"Kenapa kau diam saja? Bukankah kau tadi menyebutkan nominal yang begitu fantastis?" heran Felix dengan alis terangkat satu.
Akan tetapi, wanita tersebut diam saja sambil memijat tubuh pria tampan itu.
Entah apa yang merasuki pikirannya, sehingga Felix berpikir jika dia ingin memiliki sugar baby seperti sahabatnya, Leon.
"Baiklah jika kau tidak mau. Bagaimana jika aku membayarmu 30 juta untuk satu kali pertemuan? Tapi kau harus siap dengan apapun yang aku mau, dan kapanpun aku menghubungimu," ucap Felix pada wanita yang belum ia ketahui siapa namanya.
"Kita belum melakukan kesepakatan apapun di sini Tuan, jadi jangan berpikir karena Anda memiliki banyak uang, Anda bisa semena-mena pada saya. Lagi pula, saya tidak akan menjalin hubungan dengan pria yang tak pernah saya cintai." Felix yang mendengar itu malah tertawa.
"Dalam pekerjaanmu yang seperti ini, apakah itu membutuhkan perasaan? Anggap saja pekerjaanmu ini sebagai simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan satu sama lain. Kau mendapatkan uang dan aku mendapatkan kepuasa. Bukankah itu yang kau maksud, nona manis?"
"Namaku adalah Arabella Caroline. Mereka biasa menyebutku dengan Bella." Senyum terpantri di wajah tampan Felix saat mendengar nama wanita itu.
Padahal dia tidak menanyakannya, tapi wanita tersebut yang mengatakannya sendiri.
"Jadi bagaimana dengan tawaranku, Nona? Apa kau mau 300 juta itu? Jika tidak, ya sudah ..." Felix kembali mengambil ponselnya, akan tetapi langsung dicegah oleh Bella. Dia langsung menuliskan nomor rekening pada ponsel tersebut, membuat pria tampan itu tersenyum puas.
"Karena kau sudah menerima uang dariku, maka kau harus lakukan apapun saat aku membutuhkanmu. Ingat! Kita sudah menyepakati ini, dan jangan coba-coba untuk kabur! Karena kau tidak akan pernah bisa lari, bahkan akan kucari sampai ke lubang semut sekalipun." Bella berdecih saat mendengar ancaman Felix.
"Kau tidak usah khawatir Tuan, aku bukanlah wanita yang gampang kabur setelah menerima bayaran. Lagi pula, sangat gampang untuk menemukanku, karena aku tidak mempunyai pekerjaan lain selain tempat ini." Lagi-lagi wanita tersebut berkata dengan nada yang cuek dan datar.
"Baguslah. Tapi aku mau saat kau bersamaku, jadilah dirimu sendiri. Dan satu hal lagi. Kau harus bisa bersikap beda, jangan kau samakan aku dengan pria-pria hidung belang yang telah kau temani selama ini!" Bella seketika mematung mendengar ucapan pria tampan tersebut.
Entah kenapa hatinya seketika berdenyut nyeri saat mendengar perkataan pria itu. Dia memang seorang wanita bayaran, tetapi saat orang lain menyebutnya seperti itu, mendadak hatinya terasa ngilu.
Pekerjaan itu tak pernah ia inginkan, tetapi ia tak mempunyai pilihan lain karena hanya pekerjaan itulah yang bisa memberikannya gaji yang cukup besar untuk melunasi semua hutang-hutang kedua orang tuanya, ditambah ia juga harus menyekolahkan dua adiknya.
"Baik," jawab Bella dengan datar.
Felix memejamkan matanya menikmati setiap pijatan lembut dari jari-jari lentik milik Bella, namun sangat ia sayangkan, jari indah itu harus bekerja di tempat kotor, bahkan hanya karena uang dia sampai harus menjual dirinya sendiri dan menemani pria hidung belang yang datang ke tempat tersebut.
"Kau tinggal di mana? Jujur saja aku tidak ingin tidur dengan wanita yang tinggal di tempat yang kotor dan kumuh, karena tempat seperti itu pasti banyak kumannya, dan aku tidak ingin terinfeksi. Sebelum kita melakukannya, maka pastikan dirimu itu dalam keadaan sehat dan beraih. Satu lagi. Aku tidak suka memakai alat pelindung, jadi kau harus pintar dalam menangani hal itu." Dada Bella kembali diremas saat mendengar perkataan gamblang dari Felix.
Namun dia mengesampingkan rasa itu, karena walau bagaimanapun Felix sudah memberikannya uang 300 juta, dan itu bukan jumlah yang sedikit. Ia juga harus menerima konsekuensi dari pekerjaannya tersebut.
"Baik, aku akan menuruti ucapanmu Tuan," jawabnya. Setelah itu dia bangkit dari tempat tidur karena pekerjaannya sudah selesai.
"Ini uang untukmu! Mungkin saja bisa kau pergunakan untuk membeli make-up." Felix mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dari dompetnya.
Tanpa ragu Bela menerimanya, dan tidak lupa, Felix juga meminta nomor teleponnya agar ia bisa menghubungi wanita itu sebelum pergi dari tempat terkutuk tersebut.
.
.
Hari telah berganti, kehidupan Felix seketika berubah. Pikirannya yang tadinya selalu kacau karena terus saja bertengkar dengan Salma setiap hari mendadak ia melupakan wanita itu.
Entah kenapa semenjak pertemuannya dengan Bella membuat Felix terus saja memikirkan wanita tersebut yang tidak hilang dari pikirannya.
"Kita lihat saja Bella, berapa lama kau akan bertahan. Jangan salahkan aku, jika aku ingin memilikimu, karena kau sendiri yang mematok harga untuk dirimu, sebab aku tidak akan pernah melepaskan mu."
Felix benar-benar sangat tertarik dengan Bella, karena wanita itu memiliki harga diri yang tinggi, yang mampu membuatnya begitu amat sangat penasaran, sehingga ia ingin mencari tahu apa yang membuat Bella melakukan itu semua.
Baru saja dia memejamkan matanya, tiba-tiba suara teriakan seseorang membuat gendang telinganya seketika penging.
"Felix!"
"Berhentilah berteriak, Salma! Apa kau tidak bisa jika tidak menggangguku satu hari saja? Aku lagi males bertengkar denganmu. Sebaiknya kau pergi dari sini!"
"Kau mengusirku? Kenapa kau kemarin tidak datang ke acara aku, hah? Aku kan sudah mengundangmu. Dan kau tahu betapa malunya aku di hadapan wartawan!" sentak Salma dengan begitu kesal sambil menaruh tas mahalnya di atas meja dengan gerakan yang kasar.
"Aku tidak perduli mau kau malu atau tidak, itu bukan urusanku. Lagipula, apa kau lupa? Aku bahkan bisa menghancurkan karirmu dalam sekali kedipan mata saja, jadi kau jangan main-main dengan ku!" Tatapan tajam Felix tidak membuat Salma sedikitpun merasa takut.
"Kau kan tahu, kehadiranmu di sana itu sangat penting. Kau di gilai banyak wanita. Kau ini idaman mereka." Namun Felix malah tertawa mendengar ucapan istrinya.
Melihat itu Salma semakin kesal, karena dia merasa sekarang Felix sudah jauh berbeda, dia sudah tidak bisa lagi mengendalikan pria tampan tersebut untuk menunjang karirnya.
"Kau pikir aku ini bonekamu? Kamu bisa melakukan apapun di luaran sana, sedangkan aku ..." Felix menunjuk dirinya sendiri. "Sudahlah Salma. Lakukan apa yang kau mau, dan aku akan melakukan apa yang aku mau." Dia sudah lelah mengikuti setiap apa yang dimau oleh wanita cantik itu.
"Kau tidak bisa begini, Felix. Kau kan sudah berjanji kepada mendiang kakakmu kalau kau akan menjagaku dan kau akan selalu bersamaku dalam keadaan apapun!" Tetapi Felix kembali tertawa.
Suara tawa pria tersebut membuat Salma mengerutkan keningnya, karena biasanya jika ia mengatakan hal itu, Felix akan langsung meminta maaf, tetapi kali ini dia benar-benar sudah berubah.
"Ayolah Salma! Aku hanya berjanji kepada kakakku, bukan kepadamu. Aku sudah menjagamu. Aku sudah bersama dengan dirimu. Bahkan aku juga sudah menjaga Putri, jadi apa yang perlu ku tepati lagi? Dan lagi pula, kau tidak pernah melakukan apapun untukku, Salma. Kau tidak pernah memberikanku nafkah batin. Seharusnya kau lebih mementingkan Putri, karena dia adalah anak kandungmu, bukan mementingkan karir," sindir Felix dengan senyuman sinis di bibirnya.
Dia memang menikahi Salma karena berjanji untuk menjaga wanita itu pada mendiang kakak kandungnya yang meninggal, sebab dulu Salma adalah kakak iparnya.
"Aku tidak akan pernah menganggap Putri sebagai anak kandungku. Dia hanyalah anak pembawa sial!" marah Salma dengan egois saat mengingat kelahiran Putri, di mana anak itu membawa petaka di dalam hidupnya.
"Dan, apa kau pikir, Kak Bayu di atas sana akan senang melihat sikapmu seperti ini? Apa kau pikir juga, Putri mau dilahirkan dari rahim seorang ibu yang jahat seperti dirimu, Salma!" teriak Felix dengan sorot mata membulat tajam dan amarah yang siap meledak karena ucapan dari wanita yang berada di hadapannya.
BERSAMBUNG....
Semakin hari Felix semakin dibuat gila karena Bella terus saja menghantui pikirannya. Seketika hasratnya menggelora untuk memiliki wanita cantik itu, apalagi saat mengingat bagaimana tatapan polos Bella.
Tak ingin berlama-lama dia langsung mengambil ponselnya dan menekan nomor wanita tersebut, akan tetapi dua kali panggilan tidak dijawab olehnya, membuat Felix seketika menahan kesal lalu ia pun mengirimkan pesan.
(Aku tidak suka menunggu. Bukankah kita sudah membuat kesepakatan, bahwa kau harus menuruti apapun yang aku mau. Jadi angkat teleponku, karena aku sedang menginginkannya!)
Sementara di rumahnya, Bella baru saja membaca pesan tersebut. Dia baru selesai mandi dan saat akan menaruh ponselnya kembali tiba-tiba sebuah pesan kembali masuk dari pria tersebut, mengirimkan alamat ke mana Dirinya harus datang.
Tanpa ingin menunda, Bella segera berpakaian kemudian mengenakan make-up tipis lalu keluar dari kamarnya dan memesan taksi online.
Tepat saat Felix turun dari mobilnya, Bella pun datang membuat pria itu tersenyum sinis, namun tatapannya mengarah dengan kesal.
"Ck! Kau langsung ke sini saat aku mengirimkan pesan. Tapi saat aku menelponmu, kenapa kau tidak mengangkatnya?"
"Aku baru selesai mandi. Ayo kita masuk! Ldbih cepat lebih baik, dan lebih cepat juga selesainya." Mendengar ucapan wanita cantik itu, Felix tersenyum menyeringai.
Seketika hasrat Felix menggebu-gebu saat mendapatkan tantangan dari wanita tersebut.
Tangan Bella ditarik oleh Felix menuju sebuah kamar yang sudah ia pesan sebelumnya. Seperti yang dikatakan oleh Bella, lebih cepat akan lebih baik. Maka dia akan menunjukkan bagaimana permainan cepat itu berlangsung.
Bella hanya bisa pasrah karena dia pun sudah terbiasa melakukan hal itu dengan pria lainnya. Apalagi tatapan liar yang ditunjukkan oleh Felix kepada tubuhnya.
Jika bukan karena hutang-hutang kedua orang tuanya, ia pun tidak akan rela tubuhnya dijamah oleh pria yang bukan kekasih halalnya, dan dia tahu jika itu perbuatan dosa, tetapi Tuhan tidak memberikannya pilihan lain.
BUGH!
Tubuhnya langsung dihempaskan begitu saja di atas ranjang, kemudian Felix langsung melucuti pakaiannya hingga tanpa tersisa satu benang pun, membuat wanita itu seketika menegak ludahnya dengan kasar saat melihat bagaimana otot-otot kekar begitu terlihat jelas di hadapan matanya.
Felix langsung melakukan aksinya, dia menindih tubuh wanita itu. "Buka matamu Bella! Aku ingin kau melihat dengan siapa kau melakukannya saat ini. Aku akan memberikanmu kepuasan yang sesungguhnya."
"Kau perlu mengocek jumlah yang lebih besar jika kau ingin bermain lebih puas denganku."
"Habiskan saja uang-uangku, karena aku ingin tahu seberapa liar dirimu saat berada di atas ranjang dan seberapa liar wanita yang berada di tempat kotor itu," ucapnya dengan nada yang sombong.
Felix langsung melucuti pakaian Bella hingga tidak tersisa seperti dirinya, dan pergumulan panas itu pun terjadi antara dua manusia yang berbeda jauh umurnya.
.
.
"Kamu mau ke mana?" tanya Felix saat melihat Bella sudah rapi dengan pakaiannya setelah mereka melakukan permainan yang sangat panas.
"Kemanapun itu, bukan urusan Anda, Tuan. Hubungan kita cukup sampai di sini. Dan aku harap kita tidak akan pernah bertemu lagi." Felix terkekeh untuk hal itu.
Suara tawa Felix membuat Bella kesal, karena dia merasa sedang dipermainkan oleh pria tampan tersebut.
"Berhenti bersuara! Karena suaramu begitu sumbang Tuan, tidak semua bisa dibeli dengan uang."
"Oh ya? Tapi apakah kau lupa? Dengan uang aku bisa membeli semuanya, bahkan membeli tubuhmu. Apa kau perlu bukti lagi, Nona?" angkuh Felix dengan senyuman terangkat satu.
Sontak membuat Bella seketika terdiam, karena apa yang dikatakan Felix itu benar adanya. Zaat Bella berjalan ke arah pintu tiba-tiba suara bariton itu kembali terdengar.
"Apa kau ingin pulang? Padahal ini sudah sangat larut malam?" tanya Felix pada Bella.
"Tidak usah memperdulikan aku, Tuan, karena sebenarnya hubungan kita sebatas sampai di sini. Saling menguntungkan," ucapnya dengan datar.
Namun mata Felix tidak teralihkan, karena menurutnya Bella sangat seksi saat memakai kemejanya. Jelas aja wanita itu mengenakan kemeja miliknya, sebab bajunya tadi sudah dirobek oleh Felix saat dia sudah tidak sabar ingin segera memulai permainan panasnya bersama dengan Bella.
"Jika hanya soal pakaian itu hal yang sepele, tapi jika aku menginginkanmu lagi, maka kau harus siap. Dan aku juga mau kau berhenti dari pekerjaanmu itu!" Bella menghentikan tangannya saat akan membuka pintu.
Wanita tersebut tersenyum miring. "Sebaiknya kau mengatakannya kepada wanita iblis itu! Dan jika kau bisa membebaskanku darinya." Bella langsung keluar begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Felix.
Sementara Felix hanya menanggapi jawaban dari wanita itu dengan senyuman menyeringai di wajahnya. Dia sudah menyiapkan sebuah rencana untuk menjerat wanita itu agar menjadi sugar baby-nya.
Sementara di sebuah taksi, Bella termenung. 'Sampai kapan aku akan terus bekerja seperti ini, Tuhan? Apakah aku akan selalu berada di lingkaran kemaksiatan? Aku juga ingin hidup tenang seperti wanita lainnya tanpa harus mengerjakan hal-hal yang kotor, seperti tubuhku saat ini yang sudah tak suci lagi.' batin Bella miris sambil menatap jalanan yang dilewatinya.
Dia juga ingin bekerja seperti orang-orang pada umumnya tanpa harus hidup di dalam lingkaran lembah hitam. Dia juga ingin merasakan bekerja di siang hari dan malam tidur dengan nyenyak. Tetapi keadaan benar-benar memaksa dirinya menjadi wanita yang kotor.
Keesokan harinya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Bella, saat ini Felix tengah berada di tempat kotor itu, di mana dia bertemu pertama kalinya dengan wanita yang saat ini sudah memenuhi isi pikirannya. Dia akan bertemu dengan Annabelle, pemilik tempat tersebut.
"Di mana ruangannya? Saya ingin bertemu dengannya," ucap dingin Felix kepada resepsionis yang ada di sana untuk menunjukkan ruangan Ana.
"Mari ikut saya Tuan!" Wanita itu pun berjalan di hadapan Felix, dan tak lama mereka sampai di sebuah ruangan, lalu Felix langsung masuk ke dalamnya.
"Ada apa lagi Azura?" tanya Ana tanpa menatap ke arah pintu, namun saat beberapa saat tidak ada jawaban wanita itu pun mengangkat wajahnya.
Seketika tatapannya terpaku saat melihat Felix, dia mengenal pria itu bahkan sangat, karena Felix pengusaha ternama di negara tersebut.
"Katakan, berapa banyak hutang orang tua Bella yang harus kulunasi?" tanyanya to the point dengan wajah yang begitu datar.
"Maksud Anda, Tuan?" tanya Ana dengan bingung, karena dia belum mengerti arah pembicaraan dari pria tampan tersebut.
"Katakan berapa hutang kedua orang tua Bella, karena aku akan melunasinya! Dan kau harus ingat satu hal. Jangan pernah mengganggunya lagi, karen setelah ini dia akan sepenuhnya jadi milikku. Jika kau berani macam-macam denganku, maka aku tidak akan tinggal diam! Aku akan menghancurkan tempatmu mencari uang, kau paham!" tegasnya dengan sorot mata yang tajam penuh peringatan.
BERSAMBUNG.....