Bab 2

Titip Benih

BAB 02

"Sial!!!" Teriakku prustasi. Bagaimana bisa aku sebodoh ini? Keluar dari kandang singa malah masuk kekandang macan.

Aku menarik rambutku dengan kasar. Aku benar-benar bingung.

Aku mencoba menenangkan diri ku. Aku yakin jika dalam beberapa bulan aku tak kunjung hamil. Pasti dia akan menceraikan ku.

Ya... Aku harus sebisa mungkin mencegah kehamilan ku. Agar aku tak selamanya menjadi istri keduanya.

Setelah sedikit tenang. Aku beranjak keatas tempat tidur untuk mengistirahatkan tubuhku.

Keesokan paginya.

Ketika aku sedang mandi, pintu kamar terdengar dibuka.

Dan benar saja, ketika aku keluar dari kamar mandi, ternyata laki-laki itu sudah duduk diatas ranjang.

"Pagi... Ayo kita sarapan."

"Kenapa kamu tega mengunci ku?"

"Aku tidak bodoh. Aku tahu jika kamu pasti akan mencoba untuk kabur."

Aku terdiam mendengar hal itu. Karena memang benar apa yang dia ucapkan.

Laki-laki itu langsung menarik tanganku dan mengajakku untuk pergi.

Kami pergi kesebuah restoran yang terbilang cukup rame. Mungkin karena waktunya sarapan jadi sedikit rame.

Setelah memesan makanan. Dia berucap kepada ku.

"Airin... Dari kemarin Mas belum menyebutkan nama ya..."

Aku hanya mengangguk.

"Panggil saja aku, Ikhsan. Oh ya nanti sore kita akan menikah. Kamu tidak mau memberitahu keluarga mu? Setidaknya aku harus tahu siapa mereka karena aku juga butuh wali untuk menikahi mu."

"Mereka sudah lama meninggal."

Mas ikhsan diam mendengar jawaban ku.

"Maaf..."

"Tidak apa-apa... Mas. Apakah kamu benar-benar ingin menjadikan ku istri? Bagaimana jika aku tak kunjung hamil juga?"

"Aku yakin kamu pasti hamil."

"Kenapa Mas bisa seyakin itu?"

"Sudahlah Airin. Pokoknya jadilah istri yang manis untuk ku."

Setelah itu tak ada pembicaraan lagi. Dan tak berselang lama makanan yang kami pesan datang. Kami menikmati makanan itu tanpa bicara satu sama lain.

Setelah sarapan. Kami mampir kesebuah Boutiq untuk membeli kebaya.

Setelah selesai kami langsung menuju hotel. Setelah didalam kamar tiba-tiba ponsel mas ikhsan berbunyi.

"Hallo sayang."

"Iya... Mas sudah katakan semuanya sama Airin."

Mendengar namaku disebut aku sedikit terkejut.

"Iya dia setuju. Pokoknya kamu tenang saja. Kita pasti segera memiliki momongan."

"Sudah dulu ya sayang. Mas mau bersiap. Love you."

Setelah sambungan telepon mati. Mas ikhsan langsung mendekat kearah ku.

"Dek. Ayo bersiap, acaranya dimajukan jadi jam satu siang." Aku sangat terkejut mendengar hal itu.

Mas ikhsan lalu menyuruh ku untuk segera berganti baju dengan kebaya itu. Setelah selesai kami langsung berangkat ketempat dimana penghulu menunggu kami.

Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam akhirnya kami sampai di tempat tujuan.

Kami langsung turun dan langsung masuk kedalam sebuah rumah yang cukup besar dan megah.

Kami disambut oleh seorang wanita paruh baya.

"Tuan... Semua sudah siap. Nyonya pergi duluan karena ada pekerjaan mendadak."

"Baik, Mbok."

Setelah itu kami langsung masuk, di dalam sudah ada penghulu dan empat orang saksi.

Karena orang tua ku sudah meninggal, aku diwali hakim kan sebagai pengganti mendiang Ayah.

Ijab qobul berjalan lancar.

Setelah penghulu dan saksi pergi. Mas ikhsan menyuruh wanita paruh baya itu untuk melayani ku.

"Mbok Minah. Tolong layani Nyonya Airin. Tunjukkan dimana kamarnya dan tanya apa yang dia mau."

"Baik Tuan."

"Mari Nyonya, saya tunjukkan dimana kamar Nyonya."

Mbok Minah mengajakku menaiki sebuah tangga. Kamar ku terletak di lantai dua. Kamar itu sangat mewah. Tak pernah terbayangkan oleh ku jika aku memiliki kamar semewah dan senyaman ini.

Setelah itu Mbok Minah pamit kembali ke dapur.

Setelah kepergian mbok Minah. Aku duduk diatas ranjang. Ketika aku sedang kalut. Tiba-tiba pintu terbuka.

Mas ikhsan sudah berdiri disana.

"Dek. Mandilah itu ada baju didalam lemari."

"Mas... Apakah aku akan tinggal bersama istri pertama mu?"

"Ha...ha...ha.... Ya tidak dong Dek. Aku harus bisa menjaga bagaimana perasaan kalian. Rumah ini adalah rumah mu. Memang saat ini sertifikat masih atas namaku tapi jika kamu sudah melahirkan anakku maka rumah ini akan menjadi milik mu."

"Mas... Apakah setelah aku melahirkan anak mu, lalu kamu akan menceraikan aku?"

"Jangan takut. Aku tidak sekejam itu. Berusahalah menjadi istri yang baik untuk ku. Maka aku akan mempertimbangkan mu."

DEG... Terasa perih hatiku ketika mendengar hal itu. Entah mengapa aku merasa jika Mas ikhsan dan istrinya pasti memiliki sebuah rahasia.

Aku yakin jika mas Ikhsan dan Laras pasti memiliki rencana. Jika tidak, mana mungkin Laras mengijinkan suaminya menikah lagi.

"Dek. Malam ini mas tidur disini ya?"

Aku hanya mengangguk. Karena aku tahu ini adalah malam pertama untuk kami. Ya walaupun bagiku ini bukan hal sepesial. Karena aku sudah sering melayani laki-laki hidung belang.

"Mas... Mbak Laras tidak marah?"

"Istri Mas lagi keluar kota tadi siang."

"Keluar kota?"

"Iya... Sepertinya Laras ingin memberikan kesempatan untuk kita berbulan madu."

"Hahahaha... Bulan madu? Mas tahukan aku dulu siapa?"

"Memang kenapa? Kamu istriku dan kita baru menikah, jadi wajar dong jika kita bulan madu."aku semakin bengong mendengar ucapan mas Ikhsan.

Malam itu aku menunaikan kewajiban ku sebagai seorang istri. Mas Ikhsan sepertinya sangat senang dengan pelayanan ku.

Adzan subuh berkumandang, aku segera bangun dan mandi. Karena aku ingin memulai untuk menjalankan kewajiban sebagai umat Islam yaitu Sholat.

Selama aku bekerja sebagai kupu-kupu malam, aku tidak pernah lagi yang namanya beribadah. Aku merasa jika diriku sangatlah kotor sehingga tidak pantas untuk beribadah.

Karena sekarang ini aku sudah menikah dan tidak lagi bekerja seperti dulu. Maka aku putuskan untuk kembali kejalan Allah.

Setelah menjalankan sholat subuh. Aku turun kedapur untuk menyiapkan sarapan.

Ketika aku sampai dapur. Mbok Minah sudah ada.

"Mbok... Mau masak apa untuk sarapan?"

"Eh... Nyonya bikin Mbok kaget."

"Mbok nglamunin apa?"

"Gak ada Nya..."

"Mbok mau masak apa? Sini biar aku bantu."

"Eh... Jangan Nya... Nanti Tuan marah. Biar Mbok saja yang masak."

"Tuan gak akan marah Mbok... Sini biar aku yang masak. Ini masakkan pertama ku untuk suami ku."

"Ya sudah kalau Nyonya memaksa. Tuan biasanya suka sarapan makanan yang berkuah."

"Oh... Kalau begitu kita masak capcay kuah saja Mbok."

Lalu Mbok Minah dengan sigap memotong-motong sayur dan menyianginya.

Sedangkan aku meracik bumbu. Setelah selesai semuanya. Aku segera memasaknya dan setelah masakan matang, aku meminta Mbok untuk menata dimeja makan. Sedangkan aku membangunkan Mas Ikhsan.

Aku langsung masuk kedalam kamar, ketika pintu terbuka ternyata mas Ikhsan sudah selesai mandi dan berganti baju.

"Mas... Sarapan sudah siap."

"Dek. Har ini kita akan pergi keluar kota."

"Mau kemana Mas?"

"Kita akan bertemu dengan Laras."

Deg... Jantungku berdegup kencang ketika mendengar nama itu. Semoga apa yang aku takutkan tidak terjadi. To pernikahan ini terjadi juga karena dia yang menyetujui.

Kami langsung bergegas menuju meja makan. Tak ada yang kami bicarakan ketika di meja makan.

Setelah selesai makan. Mas Ikhsan menyuruhku untuk bersiap.

"Mas... Apakah engkau mengijinkan jika aku ingin berhijab?"

Mas Ikhsan menatap ku.

"Berhijab? Apa kamu sudah yakin mau berpakaian tertutup seperti itu?"

"Mas. Aku dulu pernah bernazar. Aku terlepas dari tempat itu. Aku akan berhijab."

"Ya itu terserah kamu. Jika memang niatmu berhijab maka nanti kita beli baju seperti yang kamu inginkan di perjalanan."

"Jadi, mas mengijinkan?"

"Apapun yang kamu ingin lakukan maka lakukan saja selama itu baik."

"Terima kasih Mas."

Mas Ikhsan mengangguk sambil tersenyum kearah ku.

Pukul sebelas siang kami berangkat diantar supir.

Mas Ikhsan duduk di kursi depan sedangkan aku di kursi belakang.

Aku tahu jika Mas Ikhsan tidak mau menyakiti hati Mbak Laras.

Setelah menempuh perjalanan sekitar enam jam. Akhirnya kami sampai disebuah villa.

Mas Ikhsan menyuruhku untuk turun. Ketika aku turun. Ada seorang wanita cantik yang menghampiri Mas Ikhsan.

Wanita itu langsung menghampiri Mas Ikhsan dan bergelayut manja di lengan Mas Ikhsan.

Hatiku berdesir melihat pemandangan itu. Tapi aku harus sadar diri, jika aku adalah istri kedua. Sedangkan wanita itu adalah istri pertama Mas Ikhsan yaitu Mbak Laras.

"Sayang... Kenalkan ini Airin." Ucap mas Ikhsan melihat kearah ku. Mbak Laras hanya tersenyum tanpa menyapa ku.

Aku mengulurkan tangan namun tak di hiraukan oleh Mbak Laras.

"Mas... Aku kangen... Ayo kita masuk."ucap Mbak Laras manja.

Mereka lalu masuk kedalam villa dan meninggalkan ku yang masih berdiri diluar.

Tak berselang lama ada wanita paruh baya menyapa ku.

"Maaf... Nyonya mari masuk."ajaknya.

Aku lalu mengekor di belakang wanita itu. Aku di tunjukkan dimana letak kamar ku.

Setelah masuk kedalam kamar. Aku mandi dan beristirahat.

Entah sudah berapa lama aku tertidur. Aku terbangun ketika ada yang mengetuk pintu.

"Nyonya... Tuan dan Nyonya Laras sudah menunggu di meja makan."serunya.

Aku lalu bangkit dan mencuci muka. Setelah itu aku keluar menuju meja makan.

Ketika aku sampai di meja makan. Aku di suguhkan dengan sebuah pemandangan yang sangat luar biasa. Mas Ikhsan dan Mbak Laras sedang suap-suapan. Mereka terlihat sangat bahagia dan saling mencintai.

Melihat hal itu entah mengapa dadaku tiba-tiba terasa sesak. Hatiku sangat sakit. Tapi aku tidak bisa marah kepada mereka.

Ketika aku akan berbalik badan, ternyata Mbak Laras melihat ku.

"Airin. Mau kemana kamu? Sini duduk kita makan bersama, bagaimana pun juga kamu adalah adik maduku."

"I-iya mbak.' jawabku sambil berjalan kembali ke meja makan.

Mas Ikhsan hanya tersenyum kearah ku. Setelah itu mereka melanjutkan makan. Sedangkan aku hanya mengaduk-aduk makanan yang ada di piring ku. Melihat mereka seperti itu selera makan ku hilang.

Aku meminta ijin untuk kembali ke kamar. Namun mbak Laras mencegahku. Katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan.

"Airin. Mas Ikhsan akan pulang kerumah mu setiap Sabtu dan Minggu saja. Sedangkan senin sampai jumat akan dirumah ku. Kamu tidak boleh protes ataupun menggaggu mas Ikhsan ketika dia bersama ku."

"Kamu harus sadar jika pernikahan mu itu bukan seperti pernikahan ku dengan mas Ikhsan jadi kamu jangan meminta atau protes."

"Iya Mbak. Aku mengerti."

"Bagus. Jadi jangan melewati batasan mu! Ya sudah kamu pergi istirahat sana. Selama di villa mas Ikhsan hanya akan tidur dengan ku."

Jujur hatiku teramat sakit mendengar hal itu. Jika mas Ikhsan hanya akan bersama Mbak laras, lalu untuk apa aku dibawa kesini. Apa mereka memang sengaja membawa ku untuk jadi penonton kemesraan mereka?

Bab 3

Titip Benih

BAB 03

Aku pamit kembali ke kamar ku. Jujur jika berlama-lama di meja makan. Aku takut jika tidak bisa menahan air mataku.

Aku tidak mau terlihat lemah di hadapan mereka berdua.

Setelah sampai di dalam kamar. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku tutup wajahku dengan batal agar tak ada yang mendengar suara tangisan ku.

Aku menangis sampai tertidur. Aku terbangun ketika mendengar suara ketukan pintu.

Aku lihat sudah pukul satu dini hari. Aku penasaran siapa yang mengetuk pintu kamar ku malam-malam begini.

Ketika aku membuka pintu, ternyata mas Ikhsan sudah berdiri disana.

Mas Ikhsan langsung masuk kedalam kamar.

Mas Ikhsan langsung memeluk tubuhku.

"Dek... Maafin Laras ya... Mungkin dia belum bisa menguasai rasa cemburunya." Ucapnya sambil mengecup keningku.

"Mas... Kenapa kesini? Nanti bagaimana jika Mbak Laras tahu."

"Laras sudah tidur. Mas kangen sama kamu." Jawabnya. Mas Ikhsan meminta ku untuk melayaninya.

Setelah selesai mas Ikhsan langsung kembali ke kamar Mbak Laras.

Perih... Hatiku semakin perih dibuatnya. Setelah mas Ikhsan menuntaskan hasratnya dia langsung pergi begitu saja. Tanpa kecupan mesra atau basa-basi.

Sepertinya aku harus mulai terbiasa dengan keadaan ini. Karena bagaimanapun juga aku sudah mengambil keputusan ini.

Ketika aku akan beristirahat kembali. Aku baru tersadar jika aku lupa membawa obat pencegah kehamilan.

Aku semakin gusar. Bagaimana jika aku nanti hamil? Aku menarik rambutku dengan kasar. Kenapa aku bisa seceroboh ini. Bisa-bisa aku tidak akan diceraikan oleh Mas Ikhsan jika aku hamil.

💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜

Dua minggu kami berada di villa. Selama itu juga aku melayani mas Ikhsan secara sembunyi-sembunyi dari Mbak Laras.

Setelah dari villa aku kembali kerumah. Sedangkan mas Ikhsan pulang kerumah Mbak Laras karena hari senin.

Lima hari mas Ikhsan disana tanpa pernah memberikan kabar atau sekedar bertanya kabar dengan ku.

Sabtu sore mas Ikhsan datang. Dia langsung memelukku dan langsung meminta untuk dilayani.

"Mas... Apa bedanya aku sekarang dengan yang dulu? Kamu butuh aku hanya untuk diatas ranjang saja."

"Lho! Bukankah kamu dari awal sudah tahu Dek. Jadi jangan terlalu banyak protes. Kamu melayani ku itu sudah menjadi kewajiban mu sebagai istri."

"Tapi Mas. Aku merasa jika kamu hanya butuh tubuh ku saja."

"Iya benar sekali. Aku suka dengan tubuh mu dan pelayanan mu dan yang lebih penting lagi aku ingin kamu segera hamil."

Aku hanya diam mendengar hal itu.

Walaupun kami ada di dalam satu kamar, tapi mas Ikhsan sibuk dengan ponselnya. Mbak Laras terus menelponnya.

"Iya Sayang... Mas tahu dan mas tidak akan ingkar janji."

"Iya... Mas hanya akan menyentuhnya sekali dalam satu malam. Sudah dong jangan ngambek."

Aku tahu arah pembicaraan mas Ikhsan itu. Aku seolah tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Aku berpura-pura tidur.

Mas Ikhsan cukup lama bertelponan dengan Mbak Laras jingga aku benar-benar tertidur.

Aku terkejut ketika aku merasa tubuhku ada yang menindih dan ketika aku membuka mata. Benar saja mas Ikhsan sudah berada diatas ku dan langsung menghujani ku dengan kecupan.

Malam itu mas Ikhsan meminta ku untuk melayaninya sebanyak tiga kali.

Karena terlalu capek. Aku kesiangan untuk membuat sarapan.

Ku lihat mas Ikhsan masih tertidur pulas. Ponsel mas Ikhsan terus berbunyi. Mungkin karena terlalu lelah sehingga mas Ikhsan tidak mendengar suara ponselnya.

Ketika akan turun. Tiba-tiba ponselku berbunyi. Aku terkejut siapa yang menghubungi ku pagi-pagi begini? Dan bukankah nomor ku ini nomor baru hanya mas Ikhsan yang tahu. Atau jangan-jangan ini nomor Mbak Laras?

Ah lebih baik aku angkat dulu. Biar aku tidak penasaran.

"Hallo."

"Airin! Dimana mas Ikhsan?"

"Mas Ikhsan masih tidur Mbak."

"Bangunkan! Aku ingin bicara penting!"

"Ba-baik Mbak."

Aku langsung bergegas membangunkan mas Ikhsan.

Mas Ikhsan langsung bangkit dan langsung mencuci mukanya. Setelah itu langsung mengambil ponsel ku.

"Hallo... Sayang... Maaf mas tadi malam lembur kerja jadi kesiangan."

"Gak sayang... Mas tidak bohong. Mas hanya menyentuhnya satu kali saja. Jika mas tidak menyentuhnya bagaimana dia bisa hamil sayang."

"Iya... Mas berani sumpah Sayang..."

Setelah itu panggilan telepon berakhir. Sepertinya Mbak Laras yang mematikan terlebih dahulu.

Setelah itu aku bertanya kepada mas Ikhsan.

"Mas... Kenapa harus berbohong?"

"Lalu? Mas harus berkata jujur. Jika tadi malam kita main tiga kali? Kamu senang jika mas bertengkar dengan Laras?"

Aku benar-benar ternganga mendengar hal itu.

"Maksud Mas?"

"Kamu senang jika Laras sakit hati dan terluka?"

"Mas! Bukankah pernikahan ini Mbak Laras yang meminta. Lalu untuk apa dia cemburu? Dan bukankah semua waktu mu bersama dia."

"Sudah jangan tambah bikin mas pusing. Kamu harus sadar posisi mu dan ingat jangan mencampuri urusan rumah tangga ku dengan Laras!"

Aku hanya bisa diam. Bingung mau menjawab apapun tetap pasti aku yang akan disalahkan.

Mas Ikhsan tidak sarapan tapi langsung pamit pulang ke rumah Mbak Laras. Padahal hari ini adalah hari dia bersama ku. Tapi karena mbak Laras merajuk akhirnya dia putuskan untuk pulang ke rumah Mbak Laras.

Aku hanya bisa pasrah menerima semua ini. Karena memang aku tidak diijinkan untuk protes.

Ketika aku duduk di meja rias. Aku melihat sebuah amplop tebal berwarna coklat. Aku segera membukanya. Dan ternyata isinya beberapa gepok uang berwarna merah.

Tak berselang lama ponsel ku berbunyi. Mas Ikhsan menelpon ku.

"Hallo, Dek."

"Iya, mas."

"Dek. Ada mas tinggalkan amplop berisi uang. Kamu pake uang itu untuk membeli apa yang ingin kamu beli. Soalnya Mas mau membujuk Laras agar tidak marah lagi. Mungkin mas tidak bisa menjenguk mu sampai bulan depan. Jadi nanti kamu kirim nomor rekening mu agar mas bisa transfer uang belanja mu."

"Iya mas. Aku ngerti."

Setelah itu mas Ikhsan mematikan sambungan telepon.

Air mata ku luruh membasahi pipiku.

Air mata ku luruh membasahi pipiku.

Tanpa ku sadari ternyata Mbok Minah sudah berdiri di depan pintu kamar.

"Nyonya... Boleh Mbok masuk?"

Aku hanya mengangguk. Mbok Minah langsung memeluk ku.

"Nyonya silahkan peluk Mbok jika nyonya butuh seseorang untuk mengurangi beban Nyonya."

Aku langsung memeluk Mbok Minah dengan erat. Tangisku pecah. Aku menangis sejadi-jadinya.

"Nyonya... Mbok tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi. Tapi Mbok bisa merasakan bagaimana rasanya kesedihan Nyonya saat ini."

Setelah aku menumpahkan semuanya hatiku mulai terasa lega. Mbok Minah memberi ku segelas air.

"Nyonya... Yakinlah setiap ujian pasti ada hikmahnya. Mbok yakin suatu saat nyonya akan bahagia lahir dan batin."

"Terima kasih ya Mbok."

Hari-hari ku habiskan bersama Mbok Minah. Aku belajar mengaji dan memperdalam ilmu agama. Mbok Minah memanggil seorang ustadzah untuk mengajariku.

Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa sudah satu bulan ini mas Ikhsan tidak pulang kerumah ku.

Mas Ikhsan juga tidak pernah menghubungi ku. Tapi saldo di rekening ku bertambah.

Mungkin Mbak Laras masih marah sehingga Mas Ikhsan masih sibuk membujuknya, sehingga belum sempat mengabari ku.

Aku selalu berusaha berpikir positif kepada mereka berdua. Karena aku tahu pasti sangat berat bagi Mbak Laras untuk menerima kehadiran ku.

Sore itu ketika aku sedang duduk di teras rumah bersama Mbok Minah. Tiba-tiba terlihat ada sebuah mobil yang membunyikan klakson.

Mbok Minah langsung bangkit dan bergegas membuka pagar. Setelah mobil masuk kehalaman dan terparkir.

Turunlah dua insan manusia yang aku kenal yaitu Mas Ikhsan dan Mbak Laras.

Wajah Mbak Laras terlihat sangat berseri. Mereka tampak sangat bahagia.

"Airin. Mulai sekarang waktu mu bersama mas Ikhsan hanya satu hari. Ingat satu hari tidak boleh lebih dan tidak boleh protes!"

"I-iya Mbak."

"Jadilah adik madu yang penurut dan sadar diri. Kalau bukan karena ku. Kamu pasti masih menjadi wanita penghibur!"

Aku terdiam mendengar ucapan Mbak Laras. Dadaku bergemuruh. Ingin sekali aku menjawab ucapan Mbak Laras. Namun semua aku tahan.

"Mas... Cepat berikan oleh-oleh yang sudah kita beli untuk Airin. Setelah itu kita pulang!"

Mas Ikhsan memberi ku beberapa paper bag. Pandangan mas Ikhsan menyiratkan rasa rindu disana.

Mas Ikhsan tak banyak bicara. Setelah memberikan paper bag itu mereka langsung pergi.

Setelah kepergian mereka. Mbok Minah menggenggam tanganku.

"Yang sabar ya nyonya."

Aku hanya mengangguk sambil mengusap air mataku.

💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜

Pagi sekitar pukul delapan, aku di kejutkan dengan kedatangan mas Ikhsan.

"Dek... Mas kangen."

Mas Ikhsan langsung memeluk ku dengan sangat erat.

"Mas, malu di lihat Mbok." Tegur ku karena memang ada Mbok Minah sedang berdiri di pintu.

Mas Ikhsan langsung menarikku untuk naik kelantai atas.

Setelah di dalam kamar. Mas Ikhsan melampiaskan rasa rindunya menghujani ku dengan ciuman.

Jujur hatiku sedikit senang dengan apa yang mas Ikhsan lakukan.

Setelah selesai melepaskan rasa rindunya. Mas Ikhsan lalu langsung mandi setelah itu berpakaian kembali.

"Mas, berangkat ke kantor dulu. Mulai hari ini setiap pagi Mas pasti akan mampir. Jadi usahakan setiap pagi sudah harus siap untuk melayani ku."

Aku hanya mengangguk. Hati yang tadinya mulai terasa bahagia kini hancur kembali.

Tadinya aku berpikir jika Mas Ikhsan benar-benar rindu akan diriku. Tapi ternyata Mas Ikhsan hanya rindu dengan pelayanan ku.

Karena waktu sudah mepet, akhirnya mas Ikhsan berangkat ke kantor.

Sudah dua minggu kami selalu kucing-kucingan dari Mbak Laras.

Dan hari itu, hari dimana Mas Ikhsan menghabiskan waktu bersama ku.

Aku sedang tidak enak badan, badan ku terasa lesu, kepala terasa sakit. Karena takut terjadi sesuatu Mas Ikhsan membawaku ke dokter.

Dan setelah dari Dokter.

"Dek... Akhirnya kamu hamil juga." Ucapnya sambil mencium keningku. Tubuhku di peluk sangat erat, terlihat rona bahagia di wajahnya.

Sedangkan aku sendiri bingung dengan perasaanku, disatu sisi aku bahagia namun disisi lain aku sedih.

Ketika di dalam mobil, mas Ikhsan langsung menghubungi Mbak Laras.

"Sayang... Selamat ya sebentar lagi kamu akan menjadi seorang Ibu."

"Kamu mau minta hadiah apa?"

Aku mengernyitkan dahi mendengar penuturan Mas Ikhsan kepada Mbak Laras.

Setelah selesai bicara dengan Mbak Laras. Aku beranikan diri untuk protes.

"Mas! Apa maksudmu mengatakan itu kepada Mbak Laras?"

"Kamu kan sedang hamil Dek. Jadi sebentar lagi Laras akan menjadi Ibu."

"Yang hamil aku lalu kenapa Mbak Laras yang menjadi Ibu?"

"Dari awal aku sudah mengatakan kepada mu. Jika istri ku tidak bisa hamil makanya dia menyuruh ku untuk menikahi mu agar kami bisa memiliki keturunan."

"Maksud Mas. Anak ku nanti akan di rawat Mbak Laras?"

"Oh... Tidak! Tetap kamu yang mengurusnya tapi Laras Ibunya."

"Jadi aku dianggap sebagai apa mas!"

"Pengasuh!"

"Tidak bisa begitu Mas! Aku yang hamil jadi ini adalah anakku jika Mbak Laras mau membantu ku untuk merawat anak ini aku gak masalah."

"Airin! Sudah cukup! Jangan melewati batasan mu!"

"Aku tidak melewati batasan mas! Aku yang berhak atas anak ini. Jika Mbak Laras mau anak ini maka harus di rawat bersama. Aku tidak mau jika aku hanya dijadikan baby sitter anakku sedangkan Mbak Laras menyandang status Ibu!.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED