“Kkkkkkrrrriiiiinnnngggggg.” Bell masuk berbunyi, anak-anak berbondong-bondong berlari untuk masuk ke dalam kelas.
Jam pelajaran mereka pun di mulai, Aina yang saat ini tidak ada jadwal mengajar di jam ke dua pun memutuskan untuk pergi ke kantin bersama Nasya.
Kantin Sekolah….
“Bu Aina mau pesan apa? Biar saya pesankan.” Tanya Bu Nasya.
“Saya mau pesan mie ayam sama minumnya es teh manis yah, Bu.” Bu Nasya memanggil salah satu pegawai kantin sekolah dan memesan.
“Bu iem, saya mau pesan mie ayam sama bakso. Untuk minumannya es teh manis dua.”
“Siap Bu Nasya.” Ucap Bu iem.
“Bu Aina, saya ingin bertanya.”
“Panggil saja saya Aina, Bu Nasya.”
“Baiklah, A-aina. Kamu juga manggil saya, Nasya saja. Lagian umur kita tidak jauh berbeda” ucap Bu Nasya.
“Oke, Nasya. Kamu mau nanya apa tadi?”
“Sebelumnya saya minta maaf, kamu masih single atau udah merried?.” Tanya Nasya dengan tidak enak. Ya walaupun terbilang kurang sopan, tapi Nasya memiliki alasan untuk menanyakan hal itu.
Aina tertawa kecil “hehehehe,, Alhamdulillah.”
“udah merried?” tanya nasya memastikan
“Masih jomblo fisabilillah, dan saya juga gak tertarik buat menjalin relationship.” Jawab Aina sambil tertawa kecil.
Belum lama Aina dan Nasya mengobrol, Bu Iem datang membawakan pesanan makanan dan minuman yang di pesan oleh Nasya dan Aina.
“Monggoh,, ini mie ayam dan baksonya. Dan ini minuman es teh manisnya. Selamat menikmati.” Setelah menghantar pesanan makanan dan minuman Nasya dan Aina, Bu Iem kembali ke dalam lagi untuk membuat pesanan baru yang di pesan oleh beberapa guru di sana.
“Heeuuummmmm,, aromanya nikmat” ucap Aina.
“Gasssss,, makannn!!” balas Nasya.
“Kkkkkkkkkkrrrrrrrriiiiiiinnngggggggggg.” Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang. Bell pulang pun berbunyi. Aina dan Nasya yang sedang mengerjakan sesuatu di laptop pun mengakhiri pekerjaannya.
“Aina, kamu pulang sama siapa?.” Tanya Nasya.
“Aku bawa motor sendiri, Sya. Kalau kamu?.” Sambil menata berkas-berkas yang ada di meja kantornya.
“Aku juga bawa motor sendiri, yok bareng.” Ajak Nasya.
“Ayokk.”
Saat sampai di depan parkiran motor, tiba-tiba Pak Dimas menghampiri Aina.
“Selamat siang Bu Aina.”
“Siang juga.” Jawab Aina dengan cuek dan dingin seperti biasa.
Dalam hati Pak Dimas berkata, “ini cewek punya dua karakter atau gimana si? Cuekk amat. Tapi gak papa, cewek kan ngeselin. Jadi gue harus sabar ngehadapinnya.” Tutur Pak Dimas dalam hati.
“Bu Aina, pulang sendiri? Bareng sama saya yok.” Ajak Pak Dimas.
“Maaf, tapi saya tidak bisa.” Tolak Aina.
“Lho, kenapa Bu?”
“Tin, tin, tin.” Suara lakson motornya Naysa, dan Nasya pun menuju untuk menghampiri Aina.
“Eh, ada Pak Dimas.” Nasya menyapa sambil mengedipkan mata genitnya ke Pak Dimas.
Pak Dimas yang melihat kedipan mautnya Nasya membuatnya merasa geli. Aina yang melihat tingkah lakunya Nasya kepada Pak Dimas membuatnya ingin tertawa. Tak lama setelah diberi kedipat mautnya Nasya Pak Dimas langsung berpamitan kepada Aina untuk pulang terlebih dahulu, “Bu Aina, saya duluan yah.”
“Iyah, silahkan.” Balas Aina dengan cuek seperti biasa. Setelah Pak Dimas sudah berjalan menjauh, Aina dan Nasya pun tertawa bersama. HAHAHHAHAHABAHHAHAHAH AHHAHABAHHABAHAHAHABAHAHAHAHHA HHABABBABABBAHAHAHA HAHAHAHHAHAAHHAAH,, dengan puasnya Nasya tertawa.
“Udah udah takut ada yang liat hahaha, ntar dikira kerasukan lagi, yok pulang.” Ajak Aina.
“Yok.” Mereka menjalankan kendaraannya masing-masing. Mereka berhenti disaat ada lampu merah, dan bertepatan dengan perempatan jalur jalan ke rumah masing-masing.
“Aina, jalan kerumahku belok kiri nih.” Ucap Nasya.
“Jalan rumahku masih lurus, Sya”
“Kamu mau mampir ke rumahku dulu yok.” Ajak Nasya.
“Besok-besok ajah deh Sya, kamu yang mampir ke rumahku yok!.” Ajak Aina.
“Next time ajah deh.” Balas Naysa.
“Huuuuu, gak asik.”
Lampu hijau di rambu-rambu lalulintas sudah menyala.
“Udah ijo tuh, duluan ya. Dahh”
“Daahh”
“Ccccccccccciiiiiiiiiitttttttt.” Setelah memarkirkan motornya di teras depan rumahnya Aina membuka pintu untuk masuk ke dalam rumah.
“Kkkkkkkrrrrrriiiiieeeettt. Assalamualaikum, tumben sepi, pada kemana orang rumah ini.” Tuturnya. Aina langsung berjalan ke kamarnya dan membaringkan tubuhnya di atas kasur.
“Bbbrruuggg, eeeuuumm capeknya.” Ucapnya sambil memejamkan mata, tiba-tiba ia melihat jam yang berada di dinding kamarnya. Jarum jam menunjukkan pukul 13.30. “Astaghfirullah, aku kan belum sholat Dzuhur.” Aina langsung bangkit dari kasur untuk mengambil air wudhu, setelah mengambil air wudhu ia pun menggelar sajadah dan memakai mukenah. Ia segera menunaikan ibadah sholat Dzuhur.
“Allahuakbar”
“Assalamualaikum warahmatullah” Aina menoleh ke kanan. “Assalamualaikum warahmatullah” Lalu Aina menoleh ke kiri.
Lalu iaa berdo’a kepada Allah Subhanahu wa ta’ala sambil mengangkat kedua tangannya. “Ya Allah ya Tuhanku, trimakasih atas segala karunia yang Engkau berikan kepadaku, lancarkan lah segala urusan ku, lindungilah hamba, kedua orang tua hamba, dan anggota di keluarga hamba dari marabahaya dan malapetaka, dari kejahatan syaitan yang terkutuk. Kuatkan lah iman Islam hamba, aamiin. Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayani saghira. Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannar” lalu Aina mengusap wajahnya.
“Alhamdulillah, dah selesai” ucap Aina sambil melepaskan mukenah yang ia kenakan, ia masih mengenakan hijabnya. “Ini Mamah sama Papah kemana si kok pergi gak ngasih tau aku” ucapnya dengan nada sebal.
Aina mengambil ponselnya di dalam tasnya, lalu ia mematikan mode pesawat. Dan semua pesan dari whatsapp seketika masuk. Begitu banyak pesan yang Aina belum baca, salah satunya dari Mamahnya.
“Mamah Malaikatku.”
Nama yang Aina tulis di kontak whatsapp nya.
Begitu banyak panggil telpon yang tak terjawab, sekitar 15 panggilan tak terjawab. Karena Mamah Aina menelpon disaat Aina sedang mengajar, dan kebetulan memang di sekolah tempat ia mengajar, Aina tidak menyalakan handphonenya karena sibuk menata data muridnya di laptop. Mamah Aina menulis pesan. “Assalamualaikum Aina, Mamah sama Papah mau ke rumah Mba Jenna di Semarang. Tadi Mba mu telpon Mamah sambil nangis-nangis, Mamah sama Papah jadi gak tega. Akhirnya Mamah sama Papah pergi ke tempat Mba mu. Takut dia kenapa-kenapa, kasihan Dika.”
Pesan kedua, masih dari Mamahnya. “Mamah berulang kali buat nelpon kamu tapi HP kamu gak aktif-aktif, mungkin kamu lagi sibuk-sibuknya. Maaf yah Mamah tinggal, kamu kalau mau nyusul, nyusul ajh”
Aina membalas pesan Mamah nya. “Waalaikum salam, Iyah mah gak papa. Aina udah biasa mandiri. Mba Jenna nangis kenapa lagi? Pasti karna ulahnya Ka Eko yah? Aina udah bisa nebak kajadian itu pasti terulang lagi. Orang kayak gitu tuh gak bisa berubah!! Aina jadi ikut kesel deh!! Kirim ” Balas Aina sambil sedikit emosi.
Tiba-tiba ada notifikasi whatsapp dari nomor yang gak dikenal.
“Ini nomer siapa nih?” Tanyanya pada diri sendiri, lalu ia membuka pesan itu.
“Assalamualaikum Aina, ini aku. Nasya, guru yang ngajar sejarah di sekolah menengah pertama islam negeri.”
“Waalaikum salam, ouuu Nasya. Oke oke aku save yah,” balas Aina.
“Kamu lagi ngapain Aina?.” Tanya Nasya.
“Lagi santai nih di kamar.”
“Besok kamu berangkat ke sekolah lagi kan buat ngajar?”
“Aku belum tau si. Niatnya besok aku mau ngambil cuti buat beberapa hari.”
“Lho lho lho, kok gitu? Kenapa? Kapok kah ngajar disana? Padahal baru pertama masuk lho.” Tanya Nasya sambil mengirimkan emot tertawa.
“Kapok si engak, cuman besok aku mau ke Semarang. Besok aku minta tolong kamu buatin surat cuti buat aku yah.” Sambil mengirim emot ketawa.
“Semarang? Ngapain?.”
” Oke besok aku buatkan.”
“Aku mau ketempat Mba ku disana. Makasih yaw ^^ “
“Mba mu rumahnya di Semarang? Budhe ku juga di Semarang wkwkwk.”
“Wihhhh,, jangan-jangan…..” Balas Aina.
“~ Jangan datang lagi cinta, bagaimana aku bisa lupa. Padahal kau tahu, kenyataannya kau bukanlah untukku” balas Nasya menggunakan lirik lagu.
“Hahahaahahaahh, Nasya kocak.”
“Ntar malam kamu sibuk gak?.” Tanya Nasya.
“Enggak kok, lagi Kesepian juga wkwkwkw,” balas Aina.
“Ke perpustakaan kota yok.” Ajak Nasya.
“Gasssss,, baca buku gratis wkwkwk.”
Nasya hanya membalas menggunakan emoticon jempol.
Malam hari pun tiba. Aina dan Naysa pergi ke perpustakaan kota, siapa yang menyangka the real of love story Aina akan dimulai dari sini..
Aina mengambil salah satu buku yang bertema Psychology dan Nasya masih memilih-milih buku yang akan dia baca. Aina membaca buku sambil berjalan mengikuti Nasya, tiba-tiba...
"Bbbrruuggghhh"
"Aawww," rintih Aina.
"Mm-maaff Mba." Ucap seorang laki-laki yang sedang terburu-buru menuju pintu keluar. Laki-laki itu mengambil buku Aina yang tidak sengaja terjatuh olehnya.
"Ini bukunya, maaf yah." Ucap laki-laki itu sambil menyerahkan buku pada Aina.
Aina mengambil buku itu dari tangan laki-laki yang sudah menabraknya.
"Lain kali kalo jalan hati-hati dong!!" Ketus Aina.
Laki-laki itu mengulurkan tangannya kepada Aina. "Michael."
Aina tidak menanggapinya, karena memang sedingin itu dia kepada laki-laki. Aina lebih memilih duduk di sofa perpustakaan yang sudah di sediakan sambil melanjutkan bacaan nya. Justru malahan Nasya yang membalas uluran tangan Michael.
"Nasya." Nasya tersenyum malu-malu. Michael membalas senyumannya tapi ia melirik ke arah Aina.
"Jangan di ambil hati yah, Aina memang gitu kalau sama cowok. Dingin, datar, cuek, tapi dia aslinya baik kok, ramah, asik." Ujar Nasya.
"Aina? Jadi cewek itu namanya Aina?." Tanya Michael untuk memastikan.
"Iyah."
"Nasya!!" Panggil Aina. "Sebenarnya yang ngajak ke perpustakaan itu aku atau kamu si?." Tanya Aina dengan nada kesal karena dirinya merasa di cuekin oleh Nasya.
"Iyah Aina, aku kesitu." Balas Nasya sambil mengambil buku random yang berada di rak perpustakaan. "Dah, Michael." Nasya pun lari kecil sambil menghampiri Aina yang sedang duduk di sofa tersebut.
Michael yang benar-benar terpesona dengan Aina saat pertemuan tadi membuatnya terus memikirkan gadis itu. Gadis yang tidak terlalu tinggi, mengenakan pakaian gamis polos berwarna hitam dan hijab berwarna lavender, membuat Michael yang sedang menyetir mobil senyum-senyum sendiri.
Michael, pria berusia dua puluh tujuh tahun. Seorang dosen muda yang berhasil lulus dari universitas luar negeri. Sudah 2 tahun dia mengajar di salah satu Universitas yang berada di Jakarta, dan sekarang ia meminta di pindahkan mengajar di cabang Semarang, tempat kelahirannya. Michael, seorang anak tunggal dari pasangan dokter Wijaya dan ibu Sri, seorang psikiater.
"Aku masih penasaran sama gadis itu. Kata temannya, dia itu dingin, datar dan cuek kalau sama cowok. Apa alasannya? Kenapa dia bersikap seperti itu pada laki-laki? Apa dia tidak suka laki-laki?, ah masa iyah si. Atau dia punya trauma, mungkin?." Tanya Michael pada diri sendiri.
*** *** ***
Aina dan Nasya masih membaca buku di perpustakaan itu. Saat Aina membalik lembaran buku, Aina menemukan kata-kata motivasi yang tertulis di buku itu. Tulisannya seperti ini.
"Yang hari ini penuh keputusasaan, bisa jadi di masa depan akan merasakan banyak kebahagiaan. Yang hari ini gagal, bisa jadi di masa depan akan mendapatkan keberhasilan.
Yang hari ini terlihat dekat sekali, bisa jadi di masa depan menjadi orang asing yang seperti tidak saling mengenali. Yang hari ini memiliki segalanya, bisa jadi di masa depan kehilangan semuanya.
Yang hari ini hidup, bisa jadi besok akan mati. Yang hari ini saling membenci, bisa jadi di masa depan akan saling mencintai. Yang hari ini tidak mempunyai apa-apa, bisa jadi di masa depan mempunyai semuanya.
Hidup itu akan terus berubah. Tidak selamanya stuck di itu-itu saja. Banyak plot twist kehidupan yang akan dirasakan. Maka dari itu, tetaplah berusaha dan berdoa. Karena takdir manusia berbeda, dan "goals-nya" tidak terjadi pada kalender yang sama.
#quotespsikologi - Unamoonroll"
Itu sebabnya Aina menyukai buku-buku tentang psychology, berkat itu Aina sudah bisa belajar menerima diri sendiri, sudah bisa berdamai dengan luka dan juga keadaan. Tapi ia masih trauma dengan laki-laki, karena ia beranggapan kalau laki-laki itu kasar, suka menyakiti hati perempuan. Bagaimana tidak ia beranggapan seperti itu, karena laki-laki terdekatnya yang membuatnya beranggapan seperti itu. Walaupun pasti ada alasannya.
"Aina, udah jam 21.30 nih, perpustakaannya juga udah sepi. Pulang yuk." Ajak Nesya. Aina melirik kanan kiri, dan benar sudah tidak ada orang di perpustakaan.
"Ya udah yuk, balik." Aina menutup bukunya dan menaruhnya kembali ke rak buku bersama Nesya.
* Lokasi : lampu merah, perempatan jalur jalan ke rumah masing-masing.
"Besok jangan lupa yah buatin surat izinnya," ucap Aina.
"Siap." Balas Nesya sambil mengangkat jempolnya.
Lampu rambu lalulintas sudah berwarna hijau yang mengartikan para pengendara sudah aman berjalan.
"Daah"
"Daah"
Aina dan Nesya sudah terpisah oleh jalur jalan. Aina mulai menaikan gas motornya lebih tinggi dari biasanya karena jalanan sepi, Aina berteriak di sepanjang perjalanan. "Huuuaaa aaaaa aaaa aaaaa." Karena dengan begitu beban hidupnya tak terasa, walaupun Aina seorang guru Agama, ia tidak terlalu fanatik. Maklum saja karena Aina seorang manusia biasa, kadang bisa menjadi ukhti dan terkadang bisa menjadi kunti.
"Ccccccccccciiiiiiiiiitttttttt," setelah Aina sampai rumah, ia langsung membuka pintu.
"Kkkkkkkrrrrrriiiiieeeettt,,, assalamualaikum." Salam Aina, dan ia langsung berjalan menuju kamarnya untuk langsung merobohkan badannya di atas kasuk yang empuk.
"Brruugghh." Tak lupa Aina membaca do'a sebelum tidur.
"Bismillahirrahmanirrahim bismikallahumma ahya wa amut wa bismika amut, aamiin." Tak butuh waktu lama Aina langsung tertidur.
*** *** ***