Bab 2

"Tentu saja, nyamuk yang berukuran normal, Max. Hanya saja gigitan itu membuatku alergi hingga menjadi selebar ini." tunjuk Shada pada lehernya. Matanya memohon agar Max segera mempercayainya.

Max memalingkan wajahnya. Menyibukkan diri pada beberapa lembar kertas di depannya. "Sejak kapan kau punya alergi terhadap gigitan nyamuk?" kejar Max, semakin membuat Shada gugup.

"Aku memang tidak punya alergi, Max. Hanya saja. Kali ini.." Shada semakin tidak menemukan jawaban ketika mata biru Max beralih menghunjam mata coklat terang Shada, mencari-cari kepastian di sana.

"Aku percaya." sergah Max, lalu berpaling lagi pada dokumennya. Kini tangannya dengan lincah membubuhkan tanda tangan di kertas-kertasnya.

"A-apa?" Shada melotot tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Benarkah semudah itu?

"Beberapa nyamuk memang menyebabkan reaksi alergi pada orang-orang tertentu," tukas Max singkat diikuti oleh anggukan Shada.

Shada mengembuskan napas lega. Namun ia juga makin buncah dengan apa yang terjadi semalam. Ia harus segera melupakannya, apalagi di hadapan tunangannya sekarang. Ia lalu mendudukan dirinya di depan Max.

Max melirik Shada sekilas. Kemudian mengendurkan kerahnya yang tampak gerah dan mencekiknya di beberapa menit yang lalu. Ia harus segera menguasai situasi ini.

"Jadi, Max," Shada sengaja menggantung kalimatnya, ingin mendapat perhatian Max lebih dulu, "kira-kira kapan tanggal pernikahan kita?"

Max menatap Shada lalu bergeming. Ia terlihat berpikir sejenak.

"Beberapa minggu lagi kita akan melakukan pertemuan keluarga, jadi kau bersiap-siaplah."

Setelah Shada mengunjungi Max, ia berjalan-jalan mengelilingi kantor menghilangkan rasa penatnya. Rasanya, lebih baik jika sekarang ia sedang bekerja. Menyibukkan diri dengan maraknya tugas dan beberapa tumpukan dokumen yang tinggi. Pikirannya sungguh kacau hari ini.

"Shada!" suara seorang wanita membuatnya mengalihkan lamunannya sekarang. Ia menoleh mendapati sumber suara tersebut.

"Hai, Ruth!" Shada melambai senang ketika tahu itu adalah Ruth, senior yang sering membantunya. Ruth setengah berlari menghampiri Shada.

"Kau barusan bertemu dengan Max? Di hari liburmu?" Ruth mengernyit tak percaya. Mungkin baginya ini lucu, dan momen yang lumayan langka.

Pasalnya, setiap hari ia bisa bertemu dengan Max. Dan ketika libur pun, ia pasti menggunakan waktunya untuk seharian tiduran di rumah. Memeluk kesepiannya sendiri.

"Hmm, yeah. Tidurku agak bermasalah akhir-akhir ini. Mungkin, jika aku bertemu dengan Max bisa mengobati mimpi burukku." racau Shada memelas diikuti oleh tepukan empati Ruth di pundak wanita cantik itu.

Sangat menyedihkan mengingat hidupnya sekarang. Selalu kesepian sampai ia merasa sedang berhalusinasi dengan mimpi yang saat ini membuat rusuh pikirannya. Tidak, itu nyata. Tapi hal itu dirasa tak mungkin juga. Ia merasa sangat bersalah pada Max tadi.

"Oh iya, Ruth. Kau pernah merasakan mimpi yang.. hmm nyata sekali?" tanyanya hati-hati. Tiba-tiba ia bergidik mengingat perihal mimpinya semalam. Namun juga senang.

"Mimpi yang nyata sekali?" ulang pelan Ruth tidak mengerti. Terlihat sekali sedang berpikir dengan keras.

"Hmm, jadi.. kau tahu kan mimpi yang benar-benar real, yang misal kau menyentuh gelas maka kau merasakan dinginnya sungguhan." Shada berusaha menjelaskan kepada Ruth, meski ia sendiri tidak begitu yakin dengan dirinya.

"Kau yakin itu mimpi? Bukan mengigau?" timpal Ruth, hampir terkekeh karena menurutnya itu lumayan menggelitik.

"Aku serius, Ruth. Please." Kali ini Shada menyatukan kedua telapak tangannya, tanda memohon sambil menatap nanar temannya itu. Ia sangat bersungguh-sungguh meminta bantuan Ruth yang sudah ia anggap sebagai sahabat sekaligus saudara perempuannya.

"Ok. Aku juga akan serius kalau begitu," ia menarik napas dalam-dalam lalu melanjutkan, "pertama-tama, yang kutahu tidak ada mimpi yang sungguh-sungguh kau rasakan. Dan yang kedua, aku jarang sekali mengalami mimpi tiap malam."

Shada mengamati Ruth lamat. Sedikit berpikir, lalu memutuskan untuk menceritakannya lebih spesifik.

"Jadi, Ruth. Aku mengalami mimpi. Rasanya benar-benar nyata. Dan kau tahu. Ada bekas noda merah ini sungguhan," ungkapnya sambil menunjukkan leher sisi kanannya.

Ruth langsung memekik kaget. "Bagaimana bisa, Shada? Mana mungkin!"

Yang terjadi sedetik kemudian dan seterusnya, Shada mulai menjelaskan kronologinya. Ia menjelaskan sambil merasakan kekalutan dan nyaris menangis. Sedangkan, Ruth terlihat mengerti dan beberapa kali ia manggut-manggut paham.

"Kalau begitu, coba kau tidak tidur malam ini, Shada." ucap Ruth mendadak. Mata hitam mengkilatnya meyakinkan Shada.

Shada sejenak memaku memandang Ruth. Paras yang elok dengan kulit putih bersih pucat, apalagi dengan matanya yang hitam kelam. Semuanya itu dipangkas apik dengan rambutnya yang pendek berwarna merah burgundy gelap. Sama sekali terlihat kontras. Ruth sangat terkesan chic, trendy dan unik. Ia juga terlihat easy going. Seperti sebuah buku yang terbuka, namun memiliki beberapa chapter yang tidak diduga.

Sore itu Shada memutuskan untuk kembali ke rumah. Seperjalanan pulang hingga sampai di tempat tinggalnya, ia tetap terngiang-ngiang dengan nasehat Ruth.

'Jangan tidur malam ini. Dan coba kau buka jendela serta pintu kaca yang tepat menyambung ke balkon itu. Dengan begitu kau mempermudah akses siapapun yang ada di dalam mimpimu semalam.'

Ia kembali mengulang kalimat Ruth di dalam pikirannya.

Shada mencapai kamar. Ia duduk sejenak dan meraih ponselnya. Mengetikkan pesan di sana lalu mengirimnya pada Max. Ia memberitahu tunangan yang ia cintai itu bahwa ia sudah sampai di rumah dengan selamat.

Shada menunggu beberapa menit, tapi ponselnya tak bergeming sama sekali. Ia menekuk wajahnya kesal, Max seperti biasa tidak segera membalas chat darinya. Apalagi setelah kejadian tadi. Rasanya mau menangis saja.

Setelahnya, Shada menyibukkan diri dengan mandi, membuat sereal dan pop corn lalu dilanjutkan menonton film di kasurnya. Sampai-sampai tak terasa malam semakin cepat menghampirinya.

Udara dingin menyergap tubuhnya. Ia pandangi pintu yang terbuka itu. Pemandangan di depannya langsung menampilkan balkon minimalis juga pepohonan besar yang menjulang tinggi. Tubuhnya meremang lagi. Tak lama lagi, pikirnya.

Malam semakin larut, namun sama sekali tak ada tanda apapun di sana.

"Ckk.. mungkin aku sudah gila." Ia bergumam merutuki diri sendiri sambil bangkit hendak menutup pintu.

Sebelum menutupnya, ia terpikat oleh bentang alam yang ada di hadapannya sekarang. Maka, ia mulai menyusuri balkon minimalisnya pelan. Kedua tangannya ia tumpukan pada pembatas dinding balkon.

Udara yang mengalir malam itu menyapu lembut wajahnya. Sejauh mata memandang, ia disuguhkan dengan suasana hutan kecil temaram yang ada di samping rumahnya. Ia juga bisa melihat setapak jalan raya, yang kalau diamati dari balkonnya terasa lebih kecil daripada ukuran aslinya.

Shada menyadari sebentar lagi mungkin sudah pagi, jadi ia berencana segera masuk kamar dan mengunci pintunya. Ketika hendak menggiring kakinya menuju ke dalam, sesuatu mengusiknya. Ada suara gesekan ranting atau bahkan daun di seberang sana. Suara tersebut berasal dari pohon besar yang menjulang tinggi, melebihi tinggi balkonnya sendiri. Ia kembali meremang.

Dengan keberanian yang masih tersisa, Shada menoleh. Ia tercekat sampai terhuyun ke belakang. Wajahnya langsung memucat. Tiba-tiba kerongkongan dan tenggorokannya kering, apalagi kini suaranya menjadi parau.

"S-siapa kau?"

- Bersambung..

Bab 3

Dilihatnya sosok yang berdiri di hadapannya sekarang. Shada mematung terpukau dengan keindahan yang sedang disaksikannya. Seumur hidup, ia tak pernah melihat paras seelok ini. Jauh elok dibanding aktor dunia mana pun.

Alis tebal dengan mata perunggu yang terkesan tegas. Kulit yang putih pucat, bahkan lebih putih dari batu pualam marmer yang murni. Rambutnya hitam legam. Dan juga setelah ia amati lagi, hidung mancung dan bibir merah merekah.

Beberapa menit ia terhanyut pada rupanya. Tiba-tiba ada perasaan ingin menangis sejak pertama kali melihatnya. Ia tak tahu kenapa. Apakah mungkin ia mengagumi keindahannya? Ia benar-benar frustasi dan kelewat sedih. Sontak ia sadar dan sepenuhnya membawa diri.

"Aaaakh! Kau siapaaaa?!"

Suara Shada nyaris teriak, namun nyatanya tercekat di kerongkongannya sendiri.

Tak ada jawaban, sosok yang dilihatnya cuma diam, menatap skeptis lawannya.

"Shada.."

Shada tergegau. Bagaimana mungkin pria asing yang di hadapannya sekarang sudah tahu namanya. Ia ingin sekali bertanya, tapi tetap tidak bisa mengeluarkan suaranya.

"Shada, jangan takut." Suara berat dan lembutnya membelai telinga Shada.

Sedetik berikutnya, Shada justru menatapnya marah, dengan ketakutan yang tak berkurang tentunya. Bagaimana bisa ia tak takut, sementara pria yang di depannya ini muncul tiba-tiba, dan apa? Ia berada di atas pohon! Shada merengut dalam hati.

Ia meraup banyak udara di sekitarnya dan dengan kasar mengembuskannya, berusaha mengendalikan diri agar tidak pingsan mendadak. Ia lalu mencubit pipinya.

"Aduh! Ternyata ini bukan mimpi." Shada bergumam pelan, nyaris seperti bisikan pada diri sendiri.

"Lalu kau siapa? Kenapa kau ada di sini?" Akhirnya Shada berhasil mengumpulkan keberaniannya kembali. Ia menatap nyalang pria itu.

"Aku Demian. Kau tidak ingat denganku, Shada?" sanggahnya lembut sambil melihat nanar Shada.

Shada menelan salivanya dengan susah payah. Ia mengingat mimpinya dengan pria itu. Dan parahnya, ia menyukainya. Bagaimana mungkin ia bisa lupa dengan dirinya? Shada tertawa getir.

"Sejak kapan kau ada di mimpiku?" Shada merasa pertanyaannya kurang tepat, lalu meralatnya, "Eh tidak, sejak kapan kau datang ke rumahku?"

Shada menatap lurus Demian. Berusaha menemukan sedikit jawaban atas kejanggalan di sana. Demian membalas memandangnya juga. Namun, dengan tatapan sedih.

"Kau benar-benar melupakanku, ya?" Suara Demian sedikit bergetar. Ia seperti menertawakan dirinya sendiri. Sedangkan Shada dirayapi oleh perasaan gelisah.

"Tentu saja aku ingat," kata Shada berusaha membela diri. Demian menatapnya senang, sedetik kemudian berubah menjadi curiga.

"Apa yang kau ingat?" tanya Demian tak percaya. Ia menyelidiki penuh ekspresi Shada yang mulai bergerak kebingungan.

"Ya, tentu saja. Ingat saat kita tidur bersama," cicitnya segera mematikan seluruh kesenangan Demian tadi.

"Sudahlah, kau memang tidak ingat. Kau ingin tidur?" Suara lembut Demian membelai kembali.

Shada mengerjapkan mata menatapnya. Ini sungguhan, dan sekarang ia benar-benar bertemu dengan sosok di mimpinya. Ketampanannya tidak nyata. Tapi, ia bukan manusia, bodoh! Sadarlah! Shada lalu menampar pipi kanannya sendiri.

"Kau bukan manusia. Lalu apa?" sanggah Shada tak menjawab pertanyaan Demian.

Namun, Shada tak mendengar suara apapun. Demian bungkam dengan pandangan yang tetap tajam. Nyali Shada lantas menciut dibuatnya.

"Kau hanya perlu mengingatku," desis Demian lalu menghilang di tengah gelapnya malam.

Shada termangu melihat kepergian Demian. Ia berdecak kesal lalu kembali ke kamar, berusaha untuk tidur.

♡♡♡

Paginya, Shada segera mandi dan bersiap-siap pergi ke kantor. Ia terpaku pada pantulan wajahnya di depan cermin. Terdapat lingkaran hitam tepat di garis bawah kedua matanya. Ini pasti karena semalam ia tidak bisa tidur. Ia sibuk memikirkan siapa itu Demian dan bagaimana ia bisa mengetahui namanya.

Shada mengeluarkan concealer dari laci meja riasnya, lalu ia bubuhkan pada garis bawah kedua matanya. Berhasil sedikit menyamarkan mata panda tersebut.

Tak berselang lama ada suara klakson mobil di depan rumahnya, disusul oleh bunyi singkat ponsel Shada. Ia lalu memeriksa pesan masuk dan mengernyit ketika membaca nama Max di sana.

[Aku sudah di depan rumah. Hari ini kau berangkat bersamaku.]

"Wah, tumben sekali," gumam Shada senang lalu segera turun menemui Max.

Shada langsung memasuki mobil mewah Max. Ia memandang Max dengan sumringah.

"Kau senang, Sayang?" Max menggoda Shada sambil menaikkan kaca mata hitam yang sedari bertengger di kedua matanya. Aroma clean musk yang maskulin menyeruak memenuhi penciuman Shada.

"Hmm, yeah. Tentu." ucap girang Shada. Pagi ini ia terpesona sepenuhnya pada Max. Ia menyadari betapa kerennya tunangannya itu.

Tangannya lalu membelai pipi Max. Ia mendekat dan mengecup singkat bibir Max. Seketika Max terperanjat dengan ciuman yang didaratkan oleh Shada. Namun, karena kecupan Shada terlalu singkat, maka ia dengan lincah menepikan mobilnya dan berhenti. Ia mendekap wajah Shada yang merona, mencium bibir merah Shada lalu menikmatinya. Ada perasaan rindu pada wanita cantik itu.

Setelah keduanya memasuki area kantor, beberapa pasang mata melihat mereka berdua. Tak terkecuali Ruth, yang diam-diam mencuri pandang.

Shada berhenti pada ruangan terbuka khusus staff lalu mendudukkan dirinya di sana. Sedangkan Max terus berjalan menjauhi area ruangan staff menuju ruangan pribadinya.

Ruth langsung menyambut kedatangan sahabatnya itu dengan sumringah. Baginya, sehari saja Shada libur sudah membuat harinya terasa sepi. Ia hanya bisa terbuka dengan Shada.

"Shadaaa! Tumben sekali kau berangkat bersama Max?" Ruth bertanya sambil cengengesan.

"Iya, aku juga kaget. Tiba-tiba tadi ia sudah ada di depan rumahku." balas Shada tak kalah bungah. Membayangkan ciumannya dengan Max tadi membuat dirinya kelewat senang seperti orang gila.

"Tapi, Shada.. kau kelihatan kelelahan. Kau yakin sudah istirahat dengan cukup?" Raut wajah Ruth kini berubah menjadi khawatir. Ia tamati wajah Shada namun menemukan kantung mata menghitam yang terlihat kontras dengan kulit putih temannya itu.

Shada refleks mengambil ponselnya lalu menyalakan kamera depannya untuk melihat riasan wajahnya. Padahal ia yakin bahwa tadi concealernya telah menyamarkannya sempurna.

"Ruth, kau ingat perkataanmu kemaren? Aku sudah melakukannya. Sampai akhirnya aku tidak bisa tidur sama sekali." Shada melihat Ruth tercekat, lalu pelan-pelan berubah menjadi khawatir.

"Lalu, bagaimana hasilnya, Shada?" Ruth sengaja melajukan kursi putarnya mendekat kepada Shada, tangannya menepuk pelan bahu kiri Shada. Ia tak sabar menunggu kabar dari Shada, perasaan cemas menyelimuti dirinya.

Shada menarik napas dalam-dalam.

"Aku sudah bertemu dengannya. Dan kau tahu, ternyata itu bukan mimpi. Namanya Demian, dan dia bukan manusia." Tiba-tiba suaranya tercekat di akhir kalimatnya. Perasaan tegang berhasil menggerayanginya kembali.

"Hah! Apa? Kau serius Shada?" pekik Ruth lalu dengan sadar segera menutup mulutnya, takut orang lain mendengar percakapan mereka.

"Mungkin kau tak percaya, Ruth. Aku pun juga begitu. Tapi aku yakin, dia nyata." jelas Shada sambil memandang lekat wajah sahabatnya itu lalu melanjutkan, "Dan, malam ini aku berharap akan menemuinya lagi."

- Bersambung..

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED