Bab 2

Yvonne dan Edmund berjalan menyusuri koridor yang terbuka dan menampakkan berbagai ruang serta bangunan-bangunan kecil yang elok di sekitarnya. Sebuah koridor terbuka dengan pemandangan asri taman-taman yang indah dan elok di sana sini.

Koridor itu berbentuk jalan setapak batu-batu halus putih, dengan atap-atap mewah bergaya ketimuran yang melengkung di sisinya dan dihiasi dengan ukiran patung-patung naga di setiap atapnya, berikut dengan bunga-bunga lotus di setiap sisinya. Menurut Edmund atap itu

sangat indah sekali, berwarna emas dan merah cerah yang rasanya seperti masuk ke benua lain saja saat melewati koridor terbuka ini.

Edmund orang Inggris. Ia belum pernah menginjakkan kakinya keluar dari benua biru ini. Ia hanya pernah mendengar cerita-cerita tentang benua timur, semenanjung cina selatan, timur tengah, benua hitam, benua merah, dan berbagai daerah-daerah di belahan bumi lain.

Di mansion ini para penyihir berasal dari berbagai daerah di setiap jengkal dunia. Saat mendengar cerita-cerita koleganya tentang kampung halaman mereka masing-masing, Edmund hanya bisa kagum mendengarnya dan ia hanya bisa mendesah iri.

Memang, baginya, saat ia meninggalkan kampung halamannya, Inggris saat itu masih dalam masa era kegelapan. Di mana banyak sekali hal-hal yang tidak indah ada di sana. Berbeda sekali dengan masa sekarang yang menurut Edmund dengar kampung halamannya itu sudah maju dengan bangunan-bangunan yang indah, budaya yang berkembang pesat sekali, perdagangan dan hal-hal lain yang bisa melewati lautan luas melewati laut-laut serta daerah yang sangat jauh.

Edmund sudah tidak menginjakkan kakinya ke kampung halamannya selama beratus-ratus tahun. Sebelum ia datang ke sini, Edmund tidak punya kenangan yang indah di kampung halamannya. Selain orang-orang yang masih percaya takhayul, berdoa tidak sesuai dengan kitab suci. Pemerintahan dan raja yang sangat korup, maksiat dan kekotoran di mana-mana,

dan hal-hal jelek saat itu yang sudah menjadi hal biasa di era kegelapan yang penuh dengan tikus, wabah pes, mayat-mayat bertumpuk-tumpuk di sepanjang sungai dan danau yang juga dijadikan sebagai tempat buang kotoran, mandi, dan bahkan untuk minum.

Edmund tidak punya kenangan bagus akan kampung halamannya yang itu, meski sekarang Edmund cukup senang karena kabarnya kampung halamannya itu menjadi kota yang besar dan maju.

Hanya saja sayang, pemerintahan dan ratunya yang sekarang menjajah dan menjarah negara lain. Dan melakukan kolonialisme dan pembunuhan serta genosida di mana-mana. Edmund yang dibesarkan dengan ajaran agama yang kuat, dan besar terpisah dari kebobrokan yang ada di sana, hanya bisa meminta maaf dengan kikuk dan bilang pada koleganya yang negaranya hancur akibat kampung halaman Edmund sendiri. Edmund merasa malu saat ia bilang kalau dirinya adalah orang Inggris!

“Jadi, kristalnya ada di ruangan penyimpanan?” tanya Yvonne pada Edmund sembari mereka berjalan.

Kaki Edmund serasa macet seperti kaki manekin rusak karena dirinya sadar, jika dirinya akan mendekati dan melihat-lihat relik Kristal berbahaya itu. Kristal yang konon menyimpan kutukan dan cerita seram yang bahkan Edmund sendiri tidak tahu kebenarannya seperti apa!

“Benar, Your Majesty!” tenggorokan Edmund rasanya sangat kering dan sesak. Lidah rasanya pahit seperti menelan obat, dan mulutnya terasa seperti dijejalkan dengan pasir.

“Tapi ....” Edmund langsung merasa ragu-ragu. ”ada masalah, Your Majesty!” ucapnya dengan hati-hati sekali. Seakan-akan takut ada intel tersembunyi yang mendengar pembicaraan tentang relik berbahaya itu dan akan terbang pergi dari sini. Dengan sekantong info yang bisa ditukar dengan uang.

Bibir Yvonne seketika itu langsung memasang senyum dingin. Mimik wajahnya berubah kaku, masam, dan menunjukkan ekspresi tanpa emosi yang lagi-lagi tidak Edmund pahami.

“Masalah apa, Edmund?” tanya Yvonne tajam dan menusuk seperti ada belati yang bisa mengiris wajah Edmund.

“Kotak kristal itu .... tidak mau terbuka, Your Majesty!” Edmund terdengar tidak enak dan kepalanya menggeleng pelan. “Seperti tidak mau menunjukkan dirinya.” Edmund  memutuskan untuk jujur saja dengan keadaan genting yang baru saja terjadi.

Yvonne menyernyitkan keningnya. ”Masalahnya hanya itu, Edmund?” tanya Yvonne dengan nada suara yang halus dan senyum manis di bibir.

Dan Edmund tahu, jika itu bukanlah apa yang ada di dalam hati dan pikiran Your Majestynya. Yang jelas, Edmund tahu persis apa maksud Yvonne.

Yvonne benar-benar sangat marah, betul-betul marah hingga mendekati murka. Tidak galak dan pedas seperti yang sudah biasa terjadi. Oh, kalau bisa memilih, Edmund lebih memilih dimarahi oleh Yvonne yang galak. Itu sudah jelas!

Setidaknya kemarahannya bisa diukur dari seberapa lama Yvonne marah, seberapa pedas mulutnya, dan berapa banyak barang yang dibanting oleh Yvonne.

Daripada tersenyum manis seperti ini. Ini bukan diri Yvonne yang sebenarnya. Kalau tersenyum seperti ini, berarti situasi sekarang ini lebih berbahaya dari yang Edmund kira.

“Bukan hanya itu, Your Majesty.....” Edmund  menegang. ”energi orang-orang yang mengantar Kristal ini langsung tersedot, jika mereka berada terlalu dekat dengan kristalnya, Your Majesty!”

Saat mengatakan hal ini, Edmund sengaja untuk

menunduk sedikit sembari berjalan. Yang ia lihat hanyalah kaki panjangnya memakai sepatu hitam berkilat berayun mengikuti gaun merah berenda dengan belahan kaki tinggi yang dikenakan oleh Yvonne. Hingga kaki jenjang Yvonne terlihat cukup jelas menyusup di balik ayunan rok gaunnya yang berdesir setiap kali dia melangkah.

“Semua orang yang mengantar kristalnya .....” Edmund agak ragu-ragu untuk mengatakannya. “langsung sakit, Your Majesty!” Edmund kali ini bergidik, tenggorokannya terasa kering sekali.

”Bahkan beberapa ada yang meninggal hingga jasadnya kisut seperti mumi karna energi kehidupannya dihisap, Your Majesty.” jelas Edmund panjang lebar.

Ia lalu tanpa sadar langsung mengelus belakang lehernya yang entah kenapa terasa dingin, padahal hari ini matahari bersinar cukup terik di tengah musim panas.

Setelah mengucapkan hal itu, Edmund memutuskan untuk mengangkat kepalanya dan menatap ke arah sang nona yang berjalan cukup condong ke depan daripada dirinya. Dan lagi-lagi, seperti melihat hantu yang sangat menyeramkan saja, Edmund hanya tersenyum kikuk dan berusaha untuk menyembunyikan getaran tubuhnya saat ia melihat sang Your Majesty yang ia layani, alias Yvonne, sedang menyeringai seperti nenek sihir yang melihat Putri Salju sudah sekarat karena memakan apel beracun.

Memang, penampilan Yvonne benar-benar mencolok hari ini dan sangat cocok sekali dengan bibirnya yang menyeringai. Gadis cantik ini berdandan dengan memakai eye shadow merah terang, berpipi merah muda yang bersemu indah seperti kelopak mawar, memiliki bibir yang dioleskan dengan warna seperti darah, hingga kulit pucat yang dipadukan dengan gaun berbelah dada rendah dan belahan kaki yang sangat tinggi itu.

Gaun yang dipakai Yvonne tampak sangat vulgar sekali seperti pelacur untuk ukuran seorang nona bangsawan seperti dirinya.

Yvonne hanya tersenyum lebar hingga senyum itu terlihat seperti senyum seorang vampir wanita. “Aku disebut sang penyihir agung bukan tanpa alasan, Edmund!” ucap Yvonne lembut selembut desiran angin yang menggelitik belakang leher Edmund.

Edmund merasakan tanda bahaya, Karena ia yakin sekali, Your Majestynya itu tidak akan berbicara selembut itu sepanjang dirinya mengenal sang majikan. Seperti bukan Your Majestynya saja! Edmund hanya menelan ludah. Ia benar-benar bingung hendak membuka mulut untuk membalas perkataan majikannya ini, ataupun untuk diam saja. Tetapi dirinya harus melewati jalan yang entah kenapa terasa

cukup sepi ini. Seperti buah simalakama saja!

Bicara salah karena takut dimarahi, kalau diam .... terasa lumayan menyeramkan juga karena dandanan serba merah darah terang Your Majestynya hari ini agak terasa seperti vampir.

Namun, Edmund memutuskan untuk diam saja. Meski sejujurnya, ini cukup menyeramkan. Tetapi Edmund cukup bersyukur karena hari ini siang hari. Untung saja dirinya melewatkan pekerjaan penting untuk menemani Yvonne pergi melihat kristal merah yang adalah relik berbahaya itu. Sekalian ia bisa bolos dan beristirahat dari pekerjaannya yang melelahkan.

Hitung-hitung istirahat dari rutinitasnya! Karena siang-siang ini tidak akan ada hantu ataupun sesuatu berbahaya yang mungkin akan muncul kan?

Edmund berpikir semoga saja begitu! Ia tidak mau sesuatu yang berbahaya muncul begitu saja seperti meledak di tengah siang bolong. Sudah seperti petir di tengah cuaca cerah saja! Lagi pula kalau ada apa-apa, semua kekacauan akan dilimpahkan padanya, ia harus mengurus segalanya. Dan itu artinya Edmund akan begadang selama beberapa hari tanpa tidur hingga ia akan kembali mengalami halusinasi yang biasa dialaminya! Nasib punya bos otoriter! Memang nasibnya di sini lumayan apes!

Begitulah, Edmund diam saja sembari berjalan pelan mengikuti langkah kaki Yvonne yang ada di depannya. Untuk mengusir rasa lelah dan tegang, Edmund memutuskan untuk menghirup nafas dalam-dalam, menikmati pemandangan indah di sepanjang jalan. Hingga tanpa priaitu sadari, kini ia sudah bisa melihat bangunan penyimpanan yang menyimpan Kristal merah itu.

Pecahan Jiwa milik malaikat kembar di dalam legenda! Dan bahkan dari jauh Edmund bisa merasakan hawa yang berbeda di dekat bangunan penyimpan, yang berbentuk seperti bangunan dua lantai dengan dinding bata berwarna coklat burgundi dan jendela-jendela di depannya.

Atap segitiga limas panjang yang di ketiga sisinya menempel atap tambahan berbentuk segitiga di bagian kiri, segitiga kecil menyembul di tengah, dan corong segitiga di bagian paling pojok kanan.

Ada sebuah undakan tangga di depan. Cukup besar dan luas sekali, dengan pintu setinggi 3 meter lebih yang terbuat dari kayu yang dipernis bagus hingga berkilat dan tahan lama. Meskipun tinggal beberapa belas meter saja, dari kejauhan, memang bangunan penyimpanan yang

dimaksud menguarkan energi yang membuat tubuh dan kepala berat, serta membuat dada seperti dihimpit oleh dua gunung yang berdempetan.

Edmund beberapa kali mengelap keningnya yang berkeringat, nafasnya sesak. Ia memang mendengar laporan dari bawahannya yang menyebutkan kalau kristal itu menyebabkan siapa pun yang mendekatinya akan merasa lemas, pusing, sesak, mual, dan tanda-tanda tubuh tidak enak lainnya seperti orang yang sakit.

Mengenai orang-orang meninggal itu, menurut laporan yang di terima oleh Edmund, orang-orang meninggal itu adalah para manusia biasa yang membawa kristal itu untuk menyebrangi benua dan lautan menuju ke sini.

Karena terlalu lama terpapar energi tidak enak yang menguar dari kristal merah ini, tidak ayal jika energi mereka habis dan mereka mati mengenaskan dalam keadaan kurus kering. Seperti orang yang mati karena kelaparan.

Bahkan, banyak sekali orang yang mati dan kristal ini terpaksa di antar secara bergantian. Cukup lama kristal ini tiba, mungkin sekitar setengah tahun. Wajar jika Yvonne selama setengah tahun ini agak terlihat tidak sabaran setiap hari. Seolah-olah Kristal itu adalah hal yang paling diinginkan oleh gadis itu.

Bukan hanya mual dan rasa pusing yang

dialami oleh Edmund, pria itu juga merasa kalau pandangannya berkunang-kunang dan tubuhnya terasa kesemutan. Kulitnya juga serasa ditusuk-tusuk oleh ratusan jarum yang menyengatnya, seperti dijalari listrik juga.

Belum apa-apa, Edmund langsung merasa hendak pingsan saja daripada harus mengalami rasa sakit seperti ini. Jalannya juga sudah sempoyongan seperti orang yang terkena darah rendah.

Lain dengan Edmund yang seperti sudah mau pingsan itu, Yvonne malah sebaliknya. Gadis itu sama sekali tidak apa-apa, tidak sakit, mual, kepayahan ataupun  mengalami gejala yang sama dengan yang dialami oleh Edmund.

Yvonne terlihat sangat sehat, segar bugar malah! Langkah kaki Edmund yang mulai tersendat-sendat dan goyah hingga ia melambat, tidak mampu mengimbangi langkah kaki Yvonne yang semakin cepat. Seolah ia tidak sabar untuk masuk ke dalam bangunan yang ada di depan mereka itu, dan masuk ke dalamnya.

Yvonne sama sekali tidak merasa terganggu dengan hawa mencekam dan energi kehidupannya yang konon akan disedot oleh kristal merah itu. Justru sebaliknya, mata emas itu memancarkan rasa semangat dan binar yang cerah. Serupa dengan seorang kolektor yang menemukan benda langka di dalam lelang yang diikutinya.

Yvonne mendadak berhenti, gadis itu langsung menoleh ke arah Edmund yang sudah menutup mulutnya rapat-rapat untuk menahan muntahnya. Yvonne terlihat menaikkan alis, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi iba ataupun simpati, justru ia terlihat tidak peduli dan malah memasang wajah kesal.

“Edmund!” bentaknya. “Sebaiknya kau pergi saja!” Yvonne terdengar jengkel sekali.

"Kau tidak akan kuat untuk menahan energi ini .....” mata emas itu melirik ke arah bangunan kecil itu lalu kembali ke arah Edmund. “kalau kau tetap masuk ke dalam sana, tubuhmu bisa-bisa hancur!”

“Tapi .... Your Majesty .....” Edmund dengan sisa-sisa tenaganya mencoba untuk berdiri lebih tegak dari yang sebelumnya.

“Anda bisa masuk sendiri, kan?” tanya Edmund spontan. Dan lalu, ia kemudian sadar, jika pertanyaan yang ia ajukan itu sangat bodoh sekali.

Edmund mendadak lupa, siapa gadis yang ada di depannya ini. Dan kenapa semua orang yang ada di mansion, semua pekerjanya, sangat segan kepada gadis cantik yang ada di depannya ini.

Dan juga ..... sekaligus sangat takut. Gadis cantik dengan dandanan yang bisa mengundang

skandal ini, gadis cantik yang terlihat lemah dan manis ini, adalah seorang penyihir kuat yang sudah hidup sangat lama.

Mendengar hal itu, Yvonne langsung tertawa merdu yang terdengar semanis madu dan selembut sutra ketika dibentangkan.. Tetapi juga terdengar sangat menusuk seperti bunga mawar yang saat dipetik, akan melukai jari hingga berdarah.

Tawa Yvonne mereda sejenak, gadis cantik beracun itu menoleh ke arah Edmund dengan sorot mata yang percaya diri sekali. Bibir itu melengkung membentuk senyuman mirip bulan sabit yang cantik sekaligus sangat tajam.

“Kau lupa, siapa aku, Edmund?” tanya Yvonne dengan suara yang manis. Edmund bisa merasakan ada belati dibalik suara itu yang terarah padanya.

Rangkaian kalimat yang seolah-olah mempertanyakan, apakah Edmund lupa siapa gadis yang berdiri di depannya ini? Edmund langsung menunduk dalam-dalam.

Sekaligus ia sejenak melupakan rasa sakit di kepala, dan seluruh tubuhnya karena sejujurnya, Edmund lebih takut dengan gadis yang ada di depannya ini melebihi apa pun. ia bahkan jauh lebih menakutkan dari ketakutan Edmund yang sudah lama menghilang.

“Bagus sekali!” suara itu terdengar geli dan penuh dengan rasa kepuasan yang tidak dapat dijabarkan dengan kata-kata.

“Ternyata otak kecilmu itu ingat!”

Sadar jika itu berarti Your Majestynya ini dengan halus menyuruhnya untuk segera menyingkir dari sini, Edmund memutuskan untuk menuruti saja apa kata Yvonne.

Daripada Your Majestynya ini akan memberinya hukuman untuk membunuh dan mengambil ular-ular piton di sarangnya langsung? Edmund paling benci jika harus berurusan dengan ular. Jadi pergi saja dari sini sebelum majikannya ini meledak!

Tanpa diperintah dua kali pun, Edmund dengan cepat mengangguk dan buru-buru berbalik memunggungi Yvonne. Ia bisa merasakan tatapan tajam gadis ini dibalik punggungnya. Menahan rasa pusing dan mualnya yang cukup membuat pandangan mata berputar-putar.

Edmund berusaha untuk menyeimbangkan kedua kakinya dan ia pun mengambil seribu langkah untuk menjauh dari sana. Pergi dari situ meninggalkan Yvonne seorang diri yang berkacak pinggang sambil tersenyum puas.

“Bagus sekali!” bisik Yvonne dengan nada yang senang. “Nah, sebaiknya aku langsung melihat kristal sialan itu!”

**

Yvonne kini sudah berdiri di depan bangunan yang tingginya kira-kira 30 meter lebih itu. Sebuah bangunan yang kurang lebih ia buat hanya sebagai tempat penyimpanan barang-barang yang sesekali akan digunakan. Meski bangunannya cantik dan megah, keberadaan bangunan ini tidak terlalu penting bagi Yvonne.

Yvonne menaiki undakan tangga yang mengarah ke pintu depan dengan langkah kaki yang mantap. Sepatu hak tinggi yang dikenakan oleh Yvonne menimbulkan  suara hentakan yang cukup keras saat tumit dan haknya beradu dengan lantai marmer di undakan tangga dan halaman.

Dengan tubuh yang tegap, Yvonne  sampai di depan pintu utama yang menjulang tinggi di depannya ini, ia langsung membuka pintu dengan memutar kenop berukirkan kepala burung Phoenix itu.

Saat pintu terbuka secelah, angin dingin yang bertiup kencang langsung menerpa wajah Yvonne hingga kulit wajah gadis itu terasa membeku. Poni di atas alis yang sengaja di belah tepat di tengah rambut kepalanya langsung acak-acakan. Begitu juga dengan topi dengan kain tule hitam yang ia sematkan di samping kepalanya itu.

Topi tule hitam dengan bunga mawar merah kecil beberapa batang yang menutupi sebelah alis dan menggantung di sebelah kiri sisi kepalanya itu, juga terasa hendak jatuh.

Yvonne terpaksa harus menahan topinya agar

tidak jatuh dengan tangannya, dan juga tangan satunya lagi terpaksa harus menahan poni dan rambut bagian depannya. Karena angin yang bertiup kencang ini, rambut bagian belakang Yvonne langsung terbang. Angin kencang yang dingin itu berembusnya tidak lama, setelah bertiup kencang, angin tersebut mendadak diam

saja.

Saat Yvonne mengayunkan langkahnya ke dalam, kepala Yvonne seakan-akan diberi beban beberapa tumpuk buku di atasnya. Seperti berada di kelas tata krama dan etiket. Yvonne menarik nafas panjang-panjang. Sambil menahan rasa rindu dan amarah di dalam hatinya yang berkecamuk, Yvonne berusaha untuk menguatkan dirinya. Dan gadis itu langsung masuk ke dalam bangunan lantai dua itu. Bangunan yang di dalamnya hanya berupa ruangan-ruangan kosong tanpa adanya perabotan.

Atapnya hanya berupa plafon putih yang kusam. Dengan dinding yang juga sama putihnya dengan batu pualam. Ruangan itu sama seperti rumah-rumah pada umumnya. Memiliki sekat-sekat yang ada di mana-mana sebagai pemisah mana ruangan satu dan ruangan satunya lagi.

Meski tidak ada perabotan, ada satu hal yang ada di sana. Berupa sebuah meja kayu mirip meja makan kecil untuk rakyat biasa, tanpa ada kursi. Dan di atas meja itu terdapat sebuah kotak kayu mirip peti harta karun bergembok besar yang terkunci.

Kayunya tampak kusam, dengan beberapa bagian yang rapuh tampak seperti dimakan oleh rayap. Samar-samar juga tercium bau apak di kotak kayu itu. Gembok besi dan lis serta paku-paku besi yang berfungsi untuk menyambung papan kayu satu sama lain hingga membentuk kotak pun mengalami hal yang sama, yaitu berkarat. Bau besi berkarat itu bahkan mirip dengan bau darah segar.

Yvonne lalu perlahan-lahan berjalan tegap menuju ke kotak kayu bergembok. Dan langsung saja, suara-suara bisikan memenuhi kepala dan benak Yvonne. Suara-suara yang memanggil namanya dengan beragam macam emosi dan perasaan yang dalam.

Dari mulai suara yang memanggil namanya dengan kasih sayang, senang, gembira, sedih, pilu, jahil, iseng, bersahabat, sampai marah, menderita, tidak terima, sakit hati, kehilangan .....

hingga suara paling terakhir yang seketika itu membuat jantung Yvonne berhenti berdetak.

Saat mendengar suara itu, Yvonne langsung menggeleng kuat-kuat. Ia hanya berusaha meyakinkan dirinya sendiri jika suara-suara itu hanya halusinasi yang timbul karena kristal merah yang ada di dalam sana.

Meski sudah tahu suara-suara itu hanya halusinasi, tetapi saat mendengarnya, gejala seperti mual dan jantungnya serasa diremas-remas pun terasa. Sambil menahan rasa tidak nyamannya, sepatu hak Yvonne kembali beradu

lebih cepat di atas lantai marmer. Hingga tangan Yvonne kini sudah ada di atas meja kayu yang entah kenapa terasa lebih dingin padahal ini adalah musim panas.

Sadar akan keanehan ini, Yvonne lagi-lagi menguatkan dirinya. Ia tidak mau membuang kesempatan ini hanya karena merasakan perasaan tidak berguna. Selama beribu-ribu tahun ini, Yvonne sudah cukup sabar. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Kesempatan untuk mendapatkan apa yang sudah hilang dan direnggut darinya secara paksa.

Perlahan sekali, Yvonne lalu menggigit jari telunjuknya sendiri hingga tetesan darah pun langsung mengalir di antara jemarinya. Yvonne mengoleskan satu tetes darah itu di gembok yang terkunci.

Gembok yang awalnya terkunci pun bergerak dan membuka sendiri dengan disertai bunyi klik pelan. Dengan tangan yang gemetar, Yvonne langsung membuka kotak kayu itu.

Dan mendadak, secelah demi secelah kotak kayu itu terbuka, tubuh Yvonne mendadak menegang saat ia merasakan ada sesuatu yang menariknya masuk ke dalam kotak kayu itu.

Sesuatu yang serupa seperti ratusan tangan yang menjegalnya dan menahannya agar tidak bergerak. Sementara tangan Yvonne yang kaku tidak bisa bergerak, kotak kayu terbuka sendiri, hingga ia terbuka sepenuhnya diiringi dengan dentuman keras.

Belum sempat Yvonne melihat apa isi di dalam kotak kayu itu, tubuhnya mendadak terjungkal dan jatuh ke depan. Kakinya kehilangan keseimbangan, kedua tangan Yvonne tidak sempat untuk memegang sesuatu agar mencegah jatuh menimpa kotak kayu ini.

Tetapi terlambat, seperti ada gelombang pasang yang menghisapnya, tubuh Yvonne jatuh ke dalam kotak kayu itu hingga setengah tubuhnya sudah masuk ke dalam dasar kotak kayu yang berubah

gelap seperti jurang tanpa ujung.

Bab 3

Seperti ada yang menarik tangannya, bagian kakinya yang masih ada di luar kotak kayu langsung terpeleset dan jatuh ke dalam dasar jurang tidak berujung itu diiringi dengan teriakan Yvonne.

Yvonne jatuh dengan kepala yang ada di bawah, sementara kakinya ada di atas. Karena ada di bawah itulah, Yvonne bisa melihat dengan jelas pemandangan atas yang mirip dengan pintu masuk keluar loteng kecil yang muat untuk anak-anak di atasnya.

Pemandangan berupa langit-langit kotak kecil bergambar plafon putih kusam bangunan bergaya Victoria itu. Menimbulkan berkas-berkas cahaya yang masuk ke dalam kegelapan di sekitar Yvonne.

Diiringi dengan dentuman, penutup kotak kayu itu menutup sendiri. Hingga berkas cahaya dan pemandangan plafon itu perlahan menghilang. Kini, terdengar bunyi klik pelan gembok yang terkunci di atas Yvonne. Dan seketika itu di sekeliling Yvonne mendadak gelap gulita tanpa

ada cahaya satu pun. Yvonne jatuh seperti jatuh di dalam jurang yang tidak memiliki ujung.

Suara-suara yang seakan-akan langsung datang dari kegelapan suram dan menyeramkan menyerang Yvonne dengan berbagai macam suara-suara histeris yang luar biasa memusingkan. Suara-suara yang betul-betul dibenci, suara-suara yang lama sekali pernah terjadi.

Kepala Yvonne serasa pusing sekali. Kepalanya mendadak terasa pecah hingga Yvonne menutup

kedua telinganya rapat-rapat dengan perasaan yang campur aduk di dalam benaknya.

“JANGAN!!!! JANGAN SUARA ITU!!! AKU BENCI!!” teriak Yvonne di tengah kegelapan sembari ia terjatuh di dalam kegelapan tidak berujung yang seakan-akan menelan suaranya.

“JANGAN!!! JANGAN LAGI!!! DASAR SIALAN!!!! AKU SALAH!! AKU TAHU AKU SALAH!!!!”

Yvonne tidak tahu apakah ia menangis atau apa. Tetapi matanya seakan-akan basah dan tentunya perih. Karena ia jatuh, Yvonne tahu jika air matanya tidak akan turun ke pipi. Di sini rasanya dingin sekali, terasa sangat sunyi dan mencekam, Yvonne tidak suka.

Rambutnya yang digeraikan menampar-nampar seluruh wajahnya seakan-akan dia dihukum karena kesalahan yang sudah ia buat. Gaunnya berkibar-kibar, topinya, bahkan sepatu haknya serasa sudah lepas dari kepala dan kedua kakinya.

Kesadaran gadis itu perlahan-lahan surut. Ia merasakan ada sebuah beban yang terangkat dari hatinya dan terbang entah ke mana. Dan rasanya agak damai meski masih seram. Dan siapa itu yang bernyanyi?

Yvonne bertanya di dalam benaknya ketika ia mendengar sebuah senandung yang merdu sekali! Yvonne tidak ingat siapa yang menyanyikan senandung merdu ini. Merasakan rasa damai di hatinya, kedua mata Yvonne berat,

dan akhirnya ia tidak sadarkan diri.

Saat Yvonne membuka matanya lagi, ia sudah tidak jatuh lagi ke jurang gelap tanpa ujung itu. Melainkan sebuah rumah pedesaan yang terasa familiar bagi Yvonne.

Sebuah rumah ala jaman dulu yang ada aaat manusia belum mengenal bagaimana cara mengolah besi dan melelehkannya. Sebuah jaman di mana batu di asah hingga dibuat menjadi kapak, pisau, serut, dan juga sebagai mata tombak untuk perang antara suku yang saat itu sedang berkecamuk di mana-mana.

Sebuah jaman, di mana tulisan berupa gambar-gambar yang memiliki arti khusus .....

Yvonne lalu melirik dan menoleh ke arah sampingnya. Dan ia melihat ada tiga orang yang ada di sana. Ada sepasang manusia, laki-laki dan perempuan yang cukup muda. Memakai pakaian yang terbuat dari kulit hewan.

Masing-masing dari mereka memakai jubah bulu yang terlihat mewah. Yang laki-laki memakai jubah bulu beruang berwarna coklat yang besar

dengan kepala beruang asli menempel di belakang leher laki-laki ini. Sedangkan yang perempuan memakai jubah bulu serigala putih serupa salju yang cantik.

Baik laki-laki dan perempuan yang kelihatan berumur ini memakai perhiasan batu-batu permata di leher, kedua tangan, dan sebuah mahkota yang terbuat dari anyaman daun-daunan di kepala mereka masing-masing. Mata laki-laki berwarna hijau tua yang serupa dengan

warna lumut basah, rambutnya berwarna pirang emas yang cemerlang.

Sedangkan sang perempuan memiliki mata berwarna biru kehijau-hijauan seperti warna  laut, dengan rambut merah jahe ikal disanggul anggun di kepalanya.

Kedua orang ini terlihat ketakutan dan bersimbah keringat. Wajah mereka pucat sekali. Mereka duduk bersimpuh di hadapan seorang gadis yang berambut merah darah, diikat kepang satu dengan satu bulu burung sebagai penahan rambutnya.

Berpakaian kulit hewan dengan atasan tanpa lengan dan sepanjang perutnya saja. Sedangkan gadis ini mengenakan rok kulit binatang sepanjang atas lutut. Di pinggangnya banyak sekali belati kecil dan besar, kalung aneh, bandul-bandul aneh, tas kecil, mata tombak, sarung pisau, dan semua peralatan untuk berburu lainnya terikat menjadi satu di sabuk yang melingkari pinggang.

Mata emas itu menatap tajam dan dingin ke arah kedua pasang manusia yang ketakutan itu. Yvonne tahu jika gadis itu adalah dirinya saat berumur 14 tahun. Dirinya yang lebih muda ini tampak sedang menimbang-nimbang menatap tajam ke arah dua manusia yang ketakutan ini.

Seakan-akan sedang berpikir, dirinya hendak melakukan apa?

Dirinya yang saat itu memainkan sebuah kalung dengan bandul yang fungsinya untuk mengusir mimpi buruk. Yvonne muda hanya mendengus kecil. Tangan kirinya yang memakai banyak sekali gelang anyaman berbagai bentuk berkacak pinggang. Kakinya yang bersepatu boots bulu tinggi tampak berdiri angkuh di depan sepasang manusia ini.

Dirinya yang masih muda dan berpakaian ala pemburu itu hanya menggeleng dengan tatapan dingin dan tanpa emosi pada kedua manusia itu. Dengan gerakan tangan kanan yang terangkat di samping wajahnya, dirinya yang muda itu langsung menjentikkan jarinya hingga suara jentikan jari itu terasa bergema di dalam kedua telinga Yvonne.

Langsung saja, kepala dua pasang manusia itu terpenggal dan melayang di udara seperti lontaran katapel. Kedua kepala manusia yang memasang ekspresi ketakutan itu langsung jatuh di tanah dengan diiringi semburan darah mirip air mancur yang bercucuran ke segala arah.

Kedua kepala itu menggelinding ke arah kaki Yvonne seperti bola sepak. Leher yang sudah terputus di penggalan kepala itu mengucurkan darah di mana-mana. Dan tidak hanya itu, tubuh tanpa kepala itu juga mengucurkan darah di penggalan lehernya yang sudah mirip dengan air mancur darah.

Cipratan darah itu mengenai jubah coklat dan kepala beruang mati yang ada di belakang punggung itu. Tubuh si laki-laki dipenuhi dengan darah, kulit leher, baju kulit yang ia kenakan. Lengan dan bawahan kulit yang ia pakai, badan, semuanya sudah diwarnai dengan warna merah

yang serupa dengan warna rambut Yvonne. Baik saat ini maupun saat itu.

Sedangkan kondisi si perempuan tidak jauh berbeda. Jubah putih salju itu sudah terkena darah yang membuatnya seakan-akan mengotori salju dengan darah seekor mangsa. Pakaian, perhiasan, seluruh badan, semuanya sudah berceceran dengan darah yang masih mengalir

deras. Kedua tubuh tanpa kepala itu langsung tumbang ke depan di sertai dengan suara dentuman seperti kedua benda berat yang jatuh.

Tidak puas dengan hanya memenggal kepala

kedua orang itu, Yvonne muda pun menginjak kepala sang perempuan dengan sepatu bootsnya. Selopnya seketika itu langsung kotor terkena darah. Tetapi Yvonne muda terlihat sama sekali tidak peduli dengan hal itu.

Mengambil belati kecil seukuran tangannya di sabuk pinggang, Yvonne muda lalu berjongkok dan mulai melakukan pelampiasannya yang memuaskan.

Di mana Yvonne muda mencungkil kedua mata biru hijau laut itu. Hingga kedua bola mata asli yang mirip mainan itu melompat keluar dan kemudian jatuh menggelinding di tanah. Yvonne muda juga mengiris hidung dan kedua telinga hingga ketiga bagian itu jatuh di tanah

bersama dengan bola mata.

Tidak lupa, Yvonne muda juga menyayat kedua pipi perempuan itu hingga sampai ke bibir dan telinganya. Dan kemudian Yvonne juga membuang kepala itu begitu saja seperti membuang sampah yang tidak berharga.

Yvonne muda juga melakukan hal yang sama

dengan sang laki-laki. Bedanya, Yvonne muda juga meludah tepat di kening laki-laki itu dan lalu membuang kepala yang sudah cacat itu. Dengan mata yang menggelap, Yvonne muda langsung menginjak-nginjak semua potongan wajah yang

sudah ia iris itu. Dari mulai daging hidung, telinga, dan empat mata yang seketika itu benyek di selop sepatu Yvonne muda.

Yvonne muda menatap dingin ke jasad yang bersimbah darah itu. Sudut bibirnya terangkat, baik Yvonne muda yang mengenakan pakaian kulit pemburu, dan Yvonne masa kini yang memakai gaun merah terang, mengucapkan kalimat yang sama .....

“Semoga tenang, Ibu dan Ayah!” ucap Yvonne muda dan Yvonne masa kini berbarengan tanpa emosi dengan memakai kedua bahasa yang berbeda. Bahasa kuno, dan bahasa prancis era abad ke-19.

“Aku akan mengirimkan burung gagak untuk kalian berdua!”

Dan kemudian, layaknya riak air ergelombang saat sebuah batu kerikil di lemparkan di atas permukaan air, hingga mengaburkan bayangan di atasnya. Adegan kilas masa lalu itu berubah, dan kini berganti menjadi sesuatu yang lain. Seakan-akan dipindahkan ke tempat lain.

Rumah kayu dengan lantai tanah dan pemandangan berupa kedua jenazah terpenggal

itu kini berganti menjadi sebuah tempat berupa padang bunga yang cantik. Sebuah padang bunga yang penuh dengan bunga matahari yang bersinar kekuningan di bawah cahaya matahari yang indah.

Bunga-bunga lili putih, bunga-bunga mawar merah yang ada di setiap sudut padang bunga itu, dan berbagai macam bunga-bunga berwarna-warni, menyemarakkan padang rumput yang kehijauan itu di tengah langit biru dengan awan-awan putih lembut seperti kapas.

Dari jauh, Yvonne bisa melihat seorang anak kecil berpakaian gaun berok panjang yang terbuat dari kulit. Dengan rambut merah darah yang dibiarkan tergerai, dan anyaman mahkota bunga di kepalanya, anak kecil berumur 4 tahun itu berlari sambil tertawa terbahak-bahak.

Kedua tangan mungil itu memeluk bunga-bunga warna-warni cerah yang sudah dipetiknya di padang rumput ini. Anak kecil itu kelihatan manis dan ceria, dengan sepasang bola mata emas seakan-akan sebatang emas dilelehkan dan kilauannya sama seperti matahari yang hangat.

Anak kecil itu lalu berlari melewati Yvonne dewasa yang memakai gaun merah terang begitu saja seakan-akan Yvonne di masa kini itu tidak ada bedanya dengan udara. Di belakang anak kecil yang manis utu, seorang wanita paruh baya yang memakai pakaian kurang lebih sama dengan anak itu mengejar dengan nafas yang terengah-engah.

“Putri!!” teriak sang wanita memakai bahasa Gaelic yang kental. Sedangkan sang anak kecil lalu melompat-lompat sambil berteriak-teriak dengan suara yang manis. Anak kecil itu menoleh ke belakang, tersenyum ceria menampakkan dua bagian depan giginya yang

ompong.

“Ayo bibi, kejar Yvonne!” teriak anak kecil itu sembari kembali berlari sambil tertawa-tawa. Saat wanita paruh baya itu melewati Yvonne, adegan ini langsung sama seperti adegan yang sebelumnya.

Beriak dan berdistorsi seperti permukaan air yang bergoyang saat dilempari dengan batu kerikil. Mata Yvonne menggelap, dan saat ia membuka matanya lagi, ia sudah ada di dalam ruangan yang tadi.

Sebuah ruangan tanpa perabot dengan marmer, dinding, dan plafon atap putih kusam yang membosankan. Ahh, Yvonne tersadar, kalau ia dari tadi masuk ke dalam halusinasi kristal merah itu. Dan kristal merah itu menampakkan kedua kenangan paling samar yang pernah terjadi di dalam hidup Yvonne yang panjang.

Yvonne lalu menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir kedua kenangan itu di dalam kepalanya, Yvonne lalu menunduk untuk melihat apa yang ada di dalam kotak kayu itu. Dan benar saja seperti yang sudah dilaporkan, sebuah kristal merah yang berukuran kira-kira sekepalan

tangan orang dewasa sudah ada di dasar kotak kayu itu.

Bersinar cerah seperti ada api di dalamnya. Dan bentuknya bukanlah seperti permata yang ada di

perhiasan.

Kristal merah itu malah terlihat seperti batu permata mentah belum jadi dengan potongan sisinya yang kasar dan seperti ala kadarnya. Seperti batu permata yang belum dipotong rapi, dan belum digosok hingga berkilat supaya bisa dijadikan perhiasan cantik yang sepantasnya.

Yvonne menghela nafas saat menatap kristal merah yang kilauannya terlihat hampir sama dengan batu Ruby. Mengerutkan keningnya, Yvonne langsung berniat hendak menyentuh kristal itu.

Namun, setetes darah Yvonne langsung jatuh di atas kristal merah. Layaknya sponge, darah yang sudah jatuh di atas permukaan kristal kasar itu langsung terserap di dalam kristal merah. Mendadak, kristal merah langsung bersinar lebih terang seperti api yang berkilat-kilat.

Kristal merah itu langsung retak-retak dan terbelah menjadi dua. Dan di dalam retakan dan belahan itu, keluarlah cahaya yang terang benderang yang seketika itu membutakan mata Yvonne.

Sadar jika akan ada lagi sesuatu yang akan datang, Yvonne cepat-cepat mengalirkan mana yang ada di jantungnya untuk keluar dan membuat tabir pelindung di aekitarnya. Sebuah tabir yang bisa melindunginya dari serangan apa pun dan berpotensi bisa menyakitinya.

Dari dalam kristal merah itu, keluarlah asap-asap hitam yang terasa seperti kegelapan pekat. Asap-asap itu langsung membumbung tinggi dan menyebar di dalam ruangan itu dengan hawanya yang betul-betul terasa membekukan tulang.

Dan mungkin saja orang-orang yang menyentuh ataupun berdekatan dengan asap-asap hitam ini akan menggigil kedinginan, atau hipotermia yang demikian parah hingga organ dalamnya berhenti berfungsi.

Bukan hanya asap-asap hitam saja yang muncul, petir-petir keemasan yang besar dan serupa dengan guntur pun langsung menyambar-nyambar dan membuat ruangan penyimpanan langsung gosong. Seketika itu ruangan putih membosankan ini langsung terbakar hingga menimbulkan asap-asap yang membuat batuk-batuk orang yang menghirupnya.

Keadaan di dalam demikian parahnya hingga petir-petir itu merusak seluruh ruangan, menyambar dan membakar apa saja yang ada di dekatnya. Dan seketika itu ruangan langsung dipenuhi dengan api-api meretih yang berkobar-kobar di mana-mana. Sedangkan asap-asap hitam itu semakin menyebar ke segala arah seperti wabah hitam yang menjangkiti apa saja.

Ruangan penyimpan langsung hancur luluh lantak. Api menjalar di mana-mana, sedangkan Yvonne yang berdiri di tengah kekacauan itu terlihat tenang-tenang saja berkat sihir perlindungan yang ia gunakan.

Api yang ada di lantai, petir besar yang menyambar tepat di samping telinganya, dan bagian atas tubuh serta kepala Yvonne yang dimakan oleh asap hitam itu sama sekali tidak bergeming dari tempatnya. Yvonne baik-baik saja, api, petir, dan asap hitam yang jaraknya sangat dekat dengan dirinya sama sekali tidak melukainya.

Atap pun langsung roboh di sana sini hingga menimbulkan bunyi yang memekakkan telinga. Suara api yang berderak, sambaran guntur, dan lain-lain. Membuat udara yang ada di situ luar biasa panas sekaligus juga dingin. Terdapat perbedaan suhu yang ekstrim di sana, hanya saja Yvonne tetap berdiri di situ memandangi semua kekacauan yang ada dengan wajah datar tanpa emosi.

Ruangan itu pun meledak, tidak! Bukan ruangan itu saja, tetapi seluruh bangunan itu meledak seperti terkena bom.

Kayu-kayu, dinding bata yang langsung hancur menjadi serpihan pasir yang berterbangan di langit-langit, atap-atap kayu hangus yang sudah patah-patah terbang ke langit dengan api yang melalapnya. Pintu, marmer yang seketika itu

langsung tercabut dari semennya dan berubah menjadi beling-beling hangus panas yang sudah hancur.

Serta segala dari bangunan bertingkat dua dengan gaya Victoria itu, semuanya sudah hancur luluh lantak. Dan kini, sepasang mata emas Yvonne menyipit di udara, ke arah petir-petir dan asap-asap itu kemudian memisah diri

antara satu sama lain.

Asap-asap hitam perlahan-lahan bergerak mengumpul menjadi satu. Asap-asap itu membentuk seperti bayangan siluet janin manusia yang seukuran dengan jempol tangan, terus membesar membentuk seukuran bola kasti, mangga, dan terus membesar lagi hingga seukuran bayi manusia.

Kepala, kedua tangan dan kaki, serta tubuhnya terbentuk sempurna seperti seorang bayi manusia yang hidup dan bernafas. Sedangkan tubuhnya yang awalnya hitam legam itu perlahan-lahan warna hitamnya surut dan memudar dan kini digantikan oleh kulit berwarna putih kuning langsat yang sempurna.

Hidungnya, bibirnya, jari jemari kaki dan tangannya, matanya, wajahnya, telinganya, dan seluruhnya terbentuk sempurna membentuk bayi manusia yang baru lahir. Sedangkan di saat yang bersamaan, petir-petir kemudian menyambar-nyambar dan mengumpul membentuk menjadi satu.

Membentuk semacam cahaya mirip dengan janin bayi yang belum sempurna. Janin bayi bercahaya itu kemudian bertambah besar sama dengan bayi yang terbuat dari asap-asap hitam. Hingga janin bercahaya terang itu membentuk sesosok bayi yang sempurna.

Kulitnya berwarna putih kuning langsat, dengan bibir, hidung, mata, wajah, dan kedua telinga yang mirip sekali dengan bayi yang pertama.

Mata Yvonne sama sekali tidak berkedip aaat ia menyaksikan kedua bayi yang berjenis kelamin laki-laki itu turun perlahan-lahan seperti sedang terbang. Kemudian semakin rendah, hingga kedua bayi tanpa busana itu sudah mendarat di lantai hangus dan tergeletak begitu saja di depan kaki Yvonne.

Yvonne menundukkan kepalanya dengan mata yang memicing untuk melihat kedua anak bayi itu agar lebih jelas. Bayi yang pertama memiliki rambut merah darah yang sama dengan rambut merah darah Yvonne.

Saat bayi itu membuka matanya, terlihat jika kedua mata bayi ini memiliki warna hijau yang serupa dengan warna rumput di pagi hari yang sudah dipotong. Bayi pertama yang tadinya terbuat dari asap-asap hitam dingin itu menatap ke arah Yvonne dengan mata dan wajah polos

yang luar biasa menggemaskan.

Bibir tebal itu mengeluarkan air liur imut-imut,

mata itu bertemu pandang dengan mata emas Yvonne yang dingin. Bayi itu lalu tertawa ceria dengan suara yang menggemaskan. Tangan montok itu masuk ke dalam mulutnya yang kecil.

Sedangkan bayi yang satunya, memiliki rambut pirang emas yang bercahaya seperti matahari. Mata bayi yang ini berwarna biru langit yang teduh. Berbeda dengan bayi berambut merah yang tertawa dan terlihat senang melihat Yvonne yang menjulang di atasnya, bayi pirang ini tiba-tiba menangis dengan keras sambil memasukkan tangannya ke dalam mulutnya.

Seolah-olah bayi ini ketakutan melihat Yvonne.

Melihat kedua bayi berwajah sama yang ada di depannya ini, Yvonne hanya terdiam dengan raut wajah kaku. Ia tidak memperlihatkan emosi apa pun. Tidak merasa panik, ataupun mencoba untuk menggendong, mencari bantuan, atau apa seperti selayaknya orang normal saat melihat kedua bayi tanpa ibu dan ayah ini. Sebaliknya, melihat kedua bayi ini,

Yvonne seperti patung es.

Itu wajar, setidaknya bagi Yvonne. Seumur hidupnya, ia sama sekali tidak pernah melihat ataupun mengendong bayi baru lahir, ataupun menyentuhnya. Bagi Yvonne, bayi hanyalah makhluk lemah yang hanya bisa menangis, minum susu, meneteskan air liur, tertawa dengan suara yang menggelikan, lalu buang air besar, setelah itu tidur.

Bayi hanyalah makhluk tidak berguna baginya. Dan mendengar suara tangisan bayi pirang ini, membuat kepala Yvonne pusing luar biasa.

Dari kejauhan, Yvonne bisa mendengar auara langkah kaki yang tergesa-gesa mendekatinya. Suara langkah kaki seorang pria? Barangkali? Terdengar semakin dekat di belakang punggung Yvonne. Bahkan tanpa perlu Yvonne menoleh ke belakang lagi, ia tahu jika pelayannya itu akan

datang dengan wajah yang pucat, dan tergopoh-gopoh seperti seorang nenek tua yang menjemput cucunya sebelum matahari turun.

Benar saja, suara langkah kaki itu

berhenti tepat di belakang punggung Yvonne.

"Your Majesty!!!” suara Edmund yang

biasanya lembut itu terdengar keras sekali seperti guntur. “Ledakan apa itu?”

tanyanya lagi dengan suara yang serak.

Suara tangis bayi pirang itu semakin menjadi-jadi saja. Sedangkan tawa si bayi berambut merah terdengar lantang sekali menimpali suara tangisan si bayi pirang. Hingga keadaan di situ

diramaikan oleh suara tangisan keras dan tawa yang sangat menggemaskan.

Yvonne menoleh sebentar ke arah Edmund yang ada di belakangnya. Benar saja, Edmund tampak pucat dan ia membelalakkan mata saat mendengar suara bayi itu. Dia dengan jelas melihat ada dua bayi tergeletak di ubin hitam berasap di depan Yvonne. Dua bayi yang masih merah, jelas sekali jika kedua bayi kecil ini tampak baru lahir.

“Your Majesty?” Edmund ternganga sejenak saat menatap dua bayi tanpa busana itu. “Bayi siapa ini?” Edmund kedengarannya sangat histeris.

Sebaliknya, berbeda dengan Edmund, Yvonne malah terlihat sangat santai dan tidak panik sama sekali. Ia malah menatap satu jari telunjuknya yang berdarah. Bibir merah Yvonne merengut tidak suka. Yvonne kemudian mendengus saat ia menatap darah merah itu.

Darah yang sama dengan warna rambutnya.

Sepertinya, Edmund yang melihat darah yang mengalir di telunjuk Yvonne mendadak paham. Pelayan itu langsung merogoh kantong celananya sendiri, menarik satu sapu tangan berwarna putih krem di sana, dan menyerahkannya pada Yvonne, Yvonne langsung mengelap jarinya yang berdarah dengan sapu tangan itu.

Darah merah itu kini sudah berpindah di sapu tangan, mewarnai kain putih lembut yang terbuat dari sutra itu dengan setitik darah merah cerah. Setelah mengelap jarinya itu, Yvonne langsung membuang sapu tangan itu dengan lagak angkuh. Sapu tangan itu langsung jatuh di tanah dan teronggok loyo di sana.

Yvonne langsung menatap ke arah Edmund dengan tatapan tanpa emosi yang dingin. Ia lalu menunjuk ke arah dua bayi itu dengan dagunya sendiri.

“Ambil dan rawat kedua bayi ini! Edmund!” perintah Yvonne dengan wajah dingin selayaknya patung es. “Kita akan membesarkannya!”

Dan kemudian, Yvonne langsung melenggang

pergi dari sana. Melewati kekacauan yang berupa banyak sekali puing-puing bangunan yang terbakar, dengan bau hangus dan angin yang berembus kencang di tempat itu.

Sedangkan Edmund? Ah, pria itu kelabakan karena mulai saat ini, ia harus merawat dan mengasuh kedua bayi itu. Bayi yang menggemaskan sekali, hanya saja, entah misteri apa yang ada di kedua bayi yang mendadak muncul itu ....

Hanya Yvonne yang tahu!

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED