Pagi ini Griffin tampak seperti mayat hidup. Mimpi buruk yang dialaminya semalam benar-benar membuat dirinya terus terjaga sampai matahari terbit. Dan kini Griffin memulai paginya dengan tergesa-gesa.
Setelah selesai menghabiskan kopi paginya, Griffin langsung meninggalkan tempat tinggalnya, menuju satu tujuan. Dia berniat untuk mendatangi Alexavier Emilio yang berada di kawasan Manhattan.
Saat Griffin datang semua orang yang ada di dalam sana dan mengenalnya, membungkukkan badannya untuk menyapa dengan sopan dan hormat.
“Griffin,” Emilio menghampiri Griffin yang sedang minum di meja panjang di depan seorang bar tender.
“Kudengar Arthur sedang mengincarmu? Dia bahkan mencarimu di seluruh Manhattan.”
“Benarkah?” Griffin tidak terlalu memikirkan perkataan Emilio. Karena baginya Arthur bukanlah siapa-siapa? Lagi pula Arthur tidak ada apa-apanya bagi dirinya.
“Tidak biasanya di sini cukup ramai.” Griffin bertanya sembari menggoyangkan gelas minuman di tangannya.
“Ya, di sana banyak nona-nona cantik dan kaya raya. Mungkin jika kau ke sana kau akan mendapatkan salah satu dari mereka.” Emilio sedikit menggodanya. Griffin hanya mengulas senyum di wajahnya yang dingin.
Walau masih tengah hari tetapi bar yang berada di bawah naungan Griffin itu tampak ramai oleh pengunjung. Griffin menikmati minuman yang disajikan pada dirinya, ia menyesapnya dengan anggun, menikmati setiap tetes yang melewati kerongkongannya.
Dari pintu masuk, datang seorang wanita yang menarik perhatiannya. Dia terlihat kaya, sangat cantik dan anggun. Wanita itu berjalan menuju sebuah ruangan dimana nona-nona cantik tengah berkumpul.
Griffin tidak bisa memalingkan pandangannya, ia terus menatapnya hingga wanita itu masuk ke dalam ruangan.
“Apa Kau mengenal wanita itu?” Griffin menatap Emilio dengan pengharapan namun, Emilio tidak tahu persis tentang siapa wanita itu. Untuk sesaat Griffin bersama wanita itu saling memandang walau hanya beberapa detik saja namun, telah memberi kesan yang berarti baginya.
Emilio menatap Griffin dengan tatapan yang heran. Karena tidak biasanya ia bertingkah seperti itu. Emilio hanya mengulas senyum saat mengamati Griffin yang terus-menerus menatap ke arah dimana wanita itu singgah. Kedamaian yang dirasakan oleh Griffin dan kawan-kawan tak berlangsung lama tiba-tiba seorang anak berlari masuk ke dalam dan berteriak.
“Griffin kau harus lari!” teriakannya menggema di seluruh sudut bar.
Griffin belum tahu arti dari teriakannya dan tiba-tiba segerombolan orang menerobos masuk. Tanpa basa-basi menyerang semua orang yang ada di dalam bar. Entah itu pengunjung atau sekutu dari pada Griffin sendiri.
“Griffin!” seseorang berteriak dari arah luar.
“Ada apa ini? Emilio apa yang terjadi?” Griffin bertanya dengan nada sedikit tinggi pada Emilio. Padahal biasanya dia tidak pernah bicara seperti itu.
“Sepertinya sudah dimulai.” Emilio berpindah posisi kini dia berada di belakang punggung Griffin.
“Lihatlah,” Emilio mengisyaratkan pada Griffin untuk melihat ke arah pintu masuk. Dan di sana masuk seorang pria dengan tubuh besar tegap dan tinggi.
“Bukankah dia? Antek Papa?” Emilio bertanya pada Griffin.
“Ya, kau benar. Dia Dominic.” Saat Griffin tengah menjawab pertanyaan Emilio tiba-tiba seorang pria datang ingin menghantam kepala Emilio.
“Awas!” Dengan sekejap mata Griffin segera menendangnya hingga pria itu membentur lemari kaca yang berisi botol minuman. Suara pecahan kaca begitu menggelegar.
“Emilio hati-hatilah! Jangan sampai terluka.” Griffin dan Emilio segera berpencar mereka berkelahi dengan orang-orang yang menerobos masuk membawa senjata lainnya. Perkelahian terjadi cukup lama.
Dentuman suara tulang retak dan patah mewarnai baku hantam yang terjadi di dalam bar. Pecahan kaca terdengar jelas di telinga saat lawan dilemparkan oleh Griffin.
Tak banyak bicara Griffin dan Emilio saling membantu satu sama lain. Emilio menganggukkan kepalanya memberi isyarat pada Griffin untuk melakukan segala cara agar mereka bisa mengalahkan semua pecundang yang berani membuat keributan di wilayahnya.
Di sisi lain bar terjadi keributan yang sangat besar, terdengar suara teriakan yang memekakan telinga. Saat Griffin tengah mencari anak buahnya, ia tidak sadar bahwa dari arah belakang sudah ada yang mengincarnya.
Namun, saat seseorang tengah bersiap memukul kepala Griffin dengan tongkat bisbol di situ Emilio beraksi. Ia memukul balik orang itu sebelum mengenai Griffin. Emilio berusaha bertahan, pukulan demi pukulan di terimanya.
Griffin juga tak kalah terpojok. Dia membanting orang yang berani menyentuhnya. Wajah tampannya lebam karena menerima beberapa pukulan tepat di wajah. Kini Emilio dan Griffin saling membelakangi. Mereka berdua bersiap untuk menyerang kembali.
Pertarungan semakin sengit. Napas Griffin tersengal dia berusaha bangkit setiap kali dia dipukul jatuh oleh lawannya.
Duar! Duar! Duar!
Suara dentuman peluru itu menggema di seisi ruangan, Griffin dan emilio berlindung di balik meja bar. Kondisi Emilio tak kalah buruk dengan Griffin darah segar mengalir di sekitar kepalanya. Begitu pula denga Griffin, lengan serta bagian tubuh lainnya terluka oleh pecahan kaca serta bekas sabetan senjata tajam.
“Ya! Emilio lihatlah. Kondisimu tak lebih buruk dariku!” Griffin seakan mengejek dirinya sendiri.
“Ini pasti ulah Arthur.” Napas Emilio terengah-engah saat mengatakannya.
“Frederick Arthur! Aku akan membalasnya jika ini adalah ulahnya.” Griffin mengatupkan rahangnya. Tampak amarah memuncak dari sorot matanya. Griffin mengeluarkan kepalanya mencoba memeriksa situasi. Dengan hati-hati ia mengedarkan pandangannya ke penjuru bar. Setelah memastikan jika suara tembakan itu sudah berhenti meraung Griffin dan Emilio keluar dari tempat persembunyiannya. Dan mereka kembali terlibat perkelahian. Griffin di tarik dan di tinju beberapa kali.
“Griffin!” Emilio berteriak saat Griffin di kepung oleh segerombolan orang. Griffin yang terkena pukulan sedikit goyah tampak di sudut bibirnya keluar sedikit darah. Griffin menyekanya dengan kasar. Sorot matanya kini seperti seorang predator yang ingin menghabisi mangsanya. Dengan bengis ia kembali menghantam orang-orang yang berani menyentuhnya tanpa belas kasih sedikitpun.
Di dalam bar sudah sangat kacau, meja kaca dan lemari kaca sudah hancur. Ditambah dengan pengunjung yang saling berteriak karena ketakutan mereka.
Saat Griffin tengah menahan serangan tiba-tiba para wanita keluar dari sebuah ruangan. Salah seorang wanita tertangkap oleh Dominic. Ia mencoba berontak namun, apa daya kekuatannya tak sebanding dengan pria yang menyeretnya.
Rambut indah wanita itu dijambak dan tubuhnya diseret keluar dari dalam ruangan. Sejenak Griffin tertegun ia menatap lekat wajah wanita itu. Beberapa detik saja Griffin menatap mata indahnya ia tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Sorot matanya memohon untuk diselamatkan.
“Tolong!”
Aku melemparkan tubuhku ke tempat tidur menilik kartu memori yang ada di tanganku sembari berpikir tentang apa yang ada di dalamnya. Segera aku mengambil laptop dan melihat isi dari kartu memori itu aku sedikit terkejut dengan apa yang ada di dalamnya. Perasaanku begitu campur aduk saat melihat isinya. Sejenak aku memejamkan mataku samar-samar terdengar suara dari arah luar.
“Griffin, apa kau sudah kembali?”
Aku beranjak dari tempatku untuk membukakan pintu. Setelah terbuka di sana memperlihatkan seorang pemuda yang tinggi dan tampan. Dia adalah Alexavier Emilio.
“Griffin apa yang terjadi?”
Aku melihat sekelilingku sebelum aku mempersilakan Emilio untuk masuk ke dalam.
“Masuklah!”
“Griffin apa yang sebenarnya terjadi? Ku dengar seseorang telah mati semalam.”
“Aku pun tidak tahu apa yang terjadi tapi ada sesuatu yang membuatku penasaran.”
“Apa itu?”
“Entah apa yang dicari oleh Shadrach hingga ia harus membunuh pria itu. Sepertinya aku harus membereskan masalah ini.”
Emilio hanya mengganggukkan kepalanya tanpa bertanya lebih jauh tentang apa yang akan dilakukan olehku. Seperti biasanya aku mengumpulkan orang-orang untuk memberi pelajaran pada dua orang telah menuruti perintah dari Shadrach.
Terdengar letusan tembakan yang begitu nyaring yang berasal dari pistol yang aku arahkan pada kedua orangku, aku menembaki mereka berdua. Mereka gemetar dan tubuh mereka beringsut ke tanah menyadari apa yang aku lakukan bukanlah main-main.
“K-kami minta maaf, Bos.”
Aku menarik pelatuk dan membidik mereka sekali lagi sorot mataku begitu tajam kala menatap keduanya yang sudah ketakutan. Seorang pria berlutut hingga kepalanya menyentuh tanah sembari menutup kepalanya dengan kedua telapak tangannya berusaha memohon ampun padaku.
“Jangan bunuh kami!”
“Ya sudah, pergilah!” aku menurunkan senjataku dan melihat keduanya segera berlari tunggang langgang setelah aku membebaskan keduanya.
“Kuingatkan pada kalian sekali lagi. Kita ini bukan anjing mafia. Kita berbisnis dengan Shadrach sama seperti yang lainnya.
Kalau kalian mau jadi perliharaannya, kalian bebas pergi ke tempatnya. Benar’kan Arthur?” aku bicara sembari mengalihkan pandanganku pada Arthur yang berada di sisi lain.
“Kau lah bos kami.”
“Baguslah kau kita setuju. Itu pun kalau kau serius.” Aku langsung pergi setelah bicara dengannya bersama dengan Emilio dan yang lainnya.
Saat aku meninggalkan Arthur bersama dengan anggotanya yang lain ia mereka berbicara dengan serius entah apa yang mereka bicarakan yang jelas itu adalah sesuatu yang buruk.
“Cuih! Menurutmu, apa dia sudah tahu?”
“Tidak, dari jarak segitu saja tembakannya tidak kena.”
“Bodoh, dia sengaja melakukannya. Tembakannya sudah cukup untuk membuat mereka jera. Meski tidak seperti yang telihat, tapi kau harus bermain kotor kalau mau mengalahkannya.” Arthur bicara dengan penuh keyakinan jika dirinya akan menang melawanku.
“Apa kau benar-benar mau..?”
“Akan kubuat dia membayar atas apa yang terjadi pada jariku ini.” Arthur menatap pada jari tangannya yang terdapat luka bekas sambung jarinya.
***
Di sisi lain ada keributan di dalam mansion dimana Shadrach tengah merawat tanaman hiasnya seorang pria dengan pakain serba hitam layaknya seorang mafia datang dengan tergesa-gesa raut wajahnya begitu panik saat menemui Shadrah.
“Jangan membanting pintu, akan terkena tanaman hiasku!”ujar Shadrach yang tidak senang akan kedatangan orang itu.
“Semua data Ocean Blue hilang!” Shadrach membelalakkan matanya, ia tak percaya dengan apa yang didengar olehnya saat ini.
Shadrach kembali ke ruangannya di sana sudah ada Max dan juga Dominic menunggu kedatangannya. Suasana di sana cukup mencekam mengingat sesuatu yang besar telah hilang dari jangkauannya.
“Griffin, yang melalukannya?”
“Iya, benar. Saat mereka ke sana, Griffin ada bersamanya.”
“Antara mereka membicarakan sesuatu atau... dia memberikan sesuatu padanya.”
“Apa perlu aku yang membuatnya buka mulut?”
“Tidak, kalau kita melakukannya, itu hanya akan membuatnya tertarik. Serahkan ini padaku.”
Setelah mendapatkan panggilan dari orang suruhan Shadrach dengan enggan aku datang kembali ke mansion tempat dimana aku tinggal selama ini. Walau sebenarnya aku tidak ingin kembali ke sana. Lorong mansion yang tak asing bagiku mengingatkan kembali bagaimana ingatan mengerikan itu terus tergambar dalam kepalaku.
Saat aku masuk ke dalam ruang kerja Shadrach ruangan itu tidak pernah berubah dinding kamar yang berawarna cream dan merah bata itu masih sama seperti saat aku tinggal bersamanya. Aku menatapnya dengan tatapan yang penasaran dan ingin tahu mengapa ia terus memanggilku untuk datang ke mansion.
“Bisakah kau berhenti menyuruhku untuk datang ke sini seperti ini?” aku berdiri di hadapannya dengan acuh tak acuh.
“Griffin, apa pria itu memberitahumu sesuatu?”
“Pria siapa?”
“Jangan pura-pura bodoh. Apa yang dia katakan padamu?”
Aku menyeringai saat menjawab pertanyaan darinya. “Tolong aku!”
“Jadi begitu.”
“Kalau cuma itu saja, aku pergi.”
Satu hal lagi, apa dia memberimu sesuatu?”
Saat mendengar pertanyaannya sejenak aku menghentikan langkahku. “Tidak.”
“Benarkah?” Shadrach menatapku dengan tatapan yang tidak biasanya.
“Ya, sungguh! Sampai nanti, Pak Tua. Lain kali, buatlah janji dahulu.” Aku menoleh padanya aku sedikit menyeringai seakan mengejek padanya tak lupa aku melambaikan tanganku yang putih padanya sembari melangkah pergi.
“Dasar pembohong.” Shadrach berkata seraya melihat kepergianku.
Aku berjalan di lorong mansion di sana ada Dominic yang sedang berdiri menunggu perintah dari Shadrach. Sedangkan aku berjalan dengan di temani oleh Max dan juga seorang anak buah Shadrach.
“Bye, Dominic. Terima kasih karena sudah mengantarku datang ke sini. Hari ini aku tidak butuh supir,” aku berjalan melewatinya raut wajahnya begitu tidak baik setelah mendengar ucapan dariku.
“Cuih! Dasar bocah tengik, awas saja kau.”
“Santai.”
“Arthur, apa yang kau lakukan di sini?” Dominic sedikit heran dengan kedatangan Arthur yang tidak biasanya.
“Aku punya penawaran untukmu. Aku yakin kau akan menyukainya.”
Sekilas aku melihat Arthur datang menghampiri Dominic sepertinya dia akan memulai sebuah kesepakatan dengannya. Firasatku mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi lagi saat ini.
Saat aku tiba di rumah, kamar ku sudah berantakan.aku melirik ke sekeliling tempat tidur dan barang-barang lainnya berjatuhan dimana-mana.
“Sudah ku duga. Si tua brengsek itu... sudah mengacak-ngacak tempat ini.”
“Bukankah tempat ini seperti biasanya?”
“Aku bisa tahu.” Aku membaringkan tubuhku di atas ranjang sembari menyilangkan kakiku sembari memainkankannya.
“Sepertinya Shadrach sudah sangat putus asa. Mana mungkin aku menyerahkannya.
***
Di dalam mansion yang begitu megah Shadrach tengah duduk di kursi ruang belajarnya, ruangan yang didominasi dengan cat warna coklat tua dan dinding paling bawahnya terdapat ukiran yang warna gold menghias seluruh dasar dindingnya, lampu gantung yang mewah menghiasinya terlihat sangat elegan dan mahal. Di dalam sana ada Max dan juga Dominic yang berdiri menghadap Shadrach yang berada di balik meja.
“Apa kau yakin?”
“Ya, tidak ada apa-apa di kamar Griffin.”
“Jadi dia sudah menyembunyikannya. Dasar dia memeng seperti itu. Tapi sekarang, kita bisa memastikannya. Dominic, kau urus dia. Sakiti dia semaumu. Buat dia buka mulut.
“Baik.” Ujar Dominic dengan senang hati.
“Tapi, jangan bunuh dia. Mengerti?”