Bab 2

Kinan mengantarkan Yasmin ke kampus walaupun setengah hati, tapi dia tetap mengantarkan adeknya itu. Namun, ia tidak sengaja melihat tukang somay dengan cepat Kinan menghentikan mobilnya. Membuat Yasmin kebingungan

kenapa kakaknya tiba-tiba berhenti.

"Kakak, kok berhenti sih?" tanya Yasmin.

"Dek, kamu lihat itu ada tukang somay. Kita makan somay dulu baru nanti Kakak antar ke kampus," ucap Kinan sambil menunjuk ke arah tukang somay.

"Tapi, Kakak yang traktir aku ya," ucap Yasmin.

"Iya-iya beres, yuk kita turun," ucap Kinan.

Mereka pun langsung turun dari mobil dan berjalan ke tukang somay, memang mereka berdua suka sekali jajan. Entah itu hobi atau memang mereka ini rakus.

Kinan memesan dua piring somay, sambil menunggu somaynya jadi Yasmin dan Kinan sibuk bermain ponselnya.

"Ini,Neng," ucap tukang somay sambil menyodorkan piring yang berisi somay.

"Terima kasih, mang," ucap Kinan.

Kinan memberikan satu piring untuk adiknya, lalu mereka pun menyantap somay dengan lahap, padahal di rumah mereka baru saja sarapan.

"Aku kenyang banget,Kak," ucap Yasmin.

"Makanya jangan rakus," ledek Kinan sambil tersenyum.

"Bukankah, Kakak juga yang rakus," ucap Yasmin dengan wajah yang kesal.

"Kakak, tidak rakus cuma doyan aja,"

Yasmin memutar bola mata jengah mendengar jawaban kakaknya yang ajaib bin nggak mau kalah itu.

Kinan yang hendak membayar pun tampak sibuk merogoh kantong dan tas yang ternyata dompetnya tertinggal di rumah. Alhasil, Yasmin yang membayar dengan uang sakunya.

"Sudah, tidak usah bahagia gitu mukanya, nanti Kakak ganti waktu lebaran biawak," ucap Kinan sambil berlalu menuju mobil.

"Jadi Adek terbully mulu perasaan," celetuk Yasmin dengan wajah kesal sambil melampiaskan pada seatbelt.

Kinan pun tak memperdulikan ocehan Yasmin yang tak berguna itu dan langsung tancap gas menuju sekolah Yasmin.

Sepanjang jalan, Yasmin hanya berfokus pada buku yang bertengger di tangannya. Sesekali ia tertawa ketika membaca beberapa kata aneh yang menurutnya lucu. Kinan pun hanya mampu menggelengkan kepala melihat tingkahnya.

Ketika sampai di gerbang sekolah, Yasmin langsung buru-buru keluar mobil tanpa berpamitan karena gerbangnya hampir ditutup.

"Hei, adik durhakim! Mana sopan santunmu! Ku aduin Mom nanti, awas aja," teriak Kinan.

Yasmin yang sayup-sayup mendengar teriakan Kinan pun tak peduli. Ia lebih memilih tidak dapat hukuman daripada harus meladeni omelan Kinan dahulu.

Karena tak digubris, Kinan langsung berlalu pergi ke kantor karena sudah hampir terlambat juga.

Disisi lain, Yasmin masih berlari menuju kelas karena ia belum sempat Mengerjakan PR yang harus dikumpulkan pagi ini.

Sesampainya di kantor, ternyata kakaknya belum sampai jadi dia masih aman, dan nggak akan kena hukuman dari sang kakak. Dengan cepat dia menuju ke ruangannya dan mengerjakan berkas yang harus selesaikan.

Heri Pratama adalah Pengusaha kaya nomor 3 se Asia Tenggara, perusahaannya bergerak dalam bidang pertambangan dan perhotelan.

Perusahaan yang saat ini di urus sama kedua putrinya, karna Daddy Heri tidak memiliki anak laki-laki. Namun, walaupun begitu Daddy Heri sangat menyayangi ketiga putrinya itu.

Kinan memang bar-bar tapi kalau sedang bekerja dia sangat serius dan fokus dalam mengerjakan pekerjaannya.

Tak berapa lama Ara sampai di kantor, melihat adeknya sudah bergelut dengan beberapa berkas di tangannya, membuat dia heran. Sebab, biasanya Ara lebih dulu datang ke kantor dari pada Kinan.

"Tumben udah dateng," ucap Ara.

Kinan mendengus, Kakaknya satu ini suka sekali mengomel seperti Momnya, "iya dong, maklum kan aku anak rajin," ucap Kinan.

"Ohiya adikku satu ini rajin sekali. Rajin makan," celetuk Ara membuat Kinan mendelik.

"Itu kebutuhan, Kak."

"Doyan juga iya," ucap Ara.

Dalam hati Ara, dia senang melihat adeknya yang datang lebih dulu darinya. Dia mengakui, Kinan memang bar-bar tapi jika menyangkut urusan pekerjaan, Kinan sangat giat dan bisa lupa waktu kalau tak diingatkan.

"Baiklah, karena hari ini kamu tidak telay datang, nanti siang Kakak traktir kamu makan siang,"

"Apa kau mau?" lanjut Ara.

"Wihh, tentu saja mau," ucap Kinan.

"Sebagai adik yang baik, aku harus makan yang banyak. Mumpung ditraktir bukan! Hehe,, lihat saja apa yang akan aku lakukan, Kak," gumam Kinan dalam hati sambil senyum sendiri.

"Nggak usah senyum-senyum, kakak ke ruangan dulu."

"Okay, kak."

Kinan yang bersemangat karena mendapat kesempatan emas bisa makan sepuasnya tanpa mengeluarkan uang sepeserpun langsung memikirkan makanan apa saja yang hendak ia makan nanti. Namun, ditengah khayalannya ia dikejutkan oleh sebuah notifikasi di ponselnya.

[Kak, nanti jemput Yasmin nggak]

'Berani-beraninya bayi dugong ini minta jemput," batin Kinan yang mengabaikan pesan adiknya.

Yasmin yang sudah menunggu lama balasan dari kakaknya pun tak tahan, hingga akhirnya spam chat Kinan dan langsung mematikan ponsel setelahnya.

Hari sudah menjelang sore Kinan pulang lebih awal karena dia harus menjemput adiknya, sedangkan Ara juga pulang lebih dulu ia sudah janji akan pulang lebih awal

sama Daddynya.

Semuanya sudah pada sampai dirumah, mereka menuju ke kamar masing-masing, karena ini membersihkan diri sambil menunggu waktu makan malam juga.

"Piyamaku, kayaknya ketinggalan di kamarnya Kak Ara deh," gumam Kinan.

Pukul 7 malam sudah waktunya makan malam, semuanya sudah berkumpul entah mengapa hawanya terasa berbeda bahkan kedua orang tuanya pun yang biasanya berisik kini pada diam.

Seusai makan malam selesai Daddy mulai pembicaraan, membuat Kinan semakin curiga dengan gerak gerik daddy dan mommy nya itu.

"Ara, Kinan dan Yasmin!"panggil Daddy.

" Yes, Dad," ucap mereka secara bersamaan

"Dua hari lagi, akan ada tamu yang datang kesini. Dan rencananya Daddy dan Mom akan menjodohkan kalian dengan putra sahabatnya Daddy dan Mommy," ucap Daddy Heri to the point.

"What!" pekik mereka bertiga yang terkejut dengan ucapan sangat Daddy.

Mereka menatap kedua orang tuanya dengan penuh banyak pertanyaan yang tersimpan dalam otaknya.

"Aku tidak mau, Dad," tolak Kinan dengan tegas.

"Tidak ada penolakan girl," ucap Daddy Heri.

"Tapi Dad, kami bisa mencari sendiri soal pasangan hidup kami," ucap Kinan.

"Betul Dad, lagian ini bukan jamannya siti nurhaliza," sahut Ara yang menolak keras keputusan daddynya itu.

"Daddy bilang tidak ada penolakan, kalian tahu bukan orang tua juga mau putrinya menikah dengan orang yang tepat," ucap Daddy Heri.

"Tapi bukan berarti Daddy mengambil keputusan secara sepihak, dan aku tetep tidak mau menikah muda," ucap Kinan kemudian berdiri lalu pergi meninggalkan meja makan.

"Yasmin juga tidak mau menikah muda Dad, kan Yasmin masih kuliah," ucap Yasmin yang dari tadi hanya diam.

Ara pun mengangguk lalu dia pamit untuk pergi ke kamar, begitu juga dengan Yasmin yang memilih untuk menyusul kakak-kakaknya.

Bab 3

Ara dan Yasmin yang mengekor langsung menerobos masuk ke kamar Kinan tanpa salam.

Melihat Kinan yang terduduk lesu, keduanya kompak memeluk menghibur Kinan.

"Kak Kinan belom keramas berapa minggu?" Celetuk Yasmin yang langsung di hadiahi pelototan dari Ara.

Hebatnya, pertanyaan bodoh Yasmin berhasil membuat Kinan semakin kesal.

Yasmin pun langsung diam terintimidasi oleh tatapan tajam Ara yang bisa menusuk bola mata.

"Bayi dugong! Makasih kamu udah ingetin Kakak. Kakak belom keramas selama seminggu." Ucap Kinan tiba-tiba membuat Ara dan Yasmin terkejut.

Ara yang mengira Kinan sedih pun langsung menoyor gemas kepala Kinan.

Toyoran maut Ara memang yang paling mempan untuk menyadarkan para adik durjananya yang minus akhlak.

Yasmin yang sebagai orang ketiga pun hanya cengo melihat kelakuan ajaib para kakaknya yang terkadang di luar nalar.

"Kak, stop dulu. Kita ngumpul di kamar Kak Kinan mau ngapain?" Tanya Yasmin menyela Ara dan Kinan yang sedang perang bantal.

Ara pun langsung berhenti dan menarik bantal dari tangan Kinan.

"Duduk!" seru Ara pada kedua adiknya. Spontan Kinan dan Yasmin duduk di depan Ara. Ketiga terlihat lesu, entah apalagi yang harus dilakukan untuk menolak perjodohan ini.

"Kak, ini gimana?" rengek Yasmin yang pikirannya ke mana-mana, dia tak mau menikah muda. Umurnya saja belum kepala dua.

"Diam kau bayi dugong! Kau kira Kakak mau dijodohkan? Kakak juga nggak mau nikah muda," ucap Kinan.

Sedangkan Ara, tampak serius memikirkan cara agar bisa menolak perjodohan tanpa menyakiti perasaan kedua orang tuanya. Bagaimana pun juga, ketiga gadis itu juga sangat menyayangi Mom dan daddy nya.

Ara menghela napas, "kita kabur dari rumah!" tegas Ara.

"What!" pekik Kinan dan Yasmin, sontak Ara menutup kedua telinganya.

"Pelankan suara kalian," ucap Ara, untung saja kamar Kinan kedap suara jadi tak ada yang bisa mendengarkan.

"Nggak ada cara lain, kita harus kabur dari rumah. Aku nggak mau dijodohkan, aku masih mau cari pasangan sendiri. Emang kalian mau dijodohkan, hem?" kata Ara.

"No, Kakak," tegas keduanya.

"Tapi, Kak, nanti kita mau tinggal di mana? Mau makan apa nanti?" berbagai pertanyaan melintas di kepala Yasmin.

"Dasar bayi dugong. Nanti kita pikirkan lagi," ucap Ara, sedangkan Kinan masih memikirkan sesuatu.

"Jangan kebanyakan mikir," ucap Ara seraya menjitak kepala Kinan.

"Ish, Kakak, main jitak aja. Kasihanilah aku yang imut ini." Kinan mengusap kepalanya.

"Jadi, kapan kita akan kabur dari rumah?" tanya Kinan.

"Bagaimana kalau besok malam, bukannya besok Mom dan Dad akan datang ke acara pembukaan hotel milik temannya itu," ucap Ara.

"Good, jadi setelah Daddy dan Mom pergi baru kita keluar dari rumah. Tapi, kan banyak para bodyguard yang berjaga di depan," ucap Kinan.

"Besok aku akan membawa makanan banyak biar pas lari aku tidak kelaperan," celetuk Yasmin yang membuat Ara dan Kinan menganga, sambil saling menatap satu sama lain.

Kinan pun melempar bantal ke arah Yasmin, dia merasa kesal karna di otak adiknya itu hanya ada makanan saja, tapi dia juga merasa seperti itu karena dia suka makan juga.

"Why, Kak. Apa aku salah bicara kah!" ucap Yasmin merasa kebingungan.

"Bisa serius tidak, nanti masalah makanan gampang kita belanja di supermarket, sekalian Kakak beli tuh supermarket untuk kamu," ucap Kinan.

"Hei, kenapa malah bahas makanan dan supermarket, jadinya gimana besok kita jadi kabur apa tidak," sela Ara yang sudah frustasi dengan tingkah kedua adiknya itu.

"Jadi, Kak." ucap Kinan dan Yasmin secara bersamaan.

Ara yang melihat kekompakan adik-adiknya langsung tersenyum bangga.

"Tapi Kak, besok bayi dugong ini ada quiz. Nanti aku nyusul aja gimana?" tanya Yasmin dengan polosnya.

Ara yang gemas langsung memberi tatapan dengan sedikit anggukan kepada Kinan untuk mencekik adiknya yang terlalu bodoh itu.

Kinan yang langsung paham tanpa basa-basi mengalungkan tangannya di leher Yasmin.

"Bayi dugong berotak lemot, kamu itu quiznya pagi. Mommy dan Daddy saja berangkat jam 5 sore. Nanti kita menyelinap ketika para bodyguard Daddy lengah," jawab Kinan dengan sangat gemas.

Yasmin yang mendengar penjelasan Kinan hanya ber-oh ria dan berhasil membuat Kinan semakin gemas. Lantaran "oh" Yasmin tak pernah berarti paham maksudnya.

Ara pun hanya mampu menepuk jidat melihat Yasmin yang begitu bodoh dibandingkan dengan kakak-kakaknya.

Antara terlalu polos dan bodohnya Yasmin itu berbeda tipis yang hanya setipis selembar tisu.

"Adek Kakak yang paling unik, sini deketan Kakak bisikin." Suruh Ara kepada Yasmin.

Yasmin yang begitu polos langsung mendekat tanpa merasakan adanya bahaya yang telah mengintai telinga mungilnya.

"Aaa, ampun Kak Ara. Ampun, iya Yasmin paham." Teriak Yasmin meringis kesakitan mendapat jeweran dari Kakak tertuanya.

"Meresahkan," celetuk Kinan.

Yasmin yang masih memegang telinganya kesakitan langsung memelototi Kinan yang memasang wajah jutek.

"Apa? Mau nambah?" tanya Kinan.

"Ogah, yang ada telinga imutku lepas," ucap Yasmin membuat Kinan memutar bola matanya jengah mendengar ocehan Yasmin.

"Udah, udah. Pokoknya rencana kita harus berhasil. Jangan sampai gagal, bisa-bisa dinikahkan langsung ini," kata Ara pada kedua adiknya.

"Iya, Kak. Aku juga nggak mau nikah muda," ucap Kinan.

"Oh iya, satu lagi. Besok pagi, kalian harus bersikap biasa aja. Jangan sampai Mommy dan Daddy curiga sama kita," tegas Ara.

"Hei, bayi dugong! Denger Kak Ara tadi, nggak? Malah ngelamun." Kinan melihat adiknya melamun.

"Emang Kak Ara tadi ngomong?" tanya Yasmin dengan polosnya.

"Nggak, Kak Ara tadi cuma nyanyi," celetuk Ara gemas.

Kinan heran kenapa adiknya itu begitu lemot, andai bukan adiknya sudah dia buang ke sungai Amazon. Karena berasa sudah selesai Kinan mengusir kakak dan adiknya itu keluar dari kamarnya.

"Kalian, pergilah dari kamarku." usir Kinan.

"Kau mengusir kakakmu ini, Kinan," ucap Ara.

"Tidak mengusir, aku cuma menyuruh kalian keluar dari kamarku," ucap Kinan dengan santainya.

Ara dan Yasmin mendengus kesal, Kinan memang bar-bar tapi terkadang ucapannya ketus jika moodnya sedang buruk, tidak jauh beda dengan kedua saudarinya.

Makanya, banyak yang bilang kalau putri dari keluarga Pratama adalah gadis yang unik dan langka. Mereka berdua pun keluar dari kamar Kinan, sekarang cuma tinggal Kinan seorang diri.

"Aku harus pindahkan semua tabunganku ke rekening pribadiku, jangan sampai Kakak dan Adikku kelaparan," gumam Kinan.

Kinan memindahkan uang dari kartu debit milik daddynya ke rekening miliknya sendiri. Karena mau bagaimana pun kakak dan adiknya tidak boleh kesusahan, tak hanya itu Kinan juga menyiapkan semuanya bajunya. Kemudian Kinan mengambil ponselnya dan memberitahu kakak dan adiknya agar memasukan baju ke koper.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED