Bab 2

“Aku tidak mengirim istriku untuk menjadi pembantu di sini, Ma. Kenapa dia sibuk mengambil piring dan gelas kotor sementara kalian enak-enakan makan?” Kudengar suara itu. Aku menoleh dan tertegun. Mas Alka menatap ke arah ibu mertua dan para iparku yang tampak sedang asyik makan.

“Bukan begitu, Alka. Dia yang mau dan menawarkan diri sendiri, kok. Mama ajak gabung aja dia malah nolak.” Pintar sekali dia memutar balikan fakta. Mas Alka menatapku tajam dan melemparkan pertanyaan.

“Apakah benar semua itu, Dek?” Netra Mas Alka menatap padaku. Semua sorot mata tamu pun tertuju padaku akhirnya.

“Iy-iya.” Aku mengiyakan, tapi disertai dengan anggukan ragu.

Aku hanya tidak ingin terjadi keributan di acara ini. Tidak enak dilihat orang.

Mas Alka menghampiriku setelah melirik sinis pada meja yang ditempati ibu mertua dengan ipar-iparku. Sepertinya dia tidak sepenuhnya percaya, tapi bagaimanapun juga aku sudah mematahkan tuduhannya. Maafkan aku, Mas.

“Tuh kan, kamu dengar sendiri jawaban Madina. Dia memang menawarkan diri, bosan katanya. Mama udah larang juga tadi, tapi dia berkeras,” ujarnya dengan penuh percaya diri.

Aku menghela napas. Sudahlah tidak perlu lagi diperpanjang dan diperdebatkan. Aku menantu baru di keluarga ini, sudah sepantasnya aku mengalah dulu dan menghargai semuanya.

“Dek, beneran apa yang dikatakan mama? Kamu memang inisiatif menawarkan diri?” tanyanya menatapku.

Sekali lagi aku mengangguk. Aku tidak mungkin memperkeruh keadaan. Tidak ingin suamiku berbuat kekacauan di hadapan banyak orang. Kalau pun kubantah, yang ada ibu mertuaku pasti akan semakin meradang, dan aku yakin dia tidak akan mengakui semuanya di depan banyak orang.

“Iya, Mas. Aku bosen tadi … lagian kasihan Bi Romsih sibuk sendirian.” Akhirnya, kalimat itu yang keluar dari mulutku meski bertentangan dengan hati yang sebenarnya geram.

Mas Alka tersenyum miring. Dia mengusap pucuk kepalaku yang terbalut kerudung.

“Mas tahu apa yang ada dalam pikiranmu, Dek,” ucapnya. Lalu Mas Alka memintaku meletakkan gelas dan piring kotor itu kembali ke atas meja. Dia menggamit jemariku dan mengajakku berjalan menghampiri mereka.

“Ma, sekarang sudah ada aku. Madina biar duduk saja di sini menemani aku makan. Dia pastinya gak akan bosan lagi,” ucapnya datar.

“Ma, selamat ulang tahun, ya. Maafkan aku kalau belum bisa menjadi anak yang mama banggakan. Namun, bagiku, mama tetap mendapat kedudukan yang tinggi di hati ini.”

Mas Alka memeluk wanita itu. Tampak sangat tulus ucapan itu terlontar dari mulutnya.

Kutatap sekilas wajah ibu mertuaku, tampak datar saja. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Namun, tidak baik berburuk sangka, meski aku tahu jika Mas Alka bukan anak kesayangannya.

“Ehmmm. Ngasih ucapan doang, kadonya mana?” Kudengar Mas Hamdan yang sudah berdiri di belakang suamiku menyapa.

Mas Alka melepas pelukan pada ibunya. Suamiku menoleh dan mengulas senyum pada lelaki yang berdiri tidak jauh darinya itu.

“Aku memang belum bisa ngasih kado mahal, tapi setiap malam aku selalu panjatkan doa. Sesuatu yang pastinya lebih berharga daripada sekadar harta,” ucap Mas Alka. Ya, kami hanya membeli satu kado dengan uang tabungan yang sudah kami kumpulkan.

Mas Alka selalu bilang ingin memberikan hadiah yang berkesan untuk ibu tercinta. Aku pun setuju, sebagai menantu sudah selayaknya mendukung suami untuk berbakti pada ibunya.

Mas Hamdan berjalan dan menghampiri ibu mertuaku. Padahal sejak tadi mereka diam saja, ketika Mas Alka datang seolah sengaja ingin menunjukkan kekayaan di depan kami.

“Ma, selamat ulang tahun, ya. Ini kukasih sesuatu buat mama agar bisa gesek belanja di mana saja,” ucapnya sambil mengeluarkan sebuah kartu kredit. Maklum Mas Hamdan bekerja di bank. Jadi, baginya mudah untuk mendapatkan fasilitas kartu kredit seperti itu.

Tampak wajah ibu mertuaku berbinar. Wanita lima puluh lima tahun itu tersenyum lebar. Ditepuk-tepuknya pundak Mas Hamdan setelah melepas pelukan.

“Kamu itu memang anak mama yang selalu paling ngerti keadaan mama. Makasih, Ndan,” ucapnya dengan semringah. Dia segera memasukan kartu kredit itu pada tas kecil yang disimpannya di atas meja.

Sementara Mas Hadi dan Mas Hamish masih belum beranjak dari meja tempat duduk mereka. Selama ini yang tampak paling tidak ingin tersaingi keberadaannya di depan ibu mertuaku memang hanya Mas Hamdan.

“Hadi. Hamish. Ayo sini … mama mau potong kue,” ucap ibu mertuaku sambil menoleh ke arah Mas Hadi dan Mas Hamish. Keduanya berdiri dengan enggan dan berjalan menghampiri meja. Kemudian menjatuhkan bobot mereka di sisi yang berlawanan dengan kami.

Aku duduk bersisian dengan para iparku dan Mas Alka. Ibu mertua dan Mas Hamdan duduk di meja seberang. Sementara Ajeng, entah ke mana dia menghilang.

Kue akhirnya dia potong-potong. Setelah MC memandu membacakan doa. Potongan-potongan itu disimpannya dalam piring kecil.

Ibu mertuaku memberikan potongan kue pertamanya pada Mas Hamdan—anak tertua sekaligus anak yang paling disayanginya. Kemudian potongan kedua diberikan pada Mas Hadi, menyusul potongan-potongan berikutnya dibagikan untuk pada anak dan menantunya yang lain. Potongan kue lainnya diberikan pada Ajeng dan calon suaminya yang baru saja datang. Baru setelah semua selesai dia memberikan potongan terakhir pada Mas Alka dan menyimpan dua sendok di atasnya.

“Bu, kok cuma satu?” tanya Mas Alka tidak terima, karena menantu yang lain masing-masing diberikan satu porsi juga.

“Ini buat ponakan-ponakan kamu nanti, sebentar lagi Hamzah, Elena sama Miranti sampai. Tadi lagi dianter supirnya Hamdan pergi ke supermarket sebentar,” ucapnya sambil melirik ke arah Bi Romsih yang kebetulan sedang lewat setelah mengambil piring-piring kotor.

“Bi, ini nanti bawa ke dalam. Buat cucu-cucuku nanti,” ucapnya sambil mengulangkan tangan.

“Iya, Bu.” Bi Romsih gegas menghampiri tempat duduk kami.

“Ini sekalian juga simpan saja, Bi. Buat ponakan saya saja.” Mas Alka menaruh kembali kue dalam piring kecil itu dan mendorongnya ke arah Bi Romsih.

“Iya gak cocoklah kue mahal kayak gini di lidah kamu, Ka. Lagian gak sebanding sama kadomu juga. Kado saja kamu cuma ngasih satu, ‘kan? Itu juga gak tahu harganya berapaan?” celetuk Mbak Mirna sambil menyuap kue ulang tahun ke mulutnya.

“Makanya jadi orang itu jangan suka membangkang, Ka. Kebanyakan gak nurut sih sama orang tua. Coba kamu dulu nikah sama Ratna, sudah pasti kamu hidup senang juga. Bisa beli kado mahal buat Mama.” tambah Mbak Melda sama pedasnya.

Tanpa kusangka Mas Alka menggebrak meja hingga membuat semuanya terkejut dan menarik perhatian para tamu yang sedang menikmati hidangan.

“Istriku memang tidak berpendidikan tinggi dan kaya raya seperti kalian. Namun, istriku kudidik untuk bisa bersikap santun dan menjaga ucapan. Apakah kalian tidak pernah belajar tata krama di sekolah, bagaimana caranya menjaga lidah? Buat apa cantik dan kaya kalau tidak berbudi pekerti dan hanya memelihara kedengkian?”

Bab 3

“Istriku memang tidak berpendidikan tinggi dan kaya raya seperti kalian. Namun, istriku kudidik untuk bisa bersikap santun dan menjaga ucapan. Apakah kalian tidak pernah belajar tata krama di sekolah, bagaimana caranya menjaga lidah? Buat apa cantik dan kaya kalau tidak berbudi pekerti dan hanya memelihara kedengkian?”

Ucapan Mas Alka yang lantang, telak membuat wajah Mas Hadi dan Mas Hamish merah padam. Mereka saling melempar pandangan. Begitu juga wajah Mbak Mirna dan Mbak Melda sama geram tampaknya.

“Alka. Tolong diam. Kamu harusnya bersikap sopan pada orang yang lebih tua. Jangan seperti ini. Tolong hargai acara mama, Ka. Jangan membuat malu nama keluarga di muka umum,” ucapannya secara tersirat seolah menyebutkan jika Mas Alka yang membuat malu. Padahal kan dua menantunya itu duluan yang memancing keadaan.

Mas Alka berdiri dan menggamit jemariku. Dia tidak lagi melayani perdebatan yang menyita waktu dan tenaga itu. Langkahnya mengayun cepat hingga cukup keteteran kumengikutinya.

“Mas mau ke mana?” tanyaku ketika aku sudah berhasil menjejeri langkahnya.

“Kita pulang,” ucapnya datar.

“Iya, Mas.” Aku mengerti dan tidak lagi banyak membantah. Kuikuti ayunan langkah cepatnya menuju parkiran di mana sepeda motor kami ada di sana.

“Mbak Dina. Mas Alka.” Kudengar teriakan Ajeng dari belakang. Gadis itu berlari memburu ke arah kami.

Mas Alka menoleh, begitu pun aku. Dia sedang mengambilkanku helm kala itu.

“Kalian mau ke mana?” Ajeng tampak terengah-engah mengejar kami. Beruntung dia memakai sepatu kets. Jadi, bisa berjalan cepat tanpa susah.

“Pulang,” jawab Mas Alka sambil menyodorkan satu helm padaku.

“Kalian jangan pulang, kan habis acara mama mau lanjut ke acara peresmian pertunanganku sama Mas Gibran. Masa Mas Alka sama Mbak Dina gak mau kasih aku doa restu, sih?” rengeknya. Tampak gelayut mendung menghiasi wajah cantiknya.

Suamiku menghela napas. Dia menoleh padaku seolah meminta pertimbangan. Dengan berat aku mengangguk. Selama ini, Ajeng merupakan keluarga yang paling baik menerima kami. Kasihan juga, dia tidak terlalu dekat dengan ketiga kakaknya yang lain. Mungkin karena perbedaan usia juga, Mas Alka dan Ajeng hanya terpaut tiga tahun. Aku pun seumuran dengannya. Berbeda jauh selisih dengan ketiga kakaknya yang lain.

“Please, Mbak.” Ajeng berjalan mendekat dan menggelayuti tanganku.

“Mas cuma malas sama kakak-kakak iparmu di dalam,” ucap Mas Alka tampak enggan.

“Kalian nunggunya di meja terpisah saja bareng Mas Gibran,” ucap Ajeng sambil memelas.

Kumelirik Mas Alka. Dia tertegun sejenak, tapi kuyakin dia tak akan menolak. Baginya Ajeng adalah saudara kesayangan.

“Baiklah, ayo.”

Benar saja dia kembali turun dari sepeda motor. Meminta helm yang tadi diserahkannya padaku. Kami kemudian berjalan beriringan kembali masuk ke dalam.

Ajeng menyiapkan satu meja terpisah. Dia memanggil Gibran yang tampak masih berbaur di meja utama. Entah kesibukan apa di sana, tampak heboh dan ceria sekali.

“Mas, duduknya di sini saja, temani Mas Alka, yuk.” Ajeng menelpon calon tunangannya. Lelaki itu tampak mengangguk setelah menerima panggilan dari Ajeng. Dia berjalan dan menghampiri meja kami.

“Siang, Mas, Mbak,” sapanya santun. Mas Alka mengangguk dan mengulas senyum.

“Siang,” jawab suamiku singkat.

“Sedang ada acara apa sih di sana? Rame banget pada ketawa-ketawa?” tanya Ajeng sambil menatap calon tunangannya.

“Lagi buka kado, tapi dari para teman arisan mama dulu. Yang dari kita sih kayaknya belakangan. Khusus keluarga, katanya,” ucap Gibran.

“Ooo ….” Hanya itu yang keluar dari mulut mungil gadis itu.

Aku duduk sambil sesekali memperhatikan raut wajah suamiku. Namun, tampak datar saja. Jadi, susah menerka isi hatinya sekarang. Kami mengobrol ringan. Ajeng sibuk wara-wiri mengambilkan makanan untuk kami di sini. Meski tak ada lagi makanan yang kusentuh karena selera makan sudah hilang.

Tidak lama, suara MC terdengar meminta perhatian. Semua mata tertuju pada meja utama yang sejak tadi dijadikan pusat acara.

“Sekarang, kita mulai membuka kado dari keluarga, ya. Kado yang pertama dari anak dan mantu pertama. Kira-kira apa isinya?” Semua mata memandang bungkusan kado berpita indah. Tampak cantik.

Ibu mertuaku dengan semangat membukanya. Tidak lama, dia mengeluarkan satu set gamis mewah pemberian dari Mbak Sari.

“Wah, gamis yang cantik dan elegan. Cocok banget untuk Bu Tuti, ya. Dari warna dan coraknya. Memang Bu Sari ini menantu yang pintar mengambil hati,” ucap MC sambil ikut memegang gamis itu dan menunjukkannya ke depan para tamu yang ada.

“Hamdan sama Sari ini memang selalu memperhatikan orang tuanya. Gak salah kalau jadi anak mantu kesayangan saya,” ucap ibu mertuaku dengan semringah.

“Ok, lanjut dengan kado yang kedua … biar adil kita urutkan saja ya. Jadi, yang kedua ini dari anak keduanya, yaitu Mas Hadi dan Mbak Melda. Coba apa, ya, isinya?” ujar MC melanjutkan acara.

Tampak setelah bungkusan kado yang mengkilap itu tersobek, menampilkan isinya. Ada dua pasang sandal bermerk. Wajah ibu mertuaku tampak semringah. Sepertinya Mbak Sari janjian dengan Mbak Melda untuk memberikan kado itu, buktinya mereka memberikan kado yang saling melengkapi.

Kini MC melanjutkan acara dan membuka kado dari Mbak Mirna dan Mas Hamish. Dengan semangat ibu mertuaku membuka bungkusan yang cukup besar itu. Matanya berbinar seketika tatkala tampak satu tas branded keluar dari dalam. Tas yang katanya oleh-oleh perjalanan dari Bali itu dipamerkannya ke depan para teman arisannya.

Kini giliran kado dariku yang akan dibukanya. Tampak sedikit malas ibu mertukau mengambil bungkusan mungil yang tadi kuberikan. Dia perlahan menyobek kertas kado dua ribuan yang kujadikan pembungkus kado. Aku lihat ekspresinya tampak datar. Setelah bungkusnya terbuka tampak masih ada kotak di dalamnya. Ya, kotak yang Mas Alka buat khusus untuk membungkus isi kado itu.

“Kira-kira apa, ya isinya?” Mbak Mirna mengambil alih mic dari MC yang sejak tadi memandu jalannya acara.

“Sandal jepit!” pekik Mbak Melda sambil tertawa. Sementara Mbak Sari sudah mulai disibukkan oleh rengekan putranya, Hamzah. Yang usianya sudah menginjak enam tahun. Sepertinya anak itu sudah bosan.

“Paling gamis seharga seratus ribuan,” celoteh Mbak Mirna sambil tersenyum miring.

“Ka, ini susah banget sih bukanya?” Ibu mertuaku melirik ke arah meja kami. Kunci kotak itu menggunakan gembok kecil.

Mas Alka berdiri dan berjalan menghampiri ibu mertuaku yang sejak tadi kesulitan untuk membuka lubang kunci itu.

“Ya ampun, Ka. Kamu ngasih apa sih sama mama? Barang murah saja pakai digembok segala.” celetuk Mas Hamdan yang selalu tidak mau tersaingi oleh siapa pun.

“Udah sih, Ma. Gak usah dibuka, nanti saja habis acara kalau susah. Isinya paling barang murah juga,” celoteh Mirna.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED