"Sepertinya di luar lebih menyenangkan ya dibanding dengan harus memperhatikan pelajaran yang sedang saya terangkan," ujar Dewa tiba-tiba sambil melipat kedua tangannya di dada.
Karena ucapannya, sontak seisi kelas langsung memperhatikan kemana arah mata Dewa, begitu juga dengan Priska. Ia tak sadar jika yang sedang disindir Dewa adalah dirinya. Tanpa merasa bersalah, Priska malah ikut-ikutan mencari sosok yang dimaksud gurunya itu.
"Kamu sedang apa, Priska? Mencari apa?" tanya Dewa kepada gadis berambut sebahu itu.
Priska seketika menoleh ke sumber suara dan menatap bingung ke Dewa.
"Kamu itu sedang mencari apa?" tanya Dewa lagi. "Yang saya sindir ya kamu bukan orang lain, untuk apa kamu celingukan sana-sini?" lanjutnya.
"Saya, Pak? Saya dari tadi memperhatikan Bapak kok," tunjuk Priska ke dirinya sendiri.
"Benarkah? Kalau begitu, coba jawab pertanyaan yang akan saya ajukan dan berikan saya jawaban yang benar jika memang kamu memperhatikan penjelasan saya. Tapi kalau sampai kamu salah ... bersiaplah kamu mendapatkan hukuman dari saya," pungkas Dewa.
Dengan yakin Priska pun mengangguk dan mengiyakan perkataan guru tampan itu, "Baik,"
"Ada pola penyerangan dalam permainan sepak bola yang dilakukan dengan susunan pemain 2-4-4. Dan pertanyaan saya, apa posisi dari 2 pemain ini? Silakan dijawab Priska," ujar Dewa.
Priska menelan salivanya, sekarang dia benar-benar merasa tersudut dan bingung harus menjawab apa.
"Kenapa diam? Katanya kamu memperhatikan saya? Seharusnya pertanyaan saya tadi mudah kan untuk dijawab?" sindir Dewa.
Merasa terpojok, Priska akhirnya memutuskan untuk mengakui kesalahannya saja dan berharap Dewa mau memperingan hukumannya.
"Maaf, Pak. Saya memang tidak terlalu memperhatikan, jadi saya tidak tahu jawabannya apa ..." lirih Priska.
Sontak, seisi kelas pun menyoraki Priska. Kelas yang tadinya hening, kini berubah ramai dengan murid-murid yang saling melempar ejekan ke Priska.
Dok dok dok.
Dewa mengetuk meja guru menggunakan penghapus yang sedari tadi dipegangnya supaya para murid kembali memperhatikannya dan tak membuat keributan lagi di kelas.
"Maju kamu," perintah Dewa sambil menjulurkan tangannya ke depan dan melambai ke arah Priska.
Tanpa bantahan, Priska pun beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan mendekati Dewa.
"Berdiri di depan papan tulis sampai saya mengizinkan kamu untuk duduk kembali," titah Dewa.
Dengan gontai, Priska kemudian berjalan ke belakang Dewa dan berdiri di depan papan tulis menghadap teman-temannya sama seperti apa yang diperintahkan Dewa.
"Kalau ada yang tidak memperhatikan penjelasan saya lagi, saya akan memberikan hukuman yang lebih buruk daripada hukuman yang saya berikan ke Priska. Paham?" tegas Guru tampan itu.
"Paham, Pak ..." jawab seisi kelas bersamaan.
Setelahnya, Dewa pun melanjutkan pelajarannya lagi. Guru muda itu memang selalu memasang wajah serius ketika sedang mengajar dan ia juga terkenal tegas dengan para muridnya. Namun, semua itu ia lakukan hanya saat berada di dalam kelas saja, selebihnya ia cukup terkenal sebagai guru yang baik, murah senyum dan tentunya gaul, mengingat usianya saat itu yang masih sangat muda.
Tik tok tik tok.
Tak terasa jam di dinding kelas telah menunjukan pukul delapan tepat, itu artinya sudah 1 jam berlalu sejak Dewa memberikan hukuman kepada Maya dan juga Rio. Ia pun memutuskan untuk menghentikan hukumannya itu dan memberikan kesempatan untuk Maya dan Rio kembali mengikuti pelajarannya.
Saat semua murid sedang sibuk menyalin tulisan yang dicatat di papan tulis oleh sekretaris kelas, di saat itulah Dewa berjalan santai dengan kedua tangannya dilipat ke belakang menuju keluar kelas untuk menemui Maya dan juga Rio.
"Ehem, kalian berdua masuklah dan ikuti pelajaran saya satu jam terakhir ini," ujar Dewa kepada dua murid bandelnya itu.
Maya dan Rio akhirnya bisa bernafas lega saat Dewa memberi keringanan atas hukuman mereka.
"Terima kasih, Pak ..." ucap keduanya kompak.
"Lain kali kalau saya ataupun guru lainnya memberikan tugas, maka segeralah kalian mengerjakannya. Mengerti?" tegas Dewa.
"Mengerti, Pak," jawab mereka. Dewa lantas kembali masuk ke dalam kelas dan diikuti oleh kedua muridnya.
"Duduklah dan fokus dengan pelajaran yang sedang saya jelaskan," titah Dewa kepada Priska.
"Baik, Pak. Terima kasih." Dengan senang hati, Priska pun juga kembali ke tempat duduknya setelah diizinkan oleh Dewa.
"Psst, May. Tolong ambilkan buku gue dong di laci meja lo," ujar Rio setengah berbisik.
Maya langsung mengambil buku yang dimaksud Rio ke dalam laci mejanya dan mengembalikannya ke Rio.
"Btw, thanks ya ..." tukas Maya sembari tersenyum.
"You'r welcome, Babe." balas Rio.
Tak ingin terkena masalah lagi dengan Dewa, keduanya pun segera mengakhiri candaan mereka dan fokus kepada apa yang tengah dijelaskan oleh sang Guru. Dari mejanya, Maya terlihat sedang menopang dagu sambil memperhatikan Dewa dengan seksama. Kedua matanya terus saja mengikuti setiap gerak guru muda yang tampan itu, seolah Maya tak ingin kehilangan sosoknya barang sedetik pun.
"Ya Tuhan, ini guru sempurna banget sih. Kalau lagi pakai seragam, kelihatan kharismanya kalau lagi pakai baju olah raga kelihatan seksinya ... Bikin hati gue tambah cenat-cenut aja." gumam Maya dalam hati.
Sudah resiko menjadi guru termuda dan juga tertampan di sekolahan, jika banyak murid perempuan di SMA Swasta Cakrawala menjadikannya idola. Tak hanya tampan, beberapa dari murid perempuan lainnya juga melihat Dewa sebagai pria yang menggairahkan serta seksi, begitu juga dengan pendapat Maya.
Bel berbunyi tiga kali, menandakan jika telah berakhirnya dua jam mata pelajaran.
"Karena jam saya sudah berakhir, maka pembahasan kita akan saya lanjutkan di minggu mendatang," ujar Dewa mengakhiri sesi pertemuannya. "Silahkan yang mau beristirahat," lanjutnya.
Seketika, para murid IPS 2 pun berhamburan keluar kelas. Ada yang langsung menuju ke kantin sekolah, ada juga yang menghabiskan jam istirahat mereka ke perpustakaan dan ada pula yang memilih untuk tidur di dalam kelas hingga jam istirahat berakhir.
"Ke kantin yuk, May. Gue udah laper banget nih," ajak Nadine sembari mengusap-usap perutnya.
"Lo duluan aja, Nad. Entar gue nyusul," tolaknya lembut.
"Lo mau ngapain dulu emangnya?" tanya Nadine kemudian.
"Gue mau ke toilet dulu bentar," ucapnya berbohong.
"Oh, oke deh. Entar beneran nyusul ya,"
"Oke." Sambil tersenyum, Maya melambaikan tangannya ke arah Nadine yang dibalas sama oleh teman baiknya itu.
Seperginya Nadine, Maya malah dengan sengaja menghampiri Dewa yang saat itu masih berada di dalam kelas sambil merapikan buku-buku tugas milik para murid IPS 2.
"Boleh saya bantu bawakan ke kantor tidak, Pak?" tanya Maya tiba-tiba.
"Silahkan," tukas Dewa sambil menatap dingin ke arah Maya.
Bergegas, Maya kemudian menumpuk buku-buku tugas milik teman-temannya itu lalu membawanya ke kantor guru.
"Eh eh, Pak Dewa ... tungguin saya," teriak Maya dari dalam kelas. Maya mempercepat langkah kakinya untuk mengejar Dewa yang saat itu sudah sampai di lorong kelas lain.
"Selamat pagi, Pak Dewa," sapa beberapa murid lainnya yang berpapasan dengan Dewa.
"Selamat pagi ..." balas Dewa sambil tersenyum ramah.
Melihat guru idamannya itu tersenyum kepada murid perempuan lain, membuat wajah Maya seketika menunjukkan ketidaksukaannya.
"Kalau sama murid lain aja senyum giliran sama gue marah-marah terus," gerutu Maya dengan lirih.
"Kamu sedang membicarakan saya, Maya?" tanya Dewa yang seolah ia mendengar gerutuan Maya.
"Ah tidak, Pak. Mana mungkin saya berani membicarakan Bapak," kelit Maya.
Dewa memalingkan pandangannya dari Maya, dengan sengaja Dewa mempercepat langkah kakinya agar ia tak perlu lagi berjalan berdampingan dengan murid yang menurutnya menyebalkan itu.
"Lah kok gue ditinggal lagi sih?" gerutu Maya.
Di saat yang bersamaan dari arah belakang Maya, tampak seorang wanita berseragam sama dengam Dewa sedang berjalan cepat dengan wajah berseri melewati Maya.
"Selamat pagi, Pak," sapa wanita itu kepada Dewa.
"Selamat pagi, Bu," balas Dewa dengan ramahnya.
Mereka berdua lantas berjalan bersama melewati lorong-lorong kelas lainnya. Maya yang melihat kedekatan mereka langsung memasang wajah tak suka.
"Dasar perempuan gatel," ejeknya. Sambil menegakkan tubuhnya ia kemudian berjalan cepat dan menerobos kedua gurunya itu.
"Permisi ... saya mau lewat, tapi jalannya ketutup sama tubuh kalian," ketus Maya tanpa menoleh ke belakang sedikitpun.
"Aw," pekik wanita di sebelah Dewa yang tampak terbentur tiang sekolah akibat terdorong tubuh Maya.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Dewa kepada guru di sebelahnya saat Maya sudah berlalu dari hadapan mereka.
"Iya, aku nggak apa-apa kok. Cuma agak terkejut aja gara-gara di dorong sama murid bandel satu itu," gerutu si wanita.
Dewa tersenyum manis sambil mengusap lembut tangan si wanita, "Jangan diambil hati ya, Sayang. Mungkin dia kayak gitu karena kesal sama aku gara-gara sering kukasih hukuman," ucapnya menenangkan.
"Dia bukan kesal, Mas. Tapi cemburu," tukas si wanita.
"Cemburu? Enggak mungkinlah, kamu itu terlalu mengada-ngada," balas Dewa sembari tertawa kecil.
"Aku ini wanita, Mas. Jadi aku bisa bedakan mana kesal karena hukuman dan kesal karena cemburu," bantah si wanita.
"Udahlah, nggak perlu lagi bahas si Maya," pungkas Dewa.
Usai berdebat kecil dengan Dewa, si wanita tiba-tiba saja menghentikan langkahnya di depan kelas yang kosong sambil mencekal lengan Dewa.
"Ada apa, Yang?" tanya Dewa sembari celingukan.
"Kenapa kamu nggak ngumumin aja ke semua orang tentang hubungan kita ini, Mas? Biar mereka semua tahu kalau kamu itu milikku. Jujur, aku selalu cemburu waktu murid-murid perempuan ataupun guru-guru wanita lainnya berlomba-lomba mencari perhatianmu, sedangkan aku sebagai pacarmu aja nggak pernah bisa berbuat seperti itu," ujar si wanita.
Dewa cukup tercengang dengan apa yang dikatakan wanita di sebelahnya itu.
"Yang, kenapa kamu bahas masalah ini lagi sih? Di sekolahan pula kalau ada yang dengar pembicaraan kita, gimana?" balas Dewa seraya melepas pelan genggaman si wanita.
"Ya biarin aja, biar orang tahu sekalian kalau kita ini statusnya berpacaran," ujar si wanita yang semakin membuat Dewa gusar.
"Pelankan suaramu, Yang. Aku bener-bener nggak mau kehilangan pekerjaanku sebagai guru di sekolahan ini," tegasnya pada si wanita yang tak lain adalah kekasihnya sejak sekolah SMA dulu.
Si wanita tersenyum sinis usai mendengar ucapan Dewa, "Selalu aja kamu lebih mentingin pekerjaan daripada perasaanku," lirihnya.
Puas meluapkan emosinya, si wanita lantas berjalan mendahului Dewa sambil menyela air matanya. Di sepanjang lorong, dia terus menerus mengusap wajahnya yang basah dan kemudian dia pun menghilang di balik tembok sekolahan.
Kriet.
Dewa yang sedang berdiri mematung di depan jendela kelas 11 IPA 3 tiba-tiba dikejutkan dengan suara pintu yang terbuka. Penasaran siapa yang membuka pintu, Dewa pun perlahan mendekati kelas yang dikiranya kosong itu.
"Kamu?" pekik Dewa saat melihat salah seorang muridnya tengah duduk di lantai sambil memegangi daun pintu.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Dewa sambil menatap tajam ke arah muridnya yang ternyata adalah Maya.
"Saya— saya sedang mencari teman saya di ruang kelas ini, Pak. Tapi sepertinya dia sedang berada di kantin," kilah Maya sembari membersihkan roknya yang terkena debu di lantai.
"Buku tugas teman-temanmu mana? Apa sudah kamu letakan ke meja saya?" tanya Dewa lagi.
"Sudah kok, Pak," jawab Maya.
Dengan sikapnya yang dingin, Dewa lantas berbalik arah lalu pergi meninggalkan Maya tanpa mengatakan apapun lagi.
"Jadi, Bapak sama Bu Sarah pacaran ya?" tanya Maya tiba-tiba.
Terkejut dengan apa yang dikatakan Maya, Dewa pun kembali membalikkan tubuhnya lalu berjalan cepat menghampiri Maya yang masih berdiri tegak di ambang pintu kelas.
"Ikut saya," ujar Dewa tiba-tiba sambil menarik tangan Maya.
"Bapak mau ngajak saya ke mana?" tanya Maya penasaran.
Bukannya menjawab, Dewa malah semakin mempercepat langkah kakinya dan mengajak Maya untuk meniti tangga sekolah. Tanpa perasaan takut sedikitpun di hatinya, Maya dengan santainya mengikuti langkah Dewa menuju ke lantai atas.
Di depan keduanya kini terdapat sebuah pintu besi yang hanya tertutup saja tanpa dikunci seperti biasanya. Bergegas Dewa membuka pintu di depannya itu yang kemudian memperlihatkan sebuah ruangan yang cukup luas dengan atap tembus pandang di atasnya. Ruangan itu biasanya hanya digunakan untuk menyimpan drum air dan terkadang digunakan juga oleh para siswa bandel sebagai tempat persembunyian bolos mereka.
Dewa kembali menutup pintu setelah Maya masuk ke ruangan itu bersamanya.
"Kita mau apa di sini, Pak?" tanya Maya tanpa menaruh curiga ke Dewa.
"Ada hal penting yang mau saya bicarakan ke kamu dan hal ini tidak bisa saya bicarakan di tempat lain selain di sini," ujar Dewa.
Maya mengernyitkan dahi lalu berkata, "Jangan bilang Bapak ngajak saya ke sini cuma mau membicarakan masalah hubungan Bapak sama Bu Sarah ya?" Tebaknya.
Dewa lantas mengangguk pelan, "Iya. Sekalian saya juga mau minta tolong ke kamu untuk tidak membocorkan masalah hubungan saya sama Sarah ke siapapun itu," pintanya.
"Memangnya kenapa kalau sampai orang-orang tahu? Bukannya hal itu yang malah diinginkan sama Bu Sarah ya, Pak?" tanya Maya yang sungguh-sungguh tidak mengerti dengan posisi Dewa di sekolahnya.
"Kalau sampai semua orang di sini tahu, maka profesi saya sebagai guru akan diberhentikan secara paksa oleh bapak Kepala Sekolah dan tidak lagi boleh mengajar di sekolahan ini," jelas Dewa. "Karena peraturan di sekolah ini tidak memperbolehkan para guru berpacaran dengan sesama guru apalagi dengan muridnya sendiri," lanjutnya.
"Jadi, nama baik Bapak dan Bu Sarah ada di tangan saya dong ya?" tanya Maya sembari tersenyum.
"Iya. Itu sebabnya saya mohon sekali sama kamu, Maya, untuk tidak membocorkan hubungan saya dengan Sarah kepada siapapun," ujar Dewa sambil memasang muka melas.
Mendengarnya, Maya lalu tersenyum sambil melipat kedua tangannya di dada, "Oke. Saya akan tutup mulut dan tidak membocorkan informasi apapun mengenai hubungan Bapak dan Bu Sarah tapi— ada syaratnya," ucapnya seolah sengaja digantung supaya Dewa merasa penasaran.
"Syarat? Syarat apa yang kamu maksud?" tanya Dewa sedikit geram.
"Syarat untuk tutup mulut sayalah," jawab Maya.
Dewa berdecak sambil berkacak pinggang, "Apa syaratnya?" tanyanya pasrah.
"Ada dua syarat yang harus Bapak penuhi, syarat pertama Bapak tidak boleh marah-marah dan jutek ke saya lagi. Sedangkan, untuk syarat kedua akan saya katakan ke Bapak kalau sudah tiba waktunya nanti," tukas Maya. "Gimana? Setuju, Pak?" tanyanya memastikan.
"Hanya itu? Baiklah saya penuhi permintaanmu," ucap Dewa.
Maya lalu mengulurkan tangannya ke Dewa yang kemudian dijabat oleh guru tampan itu. Bagi Dewa, persyaratan yang diajukan Maya sangatlah mudah dan tidak begitu memberatkannya. Toh, dia hanya perlu bersikap baik saja dan masalahnya akan teratasi.
Dirasa cukup, Dewa lantas mengajak Maya untuk keluar dari ruangan tersebut. Namun, sebelumnya Dewa menyuruh Maya untuk berjalan menuruni tangga terlebih dahulu baru kemudian dia menyusul di belakang. Tanpa membantah, Maya pun segera turun ke lantai bawah seperti yang diperintahkan Dewa dan kemudian ia bergegas kembali menuju kelasnya.
"Maya, lo ke mana aja sih? Gue nungguin lo di kantin sendirian, tahu!" omel Nadine sambil berkacak pinggang di tempatnya duduk.
Maya berjalan santai menghampiri Nadine sembari tersenyum senang, "Gue habis dari tempat yang belum pernah lo datangi," bisiknya.
"Tempat yang belum pernah gue datangi? Di mana emangnya?" tanya Nadine penasaran.
"Ada deh ..." Maya berjalan melewati Nadine kemudian duduk manis di bangkunya sendiri.
Di tempat lain, tepatnya di kantor guru terlihat Dewa yang sedang duduk di bangkunya sambil menunduk lesu. Dalam hatinya, ia benar-benar khawatir jika Maya sampai membongkar hubungannya dengan Sarah kepada teman-teman sepermainannya ataupun kepada pihak sekolahan padahal selama ini Dewa sudah berusaha untuk menutupi hubungannya itu supaya tak terendus oleh pihak lain. Tetapi, semuanya akan sia-sia jika Maya sampai membuka mulut dan menyebarluaskan perihal hubungan tersembunyinya itu.
"Sial ... sial ... hal yang sudah aku tutupi rapat-rapat selama ini malah ketahuan oleh muridku sendiri dan sialnya lagi, hal ini terjadi gara-gara kecemburuan Sarah yang tidak berdasar." gumamnya dalam hati.
Ting.
Satu pesan dari Sarah.
Dewa menatap layar ponselnya yang berada tepat di atas mejanya, pada layar yang menyala itu menampilkan sebuah pesan masuk dengan Sarah sebagai pengirimnya. Andai saja mereka tak sedang berada di satu ruangan, kemungkinan Dewa akan membiarkan pesan itu tanpa membacanya.
Sarah: [Mas, maaf kalau tadi aku udah berlaku egois ke kamu.]
Tulis Sarah dalam pesannya yang terpaksa dibuka oleh Dewa. Segera, Dewa pun membalas pesan kekasihnya itu.
Dewa: [Nggak apa-apa.]
Ting.
Sarah: [Kamu marah ya sama aku?]
Dewa: [Nggak]
Balasnya singkat.
Ting.
Sarah: [Beneran?]
Kembali Sarah mengirimkan balasan pesannya kepada Dewa.
Dewa: [Iya.]
Dewa: [Udah dulu, ya. Kita bicara lagi nanti, aku mau mengoreksi pekerjaan murid-muridku dulu.]
Dua pesan balasan dari Dewa, ia kirimkan ke kontak Sarah. Setelah itu, ia tak lagi memedulikan pesan Sarah yang lain. Dewa lebih memilih untuk fokus saja mengoreksi tugas yang dikerjakan murid-muridnya dibanding dengan harus menanggapi pesan Sarah. Dibaliknya satu persatu buku tugas milik kelas 11 IPS 2 di depanya itu sambil ia bubuhkan nilai di dalamnya. Awalnya, semua buku tugas tak ada yang aneh bagi Dewa hingga tiba-tiba ia menemukan sebuah buku tanpa sampul yang saat ia membukanya terdapat sebuah amplop berwarna merah muda dengan isi sebuah surat di dalamnya.
Dewa mengernyitkan dahi sambil membolak-balikan amplop yang sedang ia pegang itu.
"Apa ini?" gumamnya.
Penasaran Dewa pun mengeluarkan secarik kertas dari dalam amplopnya lalu membuka lipatan kertas itu dan membaca isinya. Sedetik kemudian, wajah Dewa berubah memerah usai mengetahui isi surat yang ternyata memang sengaja ditujukan kepada dirinya.
"Apa lagi sih ini?" decaknya kesal.