Bab 2

"Selamat pagi. Selamat datang di minimarket kami. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Monika kepada dua orang yang mendekat ke arahnya. Mereka tampak aneh, tidak seperti pembeli lain pada umumnya. Dari ujung kaki hingga ujung kepala, semua tampak misterius.

Kedua pria berpakaian serba hitam itu saling pandang sebelum mengangguk satu sama lain. Salah satu dari mereka melepas kacamata hitam dan menatap tajam ke arah Monika. Aura menyeramkan tampak di sana. Jelas dia memiliki niatan tertentu.

"Nona Monika Alexandra," panggil pria itu dengan suara bas yang cukup berat.

"Ya?" Monika berusaha tetap tenang, menatap lawan bicaranya dengan pandangan waspada. Tampilan mereka bukanlah orang biasa, seperti bodyguard atau semacamnya.

"Maaf, ada yang bisa kami bantu?" Kasir lain ikut bersuara. Dia tidak ingin ada oknum yang membuat keributan di tempatnya bekerja. Lagipula, Monika terlihat membutuhkan bantuan untuk menghadapi dua orang yang tak diundang. Gelagat yang mereka tunjukkan kurang bersahabat. Bisa saja tujuan utamanya untuk mengganggu.

"Bukan urusan Anda!"

"Tentu saja urusan saya. Anda membuat keributan di toko tempat saya bekerja. Enyahlah jika Anda berdua datang bukan untuk berbelanja."

Merasa salah tempat, pria pertama memberikan isyarat dengan anggukan kepala. Dia menatap ke luar sekilas, seolah memastikan kalau polisi belum datang. Persis seperti ciri-ciri pencuri atau penodong.

"Nona, ada yang ingin kami bicarakan. Bisa ikut dengan kami sebentar?" Si pria misterius kembali menatap Monika, mengabaikan kasir lain yang berusaha memecah konsentrasinya barusan.

Monika tak lantas bersuara. Dia merasa tidak memiliki hubungan dengan orang-orang asing ini. Karena masalah apa mereka mencarinya?

"Nona?"

"Maaf, saya sedang bekerja. Jika ada yang ingin Anda sampaikan, katakan saja di sini!" Monika meneguhkan hati, berusaha menangani situasi tak terduga yang terjadi.

Salah satu pria itu mengambil napas dalam, mau tak mau harus mengatakan tujuannya datang kemari. Jika membuang waktu lebih lama lagi, tuannya akan murka. Emosinya meledak-ledak tak terkendali.

"Anda mengenal tuan Jonathan Wu?" Selembar foto dikeluarkannya dari saku jas, ditunjukkan pada Monika.

Degup jantung gadis 25 tahun itu seolah terhenti seketika. Entah kenapa rasanya sesak di dalam dada, termasuk muncul firasat tidak mengenakkan yang dirasakannya. Tentu saja dia sangat mengenal pria dalam potret itu. Pria yang mengabaikan ibunya demi menikahi wanita lain. Pria yang pernah menjadi harapan terbesarnya, tapi semua sia-sia.

Pukulan terbesar dalam hidup Monika Alexandra adalah saat Jonathan Wu memilih istri mudanya. Dia marah dan membencinya, sampai harus menghilangkan marga sang ayah dari namanya. Dia enggan menyandang nama belakang pria itu. Apa pun alasannya.

Diam beberapa detik, Monika tak langsung menjawab. Dia masih meraba arah pembicaraan kedua tamu tak diundangnya. "Maaf, mungkin Anda salah orang. Saya tidak memiliki urusan dengannya lagi."

Pria misterius itu kembali mengangguk pada temannya. Entah apa maksudnya, Monika tidak mau memikirkannya. Sesekali memperhatikan situasi minimarket yang semakin ramai.

"Bukankah Anda mengenalnya? Dia membutuhkan bantuan Anda sekarang."

Monika masih bungkam sambil memikirkan keselamatan ayah yang dibencinya. Bagaimanapun juga, dia tidak bisa mengabaikannya.

"Apa ada masalah?" Monika akhirnya bersuara meski tak langsung mengakui Jonathan sebagai ayah kandungnya. Nyatanya, mereka memang tak lagi berhubungan satu sama lain. Meski begitu, raut khawatir tampak di wajah cantiknya.

"Kalau begitu silakan ikut kami."

“Tidak. Tunggu dulu.” Monika menggeleng tegas, suaranya sedikit meninggi. "Katakan pada saya, apa masalahnya!"

Perseteruan Monika dengan dua orang itu sudah menjadi pusat perhatian. Beberapa pengunjung minimarket mulai melihat ke arah mereka.

Setelah dipikirkan matang-matang, Monika akhirnya mengalah. Dia memilih mengesampingkan tugasnya sejenak sebagai kasir minimarket. Toh, masih ada temannya yang berjaga. Akhirnya, dia keluar menuju gang sempit yang tidak banyak dilalui orang-orang. Di sana, mereka lebih leluasa berbicara.

"Apa yang terjadi? Kenapa Tuan-Tuan mencari saya?" Sebisa mungkin Monika mempertahankan sikapnya yang tenang. Dia tidak ingin gegabah mengambil keputusan sebelum tahu permasalahan yang sebenarnya.

"Anda tahu masalah keuangan yang berkaitan dengan tuan Jonathan?" pria itu kembali bertanya, mengamati ekspresi wajah lawan bicaranya.

Monika menarik napas dalam-dalam. Dia tidak tahu dan memang memilih tidak mau tahu. Setidaknya, hidupnya lebih tenteram tanpa kehadiran ayahnya.

"Saya tidak tahu. Terakhir kami bertemu tiga bulan yang lalu. Setelahnya, tidak pernah bertemu atau bahkan berkirim pesan. Mungkin beliau sibuk dengan perusahaan tempatnya bekerja atau istrinya. Aku memang putrinya, tapi kalian bertanya pada orang yang salah. Hubungan kami tidak sebaik itu."

"Silakan ikut dengan kami sebentar. Ada masalah di perusahaan yang berkaitan dengan beliau dan Anda harus mengurusnya."

"Kenapa harus saya? Masih ada anak dan istrinya yang lain. Mereka yang selama ini hidup bersama dengannya, bukan saya!" Monika mundur dua langkah, sedikit menjauh. Kecurigaan semakin bertambah di dalam hatinya. Alarm tanda bahaya segera berbunyi, memintanya untuk lebih waspada.

"Nona, kami hanya menyampaikan tugas untuk membawa Anda ke sana."

"Sayang sekali, saya sedang bekerja dan tidak bisa ikut seperti permintaan Anda."

Melalui ujung matanya, Monika melihat kedatangan tiga orang pria berpakaian hitam-hitam dari arah lain. Dia harus segera pergi dari sini, lebih tepatnya menyelamatkan diri.

"Nona, tolong jangan buang waktu Anda!" Pria itu mulai melangkah mendekati gadis rambut pirang yang cantik rupawan. Wajah menyeramkan miliknya terlihat jelas sekarang, membuat degup jantung Monika semakin tidak karuan di dalam sana.

"Ini tidak benar!" cetusnya dalam hati. Detik berikutnya, Monika berbalik dan mengambil langkah seribu. Dia harus segera menjauh. Jika tidak, entah nasib buruk seperti apa yang akan diterimanya.

"Nona, berhenti di sana!" teriak pria yang menyadari pergerakan Monika.

Bodoh jika gadis itu menghentikan langkahnya. Dia justru mengumpulkan tenaga untuk secepatnya kabur dari sana.

"Tangkap Nona Monika! Jangan biarkan dia lolos. Tuan Muda akan murka!"

Sekilas Monika mendengar perintah yang pria itu ucapkan, tentu saja membuatnya semakin panik. Tidak ada jalan lain. Dia harus menyelamatkan diri. Harus!

Lima orang itu mulai bergerak, mengejar Monika dengan segala cara.

Dengan napas tersengal, Monika berhasil memaksakan kakinya untuk tetap bergerak, menjauh dari para pengejar. Sesekali dia menengok ke belakang, menghitung jarak yang terasa semakin dekat. Hanya lima meter lagi dia akan sampai di jalan raya yang menjadi penghubung gang sempit dengan minimarket. Dia bisa berteriak minta tolong begitu sampai di sana.

"Dapat!" Sebuah tangan kekar berhasil mencengkeram pundak Monika, membuat pergerakannya terhenti seketika. Monika menepis tangan itu, membuat tubuhnya hampir terhuyung ke depan.

Monika masih bisa berlari meskipun sempoyongan. Sayangnya, tangan lain kembali datang. Percobaan Monika untuk kabur gagal. Dia kalah cepat dari pria yang kini menahan tubuh kecilnya.

"Lepas!" Monika meronta, berharap tenaganya cukup untuk memberikan perlawanan berarti. Namun, cengkeraman pria itu terasa semakin erat saja.

"Amankan dia!" teriak pria yang tampaknya adalah pemimpin orang-orang itu. Wajahnya merah padam, naik pitam karena hampir mendapat masalah dengan kaburnya Monika.

Tanpa menunggu waktu lama, pria yang berhasil menahan Monika kini mengangkat tubuh ramping itu di atas pundak seperti sekarung beras. Rontaan, teriakan, dan perlawanan yang coba dilakukan tak ada gunanya sama sekali. Tubuhnya begitu kokok, lebih keras dibandingkan samsak tinju. Perlawanan Monika tak membuatnya gentar sama sekali, langkahnya semakin mantap menuju mobil hitam yang tiba-tiba terhenti di tepi jalan. Decit remnya terdengar memekakkan telinga.

Hanya dalam hitungan detik, pintu mobil itu terbuka. Tubuh ramping Monika terhempas di kursi belakang, menghantam jok hitam yang terlihat mahal. Hanya ada seorang pria di balik kemudi, menatapnya tanpa berkata apa pun. Pintu tertutup sempurna bersamaan bunyi debam yang membuat Monika tertahan di sana.

"Siapa kalian?!" geram Monika sambil terus berusaha membuka pintu. Namun, teriakannya tak dihiraukan sama sekali. Dengan sisa tenaga yang ada, gadis itu masih coba mencari jalan keluar. "Buka pintunya!"

Bukannya menuruti permintaan Monika, pria dengan setelan rapi itu justru menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil hitam seharga miliaran rupiah melaju dengan kecepatan tinggi tanpa halangan berarti, membuat tubuh Monika kembali terpelanting ke belakang.

Teriakan menggema. Monika memegangi kepalanya yang terbentur cukup keras. Dia tidak tahu apa salahnya sampai harus ada di situasi seperti sekarang. Siapa orang-orang itu? Kenapa mereka membawanya pergi dengan paksa?

"Apa yang ...."

"Duduk diam di tempat Anda, Nona! Jika tidak, ucapkan selamat tinggal pada dunia ini!" Suara dingin itu berhasil membuat Monika terenyak.

Kehidupannya terlalu berharga untuk ditinggalkan. Masih ada banyak mimpi yang harus diperjuangkan. Hingga akhirnya, gadis itu hanya bisa duduk diam di tempatnya, mengamati jalanan di luar sana yang tampak asing baginya.

"Kita ke mana?" tanya gadis dengan rambut pirang kecokelatan pada pria yang fokus dengan jalanan di depannya. Perjalanan mereka sudah berlalu tiga puluh menit tanpa bersuara.

"Perusahaan."

Monika merutuk pria itu dalam hati. Dia tahu mereka akan pergi ke perusahaan tempat ayah kandungnya membuat masalah. Yang ingin dia ketahui, siapa yang akan ditemui untuk mengurus semua masalah yang ada, bukan tempat apa yang akan dituju oleh mereka.

"Nona akan mengetahui semuanya nanti."

Suasana kembali hening. Sisa perjalanan mereka berakhir dalam diam. Monika enggan bertanya karena tidak akan ada jawaban yang akan diperolehnya. Dia hanya harus mempersiapkan diri untuk kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.

Meski begitu, kepalanya penuh oleh berbagai tanya. Masalah pelik seperti apa yang dilakukan oleh Jonathan sampai melibatkan putrinya? Mungkinkah itu sesuatu yang begitu penting?

Bab 3

Mobil mewah berwarna hitam terhenti di pelataran parkir sebuah gedung pencakar langit ibu kota. Monika digiring menuju lift khusus yang akan membawanya ke lantai paling atas.

"Untuk apa kalian mengawalku? Aku tidak akan lari!" ketus Monika karena kelima pria berdiri mengelilinginya seolah dia bisa lari kapan saja. Padahal tidak mungkin. Dia bahkan buta arah sekarang, tidak tahu di mana dia berada.

Tidak ada satu pun yang menjawab Monika. Tubuh tegap mereka bagaikan manekin, tak bergerak sama sekali.

"Selamat datang, Nona Monika Alexandra." Sebuah suara terdengar menggema, bersamaan dengan pengawalan kelima orang yang otomatis memudar. Mereka undur diri, menjauh dari Monika yang masih diam dalam keterkejutannya.

Mata sipitnya membola saat melihat pemandangan luar biasa di depan sana. Sebuah pintu terbuka lebar, menampilkan sesuatu yang tak biasa. Tubuhnya bergetar hebat saat itu juga, mengabaikan pria yang asik mengamatinya dari belakang.

Hati Monika teriris melihat sosok pria yang sangat dibencinya kini tergeletak di lantai dengan luka mengenaskan di tubuhnya. Darah yang mulai mengering terlihat di kening, mengalir melalui pelipis sampai ke samping wajahnya.

"Pa?!" teriak Monika, berlari menghampiri Jonathan Wu yang tengah sekarat. Bulir-bulir air mata tak terbendung lagi. Sebesar apa pun kebenciannya pada pria ini, tak bisa memusnahkan cinta kasih yang terhubung karena pertalian darah antara ayah dan anak.

"Monika," bisik Jonathan dengan kesadaran yang tersisa. Keinginan terakhirnya benar dikabulkan oleh Rio, yakni bertemu dengan putri kandungnya. Suara lemah itu hampir tak terdengar, tapi seulas senyum terukir di bibir, "Maafkan Papa, Nak."

Monika menggelengkan kepala sekuat tenaga. Dia tidak akan memaafkan kesalahan ayahnya jika yang diucapkan adalah kata terakhir dalam hidupnya. Namun, tak ada yang bisa membantah jika takdir Tuhan berbicara. Semua sudah tertulis.

Detik berikutnya, mata itu terpejam. Nyawa Jonathan Wu telah meninggalkan raganya yang babak belur penuh luka. Episode hidupnya telah berakhir hari ini, menyisakan lara di dalam hati putrinya.

"Papa!" Monika berteriak histeris. Dia tidak bisa menerima fakta bahwa pria ini telah meninggalkannya, menyusul ibunya ke alam baka.

Dengan setulus hati, Monika memeluk tubuh Jonathan yang mulai terasa dingin. Apa yang terjadi tidak pernah terduga. Monika berharap semua hanya mimpi. Tidak benar-benar nyata. Hingga menit-menit berlalu, tangisnya saja yang menggema. Tak ada yang peduli.

"Hapus air matamu! Aku tidak ingin cairan itu mengotori lantai."

Suara dingin terdengar membuat Monika menoleh ke belakang. Tatap mata tajam penuh kebencian tertuju pada pria berpakaian rapi yang berdiri angkuh beberapa langkah dari tempatnya berada.

"Siapa pria ini? Apakah masih layak disebut manusia jika tidak iba saat melihat seseorang meregang nyawa di depannya?" batin Monika bergumam.

"Leo, siapkan kontraknya!"

Belum sempat Monika menghapus air mata, pria berpakaian hitam yang tadi mengemudikan mobil yang membawanya kemari, muncul di balik pintu. Di tangannya terdapat satu stopmap warna merah menyala.

"Bangun!" Suara dingin itu kembali menggema, menyuruh Monika untuk berdiri dari tempatnya memeluk mayat yang semakin memucat.

"Nona Monika, silakan," ucap Leo dengan nada bicara yang lebih bersahabat dibandingkan atasannya. Dengan isyarat tangannya, dia meminta Monika duduk di salah satu kursi yang ada seperti perintah tuannya.

Monika masih terpaku di lantai, enggan meninggalkan ayahnya di sana. Tidak. Dia tidak ingin pergi barang sejengkal pun.

"Nona ...." Leo tampak gusar. Entah kenapa wajahnya tampak khawatir, seolah berada dalam pilihan antara hidup dan mati. Dia mendekat dan berjongkok di depan Monika.

"Nona Monika Alexandra, silakan menghadap Tuan Muda. Jangan sampai membuatnya murka atau nyawa Anda taruhannya!"

Monika menelan ludahnya dengan paksa. Nada bicara Leo sama seperti saat di mobil tadi, penuh penekanan, membuatnya ketakutan.

"Tapi ...." Monika menatap wajah keturunan Chinese yang ada di pangkuannya. Mana tega dia meletakkan jasad ayahnya di lantai begitu saja. Sudah cukup putus hubungan mereka selagi Jonathan masih hidup. Sekarang, Monika masih ingin memeluk tubuh ayahnya untuk yang terakhir sebelum dikebumikan.

"Mari," bujuk Leo dengan nada merendah.

Dengan berat hati, Monika ikut bersama pria ini setelah mencium kening ayahnya. Dia mendekat ke arah makhluk lain yang sedari tadi mengamatinya. Sekali lagi, Monika menatap ke belakang. Tidak sampai hati meninggalkan sang ayah.

"Anak yang sangat berbakti," cibir pria yang duduk terhalang meja dari Monika dan Leo. Dia berdiam di singgasana miliknya dengan sikap jemawa.

Monika tak menggubris ucapan pria ini. Dia tidak peduli dengan omongan orang lain. Entah apa komentar mereka, dia berhak untuk menutup mata dan telinga.

"Berikan kontraknya!" titah Rio sambil memperhatikan penampilan Monika dari ujung kaki ke ujung kepala. "Tidak buruk," selorohnya tanpa diminta.

"Silakan duduk, Nona." Lagi-lagi Leo yang menjadi penghubung pria arogan ini dengan Monika.

Monika menurut, tak pernah berpikir untuk memberontak. Dia duduk di salah satu kursi kosong di hadapan pria angkuh tadi. Papan nama di atas meja bertuliskan Rio Dirgantara.

"Nona Monika, silakan baca kontrak ini. Setelahnya silakan bubuhkan tanda tangan atau cap jempol Anda di sana." Leo mulai menjelaskan. "Tuan Rio menjabat sebagai CEO di sini. Dia menginginkan kasus ini diselesaikan dengan damai. Setelah Anda menandatanganinya, ayah Anda akan dibebaskan dari semua kesalahan yang telah dilakukannya."

Monika menatap dua pria di depannya secara bergantian sebelum membaca rentetan huruf di atas kertas. Di kontrak itu disebutkan bahwa Monika harus menikah dengan Rio atau mengganti uang dua miliar rupiah yang dihilangkan Jonathan. Jika tidak, masalah ini akan dilimpahkan pada pihak berwajib.

"Kenapa saya harus menandatangani dokumen ini? Semua urusan keuangan ayah saya dipegang oleh ibu tiri saya, istri sahnya yang sekarang." Monika mengumpulkan keberaniannya. Otak cerdasnya segera bekerja, mencari solusi terbaik. "Jika Anda ingin meminta ganti rugi atau semacamnya, temui saja dia. Saya tidak akan menandatanganinya."

Rio tersenyum pongah menatap wanita cantik yang membuatnya tertarik. Dia salut akan keberanian yang Monika tunjukkan di depannya. Jujur saja, hatinya bergetar saat melihat wajah ayu perpaduan Indonesia-Inggris ini. Ada sedikit sentuhan Chinese di sana. Sebagai laki-laki normal, hasrat liarnya bahkan mulai aktif, membayangkan bisa mencicipi bibir berwarna peach milik Monika.

"Tuan," panggil Leo, mengerutkan kening saat melihat tuannya diam saja sambil tersenyum tanpa sebab.

Rio mengumpat dalam hatinya. Entah kenapa dia tiba-tiba ingin memiliki wanita ini lebih dari apa pun. Kecantikannya yang tiada tara, tidak pantas bersanding dengan pakaian kasir minimarket yang menempel di tubuhnya.

"Siapkan gaun untuknya!" titah Rio tanpa sadar. Dia sungguh tidak mendengar penolakan Monika barusan. Imajinasinya mengambil alih, menyingkirkan logika yang seharusnya bicara.

Dalam bayangan Rio, tubuh Monika lebih pantas memakai gaun seksi seperti bayangannya. Pakaian itu akan membuat seluruh bahunya terekspose.

"Maaf?" Leo tidak yakin dengan apa yang tuannya katakan. Mereka tengah membujuk Monika untuk menandatangani kontrak sebagai bentuk pertanggungjawaban uang yang Jonathan hilangkan, bukan membahas fashion atau semacamnya.

Pikiran liar Rio semakin menggila. Dia menelan ludahnya dengan paksa melihat kecantikan calon istrinya.

"Kemarilah, Sayang." Lagi-lagi Rio bermonolog, belum tersadar dari imajinasinya sendiri.

"Dasar gila!" ketus Monika. Dia berdiri detik ketika Rio masih berbicara. "Liar!" ketus Monika berapi-api. Kemarahan menyapanya, merasa dilecehkan oleh pandangan Rio barusan.

"Tuan?!" Leo menggoyangkan lengan tuannya, membuat lamunan pria itu terhenti seketika.

"Apa?" tanya Rio dengan wajah tanpa dosa. Dia tidak menyadari keberadaan Monika yang tak ada lagi di hadapannya. Gadis itu beranjak, kembali mendekat ke arah jasad ayahnya.

Leo menunjuk surat perjanjian yang masih utuh di atas meja, belum ada tanda persetujuan dari Monika sama sekali. Bahkan wanita itu berjongkok di depan mayat ayahnya, berusaha memangku pria itu seperti semula.

Tentu saja Rio marah setelah menyadari penolakan Monika. Matanya berkilat tajam penuh dendam.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED