Apakah aku terlalu naif jika kubilang bahwa aku cemburu dan merasa tak berharga ketika entah di kali yang ke berapa selalu namanya yang suamiku sebut-sebut?
***
"Lho, lho, Nay, kenapa? Dateng-dateng mukanya dilipat gitu. Padahal Umi dah masak yang spesial hari ini."
Aku menegur Kanaya, putri sulungku yang usianya sebentar lagi genap sebelas tahun. Gadis berperawakan tinggi semampai itu menoleh sekilas lalu membuang napasnya kasar.
"Nay mau pindah sekolah, Umi. Pindah ke tempat yang jauh. Boleh, ya, Mi. Please," ucapnya dengan nada sengau. Bisa kutebak kalau gadisku itu tengah menahan tangis.
"Nay baru pulang, kan? Pasti capek, pasti laper. Sekarang Umi bantu rapikan tasnya. Jadi Nay bisa masuk kamar buat ganti baju. Abis itu kita makan bareng, deh. Ayo cepet, Sayang."
Aku mendorong pelan tubuh yang tingginya kini hampir menyamaiku itu. Entahlah. Nyaris seratus persen fisik Kanaya adalah fotokopian abinya. Sampai-sampai saat mereka berdua tidur jejeran pun aku akan sedikit kesulitan membedakan perawakannya.
Usai berganti pakaian, Kanaya berlari langsung menuju meja makan.
"Wow, cumi hitam." Ia berdecak kagum.
"Iya. Suka, kan? Sengaja lho, Umi bikinin untuk anak Umi yang paling cantik itu."
"Ya gimana gak paling cantik. Wong anak Umi cuma satu," balasnya dengan pura-pura merengut. "Tapi, kenapa Umi masaknya banyak banget?"
"Hussh. Jangan teriak-teriak dong, nanti Abi bangun."
"Bodo."
"Eh, Nay?"
"Maaf, Mi."
"Inget sayang. Kesal dan marah itu manusiawi. Umi nggak mau larang. Tapi tetep, mulut ini harus terus dijaga. Nay tau kan kalau udah haid, maka semua perbuatan Nay sudah ada pertanggungjawabannya sendiri. Nanti nyesel kalau hanya gara-gara kesel sama Abi, malah jadi Nay sendiri yang menumpuk-numpuk dosa," ucapku hati-hati.
"Iya, Mi."
"Ya udah, kita stop dulu ngobrolnya, ya. Biar bisa makan dengan baik," ucapku sambil menarik kursi lalu duduk di depan gadis itu.
Kami pun akhirnya makan dalam hening. Hanya denting sendok yang sesekali beradu cukup nyaring dengan piring yang ada di depan kami. Aku tak bisa menebak dengan apa yang telah dilalui Kanaya hari ini di sekolahnya. Namun yang jelas, apa pun itu semoga saja makanan yang susah payah kuhidangkan ini menjadi sebaik-baiknya mood booster untuknya.
Sejujurnya, mungkin bukan hanya Kanaya yang akhir-akhir ini merasa tertekan. Aku apalagi. Rasanya sudah lama tak bisa tertawa selepas biasanya. Entah kapan kebahagiaan yang dulu kumiliki bisa kembali. Entah kapan terangnya cahaya gemintang itu kembali menghiasai hari-hariku lagi.
"Mi, Nay ke kamar dulu, ya." Pamit Kanaya setelah menyelesaikan makannya.
"Iya. Umi juga mau siap-siap ini. Nay hati-hati di rumah, ya."
Langkah gadis itu terhenti sejenak lalu berbalik. "Kalau Umi pergi, Nay berdua dong sama Abi?"
"Iya. Memang kenapa?"
"Malas. Nay juga mau pergi kalau gitu!"
"Ikut Umi ngaji?"
"Nggak, lah. Nay main aja ke rumah Vivi."
"Ini tengah hari, Sayang. Nggak enak main ke rumah orang. Lagian rumahnya Vivi kan ada warungnya. Pasti berisik. Nay kan capek mau istirahat."
"Nggak apa-apa. Daripada di sini." Dengan menghentakkan kakinya, Kanaya pun berlalu.
***
"Nay, kalau udah siap cerita, Umi juga dah siap dengerinnya." Malam hari, aku sengaja menemui Kanaya di kamarnya.
Kamar yang didekorasi sesuai keinginan dan seleranya. Sebagai anak yang menjelang gadis, kanaya memang suka sekali dengan aktivitas mengumpulkan dan menyimpan berbagai pernak-pernik serta perintilan khas remaja. Alhasil, meski awalnya cukup luas, kamar ini sekarang sudah lumayan penuh. Terlebih, abinya yang berjiwa pengasih itu tak segan-segan menuruti semua keinginan putrinya. Hanya saja, satu dari keinginan Kanaya kali ini benar-benar tak sanggup dikabulkan pria itu. Entah karena apa.
"Apa Abi udah suka sama Ibu, ya?" Mata bulatnya menatapku telak.
"A-apa Nay?"
"Umi kenapa melamun? Pasti nggak dengerin Nay, kan?"
"Denger, kok. Umi denger."
"Coba jawab."
"Duh, anak Umi jangan galak-galak, dong. Kan, kasian Uminya yang udah tua," balasku berusaha menggodanya.
"Tuaan Ibulah daripada Umi!"
"Tuh, kan. Malah ketus sekarang. Ayo, Umi maunya ngobrol sama Nay yang kalem, Nay yang baik hati dan murah senyum."
"Nay yang cantik juga dong, Miii." Kanaya kini turun dari kasurnya dan tidur di pahaku.
"Pasti, itu. Kanaya gadis tercantik di hati Umi. Cantik luar dalam."
"Amiin."
"Tadi ada yang bikin kesel di sekolah?" Sambil kuusap lembut helai demi helai dari rambutnya yang tebal, kepalaku jadi teringat awal aku membuka hijab di depan abinya Kanaya.
Setelah selesai magrib saat itu, abinya Kanaya pulang dari masjid lalu menemuiku di kamar. Ia cukup kaget saat dilihatnya aku masih mengenakan pakaian rapi dengan kerudung langsungan sedada.
"Neng, kenapa masih dipake kerudungnya? Kamu nggak gerah?" Tanyanya saat itu. "Sini, duduknya lebih deket."
"Iya, A."
"Jangan bilang mau tidur pakai kerudung." Suaranya yang teramat lirih, malah membuyarkan segenap keberanian yang sejak tadi kukumpulkan.
"Nggak. Neng hanya ingin dibuka sama tangan Aa sendiri."
"Yakin?" Kini senyum tipis tercetak di wajahnya yang tampan.
"Iya. Itu sebenernya mimpiku sejak dulu. Bahwa orang yang akan membuka hijabku untuk pertama kalinya adalah suamiku." Usai mengucapkannya dengan lirih, hatiku menjadi deg-degan tak menentu. Maklum, sebelum menikah kami hanya bertemu tiga kali. Sehingga duduk seperti ini saja sudah membuat pori-poriku mengalirkan keringat dingin dan sedikit hilang konsentrasi.
"Terima kasih, Neng. Terima kasih sekali sudah hadir dan menjadikan Aa seorang pria yang beruntung mempersuntingmu," tuturnya lembut.
***
"Mi, Mi." Dengan keras, kanaya mengungcang lenganku.
"Eh, ya, Nay."
"Umi ngelamun lagi, ah. Nggak seru!"
"I-iya. Maaf. Umi nggak sengaja."
"Jadi kenapa, Nak? Hal apa yang mengganggumu?"
"Temenku ngejekin aku gara-gara Ibu."
"Kok, Ibu? Memangnya kenapa?"
"Iya. Katanya masa punya dua ibu. Masa Abiku punya istri dua. Abiku centil katanya Miii. Kayak di tv-tv. Istrinya banyak."
"Astaghfirullah. Nggak, Nay. Abi Nay nggak kaya gitu."
"Terus kenapa Abi nikah sama Ibu? Kenapa aku harus punya adik dari Ibu, nggak dari Umi aja?"
"Sayang, i-itu, ...."
"Umi juga nggak bisa jawab kan? Nggak bisa jelasin kan? Apalagi Nay!" Dengan berurai air mata, Kanaya berlari ke luar kamar.
Saat kuikuti, langkah gadis kecil itu berhenti di kamarku dan membuka pintunya.
"Mana Abi?"
"Abi ke rumah Ibu, Nay."
"Tuh, kan. Sampai untuk pergi aja Abi dah nggak butuh lagi pamit sama Nay."
"Bukan gitu. Kemarin saat Abi dapet telepon, Nay kan lagi di rumah Vivi. Abi bilang kok, ke Umi. Dan minta tolong sampaikan maaf Abi sama Kanaya."
"Bohong!"
"Nggak, Nay. Umi kapan sengaja bohong sama Nay?"
"Iya, Nay percaya. Umi nggak pernah bohong." Kemudian Kanaya melewatiku dan kembali memasuki kamarnya. "Met malam, Mi. Nay bobo dulu."
"Selamat malam, Sayang."
Andai kamu tahu, Nak. Betapa Ibu pun merasa hancur berkeping dengan kenyataan ini. Kenyataan bahwa sejatinya pria yang ibu anggap bisa dipercaya, menghancurkan semuanya.
***
Magrib hampir saja tiba, saat mobil Kang Zayyin memasuki pekarangan.
"Assalamualaikum, Nay ngaji?" tanyanya begitu ia melewatiku. Kulit mukanya yang bersih terawat dan bercambang tipis, cukup membuat debar di dadaku perlahan hadir dan mulai memainkan genderang asanya yang indah. Ah, rasanya memang sudah cukup lama aku tak lagi merasakan ini terhadapnya.
"Iya, Bi."
"Yah, gagal. Padahal Abi kangen banget, Mi."
"Memangnya cuma Abi yang kangen? Nay juga sama atuh." Entah kenapa tiba-tiba saja aku ingin sekali menumpahkan kekesalan Kanaya kepadanya.
Mendengarnya, Kang Zayyin memilih diam. Ia tak lagi membalas ucapanku. Bahkan saat kutengok, pria itu sudah tenggelam kembali dengan ponselnya.
Selalu saja begitu.
***
"Mi, Si Nay kenapa? Abi ajak ngomong diem terus. Abi masuk ke kamar pun pintunya dia kunci." Saat tubuhku penat dan ingin sekali merebahkan diri, Kang Zayyin mengeluarkan uneg-unegnya tentang putri kesayangannya itu.
"Gimana kabarnya Faqih?"
"Abi nanyain Kanaya, Mi. Jangan ubah fokus."
"Pengen tau aja. Sekalian pengen doain kalau emang masih sakit."
"Nggak. Udah sehat sekarang."
"Alhamdulillah, syukurlah kalau gitu," ucapku berusaha tulus, "kalau tentang Kanaya, baiknya Abi ikhtiar lebih keras lagi, ya. Jangan pengen instan main bujuk-bujukin Umi."
"Iya, nanti Abi coba. Tapi sebaiknya Umi juga cerita ada apa sama Kanaya."
Dengan duduk bersandar, aku berusaha menyampaikan semuanya. Semua yang Kanaya alami akhir-akhir ini. Tentang bulyan, juga tentang cibiran yang didapatnya.
Memang, dulu kami sengaja menutupi perihal pernikahan kedua abinya ini sama Kanaya. Hal itu karena kami pikir kami sendiri butuh waktu untuk saling adaptasi. Aku dan Kang Zayyin tepatnya. Sehingga, setelah beberapa bulan Kang Zayyin menikah, Kanaya perlahan-lahan baru diberi tahu.
Awalnya, anak itu cukup antusias. Kepala anak-anak mungkin tak cukup rumit untuk memikirkan ada apa dengan ibu serta ayahnya. Ia hanya berpikir bangga akan punya adik baru, dan bahagia karena disayangi dua ibu.
Semua berubah ketika orang-orang di sekitarnya, terutama teman-temannya tahu lalu mulai mempengaruhi pikiran serta sikapnya.
Kanayaku jadi pemurung, tak lagi mau bervideo call dengan sang adik bayi. Dan yang terparah, sinar cinta kepada pria kebanggaannya yakni abinya, meredup tak terelakkan lagi.
"Abi ngerasa bersalah, Mi."
"Sabar, ya, Bi. Nanti Kanaya juga pasti bakal ngerti. Dia hanya merasa waktu Abi sangat kurang untuknya. Maklum, sebagai anak tunggal, selama ini kan apa-apa selalu sama Abi."
Perlahan aku sadar. Sedapat mungkin aku harus meredam egoku sendiri kali ini. Aku tidak mau saat hubungan Kanaya merenggang dengan Kang Zayyin, aku pun ikut jauh. Sebab, bisa saja hal itu dijadikan alasan olehnya untuk lebih sering lagi berada di rumah Teh Wike ketimbang denganku dan Kanaya.
***
Sejujurnya, selain karena Teh Wike seorang perempuan yang telat menikah, alasan lainnya kenapa aku mengijinkan Kang Zayyin mendua adalan materi. Iya, setelah pernikahan kami lebih dari sepuluh tahun, ekonomi kami jauh lebih dari cukup. Karirnya Abi Kanaya itu melesat begitu Kanaya lahir. Yang awalnya hanya seorang penterapi dan bekerja pada orang lain, Kang Zayyin kini sudah menjadi seorang owner untuk beberapa cabang usaha miliknya. Hingga kupikir, meski mendua, beliau tak akan membuat anak istrinya berkekurangan apalagi melarat.
Aku salah jika ternyata masalah memiliki istri baru tak semata uangnya yang terbagi. Namun juga waktunya, fokusnya, kepeduliannya dan yang paling menyedihkan adalah hatinya.
Entah aku yang terlalu sombong karena merasa Kang Zayyin begitu cinta mati padaku, entah memang Allah ingin aku paham sejatinya apa-apa yang pernah kumiliki pada kenyataannya bukanlah benar-benar milikku. Sehingga hanya dengan kehadiran Faqih saja, buah hati Kang Zayyin dengan pengantin barunya, sanggup mengubah nyaris semua yang ada pada diri pria itu.
Jadi memang betul, di dunia ini semua fana. Ada waktunya terenggut, ada saatnya selesai.
Sementara tentang Teh Wike, perempuan berkulit hitam manis itu ramah dan baik hati kepada siapa pun. Usianya terpaut jauh baik dengan Kang Zayyin terlebih denganku. Bahkan dulu, saat umurku masih kanak-kanak, aku mengaji di bawah asuhan beliau.
Selain sabar, bagiku Teh Wike seorang perempuan cantik yang pandai dalam segala hal. Pintar memasak, membuat kue, terlebih merawat diri. Hingga meski usianya sudah lumayan, tetapi fisiknya tidak terlalu jauh berbeda dengan gadis kebanyakan.
Teh Wike juga sering aktif di lingkungan masyarakat, yakni menjadi orang yang suka menghandle dapur di acara-acara hajatan. Itulah kenapa beliau menolak saat kami memintanya untuk memiliki rumah di Bandung, berdekatan dengan rumah kami. Alasannya karena di kampung, tenaganya lebih banyak bermanfaat untuk masyarakat daripada jika beliau pindah dan hidup di kota. Hingga saat tiba jatahnya Kang Zayyin bersama Teh Wike, priaku itu akan mengerjakan beberapa pekerjaannya via online. Sementara raganya full di kampung, membersamai istri tercinta.
***
"Nay, nanti pulang jam berapa?" Kanaya yang sedang sarapan, berhenti sejenak mengunyah lalu menatap ke arahku.
"Umi mau pergi?"
"Nggak, Nak. Tapi Abi pengen ajakin kita jalan."
"Ya udah, pergi aja," dengkusnya seperti kesal.
"Perginya sama Nay, makanya Umi nanya."
"Males."
"Ini Umi yang pengen, Sayang. Umi bete. Umi pengen kita refreshing."
"Ya udah, Nay mau. Nanti Nay langsung pulang, Mi."
"Syukurlah kalau gitu. Nanti Umi siapin semuanya, ya."
"Iya, Mi. Oh, ya. Nay dah selesai, Mi. Pamit dulu, ya."
"Iya, Sayang." Aku yang masih sibuk dengan urusan mencuci pakaian, hanya bisa memandangi tubuhnya yang menjauh.
Tadinya abinya ingin mengantar Kanaya berangkat seperti biasa. Namun, karena masih tetap memasang aksi tutup mulut, Kang Zayyin menyerah dan memilih pergi mengontrol cabangnya.
***
Saat aku tengah asyik menyantap bakso, Kang Zayyin pulang.
"Kirain Umi masih lama pulangnya, Bi."
"Loh, kan kita mau pergi nanti nunggu si Nay pulang. Ini sebentar lagi Zuhur, Mi," balasnya seraya duduk. "Kenapa? Umi mau pesen sesuatu?"
"Nggak, Bi."
Tiba-tiba saja hatiku berdenyut sakit. Bukan Kang Zayyinku jika balasannya seperti itu.
Sebab priaku, biasanya saat akan pulang ke rumah, selalu iseng bertanya lagi apa, mau dibawain apa. Bahkan meski istrinya bilang nggak mau apa-apa, sebungkus makanan kecil akan selalu ia bawa.
Tak peduli istrinya jadi mengomel panjang karena dianggapnya boros. Yang dipikirkan pria itu hanyalah keinginannya membahagiakan sang istri dengan caranya.
Bukan seperti ini.