Dulu, sebelum memiliki Dharma, Anjani bekerja di sebuah perusahaan kecil sebagai staf keuangan. Hasilnya lumayan bisa menghidupi ibu dan adiknya yang saat itu masih sekolah. Candra pernah melarangnya bekerja waktu itu, tapi ia berkeras karena tak ingin keluarganya sepenuhnya menjadi beban untuk suaminya. Apalagi pernikahan mereka tidak direstui hanya karena keluarga suaminya menganggap mereka sebagai parasit yang akan selalu bergantung pada Candra.
Tapi kini, ia dan ibunya membuka sebuah warung makan kecil di depan rumah. Anjani ingin tetap menghasilkan uang tanpa meninggalkan putranya di rumah. Apalagi Dharma masih membutuhkan asi untuk pertumbuhannya. Anjani mendirikan warung makan dari hasil pesangonnya saat bekerja dulu. Sebenarnya masih ada uang tabungan peninggalan Candra, uang bulanan yang dulu rutin diberikan oleh suaminya dengan angka yang lumayan besar. Tapi tabungan itu milik putranya, ia hanya akan menggunakan uang itu untuk kepentingan Dharma kelak.
"Pagi nanti aku tidak pulang kayaknya, lagi banyak banget kerjaan di bengkel," seru Randika yang sudah menuntun motornya keluar halaman.
Randika mengolah bengkel yang dulu pernah dikelola ayahnya, yang setelah ayahnya meninggal, bengkel itu diolah oleh salah satu tetangga dekat yang sudah seperti saudara bagi keluarganya.
"Mau mbak bungkuskan bekal nggak?" tanya Anjani.
"Nanti mas Keling yang kesini untuk ambil, nggak enak soalnya kalau nggak anget," ucap Randika.
"Ya udah, biasa kan tiga bungkus?" ujar Anjani.
"Iya mbak, Randika berangkat ya. Assalamualaikum," pamit Randika.
“Walaikumsalam, hati-hati, Dik!!" Jawab Anjani.
Pagi itu seperti biasa, Anjani menyiapkan segala sesuatu untuk warungnya. Mereka beruntung, sejak pertama kali membuka warung makan, mereka cukup ramai pembeli.
"Dharma mana, Bu?" tanya Anjani.
"Habis ibu mandikan, malah tidur. Nanti sebentar lagi pasti bangun karena dari tadi belum kamu susui," jawab ibu Ningsih.
"Iya, Bu."
Ibu Ningsih dan Anjani menengok keluar saat mereka mendengar deru mobil yang berhenti di depan rumah mereka.
"Papah mamahnya Mas Candra," lirih Anjani, melihat ibunya.
Ibu Ningsih mengelus punggung putrinya seakan tahu apa yang dirasakan Anjani saat ini. "Biar bagaimanapun, mereka kakek dan neneknya Dharma, Nak."
Anjani hanya mengangguk, kemudian masuk ke dalam kamarnya. Dia ingin menata hatinya terlebih dahulu, dan hanya putranya yang bisa menenangkannya.
“Assalamualaikum.." ucap Galih.
"Waalaikumsalam, mari masuk, Pak, Bu," Jawab bu Ningsih, Galih dan istrinya masuk ke rumah sederhana itu.
"Apakah kedatangan kami mengganggu?" Tanya Galih, bu Ningsih langsung memotong perkataan besannya.
“Sama sekali tidak, Bu. Dharma pasti senang bisa melihat kembali kakek dan neneknya," jawab bu Ningsih dengan lembut.
"Kalian masih bisa begitu baik setelah apa yang kami lakukan pada Anjani dan Candra," Dara mulai terisak, ia mulai ingat kembali dengan apa yang sudah mereka lakukan pada Candra dan istrinya.
"Sudah, dari kemarin saya sudah bilang untuk tidak mengungkit masa lalu. Semua sudah terjadi dan kita hanya akan mengambil hikmah dari semua ini," ucap Bu Ningsih dengan bijaksana.
"Ibu benar, Nyonya. Semua sudah digariskan oleh Yang di Atas. Kita cuma menjalani saja. Anjani tidak pernah membenci tuan dan nyonya, karena biar bagaimanapun kalian adalah kakek dan nenek dari putraku," Anjani tiba-tiba keluar dari kamar dengan menggendong Dharma.
"Tolong jangan ingatkan kesalahan kami dengan panggilanmu kepada kami. Kami bukan Tuan dan Nyonya! Kami hanya tua renta yang memohon belas kasih darimu," kata Dara dengan isakan.
Galih hanya menunduk, laki-laki parubaya itu terlihat sangat sedih. Raut penyesalan sangat terlihat di wajahnya. Mereka menolak gadis sebaik Anjani hanya karena ambisi mereka untuk memperbesar jaringan usaha mereka.
Mereka bahkan tidak peduli dengan perasaan putra mereka sendiri. Mereka nekad menikahkan Candra, walau mereka tahu putranya sudah menikahi Anjani. Mereka menikahkan Candra dan Ratu agar Anjani mau melepaskan putranya. Dan nyatanya, ikatan cinta mereka lebih kuat. Rumah tangga Candra dan Anjani mampu bertahan walau diterjang berbagai cobaan yang berasal dari orang tua mereka. Dan Ratu, yang sejak awal mereka harapkan menjadi menantu kesayangan, malah bersikap jauh dari perkiraan mereka.
"Anjani, maukah kau memaafkan kami? Dan bolehkah kami menebus semua kesalahan kami?" ujar Galih menatap sendu Anjani.
"Sejak awal, Anjani sudah memaafkan papah dan mamah. Jika Anjani menjadi kalian, mungkin Anjani juga akan melakukan hal yang sama. Anjani akan melakukan yang terbaik untuk anak-anak. Dan tak ada yang harus ditebus! Semua sudah berlalu, sekarang hanya Dharma yang Anjani pikirkan. Kalian boleh kesini kapan pun untuk melihat Dharma," ucap Anjani dengan penuh keikhlasan.
"Ya Allah, terimakasih Anjani," Ibu Dara yang ingin bersujud di depan Anjani, tapi sebelum tubuh ringkih itu sampai ke bawah, Anjani sudah terlebih dahulu merengkuhnya.
"Jangan begini, Anjani yakin Mas Candra bahagia di sana. Dia bahagia melihat putranya bisa bersatu dengan kakek neneknya," ucap Anjani.
"Kau juga putri kami," ujar Galih.
"Anjani juga putri kalian," Ibu Ningsih ikut memeluk wanita yang direngkuh putrinya.
Siang itu mereka menangis, tapi tangis mereka adalah tangis bahagia. Akhirnya Galih maupun Dara sadar bahwa kebahagiaan bukan hanya tentang harta dunia, tapi keluarga adalah sumber kebahagiaan yang sebenarnya.
"Pah, apakah keputusanmu untuk menikahkan mereka tidak terlalu cepat?" tanya Dara pada suaminya.
Saat ini, mereka sedang berada di balkon kamar mereka dengan dua cangkir teh di depannya. Sore itu, Galih dan istrinya sedang membahas sesuatu.
“Cuma itu cara kita untuk menebus kesalahan kita dulu, Mah! Arga anak yang baik, walau sekarang ia tidak seramah dulu lagi. Anak itu juga sangat bertanggung jawab. Papah yakin dia bisa membahagiakan Anjani dan Dharma." Ujar Galih.
"Tapi kita jangan mengulangi kesalahan yang sama, kita harus bertanya dulu pada Anjani maupun Arga. Mamah tidak ingin pernikahan ini membuat Anjani menderita lagi! Jika Anjani menderita, maka Dharma juga tidak akan bahagia!" tukas Dara. Bukannya ia tidak setuju dengan rencana suaminya, tapi menurutnya pernikahan memang harus di landasi dengan cinta.
Galih tak mau mengulangi kesalahan yang sama seperti pernikahan putranya dan Ratu. Keluarga yang mereka harap bisa membantu untuk mengembangkan perusahaan Baskoro malah merongrong kekayaan mereka secara diam-diam.
“Hanya itu cara agar Dharma Fajar Baskoro mempunyai kedudukan yang kuat di keluarga ini. Kau tahu kan pernikahan Candra dan Anjani tidak terdaftar oleh negara. Mereka hanya menikah siri." Ucap Galih.
Dara hanya menghela nafasnya, nyatanya semua perkataan suaminya adalah benar. Mereka harus membuat kedudukan Dharma kuat di keluarga ini. Galih tak ingin suatu saat keluarga Ratu bisa mengusik kedudukan Dharma di kemudian hari.
"Ya sudah, malam ini kita coba bicara pada Arga." Ujar Dara.
Sementara itu, di sebuah apartemen mewah yang ada di pusat kota, seorang wanita cantik sedang berbagi peluh dengan seorang pria yang lebih muda darinya.
" Rayhan. lebih cepat, baby!!" Ratu tidak bisa lagi menyembunyikan suara-suara indahnya ketika pria muda yang ia sewa siang ini sangat pandai untuk memuaskannya.Pria muda bernama Rayhan itu terus saja memacu tubuh polos yang ada di bawahnya. Dia sangat pandai bermain di ranjang karena ia memang bekerja sebagai pemuas wanita-wanita kaya yang kesepian.
Sebelum keduanya mencapai puncak, Rayhan melepaskan penyatuannya dan segera membalikkan tubuh Ratu hingga wanita itu membelakangi dengan posisi yang sudah siap untuk digempur kembali.
"Cepet, Rayhan!" Dengan tak sabaran, Ratu meraih ular yang masih berdiri tegak menantang itu agar cepat masuk.
Rayhan hanya tertawa melihat wanita dibawahnya yang sudah sangat tidak sabar ingin meneruskannya. Ratu adalah pelanggan yang sangat ia sukai. Selain karena cantik dan bertubuh sintal sempurna, Ratu juga mampu membayarnya dengan bayaran paling tinggi di antara pelanggan lainnya.
Rayhan meremas dan memukul bokong Ratu dengan kedua tangannya. Dia bahkan menggigit gemas punggung wanita itu hingga terdengar erangan yang membuatnya semangat untuk melanjutkan. Dan benar saja, kali ini dengan penuh nafsu, Rayhan memacu tubuh Ratu dari belakang tanpa ampun.
"Rayhan, don't stop it." Ucap Ratu.
"Tidak akan, bahkan jika kau memohon pun aku tak akan berhenti. You're so delicious, baby." Sahut Rayhan.
Suara mereka bersahutan di ruangan itu. Mereka tak peduli dengan keadaan berantakan yang mereka timbulkan. Pakaian tersebar di semua sudut kamar, dan ranjang sudah tak berbentuk akibat permainan mereka.
Tak lama kemudian, keduanya ambruk dengan posisi saling berpelukan. Terlihat kepuasan di wajah mereka. Tubuh Rayhan masih berada di atas Ratu yang masih tertidur dengan posisi tengkurap.
"Makin hari kau makin pintar bermain, baby. Tak salah jika aku sudah berani membayarmu mahal," bisik Ratu nakal di telinga Rayhan yang masih mengatur nafasnya yang tersengal.
"Kau yang mengajariku hingga semahir ini, sayang," balas Rayhan tak kalah sensual.
Pria muda itu membalikkan tubuh Ratu hingga telentang. Dua jarinya dengan nakal sudah kembali menerobos area favoritnya.
"Puaskan dirimu karena sebentar lagi mungkin aku tidak akan memakaimu lagi," kata Ratu dengan melebarkan kedua kakinya agar tangan Rayhan bisa mengeksplorasi area bawahnya.
"Why!?" tanya Rayhan.
"Aku akan menikah lagi," rintihnya kembali menahan nikmat.
"Cih, jangan-jangan dia sama bodohnya seperti suamimu yang dulu, yang bahkan tak mau menyentuhmu sekalipun," cibir Rayhan yang sudah mengetahui kisah Ratu dan Candra.
Ratu yang memimpin permainan kali ini, dia sudah ada di atas tubuh kekar Rayhan dan mengurut pelan ular yang perlahan-lahan terbangun kembali dari tidurnya. Rayhan mendesis dan meraih dua bukit yang terlihat menantangnya.
Candra tak pernah menyentuh Ratu karena memang tidak ada cinta antara mereka. Hingga kemudian Ratu mencari kepuasan dari lelaki lain, dan Rayhan adalah salah satunya.
"Tak mungkin dia tak mau menyentuhku. Aku adalah cinta pertamanya, baby," kerling Ratu pada Rayhan yang sudah kembali on.
"Tapi aku tak akan melepasmu. Hanya aku yang bisa memberimu kepuasan." Ujar Rayhan dengan percaya diri.
"Kita lihat saja nanti!"
Arga dan teman-temannya berkumpul di klub malam, meski dia bukan penggemar alkohol. Kadang-kadang, ia minum beberapa gelas wine untuk bersantai. Arga hadir malam ini karena papanya menelponnya, ingin membicarakan hal penting setelahnya. Arga menduga ini berkaitan dengan rencana pernikahan seperti yang diberitahu oleh Ratu.
Namun, Arga merasa belum siap membahas hal itu. Ia masih merasa kehilangan kakaknya yang sangat dicintai dan dihormati. Menurutnya, tidaklah pantas jika ia menikahi istri kakaknya, terlepas dari alasan apapun. Di klub malam yang ramai ini, Arga dan teman-temannya duduk di ruang VVIP yang terisolasi oleh dinding kaca tebal. Mereka dapat melihat ke luar, tetapi orang di luar tidak bisa melihat mereka. Ruangan ini juga kedap suara, menciptakan suasana yang tenang.
Arga dan teman-temannya melihat dengan jijik seorang pria yang dikerumuni oleh wanita penghibur di luar. Mereka terlibat dalam perilaku yang tidak pantas untuk diperlihatkan di tempat umum. Bahkan, wanita-wanita itu telah berhasil membuat pria tersebut tanpa kemeja. Meskipun Arga juga seorang pria, ia tidak akan sembarangan dalam bersikap terhadap wanita atau membiarkan wanita yang tidak ia kenal menyentuh tubuhnya. Ketika bersama Ratu, dia selalu menolak tawaran-tawaran tersebut, ingin menjaga hubungan mereka hingga pernikahan. Arga yakin pada kekuatan cinta mereka.
Namun, kenyataannya berbeda. Setelahnya, wanita tersebut malah menjadi kakak iparnya. Arga pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya, lebih tepatnya untuk menjauh dari Ratu yang kini bersama Candra.
"Hei, kalian tahu siapa dia?" teman Arga, Danny, menunjuk pria tampan yang dikelilingi oleh wanita penghibur di sudut ruangan.
Namun, teman-temannya hanya menggelengkan kepala, tidak tahu siapa pria tersebut.
"Namanya Rayhan, blaster Indonesia Inggris. Mahasiswa semester akhir di perguruan tinggi swasta. Tahu pekerjaannya apa?" tanya Danny.
Seorang teman memotong, menganggap informasi itu tidak penting. Danny kecewa, karena dia ingin berbagi cerita tentang Rayhan.
Waktu berlalu dan hanya tinggal Danny dan Arga di ruangan itu. Biasanya, Arga yang lebih dulu meninggalkan teman-temannya. Kali ini, dia malas pulang.
"Kau keberatan tidak jika aku meneruskan cerita tentang pria tadi?" tanya Danny saat melihat Arga bersandar di sofa dengan mata tertutup.
Arga menjawab malas, "Terserah."
"Dia adalah Rayhan, pria yang tadi kita lihat di sudut ruangan."
Hening. Arga tidak merespons kata-kata Danny, tetapi Danny yakin bahwa pria itu masih mendengarnya.
"Dia seorang gigolo, langganannya kebanyakan wanita kaum sosialita. Sebenarnya dari dulu aku ingin bicara padamu. Tapi aku takut hal ini akan menyakiti perasaanmu," jelas Danny.
"Berisik!" bentak Arga.
"Ckk, aku serius Arga! Aku tidak bercanda," namun Arga tetap diam dengan posisinya semula, hingga Danny memijat pelipisnya.
"Ya Tuhan, mengapa Engkau memberikan teman seperti dia kepadaku? Untunglah aku kaya, kalau tidak..."
"Kalau tidak, kenapa?" potong Arga tajam.
"Haisshh... mengapa kau menjadi begitu menjengkelkan sekarang! Aku hanya ingin mengatakan bahwa Rayhan adalah pria simpanan istri kakakmu!" jelas Danny.
Bug.
Tangan Danny memegang pipinya yang baru saja mendapat pukulan dari Arga. Darah mulai keluar dari sudut bibirnya. Danny sebenarnya sudah memperkirakan reaksi ini, karena ia tahu betapa Arga menghormati kakaknya.
"Jaga mulutmu, brengsek! Sekali lagi kau menyentuh hal yang berhubungan dengan kakakku, aku tidak akan ragu untuk mengakhirimu," ancam Arga dengan mata merah karena amarah yang dikendalikannya dengan susah payah.
"Dari dulu, sebenarnya aku sudah ingin mengatakan ini, apa pun risikonya, termasuk ini," kata Danny sambil menunjuk lebam di pipinya.
"Yang aku katakan adalah kenyataan. Aku juga punya bukti jika kau ragu padaku." Tanpa berkata lagi, Arga melangkah keluar dari ruangan tersebut. Dia tidak ingin kehilangan kendali dirinya dan mengulangi pukulan pada salah satu sahabatnya.
"Hei! Aku tahu suatu hari nanti kau akan mencariku karena hal ini!" teriak Danny sebelum Arga berhasil mencapai pintu ruangan itu.
Arga membanting pintu ruangan dengan kuat. Untuk sejenak, dia menjadi pusat perhatian kaum wanita di klub tersebut. Selain memiliki wajah yang tampan, Arga juga memiliki tubuh atletis yang membuatnya menjadi idaman para wanita.
Tidak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Sudah dua bulan sejak kepergian kakaknya. Semakin lama, Arga semakin tenggelam dalam kesibukan mengurus perusahaannya. Dia merasa lega bahwa orang tua tidak pernah membicarakan pernikahan seperti yang diceritakan oleh Ratu.
Arga tiba di rumah pada dini hari. Rumah terasa sepi. Ia menuju kamarnya dengan langkah lelah, ingin segera beristirahat. Kegiatan hari ini telah menguras energi dan pikirannya. Tanpa sadar, Arga langsung tertidur tanpa membersihkan diri.
Bunyi ketukan keras pada pintu membuat Arga terbangun dari tidurnya. Ia berjalan dengan malas menuju pintu dan membukanya. Tatapan tajamnya bertemu dengan pelayan yang terlihat panik.
"Maaf, tuan, nyonya menginstruksikan agar tuan segera datang ke rumah sakit," kata pelayan dengan nada sedikit takut. Majikannya dikenal memiliki sikap yang sangat dingin.
"Kenapa aku harus pergi ke sana?" tanya Arga.
"Tuan besar pingsan pagi ini, nyonya membawanya langsung ke rumah sakit..."
"Bodoh! Mengapa kalian tidak segera membangunkanku, hah!"
"Sudah, tapi tadi..."
Arga keluar dari kamar setelah mengambil kunci mobilnya, tanpa peduli pada pelayan yang masih berdiri di depan pintu, masih terkejut dan memegangi dadanya. Arga menginjak pedal gas dengan cepat untuk segera sampai ke rumah sakit. Ketika sampai di sana, ia bergegas menuju ruang operasi di mana ayahnya sedang ditangani oleh para dokter.
"Mah."
Arga memeluk ibunya yang sudah duduk di depan ruang operasi, air mata masih mengalir di kedua pipinya.
"Arga. papahmu, nak."
"Papah kuat, Arga yakin semuanya akan baik-baik saja. Mamah harus tetap tenang," Arga merangkul ibunya memberikan rasa nyaman. Namun, dalam hatinya juga penuh kekhawatiran. Dia tidak ingin kehilangan lagi, belum sepenuhnya pulih dari pukulan kehilangan kakaknya.
Tidak lama kemudian, pintu ruang operasi terbuka dan beberapa perawat membawa ayahnya ke ruang perawatan. Arga bangkit untuk berbicara dengan dokter yang menangani ayahnya.
"Bagaimana, Dok? Apa papah saya baik-baik saja?" tanya Arga.
Dokter itu mengambil napas dalam sejenak, terlihat ia merasa berat memberikan penjelasan.
"Kami berhasil menangani masalah pada jantungnya, tetapi kami harus mengangkat satu ginjal milik Pak Galih karena kondisinya sudah tidak bisa diselamatkan." Jelas Dokter.
"Apa itu berbahaya, Dok?" tanya Arga lagi.
"Beliau sekarang hanya memiliki satu ginjal, jadi kami perlu benar-benar memperhatikan pola makan dan merawat kesehatannya, terutama karena beliau juga memiliki masalah jantung. Kami perlu menjaga suasana hatinya sebaik mungkin. Itu saran saya," Arga merasa lega setelah mendengar penjelasan dari dokter, dan Dara juga tampak tenang. Mereka menunggu Galih sadar dari pengaruh obat setelah operasi. Beberapa alat masih melekat di tubuhnya.
"Arga, biarlah mamah yang merawat papahmu di sini. Kamu bisa pulang dan istirahat. Mamah tahu tadi kau baru saja bangun tidur. Jangan terlalu sering pulang larut malam, sayang. Jaga kesehatanmu. Hanya kamu yang menjadi harapan Papah dan Mamah," ujar Dara dengan penuh kasih sayang.
"Mah. Arga, tidak apa-apa. Arga bisa tidur di sofa jika Arga merasa kantuk. Aku bisa mengurus urusan kantor dari sini," kata Arga sambil menanggapi.
"Baiklah, kamu tidur saja dulu. Nanti mamah akan membangunkanmu jika papah sudah sadar," ucap Dara.
Arga menuruti kata ibunya, apalagi ia merasa sangat mengantuk. Akhirnya, ia tertidur pulas di sofa ruangan tersebut.
Arga terbangun mendengar suara seorang pria di dalam ruangan. Ternyata dokter sedang memeriksa papahnya. Papahnya sudah sadar dan ibunya setia berada di sampingnya.
"Arga," suara lirih Galih masih jelas terdengar.
"Ya, Pah, Arga di sini," Arga mendekati tempat tidur ayahnya.
"Mamah dan papah tahu bahwa kamu telah menghindari kami akhir-akhir ini. Kami yakin kamu sudah mengetahui apa yang ingin kami bicarakan padamu," Dara mengutarakan perasaan suaminya karena Galih belum mampu berbicara atau bergerak banyak.
"Papah dan mamah ingin kamu menikah, kami yakin kami sudah memikirkannya dengan matang. Dia adalah yang terbaik untukmu! Dia adalah wanita baik, kami sudah menjadikannya seperti putri kami sendiri," lanjut Dara.
Arga tetap diam, ia ingin ibunya berbicara lebih lanjut. Saat ini, ia tidak boleh gegabah dalam bertindak sesuai anjuran dari dokter untuk menjaga suasana hati ayahnya.
"Mamah berharap kamu bisa menerima rencana ini nanti. Kami ingin kalian menjadi keluarga yang bahagia," kata Dara.
"Siapa yang mamah maksud? Siapa wanita yang ingin aku nikahi?" tanya Arga.
Dara menghela nafas dengan berat, ia tahu Arga mungkin akan menolaknya. Galih memberikan dukungan dengan menggenggam tangan istrinya untuk memberi keberanian.
"Mantan istri kakakmu, ibu dari cucu kami," jawab Dara.
"Baiklah!" sahut Arga.
Dara dan Galih saling pandang, terkejut dengan kecepatan jawaban Arga.
"Apa maksudmu, Nak!?" tanya Dara.
"Bukankah mamah menginginkan aku menikah? Aku bersedia jika itu akan membuat kalian bahagia," ujar Arga.
Dara kemudian memeluk Arga erat, tangisnya pecah. Ia merasa bahagia karena putranya menerima rencana pernikahan ini.
"Kalian akan menikah dua hari lagi, sebelum mamah dan papah pergi ke Tiongkok untuk perawatan dan istirahat. Kami sudah membicarakannya dengan dokter, dan dia mendukungnya," jelas Dara.
"Mamah atur saja semuanya, Arga pasti akan melakukannya," ujar Arga.