Happy reading
***
Beberapa menit berlalu akhirnya mobil Grace tiba di restoran Nara. Ambiance tempatnya super kece dan pelayanannya sangat ramah. Ia dan Grace pernah ke tempat ini sebelumnya, vibes nya Jepang dan dekorasinya sangat detail. Restorannya bagus karena kelihatan megah dari luar. Mostly makanannya juga super enak.
Mereka menatap ke arah lobby, banyak sekali anak-anak muda berpasangan ke tempat ini. Krystal dan Grace memilih duduk di salah satu table di lantai dua, karena di lantai bawah sudah terisi penuh oleh pengunjung. Mereka memesan beef korokke, mentai creamy soba, duck breast with pumpkin Roast, houjicha tiramisu dan coffee pana cota.
Setelah memesan itu, server meninggalkan table mereka. Grace melihat ke arah restoran suasananya tidakk terlalu berisik mungkin karena lebih restoran ini lebih cocok untuk mereka yang sedang diner dengan pasangan, karena tempatnya eye catching. Kebetulan ini malam weekend, suasana terlihat dipenuhi oleh muda-mudi yang sedang memadu kasih.
“Lo tau nggak?” Ucap Grace.
“Apa?”
“Nyokap gue, nyuruh gue nikah mulu. Sampe panas telinga gue di suruh nikah,” dengus Grace.
“Gue sebenernya kalau ditanya kapan nikah Cuma sekali, oke gue nggak masalah. Kalau keseringan dan kejombloan gue selalu dipertanyakan, eneg tau nggak sih lo,” timpal Grace lagi.
“Katanya gue cantik, jenjang karir oke, privilege jangan ditanya, sering nongkrong sana sini. Masa masih jomblo. Kayak jadi bahan becandaan gitu.”
“Mama juga sering bilang, anak temen mama sudah pada nikah loh, kok kamu belum nyusul? Kayak nggak ada topik pembicaraan lain.”
“Bahas baju pengantin kek, konsep pernikahan oke kek, cateringnya enak kek, atau paling enggak nanyain fotografernya keren. Lah, ini ditanyain kamu kapan nyusul anak temen mama? Umur kamu udah 28 loh.”
“Terus kalau temen-temennya mama gue nikah, masa kita ikut-ikutan nikah, enggak kan?”
Krystal mendengar itu lalu tertawa, “Terus lo nanggepin gimana?”
“Yah, aku jawab aja. Tunggu dikasih Tuhan mama. Mohon doanya, ya, ma!”
Krystal yang mendengar itu lalu tertawa, untuk generasi milenial seperti dirinya dan Grace, apalagi umurnya sudah hampir berkepala tiga, tentunya sering sekali ditanya, “Kapan menikah?”. Kalimat itu sangat mengesalkan menurutnya. Apalagi orang yang bertanya itu jelas mengetahui bahwa dirinya jomblo.
Apalagi sedang berkumpul acara keluarga, pasti ada saja, saudara bertanya hal demikian. Menurutnya pernikahan itu bukanlah hal untuk ajang cepat-cepat. Jadi tidak perlu nyusul-menyusul atau balap-balapan. Ia juga tidak ingin mempermainkan pernikahan, karena itu membutuhkan persiapan yang matang.
Pertanyaan itu seolah menjadi pembanding dirinya dengan orang-orang yang sudah menikah. Seolah membandingkan hidup dirinya sangat menyengsarakan dan yang sudah menikah hidup bahagia. Padahal kehidupan pernikahan tidak sesederhana itu, banyak sekali masalah yang dihadapi. Jika pernikahan itu bahagia, kenapa banyak sekali orang di luar sana memilih bercerai dengan pasangannya.
Ia sebagai wanita single yang matang, tentu saja menikmati aktivitas dan kesibukannya sebagai pekerja. Sebenarnya ia masih bingung, apa yang menjadi alasannya untuk menikah? Ia menikah untuk apa? Supaya hidup bahagia? Kalau pernikahan itu bahagia kenapa banyak sekali yang menikah memilih bercerai. Harusnya jika ingin bahagia, bahagia diri sendiri terlebih dahulu baru pasangan.
Ia tahu diumurnya segini, budaya timur seperti Indonesia bahwa pernikahan itu suatu yang dibanggakan. Para orang tua pencari validasi dan tukang pamer. Status menikah layaknya gelar sarjana yang bisa digunakan untuk membuat keluarga pamer dan kagum. Ingatlah, kapan ia ingin menikah dengan siapa ingin menikah itu sepenuhnya urusannya.
“Udah lah, jangan dipikirin soal menikah. Yang menikah punya anak, cere kok ujung-ujungnya.”
“Nah itu, gue aja sampe sekarang belum kepikiran mau nikah. Apalagi kalau dauber-uber kayak gitu, makin males mau cari pasangan.”
“Exaclty. Udahlah jangan dipikirin, nikmatin aja kejombloan kita,” ucap Krystal terkekeh.
Krystal dan Grace tidak lupa mengabadikan moment kebersamaan mereka di restoran. Krystal menyicipi beef korokke rasanya enak tekturnya crunchy dan tidak berminyak serta isiannya yang padat dan nikmat. Tidak lupa duck breast nya lembut dan empuk, tidak amis. Ditambah dengan suasana dan tempatnya yang nyaman dan bikin betah.
“Tau nggak sih lo, kalau gue sebenarnya lebih suka mengupgrade diri dan stay single, dari pada mikirin nikah. Orang di luar sana banyak kan, yang masih single tetap bahagia, dibanding yang udah punya anak. Now I want to seize the days, i want to living life to the fullest!”
“Sepemikiran sih sama lo,” ucap Krystal.
“Btw, next time kita liburan, ya,” Grace memasukan makanannya ke dalam mulut.
“Ah, lo gitu terus. Bukannya lo yang sibuk banget.”
“Yah, namanya juga kerja corporate. Susah gue off, kecuali cuti, tanggal merah sama weekend. Belum lagi ketemu klien yang banyak maunya. Ini itu, maunya yang menjual, mau yang lagi hype.”
Grace menatap Krystal lagi, ia memegang jemari sahabatnya, “Gue usahain, gue ambil cuti cepet. Biar kita ke Bali.”
“Bener?”
“Iya.”
Krystal dan Grace kembali makannya dengan tenang. Banyak yang mengatakan bahwa persahabatan yang lebih dari tujuh tahun akan menjadi awet bahkan sampai berumur. Ia dan Grace lebih dari tujuh tahun, mereka sudah bersahabat tiga belas tahun lamanya sejak SMA. Ia banyak teman, namun untuk sahabat hanya Grace yang ada di hatinya.
***
Setelah makan malam di Nara, Grace dan Krystal memutuskan untuk pulang.
“Thank’s ya Grace,” ucap Krystal membuka hendel pintu, ia keluar dari mobil, Krystal melambaikan tangan ke arah Grace.
“Lo hati-hati bawa mobil.”
“Oke. Salam buat tetangga sebelah,” ucap Grace tertawa.
“Uh, dasar lo ya.”
“Oiya, saran gue. Lo sekali-kali buka baju deh, buat siluet kayak dia. Dia kayak sengaja pamer badannya yang super keren itu sama lo, dan sekarang giliran lo, tunjukin kalau lo punya body, oke.”
Krystal tertawa geli, “No, aneh aja lo.”
“Come on, coba aja, pasti dia bakalan langsung melotot liat lo yang super sexy.”
“Ih, nggak mau ah. Enak aja.”
“Ye, dibilangin.”
Grece tertawa dan mobilnya pun meninggalkan area rumah krystal. Krystal membuka pintu pagar, setelah itu ia menutup pintu kembali. Ia melangkahkan kakinya menuju pintu utama. Ia melihat ruang tengah sudah di matikan oleh bibi. Ia lalu melanjutkan ke atas ruangannya. Ia melirik jam di dinding menunjukan pukul 22.10 menit. Tadi ia dan Grace sebenarnya ingin melanjutkan ke bar menikmati segelas beer. Namun mereka mengurungkan niat itu, malah memilih untuk pulang, karena Grace sudah disuruh pulang oleh orang tuanya, karena mobilnya akan di pinjam oleh adiknya.
Krystal masuk ke dalam kamarnya, ia menghidupkan saklar lampu, seketika lampu menyala. Ia melihat ke arah jendela. Ia sedikit kecewa karena ia tidak mendepati pria itu di sana. Krystal membuka gorden itu, agar ia bisa melihat secara jelas, siapa tahu pria itu ada di sana. Krystal mengeluarkan isi yang di dalam tasnya, dan menaruhnya lagi di lemari. Setelah itu ia membuka dress nya begitu saja, menyisakan bra dan g-stringnya.
Krystal menatap pantulannya di cermin. Ia tahu bahwa sudah naluri dari Tuhan bahwa pria menyukai wanita cantik dan sexy. Sama halnya dengan wanita pasti menyukai pria tampan dan gagah. Lihat saja semua industry bisnis kebanyakan teknik advertisingnya, menampilkan model menarik dengan mengeksploitasi wanita dengan pakaian sexy. Coba saja pakaian nenek-nenek tua siapa yang mau melihatnya.
Ia juga sebagai desainer fashion juga selalu mencari tinggi badan minimal 175 cm, lingkaran dada 86 cm, lingkaran pinggang 58 cm dan 85 cm untuk lingkaran pinggul. Untuk urusan model ia memang sangat pemilih, ia biasa mencari model professional, karena biasanya karyanya selalu di pakai di event-event besar, bahkan pernah beberapa kali di tampilkan di majalah Vogue dan Harper Bazar.
Krystal mendengar ponselnya bergetar, ia memandang ke arah layar ponsel “Ernest Calling” ia menggeser tombol hijau pada layar, ia duduk di kursi malas di dekat jendela. Ia membaringkan tubuhnya di sana, ia menaikan kepalanya di bantal.
“Hai, sayang,” ucap Ernest di balik speaker ponselnya.
Krystal tersenyum mendengar kata sayang di sana, “Kamu di mana?” Tanya Krystal.
“Aku lagi Dubai.”
“Wah.”
“Aku baru aja landing, sekarang lagi di hotel,” Ernest tahu bahwa perbedaan Jakarta dan Dubai, Jakarta lebih cepat tiga jam dibanding Dubai.
“Sama siapa?”
“Sendiri. Kamu tadi ngapain aja?” Tanya Ernest lagi.
“Aku baru pulang sama Grace, tadi kita makan di Nara. Nothing special, Grace yang kesal karena mamanya mendesak untuk dirinya segera menikah,” ucap Krystal menceritakan apa yang telah ia lalui hari ini.
“Really?”
“Yes. Biasalah ibu-ibu di Indonesia yang selalu mendesak anaknya menikah, enggak heran lagi.”
“Exactly.”
“Habis ini kamu ke mana?” Tanya Krystal.
“Ini aku mau makan, ini mau turun ke hotel.”
“Yaudah kamu makan yang banyak.”
“Oke, sayang. Miss you.”
“Miss you to.”
Krystal mematikan sambungan telfonnya, ia dan Ernest masih menjaga hubungan baik. Sebenarnya ia dan Ernest tidak ada hubungan yang mengikat dan mereka hanya dekat, namun tidak mengikrarkan bahwa mereka berpacara. Tapi mereka tetap menjaga hubungan baik.
Krystal beranjak dari duduknya, ia merenggangkan otot tubuhnya. Ia menoleh ke samping seketika ia bergeming. Mereka saling menatap beberapa detik. Ia melihat seorang pria yang sedang berdiri sambil memandangnya dengan tatapan intens. Pria itu tidak lagi menampakan siluet melainkan memperlihatkan siapa dirinya. “Oh, my God,” terika Krystal dalam hati.
***
Happy reading
***
Krystal menelan ludah, ia masih menatap ke arah depan. Kini mereka saling menatap satu sama lain. Walau dari kejauhan, ia dapat melihat secara jelas bahwa dia memiliki rahang yang tegas, hidung mancung dan alis yang tebal. Lihatlah betapa tampannya pria yang sedang berdiri menatapnya di sana dari kejauhan.
Jantung Krystal seketika berdegup kencang, ia merasa bahwa ia sedang keergok mengintip. Beberapa detik menatap dari kejauhan, alam sadar Krystal berbunyi. Kini yang ia lakukan berdiri dalam keadaan naked dengan horden terbuka. Dengan cepat Krystal lalu menutup hordennya.
Harusnya tadi ia tidak ikut saran Grace untuk berpenampilan sexy, apalagi dalam keadaan horden terbuka. Sekarang justru dirinya sedang di tatap balik oleh pria di balik horden di samping rumahnya itu. Ia yakin pria di sana pasti seperti singa yang ingin langsung menerkamnya, detik ini menjadikannya santapan lezat.
Krystal dengan cepat ia masuk ke dalam kamar mandi mengambil handuk kimononya dan ia kenakan segera. Ia melangkah menuju wastafel mencuci wajahanya dengan facial wash.
“Oh, God,” desis Krystal, ia masih bersyukur kalau dia masih berpakaian underware, untung saja ia tidak sepenuhnya naked.
Tapi tetap saja, apa yang telah ia lakukan itu tujuannya untuk menarik perhatian pria. Penampilannya tadi terlihat seperti wanita mengundang pria itu untuk masuk ke kamarnya. Ia bisa membayangkan bagaimana tubuhnya tadi berjalan, tiduran di kursi malas dengan kaki terangkat sambil menelfon Ernest. Yang ia kenakan itu hanya berupa bra dan celana dalam berbahan tipis. Bisa-bisanya ia seperti wanita binal yang haus akan belaian laki-laki.
Krystal lalu keluar dari kamar mandi, ia mengambil handuk kecil mengeringkan wajahnya dengan handuk. Krystal mengambil ponselnya di meja. Ia mencari nomor Grace, Grace harus tahu apa yang telah ia alami. Ia mendengar suara sambungan di balik ponselnya. Beberapa detik kemudian ponselnya terangkat.
“Iya, halo, Krys,” ucap Grace yang baru keluar dari mobilnya.
“OMG, lo tau nggak!”
“Apa?” Tanya Grace bingung, ia melangkah masuk ke dalam rumahnya.
“Sumpah! Lo pasti nggak percaya. Tetangga gue nginpitin gue!” Ucap Krystal nyaris memekik.
“Serius!”
“Sumpah! Serius!”
“Terus-terus, “ ucap Grace semakin penasaran.
“Untung gue tadi nggak naked.”
“HAH! Jadi lo nggak pakek baju?”
“Enggak, gue cuma pakek bra dan celana dalam doang. Gue mikirnya tadi kan dia nggak ada di sana, yaudah gue buka horden gue. Gue nggak sadar, setelah selesai nelfon Ernest, gue baru sadar kalau jendela sebelah natap gue. Well, sekarang gue nggak tau harus bagaimana, gue bingung parah. Kayaknya dia tahu kalau selama ini gue ngintip dia.”
Grace hanya bisa tertawa geli, “Terus tampangnya gimana?” Tanya Grace penasaran.
“Not bad. Lumayan sih kalau dari jauh, Tapi nggak tau kalau dari deket,” ucap Krystal lagi.
“Kalau lo bilang lumayan, berarti kece dong.”
“Kayaknya sih.”
“Tapi feeling gue, kalau dia tau ya kalau gue ngintip dia selama ini.”
“Serius?”
“Kayaknya sih. Gue kurang yakin. Tapi kayaknya dia tahu gitu.”
“Emang berapa lama lo ngintipin dia?” Grace semakin penasaran.
“Sebulan gitu deh.”
“HAH! Selama itu?”
“Enggak sengaja, kan balik butik gue langsung ke rumah. Jam enam dan jam tuju dia pasti di sana. sedangkan gue di kamar kan jam-jam segitu,” ucap Krystal menceritakan.
“Kalau sekarang, lo ketemu dia gimana?”
“Nah itu. Gue gimana dong?” Krystal panik.
“Aksi neked lo tadi, kayaknya dia mulai mau terang-terangan gitu ngadepin lo, seolah lo nantangin buat neked bareng,” ucap Grace to the point.
“Ih, gila aja neked bareng.”
Grace lalu tertawa geli, ia bersandar di kursi, “Semoga aja dia nggak tau, kalau lo ngintipin dia udah lama.”
“Semoga aja deh.”
“Coba lo intip di jendela, masih ada dia nggak?”
“Ih, takut gua.”
“Intip doang, masih ada dia nggak.”
Krystal menelan ludah, ia mengintip ke arah jendela sebentar, ia tidak mendapati pria itu di sana. Krystal merasa lega pria itu tidak ada di sana.
“Enggak ada.”
“Syukurlah kalau gitu.”
Krystal merasa lega luar biasa, ia tidak mendapati pria itu disana. Beberapa detik berlalu ia mendengar suara ketukan dari balik pintu.
“Ada yang ngetuk pintu gua,” ucap Krystal memekik.
“Siapa?”
“Palingan bibi, siapa lagi. Tapi perasaan gua nggak enak, Grace.”
“Jangan-jangan tamunya tetangga lo itu.”
“Ah, masa sih. Nggak mungkin lah, kan nggak kenal.”
“Siapa tau kan dia nekad, karena udah liat lo naked.”
“Jangan nakut-nakutin gue dong.”
“Cepet, buka pintu lo sana,” ucap Grace.
Krystal lalu melangkahkan kakinya, ia membuka hendel pintu. Ia memandang bibi di depan daun pintu.
“Malam, non.”
“Iya, bi. Ada apa?”
“Ada, tamu nyariin, non.”
Alis Krystal terangkat, “Siapa?”
“Katanya dari pak Ray, tetangga sebelah. Mau ketemu non.”
“Ray?”
“Iya, non, tetangga sebelah katanya.”
Jantung Krystal seketika maraton hebat ketika mendengar nama pria bernama Ray yang merupakan tetangga sebelah. Sepanjang hidupnya ia sama sekali tidak pernah mengenal pria bernama Ray, mau itu teman dari primary school hingga study in Paris, ia sama sekali tidak pernah mengenal nama Ray. Satu-satunya pria bernama Ray itu adalah tetangganya. Jujur ia ingin pingsan sekarang juga, dari pada bertemu dengan pria yang menatapnya naked di jendela kamarnya. Sekarang pria itu kini malah justru menghampirinya.
“Mampus!” Umpat Krystal dalam hati.
Krystal menenangkan hatinya, “Kenapa nggak di usir aja bi tadi,” ucap Krystal pelan.
“Yah, nggak tahu, non. Soalnya non enggak ada konfirmasi ke bibi.”
“Haduh gimana, ya.”
“Apa, bibi bilang kalau non Krystal lagi tidur, ya?”
“Eh, jangan kasih alasan itu,” gumam Krystal, masalahnya tadi pria itu sudah tahu kalau mereka saling menatap, masa dalam waktu beberpaa menit ia tertidur, itu sama sekali tidak masuk akal.
“Oke, nanti aku ke bawah,” ucap Krystal lagi.
“Baik, non.”
Krystal menarik nafas, ia melihat bibi turun ke bawah. Ia menutup pintu kamarnya lagi.
“Krys, Krys lo denger gue nggak,” ucap Grace, ia mendengar percakapan bibi dan Krystal di balik ponselnya.
“Iya, denger.”
“Beneran tetangga lo datang?”
“Iya, serius dia datang. Haduh, gue gimana nih. Nekat banget tuh orang, langsung datang ke rumah gue.”
“Yaudah, lo hadapin aja.”
“Gue harus ngomong apa, kalau ngadapin dia, Grace!” Ucap Krystal panik, ia ingin sekali membenturkan kepalanya ke dinding.
“Yaudah, ngomong apa adanya.”
“Ada adanya gimana? Masa gue bilang, sorry, ya selama ini gue nggak sengaja ngintipin, lo. Gue nggak ada maksud apa-apa, kok. Gue ngomong gitu?”
“Eh, jangan gitu. Bilang aja kalau, lo nggak tau, lo nggak liat dia selama ini. Karena posisinya emang berhadapan dengan kamar lo. Lagian kenapa sih, dia sampe nyamperin lo?”
“Nah itu. Kayak nggak ada kerjaan aja. Biasa yang nggak terima itu kan gue ya, si cewek, karena dia udah liat gue naked. Lah ini gue yang di samper. Haduh, kok gue gelisah gini ya, Grace.”
“Lo ambil nafas, lo pokoknya tenang.”
Krystal menarik nafas, ia mengikuti intruksi Grace agar tenang, “Oke.”
Krystal lalu melangkah menuju lemari, ia meletakan ponselnya di meja, ia mengambil pakaian tidurnya berbahan satin itu dan lalu mengenakannya. Ia menatap penampilannya di cermin, ia mengambil lipstiknya berwarna nude dan ia oles pada bibirnya. Ia tidak menggunakan makeup, kecuali mengoles liptik. Kalau alis karena ia sudah menggunakan sulam alis sejak satu tahun yang lalu, jadi ia tidak perlu repot-repot melakukannya. Krystal menguatkan hatinya, ia lalu melangkah turun ke bawah menghampiri tetangga sebelah rumahnya. Seharusnya bibi sudah tidak menerima tamu, malam-malam seperti ini, karena sudah hampir jam sebelan malam.
Krystal melihat ke lantai bawah ia memandang bibi yang sedang duduk menonton TV. Ia lalu menuju pintu utama. Jantung Krystal tidak berhenti maraton, ia harus bisa menghadapi kenyataan. Akhirnya ia ketemu dengan pria yang sudah sebulan ia intip dibalik kamarnya. Perasaanya campur aduk, ia bingung akan berbuat apa, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Langkah Krystal terhenti, ia menatap seorang pria tepat di daun pintu. Seketika tatapan mereka bertemu, jantung Krystal seolah berhenti berdekat. Biasa pria itu yang ia lihat dari keca jendela kamarnya, memandang dari kejauhan. Sekarang pria itu tepat dihadapannya.
Apa yang ia lihat di balik jendela kamarnya di luar exspetasinya, realitanya pria itu jauh lebih tampan dari apa yang dibayangkannya. Rahangnya kokoh, sedikit ditumbuhi bulu halus, alis tebal, mata tajam. Tubuhnya tinggi dan tegap, ia yakin dibalik kaos hitam dan celana pendek Puma yang dikenakannya terdapat bentuk tubuh yang sempurna. Rambutnya sedikti berantakan, namun tidak mengurangi ketampanannya. Ia hanya bergeming.
“Siapa, ya?” Ucap Krystal pelan.
Bibir pria itu terangkat, namun tanpa senyum, “Saya, Ray tetangga sebelah kamu,” ucapnya lalu mengulurkan kepada gadis di hadapannya.
***