Bab 2

Briana menangisi nasibnya, harus mengandung pada saat dia baru saja menikmati masa-masa mudanya. Dia baru saja lulus dengan nilai sempurna dan mendapatkan pekerjaan di perusahaan impiannya. Semua yang baru saja dia alami kini terasa hancur karena kehamilannya.

"Bri, lo udah bangun? Gue masuk ya." Teriakan suara dari luar kamar mandi mengagetkan Briana sampai-sampai alat tes yang ada di tangannya terjatuh. Briana buru-buru mengambil alat tes itu dan menyembunyikannya di tangan.

Setelah mencuci muka, Briana keluar dari kamar mandi dan menemui saudara tirinya, Davira, yang sedari tadi teriak-teriak heboh, tampaknya mencari sesuatu.

"Bri, gue boleh minjem uang lo nggak? Uang gue udah habis," kata gadis itu sambil mengangkat tangannya di depan Briana.

"Gue nggak punya uang lebih, Vir. Gajian masih lama," balas Bri, yang sudah merasa cukup muak dengan permintaan uang yang terus-menerus datang dari Davira, saudara tirinya. Davira selalu meminta uang dengan alasan meminjam, tapi uang tersebut tidak pernah dikembalikan seperti yang dijanjikan.

"Ya ampun, Bri, lo pelit banget. Nanti kalau gue sudah menjadi artis terkenal, lo juga akan mendapatkan manfaatnya." Davira mulai menggeledah tas Briana yang terletak di meja.

"Vir, gue bilang gue nggak punya uang," kata Briana sambil berusaha merebut kembali tasnya. Tanpa disadari oleh Bri, di tangannya masih ada alat tes kehamilan, dan Davira berhasil melihatnya.

"Apa itu yang lo pegang di tangan lo?" Davira memaksakan diri merebut alat itu dari tangan Briana dan berhasil.

"Vir, kembalikan. Tolong!" Briana berusaha merebutnya kembali, tetapi sudah terlambat.

"Lo hamil!" Davira berteriak, membuat Briana merasa lemas dan menunduk. Bahkan jika dia mencoba untuk membantah, Davira sudah mengetahuinya. "Gue akan kasih tahu mama," kata Davira, lalu membawa alat tes milik Briana.

Mengapa semua ini harus terjadi begitu cepat? Ayah pasti akan sangat marah. Semua ini adalah kesalahan bayi ini dan laki-laki brengsek itu.

Setelah Davira pergi, tidak butuh waktu lama sebelum gadis itu kembali ke kamar Briana dengan membawa kedua orang tua mereka. Ayah Briana tampak sangat marah dengan wajah yang memerah.

"Apa ini, Briana?" tanya ayah Briana dengan kasar, sambil melemparkan alat tes kehamilan ke arah putrinya.

"Maafkan aku, Yah. Tapi ini bukan salahku," Briana mencoba membela diri.

"Bukan salahmu? Kamu berani berkata begitu?" Ayah Briana berteriak dan melemparkan tamparan ke wajah Briana. "Anak yang tidak tahu malu!" Tamparan kedua mengenai pipinya.

Ayahnya pergi, sementara ibu tirinya tersenyum, dan Davira hanya diam, menatap Briana yang menangis. Meskipun ada rasa kasihan di hati kecil Davira, dia juga takut akan amarah sang ayah.

"Kita diam saja, biar Ayah yang mengurusnya," bisik ibu tiri Briana pada Davira.

Setelah itu, ayah Briana masuk dengan membawa sapu, masih dengan wajah marah, dan bertanya dengan keras, "Siapa ayahnya? Ayah tidak akan mentolerir keberadaan anak haram di rumah ini!" Ayah Briana mengangkat gagang sapu ke udara, membuat Briana ketakutan dan semakin menangis.

"Jawab!" bentak sang Ayah.

"Teman SMA, Yah. Aku tidak tahu di mana dia sekarang," jawab Briana dengan lirih.

"Apa? Jadi dia juga tidak mau bertanggung jawab?" Suara papa semakin meninggi, hampir saja Ayahnya memukul Briana dengan sapu, tapi tiba-tiba....

"Ayah, jangan! Kasihan anaknya Bri," teriak Davira yang merasa tidak tega dengan bayi dalam kandungan saudara tirinya itu.

"Davira, jangan ikut campur," sahut ibu tiri hasna.

"Kasihan anaknya, Ma. Dia tidak bersalah," balas Davira.

Gadis itu ternyata masih punya hati nurani. Walau bagaimanapun, ia dan Briana dari kecil sudah bersama-sama. Apalagi ia juga sangat menyukai anak kecil.

"Pergilah kamu dari sini, Briana! Ayah tidak mau kamu ada di rumah ini!"

"Ayah, maafkan aku." Briana bersimpuh di kaki papanya, tapi sang ayah malah menarik kakinya menjauhi Briana.

"Ayah bilang pergi! Davira, bantu Briana mengemas barang-barangnya dan kosongkan kamar ini!" Ayah Briana kemudian meninggalkan kamar Bri, diikuti ibu tirinya yang berjalan di belakang suaminya.

"Gue benci anak ini, Vir!" ujar Briana.

Davira membantu Briana mengemas pakaian dan barang-barang milik Briana sesuai perintah Ayahnya. Keluarga Briana memang keluarga terpandang, terutama keluarga dari Ayahnya itu. Bagi mereka, hamil di luar nikah adalah aib, apapun alasannya, dan Ayah Briana termasuk orang yang sangat tunduk dengan aturan keluarga besarnya.

Briana berpamitan dengan Ayah dan Ibunya yang tengah duduk di ruang keluarga. Ayah Briana melengos saat Briana hendak mencium tangan laki-laki itu.

"Ayah, maafin aku. Aku diperkosa, Yah, dan aku nggak bisa ngelawan dia," kata Briana yang masih berusaha mendapatkan maaf Ayahnya.

"Kamu pikir Ayah percaya sama kamu. Kalau kamu diperkosa, kenapa nggak langsung lapor polisi? Apa pun alasan kamu, kamu tetap harus keluar dari rumah ini," ucap Ayah Briana tanpa mau menatap putrinya.

"Baiklah, Briana pergi, Yah. Jaga kesehatan, Ayah," ujar Briana.

Ayahnya segera berdiri dan meninggalkan ruang keluarga.

***

Sekarang Briana berada di sebuah rumah kontrakan kecil yang ditempatinya dengan harga yang cukup terjangkau. Bersama Davira, Briana membersihkan kamar barunya dan merapikan barang-barangnya.

"Gue sebenarnya pengen pergi sama Ezra, tapi ngelihat lo kaya gini, gue jadi merasa bersalah," ucap Davira, membuka percakapan setelah beberapa saat mereka berdua terdiam.

"Nggak apa-apa, Vir. Terima kasih udah mau membantu pindahan gue," balas Briana.

"Jujur deh sama gue, siapa yang hamilin lo?" tanya Davira dengan serius.

"Kalau temen SMA lo, sedikit banyak gue pasti kenal." Lanjutnya.

"Gian," jawab Briana dengan singkat.

"Gian yang suka ngejek lo, buli lo itu? Setega itu dia sampe perkosa lo?" Briana hanya mengangguk. Ia juga tidak menyangka jika Gian tega melakukan hal rendah itu padanya.

"Udah. Lo nggak usah mikir aneh-aneh. Lo jaga anak lo baik-baik, dia nggak salah apa-apa. Dia juga ponakan gue, darah daging lo sendiri. Soal ibu kos lo, gue bilang kalau lo nikah siri dan ditinggal selingkuh sama laki lo." Ucap Davira menenangkan saudara tirinya itu.

"Percaya?"

"Lo ngeraguin kemampuan akting gue? Gue ini calon artis terkenal," jawab Davira dengan bangga.

"lya deh, percaya."

"Bri, gue nggak akan minta duit ke lo lagi, kali ini gue pengen bantuin lo. Kita rawat anak lo bareng-bareng ya. Meskipun gue suka jahat ke lo, ngambil duit lo, tapi lihat lo dipukul Ayah, gue juga nggak tega, Briana." Ujar Davira dengan jujur.

"Thanks Vir. Lo bener-bener saudara gue, satu-satunya yang bisa ngertiin gue." Mereka pun berpelukan, Davira mengusap punggung Briana dengan sayang. Meski mereka tidak memiliki hubungan darah, tapi Briana sangat menyayangi Davira, seperti Davira menyayanginya.

Kehamilan Briana semakin lama semakin membesar. Tetangga-tetangga mulai mencibir dan menjadikan Briana sebagai bahan gosip mereka. Meski Davira bisa mengatasi masalah Briana itu dengan mudah, tetap saja Briana memiliki rasa benci pada anak yang dikandungnya itu.

Saat di kantor pun, tidak sedikit yang menggosipkannya sebagai simpanan bos. Briana masih tidak memedulikannya, baginya yang terpenting adalah ia masih bisa bekerja dan menghasilkan uang.

Bos di tempatnya bekerja juga tidak mempermasalahkan status Briana. Selagi Briana bekerja dengan baik dan tidak merugikan perusahaan, maka Briana masih diizinkan bekerja.

"Bri, kamu nggak apa-apa?" tanya Dirga, atasan Briana sekaligus wakil direktur di perusahaan itu.

"Nggak apa-apa, Pak. Saya cuma merasa mules dari tadi," jawab Briana sembari memegangi perutnya yang semakin membesar.

Sebenarnya Dirga sudah menyuruh Briana untuk mengambil cuti, tapi Briana menolak karena ia masih merasa kuat untuk bekerja.

"Kamu udah periksa ke dokter? Jangan-jangan kamu mau melahirkan?" tanya Dirga yang mulai terdengar panik.

"Belum, Pak. Nanti istirahat makan aja saya izin," jawab Briana menahan sakit. Tangan kanannya berulang kali meremas ujung kursi yang menjadi pegangannya, sedangkan tangan kirinya memegang perutnya yang semakin sakit.

"Saya antar kamu ke dokter, ya!." Dirga berdiri dari kursinya, lalu menuntun Briana yang tidak bisa lagi menolak karena perutnya memang sangat-sangat sakit.

Bab 3

Ketika tiba di rumah sakit, ternyata Briana sudah dalam keadaan pembukaan lima. Dirga tidak ingin meninggalkan Briana sendirian dan bahkan bersikeras menunggu sampai bayinya lahir, meskipun Davira sudah datang dan berterima kasih padanya karena telah mengantar Briana.

Davira masuk ke ruangan bersalin untuk menemani Bri, sementara Dirga menunggu di luar dengan perasaan cemas. Beberapa jam kemudian, Briana berhasil melahirkan seorang bayi laki-laki yang sehat secara normal. Setelah dipindahkan ke ruang perawatan, Dirga menemui Briana dan bayi kecil yang tertidur pulas di pangkuan Davira.

"Bri, selamat ya. Sekarang kamu sudah menjadi seorang ibu," kata Dirga sambil mengusap rambut Briana.

"Terima kasih, Pak." Briana hanya tersenyum dengan paksa, lalu terdiam.

Air matanya tiba-tiba mengalir begitu saja. Perasaan sesak yang selama ini berusaha dia lupakan, kini kembali menghampiri dirinya.

Anak itu memiliki mata coklat seperti dia, rambutnya sedikit bergelombang, dan warnanya tidak hitam seperti miliknya. Bentuk hidung dan bibirnya juga sama persis seperti si brengsek.

Mengapa anakku sangat mirip dengannya? Bisakah aku menerima kenyataan ini dan menjalani hidup dengan wajah yang sangat aku benci?

"Bri, kenapa kamu sedih? Kamu ingat mantan suamimu, kah?" tanya Dirga yang duduk di samping Briana.

"Bri, sudahlah, nggak usah dipikirin. Kata orang, wajah bayi itu berubah-ubah. Nanti juga lama-lama pasti mirip kamu kok, toh kamu yang hamil dan melahirkan dia. Jangan pedulikan si Gian brengsek itu." Kata Davira berusaha menenangkan Briana.

"Vir, jangan sebut namanya. Gue benci," teriak Briana dengan marah, tanpa memedulikan bahwa suaranya bisa membangunkan bayi kecil itu.

"Maaf, maaf."

***

Sejak kejadian malam itu, Gian yang harus mengejar pendidikan S2 di luar negeri terus dihantui perasaan bersalah. Meskipun dua tahun berlalu, Gian belum juga kembali. Dia dipaksa orang tuanya untuk bekerja di perusahaan asing tanpa menggunakan nama besar keluarga mereka. Setiap malam, ia merasa bersalah atas tindakannya. Namun, keadaan juga memaksanya untuk tidak bisa mencari Bri, wanita yang dicintainya.

Gian, yang dulunya bodoh dan salah menilai Briana sebagai seorang pelacur, akhirnya menyadari kesalahannya setelah menemukan noda merah di sprei yang ditinggalkan Briana. Noda itu menjadi saksi bisu atas kesalahannya sebagai seorang pria.

Dering ponsel yang berdering membuyarkan lamunannya, dia melihat panggilan video dari Daffa, sahabatnya semasa kuliah di luar negeri.

"Hai, Gian. Wah, makin jelek aja itu muka," sapa Daffa.

"Hei, Daffa, lo jelek. Tunggu saja minggu depan, Gue akan pulang ke Indonesia. Gue yakin akan lebih ganteng daripada lo," balas Gian sambil tertawa.

"Sialan lo. Eh, by the way, apakah lo benar-benar akan pulang? Itu bagus, gue mau memamerkan sesuatu," jawab Daffa sambil tertawa pula. Dia kemudian memamerkan ruang kerja yang kini menjadi miliknya, sebagai wakil direktur.

"Apa lo udah jadi direktur?" tanya Gian.

"Wakil direktur, bego! Gue menggantikan Kak Dirga. Lo harus datang ke sini suatu saat," jawab Daffa.

"Tentu saja." Ucap Gian.

"Permisi, Pak. Ini laporan bulan Juni yang Bapak minta."

Kamera ponsel Daffa merekam seorang wanita yang baru saja memasuki ruangannya. Gian sangat terkejut saat melihat wajah wanita itu. Beberapa saat kemudian, Daffa mematikan panggilannya.

"Briana? Apakah itu benar-benar Briana? Akankah dia memaafkanku setelah empat tahun berlalu?"

Setelah melihat wajah Briana meskipun hanya sebentar, hati Gian semakin gelisah. Dia memutuskan untuk segera pulang dan mencari Briana untuk meminta maaf. Gian segera mengunjungi Daffa untuk memastikan apakah wanita yang muncul di kantornya adalah Bri, wanita yang kesuciannya telah dirampok secara paksa olehnya.

"Lo bilang lo bakal pulang minggu depan, ini hanya lelucon, kan?" cela Daffa saat Gian tiba di apartemennya.

Gian, yang belum sadar bahwa dia sudah menjadi ayah, langsung menuju ke Jakarta setelah tahu tentang Briana.

"Apa lo udah mendapatkan informasi tentang wanita itu?" Gian tidak menjawab, justru dia kembali bertanya kepada sahabatnya, Daffa.

"Bri, maksud lo? Apa lo tertarik padanya? Lupakan saja, dia akan menikahi Kak Dirga." Jawab Daffa.

"Apa!?" Gian hampir berteriak karena terkejut. "Jadi Briana sudah punya calon suami?"

"Kak Dirga mengatakan begitu," jawab Daffa santai.

Mendengar kabar tersebut, Gian merasa sangat kecewa. Hatinya terasa hancur. Sekali lagi, kesempatan untuk memiliki Briana hilang dari genggamannya.

"Dari mana lo mengenalnya?" tanya Daffa setelah melihat Gian hanya terdiam.

"Kami teman sekelas di SMA." Jawab Gian.

Sejak kelahiran anak yang tidak diinginkan itu, Briana mulai menjalani hidup bersama putranya dan Davira. Davira, yang masih menjalani karir sebagai artis, dengan ikhlas membantu Briana dalam membesarkan anak laki-laki yang diberi nama Ethan. Bahkan, Davira yang mendorong Briana untuk mendaftarkan Ethan ke yayasan yang didedikasikan untuk merawat dan menjaga anak selama orang tuanya bekerja.

Davira sering menemani Ethan bermain, ia akan menjemput Ethan di tempat penitipan selama ia tidak sibuk, dan kemudian mengantarkannya pulang jika Briana belum pulang. Meskipun ibunya melarang, Davira sangat menyukai Ethan. Rasa sukanya pada bocah itu membuat Davira sering berbohong kepada ibunya sendiri demi bisa bertemu dengan Ethan.

Pagi ini, saat masih sangat pagi, Davira sudah datang ke rumah kontrakan Briana. Dia langsung mencari keberadaan Ethan.

"Ethan, Tante merindukanmu," kata Davira sambil memeluk Ethan yang baru saja selesai sarapan.

"Tante sudah lama tidak datang ke sini, Ethan juga kangen Tante, tau,?" balas Ethan sambil membalas pelukan Davira.

"Hari ini, Ethan hanya bersama Tante ya, Tante bosan dan tidak punya rencana lain. Tidak perlu pergi ke tempat penitipan hari ini," kata Davira sambil melepaskan pelukannya.

"Tapi, nanti Mama marah, nggak?" tanya Ethan dengan wajah polosnya.

"Mau kemana?" tanya Briana yang sudah bersiap dengan pakaian kerjanya.

"Eh, Bri. Gue mau ngajak Ethan pergi jalan-jalan, boleh kan? Hari ini gue nggak ada kerjaan. Malam ini gue juga mau menginap di sini," jawab Davira.

"Lo berantem sama Mama lagi ya?" tebak Briana.

"Iya, begitulah."

"Baiklah, terserah lo. Ethan, jangan makan coklat dulu, tadi malam Mama melihat gigi kamu mulai berlubang," pesan Briana sambil menuangkan nasi goreng ke piring, satu untuk dirinya dan satu untuk Davira.

"Ih, Ethan tidak menyikat giginya ya," ejek Davira sambil mengetuk pipi bulat Ethan dengan ujung jarinya.

"Ethan sudah menyikat giginya, Tante. Itu coklatnya yang nakal, menempel di gigi Ethan," bela Ethan.

"Sudah, Mama harus pergi bekerja sekarang. Hari ini, kamu bersama Tante Vir ya, hati-hati dan jangan nakal!" Briana mencium pipi Ethan sebelum berangkat kerja dengan motornya.

Setelah tiba di kantor, seperti biasanya, Briana langsung menuju ruangannya. Berkat kinerjanya yang bagus, Dirga mempromosikan Briana menjadi kepala bagian administrasi.

Sebelum makan siang, Briana diundang oleh Dirga ke ruangannya.

"Ya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Briana dengan ramah, karena dalam urusan profesional, dia memang ahlinya.

"Bri, nenekku ingin aku membawa calon istriku ke rumah. Kapan kamu bisa?"

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED