"Boleh kok, Azizah. Semua jadi lima puluh ribu, ya?"
"Kok sampai lima puluh ribu, Bi?"
"Karena kamu ngutang, zah. Beda kalau bayar kontan. Kalau kamu bayar kontan, Bibi akan kasih harga normal!"
"Tapi itu kan terlalu mahal, Bi?"
"Kalau kamu ada uang kontan sekarang, akan Bibi kasih murah! Sebab, seperti kata Pela tadi, belum tentu kamu bisa bayar cepat. Perputaran uang Bibi kan jadi tersendat di kamu!"
Azizah terpaksa mengalah demi supaya adiknya bisa makan. Sebelum dia pamit pulang, Pela bertanya kepadanya soal pekerjaan yang dia tawarkan. "Heh Azizah.... Gimana? Kamu jadi kan ngelamar pekerjaan yang aku kasih?"
"Iya, jadi."
"Bagus, lah. Biar kamu bisa bantu bayar hutang! Kasihan Bi Iyun kalau harus bayar hutang sendiri!"
Setahu Azizah, mereka tidak pernah berbelas kasihan kepada ibunya. Yang ada, mereka selalu menghasut ayahnya yang tidak lain adalah adik kandung wanita bernama Ijah itu agar menceraikan ibunya karena ibunya tidak bisa membahagiakan adik bungsunya itu.
Dia pulang dengan mengabaikan cibiran dari sepupunya dan Bi Ijah. Tadinya dia pikir Bibinya sudah berubah jadi orang yang baik saat dibela di depan anaknya. Tapi ternyata masih rakus dengan uang haram.
Bisik-bisik mereka masih terdengar oleh Azizah yang belum jauh dari tokonya. " Kamu berhasil bikin dia putus dari Rudi?"
"Iya, Ma. Rudi mutusin dia di depan aku. Kan aku lebih cantik dari dia, lebih modis dan kaya lagi." Gelak tawa mereka pecah saat membicarakannya.
Rudi adalah mantan pacar Azizah. Dia mengajak Azizah untuk melanjutkan hubungan mereka ke jenjang pernikahan. Tapi Azizah menolak dengan alasan dia masih ingin membahagiakan adik dan ibunya.
Pela menghasut Rudi agar memutuskan hubungan mereka. Dia merekayasa perselingkuhan Azizah dengan orang lain agar dia bisa memiliki Rudi. Alhasil, Rudi menerima Pela dan memutuskan hubungannya dengan Azizah.
Sesampainya di rumah, Azizah segera memasak nasi dan telur dadar. Melihat adik-adiknya makan dengan lahap, hatinya bercampur aduk. Ada perasaan sedih, haru dan bahagia.
Ucapan salam terdengar dari arah pintu. Suara salam dari seorang wanita yang membuat hati dan perasaan Azizah menjadi nyaman dan tentram. Segala kekhawatiran, kesedihan dan kebingungannya akan hilang saat mendengar suaranya. Dia adalah ibunya. Ibu yang sangat dia sayangi. Jika bisa dia akan menundukkan seluruh isi dunia di kaki ibunya. Tapi apa daya, dia hanya anak manusia yang mempunyai keterbatasan sebagai manusia.
"Wa'alaikummussalam, Bu."
Dengan senyum sumringah ibunya masuk. Ditangannya terdapat satu kantong plastik yang berisi beberapa bungkus lauk masak. Azizah mengambil bungkusan itu dari tangan ibunya agar ibunya bisa menggendong adik bungsunya yang menghambur ke pangkuan ibunya.
"Makanlah, Nak. Itu lauk dikasih Bu Epi langganan Ibu," suruhnya kepada Azizah dan Ainun.
Saat ibunya sedang asyik bersama adiknya, ayahnya pulang dengan sempoyongan, yang tak lain bernama Doni. Ibunya segera memapah ayahnya untuk masuk ke kamar tidur. Tapi ayahnya menghempaskan tangan ibunya dan berjalan sempoyongan ke arah Azizah.
Setelah menarik salah satu kursi di meja makan, dia berkata, "Heh, Azizah. Besok kamu harus ikut dengan Ayah."
"Kemana, Yah?" tanya Azizah cemas.
"Pokoknya, Kamu ikut saja."
"Mau kamu bawa ke mana anakku?" sela Ibunya yang juga cemas. Firasatnya sudah buruk. Darahnya berdesir karena dia tidak pernah berbuat baik kepada anak-anaknya.
"Mau aku jual untuk bayar hutang judiku!"
"Dasar manusia laknat kamu Doni! Dia itu anak kandungmu sendiri! Bukan barang yang bisa kamu jual untuk melunasi hutang judimu!"
Lelaki bernama Doni itu berdiri dari duduknya dan melayangkan sebuah tamparan yang keras kepada istrinya, hingga membuatnya tersungkur.
"Ibu...." Azizah dan Ainun serempak berteriak dan berlari ke arah ibunya. Sedangkan Akbar hanya berdiri mematung dengan mata melotot ke arah ayahnya.
Setelah ayahnya tertidur, Azizah mengutarakan niatnya untuk menjadi pembantu di sebuah rumah mewah yang tidak jauh dari rumahnya.
"Bu.... Sebetulnya, aku sudah mendapatkan pekerjaan."
"Benarkah, Nak? Pekerjaan apa? Dimana?" tanyanya dengan antusias sambil menyeka air matanya.
"Di jalan mawar, Bu. Rumah yang paling besar. Aku jadi pembantu di sana," terangnya.
"Pembantu?"
"Iya, Bu. Jika aku bekerja di sana, Ayah tidak akan bisa menjualku, Bu. Karena di sana diwajibkan menginap. Jadi aku tidak akan ketemu dengan Ayah. Bagaimana menurut Ibu?"
"Tapi, Nak. Apa kamu bisa bekerja sebagai pembantu? Itu pekerjaan kasar, Nak."
"Gak apa-apa, Bu. Aku pasti bisa, kok. Nanti setiap gajian aku akan kirim uang buat Ibu. Jadi Ibu bisa bayar hutang-hutang kita di warung Bi Ijah."
Dia memang ingin agar anaknya keluar dari rumah terkutuk itu agar lepas dari cengkraman ayahnya. Dia tidak mau anaknya dijual oleh suaminya untuk melunasi hutang judinya. Tapi jika anaknya menjadi pembantu, sesungguhnya hatinya agak berat. Tapi demi bisa mempunyai tempat yang aman untuk anaknya berlindung dia pun akhirnya memberikan izin.
"Baiklah, Nak. Mungkin ini jalan yang terbaik untuk lepas dari ayahmu yang jahannam itu," ucapnya seraya membelai kepala anaknya yang masih sempat-sempatnya tersenyum manis meski air matanya mengalir deras.
Azizah mengemas baju-bajunya yang akan ia bawa ke dalam tas ransel sebelum tidur. Dia ingat pesan ibunya, agar dia keluar dari rumahnya besok pagi-pagi sekali sebelum ayahnya bangun. Karena jika tidak, maka ayahnya tidak akan membiarkan Azizah untuk kabur.
Setelah subuh, Azizah bersiap untuk pergi dari rumah. Ibunya membantu mengangkat tas baju yang akan ia bawa. Azizah menyempatkan diri untuk mencium kedua adiknya yang masih tertidur.
Kemudian Azizah memeluk ibunya yang ringkih dengan berlinang air mata. "Azizah pergi ya, Bu. Ibu jaga adik-adik. Nanti kalau Azizah punya uang, Azizah akan kirim buat Ibu," ucapnya sambil berlinang air mata.
"Kamu jaga diri baik-baik, Nak. Gak perlu mikirin Ibu sama adik-adik mu," lirihnya dengan suara tersendat karena menahan air matanya yang seperti sungai yang meluap. "Cepatlah pergi sebelum ayahmu bangun," ujarnya seraya mendorong anaknya ke pintu. Begitu Azizah keluar dari pintu, ibunya segera mengunci pintu. Tubuhnya luruh ke lantai dengan bersandar di daun pintu. Isak tangisnya yang memilukan dia tutup dengan kedua telapak tangan agar suaranya tidak sampai ke telinga suaminya.
Sedangkan dari luar, Azizah juga merapatkan tubuhnya ke daun pintu yang sama dan berkata, "Azizah sayang sama Ibu dan adik-adik. Jika suatu saat Azizah menjadi orang sukses, Azizah akan bawa Ibu dan adik-adik. Ibu harus mau pisah dari Ayah," lirihnya dengan berlinang air mata.
Kemudian Azizah segera meninggalkan rumah dengan berat hati, karena takut ayahnya akan segera bangun lalu menahannya.
Selangkah demi selangkah ia berjalan menyusuri jalan raya yang masih lengang. Ia ingin segera sampai di tempat tujuan. Karena berjalan tergesa-gesa, dia hampir ditabrak sebuah mobil sport mewah keluaran terbaru.
"Akh...." Tas yang dibawanya terjatuh dibawah kakinya.
Pengemudi itu turun dari mobilnya. Azizah ingin marah, tapi melihat wajah tampannya, dia malah terpana. Namun, tanpa basa-basi pria ini langsung berkata kasar kepada Azizah. "Apa kamu tidak punya mata?" tanya pria itu dengan nada yang lembut tetapi dengan kalimat yang kasar.
Azizah menatap laki-laki itu tak percaya. Bagaimana bisa dia bicara seperti itu? Dia hampir saja menghilangkan nyawa Azizah, tapi bukannya minta maaf, dia malah berkata kasar padanya.
Azizah menstabilkan tubuhnya yang masih berguncang hebat karena terkejut dan rasa takut. Matanya berkedut dan napasnya dia hempaskan kasar, baru kemudian dia mulai bicara.
"Maaf, karena tadi saya tidak melihat ada mobil yang ugal-ugalan dari arah belakang saya, sebab mata saya ada di depan. Untungnya saya sempat melihat kebelakang, jika tidak saya pasti sudah almarhum sekarang," jawabnya dengan kesal tapi dengan nada yang sama lembutnya dengan lelaki itu.
Mendengar kalimat Azizah, membuat dia sadar kalau dia memang salah. Karena tadi dia menunduk untuk mencari ponselnya yang terjatuh, dia tidak melihat ke jalan. "Maafkan saya. Tadi saya memang salah. Apa ada yang luka?"
"Tidak ada luka luar," jawabnya enteng.
"Apa ada luka dalam? Kalau begitu, saya akan antar kamu ke rumah sakit." Raut kecemasan terlihat di wajah lelaki itu.
Azizah melengos kesal. "Tidak usah, terima kasih," ucapnya sambil mengambil tasnya yang ada di kakinya.
"Anda mau ke mana? Biar saya antar."
"Sepertinya aku harus menerima tawaran orang ini jika tidak mau disusul oleh ayah. Lagi pula, aku tidak punya uang untuk bayar ongkos angkutan umum," batinnya.
"Boleh kalau tidak merepotkan. Saya mau ke jalan mawar," ucapnya dengan senyum sumringah.
"Ayo kalau begitu," ucap lelaki itu sambil masuk ke dalam mobilnya.
Azizah masih berdiri di samping pintu mobil, dengan pikirannya sendiri. Dia berharap akan dibukakan pintu oleh yang punya mobil. Tapi sekian detik lamanya berdiri, tak juga dibukakan, membuat Azizah agak sedikit serba salah.
"Kok dia tidak membukakan pintu mobil untukku? Kalau di filem-filem kan pintu mobilnya dibukakan untuk sang cewek yang baru dikenalnya? Oh iya, ini kan di dunia nyata," kekehnya sambil menepuk jidatnya. Bergegas dia membuka pintu mobil dan duduk di samping pengemudi, setelah yang punya mobil memanggilnya untuk masuk.
"Heeh, iya...."
Setelah di dalam, Laki-laki berwajah ganteng dan kulit yang putih mulus dengan sedikit jambang yang tertata rapi itu memecah suasana dengan mengajak Azizah untuk berkenalan.
"Nama kamu siapa?"
"Saya Azizah," jawabnya seraya mengulurkan tangannya.
"Saya Yanto. Emm, maaf soal yang tadi. Saya benar-benar tidak sengaja."
"Sudahlah. Tidak apa-apa, kok."
Azizah kemudian diam seribu bahasa. Pikirannya sekarang berada di rumahnya. Air matanya yang dengan susah payah dihilangkannya tadi, sekarang hampir jatuh lagi, meski tak jadi jatuh. Sebisa mungkin jangan sampai orang melihat air matanya.
Tidak berapa lama, mereka sampai di sebuah rumah berukuran besar.
"Saya berhenti di rumah besar ini ya," ucapnya sambil menunjuk sebuah rumah yang mempunyai pagar tinggi dan ada pos satpam.
"Kamu turun di sini?" Yanto menunjuk balik rumah yang di tunjukkan Azizah. Dia tersenyum kecil, karena rumah itu adalah rumahnya sendiri.
"Iya.... Saya diterima bekerja di rumah ini. Dan ini adalah hari pertama saya bekerja. Terima kasih atas tumpangannya," ucapnya, lalu keluar dari mobil dan minta izin ke satpam untuk masuk ke dalam pekarangan rumah. Setelah mendapat izin, Azizah melambaikan tangan ke arah mobil yang masih belum beranjak dari depan gerbang rumah itu. Lalu dia masuk sesekali dia melihat ke belakang. "Kenapa mobil itu tidak pergi juga?" batin Azizah.
Sesampainya di dalam, Azizah langsung disambut oleh majikannya. "Saya senang kamu datang sepagi ini, Azizah," ucapnya, lalu dia memanggil seseorang.
"Mak Icun..."
Tak berapa lama tampak seorang wanita paruh baya datang tergesa-gesa. " Ya, Nyonya...."
"Kenalkan, ini Azizah." "Azizah, ini Mak Icun." "Mak Icun antar dia ke kamarnya, nanti Mak Icun kasih tahu apa-apa saja kerjaannya, ya," titahnya kepada wanita paruh baya bernama Mak Icun Itu.
Sebelum dia mengekor dengan Mak Icun, Azizah masih menyempatkan melihat ke belakang. Dia heran melihat mobil yang dia tumpangi masih terpampang di tempatnya berhenti tadi.
"Kenapa tu mobil gak pergi-pergi ya? Dia tidak punya pekerjaan apa, aneh!"