Seperti yang kemarin dikatakan oleh Anita, dia akan keluar bersama temannya. Dan di sinilah mereka, di salah satu mall di Jakarta. Elsa sudah menyempatkan waktunya untuk keluar bersama Anita hari ini. Beberapa paper bag sudah bergantung di tangan ke dua wanita ini.
“Gimana kuliah di Havard?” tanya Elsa. Mereka saat ini sudah ada di salah satu restoran Jepang yang ada di mall tersebut.
“Ya, nggak gimana-gimana juga. Sama aja kayak kuliah di kampus lain. Masuk kelas, dengar materi, pulang, nugas,” jelas Anita seadanya kepada Elsa.
“Cuma gitu? Nothing special someone, gitu?” tanya Elsa tersenyum menggoda. “Cowok-cowok di sana pasti ganteng-ganteng, kan? Apalagi Havard loh, pasti pada pinter-pinter.” Elsa tampak lebih antusias dari pada Anita.
“Gue ke sana buat belajar! Bukan nyari cowok,” jelas Anita malas.
Tidak bisa dipungkiri memang pria yang dia temui di sana memang tampan dan berwawasan luas. Namun, Anita tidak memiliki waktu untuk asmara di sana. Lagi pula, tidak ada yang benar-benar menarik perhatiannya. Jadi, akan lebih baik jika Anita fokus kepada pendidikan lebih dahulu. Urusan hati, bisa belakang setelah pendidikannya selesai.
“Monoton banget hidup lo di sana, An!” ujar Elsa.
Bertepatan dengan sushi pesanan mereka yang baru saja tiba. Anita membantu untuk menurunkan beberapa piring berisikan sushi miliknya. Dia langsung mengambil itu lalu mencobanya satu. Tidak jauh berbeda dari sushi yang biasa Anita makan dulu.
“Mau gue kenalin nggak sama cowok?” tanya Elsa setelah pelayan yang mengantarkan sushi mereka pergi. Anita tidak menanggapi sejenak pertanyaan dari Elsa.
“Gimana ya? Gue belum tertarik buat punya hubungan sama cowok. Nanti deh, kalau gue udah tertarik.” Anita mengambil sumpit lalu mengambil satu Sushi lagi miliknya.
Untuk sementara, Anita berpikir untuk fokus terlebih dahulu kepada pekerjaannya. Dia merasa belum siap untuk urusan asmara seperti itu. Dia belum terpikir kapan akan mulai menjalin hubungan asmara. Namun, dalam waktu dekat ini Anita rasa tidak ingin melakukannya. Berdasarkan yang dia perhatikan sewaktu SMA dia berteman dengan Elsa, hubungan asmara itu terlalu ribet. Kita harus berbagi kabar dua puluh empat jam kepada pasangan. Yang menurut Anita tidak ada gunanya sama sekali.
Setelah itu, pembicaraan mereka berlanjut ke mana-mana. Hingga tanpa terasa sushi dan beberapa menu makanan yang lainnya mereka berdua sudah habis. Elsa dan Anita kemudian membayar makanan mereka lalu bergegas keluar dari sana. Mereka tidak langsung pulang, tapi melanjutkan berkeliling ke beberapa tempat. Tentu saja, setelah lama tidak bertemu banyak hal yang mereka bicarakan. Sambil berjalan, Elsa dan Anita membicarakan banyak hal.
Hingga tanpa sengaja, Anita menabrak seorang pria. Paper bag yang ada di tangan Anita terlepas. Begitu juga dengan ponsel orang yang dia tabrak, terjatuh dan menimbulkan suara yang sedikit keras. Terlalu kentara bahwa layarnya pecah.
“Maaf, saya tidak sengaja!” seru Anita spontan langsung memungut ponsel itu, tidak menghiraukan belanjaannya yang sudah berantakan. Benar saja, permukaan ponsel pria itu pecah sampai menurut Anita sudah tidak layak pakai. Beruntung, itu menggunakan anti gores hingga layarnya ponselnya aman. Pria itu mengambil ponselnya dari Anita dengan gerakan cepat.
“Tidak, apa-apa. Saya juga minta maaf karena tidak memperhatikan jalan.” Pria itu hendak langsung pergi dari sana. Namun, langsung di tahan oleh Anita. Dia merasa wajah pria itu sangat tidak asing, tetapi Anita lupa melihatnya di mana.
“Saya akan mengganti biaya perbaikannya,” ucap Anita saat menghentikan langkah pria itu. Sementara pria yang Anita tabrak menatap wajah Anita sejenak.
“Tidak masalah, ini tidak terlalu parah. Saya sedang buru-buru,” ucapnya melepaskan tangannya dari genggaman Anita.
“Bagaimana jika Anda mengambil kontakku. Anda bisa menghubungiku jika hendak memperbaiki ponsel, Anda.” Anita tidak menyerah untuk bertanggung jawab atas kecerobohannya hingga membuat barang seseorang rusak. Sementara Elsa hanya diam saja melihat tingkah Anita yang terlalu bertanggung jawab itu.
Mungkin karena tidak ingin berurusan terlalu jauh dengan Anita, Pria itu kemudian memberikan nomor ponselnya lalu pergi meninggalkan Anita. Setelah mendapatkan nomor ponsel pria itu, Anita langsung menghubunginya agar nomornya tersimpan di ponsel pria itu. Elsa terkesan sendiri melihat kesungguhan Anita untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya yang sebenarnya jika di lihat, tidak akan semahal itu. Apalagi pria itu terlihat seperti seseorang yang kaya. Tidak akan terlalu masalah untuknya.
Berkali-kali Elsa menggoda Anita karena temannya itu seperti sedang mengambil kesempatan. Pasalnya, pria yang Anita tabrak tadi adalah pria muda yang terlihat sangat tampan. Dia juga terlihat seperti pria baik-baik. Bahkan Elsa memiliki pandangan yang sangat bagus kepada pria itu. Namun, Anita terus saja menentang prasangka Elsa dan mengklaim bahwa apa yang dia lakukan murni hanya karena dia merasa bersalah telah merusak barang pria itu. Elsa akhirnya mengalah dan mengabaikan saja temannya itu.
Setelah cukup lama berkeliling, mereka kemudian memutuskan untuk pulang. Hari juga sebentar lagi akan gelap. Mila juga sudah menghubungi Anita sejak tadi menanyakan kapan putrinya itu akan kembali. eElsa dan Anita berpisah di tempat itu karena mereka membawa mobil masing-masing. Saat akan keluar dari area mall, Anita kembali melihat pria yang tadi dia tabrak juga akan pergi dari sana. Seketika, dia langsung mengingat pria itu adalah pria yang dia lihat di instagram perusahaan papanya.
Saat ini Anita sudah keluar dari area mall dan sekarang dalam perjalanan pulang. Dia akan menunggu sampai pria itu menghubunginya setelah memperbaiki layar ponselnya. Walaupun Anita tidak yakin bahwa pria itu akan menghubunginya.
***
Usai makan malam, semua orang kecuali Fadly adik Anita berkumpul di ruang keluarga bersantai menikmati waktu istirahat. Sejak Anita pulang tadi sore, Fadly sudah tidak berada di rumah. Anita tidak mengindahkan hal itu. Hal biasa jika anak itu tidak ada di rumah di waktu seperti ini.
Wijaya dan Mila sekarang sedang bersantai menonton TV. Sedangkan Anita sibuk dengan ponselnya sendiri. Hingga tiba-tiba dia teringat dengan pria yang dia temui di mall tadi. Anita langsung membuka instagram Wijaya Corporation Built Group menekan postingan paling baru. Foto yang dia lihat saat dalam perjalanan pulang kemarin.
“Pa, ini siapa?” tanya Anita menunjuk pria yang terlihat paling muda di foto itu. Wijaya mengalihkan perhatiannya dari TV dan melihat ponsel putrinya, Anita
“Itu Pak Aldo, pemiliknya Aldo’s Group, partner bisnis Papa. Emang kenapa, An?” tanya Wijaya karena putrinya tiba-tiba menanyakan Aldo.
“Enggak Pa, tadi Anita nggak sengaja ketemu sama dia di mal,” jelas Anita yang hanya diangguki mengerti oleh Wijaya. “Tapi Pa, orang semuda itu udah mimpin perusahaan?” tanya Anita sedikit penasaran dengan pria itu.
“Jangan salah, umurnya memang muda. Tapi wawasannya tidak bisa diremehkan.” Wijaya membanggakan Aldo di depan Anita. Hingga membuat wanita itu tambah penasaran dengan pria itu. Anitaa ingin bertanya lebih lanjut terkait Aldo, tetapi dia urungkan. Dia malah terkesan seperti penguntit jika menanyakan lebih lanjut. Karena itu, Anita hanya diam saja dan melanjutkan kegiatannya.
Sesuai dengan janji Anita tempo hari, dia akan mulai bekerja di Wijaya Corporation Built Group, perusahaan milik Wijaya, ayahanda Anita. Hari pertamanya, Anita bahkan tidak datang bersama sang papa. Dia datang sendiri ke kantor dan mengkonfirmasi dirinya sendiri ke HRD. Anita tidak tahu posisi apa yang papanya berikan kepadanya. Dia lupa menanyakan hal itu.
Anita mengetuk pintu kantor HRD untuk meminta izin kepada orang yang ada di dalam. Setelah mendapatkan izin, Anita kemudian masuk ke dalam. Tanpa dia duga, papanya ternyata menempatkannya menjadi sekretaris. Agak sedikit mengejutkan bagi Anita sendiri, karena Anita belum memiliki pengalaman sedikit pun. Bahkan walaupun Anita lulusan terbaik Havard University sekalipun, itu bukan jaminan dia mampu melakukan tugasnya dengan baik.
HRD kemudian mengarahkan Anita ke ruangan Wijaya, untuk tugas pertamanya. Dengan langkah cepat Anita langsung bergegas ke ruangan papa Wijaya. Dia mengetuk pintu ruangan tiga kali lalu langsung masuk tanpa instruksi dari pemilik ruangan.
“Pa! Kenapa ....” Belum sempat Anita menyelesaikan kalimatnya, dia menyadari ada orang lain di dalam ruangan tersebut selain papa Wijaya.
Dia segera menyesali perbuatannya saat melihat papa Wijaya sedang tidak sendiri di dalam sana. Seorang pria muda yang belakangan entah kenapa selalu bertemu dengannya sedang berada di dalam ruangan papa Wijaya bersama beberapa orang yang tidak Anita kenali. Ingin sekali Anita menghilang saat ini juga. Dia tersenyum kepada semua orang tersebut, lalu menutup pintu pelan-pelan, sembari Anita melangkah mundur perlahan dengan kikuk.
Di luar ruangan papa Wijaya, Anita menjambak rambutnya sendiri karena malu. Dia meruntuki kebiasaannya yang masuk sesuka hati ke ruangan orang yang dia kenal seperti itu. Anita berdiri di luar ruangan sang papa, menunggu orang yang ada di sana keluar.
Sementara itu, Aldo sedikit terkejut dengan kemunculan wanita yang merusak ponselnya di mall tiba-tiba. Namun, Aldo segera menyingkirkan semua keterkejutannya itu dan kembali fokus dengan apa yang sedang mereka diskusikan. Memang tidak biasanya mereka berdiskusi di ruangan direktur utama. Namun, karena Aldo sedang buru-buru jadi dia langsung membahasnya begitu saja saat bertemu dengan Aldo di ruangannya.
“Kalau begitu saya permisi dulu, Pak,” ucap Aldo mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Wijaya. Wijaya menerima jabat tangan Aldo. Beberapa orang lainnya membereskan dokumen yang tadi mereka diskusikan. Baru setelah itu mereka keluar dari ruangan Wijaya.
Mata Aldo dan Anita sempat bertemu saat pria itu keluar dari ruangan Wijaya. Anita hanya bisa tersenyum kikuk kepada pria itu. Sedangkan papa Wijaya berlalu begitu saja dari sana. Anita kembali mengacak-acak rambutnya karena rasa malu. Setelah Aldo menjauh, sedangkan Anita buru-buru masuk kembali ke ruangan papa Wijaya.
Anita yang awalnya hanya sedikit kesal kepada Papanya sekarang semakin kesal. Dia menekuk wajahnya saat berhadapan dengan papanya yang masih terlihat keren itu.
“Papa kenapa nggak bilang kalau ada orang!” seru Anita saat dia sudah berada di ruangan sang papa.
“Ya mana Papa tahu kalau kamu mau masuk,” ucap papa Wijaya singkat. Bahkan papa Wijaya tidak menatap Anita dan hanya fokus kepada berkas yang ada di tangannya. Tentu saja Anita mendengkus kesal dengan Papanya itu.
“Pa, kenapa aku dikasi posisi sekretaris?” tanya Anita dengan nada yang sedikit ketus. “Aku kira aku cuma jadi karyawan biasa? Kenapa malah tiba-tiba jadi sekretaris, Pa? Aku kan belum punya pengalaman!” lanjut Anita melakukan aksi protes terhadap jabatan yang diberikan kepadanya.
“Makanya karena kamu tidak punya pengalaman, Papa kasi jabatan yang dekat dengan Papa. Biar Papa bisa bimbing kamu langsung. Kamu tidak perlu mengganggu pekerjaan karyawan lain.” Penjelasan papa wijaya memang masuk akal, tetapi sedikit meragukan. Maksudnya, Anita tidak bisa diandalkan, begitu?
Anita tidak menanggapi lebih jauh dan lebih baik menerima saja apa yang sudah papa Wijaya tentukan. Menjadi sekretaris juga bukan pekerjaan untuk orang dengan kinerja buruk. Kalau dia berbuat salah, maka papa Wijaya yang langsung bisa merasakan akibatnya. Lagi pula pria itu yang meletakkannya di posisi ini.
“Perusahaan kita ada proyek bersama Aldo’s Group. Kita berencana membangun resort di Bali. Kami sudah menetapkan tempatnya, tinggal pelaksanaannya saja. Ini tugas pertama kamu.” Papa Wijaya meletakkan berkas di atas meja untuk di tunjukan kepada Anita, putrinya. Anita meraih berkas yang ada atas meja lalu membacanya dengan teliti.
“Buat kerja sama dengan tim di perusahaan. Hubungi tim hukum lebih dahulu. Lalu kamu bisa atur janji dengan Aldo’s Group untuk hal lebih lanjut.” Papa Wijaya menjelaskan dengan teliti pekerjaan yang harus dikerjakan oleh Anita. Gadis itu mengangguk mengerti lalu keluar dari ruangan papa Wijaya dengan berkas tadi di tangannya.
Di hari pertamanya, tugas yang papa berikan terasa terlalu banyak untuk Anita. Gadis itu tidak mengeluh sama sekali dengan tugas yang diberikan kepadanya. Seperti yang papa Wijaya perintahkan, Anita pun langsung menghubungi tim hukum dan merencanakan rapat untuk satu jam kemudian. Anita perlu mempelajari berkas proyek lebih dahulu sebelumnya. Selain tim hukum, Anita sudah menghubungi manajer dari tim lain untuk ikut dalam rapat hari ini.
***
Sesuai dengan janji yang telah dibuat, Anita menuju ruang rapat bersama dengan papa Wijaya. Di sana sudah banyak orang yang menunggu. Setelah papa Wijaya duduk, tanpa basa-basi, Anita pun langsung mempresentasikan proyek tersebut di depan orang-orang yang ada di sana. Tidak ada masalah saat Anita melakukan tugasnya. Dia dapat menyelesaikan semua hal dengan lancar. Walaupun sebenarnya, Anita agak sedikit gugup di hari pertamanya. Namun, dia bisa menangani hal itu.
Waktu yang dia habiskan di ruang rapat terasa sangat lama. Hingga rapat selesai, tangan Anita berkeringat. Dia kembali ke tempatnya yang berada persis di depan ruangan papa Wijaya . Karena itu, dia berjalan bersama dengan sang direktur.
“Tingkatkan Anita, saya rasa kinerja kamu sudah bagus. Hanya perlu sedikit pembiasaan aja.” Papa Wijaya memuji Anita saat mereka sedang berada di dalam lift. Anita pun tersenyum kecil menanggapi pujian dari papanya itu.
Seperti yang pria itu katakan, mereka bukan ayah dan anak saat ini. Mereka hanya sebatas atasan dan bawahan. Jadi, sebisa mungkin Anita bersikap formal kepada papa Wijaya saat masih berada di lingkungan kantor.
Saat rapat selesai tadi, waktu makan siang juga sudah tiba. Papa Wijaya mengajak Anita ke kantin perusahaan untuk beristirahat sejenak.
Itu merupakan hal baru bagi karyawan di sana. Karena itu, Anita menolak dengan keras dan memilih mengorder makanan saja untuk dimakan bersama papa Wijaya di sana. Anita hanya tidak ingin karyawan di sana melihatnya berbeda. Anita ingin dilihat hanya karena kinerjanya. Bukan karena dia putri dari pak direktur. Papa Wijaya menyetujui tindakan Anita.
Sementara menunggu makanan mereka tiba, Anita menyelesaikan tugasnya yang lain. Seperti menyusun jadwal papa Wijaya dan mengurus beberapa dokumen untuk proyek ini. Tidak lama, makanan yang Anita order datang. Anita memanggil Papanya untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan kembali pekerjaannya. Mereka berdua kemudian makan bersama di sofa panjang yang ada di ruangan papa Wijaya. Bahkan saat itu, mereka masih membicarakan tentang pekerjaan.