***
Flashback on
Stephanie Madison hanya memakai selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya. Rambut yang panjang terlihat acak-acakan, tetapi senyum sumringah penuh kemenangan dan kepuasan terpatri di wajahnya.
“Kau tidur dengannya?” tanya Daphne dengan ekspresi serius sembari bersandar pada lemari pakaian di kamar saudarinya.
“Seperti yang kau lihat,” jawab Stephanie masih dengan senyumannya. “Apa kau bertemu dengan tuan?”
“Ya.” Daphne mengangguk singkat “Makanya aku datang ke sini.” Dia menghela napas gusar. Senyum Stephanie begitu indah dan itu terasa seperti melihat dirinya yang lain.
“Aku mencintainya,” ujar Stephanie tiba-tiba.
Daphne langsung mengepalkan tangan. Tubuhnya gemetar kecil mendengar pengakuan yang tak pernah ingin didengarnya itu. Dia menggeleng dengan penuh peringatan. “Jangan pernah memberikan hatimu padanya, Stephanie. Ku peringatkan padamu, jangan sekali-kali!”
“Kenapa?” Stephanie memainkan kuku-kuku panjangnya, bergantian menatap Daphne. “Kau cemburu kalau Edgar tidur denganku? Bukan denganmu?”
The fuck! Bahkan tak pernah terlintas sekali pun di pikiran Daphne untuk menaruh hati pada tuannya.
“Kebodohan lainnya,” jawab Daphne datar, menyembunyikan kekesalannya. “Dia tuanku. Penyelamatku.”
‘Tapi, kalau dia sampai mencelakakan mu, dia bukan tuanku lagi, Stephanie,’ batin Daphne melanjutkan.
“Hah!” Stephanie mendengus kasar. “Itu juga terdengar bodoh di telingaku, Daphne.” Dia menatap tajam.
“Tidak. Aku realistis,” balas Daphne teguh pendirian dan dengan suara yang amat meyakinkan.
Tak!
Daphne langsung menghindar dengan baik dari lemparan patung kuda di atas laci yang dilayangkan oleh Stephanie.
“Ke luar! Aku tak ingin melihatmu!” seru Stephanie menunjuk ke arah pintu yang tertutup rapat.
Daphne menatap lurus pada saudari kembarnya, hampir tanpa emosi walaupun hati dan kepalanya terasa berkecamuk.
Napas Stephanie memburu. Kelopak matanya bergetar menatap Daphne. “Ku bilang, ke luar, Daphne!”
“Baiklah,” putus Daphne langsung berdiri tegak. Dia melayangkan peringatan sekali lagi pada Stephanie. “Jangan berikan hatimu pada Edgar. Ku harap kamu mengerti kenapa aku mengatakan ini.”
“Persetan dengan itu! Ke luar kau!” seru Stephanie melempar pajangan lainnya ke arah Daphne.
Naas, Daphne terlambat menghindar sepersekian detik, sehingga ujung pigura yang dilempar Stephanie pun mengenai keningnya. Daphne sedikit terkejut. Dia langsung memegang keningnya yang ternyata berdarah.
“Daphne,” panggil Stephanie khawatir. Dia hendak turun dari kasur. “A-aku...”
“Tidak apa-apa,” sahut Daphne menyeka darah di kening sembari menggeleng kecil. “Beristirahatlah,” ujarnya langsung berbalik, berjalan ke luar dari kamar Stephanie, dan menutup pintunya dengan rapat. Dia Meninggalkan Stephanie yang merasa bersalah karena telah melukai saudari kembarnya sendiri.
***
Tok, tok, tok
Daphne melirik ke arah pintu yang sengaja dibiarkannya sedikit terbuka agar sirkulasi udara di ruangannya bagus. Dia menemukan Edgar berdiri di ambang pintu dengan kemeja yang tak terkancing. Gadis itu langsung berdiri, meletakkan buku yang tengah dibacanya.
“Tuan,” ujar Daphne pelan.
Edgar tersenyum tipis, kemudian melenggang masuk tanpa meminta izin. Dia menatap Daphne dengan nafsu yang terpancar, tetapi sebisa mungkin tetap menahan untuk tak menerkam gadis itu sekarang juga.
“Kau sedang membaca buku?” Suara Edgar lembut dan halus ketika bicara dengan Daphne, tak seperti dengan orang lain. Dan jelas kalau Daphne menunjukkan ketidaknyamanannya dalam hal tersebut.
Daphne melirik sekilas pada bukunya yang tertutup tanpa penanda. “Ya, Tuan.”
Edgar berhenti di depan meja. Dia mengambil buku yang dibaca Daphne beberapa saat lalu, membuka halaman demi halaman. “Science fiction?” Dia menatap Daphne dengan senyuman tak percaya. “Kau berniat menjadi ilmuwan di masa depan? Aku bisa memberikan modal untukmu.”
“Tidak, Tuan.” Daphne menggeleng kecil. “Hanya sebagai hiburan, tidak lebih,” sambungnya tak bertele-tele.
Edgar tersenyum simpul sembari mengangguk-angguk kecil. “Kau punya selera yang membosankan, Daphne.”
Gadis yang rambutnya diikat asal ke atas itupun langsung mendengus kecil. “Selera saya bukan urusan anda, Tuan.”
Edgar menggeram tertahan. Gairahnya tiba-tiba naik hanya dengan mendengar suara Daphne yang menjawabnya dengan berani, tegas, dan sedikit keras kepala.
“Gadis pemberani,” puji Edgar dengan seringai tipis, sesaat sebelum dia sadar kalau ujung kening Daphne tertutup dengan plester.
“Ada apa dengan kening mu, Daphne?” tanya Edgar khawatir dan marah karena gadis itu terluka. “Siapa yang membuatnya?”
“Ah ...” Daphne menyentuh luka yang tertutup itu tanpa sengaja, “saya tidak sengaja menabrak lemari, Tuan.”
“Astaga ... kau harus lebih berhati-hati, Daphne. Jangan sampai terluka lagi. Hatiku jadi sedih dan marah kalau melihatmu terluka,” ujar Edgar hendak menggapai kening Daphne, tetapi gadis itu menghindar lebih dahulu.
Sebagai alibi, Daphne berdeham kecil untuk menghindari situasi yang tak nyaman itu. “Anda habis darimana?” Dia melirik kemeja Edgar yang tak dikancingkan. “Terlihat seperti habis olahraga,” sambungnya.
Sontak Edgar tertawa puas. Dia menumpu tangan di meja baca sembari mendekatkan tubuh pada Daphne, walaupun terpisah oleh lebarnya meja. “Olahraga, ya ... aku suka itu.” Dia mengangguk-angguk kecil, kemudian menyeringai lebar. “Aku habis meniduri saudari kembarmu. Dia tidak semolek dirimu, tapi memiliki wajah dan suara yang sama persis denganmu.”
Di sisi lain, Daphne mengepalkan tangan di bawah meja. Urat-urat lehernya menegang saat Edgar menatapnya seperti singa yang menemukan daging segar.
“Aku penasaran, Daphne, apa kau akan berteriak seperti itu juga setiap kali aku bergerak dan menyentak di milikmu?” tanya Edgar menyentuh punggung tangan Daphne yang berada di atas meja.
Daphne menatap tangan Edgar yang bertengger di sana, kemudian menggeser tangannya secara tiba-tiba.
Edgar berdecak kecil terhadap penolakan itu dan Daphne menarik tangannya yang masih ada di atas meja, sepenuhnya ke bawah meja.
“Itu tidak akan pernah terjadi, Tuan,” balas Daphne dengan tegas.
“Oh, ayolah ...” Edgar mendengus gusar. Dia berjalan mengelilingi kamar tidur Daphne yang didominasi oleh perabotan kayu dengan penerangan yang samar. Tidak ada jendela maupun ventilasi di sana. Jelas sekali kalau kamar Daphne didesain khusus demi keamanan orang kepercayaan Ruthen. “Aku tidak ingin menjadi tuan mu saja. Aku ingin lebih, Daphne. Sesuatu yang panas dan menggelora.”
“Dan itu hal yang mustahil, Edgar,” ucap Daphne gigih dan sedikit lancang, membuat pria itu menatapnya tanpa berkedip. “Sampai matipun, kau akan tetap menjadi tuanku, penyelamatku.” Dia menggeleng kecil. “Tidak lebih. Dan seperti yang kau tahu, aku tak memiliki ketertarikan untuk percintaan,” tambahnya dengan tegas.
Edgar terkekeh masam. Sekalipun Daphne berbuat lancang, dia takkan menegurnya karena dia menyukainya. “Tidak perlu cinta di antara kita, Daphne. Kau dan aku,” dia menunjuk dirinya dan Daphne, kemudian menyatukan jari telunjuk dan tengah, “hanya perlu menghangatkan tubuh satu sama lain.”
“Dan aku lebih tak tertarik dengan itu,” balas Daphne dengan tajam. “Stephanie ada di kamarnya?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.
Edgar terdiam sejenak. Dia melirik ke pintu. “Ya, kelelahan di kamarnya.”
“Saya permisi, Tuan. Semoga hari anda selalu menyenangkan,” pamit Daphne segera ke luar dari kamarnya tanpa menutup pintu. Meninggalkan Edgar yang menghela napas gusar karena terjebak dalam pesona Daphne yang mematikan.
***
Daphne mengetuk pintu yang tertutup rapat itu sebanyak tiga kali. Tidak ada jawaban dari sana, sehingga membuatnya khawatir.
“Stephanie kau ada di dalam?” tanya Daphne sedikit berteriak.
“Ya,” jawab Stephanie dengan serak. “Masuklah!"
Daphne terdiam sejenak. Tangannya meraih kenop pintu dan menariknya. Dia langsung disambut dengan kamar yang gelap gulita tanpa penerangan. Namun, pendengarannya menangkap isak tangis dan rintihan.
“Stephanie?” panggil Daphne merasa khawatir dan berjalan cepat ke arah ranjang. Dia duduk di pinggirnya.
“Daphne,” panggil Stephanie yang mampu memilukan hati. Dia mencengkram erat lengan Daphne hingga gadis itu mendesis saat merasakan kuku-kuku tajam Stephanie tertancap di kulitnya. “Tidak bisakah kau memberikan satu hal saja padaku?” tanyanya melanjutkan.
Daphne tercekat. Dia mencengkram seprai yang kusut dengan erat. “Apa maksudmu?” tanyanya serius.
“Edgar. Aku ingin Edgar. Dia tertarik padamu. Tak bisakah kau memberikannya padaku?” pinta Stephanie yang mampu menusuk relung hati Daphne.
‘Sampai mati pun, kau tak boleh menginginkan Edgar. Dia iblis. Kau tak boleh bersama dengannya. Menaruh harapan pun jangan,’ batin Daphne menjawab dengan gusar.
“Dia memanggil namamu saat kami mencapai klimaks. Itu menyakitkan, tapi aku menyukai semua darinya. Dia sempurna,” tambah Stephanie dengan isak tangisnya yang menyayat hati.
“Stephanie ...” Alis Daphne mengerut. Napasnya memburu ketakutan. Hanya saudarinya yang dia miliki di dunia ini. Bayang-bayang kemungkinan masa depan tergambar di otaknya jika Stephanie masih mengharapkan cinta Edgar. Daphne bergetar hebat di sisi ranjang. Hanya pada Stephanie, dia berani menunjukkan sisi lemahnya begini. Sementara napas Stephanie mulai terdengar teratur. Gadis yang memiliki paras sama dengan Daphne itu terlelap dalam tidurnya, menyisakan Daphne yang menggenggam erat tangan Stephanie yang dingin dengan penuh kekhawatiran.
“Jangan dia, Stephanie, jangan ... Kau bebas jatuh cinta dengan siapapun, tapi jangan dengan Edgar, jangan pula dengan Casillas. Mereka orang-orang paling berbahaya di dunia ini. Jangan, Stephanie...” Daphne terisak di sisi ranjang. Menumpu keningnya pada punggung tangan Stephanie. Dia menggeleng berkali-kali. “Kau tak boleh ... aku tak ingin kehilangan keluargaku lagi.”
———
***
"Kau sudah bangun?" tanya Daphne melirik Stephanie yang mengerjapkan mata, menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina.
"Uh, kepalaku pusing," adu Stephanie memegangi keningnya.
"Terasa berputar?" balas Daphne mengkhawatirkannya.
"Tidak. Terasa berat," jawab Stephanie. Dia menoleh pada saudari kembarnya dan tersenyum simpul. "Aku bisa menahannya. Kau menungguiku di sini?"
"Ya. Kau mengkhawatirkan," ujar Daphne menutup novel romansa milik Stephanie yang diambilnya dari rak-rak tinggi di kamar itu.
"Sejak tadi?"
Daphne melirik lirih. Apa Stephanie tak mengingat kejadian sebelumnya atau dia mengingat, tetapi menganggapnya sebagai mimpi?
"Baru saja," jawab Daphne berbohong. "Kau sudah meminum pil kontrasepsi?" tanyanya karena Edgar pasti tak memakai pengaman.
"Haruskah?" Stephanie menghela napas gusar. Dia bangkit dari tidurnya dan menyandarkan tubuh pada headboard ranjang.
"Harus!" jawab Daphne penuh penekanan. Dia segera membuka laci di samping tempat tidur, mengambil satu pil obat kontrasepsi dari sana dan menyerahkannya pada Stephanie bersamaan dengan segelas air putih. "Kau benar-benar harus meminumnya, bahkan jika kau tak ingin. Jangan pernah bertindak bodoh," peringatnya dengan tatapan serius.
"Ya, ya. Kau sangat cerewet kalau sudah berhubungan denganku," gerutu Stephanie mengerucutkan bibir, menerima obat dan air dari Daphne, lalu meminumnya dalam sekali tegak.
"Karena aku menyayangimu, Stephanie. Itu jelas. Rasa sayangku mahal, kau tahu," ujar Daphne mengedikkan bahu, memamerkan diri.
Gadis itu tersenyum simpul. Dia menunduk, memperhatikan tubuhnya yang sudah dalam balutan kemeja dan celana pendek. "Kau yang memakaikannya?"
"Ya. Aku juga membersihkan mu," jawab Daphne bangkit dari kursi. Dia berjalan ke arah rak dan mengembalikan novel romansa yang menurutnya membosankan. "Bagaimana dengan pengiriman senjata ke Georgia?" tanyanya sembari mengintai koleksi buku saudari kembarnya yang didominasi oleh genre romansa, berkebalikan dengan koleksi Daphne yang kebanyakan strategi, fiksi, sains, racun, dan buku-buku ilmiah lainnya.
"Seharusnya berjalan dengan baik," jawab Stephanie dengan santai sembari menatap selimut yang menutupi sampai ke pangkal paha.
"Seharusnya?" ulang Daphne langsung berbalik menghadap Stephanie dengan sebelah alis yang terangkat.
Gadis yang memiliki fitur wajah yang sama dengan Daphne itu mengangguk pelan. "Aku belum mendapatkan kabar dari orang suruhan ku."
"Seharusnya tiba jam berapa?" tanya Daphne menghampiri Stephanie dengan langkah gusar.
"Pukul lima sore," jawab Stephanie santai.
"Sialan, Stephanie!" Urat-urat leher Daphne mengencang. Dia mendelik tajam. "Ini sudah jam tujuh malam! Siapa yang kau suruh? Jack?"
"Huh? Ya!" Stephanie langsung menyingkap selimut, turun dari ranjang dengan sedikit tertatih-tatih karena selangkangannya yang terasa sakit dan perih. "Aku akan pergi ke markas," ujarnya mengambil boots yang berada di pojok ruangan.
"Tetap di sini!" Daphne memerintah. Dia tak tega membiarkan saudari kembarnya yang sedang sakit untuk berjalan sejauh dua kilometer dari tempat tinggal anggota mafia Ruthen ke markas. "Aku yang akan mengurusnya!" serunya berlari ke luar dari kamar Stephanie.
"Daphne, Daphne!" panggil Stephanie sembari menenteng sebelah boots. Namun, gadis bertubuh molek itu meninggalkannya. Dia menghela napas gusar dan membuang boots-nya asal. "Anak itu ... benar-benar," gumamnya yang kemudian mendesis kesakitan. Dia memegangi selangkangannya, kemudian melangkah ke sisi ranjang dan duduk di sana. Stephanie merasa tak berguna sekarang.
***
"Apa yang kau katakan?!" Suara Edgar menggelegar penuh amarah di ruangan utama. "Senjatanya dirampas oleh Rodriguez? Siapa yang bertanggung jawab atas ini?!"
"St--"
"Saya, Tuan!" jawab Daphne menyeru dari pintu masuk. Napasnya tersengal dan langkahnya sedikit tertatih karena telah berlari sejauh dua kilometer. Orang-orang yang ada di sana, termasuk anak buah Stephanie pun mengerutkan kening. Mereka mengecek apakah itu Stephanie atau Daphne? Dan jawabannya adalah Daphne yang memiliki pesona lain, bunga mekar yang tak tersentuh.
"Kau, Daphne?" Edgar melotot pada gadis yang baru masuk ke ruangan itu dengan tangan yang berkacak pinggang, penuh amarah, congkak, dan ganas.
"Ya, Tuan. Saya minta maaf," ujar Daphne melirik anak buah Stephanie yang berlutut di sana.
'Tidak ada Jack. Dia pasti ditahan oleh Rodriguez,' tebak Daphne yang cukup mengenal tangan kanan Stephanie. 'Sudah lewat dua jam daripada seharusnya, mungkin telah dibunuh,' tebaknya lagi berdasarkan hasil analisa sekilas.
"Saya telah lalai." Daphne kembali menatap lurus pada Edgar. "Saya minta maaf, Tuan," ujarnya tanpa harus bersimpuh dan berlutut tanpa daya di depan seseorang. Dia congkak, tetapi dapat diterima karena pesona menggiurkan dan otak cerdas miliknya.
Edgar menggertakkan gigi. "Kau tahu berapa angka kerugiannya?" tanyanya marah.
Daphne diam. Jelas kalau dia tidak tahu karena sebenarnya ini bukan tanggung jawabnya. Namun, otaknya yang pintar itu berputar cepat, mencari jalan ke luar.
"Enam belas juta dolar, Tuan," jawabnya percaya diri walaupun tak tahu benar atau salah.
Edgar mendesis. "Tujuh belas juta dolar, Daphne Madison."
"Mohon maaf, Tuan." Daphne menunduk sekilas dan satu detik berikutnya, dia menatap lurus lagi pada Edgar.
"Kau bisa menggantinya?" tanya Edgar dengan suara geram yang tertahan. Kalau bukan Daphne, tanpa pikir panjang, Edgar langsung menembaknya di tempat. Tapi ini Daphne, kesayangannya, otak rencana Ruthen yang bersahaja.
"Tidak bisa, Tuan." Daphne menjawabnya tanpa merendah maupun meroket. Dia berada di tengah-tengah.
Edgar menghela napas gusar. Dia melangkah maju dan berputar mengelilingi tubuh Daphne yang berdiri tegak dengan percaya diri dengan tatapan penuh intimidasi. Daphne sama sekali tidak terlihat seperti orang yang bersalah, berwajah tebal tanpa rasa malu.
"Fabian."
"Ya, Tuan." Pria itu mengangguk pelan. Bahkan, dengan tubuh besarnya yang berotot, dia jauh lebih jinak daripada Daphne yang terlihat seperti rubah cerdik dan licik kalau dibandingkan dengannya.
"Bawa Daphne ke ruang hukuman! Kurung dia selama tiga hari tanpa makan dan beri minum hanya dua gelas! Cambuk dia di punggung sebanyak dua puluh lima kali!" seru Edgar memberikan perintah yang membuat orang-orang yang mendengarnya menegang bagai tengah meregang nyawa.
Semua orang di sana menampilkan ekspresi yang sama. Sudah menjadi rahasia umum kalau Edgar memiliki ketertarikan pada Daphne. Namun, pria itu tetap beringas tak terkendali.
Daphne menelan saliva. Dia mengepalkan tangan dan napasnya terasa berat. Dia menunduk dan memejamkan mata sejenak. 'Syukurlah, bukan Stephanie yang menerima semua ini,' batinnya.
"Kau tidak menolaknya, Daphne?" tanya Edgar meliriknya.
Daphne mendongak dan menatap Edgar dengan tatapan berkilat. Dagunya terangkat dengan congkak. "Tidak, Tuan," jawabnya yang membuat Edgar mendengus kasar, lalu pergi dari sana dengan langkah gusar.
"Hukum juga anak buahnya! Cambuk sebanyak dua puluh kali!" seru Edgar sebelum membanting pintu yang memekikkan telinga.
Huru-hara terjadi begitu saja. Orang-orang yang berada di ruangan dan tak terlibat dalam pengiriman senjata ke Georgia langsung membawa anak buah Stephanie dengan kasar. Beberapa dari mereka yang akan dihukum pun melolong meminta pertolongan pada Daphne dan berakhir dengan pukulan lebih awal yang membuat mereka pingsan dan diseret keluar.
Daphne menghela napas panjang. Dia meneguhkan hati, kemudian melirik Fabian yang masih diam di tempat, tak menatapnya.
"Bawa aku, Fabian."
———