Dalam keheningan malam yang pekat dan tenang, sebuah rumah tua yang terabaikan berdiri di tengah hutan yang gelap. Malam itu bulan tak tampak, hanya sebagian bintang yang tak tertutup awan. Dalam sebuah ruangan rumah tua itu terdapat dua nyawa terkurung dalam kegelapan, masing-masing hampir menyerah pada akhir hayat mereka-sekarat.
Seorang pria, di sudut ruangan penuh luka dan kehilangan banyak darah, terbaring lemah di lantai yang dingin dan lembab. Keringat dingin mengucur dari dahinya, sesekali terdengar erangan kesakitan memecah keheningan malam yang gelap itu. Hidupnya hampir meredup, hingga sebuah tangan nan lembut mengenai keningnya.
Ternyata ia tidak dikurung sendiri. Ada sepasang tangan yang kini menjamah, memeriksa apakah masih ada denyut jantung di dadanya. Pria itu membuka matanya sesaat, dalam kegelapan ia tidak dapat melihat dengan jelas wajah pemilik tangan lembut itu. Dia hanya menangkap aroma khas dari tubuh orang itu dan dapat dipastikan jika ia seorang wanita. Aroma yang menenangkan dan lembut seolah-olah itu adalah tanda kehidupan yang tersisa.
Di dalam ruangan yang sama, seorang wanita yang tampaknya sama-sama terkurung dan lemah berusaha keras merawat sang pria. Dalam keadaan putus asa, dia menggunakan pengetahuan medis yang dia miliki untuk memberikan pertolongan pertama. Meskipun ia sendiri lemah, tekadnya untuk menyelamatkan pria itu tidak goyah. Samar-samar ia dapat melihat tato bergambar kuno yang terletak di dada pria itu. Simbol-simbol aneh yang tidak dia kenal tetapi mereka memancarkan aura misteri dan kekuatan.
“Aku sudah tidak kuat lagi. Maaf, jika tidak sepenuhnya menyelamatkanmu.” Suara lemah dan kelembutan yang tidak sirna terdengar jelas oleh lelaki itu. Berkat pertolongannya, dia merasa lebih baik. Darah yang sebelumnya terus mengalir kini sudah dihentikan oleh wanita itu. Ia menoleh, berusaha melihat wajah pemilik suara lembut tersebut. Namun, wanita itu ambruk dan berakhir di sisinya, tidak sadarkan diri dengan keringat membasahi seluruh tubuh. Lelaki itu mengangkat tangannya untuk menyadarkan sang wanita. Gerakan tangannya terjeda setelah menyadari ada seutas kain cokelat terikat di pergelangan tangannya. Sepertinya sang wanita merobek separuh gaunnya untuk membalut luka.
“Siapa kamu?” Suara serak dan berat keluar dari mulut lelaki itu. Namun ucapannya tidak mendapat balasan, hilang dan lenyap ditelan kegelapan serta kesunyian. Saat itu juga petir menyambar membunuh segala kesunyian dan kegelapan di malam itu. Kilau petir masuk dalam ruangan, satu hal yang dilihat oleh lelaki itu, sebuah pisau masih tertancap di kaki sang wanita. Sedangkan wajahnya tertutup oleh rambutnya yang terurai panjang. Akibat kilauan petir yang terus menghujam matanya, lelaki itu kembali merasakan sakit di kepala. Baru disadarinya jika ada seutas kain lain lagi terikat di kepalanya. Detik berikutnya ia pun ambruk dan terbaring di samping wanita itu. Sebelum kesadarannya hilang, hidungnya kembali mendapati aroma khas dan menenangkan dari tubuh wanita itu. Meskipun pria itu tidak mampu mengingat wajah wanita penolongnya, namun aroma itu tertanam dalam ingatannya.
***
Tiga Bulan Kemudian.
Di jalanan kota yang diperintah oleh bayangan dan ketegangan, kekuatan gelap mafia menjalankan operasinya dengan tangan besi. Kehidupan malam yang berdering suara senjata dan tindakan kejahatan menyelimuti sudut-sudut kota yang gelap.
Ditengah segala ketegangan ini, seorang pria bernama Luke Damian Jazane merupakan pemimpin klan Reposay yang terkenal kejam di seluruh kota. Setelah dirinya berhasil selamat dari penyekapan di hutan Ballad tiga bulan lalu, kini dia mulai melakukan aksi balas dendam kepada para penculiknya yaitu klan Mawar Hitam.
“Mulai malam ini Mawar Hitam sepenuhnya musnah,” ujar Luke setelah menghabisi nyawa pemimpin klan mawar hitam, Gator D’Lopes. Sorot mata tajam, rahang tegas dan tubuh yang sempurna membuatnya sangat disegani oleh kelompok mafia dan yakuza seantero negeri.
“Siapa itu?” Sebuah bayangan dari balik tirai membuat Luke bersiaga. Belum sempat dirinya beraksi, seorang pria melompat masuk ke dalam ruangan yang masih di tutupi tirai dan melayangkan tinjunya pada seseorang yang belum diketahui identitasnya.
“Auh!” Jeritan kesakitan membuat mata pemimpin Reposay menyipit.
“Ada seorang wanita di sini, Luke,” ujar Mark selaku wakil Reposay. Tangannya mencekik leher seorang wanita dengan darah keluar dari sudut bibir. Wajahnya tidak kelihatan karena tertutup oleh rambut panjangnya. Mark mendorong kasar tubuh wanita itu hingga terjerembab dan berlutut tepat di depan Luke.
“Apakah kamu pelayan Gator?” tanya Luke pada wanita itu.
Luke dan Mark menunggu jawaban namun mereka berdua diabaikan oleh wanita itu. Ia memilih menatap ubin lantai dengan tatapan kosong dan putus asa.
“Apakah kamu tidak bisa berbicara?” tanya Mark sembari melayangkan kakinya ke pundak wanita itu. Lagi-lagi hanya kebisuan yang tercipta. Setelah diperhatikan dengan seksama, sepertinya wanita itu mengalami depresi. Kedua jemarinya disatukan dan sedikit gemetar. Luke memberi instruksi lewat tatapannya agar Mark mundur.
“Bawa dia bersama kita,” ujar Luke lalu berbalik pergi. Mark yang tidak mengerti dengan tujuan Luke hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan memerintah kedua lelaki untuk memapah wanita itu ke luar dari kediaman Gator.
Klan Mawar Hitam sepenuhnya dimusnahkan. Kobaran api menghanguskan kediaman Gator hingga tidak ada lagi yang tersisa. Reposay menuntaskan segala dendam dan amarah atas kejadian tiga bulan yang lalu.
Puluhan mobil meninggalkan kediaman Gator dengan api menyala terang memenuhi cakrawala yang gelap. Tanpa disadari jika ada seorang wanita yang berdiri tidak jauh dari pintu gerbang, mengepal erat tangannya dan menahan napas yang memburu. Sebelum umpatan keluar dari mulutnya, kedua butiran bening jatuh membasahi pipi. Detik berikutnya, ia pun jatuh dengan tangan menggenggam erat pohon akasia.
“Ibu…”
***
Kabar musnahnya Klan Mawar Hitam tersebar ke seluruh negeri. Bahkan sampai ke sebuah desa terpencil di bagian barat hutan Ballad. Bagi masyarakat biasa, perubahan kekuasaan di kota akan memengaruhi harga pasar.
“Apakah kamu mengenal klan Reposay, Mika?” tanya seorang kakek yang sedang memperbaiki sebuah lentera. Cahayanya redup namun pesona dan pancaran kecantikan dari wanita yang sibuk menyiapkan makan malam mampu mengubah cahaya remang-remang dalam rumah itu menjadi hidup.
“Pernah membacanya di koran, Kakek. Kayaknya klan itu sedang naik daun.”
Kakek berhasil memperbaiki lentera sehingga cahaya lentera menampakkan wajah keriput dan matanya yang mulai senja. “Apakah harga sembako akan naik atau malah sebaliknya? Belum lagi harga hasil panen ke depannya.”
Semua makanan sudah tersaji di atas meja. Mika yang memahami kekhawatiran kakeknya hanya bisa menghembuskan napas pelan. “Jika harga sembako naik dan harga hasil panen turun, Kakek tidah perlu cemas. Masih ada aku.”
“Kamu begitu percaya diri, Mika. Apa yang bisa kamu lakukan? Apakah pergi menghabisi klan Reposay?” tanya kakek pada Mika sembari menahan tawa.
“Bukankah kita sudah melewati kehidupan paling pahit, Kek? Mustahil aku bisa menghabisi klan Reposay. Tapi aku bisa mengubah desa ini dengan menghasilkan beberapa tanaman yang jarang dihasilkan negeri ini.” Wanita itu berujar dengan percaya diri.
Belum sempat kekek menimpali ucapannya, tiba-tiba terdengar ketukan pintu. Dahi Mika mengernyit dan menatap kakeknya. Jarang sekali warga desa ini bertamu di malam hari. Selain cuaca yang dingin, para warga juga lebih memilih beristirahat agar bisa bangun lebi subuh untuk pergi ke ladang.
“Mika… Ini aku, Deby…”
“Kak Deby?” Mika segera berlari menuju pintu dan membukanya. Matanya membelalak kaget melihat wajah kakak perempuannya. Lusuh dan berantakan. “Apa yang terjadi? Mana ibu?” tanya Mika lalu berjalan keluar untuk mencari keberadaan ibunya.
“Ti-tidak tahu. Setelah aku kembali dari pasar, rumah yang kami tempati telah terbakar.” Terbata-bata dan diiringi tangis, Deby mulai menceritakan kejadian yang menimpanya lima hari yang lalu.
“Jadi ibu dan kakak menginap di rumah tuan Gator?” tanya Mika dengan tatapan tidak percaya.
“Aku dan ibu tidak tahu jika rumah itu adalah milik tuan Gator.”
“Reposay harus bertanggung jawab.” Sorot mata yang tidak biasa dari Mika. Dadanya naik turun dan matanya berkaca-kaca. Bukan karena sedih namun menahan amarah yang menggebu-gebu dan harus dituntaskan.
Setelah berpisah dari lingkungan desa yang familiar, Mika merasa telah memasuki dunia yang benar-benar berbeda. Kota Zaro sangat ramai bahkan sampai pagi jalanan tidak pernah sepi. Dia pernah membaca koran dan beberapa majalah tentang kehidupan perkotaan namun ini diluar ekspektasinya. Bahkan pakaian yang dikenakannya jauh berbeda dengan para penghuni kota. Gedung-gedung yang tinggi, lalu lintas padat dan kermaian-pikuk kota menjadi pemandangan yang mengejutkannya. Dia merasa kecil di tengah keramaian tersebut.
“Secepatnya kamu akan terbiasa dengan lingkungan perkotaan, Mika,” ujar Deby yang memahami raut wajah dan sorot mata adiknya.
“Dimana kita akan tinggal, Kak?” tanya Mika. Hari sudah larut dan mereka berdua masih berjalan tanpa tujuan sembari membawa tas pakaian.
“Bukankah kamu memiliki uang pemberian kakek?” tanya Deby. Mika mengangguk dan mengeluarkan sebuah kantong berwarna abu-abu. Mata Deby berbinar ketika melihat ketebalan kantong tersebut.
“Kita cari penginapan terlebih dahulu.” Bola mata Deby bergerak ke sana kemari seakan mencari ide kemana mereka menginap malam ini. “Kita istirahat sebentar di sana,” ujar Deby sembari menunjuk pada sebuah bangku panjang yang terbuat dari kayu. Disisinya ada sebuah tempat sampah dan sebuah bunga yang tidak dikenali oleh Mika.
Kedua kakak beradik itu meletakkan tas dan duduk di atas bangku. Mika membasuh keringatnya dan terus mengamati bangunan dan taman yang di desain apik dan elegan. “Apakah rumah di kota ini mahal, Kak?”
“Mahal.” Deby mengulum bibirnya sejenak dan menatap lekat wajah adiknya. “Berapa banyak uang yang kamu bawa?” tanya Deby.
“Aku belum menghitung uang dari kakek. Kalau uang tabunganku ada lima belas juta.”
Mata Deby berbinar ketika mendengar nominal uang yang disebutkan Mika. Sudah lama ia bekerja di kota ini namun belum bisa mengumpulkan uang sebanyak itu. “Aku tahu dimana kita harus menginap.”
“Benarkah? Aku sudah lelah, Kak. Pengen mandi juga.” Mika tersenyum senang lantas berdiri dan memikul tasnya.
“Berikan uangmu padaku. Aku harus membayar penginapannya.”
Mika terdiam dan mengernyit, “sampai di penginapan baru aku membayarnya, Kak.”
Deby menahan kesal dan membuang tatapannya ke tempat sampah. “Baiklah.”
Tidak mudah menipu adiknya. Memang Mika baru menginjakkan kakinya di kota Zaro, namun ia sangat jeli dan sudah belajar tentang kejahatan dan penipuan di kota besar. Kedua kakak beradik itu kembali menapaki trotoar dan berjalan menuju sebuah kompleks perumahan yang sedikit sepi. Terlihat deretan kamar seperti kos-kosan berjajar rapi.
“Di sini lebih tenang daripada jalanan tadi.” Mika melayangkan pandangannya ke sekitar. Ada pohon tabebuya yang sedang mekar. Mahkota kuning tabebuya berjatuhan di tanah, ketika cahaya lampu jalan mengenainya menampakkan pemandangan malam yang indah.
“Untuk sementara kita kontrak di sini. Jika sudah dapat kerja kita bisa mencari rumah atau apartemen.”
Mika mengangguk setuju. Tekadnya untuk mencari kebenaran tentang ibunya semakin kuat. “Pagi aku akan bekerja, malam baru mencari keberadaan ibu.”
Deby mengangkat kedua alis matanya jengah, “aku hanya bisa bekerja dan tidak bisa membantumu.” Mika terkejut dengan ucapan Deby. Ia ingin menyanggah kalimat kakaknya namun ia sudah lelah berjalan dan tidak bertenaga untuk berdebat.
“Di sini sebulan harga sewanya sejuta. Keluarkan uangmu.” Deby mengangkat tangan kanannya dengan mata enggan melihat sang adik.
Mika segera merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah amplop. Deby melongo kaget ketika melihat adiknya masih menyimpan uang di dalam amplop. Entah ada berapa amplop yang dibawanya untuk menyimpan lima belas juta. Belum lagi kantong cokelat pemberian kakek Jhon.
“Ini, Kak. Bulan depan kita patungan bayarnya,” ujar Mika.
“Hm.” Deby berwajah ketus dan berjalan menuju sebuah rumah dengan dua satpam di depannya. Entah apa yang mereka perbincangkan, Mika hanya berdiri dan melihat dari jauh. Tidak lama kemudian Deby kembali sembari membawa satu lembar kertas. “Isi data diri terlebih dahulu. Aku lupa nama lengkap dan tanggal lahirmu.”
“Apa?” Mika tidak mengerti dengan isi pikiran kakaknya. Mungkin yang dipedulikan Deby hanyalah dirinya sendiri. Tidak ingin berdebat, Mika hanya bisa menelan salivanya. “Nama lengkap Belavina Mikaila Orion, tiga maret dua ribu tiga.”
“Ternyata kamu masih bocil.”
“Bocil itu apa, Kak?” Mika mengerutkan keningnya dan baru mendengar kata itu.
“Nanti juga kamu tahu.” Deby kembali ke arah dua satpam dan menyerahkan lembaran kertas pada mereka. Setelah itu mereka berdua diantar oleh seorang satpam ke kamar yang telah disewa.
Sesampainya di kamar, Mika langsung mengecek seluruh isi kamar untuk memastikan bahwa kamar yang mereka tempati aman. Sedangkan Deby sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
“Mandi dulu, Kak.”
“Hm.”
Mika mengeluarkan pakaian dari tasnya dan memasukannya ke dalam lemari. Tidak diketahuinya jika Deby terus memantau geraknya. Sesekali matanya menyipit dan bertanya-tanya dimana adiknya meletakkan amplop lain dan kantong cokelat.
“Besok aku akan bertemu teman lamaku untuk mencari kerja. Jika sudah dapat aku akan membawamu ke sana.” Deby menghembuskan napas kesal karena tidak melihat amplop putih maupun kantong cokelat dalam tumpukan pakaian Mika.
“Baik, kak.”
***
Dalam ruangan yang dihiasi dengan kemewahan, Luke berdiri menghadap ke jendela kaca. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana dan tatapannya jauh ke hamparan luas kota Zaro. Ruangan kebesarannya dihiasi dengan kemewahan yang tersembunyi dalam bayang-bayang kejahatan. Dinding-dindingnya terbuat dari batu bata tua yang mengekspresikan aura usia dan kekuatan, sementara lampu-lampu gantung kristal menggantung dengan megah di setiap sudut ruangan. Udara dalam ruangan terasa berat dengan rokok dan beberapa minuman keras, menciptakan lingkungan yang penuh ketegangan dan rahasia.
Tok…tok…
Suara ketukan tidak membuat Luke bergerak dari posisinya. Satu-satunya orang yang leluasa keluar masuk dari ruangannya adalah Mark, wakil ketua Reposay sekaligus sahabatnya. Namun derap langkah kali ini berbeda membuat Luke mengernyit dan melirik ke kanan. Di sana terdapat sebuah cermin besar yang memantulkan gambar siapa saja yang masuk ke dalam ruangannya. Seketika senyum tipis terukir di bibirnya.
“Leon kembali, Tuan Besar.”
Luke berbalik dan menatap sejenak lelaki itu dari kepala sampai ujung kaki. Leon berjubah hitam, wajahnya terdapat bekas luka di bawah rahang kanan mencerminkan pengalaman panjang dalam dunia kriminal. “Selamat datang, Leon.”
“Maaf, Tuan. Keberadaan wanita itu seakan telah ditelan bumi.” Leon mendapat tugas menyelidiki keberadaan wanita yang disekap bersama Luke di hutan Ballad. Namun tidak ditemukan. Bahkan wanita itu tidak meninggalkan jejaknya sedikitpun.
Luke berjalan menuju sebuah meja hitam panjang dan memutar pelan sebuah musik jazz, menciptakan latar belakang yang kontras dengan suasana yang ada. Pada saat seperti ini, Leon tahu segala sesuatu dalam ruangan ini mengingatkannya pada peraturan tak tertulis dunia mafia, di mana kepatuhan adalah harga yang harus dibayar.
“Bagaimana perjalananmu?” tanya Luke sengaja mengalihkan topik pembicaraan. Pertanyaannya memotong keheningan dan ketegangan yang terasa berlarut-larut.
“Tidak jauh berbeda dengan perjalanan sebelumnya. Namun kali ini berbeda.” Leon segera mengatupkan kedua bibirnya. Hal itu membuat Luke mengarahkan ekor matanya pada pemuda itu. “Leon tidak sengaja bertemu seorang wanita di atas kereta. Auranya berbeda dan terlihat mahal.”
“Kapan kamu dewasa?”
Sebuah kalimat dari Luke berhasil membuat Leon bungkam. Ia memang berpengalaman dalam dunia gelap namun lemah dalam percintaan. Bahkan beberapa perencanaannya mampu mengubah dinamika kekuatan dalam dunia kriminal.
“Temani aku ke San Club.” Luke tahu jika Leon baru saja kembali. Namun ia membutuhkan pemuda itu untuk menyelesaikan beberapa kasus.
“Apakah kakak membutuhkan seorang gadis? Aku bisa mencarinya.” Leon terlihat bersemangat. Namun raut senangnya berubah serius kala manik hitam Luke menghujam wajahnya.
Sudah lama Luke tidak bersama wanita. Entah apa yang membuat lelaki bertemperamen dingin itu tidak mencari kekasih. Namun satu hal yang diketahui Leon, kakak lelakinya itu pernah merasakan pengkhianatan besar yang dilakukan ibu mereka terhadap sang ayah.