas, Marcel tidak ingin menjadi pembunuh saat ini. Terlebih, ia melihat Raya yang menggigil sambil terus meracau tidak karuan.
Tanpa banyak berkata, ia pun membetulkan selimut yang menutupi tubuh Raya.
*****
Begitu sampai di depan rumah sakit, Marcel langsung menendang pintu mobil menggunakan kaki panjangnya.
Pria itu lalu bergegas turun.
Setengah berlari, Marcel membopong tubuh Raya masuk ke dalam rumah sakit yang langsung disambut oleh beberapa perawat dan Dokter jaga.
"Silakan baringkan pasien di sini, Tuan," ucap seorang Dokter jaga.
Marcel tidak bergeming. Pria itu masih berdiri kokoh di tempatnya, tanpa mengindahkan permintaan Dokter jaga itu.
"Tuan!"
"Aku ingin Dokter Helena yang menanganinya," kekeh Marcel, tanpa mau menurunkan tubuh Raya dari gendongannya.
"Maaf, Tuan. Dokter Helena sedang mengunjungi pasien kritis dan beliau—"
"Aku tidak mau tahu!" potong Marcel dengan cepat. Tak lupa, ia menatap tajam Dokter jaga di depannya.
"Marcel!"
Semua langsung menoleh ke arah pintu.
Tanpa menunggu, Marcel pun bergegas membaringkan tubuh Raya ke atas brankar, begitu melihat kedatangan Dokter Helena.
"Cepat tangani dia!"
"Apa yang terjadi?" tanya Dokter Helena, tanpa mengalihkan fokusnya pada tubuh pasien di depannya.
Marcell terdiam seribu bahasa. Lidahnya begitu terasa kelu untuk menjawab pertanyaan itu.
Merasakan keanehan pria di hadapannya, Dokter Helena lantas mendorong tubuh Marcel agar keluar dari ruangan.
"Kau sebaiknya keluar dulu."
Tak lama, perempuan cantik itu menutup pintu untuk segera melakukan tindakan.
*******
Dengan langkah gontai, Marcel pun menuju kursi tunggu pasien lalu menjatuhkan bobot tubuhnya ke atas kursi tersebut.
Tak lama, Peter pun menghampiri tuannya dan ikut duduk di sampingnya.
"Tuan, sebenarnya apa yang terjadi?" Peter bertanya dengan sangat hati-hati.
Marcel hanya menghela nafas panjang. Pria itu masih setia memejamkan matanya sambil bersandar ke belakang.
Prang!
Marcel langsung menegakkan tubuhnya begitu mendengar suara keributan dan benda pecah dari dalam ruang UGD.
Pria itu bergegas masuk tanpa berpikir untuk mengetuk pintu terlebih dahulu.
Melihat pemandangan di depannya, tubuh Marcel langsung membeku seketika.
"Apa yang .... terjadi?" Suara Marcel serak. Ia tidak mampu untuk melanjutkannya lagi.
"Seharusnya aku yang bertanya kepadamu!" sentak Dokter Helena, menatap tajam ke arah Marcel.
"Jangan mendekat! Jangan sentuh aku! Jangan sentuh aku!" Raya menjerit histeris. Kedua matanya bergerak liar ke sana kemari seolah melihat hantu di depannya.
Di tangannya, terdapat sebuah pisau bedah yang sangat tajam. Perempuan itu seolah siap mengarahkan kepada siapa saja yang mencoba mendekatinya.
"Marcel! Hati-hati!" pekik Dokter Helena begitu Marcel nekat untuk mendekat.
"Jangan mendekat!" Raya kembali berteriak dengan tatapan nyalang ke arah Marcel.
"Ssstt, tenanglah. Aku tidak akan menyakitimu, jangan takut," bujuk Marcel.
Pria itu berkata dengan lembut sambil terus mendekat. Hanya sebuah pisau bedah, bahkan butir peluru pun sudah sering Marcel rasakan.
Hanya saja, Raya semakin menatap nyalang ke arah Marcel. Aura kebencian dan amarah begitu terpancar jelas di wajahnya yang pucat pasi.
"Bajingan! Jangan mendekat! Atau aku akan membunuhmu!" ancam Raya.
"Kau harus sembuh lebih dulu, jika ingin membunuhku," kata Marcel dengan tenang.
"Jangan mendekat aku bilang! Jangan mendekat!" Raya semakin histeris.
Dengan membabi-buta, wanita itu mengayunkan pisau bedah di tangannya ke arah Marcel.
Tap!
Dengan mudah, Marcel dapat mencekal tangan Raya. Lalu, dengan cepat, pria itu merebut pisau bedah itu lantas membuangnya ke sembarang arah.
Marcel kemudian membawa Raya ke dalam pelukannya dengan gerakan lembut.
"Lepas! Jangan sentuh aku! Lepaskan aku biadab!" Raya terus meronta di dalam pelukan Marcel.
Memukul, menampar bahkan menggigit bahu Marcel.
Semua orang begitu ngeri melihat pemandangan itu. Namun, Marcel tetap tenang.
Pria itu justru mendekap erat tubuh Raya. "Ssstt, tenanglah. Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu," bisik Marcel.
Meski terus meronta, perlahan Raya terdiam. Tubuhnya sudah terlalu lemah untuk terus memberontak.
Bahkan di saat Dokter Helena menyuntikkan obat penenang di lengannya, wanita itu diam.
Dengan lembut, Marcel kembali membaringkan tubuh lemah itu ke atas tempat tidur.
Gurat luka dan kesedihan tergambar jelas di wajah Raya, membuat hati Marcel seolah hancur berkeping-keping karena rasa bersalah yang semakin mendera hatinya.
"Kau harus menjelaskannya padaku, Marcel!" Suara dingin Helena membuat Marcel lantas menoleh ke wanita itu, "Tapi, sekarang kau sebaiknya keluar. Kami harus memberikan tindakan untuknya."