Pria berbadan tinggi, memiliki bahu lebar dan tegap, otot kekar yang terbalut dengan pakaian mewah, tidak cukup untuk menutupi bentuk tubuhnya yang menonjol. Ia menerobos masuk ke dalam kamar Putri Erina. Langkahnya yang lebar dan tergesa membuat mata para prajurit serta pelayan mengikuti ke mana arah perginya pria tampan itu.
“Erina. Apa yang kau lakukan pagi ini?” Pangeran Ergo bertanya dengan sangat lembut namun hatinya sangat khawatir.
Putri Erina yang sedang merangkai bunga di kamarnya terlihat seolah-olah tidak ada sesuatu hal penting.
“Hanya pergi ke kediaman Duke Vries karena undangan acara minum teh bersama Lady Aurora,” jawab Putri Erina dengan polos.
“Lalu, apa yang terjadi di sana?” Pangeran Ergo duduk di hadapan Putri Erina dengan menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.
“Tidak ada.” Putri Erina tidak ingin mengingat dan membicarakan kejadian tadi pagi.
“Kenapa kau menggunakan sihir api?” Pada akhirnya Pangeran Ergo menyerah bermain teka-teki bersama adik kesayangannya.
“Oh itu.... mereka yang menginginkannya, jadi aku melakukan sesuai dengan permintaan mereka.” Putri Erina tetap bersikap tenang.
Pangeran Ergo menghela nafas. “Adikku tersayang, jika aku tidak segera menghentikannya bisa saja bukan hanya gaun para lady yang terbakar. Tapi kediaman Duke Vries juga ikut terbakar.”
Putri Erina menyengih dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Jadi tadi itu.... kakak yang mencegah?”
“Tentu saja. Siapa lagi kalau bukan aku yang bisa melakukan sihir dengan jarak sejauh itu. Lain kali kau harus berhati-hati, belajarlah dengan lebih giat lagi.” Pangeran Ergo mengusap rambut Putri Erina dengan pelan.
“Kak, apa aku sebodoh itu?” tanya Putri Erina dengan menundukkan kepalanya.
“Kau tidak bodoh, Cuma kurang serius dan ceroboh dalam segala hal. Apa kau ingin mencoba belajar pedang?” Pangeran Ergo memahami pikiran Putri Erina.
“Apa itu boleh? Bukankah aturan kerajaan, wanita bangsawan tidak boleh mengangkat pedang seperti kesatria dan prajurit? Hanya boleh memanah dan belajar seni pedang paling dasar.” Punggungnya bersandar di bantalan kursi dan Putri Erina terlihat sangat putus asa.
“Biar aku yang mengurusnya, tugasmu hanya menjaga rahasia ini dari siapapun.” Pangeran Ergo mengedipkan sebelah matanya dan pergi dari kamar Putri Erina.
Putri Erina melompat bahagia dan memeluk Sativa, pelayan pribadinya yang baru saja masuk ke kamar Putri Erina.
Sativa terkejut dengan sikap Putri Erina. “Putri...” Sativa tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Putri Erina memegang kedua tangannya dan mengajak dirinya berputar-putar.
Putri Erina kehabisan nafas, ia segera mengatur nafas sebelum menceritakan kepada Sativa.
“Pa Pangeran Ergo ... akan ... melatihku berpedang,” kata Putri Erina dengan nafas yang tidak beraturan.
Sativa menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia tidak tahu harus bahagia atau khawatir.
“Tapi bagaimana jika sampai Yang Mulia Raja Fasco dan Ratu tahu tentang ini?” Suara Sativa sedikit berbisik.
“Itu dia! Ini akan menjadi rahasia.” Putri Erina meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.
“Tapi siang ini anda harus pergi ke kelas sejarah,” kata Sativa mengingatkan.
“Kenapa kau selalu menjadi badai di saat matahari sedang bersinar?” Putri Erina menghela nafas berat.
Dengan langkah gontai, Putri Erina pergi ke perpustakaan istana. Sebelum langkahnya memasuki perpustakaan, dua orang prajurit datang menemuinya.
Kedua prajurit membungkuk hormat. “Putri Erina, Yang Mulia Raja memanggil anda untuk datang ke ruang kerja Raja,” kata salah satu prajurit.
Putri Erina mengangkat satu alisnya, tidak seperti biasanya, Raja Fasco memintanya untuk menemui di ruang kerja. Dengan cepat Putri Erina memutar arah menuju sang ayah berada. Ia membuka pintu ruang kerja Raja Fasco dengan anggun, Putri Erina melihat Duke Albert, Duke Vries dan juga Count Trevor juga berada di dalam ruang kerja Raja. Dengan segera ketiga bangsawan berdiri dan memberikan hormat kepada Putri Erina.
Duke Albert adalah ayah dari Belinda dan Count Trevor adalah ayah dari Evelyn. Putri Erina tahu mengapa Raja Fasco memanggilnya untuk menghadap.
Wajah Raja Fasco terlihat sangat muram dan tidak ramah seperti biasanya. Putri Erina memberanikan diri untuk berbicara.
“Yang Mulia Raja memanggil hamba? Ada apa gerangan membuat Yang Mulia sampai memanggil hamba?” Putri Erina memberikan hormat di hadapan ayahnya.
“Putri Erina, kau pasti sudah tahu mengapa aku memanggilmu dan ketiga bangsawan juga berada di sini.” Raja Fasco melihat keempat orang yang berada di dalam ruangannya secara bergantian.
“Mohon maaf Yang Mulia, hamba tidak paham.” Kali ini Putri Erina harus mendengar apa yang akan dikatakan oleh Duke Albert dan juga Count Trevor.
“Apakah kau tidak menyadari kesalahanmu tadi pagi di kediaman Duke Vries? Silakan jelaskan, Duke Albert dan Count Trevor. Jika memang Putri Erina bersalah maka aku akan menghukumnya, tapi jika anak-anak kalian yang bersalah, aku juga harus menghukumnya,” ucap Raja Fasco dengan tegas.
“Putri Erina membakar gaun milik anak kami, Yang Mulia. Di depan semua para nona bangsawan lainya, tadi pagi saat acara minum teh di kediaman Duke Vries.” Duke Albert mengatakan dengan suara marah yang tertahan.
“Benar begitu, Duke Vries?” Tatapan Raja Fasco beralih ke arah Duke Vries.
“Benar, Yang Mulia.” Duke Vries terlihat sangat tenang, karena dia tahu bahwa Putri Erina tidak melakukan hal yang keliru, berdasarkan cerita dari anaknya, Aurora.
“Sekarang giliranmu untuk menjelaskan, Putri Erina.” Raut Wajah Raja Fasco terlihat sedikit kecewa dengan anak gadisnya.
“Maafkan hamba, Yang Mulia. Hamba tidak menduga bahwa kejadian tadi pagi akan berlanjut. Semua yang dikatakan oleh ketiga kepala keluarga bangsawan ini memang benar adanya,” ucap Putri Erina dengan sangat polos.
Semua orang tersentak mendengar Putri Erina mengakui kesalahannya. Terlebih Raja Fasco, ada rasa bangga di dalam hatinya untuk anak gadisnya itu.
“Tapi itu semua bukan kesalahan hamba sepenuhnya, lady Belinda dan lady Evelyn meminta hamba menunjukkan kekuatan sihir sederhana, meskipun lady Aurora sudah memperingatkan bahwa itu permintaan yang tidak pantas, namun mereka berdua memaksa. Jadi hamba menunjukkan sihir api, Yang Mulia Raja juga tahu pelajaran mantra sihir hamba baru menginjak sihir api, dan sihir api merupakan sihir dasar untuk anggota keluarga kerajaan yang harus dikuasai. Pada akhirnya hamba tidak sengaja membakar gaun lady Belinda dan lady Evelyn, itu saja sudah membuat Pangeran Ergo bersusah payah untuk menghentikan mantra sihir hamba. Jika tidak, kediaman Duke Vries juga ikut terbakar,” lanjut Putri Erina dengan wajah tidak bersalah.
Raja Fasco dan Duke Vries menahan tawanya, mendengar penjelasan Putri Erina yang sangat polos dan apa adanya, tidak ada maksud tertentu dari ucapannya.
“Memang benar, meminta anggota kerajaan menunjukkan sihir merupakan hal yang tidak pantas. Terlebih mereka meminta kepada Putri Erina yang masih belajar. Bagaimana menurut anda, Duke Vries?” Raja Fasco tidak bisa memutuskan secara sepihak, karena akan menjadi rumor bahwa dirinya membela anaknya.
“Menurut hukum kerajaan memang tidak pantas seorang meminta salah satu anggota keluarga kerajaan mengeluarkan ilmu sihir hanya untuk sebuah pertunjukkan. Jadi menurut hamba Putri Erina tidak salah, yang bersalah justru lady Belinda dan juga lady Evelyn.” Duke Vries selalu berada dipihak Raja, dan ia adalah orang yang jujur serta adil.
“Apakah penjelasan Putri Erina bisa dibuktikan?” Duke Albert tidak terima dengan keputusan bahwa anaknya bersalah.
Pintu ruang kerja Raja Fasco terbuka lebar, Pangeran Ergo datang karena ia mendengar adik kesayangannya sedang berada dalam masalah.
“Yang Mulia Putra Mahkota.” Semua orang serempak memanggil Pangeran Ergo.
Ketiga bangsawan membungkuk memberikan hormat.
“Benar yang dikatakan Putri Erina, jika hamba tidak mencegah mungkin kediaman Duke Vries sudah menjadi abu sekarang. Bukankah para nona bangsawan tahu bahwa Putri Erina masih berada ditahap awal untuk ilmu sihir? Kenapa mereka ingin melihat Putri Erina menggunakan sihir? Untuk menjadi bahan lelucon atau untuk mempermalukan Putri Erina? Jika benar seperti itu maka hukumannya bukan hanya melanggar hukum kerajaan terkait sihir, namun bertambah menjadi penghinaan kepada anggota keluarga kerajaan.” Pangeran Ergo ingin menghentikan sikap manja para bangsawan yang hanya bisa mengeluh tanpa memperbaiki diri.
Duke Albert dan Count Trevor panik mendengar ucapan Pangeran Ergo.
“Maafkan kelalaian kami mendidik anak-anak kami, Yang Mulia. Mereka masih sangat muda dan tidak mungkin memiliki pemikiran keji seperti itu. kami akan meminta anak-anak untuk meminta maaf kepada Putri Erina secara pribadi.” Count Trevor terlihat jelas tidak ingin masalah ini menjadi panjang.
“Tidak perlu, saya anggap masalah ini selesai. Saya harap anak-anak anda tahu batasannya dan bisa memperbaiki kelakuannya.” Putri Erina sudah sangat malas mendengar para bangsawan yang seolah-olah tertindas.
“Yang Mulia Raja, Yang Mulia Putra Mahkota. Hamba mohon undur diri, karena ini waktunya kelas sejarah dan guru besar sudah menunggu.” Putri Erina memberikan hormat kepada Raja Fasco dan Pangeran Ergo sebelum ia keluar dari ruang kerja Raja.
Putri Erina duduk di balik kursi yang berada di perpustakaan dengan menghela nafas kesal.
Guru besar terkekeh melihat tingkah Putri Erina. “Pelajaran sejarah belum dimulai tapi anda sudah menghela nafas?”
“Bukan karena pelajaran sejarah, namun kejadian sebelum saya datang ke sini yang membuat saya sangat kesal.” Putri Erina menopang dagunya dengan telapak tangannya.
Guru besar ikut menghela nafas. “Kalau seperti ini bagaimana anda bisa belajar dengan baik. Begitulah para bangsawan, mereka akan lemah dan merasa tertekan bila berhadapan dengan tuannya. Meskipun mereka berbuat salah tapi mereka akan bersikap sebagai orang yang tertindas.”
Putri Erina merasa berada di lingkaran sosial yang tinggi justru sangat mengerikan, banyak dari mereka yang bermuka dua dan pasti mereka memiliki tujuan sendiri untuk menyelamatkan kehidupan mereka. Segala macam cara akan mereka lakukan hanya untuk mengambil hati sang Raja, tidak ada yang bisa dipercaya.
Matahari tenggelam dengan sangat cepat, langit jingga berubah menjadi gelap berhiaskan bintang yang bersinar layaknya kilauan permata.
Putri Erina sudah menantikan untuk melakukan latihan pedang bersama dengan Pangeran Ergo, tentu saja dia sudah tidak sabar untuk segera menggenggam pedang.
Sir Gabriel datang menjemput Putri Erina. Pria tampan dengan badan yang kekar, mata birunya bersinar seperti batu safir di dalam air begitu jernih dan dingin. Wajahnya yang tegang dan tidak ramah nampak jelas bahwa dia juga jarang tersenyum.
Meskipun begitu, Putri Erina tidak takut dengan pria tampan di hadapannya. Seperti magnet, menarik perhatian Putri Erina untuk mengetahui lebih jauh tentang pria itu.
Sir Gabriel bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa seorang putri tidak menekuni kelas putri kerajaan, justru dia ingin belajar pedang dengan para ksatria yang berada di bawah perintah Pangeran Ergo. Semua orang sudah membicarakan tentang reputasi Putri Erina yang tidak pernah serius dalam berbagai hal, dan juga ia sering gagal dalam ujian kelas putri. Ia seger menepis semua pertanyaan tidak pantas itu.
“Kenapa aku jadi ikut memikirkan reputasi Putri Erina? Dasar prajurit sialan itu sudah meracuni pikiranku,” kata Sir Gabriel dalam hati.
“Bisa-bisanya seorang ksatria kerajaan melamun saat berjalan dengan seorang Putri kerajaan.” Putri Erina mendengkus kesal.
Sir Gabriel terkesiap mendengar ucapan Putri Erina. “Maafkan hamba, Putri. Apakah anda mengatakan sesuatu?”
“Kau pasti tidak menyukaiku, kan? Karena rumor tentang aku yang bodoh dalam segala hal.” Putri Erina mencibir diri sendiri.
“Tidak, hamba tidak pernah berpikir seperti itu kepada Tuan Putri, maafkan hamba yang sudah mengabaikan Tuan Putri.” Sir Gabriel berusaha untuk menutupi rasa paniknya.
“Walaupun kau punya pikiran seperti itu, aku tidak menyalahkanmu. Karena memang benar aku tidak pintar dalam urusan belajar bersama setumpuk buku. Tidak seperti kakak, dia bisa melakukan semua hal dengan sempurna tanpa kekurangan. Kakak pantas menjadi seorang Raja, bukankah begitu Sir Gabriel?” Putri Erina memiringkan kepalanya agar bisa melihat wajah tampan Sir Gabriel.
Sir Gabriel hanya menganggukkan kepalanya, tanda bahwa ia setuju dengan pendapat Putri Erina. Mereka terus berjalan menuju arena berlatih pedang di istana bagian barat, milik pangeran Ergo.
Arena berlatih tepat di belakang taman istana bagian barat, tidak terlalu luas namun cukup untuk menampung sekitar dua puluh orang. Putri Erina berlari setelah melihat Pangeran Ergo yang sudah berada di arena berlatih, menyiapkan pedang sungguhan miliknya. Kali ini wajah Putri Erina semakin senang, akhirnya dia akan menggunakan pedang besi bukan pedang kayu seperti di kelas seni pedang.
Pangeran Ergo melemparkan pedang ke arah adiknya, Putri Erina dengan sigap menangkap pedang itu tanpa kesalahan.
Semua ksatria yang berada di arena berlatih terkejut dengan ketangkasan Putri Erina. Pangeran Ergo hanya tersenyum puas, ia tahu bahwa adiknya akan menjadi ksatria wanita hebat suatu hari nanti.
Pangeran Ergo menyerang Putri Erina tanpa mengatakan apapun sebelumnya. Pedang diayunkan dengan cepat dan memburu, tanpa membiarkan Putri Erina untuk membalas serangan yang bertubi-tubi.
Putri Erina menghalau pedang dengan tangannya sekuat tenaga, pedang besi yang berat dan menahan serangan Pangeran Ergo membuat tangan Putri Erina seperti terkena kliatan petir. Darahnya yang mengalir kencang seolah berlari di tangannya, panas membara begitu sangat menyengat di pundak Putri Erina.
Dengan cermat, Putri Erina mengamati pola pergerakan serangan dari Pangeran Ergo. Setelah ia paham bagaimana Pangeran Ergo mengayunkan pedangnya, Putri Erina dengan sangat berani membalas serangan tanpa henti. Kali ini para ksatria tercengang, mereka tidak melihat Pangeran Ergo sedang melatih tapi mereka melihat pertarungan antara kakak beradik.
Pangeran Ergo menghentikan serangannya, dia sudah mulai kehabisan nafas. Butiran keringat mengalir deras membasahi tubuhnya. Begitu juga dengan Putri Erina, ia merebahkan badannya di arena berlatih.
Sir Gabriel tersenyum samar, ternyata prasangka buruk tentang Putri Erina selama ini tiba-tiba hilang dari pikirannya karena menyaksikan pertarungannya dengan Pangeran Ergo. Putri Erina lebih pintar membaca strategi dan pola berpedang lawan daripada belajar di perpustakaan.
“Ternyata benar dugaanku, kau lebih menonjol untuk belajar pedang, kau akan menjadi ksatria wanita,” kata Pangeran Ergo dengan mengatur nafasnya.
Putri Erina terbahak mendengar ucapan Pangeran Ergo. “Kakak sudah tahu kan, sihir bertarung dan sihir tumbuhan yang paling aku kuasai?”
Disaat mereka sedang berbincang, ksatria Hilar berlari menghampiri Pangeran Ergo dengan tergesa-gesa. Ia berbisik di telinga Pangeran Ergo, dan seketika wajah Pangeran Ergo berubah menjadi kekhawatiran.
“Ada apa kak?” tanya Putri Erina.
“Dengarkan aku, ini bukan suatu hal yang baik dan tidak menguntungkan untuk kita. Aku tidak akan berada di istana mulai besok, karena aku harus pergi ke medan perang. Tetap berlatih pedang dan sihir, kau harus bisa melampaui aku dan jaga kerajaan kita demi aku, ayah dan ibu. Apa kau paham?” Pangeran Ergo menyentuh pipi Putri Erina dengan kedua tangannya.
Belum sempat untuk Putri Erina bertanya lebih jauh lagi, Pangeran Ergo pergi dari hadapannya dengan cepat bersama ksatria Hilar dan Hilian. Putri Erina hanya bisa menatap punggung kekar milik kakaknya dengan pertanyaan yang ia telan sendiri.
~ Ruang kerja Raja ~
Raja Fasco menerima laporan dari perbatasan negara bahwa kerajaan Velian sudah mulai bergerak untuk memulai peperangan ke negara Zelbert, kegundahan Raja Fasco tidak bisa dibendung lagi. Kerajaan Velian adalah kerajaan tetangga, dua kerajaan ini berselisih karena pusat tambang permata berada di perbatasan dua negara.
Kekuatan militer yang sama kuatnya dengan kerajaan Velian membuat perang ini layaknya sebagai mimpi buruk untuk Raja Fasco. Selama ini Raja Fasco selalu berhati-hati agar tidak menyinggung kerajaan Velian, namun entah apa yang sudah terjadi sehingga membuat kerajaan Velian mengangkat pedangnya untuk mengusik kerajaan Zelbert.
"Ayah tidak perlu khawatir, aku akan menangani peperangan kali ini, aku yang akan menjaga kerajaan dan negara kita tetap aman." Pangeran Ergo mencoba menenangkan hati sang ayah.
"Tapi nak, kau adalah Putra Mahkota yang harus aku lindungi untuk meneruskan tahta, bagaimana bisa ayah membiarkan kau pergi untuk berperang melawan kerajaan Velian yang kekuatan militer sama besarnya dengan kita?" Raja Fasco masih tidak setuju dengan keputusan anaknya tersebut.
"Ayah, ini saatnya aku menunjukan kepada rakyat bahwa aku adalah calon Raja yang bisa diandalkan nantinya, aku akan membawa Hilar dan Hilian bersamaku." Pangeran Ergo terus mencoba untuk meyakinkan sang ayah.
"Baiklah nak, kalau itu sudah menjadi tekad mu, ayah akan mempersiapkan semua yang kau butuhkan, jangan lupa bawa Hilian dan Hilar juga bersamamu." Raja Fasco akhirnya setuju akan permintaan anaknya tersebut.
Tidak lama kemudian Hilian dan Hilar datang menghadap sang Raja. Mereka memberikan hormat sebelum mendengar titah dari Raja Fasco.
"Kondisi sekarang sedang tidak baik untuk kita, tolong bantu pangeran Ergo dalam perangan kali ini, lindungi dia dan pastikan dia aman,” titah Raja Fasco kepada dua kesatria itu.
"Baik, Yang Mulia." Hilian dan Hilar membungkuk hormat dan pergi dari hadapan sang Raja.
Hilian dan Hilar adalah kesatria yang sangat penting untuk kerajaan Zelbert, mereka juga disebut sebagai Kesatria Musim Dingin, menghunuskan pedang tanpa berkedip dengan menatap matanya saja sudah membuat musuh ketakutan, gerakannya seperti angin di musim dingin, tenang dan mematikan. Kesetiaan mereka terhadap kerajaan Zelbert tidak diragukan lagi, karena mereka adalah anak dari anggota keluarga kerajaan, Grand Duke Kafman.