Aku mendengkus kesal, Abdi melewatiku begitu saja. Dia berjalan ke arah ranjang, mengambil selimut dan bantal, lalu merebahkan tubuhnya di sofa. Tak lama kemudian terdengar dengkur halusnya.
Aku hanya bisa memperhatikan sambil membaringkan tubuh di atas kasur, berharap mata ini segera terpejam. Nyatanya aku tetap terjaga, meski lelah mendera jiwa raga
* * * * *
Efek susah tidur semalam, badanku rasanya pegal semua saat bangun. Kulihat ke arah sofa, Abdi sudah tidak ada. Samar-samar aku mendengar suara Abdi sedang bicara dengan seseorang, entah siapa.
"Maaf, semalam aku sibuk menyelesaikan pekerjaan, telfon sengaja aku matikan."
".................. "
"Namanya juga naik jabatan, tanggung jawabnya juga ikut dinaik-kan. Kerjaanku jadi banyak, jadi sering lembur," ucap Abdi pelan.
"................... "
"Iya, mereka datang ingin menjengukku, sekalian jalan-jalan katanya," ucap
".................. "
"Iya, aku ngerti. Tapi mau gimana lagi? Aku bener-bener sibuk sekarang, sabar dulu ya? Lebaran ini pulang, kok."
"..............."
"Ha... ha..., kamu ini lucu. Iya... iya... tunggu aku pulang ya? I love you." pungkas Abdi.
Rasanya pengen kugampar laki-laki tak tahu diri itu, bisa-bisanya nelfon perempuan lain di kamar ini. Meski kami menikah tanpa cinta, tidak bisa kah dia menghargaiku sedikit saja?
Abdi masuk kamar mandi, setelah meletakkan telfonnya di atas meja rias. Dia sama sekali tak menyapaku, padahal dia melihatku duduk di tepi ranjang.
Karena jengkel, akhirnya aku memutuskan keluar dari kamar. Tanpa cuci muka, aku langsung ngeloyor ke ruang makan. Di sana Papa dan Mama sedang sarapan berdua. Jujur aku iri sama mereka, puluhan tahun menikah masih saja mesra.
"Aduh Adelia kamu jorok sekali, belum mandi mau makan aja. Kamu itu sudah punya suami, bangun tidur itu langsung mandi, dandan yang cantik. Pagi-pagi suami disuguhin penampakan horor begini, bisa kabur dia!" omel Mama melihatku masih mengenakan baju tidur, dengan muka acak-acakan khas orang bangun tidur.
Kalau pasangan normal ya begitu, bangun tidur langsung mandi, habis bercinta kan? Lah aku, persis Mbak Kunti bangkit dari kubur.
"Duh Mama, pagi-pagi sudah ngomel nggak jelas. Kamar mandinya dipakai," ketusku.
"Harusnya kamu bangun duluan, dong! Jangan molor terus! Lagian kamu kenapa sih? Mukanya jutek banget?" lanjut Mama
"Sebel aku tuh!" ketusku, seraya menghempaskan tubuh ke kursi.
Mama menatapku heran, pun dengan Papa, dia langsung menghentikan aktivitas mengunyahnya, dengan tatapan yang menuntut jawaban.
"Menantu Mama itu, munafik! Dia tak mau menyentuhku, dia bilang, "Maaf, aku tidak bisa menyentuhmu, pernikahan kita tidak sah, wanita hamil haram untuk dinikahi" ucapku menirukan ucapan Abdi Negara semalam.
"Masak sih? Nak Abdi bilang begitu? Jadi semalam kalian---" tanya Mama mengambang.
"Iya, aku tidur di ranjang, dia tidur di sofa. Aku sendiri hampir nggak percaya, kalau tidak mendengarnya secara langsung. Sok suci banget sih! Bawa-bawa agama segala, bilang aja jijik sama aku, karena hamil dengan laki-laki nggak jelas," ucapku kesal.
"Yang Abdi katakan itu benar, wanita hamil tidak boleh dinikahi atau diceraikan. Pernikahan sah, jika dilakukan setelah masa nifas selesai," ucap Papa seraya mengelap bibirnya dengan tisu.
"Papa tahu? Kenapa tetap menikahkan kami berdua?" protesku.
"Papa terpaksa melakukannya, demi nama baik keluarga. Kamu hamil tanpa suami, mau ditaruh kemana muka Papa? Dengan menikahkan kalian harga diri keluarga terselamatkan.
Meski pada akhirnya orang-orang tahu kalau kamu hamil sebelum menikah, setidaknya mereka tidak tahu, kalau Ayah janin itu nggak jelas siapa. Mereka hanya tahu kamu menikah dengan Abdi, dan beranggapan janin itu anaknya Abdi," jelas Ayah.
"Sekalipun saling mencintai, kami tetap tidak boleh bersentuhan?" tanyaku lagi.
"Tentu saja, usai bayi itu lahir dan masa nifasmu selesai. Kalian harus menikah ulang, memang tidak harus ke KUA, tapi secara agama. Karena itu tadi, kalian menikah demi menutup aib, dan agar bayi itu punya Ayah saat dilahirkan."
"Berarti Nak Abdi itu paham ilmu agama ya, Pa?" sahut Mama.
"Lho, dia itu pernah mondok enam tahun di pesantrennya KH. Mahfud. Papa tidak akan sembarangan memilih calon menantu. Papa pilih Abdi, karena berharap dia bisa membimbing Adelia menjadi lebih baik, menjadi wanita sholehah.
Papa harap kalian bisa saling jatuh cinta, pernikahan kalian langgeng sampai kakek nenek."
"Aamiin ... semoga mereka berjodoh ya Pa? Bangga punya menantu seperti Nak Abdi, sudah ganteng, pinter, sholeh lagi," sahut Mama memuji Abdi.
"Huh!" Aku mendengkus kesal mendengar percakapan orang tuaku.
Bisa-bisanya memuji pemuda kampungan itu. Padahal aku berharap mendapat pembelaan dari kedua orang tuaku, ini yang terjadi malah sebaliknya. Mereka memuji Abdi habis-habisan.
"Sarapan Nak Abdi?" sapa Mama ramah.
Aku menoleh ke belakang, ternyata Abdi berjalan ke arah kami. Dia sudah terlihat rapi. Panjang umur tuh orang, baru diomongin langsung nongol.
Buru-buru aku memutar kembali kepala, malu kalau sampai Andi melihatku dalam keadaan yang mengerikan ini.
"Iya Bu," jawab Mas Abdi sopan, dia mengambil duduk tepat disampingku.
"Jangan Bu dong, manggilnya? Kamu kan menantu Mama sekarang, panggil Mama aja, biar lebih akrab." Mama lebay! gerutuku dalam hati.
"I--iya Ma,"
"Adel? Suaminya diambilkan makan, dong? Jangan diam begitu?" Mama mendelik ke arahku.
"He... he.... iya Mah." Canggung aku mengambil piring yang ada di depan Abdi.
Mama memang keterlaluan, aku berusaha menghindar dari tatapan Abdi, malah disuruh ngambilin makan.
"Mau makan pakai apa?" tanyaku kaku.
Gimana nggak kaku, kami hanya bertemu sekali sebelum menikah. Tak pernah berinteraksi, apalagi semalam dia baru saja menolakku, makin canggung lah aku.
"Terserah, apapun yang kamu ambil akan kumakan," jawabnya pelan.
Kuambil nasi dan lauk, lalu ku sodorkan pada menantu idaman Papa itu. Pria itu menerimanya, sambil mengulas senyum manis. "Terimakasih," ucapnya.
"Hari ini kamu tidak ke kantor, kan?" tanya Papa, memecah kekakuan diantara kami berdua.
"Nggak Pak, eh Pa. Saya mau menemui keluarga saya di hotel, hari mereka akan pulang ke kampung," jawab Abdi.
"Bagus lah, sudah sepantasnya pengantin baru itu cuti. Kalian pergilah jalan-jalan, atau kemana gitu, biar lebih akrab. Bagaimana pun juga kalian itu suami istri, sudah sepantasnya membangun kemistri, iya kan?"
Papa apa-apaan sih, ngomong kayak gitu? Siapa juga yang berakrab-akrab ria sama kanebo kering kayak dia? Males!
"Iya Pa, mungkin besok atau lusa. Nggak pa-pa kan, Del?" ucap Abdi seolah meminta persetujuanku.
Dasar penjilat! Di depan Papa dia bersikap manis, di depanku dia kayak es batu.
"Iya, santai aja, nggak usah buru-buru." jawabku sekenanya.
"Nak Abdi, Mama mau nitip oleh-oleh buat keluargamu, nanti jangan lupa bawa ya?" ucap Mama lembut, pada sangat menantu tersayangnya itu.
"Adelia kamu mandi gih! Dandan yang cantik, temani Nak Abdi menemui keluarganya. Jadilah menantu yang baik."
Mama beralih menatapku, aku balas dengan mendelik ke arah Mama, tidak setuju dengan perintahnya.
"Eh nggak boleh gitu! Nggak sopan, itu keluarga suami kamu lho!"
"Ok, aku mandi dulu. Dandan yang cantik, biar nggak malu-maluin. Begitu kan Ma?" sindirku.
"Pinter kamu," ucap Mama, membuatku kesal.
Sudah tahu kami menikah hanya pura-pura, kenapa aku dipaksa bersikap manis? Cukuplah aku menghadapi Abdi yang kaku, ini masih ditambah harus mengahadapi keluarganya. Menyebalkan!
Gegas aku meninggalkan meja makan, menuju kamarku, untuk melakukan perintah Mama. Kalau tidak dituruti, Mama bisa tiba-tiba menjadi raper.
Oh ya aku lupa, ini pernikahan sandiwara. Jadi aku harus berakting, seolah-seolah pernikahan ini nyata. Konyol memang.
To be continued....
Aku mematut diri di cermin, manatap pantulan diri, sudah pantaskah penampilanku untuk bertemu keluarga suamiku?
Dress motif bunga panjang selutut, make up tipis, membuatku terlihat lebih segar. Mama melarangku mengenakan celana jeans favoritku, katanya, "Kasihan dedek bayinya, kegencet pinggang celanamu."
"Nggak Pa-pa lah, Ma. Masih rata ini," protesku.
"Kamu nggak berubah ya? Sudah mau jadi ibu, kelakuannya masih kayak anak kecil. Suka membantah kalau dinasehati orang tua.
Biar masih kecil, bayi juga punya nyawa, dia butuh bernafas juga. Pokoknya lupakan jeans, atau pakaian ketat model apapun! Pakai pakaian yang longgar!" omel Mama panjang lebar, padahal aku hanya bicara sedikit.
"Pakai daster maksud Mama? Nggak ah, malu! Kayak emak-emak!"
"Eh siapa bilang? Banyak daster kekinian, kalau nggak mau daster ya pakai dres, yang penting nggak nekan perutmu! Mama sudah persiapan beberapa dress yang bisa kamu pakai kemana-mana, modelnya cantik tapi bisa menutupi perutmu."
Nggak nyangka aku, ternyata hamil diluar nikah serepot ini. Harus rela mengorbankan banyak hal untuk menutupi kehamilanku. Membayar suami pura-pura, pakai pakaian yang nggak asik.
Masih untung orang tuaku tidak mengusir ku, kalau sampai itu terjadi, aku nggak tahu bakal seperti apa hidupku. Jadi gembel mungkin?
"Nah, gitu kan cantik anak Mama?" ujar Mama, saat aku menyusul Abdi yang sedang ngobrol hangat dengan Papa.
"Kan memang aku cantik dari dulu, Ma." Aku berucap dengan bibir mengerucut.
"Cantik luar saja tidak cukup, harus dibarengi attitude, benar kan Nak Abdi?" Bibirku makin mengerucut mendengar ucapan Mama.
"Iya Ma," ucap Abdi sopan, hingga sukses membuat senyum Mama mengembang sempurna.
"Dasar penjilat!" rutukku dalam hati.
"Sudah, kalian berangkat sekarang, keburu siang!" titah Mama.
"Sudah siap kan? Berangkat sekarang yuk, Dek?" ucap Abdi lembut.
Kesambet apa manusia batu itu? Kok bisa bersikap lembut padaku? Kalau hanya sandiwara, dia patut diacungi empat jempol sekaligus, aktingnya benar-benar memukau.
"Ayo!" Tangan Abdi terulur menggandeng tanganku, yang masih syok dengan perubahan sikapnya.
"Jangan lupa berikan oleh-olehnya, ya Nak Abdi?" pesan Mama sebelum kami masuk mobil.
Sepanjang perjalanan menuju hotel, kami hanya diam. Abdi fokus menyetir, sementara aku sibuk menatap ke arah jalanan di sampingku. Merenungi nasibku yang tahu mau dibawa kemana
Hidupku seolah sedang dijungkir balikkan, aku yang biasanya menjadi idola, dielu-elukan hampir semua pria. Kini hanya dianggap angin lalu oleh laki-laki, bergelar suamiku itu.
Banyak pria yang rela melakukan apa saja agar bisa dekat denganku, tapi laki-laki ini memperlakukan aku seperti mahluk astral, antara ada dan tiada. Ada tapi tak dianggap ada.
"Aku harap kamu nanti bisa bersikap semestinya, di depan keluargaku," ucap Abdi memecahkan kebisuan diantara kami.
Aku menoleh, menatap laki-laki itu. Pandangannya lurus ke jalan, sama sekali tak melirikku.
"Maksudnya?"
"Bersikap lah seolah kita ini pasangan yang bahagia," jelasnya.
"Bahagia gimana? Kamu sendiri bersikap acuh padaku."
"Kamu bisa pura-pura mesra, kan?" Dahiku mengernyit mendengar ucapan Abdi.
"Hanya pura-pura, akting saja masak nggak bisa sih? Kamu harus ingat, keluargaku tidak tahu kalau pernikahan kita hanya sandiwara. Aku tidak mau mereka kecewa, karena sudah aku bohongi" lanjutnya.
Selain Mama, Papa, Abdi dan aku. Tak ada orang lain yang tahu, kalau pernikahan ini palsu. Hanya untuk menutupi aibku. Keluarga Abdi bahkan tidak tahu, kalau sudah berbadan dua.
Kata Papa, makin sedikit yang tahu makin bagus. Tak sepantasnya aib diumbar-umbar, cukup menjadi rahasia kami saja.
"Dan satu lagi, jangan panggil aku dengan sebutan 'Kamu'. Panggil aku Mas, aku ini suamimu, hormati aku!" ucapnya tanpa menoleh kepadaku.
"Banyak banget aturannya," protesku.
"Yang punya aib itu kamu, sekarang terserah kamu, kalau mau semua orang tahu rahasia ini," jawabnya dingin.
"S*alan!" umpatku kasar.
"Jangan mudah mengumpat, nanti jadi kebiasaan," sindirnya.
Aku hanya bisa mendengkus kesal, biasanya semua keinginanku selalu dituruti, oleh orang tuaku maupun pegawainya. Kini aku harus patuh pada salah seorang karyawan Papa. Ngenes.
"Kita sudah sampai, ingat! Jaga sikap!" ucapnya penuh penekanan.
"Iya," jawabku jengkel.
"Senyum, masak pengantin baru mukanya ditekuk gitu?"
"Iya iya! Bawel amat jadi orang. Perasaan aku menikah dengan laki-laki, kok mulutnya pedes kayak perempuan," sindirku.
"Kita sudah sampai," ucap Abdi, seraya memarkirkan mobilnya.
"Itu keluargaku sudah menunggu." Abdi menunjuk serombongan orang yang sedang memasukkan barang bawaan ke mobil travel.
"Ayo kita susul mereka." Tanpa menunggu jawabanku Abdi turun dari mobil.
"Ayo turun!" ucap Abdi ketika melihatku hanya diam.
Gegas aku turun dari mobil, dan menyusul Abdi. Tiba-tiba Abdi menggandeng tanganku. "Bersikap lah mesra, kita ini pengantin baru Ingat! Hanya sandiwara," ujarnya.
Huft! Aku sempat GR tadi, kupikir es batu itu mulai mencair.
"Nggak usah kamu ulang-ulang, aku juga ngerti!" ketusku.
"Senyum!" sentak Abdi, membuatku terpaksa melakukan apa yang dia minta.
"Nah, itu Abdi!" seru Ibu, ketika mami berjalan mendekat ke arah mereka.
"Bu," kusapa perempuan berusia lebih dari setengah abad itu. Tak lupa mencium punggung tangan, dan kedua pipinya. Begitu juga kepada saudara perempuan Abdi yang lain.
"Duh ... Nak Delia ini bener-bener cantik luar dalam ya? Tidak hanya parasnya, hatinya juga cantik, sopan dan hormat sama orang tua," puji ibu mertuaku.
"Ibu bisa saja," ucapku malu-malu.
"Nania, ayo sini! Kamu belum salaman sama Mbak Adelia!" Ibu mertuaku memanggil gadis remaja yang dari tadi sibuk dengan bawaannya.
"Wah, Mbak Adelia cantik banget ya Mas? Kulitnya bening kayak kaca, pantes aja Mas Abdi betah di kota. Sampai lupa sama Mbak Dind--" belum selesai Nania berkata, Ibu dan Mas Abdi sudah memelotinya.
"Nggak usah didenger omongan Nania, dia suka ngawur kalau ngomong," kilah Ibu.
"Nggak pa-pa, Bu," sahutku.
"He ... he ... maaf Mbak." Nania menatapku tidak enak, begitu juga Ibu.
Abdi punya kekasih di kampung, Ibu pikir aku tidak tahu. Mungkin Ibu pikir aku akan cemburu kalau tahu ada gadis lain di hati Abdi, padahal aku tidak peduli. Aku terlanjur sakit hati dengan sikap Abdi. Yang kuinginkan saat ini adalah menghancurkan hubungan Abdi dengan kekasihnya itu.
"Kami pulang dulu Nak Adelia, tolong sampaikan ucapan terimakasih kami pada kedua orang tuamu. Di, kamu jaga Non Adelia, jangan sampai kamu membuat dia sakit hati," pesan Ibu sebelum masuk mobil travel.
"Iya Bu, Ibu nggak usah khawatir." Sahut Abdi.
"Hhh, Pencitraan!" rutukku dalam hati.
Nggak di depan orang tuaku atau di depan orang tuanya. Abdi selalu menjadi sosok yang dipuja, tapi kepadaku dia bersikap dingin kaku.
"Main-main lah ke desa suamimu Adelia, biar kamu mengenal keluarga Abdi lebih dekat," ucap Kakak Abdi, yang aku lupa namanya siapa.
Mendengar ucapan kakak iparku, aku jadi punya ide. Akan ku selidiki siapa gadis yang menelfon Andi tadi pagi. Secantik apa kah dia? Hingga Abdi memilih setia dan mengabaikan aku?
"Tentu saja saya akan ke desa kalian, Mbak. Tapi nunggu Mas Abdi ada waktu." Lagakku sudah seperti istri sholehah saja.
"Kami tunggu. Selamat tinggal!" ucap Kakak iparku itu lalu masuk mobil travel.
To be continue ....