Tiba di rumah, Sang Ayah langsung menderanya dengan pertanyaan tajam. "Ale, apa maksud dari foto yang kau kirimkan itu?"
Alenia menoleh sekilas. Disisi ayahnya berdiri ibu tiri yang sangat ia benci.
"Kenapa tidak bertanya pada anak istri ayah saja?" Ujar Alenia sinis dan kembali melangkahkan kakinya.
"Ale, Amora tidak mungkin melakukan semua itu. Tolong jangan buat nama adikmu jelek dihadapan ayahmu." Ibu tiri Alenia menyela dengan wajah melasnya. Hal ini sudah menjadi pemandangan yang biasa ia lihat setelah orang yang dianggap teman oleh ibunya itu tinggal bersama mereka di rumah mendiang ibu kandungnya.
"Maaf, Nona Julia." Alenia berbalik, berjalan beberapa langkah mendekati ayah dan ibu tirinya dengan bersedekap tangan.
"Sepertinya Amora tak memiliki cela di mata kalian, namun jangan lupa bahwa dia juga manusia!" Tegas Alenia.
"Jangan bertele-tele, Ale. Katakan yang sebenarnya!" Desak Ayah Alenia.
"Mereka berselingkuh! Amora dan Mark!" Tegas Alenia setenang mungkin. "Mereka berselingkuh di belakangku!"
"Tidak mungkin!" Julia kembali menyela, menentang tuduhan Alenia pada putrinya dengan nada tinggi.
"Ya, memang tidak!" Kata Alenia kemudian. Kini ayahnya dan Julia menatap bingung padanya.
"Menurut pengakuan Amora, mereka sudah berkencan lebih dari dua tahun ini. Itu berarti akulah orang ketiga dalam hubungan mereka. Namun yang menjadi pertanyaan besar dalam benakku adalah, kenapa Amora bisa menerima begitu saja saat kekasihnya menyatakan cinta kepada wanita lain, bahkan melamarnya. Dan itu terjadi di depan semua orang, saat acara penting dengan semua kolega ayah. Dia bodoh atau memang wanita murahan?!" Tukas Alenia tajam.
"Ale, jaga bicaramu! Bagaimanapun Amora adalah adikmu!" Teriak Julia tak terima ketika Alenia menyematkan kata tak pantas pada Amora.
"Kau yang harus menjaga putrimu dan dirimu disini!" Sergah Alenia dengan sorot mata tajam. "Satu hal lagi, keturunan Lorca hanya aku seorang! Jadi, berhenti menyebut dia sebagai adikku karena aku tidak memiliki adik!"
"Ini adalah rumah ibuku yang telah diwariskan kepadaku. Jika aku mau, aku bisa mengusir kalian bertiga disini. Jadi, jangan berlagak bahwa kau adalah Nyonya di rumah ini, kau hanya istri ayahku dan hanya itu peranmu disini!" Tegas Alenia.
"Ale, kau sudah melewati batasmu." Ayah Alenia menyela, mendekati putrinya itu dengan wajah lemah.
"Lalu bagaimana dengan Ayah? Ayah bahkan hanya sebuah panggilan tanpa tanggung jawab dan tugasnya sebagai seorang ayah yang sebenarnya," lirih Alenia.
Keduanya saling memandang tajam, Alenia tidak ingin diam lagi. Ia sudah bosan menghadapi tingkah manusia-manusia dengan topeng mereka masing-masing.
"Jika Ayah tidak senang, maka Ayah bisa pergi dari rumah ini. Bawa serta istri dan anak Ayah yang munafik ini menjauh dariku," tukas Alenia.
"Nak, jangan hanya karena patah hati kau berubah menjadi anak durhaka!" Kata Sang Ayah menasihati.
Alenia tersenyum kecil, "Aku patah hati? Yang benar saja, Ayah?" Sinis Alenia.
"Untuk apa aku patah hati pada pria seperti Mark yang mengkhianatiku dengan wanita murahan seperti Amora."
Julia maju hendak menampar Alenia namun dengan cepat Ayah Alenia menghalangi.
"Kau tidak terima anakmu disebut sebagai wanita pramuria?" Tanya Alenia tajam. "Lalu sebutan apa yang pantas untuknya? Wanita jalang?!"
"Suamiku, dia sudah benar-benar keterlaluan!" Kata Julia mendesak Ayah Alenia untuk melakukan sesuatu pada Alenia.
Alenia tertawa keras mendengarnya.
"Jika kalian masih ingin berada di rumah ini, maka jaga sikap kalian. Jangan memancing kegilaanku keluar yang akan membuat kalian bertiga berakhir sengsara!" Ancam Alenia. Setelah mengatakan semua itu, Alenia berlalu meninggalkan keduanya.
***
Udara sejuk masih terasa menyentuh kulit. Embun pagi masih menghiasi dedaunan. Sayup-sayup terasa belaian sinar matahari pagi. Alenia membuka perlahan matanya setelah tidur lelapnya terganggu oleh suara ketukan pintu yang cukup keras. Ia beringsut dengan malas, beranjak dan menjalan mendekati pintu.
Alenia membuka pintu dengan wajahnya yang masih mengantuk.
"Nona, Tuan Javer sudah menunggu di ruang sarapan bersama. Ada Tuan Mark juga," kata Pelayan memberitahu dengan menyebut dua nama pria yang sedikit menurunkan semangatnya hari ini.
"Katakan pada mereka agar tidak menungguku, aku akan sarapan di kantor!"
Alenia menutup pintu dengan cepat, menarik nafas panjang sebelum akhirnya berlalu menuju kamar mandi.
Tiga puluh menit berlalu, Alenia sudah selesai dengan rutinitas paginya. Kini ia bersiap untuk pergi ke kantor, namun siapa sangka dirinya langsung disuguhi dengan pemandangan yang tak mengenakan.
Di ruang tamu, Mark masih duduk dengan setia menunggunya. Di sana juga ada Javer, adik dan ibu tirinya. Alenia sudah tahu apa yang akan mereka bahas kali ini dan itu membuat Alenia jengah.
Alenia berjalan menuruni anak tangga, mengabaikan wajah-wajah manusia munafik yang ada di sudut matanya. Melihat keberadaan Alenia, Mark segera berdiri dan mendekatinya.
"Ale, ayo bicara." Mark menahan tangan Alenia di depan Amora dan Amora hanya diam saja melihat semua itu. Benar-benar tidak masuk akal.
Alenia tak menggubris kata-kata Mark, ia menepiskan tangan Mark dan berlalu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Namun ketika hendak keluar dari ruang tamu, Alenia berbalik.
"Ayah tidak bekerja? Perusahaan tidak membayar Ayah untuk ongkang kaki saja," ujar Alenia. Setelah mengatakan itu Alenia benar-benar pergi meninggalkan rumahnya.
Javer berdiri, menghampiri Mark dan langsung menyerangnya dengan sebuah tatapan tajam.
"Pertunangan kalian sudah tersiar kemana-mana. Waktunya hanya tinggal beberapa minggu lagi dan kini Ale tidak ingin melanjutkannya. Akan ditaruh dimana wajahku ini?!" Teriak Javer dengan keras.
Mark hanya diam, sama seperti Javer Lorca ia pun mulai kebingungan dengan keputusan yang Alenia buat.
"Jika sampai hal ini tersiar ke media dan merugikan saham perusahaan, maka kau dan Amora akan menanggung akibatnya!" Ancam Javer.
Javer berlalu, berniat menyusul Alenia namun sayangnya Alenia sudah lebih dulu pergi. Alhasil, ia hanya bisa melangkah gontai menuju mobil mewahnya.
Tiba di kantor, Alenia sudah disambut dengan sekretarisnya, Rebecca.
"Nona, sample undangan pertunangan anda sudah di kirim ke surel anda. Mereka ingin anda memeriksanya." Kata Rebecca pada Alenia.
Alenia memejamkan matanya, merasakan sesuatu yang nyeri menyerang ulu hatinya. Perasaan itu tidak mudah diakhiri begitu saja seperti ia mengakhiri hubungannya dan Mark. Terlebih kini masih ada sisa-sisa masalah yang harus diselesaikan olehnya.
"Buatkan aku kopi, bawakan sarapan juga. Aku akan memeriksanya sekarang," ujar Alenia.
Rebecca mengangguk cepat, lalu pergi untuk melakukan apa yang Alenia minta. Sepeninggal Rebecca, Alenia segera membuka email yang dimaksud. Senyum getir berada dibibirnya kini ketika ia melihat namanya bersanding dengan Mark di dalam sample undangan itu.
Lama Alenia memandangi sample undangan tersebut, tiba-tiba otaknya bekerja sedikit jahil. Ia mengubah namanya di dalam undangan tersebut, menggantinya dengan nama Amora berikut dengan foto yang ia dapatkan tadi malam.
"Ya, foto ini sangat cocok untuk mereka berdua yang haus belaian." Alenia tersenyum kecil sebelum mengirimkan hasil koreksinya pada pihak Event Organizer. Alenia menutup percakapan di surelnya tersebut.
***
Siang hari, sesuatu mengejutkan terjadi. Pintu ruangan Alenia dibuka dengan keras. Tak lama Mark datang dari belakang pintu yang membuat Alenia mengerutkan dahinya cukup dalam.
"Ale, apa maksudnya ini?!" Teriak Mark seraya melemparkan sesuatu kepada Alenia.
Alenia masih bingung, ia meraih benda yang dilemparkan Mark tersebut yang ternyata itu adalah undangan pernikahan mereka yang telah diubah olehnya tadi pagi.
"Apa? Kenapa? Apa ada yang salah?" Ujar Alenia tenang sambil meletakkan undangan tersebut di atas meja kerjanya.
"Aku tidak akan pernah menikah dengan Amora, yang aku cintai hanya kau, Ale!" Kata Mark menekankan setiap kata-katanya.
Alenia berdiri dari tempatnya, kini semua rasa kagum, cinta serta rasa hormatnya pada Mark benar-benar hilang seketika setelah melihat bagaimana sikap Mark yang sebenarnya.
Langkah kaki Alenia berhenti tepat di depan Mark. Matanya menatap penuh jijik pada sosok yang pernah menggetarkan hatinya itu.
"Aku tidak peduli siapa yang kau cintai, namun jika ingin baik-baik saja maka kau harus menikah dengan Amora seperti yang aku sarankan ini." Kata Alenia dengan mudahnya. Seolah pernikahan hanyalah sebuah permainan yang bisa diikuti atas perintah siapapun.
"Tidak penting apakah pernikahan kalian itu terjadi atas dasar suka sama suka, karena kini yang harus kau selamatkan adalah nama baikmu!" Tambah Alenia.
"Tapi tidak dengan menikahi Amora, Ale. Aku tidak bisa, aku hanya ingin menikah denganmu." Tangan Mark ingin meraih tangan Alenia, namun Alenia menolak dengan melangkah mundur.
"Dan aku tidak akan pernah menikah pada seseorang yang telah menyia-nyiakan aku," jawab Alenia lugas.
"Berikan satu hukuman untukku," kata Mark kemudian. Wajahnya menatap penuh harap pada Alenia. "Kau boleh memukulku, menendangku atau menamparku. Tapi jangan batalkan pernikahan kita."
Alenia tersenyum kecut, "Aku tidak pernah menyangka jika kau bukan pria sejati, Mark!"
"Bagaimana bisa seorang pria mengubah perasaannya dengan begitu cepat? Tadi malam kau dengan liarnya memagut bibir Amora, namun siang ini kau mengatakan tidak mencintainya. Harus dengan apa aku menyebutmu, hah?" Sarkas Alenia.
"Terserah! Kau boleh memanggilku pecundang atau apapun itu, aku tidak peduli! Tapi jangan batalkan pernikahan kita," pinta Mark.
Alenia menggelengkan kepalanya berulang kali. Tidak tahu lagi harus bicara apa pada Mark setelah semua penuturannya tersebut.
"Apa kau pikir aku akan menikah dengan seorang pecundang yang sudah mempermainkan perasaanku? Apa kau pikir aku sebodoh Amora yang akan menerima kau lagi setelah pengkhianatan ini? Naif sekali dirimu!" Kata Alenia tajam.
Tangan Alenia bergerak meraih gagang telepon yang ada di atas meja kerjanya. Matanya masih menatap lekat nan sinis pada Mark yang masih berdiri dihadapannya itu.
"Panggil penjaga keamanan kemari, bawa tamu tak diundang ini keluar dari ruanganku!" Kata Alenia bicara pada Rebecca melalui panggilan telepon.
"Ale, tolonglah. Aku mohon, beri aku satu kesempatan lagi." Mark terus mengiba pada Alenia, namun Alenia mengabaikannya. Ia bahkan sudah kembali ke kursi kebesarannya kini hingga dua orang penjaga keamanan beserta Rebecca datang.
"Lain kali jangan terima dia untuk masuk ke ruanganku. Apapun alasannya!" Tangan Alenia mengayun pelan, memberikan gerakan isyarat untuk membawa Mark keluar dari ruangannya dengan cepat. Dan tak perlu menunggu lama, Mark pun keluar dengan sendirinya dari ruangan Alenia.
Alenia menarik nafas panjang setelah Mark keluar dari ruangannya. Dadanya sedikit sesak, ia tidak bisa berbohong bahwa dirinya akan baik-baik saja dengan kandasnya hubungannya dan Mark. Ia sangat mencintai Mark, mempercayai Mark dengan sepenuh jiwa. Baginya Mark adalah separuh jiwa dan raganya. Namun kini Mark mengkhianatinya. Hatinya remuk.
"Sebesar apapun rasa cintaku padamu, aku akan membunuhnya!" Lirih Alenia.
"Nona Alenia rapat akan segera dimulai." Rebecca menghadap kepada atasannya tersebut.
Alenia hanya mengangguk pelan seraya berdiri dari kursi kerajaannya.
"Klien dari perusahaan YG sudah menunggu di restoran depan kantor kita."
Langkah Alenia berhenti ketika mendengar penuturan sekretarisnya tersebut, tak hanya itu dahinya pun berkerut dalam ketika tiba-tiba lokasi rapat diubah tanpa pemberitahuan dirinya.
"Kenapa disana?" Tanya Alenia tajam.
"Tiba-tiba saja Tuan Lucas Morgan mengganti tempatnya, Nona."
"Tanpa pemberitahuan?" Ujar Alenia dengan menekankan setiap katanya.
Rebecca menundukkan kepalanya.
Alenia menarik nafas panjang, merasa kesal karena kliennya yang tiba-tiba mengganti tempat rapat mereka.
"Sepertinya aku harus membuat pelajaran pada mereka," ujar Alenia seraya melangkahkan kakinya dengan lebar menuju restoran yang ada di depan perusahaannya.
Kedatangan Alenia sudah ditunggu dan disambut hangat, namun Alenia hanya bereaksi datar kepada kliennya tersebut.
"Lucas Morgan," ujar pria berperawakan tinggi dengan brewok yang memenuhi bagian rahangnya.
"Alenia Lorca."
Alenia menarik kursi dan duduk tanpa diminta, hal tersebut sedikit membuat Lucas tersinggung. Namun belum sempat ia membuka suara, Alenia sudah membuka suara.
"Lain kali jangan mengganti tempat rapat tanpa pemberitahuan, saya tidak terbiasa rapat diluar kantor.
Lucas tersenyum tipis, "Bukankah anda berada disini karena anda mengetahuinya?!"
Alenia mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk memindai dokumen di depannya. Melihat tatapan lekat Lucas membuat ia sedikit tidak senang.
"Maaf, sepertinya kita tidak bisa bekerja sama."
Tanpa aba-aba lagi Alenia berdiri dan berbalik meninggalkan ruang makan khusus tersebut, bersamaan dengan itu pelayan resto masuk dengan menu yang dibawanya.
Alenia acuh, dengan yakin melangkahkan kaki meski Rebecca sudah berusaha menahannya.
"Nona, ini proyek penting. Perusahaan YG adalah kandidat teratas yang bisa bekerja sama dengan perusahaan kita. Para pemegang saham ...,"
Rebecca menghentikan kalimatnya bersamaan dengan terhentinya langkah Alenia. Tatapan lekat nan tajam Alenia membuat Rebecca bungkam seribu bahasa.
"Kalau begitu minta para pemegang saham menyelesaikan masalah ini. Cari perusahaan lain atau jika mereka mau, datangi pihak YG," tukas Alenia.
Rebecca masih tertunduk tak berani mengangkat wajahnya. Jika sudah begini, maka dia hanya bisa menunggu kemarahan para petinggi perusahaan lagi.
Melihat Rebecca tak menjawab Alenia kembali melanjutkan langkah kakinya.
Sementara itu, di dalam restoran Lucas menggerutu kesal karena sikap Alenia yang begitu arogan.
"Kita pulang sekarang," ujar Lucas pada sekretarisnya. Ia berdiri meninggalkan meja makan dan melangkahkan kaki keluar restoran.
Tiba di lobi tanpa sengaja Lucas melihat Alenia yang baru saja masuk ke dalam gedung kantor LC. Senyum kecil terbit di sudut bibir Lucas ketika melihat siluet tubuh Alenia yang begitu menggodanya.
"Apa yang aku pikirkan," gumam Lucas seraya menepuk pelan kedua pipinya.
"Adam, apa proyek ini sangat penting untuk perusahaan kita?" Tanya Lucas pada sekretarisnya yang ia panggil Adam tersebut.
"Cukup penting, Tuan." Jawab Adam seadanya. "Banyak perusahaan yang ingin bekerja sama dengan perusahaan LC, mereka meyakini berkontribusinya perusahaan LC bisa meningkatkan saham perusahaan, terlebih untuk anak perusahaan mereka."
Lucas mengangguk paham, "Jadwalkan lagi pertemuan kita, lakukan apapun agar perusahaan LC mau bekerja sama dengan perusahaan kita. Aku ingin mendapatkan kepercayaan Kakek dengan cepat."
"Baik, Tuan."
***
Alenia baru saja masuk ke ruangannya, namun ketika ia membuka pintu sebuah pemandangan tak mengenakan kembali dilihatnya.
"Kenapa Ayah kemari? Ini jam kantor," ujar Alenia acuh.
"Ada yang ingin Ayah bicarakan padamu, Ale."
Alenia menatap sekilas pada ayahnya itu, "Jika ini menyangkut masalah pribadi, maka bicarakan ketika jam kantor sudah selesai."
"Ale, jangan terlalu keras pada Ayah. Bagaimanapun, aku adalah ayahmu," kata Javer pada putri semata wayangnya itu.
Alenia hanya tersenyum kecil mendengarnya, "Aku tahu, memangnya kapan aku tidak menganggap ayah sebagai orang tuaku?"
Aiden menarik nafas lemahnya.
"Ale, Ayah sudah tua. Ayah tidak ingin kau terus seperti ini, Ayah ingin kau menikah dan memiliki kehidupanmu sendiri agar kelak ketika Ayah meninggal ada seseorang yang telah siap menjagamu," ungkap Javer lirih.
"Ayah yakin itu alasannya?" Tanya Alenia tajam.
"Tentu saja, Ale. Memangnya alasan apalagi selain itu? Apa kau pikir ayahmu ini sangat jahat hingga tak memikirkan dirimu lagi, hah?" Cecar Javer membela diri.
"Baiklah, anggap saja iya." Cetus Alenia. "Jika ini permintaan Ayah maka akan kulakukan, tapi tidak dengan Mark. Dia pecundang yang masih bergantung pada kedua orang tuanya, aku perlu seorang yang kuat untuk membantuku membangun perusahaan ibu agar lebih kuat lagi. Aku tidak ingin dikalahkan begitu saja oleh wanita murahan seperti Amora dan Julia."
Javer terdiam, kini ucapan Alenia begitu frontal padanya. Namun ia pun tidak bisa melawan karena Alenia lah yang berkuasa di sini.
"Semua ini karena surat wasiat sialan itu," gerutu Javer dalam hati.
"Ayah tenang saja, aku akan tetap menikah. Tapi setelah Amora dan Mark," kata Alenia tiba-tiba.
"Hah?" Javer mengerutkan dahi tak mengerti.
"Iya, Amora dan Mark akan segera menikah akhir bulan ini. Semua ini aku lakukan agar Ayah tetap menjadi mertua Mark, bukankah Ayah sangat menyukainya?" Tukas Alenia.
"Tapi kenapa mendadak sekali? Bukankah seharusnya akhir bulan ini adalah hari pertunanganmu dan Mark?" Tanya Javer masih berusaha bersikap lembut pada Alenia.
"Iya, aku tahu Ayah." Jawab Alenia. "Tapi Mark dan Amora saling mencintai, aku tidak ingin menjadi penghalang bagi mereka berdua. Lagipula semua sudah dirancang dengan sempurna, sayang jika dibatalkan begitu saja. Oleh karena itu, agar kita tidak mengalami kerugian besar aku merencanakan semua ini."
"Apa Mark dan Amora mau?" Tanya Javer memastikan dengan hati-hati.
"Mereka harus mau, jika tidak foto-foto mereka tadi malam akan kusebar ke beberapa reporter!" Jelas Alenia dengan nada mengancam.
Javer semakin terhenyak, ia tidak menyangka jika Alenia sudah merencanakan semuanya dengan sempurna.
Alenia mendekati ayahnya, memegang tangan ayahnya dengan lembut, Javer sedikit khawatir melihat sikap lembut putrinya itu.
"Ayah, tenanglah!" Kata Alenia dengan lembut. "Aku akan membuat Ayah menerima semua perlakuan khusus ini. Kelak, nama Ayah akan diingat semua orang. Aku berjanji untuk itu."
Javer tersenyum kecut, "kalau begitu lanjutkan pekerjaanmu. Ayah akan kembali ke ruangan Ayah."
Javer memilih pergi, ia tak mau membuat Alenia semakin marah dan kembali membahayakan posisinya. Saham yang ia punya tak seberapa jika dibandingkan saham yang Alenia miliki, apalagi jika nanti Alenia berhasil membuat para pemegang saham lainnya bersatu dan mendukungnya, ia akan kalah telak. Oleh karena itu ia lebih memilih berhati-hati dengan Alenia sekarang.
Sepeninggal Javer, Alenia beranjak duduk di sofa.
"Jika Ayah terus licik, maka aku juga akan melakukan dengan cara yang sama. Hal ini akan terus berlangsung hingga Ayah bisa melihat kebenaran yang sesungguhnya," lirih Alenia
Tiba-tiba pintu ruangan Alenia terbuka, Rebecca berjalan mendekat pada Alenia dan melapor.
"Nona, perwakilan dari perusahaan YG merencanakan kembali pertemuan dengan anda. Untuk meyakinkan anda, mereka sudah mengirim ringkasan proposal mereka ke surel perusahaan, anda bisa melihatnya. Dan kali ini, mereka meminta anda sendiri yang menentukan tempat pertemuannya," jelas Rebecca.
Alenia menarik nafas pelan, namun tiba-tiba ia memikirkan sesuatu yang tak biasa.
"Aku ingin profil pria yang bertemu denganku tadi, kirimkan segera sebelum sore ini. Ini menentukan jawabanku nanti."