Bab 2

"Emma Liandra Jones." Emma segera mengangkat tangannya. Sudah saatnya dia di tes. Ia melangkah dengan percaya diri memasuki ruangan wawancara.  Namun Emma merasa heran, lelaki berkacamata hitam itu juga melangkah masuk ke dalam ruangan.

Di dalam ruangan wawancara terdapat empat kursi. Ada tiga peserta yang sudah menempati kursi tersebut. Tersisa satu kursi di sana dan Emma langsung duduk ketika seorang wanita berambut pendek menyuruhnya untuk duduk.

Wawancara pun dimulai. Peserta pertama menjawab secara jelas dan rinci. Berbagai ilmu pengetahuan tentang dunia IT dijawabnya dengan baik. Peserta kedua yang merupakan fresh graduate menjawab pertanyaan sesuai materi yang dipelajarinya semasa kuliah. Emma menghembuskan napas lega. Setidaknya ada satu peserta yang memiliki kemampuan di bawahnya. Peserta ketiga yang merupakan mantan pegawai IT di dunia pemerintahan menjawab semua pertanyaan dengan mudah. Bahkan alasannya untuk masuk di Alves Corp sangat menggugah hati pewawancara dan juga peserta wawancara. Emma harus mengakui jika saingannya sangat berat.

"Emma Liandra Jones," panggil seorang wanita berambut pendek. Dari penampilannya seperti wanita karir yang sukses. Cantik dan juga cerdas.

"Iya, Bu," jawab Emma.

"Frash graduate dari universitas terkemuka di Vunia. Anda satu-satunya peserta wawancara wanita kali ini." Emma sedikit terkejut. Ia baru sadar jika saingannya adalah pria. Emma hanya tersenyum kikuk. Bagaimanapun ia tidak boleh pesimis dan harus optimis.

"Apakah anda bisa coding?" tanya seorang lelaki dengan perut buncit. Lelaki itu berumur sekitar empat puluhan tahun.

"Iya, bisa Pak," jawab Emma tanpa ragu.

"Bahasa program apa saja yang anda kuasai?" Lelaki itu menatap Emma dengan saksama. Ia terpana dengan kecantikannya.

"Java, Bahasa C, PHP, Phyton dan C++, Pak."

"WOW!"

Para pewawancara terpukau dengan jawaban Emma. Bagaimana mungkin wanita muda ini bisa menguasai empat bahasa pemrograman yang tergolong sangat sulit dipelajari.

"Apakah anda bisa membuktikannya?" Suara seorang lelaki dari arah belakang. Sontak semua mata tertuju pada lelaki tersebut. Begitupun Emma yang harus berbalik untuk melihat pemilik suara bariton tersebut. Mata Emma memelotot. Lelaki yang disebutnya sebagai lelaki yang gila hormat sedang menatapnya sekarang.

'Dia bukan peserta wawancara. Lalu dia siapa?' tanya Emma dalam hatinya. Emma menepis segala pertanyaan di kepalanya. Ia kemudian membalas tatapan lelaki tersebut dan tersenyum.

"Bisa, Pak."

Semua yang ada dalam ruangan tersebut dengan tatapan tidak percaya. Sedangkan pewawancara terlihat gugup ketika melihat lelaki berkacamata hitam tersebut.

"Bagaimana anda membuktikannya?" tanya lelaki itu seraya berjalan mendekati tempat duduk Emma.

Emma merasa bingung. Seharusnya merekalah yang memberinya soal atau menyuruhnya membuat program, tapi lelaki itu malah menyuruh Emma untuk membuktikannya. Emma menoleh ke arah pewawancara, namun para pewawancara tidak bergeming.

"Saya bisa membuat sebuah aplikasi atau membobol jaringan," ucap Emma.

Lelaki yang berdiri tepat di depan kursi Emma sontak tersenyum sinis dan membuang tatapan ke samping kanan. Emma tahu betul arti senyum itu. Senyum meremehkan dan kehampaan. Orang seperti ini bisa jadi tak suka dikalahkan atau tipe orang yang sebenarnya tak tahu apa yang diinginkan, tapi agak meremehkan orang lain.

"Itu sudah biasa." Ucapan lelaki itu membuat semua orang yang berada di ruangan itu terkejut. Bagaimana mungkin meretas jaringan adalah sesuatu yang biasa?

Emma ingin tertawa namun ia menahannya.

'Apakah ia tahu apa itu dunia IT?' batin Emma.

"Maaf, Pak." Emma tersenyum sejenak. Siapa saja yang melihat senyumnya pasti akan terpukau. "Apakah ada saran bagi saya untuk membuktikan keahlian saya di dunia IT?" tanya Emma.

Lelaki itu menatap Emma sebentar. Kaca mata hitamnya belum di lepas.

"Apakah anda bisa bermain CTF?"

Pertanyaan lelaki tersebut membuat beberapa pewawancara keselek karena kaget.

CTF (Capture The Flag) merupakan salah satu jenis dari kompetisi hacking yang dimana mengharuskan seorang / tim untuk mengambil sebuah file / string yang sudah disembunyikan sistem yang dimana disebut dengan istilah “Flag”.

"Apakah anda bisa?" Lelaki itu lagi-lagi tersenyum sinis. Wajah Emma tidak berekspresi. Siapapun yang melihatnya pasti akan berpikir bahwa Emma tidak akan mampu bermain CTF.

"Saya akan mencobanya."

"Wow!" Lagi-lagi terdengar suara terpukau dari semua orang yang berada dalam ruangan itu.

Tidak lama kemudian seorang pegawai masuk ke dalam ruangan membawa dua buah laptop dan memberikannya kepada Emma dan lelaki tersebut.

Tidak lama kemudian baik Emma maupun lelaki tersebut mulai membuka platform ctfs.me yang merupakan platform penyedia untuk bermain CTF.

Di dinding sudah terpasang proyektor yang menampilkan layar yang terdapat huruf-huruf berwarna hijau yang bagi orang awam sangat sulit untuk mencernanya.

Detik berikutnya hanya terdengar bunyi tuts keyboard Emma dan lelaki itu. Semua orang yang hadir, hanya bengong dan bingung ketika melihat deretan bahasa pemrograman di layar.

Tangan Emma sangat lincah menekan tuts keyboard laptop. Sesekali Emma tersenyum ketika menemukan celah dan menerobos masuk.

Lima menit kemudian, Emma menepuk-nepuk tangannya. Ia berhasil mengalahkan lelaki tersebut. Tidak ada yang berani bertepuk tangan. Semuanya terdiam dan hanya Emma yang tersenyum senang.

"Not bad," ucap lelaki itu dengan nada sinis lalu keluar dari ruangan.

Emma yang semula senang tiba-tiba kesal ketika mendengar ucapan lelaki tersebut. Bukan pujian tapi malah mendapat sepotong kalimat yang berhasil membuat mood Emma berantakan.

"Kalah pun tidak mau diakuinya. Dasar lelaki aneh," gumam Emma.

"Baiklah. Pengumuman hasil wawancara hari ini akan dikirimkan via email," ucap wanita berambut pendek. Ia melihat Emma dengan ekor matanya. Emma yang mendapat tatapan itu hanya mengerutkan keningnya.

Emma menghembuskan napas lega. Wawancara hari ini berjalan lancar walaupun ada beberapa orang yang membuat moodnya berantakan.

Ketika hendak berjalan keluar seorang lelaki menarik lengan Emma.

"Kamu Emma kan?"

Emma yang melihat lelaki itu hanya mengerutkan keningnya bingung. "Maaf. Bapak siapa?"

"Saya, Bryan," ucap lelaki itu seraya mengulurkan tangannya.

Lelaki itu bukan pewawancara tapi seorang pegawai di Alves Corp. Namanya terlihat jelas dari tanda pengenalnya.

"Bryan-?" Emma mencoba mengingat-ingat semua orang yang pernah ditemuinya. Tidak lama kemudian raut wajah Emma berubah. Dahinya yang semula berkerut berubah menjadi cerah.

"Bryan Danis kan?" ucap Emma.

"Akhirnya kamu ingat juga," ucap Bryan lega. "Kamu sangat hebat. Tadi kamu bahkan mengalahkan senior IT di Alves Corp."

"Benarkah? Apakah dia benaran senior di perusahaan ini?" tanya Emma tidak yakin.

"Sepertinya begitu, Emma." Bryan terus menatap wajah Emma. Wajah yang mampu membuat candu bagi kaum Adam.

"Aku pikir CEO perusahaan. Ternyata hanya staf biasa. Hufft lelaki itu terlalu banyak tingkah," ucap Emma.

Bryan hanya tertawa ketika mendengar ucapan Emma. "Apakah kamu sudah makan siang? Jika belum, maukah kamu makan bersamaku?" Tawar Bryan. Akan sangat menyenangkan makan siang ditemani wanita cantik.

"Aku mau langsung pulang saja. Maaf yah,Bryan. Ibuku sudah menunggu di rumah," ucap Emma. Bryan pun tidak dapat memaksa Emma.

"Baiklah. Tidak apa-apa. Tapi lain kali harus yah." Bryan dengan penuh harap.

"Exactly." Emma kemudian tersenyum manis. Hal itu membuat Bryan seperti tiba-tiba kenyang ketika melihat senyum manis itu.

Tidak di ketahui Emma jika sepasang manik hitam menatap punggungnya dari kejauhan. Setelah Emma memasuki lift, lelaki itu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

"Cari tahu latar belakang seorang wanita."

"Emma Liandra Jones."

Bab 3

Sungguh wanita yang tidak biasa. Sangat langka untuk bertemu dengan wanita seperti itu.

Ethand Giorgino Alves yang merupakan putra tunggal dari tuan Alves duduk di kursi kebesarannya. Hari pertama memasuki Alves Corp, ia sudah dikejutkan dengan kemampuan seorang wanita yang bernama Emma Liandra Jones. Bahkan kemampuannya mengalahkan Ethand yang merupakan lulusan Stanford University.

Tok...tok

Seorang lelaki memasuki ruangan. Ia membawa sebuah map berwarna cokelat.

"Ini file lengkap tentang Emma Liandra Jones, Pak," ucap Ryan.

Ethand tidak menjawab dan langsung membuka map cokelat itu. Setelah membaca isi file, Ethand tersenyum sarkastik. Ryan yang melihat raut wajah Ethand hanya mengerutkan kening bingung.

Ryan sudah membaca isi file itu. Ia sangat terpukau dengan prestasi yang diraih Emma. Namun apa yang membuat atasannya ini seperti tertawa mengejek prestasi Emma? Ryan hanya diam. Ia tidak berani bertanya karena masih mempelajari sifat Ethand.

"Jika sudah tidak ada lagi, saya permisi, Pak," pamit Ryan lalu meninggalkan Ethand yang sedang konsentrasi membaca isi file.

"Sungguh bukan gadis biasa." Ethand bukannya merasa bangga tapi merasa tersaingi. Ia tidak terima jika ada yang harus melebihinya.

Ethand kemudian menutup file tersebut dan membuka laptop dihadapannya. Ia mulai mempelajari semua hal yang terkait dengan Alves Corp. Mulai dari saham sampai pada pembersih ruangan kantor. Dari hal terbesar sampai terkecil.  Ia sangat teliti dan sangat cepat mempelajarinya.

Ethand menulis beberapa masukan dan menghapus yang tidak perlu mengenai aturan dan juga investasi-investasi yang menurutnya tidak menguntungkan untuk Alves Corp.

Sudah dua jam Ethand berkutat dengan laptopnya. Ia merasa pegal di lehernya. Setelah memutar lehernya perlahan, Ethand bangkit berdiri dan menyadari jika sinar mentari sore itu sangat indah. Senja yang dilihat Ethand dari ruangannya sungguh indah. Mengalahkan senja yang dilihatnya ketika berada di Morro-Cabana, Kuba.

Tok.. tok

Ethand menoleh ke arah pintu dan melihat Ryan memasuki ruangannya.

"Maaf, Pak. Sudah waktunya pulang. Em- apa Bapak lembur? Jika lembur biar saya temani, Pak." Ryan mencoba untuk memulai obrolan dengan atasannya. Sejak Ethand memasuki ruangan, Ryan belum pernah mendapat balasan kalimat dari Ethand. Yang di dapatnya hanya anggukan kepala dan intruksi melalui tangan Ethand.

"Kamu pulanglah. Saya bisa sendiri." Ethand kemudian kembali menatap pada senja yang perlahan tenggelam. Ryan hanya tersenyum kikuk dan menatap punggung lelaki yang berumur lima tahun dibawahnya itu. Niat untuk berbincang diurungkannya.

"Baiklah. Permisi, Pak," pamit Ryan.

Setelah pintu ruangan ditutup oleh Ryan, Ethand melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul empat lewat. Ia harus kembali ke rumah untuk bertemu ibunya. Sebenarnya, Ethand baru tiba tadi pagi di Vunia dan langsung menuju ke Alves Corp.

Ethand kemudian mengambil kunci mobil dan jas hitamnya yang tergantung di stand hanger kayu di pojok ruangan. Setelah memakai jasnya, ia langsung berjalan keluar dari ruangan dan menuju lift petinggi perusahaan yang langsung menuju ke tempat parkir. Selama di dalam lift, Ethand berencana untuk membeli se-bucket bunga untuk ibunya.

Setelah mencari tahu beberapa toko bunga lewat ponselnya, Ethand memutuskan untuk membeli seikat bunga mawar yang merupakan bunga kesukaan ibunya. Setelah lift terbuka, ia langsung berjalan menuju mobilnya.

Ethand sudah duduk di kursi kemudi Bugatti Chiron dan memasang GPS menuju tokoh bunga. Detik berikutnya, ia sudah melesat pergi meninggalkan Alves Corp. Beberapa satpam yang melihat cara Ethand mengendarai mobilnya hanya menggelengkan kepala. Atasan mereka mengendarai mobil seperti di kejar setan alias ngebut.

Sepuluh menit kemudian, Ethand sudah sampai di toko bunga. Nama yang tertulis di pintu masuk toko itu seperti nama yang tidak asing. Jones Roses. Ethand belum menyadari apa yang mengganjal dipikirannya ketika membaca nama toko bunga itu.

Ia kemudian berjalan memasuki toko bunga. Kehadirannya di sambut dengan aroma mawar yang semerbak. Berbagai macam mawar dan warna terpajang di dalam toko tersebut. Seperti pelangi indah diantara hijaunya daun mawar.

Mata Ethand tertuju pada  mawar yang tumbuh dengan suburnya di taman. Bukan mawar biasa. Mawar itu adalah mawar Sunsprite atau yang dikenal dengan nama Korresia atau Friesia. Korresia diambil dari nama sang penemu, yaitu Reimer Kordes, sedangkan Friesia diambil dari kata Friesland, nama daerah asal Reimer Kordes.

Sunsprite dikenal sebagai jenis bunga mawar yang harum. Ethand masih ingat dengan jelas bagaimana harum mawar itu menjadi obat penenang untuk ibunya sepuluh tahun yang lalu.

"Selamat datang di Jones Roses. Mawar apa yang menarik perhatian anda, Tuan?" tanya seorang gadis dengan pentofel hitam setinggi lima senti. Dress selutut yang dikenakannya terlihat imut sesuai usianya.

Ethand diam membisu ketika hooded eyes milik gadis tersebut beradu dengan manik hitamnya. Sama dengan hooded eyes yang menatapnya siang tadi.

"Mawar apa yang mau anda beli, Tuan?" tanya gadis itu ketika tidak mendengar jawaban dari Ethand.

Ethand melihat ke sekeliling bunga mawar yang tertata rapih dan cantik. Namun, Sunsprite yang mekar dengan indahnya di taman sudah menjadi pilihannya. Ethand menunjuk ke arah mawar itu tanpa bersuara.

Raut wajah gadis itu langsung berubah ketika melihat ke arah yang di tunjuk Ethand.

"Maaf, Tuan. Mawar itu tidak dijual. Masih ada mawar lain di sini yang tidak kalah cantiknya dengan mawar yang itu." Ethand terlihat kecewa namun disembunyikannya.

Tidak lama kemudian, Ethand mengambil dompet dari dalan saku celana kerjanya. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan melihat sekilas ke arah gadis itu.

Ethand merasa lega ketika melihat mata gadis itu berbinar-binar.

"Maaf, Tuan. Mawar itu memiliki harga yang lumayan tinggi. Karena jika saya menjual mawar itu maka nyawa saya akan terancam. Dan kemungkinan besar saya tidak akan mendapat uang saku." Mendengar ucapan si gadis, Ethand langsung mengeluarkan semua uang ratusan ribu dari dalam dompetnya. Tidak menunggu lama, gadis itu langsung mengambil tumpukan uang dari tangan Ethand.

"Silahkan duduk di kursi yang telah disediakan. Saya akan segera menyiapkan pesanan, Tuan." Ethand ingin tertawa namun diurungkannya. Ia menatap pundak gadis  yang berjalan menuju taman dengan gunting di tangan. Melihat cara gadis itu menggunting tangkai mawar, Ethand tahu jika yang merawat taman itu pastilah seorang wanita yang lembut. Selembut cantiknya mawar ketika dipandang. Namun Ethand tersenyum sarkastik kala mengingat mawar juga memiliki duri. Ia kembali melihat ke sekeliling toko dengan beraneka bunga mawar yang harum dan cantik. Dalam hatinya, Ethand memuji sang pemilik toko yang mampu mendesain ruangan sederhana itu menjadi luar biasa.

"Ini bunganya, Tuan." Setelah lima menit menunggu akhirnya mawar Sunsprite yang ditunggunya selesai. Mawar itu sudah dirias dalam bucket berwarna pink peach dengan pita di bawahnya. Sungguh cantik.

"Terima kasih." Mendengar suara Ethand yang sejak tadi dipikir gadis itu adalah bisu, membuatnya terpana. Lelaki rupawan dihadapannya merupakan tipe lelaki idamannya.

Ethand mengernyit kala melihat tatapan dengan mulut menganga dari gadis remaja itu. Ia kemudian dengan cepat mengambil bucket mawar dari tangan sang gadis lalu berjalan keluar dari toko itu tanpa permisi.

"Silahkan datang lagi, Tuan." Terdengar suara gadis itu. Ethand tidak memedulikanya dan terus berjalan memasuki mobilnya. Detik berikutnya Ethand sudah melesat pergi dari tempat itu.

***

"Alin!"

Suara Emma menggema di seluruh taman. Belum juga mengucapkan salam, Emma sudah meneriaki nama adiknya.

"Alin! Dimana kamu?"

Emma langsung membuka pintu rumah dan berjalan menuju kamar adiknya. Tidak melihat keberadaan Alin di sana, Emma berjalan menuju kamar mandi sambil meneriaki nama adiknya.

"Ada apa, Emma. Datang kok langsung teriak-teriak?" tanya Ester, ibu Emma.

"Alin mana, Bu?"

"Tadi ada jaga toko. Mungkin sudah keluar lagi sama temannya. Memangnya ada apa?" tanya Ester dengan dahi berkerut.

"Aku ingin beri pelajaran ke dia, Bu. Sepatu pentofel yang baru aku beli kemarin untuk wawancara hari ini dipakai sama dia." Emma terlihat kesal.

"Sudahlah. Kamu kan sudah tahu tabiat Alin. Dia tidak bisa menahan diri ketika melihat barang baru. Barang ibu juga dipakai sama dia. Eh, setelah bosan baru dikembalikannya."

"Maka dari itu, Bu. Aku ingin memberinya pelajaran biar kapok."

"Sudah. Lebih baik kamu istirahat dan mandi. Ibu sudah masak rendang kesukaan kamu." Mendengar ada makanan kesukaannya, raut wajah Emma yang semula kesal perlahan cerah. Ia kemudian berbalik dan memasuki kamarnya.

Ester menatap punggung putri sulungnya. Dalam hati ia bersyukur memiliki Emma. Kuliah dengan beasiswa berkat kerja keras Emma dan menjadi freelance semasa kuliahnya. Sehingga Emma mampu membeli rumah dan membuka toko bunga. Emma harus mencari kerja tambahan kala melihat kondisi kesehatan Ester yang semakin memburuk.

"Ibu..!!"

Ester terkejut. Lagi-lagi suara Emma menggema di rumah itu. Ester dengan cepat berjalan menuju kamar Emma.

"Ada apa lagi, Emma?" tanya Ester setelah membuka pintu kamar. Ester berjalan mendekat ketika melihat Emma duduk tertunduk di tepi ranjangnya. Baru diketahui Ester jika putri sulungnya itu sedang menangis.

"Ada apa, Sayang?" tanya Ester lembut.

"Itu, Bu." Ester terlihat bingung melihat Emma menunjuk ke luar jendela. Matanya membelalak kaget.

"Bagaimana mungkin?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED