Fajri menggaruk kepalanya. Entah kenapa ketika dia merasa pusing, secara otomatis, dia menggaruk kepalanya. Fajri melihat jalan menurun di depannya dan merasa bahwa dia memang perlu beristirahat sejenak sebelum kembali ke kota.
Dua hari yang lalu dia mendapat laporan adanya sebuah kasus orang hilang di Pandan Sari, sebuah kecamatan kecil di lereng Gunung Kawitan. Pandan Sari adalah kota kecil --kalau bisa dibilang kota-- yang sejuk dan memiliki pemandangan yang sangat indah, tetapi jalannya agak ekstrim dan sedikit rusak, walaupun tidak parah.
Orang hilang yang dilaporkan itu adalah seorang remaja perempuan yang pergi dari rumahnya pada suatu sore hari yang cerah.
"Dibawa lelaki atau anak lelaki?" tanya Fajri pada Danu, rekan seprofesinya di Polsek Pandan Sari. Danu mengangkat bahu apatis.
"Bisa jadi, tetapi ibu, bapak dan keluarga gadis bernama Aisyah itu berani bersumpah kalau Aisyah tidak memiliki teman lelaki yang akrab ...."
"Ah, anak remaja, kan pasti begitu, to, Pak Danu! Biasanya mereka, kan selalu menutupi atau tidak jujur tentang teman lawan jenis mereka," potong Fajri cepat. Danu tertawa melihat ketidaksabaran polisi muda bernama Fajri itu.
"Yang ini, sepertinya pengecualian, Pak Fajri. Aisyah selalu berada di rumah. Dia ... dia memiliki ketidaksempurnaan fisik, Pak. Bibir Aisyah sumbing dan dia agak pincang karena terjatuh dari sepeda ketika masih kecil. Menurut tetangganya sebenarnya Aisyah adalah anak yang percaya diri, tetapi kadang sebagai remaja dia juga lebih sensitif karena ejekan atau omongan teman dan tetangganya, sehingga Aisyah memilih untuk lebih sering berada di rumah," jawab Danu, membuat Fajri terhenyak. Dia nampak agak sungkan. Danu tertawa lagi.
"Oalah, Astaghfirullah! Maafkan saya, ya, Pak," kata Fajri dengan wajah merah padam. Danu mengangguk.
"Tidak apa-apa, Pak. Banyak orang yang tidak tahu tentang Aisyah, pasti juga mengira seperti itu," kata Danu.
"Ada saksi juga yang melihat Aisyah keluar dari rumah dan pergi entah ke mana," kata Danu lagi. Fajri terkesiap mendengar jawaban Danu.
"Oh, menarik juga. Menarik sekali. Jadi kita akan ke rumah Aisyah, kan, Pak?" tanya Fajri sedikit tak sabar.
Danu mengangguk dan kemudian mengajak Fajri melalui jalan berliku menuju sebuah perkampungan asri dan sejuk di lereng gunung yang tinggi.
"Ini kampung Rojointen, tempat Aisyah tinggal. Rumah Aisyah ada di tengah kampung. Bapak dan ibunya berjualan di pasar. Setiap hari mereka berangkat pagi dan pulang sore. Aisyah di rumah dengan seorang kakak dan dua orang adiknya. Aisyah tidak pernah sekolah secara resmi karena kecatatan pada tubuhnya, mungkin karena malu," jelas Danu. Fajri mengangguk paham. Ada banyak pertanyaan di kepala Fajri, tetapi Fajri tetap menyimpannya dan Fajri berencana akan menyampaikan pertanyaan itu nanti.
Mereka berhenti disebuah lapangan desa dan segera berjalan menuju ke sebuah rumah sederhana di tengah kampung dan mengunjungi rumah Aisyah. Sebuah rumah tua yang cukup besar.
Fajri sangat prihatin melihat kondisi kedua orang tua Aisyah yang terlihat tua karena beban hidup yang berat. Beban ekonomi dan sekarang masalah anak mereka yang hilang.
"Dia pergi sendiri dari rumah. Mungkin dia sedih karena sering diejek temannya dan tetangga kami. Sejak kecil dia sudah selalu terlihat sedih karena kondisi fisiknya yang kurang sempurna, Pak," kata ibu Aisyah yang bernama Siti Partini. Seorang wanita --yang sebenarnya belum terlalu tua-- yang nampak meredup karena beban keluarga. Wajahnya nampak sedih dan seperti terlihat lemah dan pasrah.
"Saya merasa Aisyah merasa sudah lelah menjadi bahan ejekan dan bahan gunjingan. Padahal dia juga tidak jelek jelek amat ...." Tangis Partini pecah, dia terisak perlahan. Suami Partini --bapak Aisyah-- juga tak kalah sedihnya. Dia nampak terluka.
Fajri tak sampai hati bertanya padanya. Dia membiarkan kedua orang tua yang sedang terluka itu untuk menenangkan diri terlebih dahulu.
"Tetangga sebelah yang melihat Aisyah pergi hari itu, Pak. Kalau kami memang tidak pernah ada di rumah kalau siang," kata sang bapak akhirnya. Wajahnya menunjukkan kekalahan. Fajri mengangguk.
"Bapak kerja di mana, Pak?" tanya Fajri.
"Saya jadi kuli panggul di rumah juragan Har. Saya bertugas mengangkat sayuran di gudang dan juga kadang di pasar," jawab pria itu. Pria itu terlihat tua, tetapi tubuhnya terlihat kekar dan kuat, kulitnya membiaskan pengalamannya hidup yang berat, tertempa panas dinginnya kehidupan.
"Bapak bertanya pada mereka saja. Kami tidak berguna. Kami tidak tahu apa-apa, kami tidak bisa apa-apa," bisik pria itu dan dia menangis. Bukan tangis terisak, bukan tangis tersedu, hanya aliran air mata dalam diam. Diam karena menahan sejuta rasa. Ah, Fajri malah sesak melihatnya. Dia lebih memilih tangis bersuara meluapkan rasa, daripada tangis merana dalam kesepian seperti ini. Rasanya kesedihan pria itu sampai ke dalam jiwanya.
Akhirnya mereka pun menyerah dan mengunjungi tetangga-tetangga Aisyah. Tetangga yang prihatin dengan keadaan keluarga Aisyah.
"Tini itu pelit, Pak! Uangnya banyak, tetapi untuk operasi patah tulang Aisyah dulu dan operasi bibir sumbing Aisyah saja dia tidak mau mengeluarkan uang dan membiarkan anaknya jadi seperti itu."
"Iya, Pak. Nggak heran Aisyah pergi dari rumah, dia tahu orang tuanya tidak mau mengobatinya."
Fajri dan Danu berpandangan. Mereka prihatin mendengar semua keburukan keluarga Aisyah yang diungkapkan oleh tetangga-tetangga Aisyah.
"Apa ada yang melihat Aisyah keluar rumah, Bu?" tanya Fajri. Dia mencoba menghentikan semua omongan buruk tetangganya tentang Aisyah dan keluarganya.
"Saya lihat, Pak."
"Saya juga lihat."
"Banyak, kok yang lihat. Soalnya nggak biasanya Aisyah keluar rumah. Kemarin dulu itu, Aisyah keluar sambil setengah berlari, Pak. Anehnya larinya ke arah pohon bambu di sana," kata seorang tetangga sambil menunjuk ke arah kanan mereka. Fajri dan Danu melihat rerimbunan pohon bambu yang lebat dan nampak gelap. Mereka berpandangan.
"Kamu, yakin, Tun?"
"Kenapa nggak bilang dari dulu?"
"Benar larinya ke sana, Bu?" tanya Danu, wajahnya nampak agak tegang sekaligus marah, karena dia belum mendapat informasi itu sejak awal. Tetangga Aisyah itu mengangguk dengan agak takut.
"Iya, Pak. Saya takut mau cerita. Takut dibilang bohong," kata wanita bernama Atun itu dengan wajah mencebik.
"Apa sudah pernah ada yang mencari ke sana, Bu?" tanya Danu. Semua tetangga Aisyah menggelengkan kepalanya.
Danu mendesah. Dua merasa gemas karena tidak mendapat petunjuk itu sejak awal. Fajri paham. Dia tersenyum pada Danu.
"Saya rasa kita perlu bantuan untuk memeriksa kebun bambu itu, Pak. Semoga memang benar Aisyah ada di sana," kata Fajri.
Danu nampak agak sangsi.
"Apa mungkin Aisyah masih selamat di sana, ya, Pak?" tanya Danu dengan pandangan ragu. Fajri terkejut mendengar jawaban Danu. Wajahnya pias.
"Kita berusaha saja, Pak. Semoga Allah memberi pertolongan yang terbaik untuk Aisyah dan keluarganya," kata Fajri dengan diplomatis, walaupun dia tahu sebenarnya seandainya Aisyah memang berlari ke arah rerimbunan pohon bambu itu, bisa dipastikan Aisyah pasti sudah meninggal.
Fajri hanya bisa berdoa dalam hati, semoga keluarga Aisyah diberi ketabahan menerima semua takdir yang digariskan Allah untuk mereka.
****
Antika keheranan melihat begitu banyak pasien di ruang gawat darurat pagi itu. Kebanyakan adalah ibu-ibu yang memakai seragam bank swasta yang kebanyakan muntah-muntah. Suasana benar-benar kacau balau.
"Keracunan?" tanya Antika pada Susan, temannya. Susan mengangkat bahu.
"Pasien pertama sudah diinfus dan disuntik obat anti mual dan anti muntah setengah jam yang lalu, tetapi tidak ada perubahan," jawab Susan.
Antika menelan ludah, dia gentar.
"Apa karena kolesterol?" tanya Antika ragu. Mereka berpandangan.
"Entah, aku sudah lelah padahal belum ada satu jam aku masuk UGD. Kata Dokter Iska, nanti pasien-pasien ini akan dirujuk ke rumah sakit di kota saja kalau belum ada perubahan yang baik," jawab Susan.
"Sebanyak ini? Ada dua puluhan, ya?"
"Iya. Ada dua puluh empat pasien dengan gejala muntah, mual dan pusing," jawab Susan.
"Apa hamil?" tanya Antika asal. Mereka berpandangan dan tertawa.
"Eh, ayo, bantu! Jangan berdiri saja!" teriak Dokter Faya dari kejauhan. Mereka berdua segera berlari membantu mengatasi kekacauan pagi itu.
****
"Bagaimana kalau kita lakukan USG saja. Kita coba siapa memang ada yang hamil," kata Dokter Erin pada Dokter Faya. Dokter Faya menjengit.
"Astaghfirullah, kok gitu, sih? Masak ya, semua hamil? Tetapi kalau semua nggak hamil terus kenapa semua gejalanya sama, ya, Rin? Apa mereka kena virus atau bakteri atau kuman penyakit yang sama dari satu sumber, ya?" Mereka berpandangan. Dokter Erin mengembuskan napas panjang dan menggelengkan kepalanya.
"Kita lalukan saja, Ya. Setelah itu kita kirim mereka ke rumah sakit besar di kota. Aku capek ... dan takut juga," kata Dokter Erin dengan wajah cemas.
"Takut?" Dokter Erin mengangguk.
"Takut kenapa?" tanya Dokter Faya lagi. Dokter Erin tersenyum.
"Aku takut ada faktor lain yang menyebabkan adanya wabah ini, Ya." Dokter Faya menjengit. dia memandang koleganya dengan penuh pertanyaan.
"Hal gaib maksudmu?" tanya Dokter Faya. Dokter Erin mengangguk.
"Wait, Rin! Kalau misalnya kita USG dan hasilnya memang semua hamil bagaimana? Kita harus apa? Berarti memang ada hal gaib yang terlibat di sini, kan?" Wajah Dokter Faya sangat panik, "apa yang terjadi? Apa yang harus kita lakukan?" seru Dokter Faya dengan kebingungan.
Mereka berpandangan dan sama-sama bingung hendak mengatakan dan melakukan apa.
****
Adit dan Rasya duduk di meja yang kosong. Mereka membawa pesanan mereka. Adit memesan ayam goreng dan sambal bawang, sementara Rasya memesan ayam bumbu asam manis. Mereka berdua makan sambil mengobrol ramai tentang kuliah mereka dan juga teman kuliah mereka yang mereka sukai.
Tiba-tiba Adit merasa tanah tempat mereka berpijak bergetar. Awalnya pelan. Lama-lama semakin keras. Adit mulai panik.
"Sya, gempa, Sya!" seru Adit panik. Anehnya Rasya masih makan dengan nyaman dan tenang.
"Nggak, lah! Itu, kan cuma perasaanmu saja," jawab Rasya dengan santai, dia mengira Adit bercanda, bahkan Rasya masih meneruskan makannya. Tetapi getaran itu terasa semakin kuat. Sekarang Rasya pun ikut merasakan getaran itu juga. Mereka berpandangan panik.
"Sya! Ayo kita keluar dari sini!" teriak Adit. Rasya mengangguk, tetapi mereka sama sekali tidak bisa bergerak, karena gerakan tanah di bawah kursi dan meja mereka sangat keras. Mereka hanya bisa tetap duduk dan berpegangan pada meja mereka sambil memejamkan mata dan berdoa semoga mereka bisa selamat.
"Dit! Adit, lihat Dit!" teriak Rasya kencang. Adit menunduk mengikuti arah pandangan Rasya dan melihat lantai di bawah meja mereka merekah terbuka.
"Astaghfirullah! Kita harus lari, Sya! Cepat, Sya!" teriak Adit histeris. Tetapi mereka terlambat. Lantai di bawah mereka terbuka lebar dan mereka berdua terjun ke bawah tanah. Terjun ke dalam kegelapan.
****
Aini kebingungan ketika orang-orang dewasa menanyainya secara bersamaan. Bahkan bapaknya nampak sangat marah dan juga sedih ketika bertanya padanya. Aini hanya bisa menangis. Dia melihat dengan penuh rasa bingung dan kalut pada es krimnya yang telah mencair tanpa sempat dimakannya. Hatinya terlalu kacau untuk memakan es krim yang baru saja dibelinya dengan uang pemberian budhenya tadi, Budhe Ratri.
Seorang pria dewasa yang menurut Aini bertubuh sangat tinggi mendekati Aini dan tersenyum pada Aini.
"Aini, maaf, ya, mungkin Aini bingung. Tetapi apa benar tadi Aini mendorong kereta adik bayi Aini?" Pria itu bertanya dengan sopan dan lemah lembut.
Aini mengangguk. Dia mengulangi ceritanya kepada pria ramah itu.
"Tadi ada orang asing yang akan memberi Aini uang. Aini takut. Aini kembali kepada bapak ibu yang ada di belakang Aini. Ternyata ibu sudah duduk dengan orang itu. Orang itu ternyata budhenya Aini. Namanya Budhe Ratri ...."
"Ratri itu nama kakak saya, Pak. Dia sudah lama meninggal," potong Bapak Aini dengan lemas. Dia memeluk Aini tanpa kata. Aini benar-benar tidak paham dengan apa yang terjadi. Dia melepas pelukan bapaknya dan memandang bapaknya dengan keheranan dan juga khawatir.
"Apa yang terjadi, Pak? Aini tidak paham," kata Aini, tetapi dia buru-buru terdiam dan tercekat melihat air mata bapaknya, "kenapa, Pak? Kenapa bapak menangis?" Aini sangat panik melihat bapaknya --orang yang biasanya terlihat kuat-- kini menangis dan terlihat tak berdaya.
Bapak tidak menjawab Aini. Dia hanya memeluk Aini erat tanpa kata. Aini memberontak berusaha melepaskan pelukan itu, tetapi dia tidak kuat melawan kekuatan bapaknya dan akhirnya dia juga memeluk bapaknya dan menangis tersedu bersama dengan bapaknya.
****
Fajri memandang anak dan bapak itu dengan tidak tega. Benar-benar tidak tega.
Fajri terpaksa memalingkan mukanya karena air mata itu mengalir juga. Dia teringat pada malam ketika dia mendapat telpon bahwa mobil travel yang membawa istrinya mengalami kecelakaan dan sepertinya tidak ada penumpang yang selamat.
Fajri menggigit bibirnya dengan keras. Dia memaksakan dirinya untuk tidak menangis mengingat malam itu. Malam gelap tanpa sinar rembulan, tanpa hujan, tanpa angin, tanpa suara, tanpa apapun, karena hari Fajri begitu berduka melihat istrinya terbaring sambil tersenyum di kamar mayat. Istrinya yang begitu cantik, yang baru saja merayakan kelulusannya dengan Fajri ....
Seseorang merangkul Fajri dan membawa Fajri menjauh.
"Istighfar, Pak." Terdengar bisikan pelan di dekat Fajri. Fajri mengangguk. Dia buru-buru menghapus air matanya dan beristighfar pelan. Dia malu telah menangis di tempat kejadian perkara.
Fajri mendongak dan melihat pria berambut panjang itu. Ah, pria-pria berambut panjang kesukaannya. Naim Setiawan.
Naim tersenyum pada Fajri sambil mengulurkan segelas air mineral pada Fajri. Fajri menerima gelas itu sambil mengucapkan terima kasih dan menyesap air dari gelas itu perlahan. Kemudian mereka berdiaman sambil memandang lalu lalang petugas polisi yang terlihat membawa dua kantung mayat dari salah satu sudut sebuah taman.
"Meninggal?" tanya Naim pendek. Fajri mengangguk samar.
"Ibu dan anak bayinya menceburkan diri ke dalam di kolam di taman ini, Mas," jawab Fajri sambil memandang kosong ke depan. Air matanya meleleh lagi.
Hening lagi.
"Mas Naim meliput berita kejadian ini?" tanya Fajri. Mereka berpandangan.
"Kebetulan tidak, Pak. Tadi saya dan Faza sedang berjalan-jalan di sini dengan keluarga kami. Lalu kami melihat banyak polisi berdatangan di taman ini. Saya langsung menyuruh Faza mengantarkan semuanya pulang dulu. Saya tahu pasti ada kasus di sini," jawab Naim sambil tersenyum.
Hening lagi. Wajah Fajri menyiratkan sebuah kisah sedih yang diketahui Naim, jadi Naim pun diam saja.
Fajri berdeham.
"Bulan ini penuh dengan kejadian aneh Mas Naim," kata Fajri tiba-tiba, dia menoleh ke arah Naim. Naim agak terkejut dan memandang ke arah Fajri heran.
"Kejadian aneh, Pak?" tanya Naim.
Fajri memandang ke arah depan, sekali lagi dengan pandangan kosong. Dia tersenyum samar. Agak mengerikan.
"Di Pandan Sari, di lereng Gunung Kawitan ada seorang anak yang bunuh diri dengan menjatuhkan dirinya di tengah rumpun pohon bambu yang lebat. Bisakah seseorang mati karena mencoba melompat ke tengah-tengah rerumpunan pohon bambu? Saya tidak benar-benar tahu. Yang pasti gadis remaja berbibir sumbing itu ditemukan meninggal di tengah rumpun tumbuhan bambu dengan kondisi yang memprihatinkan ...." Fajri diam. Naim juga diam, atau lebih tepatnya terpaku. Naim mengerti ada selaksa kedukaan dalam suara dan kisah Fajri.
"Bibirnya yang sumbing sobek, sehingga bibirnya kembali normal, walaupun penuh dengan darah. Kakinya yang pincang karena pertumbuhan tulang yang tidak normal akibat luka patah tulang yang terabaikan sejak dulu, kembali patah, namun malah mengembalikan tulang gadis itu ke posisi normal."
Fajri berdeham lagi. Dia terisak sedikit. Naim diam saja. Dia membiarkan Fajri menumpahkan semua rasa sedihnya pada Naim.
"Lalu ada sebuah kasus besar dan rahasia, Mas Naim. Di kota kecil ada sekitar dua puluh empat wanita yang bekerja di tempat yang sama terdeteksi hamil pada saat yang bersamaan. Padahal tentu saja status wanita-wanita itu berbeda-beda. Ada yang sudah menikah, beberapa belum menikah, ada yang sudah separuh baya, ada yang terpisah jarak dengan suaminya, ada yang janda, tetapi mereka semua hamil pada saat yang bersamaan."
Naim mendelik tak percaya. Dia merasakan rasa dingin merayapi punggungnya. Dia yakin dan percaya pasti kasus itu ada hubungannya dengan dunia gaib. Fajri melihat Naim dan tertawa, dia tahu Naim takut.
"Bagaimana eh ... maksud saya apa yang terjadi, Pak? Bagaimana orang tahu kalau mereka hamil dalam waktu yang bersamaan?" tanya Naim penasaran.
"Pada hari Senin pagi mereka berangkat ke kantor, dan tepat pada pukul delapan, para karyawan wanita mengalami gejala yang sama, yaitu mual muntah hingga harus ke rumah sakit. Di rumah sakit mereka diberi obat dan cairan infus, tetapi tidak ada perubahan sama sekali, hingga akhirnya ada seorang dokter yang memutuskan untuk melakukan USG pada wanita-wanita itu, dan ternyata benar, mereka hamil pada usia kehamilan yang sama. Dua minggu."
Naim bergidik. Mengerikan sekali.
"Lalu ada kejadian aneh lain lagi, Mas," kata Fajri. Naim berkedip beberapa kali dan terlihat sangat tertarik.
"Apa itu, Pak?" tanya Naim dengan sangat tertarik.
"Ada dia mahasiswa yang pingsan di sebuah warung tenda. Mereka berdua dibawa ke rumah sakit, tetapi kemudian mereka berdua hilang entah ke mana. Motor dan barang-barang mereka masih utuh di warung tenda, tempat mereka terakhir terlihat. Dan sampai sekarang kami belum menemukan di mana mereka berdua berada."
"Apa yang terjadi pada mereka, Pak?" tanya Naim. Fajri menggelengkan kepalanya.
"Kami sudah menelusuri semua rumah sakit dan klinik di Karang Pandan, tetapi tidak ada yang pernah menerima dua pasien itu. Sehingga sampai sekarang kami masih belum tahu apa yang terjadi," jawab Fajri.
Naim terdiam. Dia merenung dan merasa sangat terpanggil. Kemudian Naim menoleh ke arah Fajri.
"Lalu kejadian aneh yang lain adalah kejadian hari ini," kata Fajri. Dia kemudian menceritakan kejadian yang dialami oleh Aini hari ini.
Keheningan tercipta lagi. Kemudian Fajri berdeham memecah kesunyian.
"Saya berharap kejadian ini tidak ada hubungannya dengan dunia gaib, ya, Mas Naim?" bisik Fajri pelan. Naim terdiam. Dia merasa sangsi dengan perkataan Fajri.
****
Desa Pandan Sari geger.
Tubuh Aisyah ditemukan di antara rerimbunan pohon bambu yang gelap, dan anehnya Aisyah meringkuk di tengah rerimbunan pohon bambu itu, seakan dia melompat dari atas dan jatuh di tengah rumpun bambu yang lebat itu.
Tubuh Aisyah penuh luka lecet. Kaki dan tangannya tergores serat bambu yang tajam. Dan bibirnya ... oh, bibirnya yang sumbing sobek terkena duri dan sumbing itu menghilang, membuat bibir Aisyah kembali normal, walaupun sobekan itu membuat wajah Aisyah tertutupi oleh darah kering yang cukup banyak.
Posisi tubuh Aisyah cukup aneh, dengan kaki yang tertekuk ke dalam, dan ketika orang-orang mengangkat tubuh Aisyah yang kurus dan kecil itu, terdengar bunyi gemeretak tulang dari kaki Aisyah.
"Patah?" tanya seseorang. Mereka berpandangan dan saling mengangguk.
"Iya, patah! Lihat, Pak, panjang kakinya sekarang sama. Bukankah kalau berjalan kaki Aisyah selalu kelihatan lebih panjang sebelah," bisik orang lainnya.
Mereka berpandangan lagi, dan terlihat agak takut, sehingga mereka buru-buru membawa Aisyah ke dalam ambulans yang membawanya ke rumah sakit. Kepergian Aisyah membuat kampungnya sepi dan hening. Hening dan mencekam.
"Tadi orang-orang mengira Aisyah jadi tumbal," bisik Tarno, yang waktu itu menunggu rumah Aisyah bersama dengan teman-temannya.
"Halah, ngawur kamu, No!"
"Iya, Tarno itu kalau belum ngrokok, ngomongnya suka ngarang!"
Teman-teman Tarno mengejek Tarno yang memang suka bercanda dan bicara tidak jelas.
"Ya, itu, kan cuma katanya saja. Yang sebenarnya aku juga nggak tahu," kata Tarno sambil tertawa terbahak-bahak. Mereka semua tertawa.
"Nah, benar, kan? Tarno, tuh suka ngawur."
"Ckck, tak kirain beneran, No!"
"Eh, No, bagaimana orang-orang tahu kalau Aisyah itu jadi tumbal dan bukan bunuh diri atau dibunuh orang?"
"Nah, bener itu. Lagipula siapa yang ngomong kalau Aisyah itu tumbal?"
Tarno mengangguk dengan sombong.
"Yang pertama, Aisyah terlihat berlari dengan ceria keluar rumah pada hari kematiannya. Bukankah Aisyah tidak pernah terlihat keluar rumah? Apalagi terlihat ceria. Dua hal yang sangat jarang dilalukan Aisyah itu sangat mencurigakan. Yang kedua Aisyah pasti melompat dari tempat yang tinggi, sehingga dia mendapat luka separah itu, bahkan sampai meninggal. Dan tempat melompatnya itu dari mana, kok dia bisa jatuh di tengah rumpun pohon bambu? Apa mungkin dia bisa naik pohon bambu dan menjatuhkan diri dari pucuk pohon bambu, padahal kaki Aisyah, kan cacat, berjalan saja sulit, apalagi naik pohon bambu. Ataupun kalau memang Aisyah diculik, apa mungkin penculiknya membawa Aisyah ke pucuk pohon bambu dan menjatuhkan Aisyah ke tengah rumpun bambu?"
Mereka terdiam dan berpandangan. Sebagian berpikir perkataan Tarno tadi benar juga, sebagian yang lain berpikir dari mana Tarno bisa berpikir secerdas itu. Bukankah biasanya Tarno itu lelaki kebanyakan, yang hanya memikirkan masalah makan dan uang?
"Kamu diberitahu siapa, No?" tanya Pak Supri, sambil mengembuskan asap rokoknya kuat-kuat. Tarno tersenyum.
"Panjenengan kira saya bodoh nopo, Pak?" tanya Tarno dengan mencibir. Pak Supri tertawa.
"Nggak, No. Aku sama sekali nggak mengira kamu bodoh. Aku hanya nanya, lo tadi. Kamu bisa tahu informasi itu dari mana?" tanya Pak Supri dengan tenang.
Tarno mendengus. Dia berusaha menahan diri untuk tidak memberitahukan nama orang yang meminta Tarno mengatakan hal itu kepada teman-temannya. Tarno mengangkat bahu.
"Saya melihat-lihat, Pak. Saya mempelajari keadaan dan fakta. Lalu saya simpulkan sendiri," jawab Tarno sambil tersenyum dan mencoba tenang, mencoba terlihat cerdas dan meyakinkan.
"Wih! Mantep bener kamu sekarang, No. Kamu sudah pintar sekarang, ya?" seru seseorang.
"Kalau dipikir, ya, bener juga perkataan Tarno. Pastilah ada hal gaib atau mungkin ada mahluk halus yang membawa Aisyah ke dalam rumpun bambu itu."
"Wah, sekarang Tarno sudah pintar, nih!"
Mereka ribut membicarakan Tarno dan kasus Aisyah, sehingga tidak memperhatikan ada beberapa orang wanita yang keluar dari dapur sambil membawa makanan ringan dan minuman untuk mereka.
"Monggo, Pak, sambil diicip untuk obat ngantuk," kata salah seorang di antara para wanita itu.
"Nggih, matur nuwun, Bu," jawab Tarno dan teman-temannya, mereka segera menghabiskan makanan dan minuman yang ada di depan mereka. Mereka sangat bersyukur karena ternyata tetangga mereka masih memperhatikan mereka yang sudah menunggu lama di rumah Aisyah ini.
Menjelang malam, beberapa orang mendatangi rumah Aisyah.
"Pak, kopi, Pak?" seru seorang tetangga kepada Tarno dan teman-temannya.
"Mboten, Bu. Sampun wau, (Nggak usah, Bu. Sudah tadi,)" jawab Pak Supri.
"Ah, nggak usah malu, Pak. Ini kami bawakan ketela dan kacang rebus juga," kata salah seorang di antara tetangga-tetangga mereka yang baru datang.
"Masih kenyang, Bu. Tadi sudah makan lontong sayur. Nih, piringnya saja masih belum dibawa ke dapur."
"Hih! La beli di mana?"
"Kok beli? Tadi, kan ada yang masak di dapur, to, Bu? Semua makanan dan minuman ini, kan dibawa dari dapur semua," kata Pak Supri.
Ibu-ibu yang baru datang berpandangan gugup.
"Astaghfirullah, bener, Pak?"
Sekarang giliran bapak-bapak yang berpandangan gugup.
"Maksudnya apa, Bu?"
"Maksudnya itu, kami diminta ke sini besok pagi, karena Aisyah akan dibawa pulang besok pagi. Jadi waktu kami lihat masih ada bapak-bapak di sini, kami berinisiatif untuk membuat camilan di rumah saya, Pak. Bukan di sini," kata salah seorang ibu yang datang.
Sekarang mereka semua berpandangan panik. Mereka berpikir kalut. Kalau memang bukan dari dapur, mungkin makanan dan minuman yang sudah mereka makan tadi, dibawa dari rumah warga, tetapi nalarnya kalau makanan itu dibawa dari rumah warga, maka kenapa makanan itu dibawa dari dapur rumah Aisyah.
Beberapa orang beristighfar. Tarno buru-buru menuju ke dapur, diikuti oleh orang-orang yang lain yang juga penasaran, dan perkataan ibu-ibu tadi terbukti benar. Tungku dapur di rumah Aisyah bersih dan dingin. Tidak ada terlihat bekas memasak sama sekali, lagipula panci, cerek dan perlengkapan dapur lainnya juga terlihat bersih dan tidak terlihat bekas hitam jelaga karena telah dipakai.
"Astaghfirullah! Lalu ibu-ibu yang membawakan makanan untuk kita tadi siapa?"
"Ibu-ibu? Orangnya banyak?"
Wajah bapak-bapak terlihat panik dan mengangguk bersamaan.
"Lalu tadi makanan yang kita makanan itu apa, Pak? Apa makanan manusia betulan?"
****
Ratih menangis di sebuah ruang rawat kecil di lereng Gunung Arun. Dia dan dua puluh tiga temannya terpaksa harus diungsikan ke tempat terpencil ini agar tidak menimbulkan kehebohan dan berita hoax, yang akan merugikan semua pihak. Ratih termasuk ke dalam kelompok dua puluh empat wanita yang hamil bersamaan, dari kota kecil bernama Pajang. Padahal Ratih belum menikah dan belum pernah dekat dengan pria mana pun. Dan itulah yang membuat Ratih sangat sedih, takut dan bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya sekarang.
Sejak pertama sampai di sebuah lembaga sosial yang menampung dua puluh empat wanita hamil itu, Ratih sudah menangis tanpa henti. Dia takut orang tuanya tahu apa yang terjadi pada dirinya, dan mereka akan sangat terkejut dan mungkin pingsan atau bahkan sakit.
"Ya, kalau orang tuamu tahu tentang kehamilanmu, bilang saja kamu punya pacar dan melakukan suatu hal hingga melampaui batas," kata Wati teman Ratih dengan ringan.
"Hush! Kamu, kan sudah punya suami. Gampang bilang seperti itu!" seru seseorang mengingatkan Wati. Wati mencebik.
"Maksudku, ya jangan nangis terus, dong, Mbak. Kita, kan semua sama di sini dengan nasib yang sana. Kenapa mesti nangis terus? Nangis sekali dua kali boleh, dong, tetapi habis itu udah, gitu, lo maksudku. Habis itu kita mikir solusinya gimana," kata Wati dengan nada marah dan wajah mencebik.
Ratih hanya bisa menangis lagi. Dia memang cengeng dan khusus untuk masalah ini, dia selalu menangis setiap malam. Membuatnya selalu sembab dan terlihat kuyu.
****
Setiap pagi mereka diambil darahnya, di cek kesehatan tubuhnya secara umum dan menyeluruh.
"Buat apa, sih, Pak?" tanya Nita pada petugas kesehatan yang bertugas mengambil darah pagi itu. Sang bapak tertawa.
"Entahlah, Bu. Kami hanya diminta mengambil sampel darah dan membawanya ke laboratorium, Mbak. Selebihnya kami tidak tahu."
"Pak, kalau pengen ke luar dari sini, bilang sama siapa, Pak?" tanya Wati.
"Wah, apalagi itu. Saya tambah nggak tahu, Mbak," jawab sang bapak dan buru-buru pergi dari situ.
Mereka berpadangan gelisah dan mengembuskan napas panjang. Ya, mereka harus menghabiskan waktu satu hari lagi di dalam rumah ini lagi. Sebenarnya rumah yang mereka tinggali sangat bagus. Rumah modern semacam villa berlantai yang sangat luas, lengkap dengan kolam renang dan halaman yang juga sangat luas, tetapi sayangnya pagarnya rapat dan tinggi mengelilingi mereka. Dan walaupun fasilitas di rumah mewah itu sangat lengkap, tetap saja mereka bosan dan sangat ingin keluar dari rumah itu.
"Bagaimana kalau kita melarikan diri saja?" tanya Ika dengan wajah penuh semangat.
Mereka berpandangan.
"Kamu tahu ini di mana?"
Ika mencebik dan mengangguk.
"Iya, Mbak. Gunung Arun," jawab Ika dengan sebal. Wati nampak mengembuskan napas panjang. Di tahu Gunung Arun terletak sangat jauh dari Pajang, tempat tinggal mereka.
"Aku juga kadang ingin melarikan diri dari sini. Rasa bosan dan rindu pada keluargaku rasanya tak tertahan lagi ...." Wati menitikkan air mata yang buru-buru diusapnya. Ika merangkul Wati.
"Aku juga, Mbak. Makanya aku ingin keluar dari rumah ini dan pulang ke rumah. Aku lelah di sini," bisik Ika.
Mereka berdua saling tersenyum dan menghapus air mata yang membasahi wajah mereka.
"Ah, sedihnya di sini terus. Tidak bisa di rumah, tidak ke kantor. Oh, ya, siapa saja yang tidak ikut dengan kita di sini? Sepertinya hanya ibu-ibu yang kerja di dapur dan bagian kebersihan, ya? Mereka sepertinya sudah terlalu tua untuk hamil ...."
"Nala juga. Dia, kan baru melahirkan," potong Ika. Wati agak terkejut. Dia merasa agak kurang nyaman.
"Oh, ya, Nala, ya?" kata Wati dengan agak pelan.
Ah, Nala. Seorang wanita yang selalu nyinyir dan mengomentari temannya, sehingga membuat Nala dibenci oleh semua orang, termasuk Wati. Dan tiba-tiba saja Allah membalik semua keadaan. Tiba-tiba saja Nala hamil di luar nikah dan buru-buru menikah dengan seorang lelaki entah siapa, dan sejak saat itu Nala selalu menjadi bahan pergunjingan semua orang di kantor. Nala menjadi bahan perbincangan semua orang.
Ika dan Wati berpandangan. Mereka merasa bahwa ada sesuatu yang ganjil dengan Nala.
"Apa karena Nala?" bisik Ika, tetapi kemudian terdengar teriakan-teriakan histeris dari ruang tengah, tempat mereka menonton televisi, mereka berdua segera berlari menghampiri keributan itu.
"Itu Nala!" kata seseorang sambil menunjuk ke arah televisi. Semua melihat ke arah televisi dan melihat Nala sedang dilantik menjadi kepala cabang bank tempat mereka bekerja.
Ika dan Wati berpandangan tajam. Berarti benar dugaan mereka, kasus aneh ini pasti karena Nala. Tetapi ketika Ika hendak berbicara, seorang wanita menuruni tangga dengan tergesa. Wajahnya nampak berbinar.
"Aku tahu caranya, agar kehamilan ini menghilang! Aku tahu caranya!" teriak wanita bernama Juwita itu. Semua memandang ke arah Juwita dengan takjub, heran dan sebagian besar tak percaya.
Tiba-tiba pintu dapur terbuka dengan sangat elegan. Membuat semua orang menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita setengah baya yang terlihat sangat anggun, membuka pintu dapur lebar-lebar dan kemudian muncul wanita-wanita muda berseragam dari dalam dapur dengan membawa troli makanan.
Wanita sepuh itu tersenyum hormat.
"Tea break," kata wanita sepuh itu dengan anggun.
Wanita-wanita di dalam ruang tengah saling berpandangan heran. Tea break? Sejak kapan ada tea break? Biasanya mereka diminta sarapan, makan siang dan makan siang malam begitu saja, tanpa pernah ada pelayan seanggun wanita itu, apalagi tea break. Belum pernah mereka ditawari tea break seperti itu.
Tiba-tiba seseorang maju mendekati wanita sepuh itu.
"Dari mana ibu masuk?" tanya Rani dengan suara tegas.
"Dari belakang, Bu," jawab wanita itu dengan wajah tetap tenang dan terlihat profesional.
"Ibu berarti punya kunci pintu belakang, ya? Karena saya diberi tugas membawa kunci pintu belakang. Lagipula saya dan teman-teman dari tadi di halaman samping dan halaman belakang, sepertinya tidak ada orang yang lewat di halaman samping ataupun halaman belakang."
****