Bab 2

Seolah-olah disiram satu ember air, tubuh Sintia bersimbah keringat. Dia kalap, napas menderu semakin cepat. Dada kembang-kempis. Merupakan reaksi yang wajar jika seorang manusia mengalami ketakutan. Momen menjijikkan baginya saat sesuatu menerobos masuk dan merobek-robek pakaian, sedangkan perlawanan saja tak dapat dilakukan.

Semakin erat Sintia menggenggam kain yang mengikat tangannya. Kedua kaki serta otot-otot mengeras seolah sesuatu akan keluar dari sana. Tidak mungkin dia bisa melihat makhluk yang sedang menindih tubuhnya ketika rasa takut semakin mencengkeram pikiran.

Sintia kalang kabut. Apakah harus pasrah membiarkan makhluk itu melakukan hal paling tabu baginya? Sekuat tenaga dia berpikir yang dialaminya tidaklah nyata. Itu hanya ilusi semata dengan serangkaian proses yang tentu tidak dia ketahui sehingga berada di tempat tersebut secara tiba-tiba. Apakah mungkin makhluk itu adalah penunggu pohon beringin di luar makam?

Buang-buang waktu. Sintia harus secepatnya melawan sebelum makhluk tersebut melakukan sesuatu yang lebih buruk. Meskipun sakit terasa di kaki dan tangannya akibat jerat kain yang mengikat, Sintia tak berhenti berusaha agar terlepas dari jerat dan bebas.

Setidak-tidaknya bebas dari perlakuan menjijikkan lebih baik meskipun tak menutup kemungkinan dia bisa saja terluka. Daripada harus menerima sesosok makhluk asing memperkosanya secara liar, lebih baik mati hingga terbebas dari dunia yang memberatkan segala pikiran.

"Le ... paskan!" Suara Sintia berhasil keluar dari tenggorokan setelah sekian menit tertahan.

Berkali-kali berontak, berkali-kali makhluk itu menambah cengkeraman makin kuat. Sintia mendapat satu tamparan keras yang membuat tenaganya berkurang saat melakukan perlawanan. Makhluk itu justru mencengkeram lehernya, lalu melanjutkan apa yang seharusnya dilakukan. Dia sepenuhnya pasrah dengan tatapan kosong. Akalnya tak lagi berfungsi.

Meski pandangan sayu, dia masih bisa melihat si makhluk perlahan menjauh dari tubuhnya. Yang dilihatnya hanya punggung sang makhluk yang perlahan menghilang setelah keluar dari kamar itu.

Air mata menitik, Sintia lelap dalam kegelapan. Hati kecilnya menyerukan nama Tuhan, tetapi terlambat karena bubur tak dapat diubah kembali menjadi nasi. Tubuhnya menggigil bagai dihantam es hingga lebur, mengubur tubuhnya.

"Tuhan, ampuni dosa-dosaku."

-II-

Ranjang dengan kasur lusuh dipenuhi kecoak dan ulat adalah satu-satunya hal yang Sintia lihat saat bangun dari alam bawah sadar. Ada sesuatu yang aneh menurutnya karena bisa bergerak bebas; berguling ke kiri dan kanan tanpa merasakan sakit di tangan dan kaki. Matanya merayapi bagian tangan dan kaki, dia telah terlepas sepenuhnya dari kain yang menjerat. Sebetulnya tidak dapat dipercaya, tetapi itu adalah sesuatu yang terjadi. Siapa orang yang membebaskan tangan dan kakinya? Apakah mungkin makhluk misterius yang menggerayangi tubuhnya itu? Bagaimana bisa?

Daripada berpikir keras sehingga membuat kepala seolah ditindih batu besar, Sintia bangkit dari ranjang. Matanya menerawang sebelum akhirnya memeriksa pakaian yang telah compang-camping dan robek di mana-mana. Saat mengingat kembali kejadian itu, air mata menganak sungai. Memangnya siapa yang akan dia salahkan? Apakah mungkin menyalahkan makhluk yang sama sekali tak diketahuinya? Lagi pula, benarkah makhluk itu penunggu pohon?

Menolehkan pandangan ke sebuah meja persegi yang tampak lapuk, Sintia melihat sebuah topeng dan jubah. Dia mengernyit karena tak asing dengan jubah hitam di sana. Dia kemudian meraihnya, terlebih topeng yang tampak mengerikan dengan bentuk mata keluar tersebut sangat mirip dengan bentuk wajah si makhluk asing. Dia semakin yakin makhluk itu bukanlah penunggu pohon.

"Bajingan! Siapa kamu sebenarnya? Aku janji akan mencarimu! Aku janji. Kamu iblis keji yang merenggut kesucianku. Manusia laknat. Manusia berhati setan!"

Sintia meremas jubah itu, lalu membawanya beserta topeng; keluar dari gubuk reyot. Yang tersisa dalam dirinya hanya kesedihan dan amarah. Bergejolak, teraduk pahit dalam nestapa neraka penyesalan.

Pendapat awal yang muncul di kepalanya adalah bahwa dirinya berada di dalam makam, kini dipatahkan oleh kenyataan. Dugaannya benar-benar meleset. Dia tak tahu berada di mana. Sekeluarnya dari gubuk, hanya pohon-pohon yang matanya lihat. Sintia sesungguhnya berada di tengah hutan.

Meski kenyataan telah menusuk ulu hati, dia tak menghentikan langkah sedetik pun. Ke mana pun kaki membawanya, dia tetap berusaha keluar dari hutan tersebut. Sayangnya, matahari kembali berganti rembulan, dia kelelahan, tubuhnya roboh. Napas sesak, punggungnya bersandar di batang pohon.

"Di mana aku sebenarnya? Apa yang terjadi? Kenapa bisa aku ada di sini?"

Segudang pertanyaan dilontarkan hati kecil Sintia, tapi tak satu pun jawaban bisa ditemukan. Mau tidak mau, dia harus mencari tahu. Kehidupan normalnya kini hanyalah khayalan belaka. Tak ada seorang pun yang terpikirkan di kepalanya untuk disalahkan.

Sekian Joule Sintia kehilangan tenaga. Bahkan itu berefek pada mata yang tak sedetik pun dapat membuka. Pikiran lelah, hatinya resah, hanya tidur yang bisa mengembalikan kekuatannya.

Saat tengah lelap, terdengar derap langkah bersamaan dengan suara ranting pohon yang patah. Sang empunya berdiri tegap menatap Sintia yang terpejam. Dia meraih jubah hitam dan topeng yang tergeletak di samping sang wanita.

Setelah cukup lama menatap topeng menyeramkan berwarna merah itu, sang lelaki mengenakannya, begitu pun dengan jubah itu. Sintia tak kunjung sadar, maka lelaki tersebut mengangkatnya. Sintia kembali dibawa ke gubuk reyot.

Rembulan berwarna jingga setidak-tidaknya memberitahukan bahwa malam begitu kelam dengan sejuta misteri yang ada. Sintia tidak pernah menyadari bahwa dunia malam yang disukainya ternyata dapat membawa menuju masalah yang rumit. Setidak-tidaknya dia jadi tahu, atau mungkin menuju proses kesadaran bahwa dunia malam tak selamanya indah. Meski hanya sebagai pengendap ego, tetapi ulahnya telah membawa pada kehancuran. Sintia hancur, takdir menertawai.

-II-

Membuka mata sampai pendengaran kembali berfungsi. Sintia mendengar suara kursi goyang dengan tempo pelan. Asalnya dari ruangan sebelah yang gelap gulita. Meskipun tak memiliki pintu, dia tak dapat melihat apa pun di ruangan itu karena gelap yang menyelimuti.

Ada yang jauh lebih penting daripada berpikir tentang gubuk dan orang misterius. Sudah berapa hari dia berada di tempat kumuh menyeramkan itu? Apalagi perutnya sudah lama tak diisi. Tak lama kemudian, suara perut menjadi penanda: dia lapar. Tenggorokan kering, bibir pecah-pecah, rambut acak-acakan. Dia harus mendapatkan makanan dan air minum. Namun, di mana dia bisa mendapatkannya? Dia tidak punya daya dan upaya. Berpikir pun hanya menambah kepalanya makin terasa menyakitkan.

Demi mengobati rasa penasaran, dia berjalan ke ruangan asal suara kursi yang bergoyang. Karena beberapa waktu lalu sepatu hak tingginya patah, dia jadi bertelanjang kaki. Itu bagus, karena bisa mengurangi derap berisik yang bisa membuat orang misterius tidak menyadari jika dia sedang menuju ke ruangan gelap itu. Meski begitu, tak bersuara pun tidak menjamin orang tersebut tidak menyadari yang dilakukan Sintia. Seperti yang dia sadari, jubah dan topeng yang dia dapatkan juga menghilang. Alangkah yakinnya Sintia bahwa yang mengambil jubah serta topeng barusan adalah orang misterius. Dia pula yang membawanya kembali ke gubuk reyot nan kumuh.

Sintia berusaha mengatur napas. Dengan begitu, dia bisa melangkah dengan yakin dan kemungkinan orang misterius tidak akan menyadari keberadaannya. Akan tetapi, pemikiran itu segera terbantah saat sebuah tangan membekap mulutnya dan satu tangan lain menutup matanya. Jelas tidak pasrah; Sintia berontak, berusaha melepaskan tangan itu. Namun ternyata itu hanya perlawanan sia-sia. Perbedaan kekuatan mereka sangat jauh.

"Diam! Jangan melawan!"

Dugaan Sintia benar setelah mendengar bariton itu: bukan makhluk gaib yang memperkosanya, melainkan manusia berhati setan. Entah siapa, tetapi suara itu terdengar tegas. Bisa dia bayangkan bahwa lelaki itu jauh lebih tinggi dan berbadan besar.

Air mata kembali mengalir, menerobos dari sela-sela jemari tangan si lelaki.

"Cengeng! Jangan menangis!"

-II-

Bab 3

Kepala Sintia ditutup kain hitam, mulut pun demikian, serta tangan diikat di lengan kursi, apalagi kedua kakinya. Jika tak ingin tersungkur dari kursi itu, dia harus diam tanpa gerak sedikit pun. Namun, Sintia sudah lelah, perut keroncongan pun tak dapat ditahan. Kewarasannya kembali lenyap, dia tidak peduli jika harus tersungkur karena berusaha memberontak dari perlakuan orang misterius.

Wanita dengan rambut sepunggung itu harus mengerahkan seluruh tenaga dan menggoyang-goyangkan tubuh; itu seperti bagaimana dia melenggak-lenggokkan tubuhnya saat bersenang-senang di kelab malam. Ternyata kelenturan itu juga berguna sehingga yang terjadi, kursi menggelepar ke sebelah kanan, begitu pun tubuhnya; ikut roboh.

"Hmm! Hmm!"

Mungkin sebaiknya suara yang keluar dari mulut Sintia diartikan sebagai ungkapan atau permintaan tegas atas keinginan dibebaskan dari segala belenggu dan siksa yang telah sekian jam dia alami. Ruangan sempit tempatnya disekap hanya diterangi cahaya lampu minyak; remang-remang. Namun, dari celah-celah kecil kain yang menutupi kepalanya, dia melihat cahaya terang dari ruangan di depan. Derap sepatu pantofel yang telah beberapa hari ini selalu menghiasi telinganya kembali terdengar.

Tidak salah lagi. Suara langkah itu menandakan kedatangan lelaki misterius yang telah merusak segel kesuciannya, membobol seolah permainan sepak bola yang bisa terus dimasuki berkali-kali. Meski melakukan pelanggaran, dia tak peduli dan tetap maju sebagaimana hasrat telah memenuhi akalnya.

"Hmm! Hmm!"

Suara Sintia semakin lantang meski tak dapat menyuarakan huruf-huruf lain. Kembali dia menggerakkan tubuh lebih kuat, kursi yang bergerak menghasilkan suara karena beradu dengan lantai kumuh yang di setiap sudut dipenuhi kotoran tikus dan semacamnya.

Derap sepatu tak lagi terdengar, tetapi Sintia mengetahui lelaki tersebut telah berdiri di hadapannya. Sangat jelas terlihat karena cahaya yang dia saksikan dari celah kain tiba-tiba menggelap, yang artinya tertutupi tubuh lelaki itu.

Sintia mendongak, tetapi belum jelas wajah lelaki itu karena ruangan tempatnya berada kekurangan cahaya. Sialnya, dia merasakan sepatu menginjak lehernya. Hal itu justru membuatnya semakin berontak dan berteriak.

"He, diam!" bentak lelaki itu.

Terkesiap. Air mata kembali menetes. Sintia heran; sebetulnya dia tidak pernah takut dengan hal apa pun. Namun, sepertinya Tuhan telah menghukumnya atas semua yang dia perbuat selama ini. Justru Tuhan tidak terpikir sebagai Dzat Maha Baik baginya, sebaliknya bahwa Tuhan di pandangannya semakin terbayang menyeramkan, seolah penjahat yang selalu membalas semua kelakuannya dengan kejahatan pula.

Lelaki misterius meletakkan nampan. Dia sangat mengerti dengan kelaparan yang diderita wanita tersebut. Aroma nasi goreng yang masih hangat bercampur udang goreng itu menggelitik pernapasan Sintia. Ditambah aroma jus jeruk yang sangat kental; perutnya merespons secara terus-menerus.

Si lelaki membuka kain yang menutupi kepala Sintia. Akan tetapi, dia tidak dapat melihat wajah lelaki itu karena menggunakan topeng seperti biasa. Kali ini tidak mengenakan jubah hitam, melainkan setelan hitam dengan dalaman berwarna putih. Dada Sintia kembang-kempis. Dia sadar harus mengalihkan perhatian sementara waktu demi bisa menyantap makanan yang tersedia di depannya.

Sang lelaki perlahan membuka kain yang membekap mulut Sintia, tetapi jerat di kaki dan tangan justru tetap dibiarkan. Bahkan posisi kursi masih sama; tergeletak ke sebelah kiri. Dia tidak berniat mengembalikan posisi kursi dan tubuh Sintia seperti semula.

"Makan pakai mulut. Tidak perlu pakai tangan. Makan selayaknya anjing makan."

Ucapan lelaki itu kembali menyentuh sensor amarah di dalam diri Sintia. Tidak salah lagi: hanya lelaki biadab yang berlaku kasar dan kurang ajar. Setidaknya seperti itulah bagi Sintia. Dia semakin yakin dirinya sedang berusaha disiksa orang gila yang kehilangan kepercayaan dan rasa kemanusiaan.

Walau demikian, tak ada cara lain dan dia hanya bisa pasrah, lalu melahap nasi goreng tanpa menggunakan tangan untuk pertama kalinya. Sintia menjadi anjing yang terkurung di sangkar besi, tinggal bersama pemilik tak berhati, tak berprikemanusiaan. Mungkin Sintia sudah dianggap anjing oleh lelaki itu, bukan manusia.

Tak lama kemudian, Sintia merasa kenyang. Nasi goreng itu tersisa cukup banyak. Namun Sintia tak bisa menghabiskannya karena dia tak biasa menjadi anjing. Lagi pula, mungkin lebih banyak nasi yang berserakan daripada yang masuk ke dalam perut. Dia gagal menjadi anjing karena makan pun tak sebersih yang dilakukan hewan berkaki empat itu.

"Minum," lirih Sintia dengan napas yang masih tak beraturan.

Lelaki bertopeng yang duduk di ranjang itu pun menghampirinya, lalu memberikan gelas yang di dalamnya telah tersedia sedotan untuk membantu Sintia mengisap jus. Tampaknya Sintia sangat haus, jus habis dalam hitungan detik.

Sintia memutar bola mata ke sudut pelupuk. Merasa punya kesempatan, dia menggigit tangan lelaki itu hingga pekikan menggema di ruangan. "Wanita goblok!" jerit lelaki itu dengan nada amarah.

Sintia cukup terpuaskan dengan sikapnya itu, tentu dia tahu risikonya karena telah berani melakukan hal yang membuat lelaki itu marah. Rambut Sintia dijambak, lalu kepalanya dibenturkan di lantai.

"Berani-beraninya kamu—"

"Siapa kamu?!" Sintia tak gentar. Sambil menahan rasa takut dan kegelisahan jikalau tiba-tiba lelaki itu berniat membunuhnya di tempat. Dia harus mengetahui siapa lelaki itu dan apa motifnya memperkosa bahkan menyiksanya.

Si lelaki menjauhi Sintia, lalu berhenti di mulut pintu. "Selamanya kamu tidak akan tahu siapa saya. Dan selamanya kamu akan berada di neraka ini. Tenang saja, saya tidak akan membiarkanmu membusuk kelaparan. Saya akan selalu memberimu makan yang cukup, tapi perlahan kewarasanmu akan lenyap hingga menjadi gila. Itu lebih baik."

"He! Siapa kamu?! Anjing!"

Sang lelaki lenyap di ruangan berikutnya, lampu tiba-tiba padam. Sintia terus berteriak, tetapi tak satu pun yang bisa mendengarnya di tengah hutan yang tiada satu manusia pun kecuali dia dan lelaki itu. Sintia harus pasrah.

-II-

Jika ada kekuatan luar biasa yang dapat membebaskannya dari tempat kumuh nan gelap itu, Sintia akan memohon dengan sangat pada sang pemilik kekuatan. Hati kecilnya menyerukan nama Tuhan yang Maha Suci lagi Maha Kuasa. Tidak dimungkiri, meski hatinya kadang menolak percaya pada kuasa Tuhan, Sintia akhirnya sadar bahwa tiada kekuatan lain yang lebih besar karena bisa membawanya menuju tempat menyeramkan dengan segala penyiksaan yang menyakitkan.

Tubuhnya merasa pegal karena cukup lama berbaring dengan tangan dan kaki yang diikat pada kursi. Masalah lain datang menghampiri: dia merasa gatal di bagian leher. Bagaimana caranya dia bisa menggaruk bagian yang sulit dijangkau? Mustahil itu bisa dilakukan sebelum tangannya benar-benar terlepas dari jerat. Tidak hanya itu masalahnya; laba-laba merayapi lengannya, kecoak berjalan ke sana kemari di permukaan kulit, mondar-mandir melalui bahu ke kepala.

"Pergi! Pergi! Pergi!"

Untung saja mulutnya tidak kembali dibekap lelaki itu, dia jadi bisa menyuarakan rasa takut dan jijik karena dua serangga yang sama-sama tak dia sukai mulai berkumpul menggerogoti dirinya.

Sintia menggerak-gerakkan tubuhnya agar dua serangga menjijikkan itu segera pergi, tetapi tak berefek apa pun. Tikus pun hadir di depan wajah hingga membuatnya memekik lagi pekak.

"Tolong! Siapa aja! Tolong saya!"

Memikirkan dirinya sebatang kara berada di gubuk tengah hutan, Sintia teringat kehidupannya yang telah lama hancur. Ibunya meninggal dunia saat dia duduk di bangku SMA. Ayahnya menikah lagi dengan wanita yang sama sekali tak peduli padanya. Dia frustrasi, lalu meninggalkan bangku sekolah hingga tersesat di dunia hitam hingga sekarang. Dia mulai berusaha seorang diri memenuhi kebutuhan hidup. Awalnya bekerja sebagai bartender di sebuah bar demi bisa membiayai sekolah adiknya.

Sungguh malang, tetapi perjuangannya patut diacungi jempol. Dia tak menyerah pada takdir yang senantiasa tertawa di atas penderitaannya. Hingga itulah, dia jadi lebih suka dunia malam yang kelam; sendiri dalam kegelapan dan hanyut dalam buaian riuhnya musik pemuas ego.

Malam semakin dingin, pohon mengibas, lalu angin bertiup, masuk dari ventilasi yang cukup lebar. Sintia menggigil; tubuhnya bergetar. Tiada kuasa lagi, tiada daya lagi. Matanya terkantuk-kantuk, tetapi dia menahan diri untuk tidak memejam.

"Tuhan. Apa masih ada ampunan untukku yang berdosa dan hina ini?" katanya dengan suara parau lagi lirih seiring air mata mengalir di sudut netra.

"Apa masih bisa aku diampuni? Apa masih bisa aku dekat dengan-Mu? Aku sadar, kok. Aku sudah meninggalkan-Mu dalam waktu yang sangat lama. Aku terbuai dengan dunia yang Kau ciptakan. Aku sadar."

Wajah itu tampak lelah. Garis bibirnya melengkung naik.

"Tuhan. Mohon maaf, ya. Ampuni aku. Setelah bebas dari sini, aku berjanji akan menemui-Mu. Berjanji akan beribadah pada-Mu. Berjanji akan melakukan kewajibanku."

Tangis di ruangan gelap gulita itu semakin pecah. Sunyi yang teramat, sirna seketika, dan tangis Sintia sesekali tertahan. Kain yang mengikat tangannya, terlepas dengan sendiri. Itu terjadi bukan tanpa penjelasan, tetapi sedari beberapa saat yang lalu, kain itu perlahan-lahan melonggar akibat pemberontakan yang Sintia lakukan. Sintia terbebas, tetapi dia tidur amat pulas karena kantuk dan lelah tak dapat ditoleransi.

-II-

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED