Bab 2

“Kau baik-baik saja?” tanya Brian dengan suara basnya. Clara bingung menatapnya. Sementara Rio terpatung melihat sikap temannya itu.

“Ah iya, aku baik-baik saja. Terimakasih,” ucap Clara tersenyum kikuk.

Rio mendekat dan menggeser Clara untuk menjauh dari Brian.

“Clara, sudah berapa kali aku bilang, kenapa kau masih terus mengikutiku hah?” tanya Rio berbisik.

“Aku tidak mengikutimu, aku kesini untuk makan malam juga,” elak Clara dan menatap tajam pada Rio.

“Kalian saling kenal?” tanya Brian penasaran.

“Tidak!”

“Iya.”

Clara dan Rio menjawab bersamaan. Mereka saling menatap tajam karena jawaban yang berbeda.

“Wah, jadi kalian ini apa? Yang satu bilang iya, yang satunya lagi tidak?” tanya Brian lagi dengan tersenyum lebar. Membuat Clara berdebar dan semakin terpesona.

“Uh, wajahmu memerah. Apa kau demam?” tanya Brian lagi menunjuk wajah Clara.

“Merah apanya, dia memang seperti itu. Dandanannya suka berlebihan,” jawan Rio menatap Clara yang memegang wajahnya yang memanas.

“Apa kau sudah makan malam? Sepertinya kalian beneran saling kenal mendengar jawabanmu,” ucap Brian menatap keakraban keduanya. Rio menatap tajam ke arah Brian.

“Ayo kita makan bersama,” ajak Brian lagi.

“Ah tidak perlu, aku bisa makan sendirian kok,” tolak Clara tak enak. Sementara Rio terus menatap tajam.

“Kenapa? Apa kau tidak suka makan bersama denganku?” tanya Brian dengan nada yang sangat rendah dan tatapan mata yang sedih. Clara semakin merasa tidak enak dan tidak bisa menolaknya.

“Baiklah, jika kau memaksa,” ucap Clara mengiyakan. Brian tersenyum dan menarik kursi untuk Clara duduk di sampingnya. Rio menatap tidak percaya.

“Wahh, apa kau tidak bisa menolak pria tampan?” tanya Rio menyindir Clara.

“Apa maksudmu? Aku kan terpaksa, kenapa juga temanmu harus tampan seperti itu!” seru Clara mendelik pada Rio.

“Permisi, kami mau pesan lagi,” ucap Brian memanggil pelayan dan langsung datang.

“Kamu mau pesan apa? Ah aku belum sempat menanyakan namamu. Jadi, siapa nama pemilik wajah cantik sepertimu ini?” tanya Brian dan membuat Clara tersipu malu.

“Ah aku tidak terlalu cantik seperti itu, Clara. Namaku Clara,” jawab Clara malu-malu. Ia bahkan memegangi wajahnya yang memerah.

“Clara, nama yang cantik. Seperti orangnya. Aku Brian. Kau satu kantor dengan Rio?” ucap Brian dengan tersenyum manis. Clara semakin terpesona.

“Iya,” jawab Clara mengangguk pelan-pelan.

“Cih! Apa itu? Kalian mau pesan apa? Kasian dia sudah jamuran dan lumutan menunggu moment mesra kalian,” sela Rio dan memberikan tisu pada pelayan itu.

“Hapus lumutanmu!” ucap Rio lagi bercanda.

“Hmm, jadi kita pesan apa ya. Apa kau mau pasta? Sepertinya pasta kerang dara terlihat enak,” ucap Brian membaca buku menu. Clara hanya tersenyum malu.

“Boleh, aku juga pesan itu saja.”

Rio menatap tak suka dengan kedekatan keduanya. Ia mendelik kesal.

“Steak! Apa kau tidak tau kalau makanan yang paling populer di sini itu adalah steak!” seru Rio dan membuat Brian serta Clara menatap kaget.

“Maaf Pak, tapi kami tidak menjual steak. Ini restoran pasta,” sela pelayan itu dengan tidak enak. Rio menatap kaget.

“Apa? Sejak kapan di sini tidak ada steak?”

“Pak Rio, nama restorannya saja Pasta Resto. Kenapa kau memesan yang tidak ada di menu,” tegur Clara berbisik.

“Ah ... aku sepertinya salah ingat. Kalau begitu aku pesan pasta yang paling mahal di sini,” pesan Rio menutup buku menunya.

“Kalau begitu tiga porsi pasta kerang dara. Minumnya apa?” ucap pelayan itu menyebutkan kembali pesanan mereka.

“Cola, aku mau cola,” jawab Clara.

“Cola? Aku juga. Kau?” tanya Brian pada Rio.

“Apa di sini juga tidak ada wine?” tanya Rio dengan polosnya. Clara mendelik kaget.

“Pak Rio!”

“Apa lagi?”

“Ini bukan restoran yang seperti itu!” ucap Clara melotot pada Rio.

“Apa? Aku hanya bertanya. Kalau begitu cola juga.”

“Baik, tiga porsi pasta kerang dara dan tiga cola. Silahkan ditunggu,” ucap pelayan itu dan pergi dari sana.

“Pak Rio kau membuat kita sangat malu. Kenapa kau tidak hapal di sini ada apa saja,” ucap Clara kesal.

“Kau yang membuat malu! Kenapa kau sampai terjatuh tadi. Dan lihat itu, apa kau tidak merasa tidak nyaman dengan pakaian basah dan kotor seperti itu?” tanya Rio menatap Clara yang masih memakai bajunya basah dan penuh dengan jus. Juga jas yang disematkan di bahu Clara.

“Kau merasa tidak nyaman?” tanya Brian pada Clara.

“Ah, tidak apa-apa kok. Tidak ada yang memperhatikan. Lagi pula kita hanya harus makan dan langsung pulang bukan?” ucap Clara mencoba menahan diri.

“Apanya tidak tidak diperhatikan? Semua orang di sini terus saja menatap dirimu yang sangat berantakan itu!”

“Tidak bisa seperti ini, ayo ikut!” ajak Brian dan menarik tangan Clara untuk keluar dari restoran itu.

Brian membawa Clara ke mobilnya. Ia pun mengeluarkan sebuah gaun mini berwarna hitam.

“Pakai ini, aku tidak tau jika kau yang akan memakai untuk pertama kalinya. Tapi, ini gaun pertama yang aku rancang sendiri. Kupikir pas di tubuhmu,” ucap Brian dengan tersenyum senang.

“Apa? Tidak perlu, padahal begini saja sudah cukup. Aku tidak bisa memakainya,” tolak Clara tidak enak.

“Ayolah, aku sangat berharap kau bisa memakai ini. Jika semua orang menatapmu dengan tatapan yang terpesona, itu berarti aku berhasil membuat sebuah pakaian yang sangat luar biasa.”

“Eiy ... apa kau menjadikanku kelinci percobaan?”

“Tidak. Aku hanya berpikir, bahwa gaunku ini akan sangat cocok jika dipakai oleh wanita secantik dirimu,” puji Brian. Clara malu mendengarnya.

“Kau bilang, aku cantik?” tanya Clara tak menyangka.

“Tentu saja. Memangnya kau tidak cantik? Tapi menurutku, kau termasuk wanita yang mempesona. Jika kau memberikan aku waktu, mungkin saja aku akan jatuh cinta padamu,” goda Brian.

“Astaga, kau tidak perlu berbohong begitu hanya agar aku memakai gaunmu.”

“Aku tidak berbohong. Karena itu, pakailah. Tunjukkan pada semua orang itu, bahwa kau adalah wanita yang sangat cantik dan menganggumkan,” ucap Brian tulus. Clara merasa tersanjung. Ia pun mengambil gaun itu dan membawanya ke toilet.

***

Brian sudah kembali ke mejanya. Pesanan ketiganya sudah diantar. Rio menatap bingung.

“Apa kau menyuruhnya pulang?” tanya Rio penasaran.

“Apa? Kenapa aku harus menyuruhnya pulang? Kau ingatkan kalau aku akan membuat sebuah pakaian yang sangat indah. Aku sudah membuat beberapa gaun, dan aku memintanya untuk memakai salah satu gaun buatanku.”

“Apa? Hei, dia tidak cocok sama sekali memakai gaun. Kau hanya akan mempermalukan dirimu sendiri,” sergah Rio tak setuju.

“Mana mungkin. Dia sangat cantik. Jadi, gaunku pun pasti akan sangat cantik saat dia memakainya,” jelas Brian dengang tersenyum senang.

“Wah ... apa ini? Apa kau sudah jatuh cinta pada pandangan pertama? Kenapa kau tersenyum seperti itu?” tebak Rio tak percaya. Brian hanya tersenyum malu. Rio geleng-geleng kepala tak percaya.

Hingga sebuah langkah sepatu heels terdengar sangat nyaring. Waktu seakan terhenti, saat Clara dengan balutan gaun berwarna hitam glamor dengan berlian di seluruh sisi gaunnya. Berpencar bagai berlian yang sedang berjalan. Dengan rambut yang digulung ke atas. Clara dengan percaya diri berjalan memasuki restoran itu dan melangkah ke arah mejar Rio dan Brian.

Semua mata memandang ke arah dirinya. Terpesona akan kecantikan yang terpancar anggun dan polos. Clara tersenyum ke arah Rio dan Brian. Brian tersenyum lebar terpesona akan paras cantiknya Clara. Sementara Rio terdiam. Tanpa ekspresi, namun bola matanya melebar seakan tidak percaya dengan pancaran kecantikan yang Clara berikan. Ia terpesona.

Bab 3

“Duduklah,” ucap Brian berdiri dan menarik kursi untuk Clara.

“Ah iya, terimakasih,” ucap Clara malu-malu.

“Apa kalian lihat itu? Semuanya menatapku seakan aku seorang artis. Padahal biasanya tidak begini,” ucap Clara lagi merasa sangat takjub pada dirinya sendiri.

“Apanya? Kau jangan terlalu percaya diri. Kau tidak lihatkan siapa yang berdiri dibelakangmu? Mungkin saja mereka melihat orang yang berdiri dibelakangmu,” ucap Rio tanpa berani menatap Clara. Ia langsung melahap makanannya.

“Apa sih. Kenapa kau selalu merusak suasana hatiku?” tanya Clara kesal.

“Clara, ayo makan. Keburu dingin,” ucap Brian dan memberikan garpu untuk Clara. Ia bahkan menuangkan wine untuk Clara dan menunggu Clara menyicipi pasta yang mereka pesan itu.

“Wahh ... ini sangat lezat,” ucap Clara dengan mata yang terbuka lebar.

“Tentu saja, ini kualitas yang sangat terbaik.”

“Apa kau pernah memakan pasta ini?” tanya Clara heran.

“Tidak, tapi aku kenal dengan kokinya. Kebetulan, kokinya pernah menjadi koki terkenal di Amerika dan restoran mereka sangat terkenal. Apa kau tidak tau?” tanya Brian dan mengambil tisu. Ia menunjuk ujung bibir Clara yang terdapat saus.

“Tidak, aku tidak tau. Kupikir di sini ramai karena memang makanannya sangat lezat.”

“Hei! Kalau kalian hanya ingin bicara berdua kenapa tidak pindah tempat saja?” seru Rio kesal dan menaruh sendok garpunya.

“Kau sudah makan?”

“Pak Rio, sudut bibirmu ada saosnya,” ucap Clara dan hendak membersihkannya dengan tisu. Rio menjauh dan mengambil tisu yang ada di tangan Clara.

“Aku bisa sendiri. Memangnya aku anak kecil? Aku sudah makan. Kalalu kalian masih ingin makan dan mengobrol berdua saja. Biar aku yang bayar,” ucap Rio dan memanggil pelayan.

“Oh tidak perlu. Karena aku baru pulang dari Amerika, biar aku saja yang membayar semua ini,” ucap Brian dan mengeluarkan dompetnya. Ia mengeluarkan black cardnya dan membuat Clara serta Rio melongo melihatnya. Rio yang hanya memiliki kartu kredit perusahaan merasa minder dan memasukkan kembali kartunya.

“Yah, kalau kau memaksa. Yasudah. Pakai punyamu saja,” ucap Rio.

***

Kini ketiganya berjalan keluar bersama dari restoran. Clara tampak sedikit mabuk karena menghabiskan wine yang tersisa.

“Wajahmu memerah. Apa kau mabuk?” tanya Brian pada Clara.

“Ah benarkah? Aku tidak mabuk. Aku hanya merasa berdebar,” ucap Clara dengan memegang wajahnya yang mulai memanas.

“Kenapa kau berdebar? Apa jantungmu sedang bermasalah?” tanya Rio dan membuat Clara merasa kesal.

“Rio, kau kenapa?” bisik Brian pada Rio.

“Kau tidak bisa menyukai wanita seperti ini,” ucap Rio balas berbisik.

“Kenapa? Dia tipeku.”

“Tidak boleh!” seru Rio menatap tajam.

“Kalian sedang berbicara apa berbisik begitu? Apa kalian sudah tidak menganggapku ada di sini lagi?” keluh Clara kesal.

“Kau tinggal dimana? Biar aku antar,” ucap Brian menatap lembut. Clara menjadi malu ditatap seperti itu.

“Aku? Ini pertama kalinya ada seseorang yang menanyakan tempat tinggalku,” ucap Clara malu-malu. Rio melotot kaget.

“Apa-apaan itu? Dia tinggal tak jauh dari sini. Kau sendiri apa kau akan menginap di hotel atau pulang ke rumah?” ucap Rio.

“Benarkah? Kalau begitu aku antar saja. Naiklah ke mobilku,” ucap Brian dan menarik tangan Clara untuk berjalan ke arah mobilnya yang terparkir di sebelah kiri.

“Hotelmu memang ada dimana?” tanya Rio pada Clara.

“Kau harus kerja besok bukan? Pulang naik taksi saja sana!” ucap Rio lagi dan menahan tangan Clara. Kini Clara diapit oleh dua pria tampan sekaligus yang sedang memegang tangannya di dua sisi. Clara bingung harus berbuat apa. Ia yang sudah terbawa suasana mabuk tak bisa berpikir dengan jernih. Clara tersenyum menatap Rio dan membuat Rio mengernyitkan dahinya.

“Kenapa kau menatapku seperti itu? Hei, apa kau mabuk? Brian, kenapa kau memberikannya sekaleng bir huh?” ucap Rio kesal sendiri.

“Kenapa kau marah padaku? Kebetulan saja aku membawa beberapa kaleng bir. Kau juga meminumnya bukan?”

“Pak Rio, apa kau sedang cemburu?” tanya Clara ditengah mabuknya.

“Apa? Hei, dimana otakmu hah?”

“Otak? Apa kau punya otak?” tanya Clara dengan wajah yang menggemaskan. Membuat Brian tersenyum senang.

“Ayo aku antar saja,” ucap Brian dan menarik tangan Clara. Hingga Clara tertarik ke arah Brian. Sementara Rio menahan tangan Clara dan menariknya hingga Clara kembali tertarik ke arah Rio. Terjadilah keduanya saling tarik-menarik dengan cukup sengit.

“Stop!” teriak Clara.  Ia pun menarik tangannya tapi terus ditahan oleh kedua pria disampingnya itu.

“Lepaskan tanganku!” ucap Clara tegas dan membuat Rio dan Brian melepaskan tangan mereka.

“Rumahku sangat dekat. Aku hanya harus berjalan sekitar ... hmm lima? Sepuluh menit saja. Kalian pulang sana!” ucap Clara memutuskan dan berjalan pergi. Brian berjalan cepat menyusul dan menghentikan lankah Clara.

“Mungkin kau menolakku karena belum mengenal siapa aku. Tapi, apa aku boleh meminta nomor ponselmu saja?” pinta Brian dengan tersenyum sangat manis. Clara yang melihatnya ikut tersenyum dengan semburan merah di wajahnya.

“Oke, kemarikan ponselmu!” ucap Clara dan menerima ponsel Brian. Ia pun menuliskan nomor ponselnya dan menyimpannya dengan nama dan emoticon hati.

“Kau bisa menghubungiku kapan saja,” ucap Clara.

“Terimakasih. Kalau pacar apa kau sudah punya?” tanya Brian memberanikan diri.

“Apa? Pacar?” tanya Clara balik dan melirik ke arah Rio yang sudah menatap keduanya dengan perasaan tidak enak. Clara dan Rio pun saling tatap dengan diam. Clara memalingkan wajahnya ke arah Brian.

“Aku ... tidak punya pacar,” jawab Clara tersenyum ke arah Brian. Rio merasa kecewa.

“Benarkah? Apa kau sedang dekat dengan pria lain?”

“Tidak. Aku tidak dekat dengan siapa-siapa kok. Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa ... kau menyukaiku?” tanya Clara penuh harap. Brian tersenyum malu dan melangkah maju. Ia menatap Clara dengan penuh senyuman. Clara semakin berdebar dan tak bisa menyembunyikan perasaan senangnya.

“Apa ... aku boleh menyukaimu?” tanya Brian dengan suara yang sangat lembut. Clara menatap tidak percaya. Rio pun sama tak percayanya dan semakin gusar.

“Kenapa bertanya seperti itu? Kau boleh menyukai siapa saja tanpa perlu perijinan bukan?”

“Mungkin saja aku bukan tipemu. Jadi, kau enggan jika aku menyukaimu.”

“Itu ... bagaimana bisa begitu. Kau sangat sesuai dengan tipeku,” akui Clara dengan perasaan berbunga.

“Brian! Aku ikut mobilmu ya. Ayo kita pulang!” tibat-tiba saja Rio datang dan menarik Brian dari sana.

“Apa yang sedang kau lakukan? Kau kan bisa pulang sendiri!” ucap Brian menahan kesal.

“Aku ingin kau mengantarku pulang,” ucap Rio asal dan terus menarik Brian dengan mengalungkan tangannya ke leher Brian. Membuat Brian kesulitan berjalan karena perbedaan tubuh keduanya.

“Kau tinggal dimana?” tanya Clara dengan berteriak. Brian berhenti dan melepaskan tangan Rio hingga Rio kehilangan keseimbangannya dan bersandar pada mobil Brian.

“Aku akan memberitahumu dipertemuan kita yang kedua. Aku ... akan menelponmu!” jawab Brian dengan mengangkat ponselnya.

“Oke!” jawab Clara dan mengangguk senang. Ia terus tersenyum senang dan berbalik pergi berjalan ke arah rumahnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED