Bab 2

Seiring berjalannya waktu, Fulton semakin menunjukkan ketertarikannya pada Erlena. Dari perhatian kecil yang pria itu berikan, mampu mengoyak perasaan gadis tersebut. Hingga mereka mencoba mengenal satu sama lain, tentang kehidupan mereka berdua

"Erlena." panggil pria itu.

"Iya Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?" Erlena mendekat.

"Aku hanya ingin bicara denganmu. Dan satu lagi, jangan bersikap formal padaku."

Erlena bimbang, apa bisa ia melakukan hal ini?.

"Tapi ...."

"Erlena, kamu bisa, tidak membantah permintaanku?"

Gadis itu mengangguk dan mendudukkan tubuhnya di samping sang pria. Sudah biasa melakukan hal itu.

"Baik, Tuan."

"Jangan panggil aku dengan sebutan itu."

"Lalu?" Erlena gugub, setiap kali berdekatan dengan pria ini degup jantungnya berdetak kencang, ia takut jika rasa di dalam hatinya semakin dalam. Ia sadar jika hatinya mengalami ketertarikan pada pria ini.

"Panggil aku dengan sebutan Fulton."

Erlena ingin menolak, tapi mengingat jika pria itu tak suka mendengar bantahan, ia memilih menurut.

Fulton beralih menghadap ke arah Erlena. Gadis itu terkejut dengan apa yang pria di sampingnya itu lakukan.

"Erlena."

Gadis itu mendongak menatap wajah tampan pria di hadapannya.

Fulton meraih tangan Erlena. "Salahkah jika aku menyukaimu."

Erlena menganga, benarkah apa yang pria ini katakan?.

"Tapi ... kamu sudah mempunyai istri."

"Aku tidak mencintainya, kamu tahu jika pernikahan kami terjadi hanya karena perjodohan. Yang aku inginkan hanya kamu."

Erlena menepis tangan pria itu, ia gelisah. Di sisi lain ia bahagia karena perasaan yang ia pendam akhirnya terbalaskan. Namun di sisi lain ia tak ingin menjadi orang ketiga di antara kehidupan Fulton.

"Aku tidak bisa."

Fulton memeluk tubuh Erlena cepat. Ia tak ingin menerima penolakan, karena ia yakin jika gadis itu juga mencintai dirinya. Hanya karena ia sudah menikah, Erlena tak ingin menerima cintanya. Tidak, itu tidak akan terjadi.

"Aku mencintaimu, aku tidak ingin kehilangan dirimu."

Erlena menitikkan air mata, ia tak ingin menjadi yang kedua. Ia ingin cinta Fulton hanya menjadi miliknya.

"Aku tidak ingin berbagi cinta."

Fulton membalik tubuh Erlena. Menangkup kedua pipi gadis di hadapannya. Mengusap air mata gadis itu lembut, menggunakan kedua ibu jarinya.

"Tidak akan, aku hanya mencintaimu. Pernikahanku dengan Delania hanyalah sebuah formalitas. Aku tak pernah menyentuhnya, aku tidak memiliki perasaan cinta sedikitpun dengannya."

Erlena menatap dalam kedua iris hezel pria si hadapannya. Menyelami bola mata itu, mencari kebohongan di dalamnya. Yang sayangnya tak ia temukan.

Bolehkah jika ia mempercayai pria ini?.

"Aku juga mencintaimu." balas Erlena.

Senyuman merekah tergambar di bibir pria itu. Dengan cepat ia membawa tubuh Erlena kedalam pelukannya. "Terimakasih, aku sangat bahagia. Akhirnya aku benar-benar menemukan cintaku."

Entah mengapa setelah menerima perasaan pria ini rasanya ada yang aneh. Hati Erlena mendadak nyeri, ia membayangkan jika dirinya hanya akan menjadi seorang kekasih simpanan. Sosok yang tak akan pernah terungkap keberadaannya. Sejujurnya ia tak terima, namun bagaimana lagi? Hatinya menginginkan berada di dekat pemuda ini.

Semakin hari hubungan Erlena dengan Fulton semakin mesra. Bahkan Fulton berniat untuk menjadikan Erlena sebagai istri siri nya.

"Menikahlah denganku."

Erlena senang? Tentu saja, namun untuk status pernikahan itu ... Erlena sedikit tak yakin.

"Apa kamu akan mengenalkan aku dengan keluarga besar mu?" Entah mendapat keberanian dari mana, Erlena berani bertanya demikian. Ia penasaran dengan apa yang akan keluar dari ucapan Fulton.

Fulton terdiam, pertanyaan kekasihnya sangat sulit untuk ia jawab. Keluarganya adalah kelurga paling menentang keinginan, jika mereka tau bahwa Fulton memiliki istri lain. Maka semua akan kacau, ia tak ingin kelurga besar Devon tercoreng hanya karena dirinya mengungkap kebenaran akan adanya Erlena. Meski ia sangat mencintai gadis itu.

"Maafkan aku." lirihnya.

Erlena tersenyum miris, sesak tiba-tiba mendera hatinya. Kedua matanya memanas siap menumpahkan lahar beningnya.

Fulton memeluk erat tubuh kekasihnya begitu erat, ia tahu betul apa yang wanita itu rasakan. Namun ia tak bisa berbuat banyak.

"Maafkan aku, maafkan aku." hanya kata itu yang mampu terucap dari bibir pria tersebut. Ia ikut merasakan kesakitan yang sama, tanpa sadar air mata mengalir dari kedua mata pria tersebut. Mungkin ini kali pertama pria itu menangis selama iya tumbuh menjadi pria dewasa.

"Kenapa kamu menangis, aku mengerti apa yang kamu rasakan." Erlena tersenyum dibalik air mata yang terus mengalir membanjiri kedua pipinya.

"Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin kehilanganmu, Sayang." Fulton kembali memeluk tubuh gadis di hadapannya.

"Aku juga sangat mencintaimu. Aku takut jika kamu pergi meninggalkan diriku sendirian."

Mereka saling mendalami cinta masing-masing. Hingga pada akhirnya Erlena menyetujui permintaan sang kekasih, untuk menikah dengannya.

***

Sudah genap tiga bulan lamanya Fulton pergi dari kediaman Devon. Membuat sang ayah penasaran dengan apa yang putranya lakukan. Perasaan tidak ada perusahaan yang mengalami krisis di sana, tapi kenapa putranya sangat lama berada di sana. Meninggalkan menantu nya seorang diri.

"Apa kamu sudah menghubungi Fulton?" tanya pria itu pada sang menantu.

"Sudah, Pa. Fulton akan pulang besok lusa."

"Suruh dia pulang sekarang juga. Katakan padanya, jika aku menunggu." Perintah mutlak dari sang tuan besar.

Buru-buru Delania menghubungi sang suami. Ck, ini sangat menyebalkan. Padahal ia ingin jika sang suami berada di sana lebih lama.

Fulton yang masih bergelung di dalam selimutnya, selepas menikmati malam pertama sehabis pernikahan mereka. Dengan kekayaan yang Fulton miliki, tak butuh waktu lama untuknya mendatangkan seorang penghulu untuk mengesahkan mereka berdua.

"Siapa?" tanya Erlena dengan suara paraunya, memeluk erat tubuh tanpa penutup kain, sosok lelaki yang kini sah menjadi suaminya itu.

"Delania."

Hemh, Erlena hanya bisa menghela napas. Rasa sedikit kecewa selalu datang ketika sang istri pertama menghubungi suaminya.

"Aku akan mengangkat panggilnya sebentar." ucap sang suami, mengecup pucuk kepala sang istri.

Erlena hanya mengangguk dan memilih memejamkan kedua matanya kembali. Tak ingin mendengar percakapan suaminya.

---

"Apa?! Ini sudah malam Dela! Apa papa tidak bisa menunggu besok saja?!" Sedikit emosi karena tiba-tiba sang istri menyuruhnya untuk pulang.

"Kamu tahu sendiri bagaimana sifat papa, sekarang dia ada di rumah kita. Dan menyuruhku untuk menghubungi mu. Katanya ada hal penting yang ingin dia katakan."

"Ck." Decakan sebal menjadi penutup panggilan telpon Delania.

Dengan berat hati, Fulton berpamitan pada istri barunya.

"Sayang," elusnya pada rambut sang istri, berniat untuk membangunkan wanita itu.

Erlena membuka kedua matanya berlahan.

"Iya."

"Aku harus pulang, maafkan aku." Dengan penuh sesal sang suami berucap.

"Malam-malam begini?" Erlena tak percaya, hari ini nyaris menjelang lewat tengah malam.

"Iya, aku tidak tahu. Papa menungguku di rumah, mungkin ada hal genting yang terjadi."

Erlena mencoba mengerti, meski sebenarnya ia tak ingin ditinggalkan sang suami.

"Baiklah, pulanglah. Aku akan selalu menunggu kedatangan mu di sini."

Fulton tersenyum dan mengecup seluruh wajah sang istri. "Iya, karena itu yang harus kamu lakukan."

"Jangan lama-lama, aku akan sangat merindukanmu." Memeluk sekilas tubuh sang suami.

"Pasti. Baiklah, aku pulang dulu."

Akhirnya Erlena dengan Fulton berpisah pada malam itu.

Hampir menjelang pagi, Fulton baru sampai di mansionnya. Benar saja, sang ayah ada di sana. Beliau tengah terlelap, Fulton memutuskan untuk menemui beliau nanti jika sudah terbangun. Lagipula, Fulton juga sangat mengantuk.

Beberapa jam kemudian.

"Fulton, bangunlah. Papa memanggilmu." Delania membangunkan sang suami.

Fulton membuka kedua matanya, nyawanya masih belum terkumpul sepenuhnya. "Baiklah." Beralih dia bangun dan menuju ke kamar mandi, guna membersihkan dirinya terlebih dahulu.

Selesai dengan membersihkan diri, Fulton menuruni anak tangga menuju ke lantai bawah. Menemui sang ayah si ruang makan.

"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya sang ayah.

"Baik Pa. Ngomong-ngomong, apa yang membuat Papa menyuruhku pulang secara mendadak?"

Sang ayah menopang dagu dengan kedua punggung telapak tangannya.

"Ada sesuatu yang ingin Papa bicarakan pada kalian berdua."

Sontak Delania beserta Fulton mengentikan aktifitasnya.

"Tentang?" Fulton bertanya.

"Kapan kalian akan memberikan penerus keluarga Devon?"

Fulton menelan ludahnya, kenapa tiba-tiba saja sang ayah bertanya demikian? Bagaimana mereka mempunyai penerus, jika saling menyentuh saja tidak pernah.

"Kami belum siap Pa." sahut Fulton.

"Usiamu sudah tak lagi muda, ingat itu. Lagipula, Papa juga ingin segera menimang cucu."

Hah! Tak ada cara lain selain menjawab iya. Masalah tentang anak, biar ia pikirkan nanti saja.

"Baiklah, kami akan berusaha."

Delania memicingkan matanya. Bagaimana bisa Fulton menjawab seperti itu? Apa artinya setelah ini dia akan menyentuhku? Gumam Delania.

Sang ayah tersenyum lembut. Karena ia yakin jika putranya tak akan bisa membantah perintahnya.

"Papa tunggu kabar baiknya, lanjutkan sarapan kalian berdua. Papa masih ada urusan kantor."

Fulton hanya mengaduk makanan di hadapannya. Tak berselera tiba-tiba, saat mendengar permintaan sang ayah.

Selepas kepergian sang ayah pergi.

"Fulton, kenapa kamu mengatakan hal itu pada papa?" lirih Delania.

"Aku bisa apa?"

"Lalu, apa yang harus kita lakukan?"

"Aku sendiri juga tidak tahu." Fulton memilih melenggang pergi meninggalkan sang istri. Menuju ke ruang kerja pribadinya.

Delania menggerutu kesal. "Sial! Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku harus mempunyai penerus kejayaan Devon. Yah, aku harus memiliki seorang putra." gumamnya. Delania memilih pergi menemui ibunya, ia harus membicarakan hal ini pada orang tuanya.

Sesampainya di kediaman Delania.

"Mama!" serunya, memeluk sang ibu. Oh, jangan lupakan jika Delania pulang diantar oleh sang kekasih-Daniel.

"Sayang ..." sambut sang ibu, memeluk putrinya, namun senyuman di bibir wanita itu lenyap seketika, saat melihat sosok pria di belakang putrinya.

"Untuk apa dia datang ke sini?!" sinisnya.

"Mama, jangan bahas hal ini. Ada hal yang lebih penting, yang ingin aku bicarakan denganmu."

Daniel memilih untuk undur diri, karena ia tahu jika keluarga kekasihnya tak menyukai dirinya.

"Ada hal apa, hm? Cerita pada Mama."

Delania menceritakan semua hal yang terjadi di rumah tangganya, tak ada yang terlupakan sedikitpun. Membuat sang ibu geram dengan ulah menantunya. Bisa-bisanya pria itu menolak putrinya, memangnya siapa dia?.

Bab 3

"Kamu tidak boleh menyia-nyiakan hal ini. Keturunanmu harus menjadi pewaris sah keluarga Devon." antusias sang ibu.

"Tapi, Ma. Aku tidak mau berhubungan dengannya." rengek sang putri.

"Sebelum itu, Mama harus mencari tahu tentang masa depanmu."

"Hah? Maksud Mama?"

"Ingatlah, leluhur kita mewarisi kelebihan."

"Mah, apa sih, yang Mama omongin. Serius, aku nggak ngerti. Aku nggak percaya dengan ramalan."

"Ck, kamu ini. Ayo, ikut Mama." Menarik sang putri membawa ke suatu tempat.

Beberapa menit setelah mengendarai mobil, akhirnya mereka berdua sampai di sebuah rumah tua.

"Ma, ini dimana?" Takut, Delania.

"Ini tempat nenek buyut mu."

Sedikit tidak percaya, bukankah nenek buyut sudah tiada? Lalu untuk apa mereka datang ke sini?.

"Astaga!" Delania tersentak kaget, karena rumah tua itu adalah sebuah makam. Tunggu, ada sosok wanita tua lain di sana.

"Selamat datang Nyonya. Silahkan duduk. Saya tahu apa yang anda inginkan."

Delania sontak cengo, ini benar-benar aneh. Bagaimana dia bisa tahu? Entahlah.

Delania beserta sang ibu duduk. Sedikit lama mereka berbincang, dan sosok itu berlanjut meramal kehidupan masa depan Delania dengan sang suami.

"Kamu tidak akan bisa memiliki seorang putra dari suamimu."

"Maksudnya?" Mau tak mau, Delania sempat penasaran.

"Kamu hanya akan memiliki seorang anak lelaki, jika kamu melakukannya dengan pria lain."

Ini sulit, namun Delania sedikit bahagia. Jika dia hanya akan memiliki seorang putra dari pria lain, kemungkinan besar dirinya akan melakukan hal itu dengan kekasihnya.

Setelah mengetahui semuanya, Delania beserta sang ibu kembali pulang.

Di tengah perjalanan.

"Kenapa kehidupanmu sangat rumit. Ck, kamu tidak bisa memiliki anak lelaki dengan Fulton."

"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" Delania berkata santai.

Sang ibu memikirkan sesuatu. "Apa aku harus menyuruh kekasihmu untuk berhubungan denganmu? Namun dengan satu syarat."

Delania tersenyum penuh semangat. "Apa syaratnya?"

"Menikahlah terlebih dahulu dengannya, tentunya tanpa sepengetahuan suamimu. Hanya sebatas pernikahan siri, setelah kamu mendapat apa yang kamu inginkan. Maka tinggalkan dia."

Delania setuju dengan apa yang ibunya katakan. Ternyata manfaat dari ramalan itu tak begitu buruk.

***

Malam ini Fulton tengah ada lembur, mungkin pria itu akan pulang pagi. Dah malam itu kesempatan bagi Daniel untuk menemani Delania.

"Aku ingin memiliki keturunan darimu." Delania mengalungkan tangannya di leher sang kekasih.

"Kamu yakin?"

"Iya. Aku menginginkannya. Kita akan menjadikan anak kita sebagai penerus kejayaan Devon."

Dengan senang hati Daniel menuruti kemauan sang kekasih, malam ini akan menjadi malam panjang bagi Daniel dan Delania. Demi mewujudkan impian mereka untuk menciptakan penerus kekayaan Devon.

Sedang di tempat lain, Erlena tangah menunggu kedatangan suaminya. Malam ini pria itu berkata jika akan datang menemuinya. Yah! Fulton berbohong jika dia ada lembur. Nyatanya dia pergi menemui istri keduanya.

Tak lama sosok yang Erlena tunggu pun akhirnya datang. Betapa bahagianya hati Erlena.

"Fulton, aku sangat merindukanmu." Memeluk mesra tubuh sang suami.

"Aku juga sangat merindukanmu, Sayang. Malam ini, kamu harus menjadi milikku seutuhnya." Seringai sang suami.

"Bukankah, aku sudah menjadi milikmu, hm?" Erlena mengerlingkan bola matanya begitu menggoda.

"Tapi kamu tidak pernah mengijinkan aku  untuk menyatukan benih kita. Malam ini aku harus melakukan hal itu."

"Fulton, kamu jangan melakukan hal itu. Hari ini masa subur ku." lirih sang wanita.

"Aku tidak peduli." Menggendong tubuh sang istri ala bridal style. Membawanya ke kamar mereka berdua.

***

Hampir satu Minggu ini Fulton tak lagi menemui Erlena, ia masih memikirkan permintaan sang ayah. Ia bingung, tak ingin menyentuh lebih tubuh sang istri. Hingga tiba-tiba saja di saat dia tengah melamun. Daniel datang mengagetkannya.

"Tuan, ada kolega bisnis yang ingin minta bertemu malam ini."

"Atur jadwal pertemuan kita." Perintah Fulton.

Daniel menyunggingkan sebelah bibirnya. "Klein kita meminta untuk bertemu di bar, Tuan."

Sedikit aneh memang, namun ia tak menghiraukan hal itu. Kepalanya terlampau penat sekedar memikirkan rumah tangganya.

Sesuai dengan pertemuan yang diatur Daniel. Kini mereka bertemu dengan sosok klien itu di sebuah bar cukup elit.

Selepas melakukan pertemuan.

"Apa Tuan pernah minum?" tanya Daniel.

"Tidak terlalu." singkatnya.

"Tuan sedang banyak masalah?" tanyanya kemudian.

"Hn."

Daniel mengangguk, berdiri dari tempat duduknya menuju ke arah bartender, mengambil sebotol anggur dan membawanya ke dekat Fulton.

"Cobalah, Tuan. Minuman ini bisa menghilangkan semua masalah yang anda alami."

Fulton masih sibuk membalas chat dari Erlena. Hingga hal itu dimanfaatkan oleh Daniel untuk memasukkan serbuk ke dalam minuman Fulton.

Tanpa menyahut, Fulton langsung meneguk anggur merah di hadapannya. Hingga tandas. Beberapa menit kemudian, kepalanya terasa berputar.

"Akhhh, sssshhh ... kepalaku sakit sekali." rintihnya, menjambak rambutnya sendiri.

Daniel terkekeh sinis. Ck, pria ini terlalu bodoh.

Sedetik kemudian Fulton sudah tumbang. Dengan segera Daniel memapah tubuh Fulton, membawa pria itu pulang.

Sesampainya di kediaman Devon.

Delania segera membantu sang suami masuk ke dalam kamarnya.

"Lakukan sekarang, aku yakin, Fulton tidak akan mengingat apa yang tengah terjadi saat ini." ujar Daniel.

"Kamu memang paling bisa aku andalkan." pujinya.

Delania segera melepaskan baju yang melekat di tubuh sang suami, begitupun dengan dirinya. Selanjutnya tidur di samping sang pria, membuang asal baju-baju Fulton. Agar seolah mereka habis melakukan hubungan suami istri.

Keesokan paginya.

Fulton terbangun dari lelapnya. Merasa aneh, karena ada seseorang yang menindih dadanya. Kedua bola matanya bergulir menatap sosok itu. Tak sampai di situ, dia juga merasakan jika kulitnya bersentuhan dengan kulit wanita itu.

Hingga kesadarannya terkumpul sepenuhnya. Mendudukkan tubuhnya kasar, membuka selimut tebal yang menutupi separuh tubuhnya.

"A-apa yang terjadi?!" syoknya, menatap sosok sang istri di sampingnya.

Delania membuka kedua matanya berlahan. "Fulton, ada apa? Kenapa kamu berteriak?"

"Dela, jelaskan semuanya! Apa yang terjadi di antara kita?" tanya Fulton, berharap jika tidak terjadi apa-apa di antara mereka.

Namun sebelum sepertinya ekspektasi berkata lain. Delania memeluk tubuhnya erat.

"Fulton, terimakasih. Akhirnya aku menjadi istrimu seutuhnya."

Kata-kata Delania cukup menjelaskan semuanya. Tak butuh penjelasan lebih lanjut bagi Fulton. Hanya da nama Erlena di benak Fulton saat ini. Rasa bersalah yang begitu besar menyelimuti pemikirannya.

'Maafkan aku Erlena, maafkan aku yang tak bisa menepati janjiku. Aku tak tahu kenapa semua ini bisa terjadi.' batin Fulton penuh sesal.

Semenjak kejadian itu, Fulton jarang sekali menemui Erlena. Melihat wajah sang istri kedua hanya akan menambah rasa sesal dan ketakutan yang begitu mendalam di hati Fulton. Ia menyesal, rasa bersalah itu terus saja menghantui otaknya. Ingin berkata jujur, tapi takut jika Erlena pergi meninggalkan dirinya. Lebih baik ia diam, menutup semua rahasia itu sendirian.

Erlena akhir-akhir ini sangat merindukan kedatangan sang suami. Bahkan ia sampai mencium aroma baju Fulton yang sengaja tidak ia cuci. Begitu aneh, tak tertahankan.

"Fulton, aku merindukanmu." menatap layar ponsel yang tertera foto sang suami. Ingin menghubungi pria itu, namun ia urungkan. Karena sang suami melarangnya untuk menghubungi pria tersebut.

Pelayan wanita yang bertugas menjaga Erlena merasa iba, melihat sang nyonya tengah bersedih.

"Nyonya, apa Nyonya merindukan tuan?"

Erlena tersenyum dan mengangguk.

"Sangat merindukannya, Bi."

"Biar Bibi yang menghubungi tuan Fulton."

Erlena tersenyum dan memeluk sosok wanita paruh baya itu. "Terimakasih, Bi."

Sang pelayan segera menghubungi tuannya, memberitahukan jika nyonya-nya membutuhkan kehadirannya.

Namun apa yang Erlena harapkan tak terwujud. Fulton menolak untuk menemui dirinya, dengan alasan sibuk. Erlena hanya bisa bersabar. Hingga melupakan kesehatan dirinya sendiri.

"Nyonya Erlena, apa anda sudah bangun? Sudah waktunya sarapan pagi." Sang pelayan mengetuk pintu. Namun pintu itu tak terkunci, sosok wanita itu memberanikan diri untuk masuk ke dalamnya. Tak mendapati sang nyonya di tempat tidur, hingga pendengarannya tanpa sengaja menangkap seseorang tengah muntah di kamar mandi. Dengan segera pelayan itu masuk ke dalam kamar mandi tersebut.

"Astaga! Nyonya! Apa yang terjadi?"

Erlena mengelap mulutnya, hampir satu Minggu ini dia mengalami muntah di pagi hari. Mungkin saja asam lambungnya kambuh, begitu pikirnya.

"Aku baik-baik saja, Bi. Aku akan pergi ke dokter bersama paman."

"Baiklah, biar Bibi panggilkan paman." Tanpa menunggu lama sang pelayan berlari menemui suaminya.

Di sini sekarang Erlena berada, di ruang pemeriksaan.

"Apa yang terjadi pada saya, Dok?"

Dokter wanita yang baru saja memeriksa keadaan Erlena tersenyum. "Tidak apa-apa, semua baik-baik saja. Anda hanya perlu istirahat. Dan juga, harus rutin meminum vitamin. Makan yang bergizi, agar janin yang ada di dalam kandungan anda sehat."

Erlena terkejut. "A-apa maksud Dokter? A-aku hamil?"

Dokter itu tersenyum lembut dan mengangguk.

Erlena menitikkan air mata bahagianya. Tak menyangka jika ada kehidupan lain di dalam tubuhnya. Sungguh, ia sangat bahagia. Berharap segera bertemu dengan sang suami, ingin memberikan kabar bahagia ini. Pasti pria itu akan sangat bahagia. Rasanya sudah tak sabar, Erlena mengelus perut datarnya.

Sepulang Erlena dari rumah sakit.

"Nyonya, apa yang terjadi? Ceritakan pada Bibi." ucap sang bibi menggebu. Menyambut kedatangan sang nyonya yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri.

Erlena tersenyum dan memeluk tubuh pelayan itu. "Bibi, aku sangat bahagia. Aku akan segera menjadi seorang ibu."

Sang Bibi terbelalak. "Nyonya hamil? Syukurlah ... saya ikut bahagia!" serunya.

"Bi, aku sudah tidak sabar ingin memberitahukan kabar ini pada Fulton."

Sang Bibi tersenyum, sebenarnya ia merasa iba dengan apa yang di alami sang nyonya, wanita ini sangat menderita karena menjadi istri ke dua. Namun ia bisa apa selain memberikan semangat pada wanita cantik ini.

Sedang di kediaman Devon.

Tiba-tiba saja Fulton dikejutkan dengan Delania, yang pingsan saat ikut dengannya ke kantor. Entah apa yang terjadi pada wanita itu, yang jelas Fulton sangat khawatir pada istrinya. Dan kini dia membawa sang istri menuju ke rumah sakit.

"Apa yang terjadi pada Delania?" tanya sang ibu mertua.

"Saya juga tidak tahu, Ma. Tadi tiba-tiba saja Delania pingsan." tutur Fulton.

Tak berapa lama sosok dokter keluar dari ruang pemeriksaan.

"Apa yang terjadi pada istri saya, Dok!"

"Selamat, istri anda tengah mengandung."

DEGG!!!

Bagai dihantam bongkahan batu. Fulton masih tak percaya dengan apa yang dokter itu katakan padanya. Berharap jika semua ini hanyalah mimpi. Bagaimana bisa kejadian malam itu membuahkan hasil? Delania hamil? Lalu bagaimana dengan Erlena? Apa yang harus ia katakan pada wanita yang sangat ia cintai itu? Haruskah ia meninggalkan Erlena? Agar wanita itu tak merasakan kesakitan hati lebih mendalam karena dirinya?.

Malam ini Fulton sudah memutuskan untuk menemui sang istri kedua. Ia memantapkan keyakinan, ia akan jujur pada Erlena. Menceritakan semua apa yang ia rahasiakan dari wanita tersebut.

Sekaligus meminta berpisah, tak ingin menyakiti hati Delania yang saat ini tengah mengandung darah dagingnya.

Mencoba bertanggung jawab dengan keluarga kecilnya. Tanpa memikirkan perasaan Erlena.

"Fulton!" seru Erlena, menghamburkan pelukannya di tubuh sang suami. Sungguh, ia sangat merindukan sosok pria ini, aroma tubuhnya, semuanya yang ada pada diri sang suami.

Fulton memejamkan kedua matanya, menahan rasa sesak yang menderu di dalam hatinya. Apakah ia mampu meninggalkan wanita diperlukannya ini?.

Erlena terdiam, merasa aneh. Kenapa suaminya tak membalas pelukannya? Berlahan Erlena melepaskan pelukannya dari tubuh sang suami.

Fulton tersenyum dan mengecup lama kening Erlena. Entah apa yang akan terjadi, yang jelas hati Erlena berkata jika akan ada hal buruk terjadi.

"Fulton, ada apa denganmu?"

"Apa kamu sudah makan malam?" Fulton justru menanyakan hal lain.

Erlena menggeleng kecil.

"Fulton, kenapa kamu tidak pernah berkunjung?"

"Ayo kita makan malam dulu, aku membelikan makanan kesukaanmu?"

Erlena terdiam, kenapa suaminya sepeti sengaja menghindari dirinya?.

Erlena mencoba untuk tetap tersenyum. Mengingat akan memberitahukan kabar bahagia pada pria tersebut.

"Em, Fulton."

"Iya."

"Aku ingin memberitahukan sesuatu padamu."

"Aku juga ingin bicara sesuatu padamu."

Erlena mengangguk. "Kamu duluan."

Fulton mengangguk, mengambil napas dalam-dalam bersiap untuk mengutarakan keinginannya.

"Erlena, sebelumnya maafkan aku.

Erlena menautkan kedua alisnya. "Maaf untuk apa?"

"Untuk lelaki bajingan ini." Fulton menitikkan air matanya. Beralih bersimpuh di bawah kaki sang istri.

Erlena bingung, sebenarnya apa yang sedang terjadi pada suaminya. "Fulton, apa yang terjadi. Jangan begini, apa kamu ada masalah? Jika iya, ijinkan aku untuk membantumu."

Fulton menggeleng cepat. "Aku hanya ingin maaf darimu."

"Apa yang perlu aku maafkan, Fulton?" lembut Erlena, memeluk tubuh sang suami.

"Aku telah mengingkari janji kita. Aku bajingan, aku lelaki brengsek!" racau Fulton.

Hati Erlena terasa berdenyut nyeri. Apakah ini pertanda buruk?.

"Ceritakan, apa yang terjadi," lirih Erlena.

"Aku telah melakukan hal itu pada Delania. Dan sekarang dia tengah mengandung anakku."

Erlena melemas, nyawanya terasa tercabut oleh sang malaikat maut. Tak bisa percaya dengan apa yang suaminya katakan. Sudah ia duga, Fulton hanya mempermainkan dirinya. Erlena terlalu bodoh, kenapa ia tak berkaca, hah? Bukankah angan untuk memiliki seorang Fulton terlalu tinggi?.

"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" isak Erlena.

"Maafkan aku, sepertinya kita harus mengakhiri hubungan ini. Aku akan bertanggung jawab pada Delania."

Erlena menggigit bibir bawahnya. Menahan rasa sakit yang semakin menghujam di dalam hatinya. Rasa sakit yang tak dapat ia ungkapkan dengan kata-kata. Perih kelewat perih, ingin ia mati jika saja tak mengingat ada kehidupan lain di dalam dirinya. Harapan untuk bahagia bersama Fulton sudah lenyap, impian untuk bahagia bersama anak mereka hanya sia-sia. Nyatanya hanya dirinya yang akan hidup dalam kesendirian. Biarlah keberadaan anak ini hanya Erlena yang tahu. Ia tak ingin mengganggu kehidupan Fulton. Ia akan membuktikan pada dunia, jika dirinya bisa membahagiakan putranya, meski tanpa kehadiran seorang ayah.

"Em, pergilah. Aku mengerti." hanya itu yang bisa Erlena ucapakan.

"Tunggu, kamu ingin bercerita apa?"

"Tidak ada. Lupakan." senyum penuh kesakitan tergambar di bibir Erlena.

*Inilah awal dari calon pewaris kekayaan Devon yang sesungguhnya. Mampukah calon putra Erlena membuktikan jika dia tidak wajib menyandang gelar tuan muda?*

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED