"Nona aku telah membereskannya," ujar seorang pelayan membungkuk hormat pada tuannya.
"Baguss, sekarang tidak ada lagi yang perlu aku takutkan," ucapnya sambil tersenyum senang.
Dia adalah Shu Hang, saudara atau adik dari Xue Mingyan. Dia telah merencanakan pembunuhan untuk saudaranya sendiri.
Shu Hang berjalan dengan hati gembira karena telah berhasil membuat saudaranya terbunuh dan semua yang ia takutkan akhirnya sirna.
Demi melancarkan aksinya dia berlari menuju kediaman utama sambil menangis terisak isak.
Brakkk
Suara pintu yang dibanting oleh seseorang dan membuat seluruh penghuni di dalam terkejut.
"Ayah, ibu .... aku mendapatkan kabar buruk huhuhuhu," ucap Shu Hang yang langsung terduduk lemas di kaki ayahnya sang Perdana Mentri.
Ayahnya terkejut, lalu menyuruh Shu Hang untuk bangun dan duduk di sampingnya.
"Ada apa Hang er, katakan pada ayah apa yang terjadi?" tanya ayahnya khawatir.
"Kak ..... kak Ming er ayahh, di ... dia ...."
"Ada apa adikku? mengapa kau menangis?" potong Xue Mingyan yang sedang berdiri di ambang pintu.
Shu Hang menatap tidak percaya pada kakaknya ini, bagaimana tidak? dia seharusnya sudah mati dan bukan berdiri di sini.
"Apa yang ingin kau katakan? kenapa dengan diriku?" tanya Xue Mingyan berjalan menghampiri Shu Hang.
Wajah Shu Hang pucat pasi, dia terkejut setengah mati melihat bahwa kakaknya masih hidup.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Ayahnya bingung.
'Baiklah, waktu bermain telah dimulai,' ucap Xue Mingyan senang di dalam hatinya.
"Ayah, seseorang telah menjebak kami berdua. Dia mengatakan kalau Shu Hang mengajakku bertemu di sungai dekat hutan siang ini. Dia berniat jahat pada kami, ayah aku mohon pengadilannya," adu Xue Mingyan sedih.
Wajahnya Xue Mingyan sekarang terlihat sangat mengkhawatirkan, membuat semua orang yang berada di ruangan itu merasa iba padanya.
"Itu dia pelakunya ayah, dialah yang telah mengatakan kalau adikku Shu Hang ingin bertemu dengan diriku secara pribadi di sungai dekat hutan sana," ujar Xue Mingyan sambil menunjuk seorang pelayan yang berada di samping Shu Hang.
Pelayan yang ditunjuk oleh Xue Mingyan kaget, dia menatap Shu Hang selaku majikannya itu berniat meminta bantuan.
Shu Hang menggelengkan kepalanya pelan mengisyaratkan jangan pedulikan ucapannya.
Pelayan itu tersenyum puas, dia tidak peduli lagi jika harus menghina Xue Mingyan karena dirinya ada Shu Hang yang bisa membantunya.
"Nona Besar, apa yang nona bicarakan? dari tadi aku mengikuti terus Nona Shu Hang dan tidak pernah sedetikpun meninggalkannya. Lalu bagaimana mungkin aku bisa bertemu dengan Nona Besar jika aku hari ini selalu bersama dengan Nona Shu Hang?" tanya pelayannya itu sambil tersenyum puas menatap Xue Mingyan.
Xue mingyan menunduk kemudian dia tersenyum, lalu dia mendongakkan kepalanya dan menatap tajam pelayan itu.
"Lalu apa kau bisa jelaskan bagaimana aku mendapatkan hal ini?" tanya Xue Mingyan balik sambil menunjukan sepotong kain yang dari tadi digenggam olehnya.
Pelayan itu terkejut karena melihat warna kain yang sama dengan pakaiannya saat ini.
Dia teringat pada saat akan pulang ke sini, pakaiannya tidak sengaja tersangkut sebuah pohon. Tanpa pikir panjang dirinya langsung menarik pakaiannya dan meninggalkan potongan kain yang masih tersangkut itu tanpa curiga tidak akan terjadi apa apa.
"Tadi di hutan aku merobek pakaiannya saat dia menyiksaku ayah. Aku merobeknya untuk menunjukan bukti pada ayah kalau aku disiksa oleh dia," lirih Xue Mingyan takut.
Karena takut pelayan itu langsung berlutut meminta ampun pada Perdana Mentri.
"Maafkan hamba, tadi hamba keliru. Mohon maafkanlah hamba ini yang tidak tahu diri," ujar pelayan itu memohon ampun.
Perdana Mentri itu mengurut keningnya pelan karena pusing.
"Sudahlah tidak perlu memperpanjang masalah ini. Semuanya kembali ke paviliun kalian sekarang, ayah ingin istirahat!" perintah Perdana Mentri.
Pelayan itu tersenyum senang karena Perdana Mentri sendiri tidak mempermasalahkan masalah ini.
Hal ini membuktikan kalau Xue Mingyan tidaklah lebih dari seorang sampah.
Bahkan ayahnya sendiri tidak peduli jika anaknya diganggu oleh seorang pelayan seperti dirinya.
Xue Mingyan tersenyum miris ketika mendengar ayahnya sendiri begitu tidak memperdulikan dirinya.
"Ayah, Ming er sangat mengkhawatirkan kondisi ayah sekarang. Tapi Ming er takut jika masalah kedua putri ayah yang dijebak oleh pelayannya sendiri bebas tanpa hukuman, ini akan merusak reputasi ayah sebagai Perdana Mentri. Ta ... tapi jika ayah lelah Ming er tidak berani menganggu ayah." panjang Xue Mingyan khawatir dengan menunjukan raut wajah sedih.
Ayahnya berpikir bahwa yang dikatakan oleh Xue Mingyan ada benarnya juga. Jika masalah ini sampai terdengar keluar maka akan timbul masalah besar baginya.
"Baiklah, sesuai yang dikatakan Ming er pelayan ini harus dihukum. Pengawal pukul pelayan ini sebanyak 40 kali menggunakan papan, buat dirinya jera karena telah berani menjebak putri seorang perdana mentri," perintahnya.
Pelayan itu terkejut, dia tidak mau jika harus menerima hukuman itu.
"Tuan, ampunilah saya, hamba bersalah. Tuaaannn ...." teriak pelayan itu meminta ampun.
Tetapi terlambat dia langsung diseret oleh dua pengawal dan pergi keluar untuk menerima hukuman.
Sebelum keluar dia melihat nonanya yang tidak peduli padanya dan dia juga sempat melihat Xue Mingyan.
Dia terkejut saat melihat Xue Mingyan yang tersenyum sinis sambil menatapnya tajam.
'Ada apa dengannya? kenapa dia bisa menjadi begitu pintar?' tanyanya didalam hati.
"Ayah, Ming er pamit mengundurkan diri," pamit Xue Mingyan sambil membungkuk hormat lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Sebelum pergi dia menatap saudaranya itu, Xue Mingyan tersenyum penuh kemenangan pada Shu Hang.
Shu Hang kaget dan kesal kenapa kakaknya ini bisa berubah dalam sekejap.
Dia bertanya tanya apakah ini kakaknya yang sama, yang selalu takut jika berhadapan dengan orang lain.
Xue Mingyan berjalan ke Pavilliun Awan miliknya. Tempat yang sangat kumuh dan jelek tanpa seorang pelayan ataupun pengawal.
Selama ini Xue Mingyan tinggal sendiri tanpa seorangpun. Karena diasingkan oleh keluarganya sendiri membuat dirinya menjadi penakut dan mudah ditindas.
Setelah masuk ke dalam Pavilliunnya, Xue Mingyan segera menutupnya lalu berbalik dan langsung tertawa.
Dia tertawa senang ketika melihat pelayan itu tidak bisa berbuat apa apa dan hanya bisa pasrah menerima hukuman dipukul 40 kali oleh papan.
"Haduh, perutku sakit sekali," keluh Xue Mingyan sambil memegang perutnya yang sakit karena tertawa terus menerus.
"Ini hanya permulaan, aku belum menggertak atapun membalaskan dendamku padamu," ujar Xue mingyan kejam.
Dia memikirkan bagaimana tampang adik dan Selir ayahnya yang tersiksa karena ulahnya.
Itu membuat dirinya menjadi bersemangat, Xue Mingyan tidak sabar bermain lagi dengan mereka.
Ya itu dianggap hanya sebuah permainan oleh Xue Mingyan sendiri. Karena menurutnya mereka hanya bisa berbicara.
'Mereka menantang adu kepintaran denganku? huuh aku takut hanya akan mengecewakannya saja. Menantangku hanya akan membuat kalian menyesalinya seumur hidup!' tekad Xue Mingyan di dalam hatinya.
"Baiklah, untuk saat ini aku ingin mengubah Pavilliunku menjadi tempat yang layak ditinggali manusia," ucap Xue Mingyan pada dirinya sendiri.
Mungkin hari ini akan menjadi hari melelahkan baginya, tapi demi mencari kenyamanan dia akan melewati rintangan ini.
"Hahhhhhh," Xue Mingyan menghela napasnya lelah.
Dari sore sampai sekarang dia masih membersihkan Pavilliunnya. Awalnya hanya akan membersihkan kamar tidurnya saja, tetapi karena dirinya tidak terbiasa dengan pekerjaan setengah setengah akhirnya Xue Mingyan membersihkan semuanya.
berrrrrrkkkk
Xue Mingyan memegang perutnya yang berbunyi, dia baru menyadari jika dirinya belum makan apapun dari siang.
"Hemm biasanya waktu seperti ini selalu ada yang mengantarkan makan malam untukku," tebak Xue Mingyan.
Seingatnya, setiap pagi siang dan malam selalu ada seorang pelayan yang mengantarkan makanan untuknya.
Dan benar, baru saja memikirkannya ada seorang pelayan masuk ke dalam paviliun untuk mengantarkan makan malam Xue Mingyan.
"Nona, aku letakan makan malammu di sini," ucap pelayan itu sambil menahan senyumnya.
Xue Mingyan mengernyit heran mendengar nada bicara pelayan itu.
Tanpa menunggu lama, pelayan itu pamit pergi ke luar Pavilliunnya tanpa menghina apapun.
"Mencurigakannn," ucap Xue Mingyan setelah melihat gerak gerik aneh dari pelayan yang mengantarkan makan malam untuknya.
Dia merasa aneh, di dalam ingatan pemilik tubuh aslinya setiap pelayan yang mengantarkan makanan untuknya selalu merendahkan dan menghinanya terlebih dahulu.
Akan tetapi sekarang, pelayan itu berlalu pergi tanpa mencaci maki dirinya.
Tanpa menunggu lama Xue Mingyan menghampiri makanan yang pelayan tadi bawa, dan langsung membuka penutupnya.
Dengan cepat dirinya mundur ke belakang ketika melihat di nampang piringnya itu ada seekor ular.
"Seperti yang kupikirkan, dia tidak menghinaku karena mengira pasti aku akan mati karena ular ini," gerutunya kesal.
Xue Mingyan tersenyum sinis, sudah lama sekali dia tidak bermain hal ekstrim seperti ini.
"Baiklah, let's play the game." ucap Xue Mingyan senang.
Ular itu langsung melompat akan menyerangnya, tetapi dengan cepat tangannya langsung mengambil jepit rambut yang dia gunakan dan langsung mengayunkannya pada ular itu.
Craaassshhh
Dengan satu kali tebasan, tubuh ular itu terbagi menjadi dua dan langsung mati dibuatnya.
"Huuh membosankan, kenapa dia langsung mati sih ..." keluh Xue Mingyan.
Dia masih belum cukup puas bermain. Tetapi kemudian perutnya berbunyi kembali.
Xue Mingyan mendekati meja untuk melihat makanan seperti apa yang dibawakan oleh pelayan tadi.
Dan tepat seperti dugaannya, pelayan itu membawakan sepoting roti yang telah mengeras dan air mentah yang cukup bau.
Xue Mingyan menggertakan giginya, kekesalannya ini membuat dirinya menjadi lebih semangat untuk membalaskan dendamnya.
"Lihat saja nanti, aku akan membalaskan apa yang kalian lakukan pada sekarang!" tekad Xue Mingyan.
Akan tetapi sebelum itu dia berpikir bagaimana caranya agar dirinya malam ini tidak berpuasa. Karena kelemahan utamanya sebelum memasuki tubuh ini adalah dirinya yang tidak kuat menahan lapar.
Mungkin untuk saat ini Xue Mingyan masih kuat karena pemilik tubuh asli sudah terbiasa dengan tidak makan sama sekali selama seharian, tetapi jiwa yang memasuki tubuhnya tidak! Dia tidak kuat menahan rasa lapar.
Tiba tiba terlintas di benaknya untuk pergi ke luar malam ini.
"Benar juga, aku akan pergi keluar untuk mencari makanan dan tentunya menafkahi diriku sendiri," cetus Xue Mingyan senang.
Dirinya bergegas ke lemari pakaiannya. Tadinya dia menginginkan pakaian pria, tetapi usahanya sia sia. Dia hanya menemukan 3 jenis pakaian wanita di lemarinya.
Jadi Xue Mingyan memutuskan untuk memakai pakaian terlusuhnya untuk keluar. Sesaat dia menertawakan dirinya sendiri ketika melihat seluruh pakaian miliknya ini lusuh.
"Aihhh benar benar buruk, lihatlah sudah sedikit ditambah lusuh dan kotor lagi," ejek Xue Mingyan pada dirinya sendiri.
Dia tidak habis pikir bagaimana seorang 'Nona Besar' memiliki pakaian yang sedikit sekali dan juga sangat lusuh.
Bagaimana jika hal ini terdengar sampai Kekaisaran, mungkin nanti akan terjadi pembantaian besar besaran untuk Perdana Mentri karena membiarkan Nona besar keluarganya hidup seperti ini.
"Aihhh aku ini sedang memikirkan apa sih," decak Xue Mingyan bingung.
Dia langsung bergegas mengganti pakaiannya tanpa bantuan siapapun.
Xue Mingyan agak sedikit kewalahan karena dirinya memakai pakaian itu sendirian.
Akan Tetapi setelah perjuangannya selama setengah jam, akhirnya selesai juga dia memakai pakaiannya.
Dia berjalan mengendap endap keluar rumah, dia tidak mau orang lain mengetahuinya dan menggagalkan rencananya.
"Wahhh indah sekali," puji Xue Mingyan takjub ketika melihat ada pasar malam di sana.
Banyak Lampion menyala yang menghiasi seluruh pasar, ditambah banyak pedagang yang berjejeran dipenuhi oleh pembeli.
Saat tengah mengagumi pasar malamnya, Xue Mingyan tanpa sengaja mendengar seseorang yang sedang mengadakan kompetisi.
"Tuan tuan semua, datang dan saksikanlah pertunjukan luar biasa dari Sang Juara kita, Zhong Lee!" teriak seorang lelaki paruh baya.
Semua orang termasuk Xue Mingyan penasaran, perlahan banyak orang yang menghampiri mereka untuk melihat apa yang terjadi.
"Lihatlah begitu pintar dan cerdiknya sang master dalam bermain permainan kartu. Sudah banyak orang orang yang kalah darinya," puji Lelaki tadi.
"Siapapun yang ingin bermain dengannya datanglah dan tantang dirinya. Siapapun yang menang akan mendapatkan semua harta yang telah dia dapatkan." tambahnya.
Orang orang jadi tergiur dengan kemenangan yang akan didapatkan. Banyak yang mengajaknya bermain kartu dan berakhir kalah.
'Hhmm cara yang begitu licik. Merampok uang masyarakat dengan permainannya, aku menyukainya,' sanjung Xue Mingyan di dalam hatinya.
Orang orang yang menantangnya sudah kalah bermain dan mereka langsung kehabisan uang karena bertaruh.
"Siapa lagi yang ingin bermain kartu dengannya?" tanya lelaki tadi.
Tiba tiba terlihat seseorang yang mengangkat tangannya di antara kerumunan orang.
"Ada satu penantang lagi, kemarilah," ajak lelaki itu ketika masih ada yang berani menantangnya.
Orang itu adalah Xue Mingyan, dia langsung berjalan ke depan. Semua orang yang melihatnya terheran heran.
"Kau ...... apa kau yakin akan menantangnya bermain kartu?" tanya lelaki itu ketika mengetahui dia adalah seorang gadis.
"Tentu saja, untuk apa aku maju kemari? atau apakah ada syarat yang tidak mengharuskan seorang wanita ikut?" tanya Xue Mingyan balik sambil tersenyum sinis.
"Dia seorang gadis? nyalinya besar juga."
"Benar, entah apa yang ada dipikirannya itu. Laki laki yang sering memainkan permainan ini tak mampu, apalagi seorang gadis."
Semua orang menggunjingnya, mereka terus saja mempertanyakan Xue Mingyan.
"Hahaha, tidak ada hanya saja apa yang ingin kau pertaruhkan?" jawab lelaki itu.
"Apa yang akan kudapatkan jika aku memenangkan permainan ini?" tanya Xue Mingyan lagi tanpa menghiraukan pertanyaannya tadi.
Laki laki itu kesal, pertanyaannya tadi tidak di pedulikan sama sekali olehnya.
"Kauu ....."
Lelaki itu tadinya ingin marah pada Xue Mingyan, tetapi sang petarung Zhong Lee sendiri menghentikannya.
"Sudahlah, kau tidak perlu marah. Mengenai pertanyaanmu tadi nona, seperti yang dikatakan sebelumnya, aku akan menyerahkan semua harta yang kudapatkan padamu. Tapi aku juga tidak mau rugi, saat aku menang aku akan mendapatkan apa? " tanya Zhong Lee meremehkannya.
Xue Mingyan tersenyum sinis melihat kepercayaan diri yang begitu tinggi darinya.
"Jika aku kalah, aku akan menyerahkan diriku untukmu. Kau akan menjualku ataupun menjadi simpananmu aku tidak masalah sedikitpun. Semua orang yang ada di sini bisa menjadi saksinya," ujar Xue Mingyan yakin.
Semua orang terkejut dengan taruhannya Xue Mingyan, dia benar benar berani sekali.