Bab 2

Kesabaran Erik diuji setiap kali berhadapan dengan Linda. Sifat keras kepalanya terkadang membuat Erik muak.

"Aku tahu, kamu tidak menyukai keputusan ini. Tapi bisakah kamu menunjukkan sedikit saja rasa suka terhadapku?"

"Contohnya seperti apa?" Linda akhirnya merespon ucapan Erik meskipun dia bertanya balik.

Erik berpikir sejenak. "Misalnya ... Temani aku mandi."

Erik memperhatikan reaksi Linda. Meski wajahnya menghadap ke tembok Erik bisa melihat ekspresi kecut di wajahnya.

"Bagaimana, kamu mau melakukannya?"

Linda menjawab dengan ragu-ragu. "Kamu tahu kan, aku menikah karena dipaksa. Aku ... Tidak ingin melakukan hubungan suami istri ataupun mandi bersama."

Tiba-tiba Erik harus mengangkat telepon. Kasus baru diterima oleh karyawan di kantornya.

"Kita lanjutkan pembicaraan ini nanti!"

Di depan pintu kamar Erik mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya pada Linda. "Lin, aku ... Aku mencintaimu dengan tulus meskipun pernikahan paksaan lah yang mempertemukan kita."

"Tolong jangan pergi dari rumah ini sampai aku kembali. Masih ada banyak hal yang belum kamu ketahui tentangku, yang mungkin bisa mengubah keputusanmu."

Linda duduk di pojok kamar, di atas lantai yang hangat, menunggu suami sahnya kembali.

Linda tidak habis pikir. Erik terlalu lembut untuk seseorang yang dijuluki detektif kejam. Entah sejak kapan rumor itu berkembang, yang jelas Erik pernah menunjukkan kekejamannya satu kali. Dan itu adalah saat Erik menikahinya dan menyeret Linda ke rumah besar itu.

"Omong kosong. Apa kamu terlalu sibuk bekerja sehingga tidak memiliki teman? Atau kamu terlalu kejam sehingga rekan kerjamu takut padamu? Bagiku kamu hanyalah pria brengsek!"

Linda merogoh saku celana di balik gaunnya. Rumah itu seperti penjara. Linda merasa takut. Sangat takut, seperti tahanan perang.

Dengan gemetar Linda menekan satu-persatu aplikasi di hp nya lalu menelepon ibunya.

"Halo ... Ibu. Bisakah ibu datang ke rumah keluarga Bayroad?"

Bibir Linda bergetar hebat sampai giginya berbenturan, dia seperti orang kedinginan. Linda tidak mampu melanjutkan telepon itu syok akibat terbentur menyebabkan dia sakit kepala ekstrem dan akhirnya jatuh pingsan.

Pembantu yang menjaga Linda terkejut, mendapati Linda tumbang di pojok ruangan. Mereka pun bergegas menaikkannya ke ranjang.

Kepala Linda masih berdarah walaupun sudah diperban, seorang pembantu senior menyuruh juniornya untuk menjaga Linda.

"Sebaiknya kamu tetap disini, mbak Tari. Biar kakak yang mengerjakan bagianmu selama kamu menjaga Nyonya." ucap pembantu perempuan yang usianya 4 tahun lebih tua dari Mbak Tari.

"Iya, memang sebaiknya begitu." Tambah pembantu lainnya.

Tari perlahan meletakkan alat pel supaya Linda tidak terganggu, kemudian duduk di pojok ruangan yang paling bersih.

Keesokan harinya Erik datang dengan membawa hadiah. Hadiah itu tidak lain ditujukan untuk Linda.

Tiba-tiba terdengar suara barang pecah dari kamar Erik dan Linda.

"Oh tidak! di kamarku ada keramik peninggalan kakek, kuharap Linda tidak memecahkannya!"

Saking terburu-burunya, Erik sampai menendang pintu kamar. Alangkah terkejutnya Erik mendapati Linda memegang vas keramik yang berlumuran darah. Sementara Tari berbaring dengan dahi terluka seperti Linda.

Apakah kejadiannya sesuai dengan yang dipikirkan Erik Bayroad?

Apa yang terjadi pada Linda dan Tari?

Keadaan ini jauh lebih buruk dari yang Erik bayangkan. Tidak ingin Linda makin tertekan, Erik memerintahkan pembantu lain mengantar Tari ke asrama yang berada di belakang rumah. Kemudian Erik mengajak Linda bicara empat mata.

"Lin, kamu kenapa memukul Mbak Tari? Apa dia melakukan hal yang kurang ajar?"

Linda memainkan jarinya, tidak tahu bagaimana cara memberitahu suaminya, bahwa ada kejadian lain di kamar mereka.

"Bagaimana ini? Aku harus bilang apa? Aku sangat takut pada kecoak sampai tidak sadar memukul pembantu itu." Linda memulai percakapan dengan dirinya sendiri, lalu dia mulai berteriak menyesal dalam hati.

Erik memperhatikan gerak-gerik Linda. Insting tajam Erik bangkit begitu melihat seekor kecoa melintas di antara dia dan Linda.

"Tidak! Deduksi itu terlalu konyol. Tidak mungkin Linda begini karena kecoa. Tapi akan lebih baik jika kecoa yang jadi alasan."

Ketajaman insting Erik dibuktikan melalui tindakannya selama 12 tahun bekerja sebagai detektif swasta. Tidak ada kasus yang gagal dia selesaikan.

Erik menatap dalam mata Linda. Linda membalas dengan tatapan marah.

"Apa dia akan mengamuk? Syukurlah kalau begitu, lebih baik kami berkelahi dan bercerai." Harap Linda dalam hatinya.

"Anu, Erik, kalau boleh aku mau telepon ayah dan ibu dulu?"

"Untuk apa dulu?"

"Cuma mau tahu berapa lama kontrak kita berlangsung."

"Hah? Kamu masih menganggap pernikahan kita pernikahan kontrak?"

Linda menjawab dengan bingung. "Kan memang seperti itu? Ayahku memiliki hutang yang sangat besar, karena itulah dia menjualku padamu."

Erik mengetahui semua itu, tetapi ada yang berbeda. Sejalan dengan perasaannya yang berubah saat bertemu Linda. Erik memantapkan hatinya untuk serius menikahi Linda. Artinya kontrak itu sudah dibatalkan.

"Apa yang ayah lakukan pada perjanjian itu?"

"Aku juga tidak tahu," Linda menggeleng.

Setidaknya sekarang Linda mau bicara dengan Erik. Erik sedikit senang, namun masalah yang lebih besar muncul. Erik duduk di samping Linda seraya menggenggam tangan Linda, menahannya dari menjauhkan diri.

Erik tidak tahu bagaimana harus memulai, dia ingin mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya, tetapi hasrat ingin memiliki Linda lebih besar ketimbang rasa cinta murni.

Laki-laki itu mulai menggila. Hasratnya menggelora, namun, di satu sisi tidak ingin memaksa istrinya melakukan hal yang tidak dia setujui.

Erik mendorong badan Linda hingga terbaring di atas kasur, lalu dengan cepat menahan kedua tangannya.

Posisi itu sangat memalukan untuk Linda, Erik tidak mendengarkan teriakan Linda dan terus menahannya dalam posisi itu. Tidak ada lagi senyum di wajahnya, yang ada hanya kemarahan yang menggebu.

"Aku sudah membatalkan kontrak itu, dan aku akan mencari pria yang membuatmu tergila gila, wahai istri cantikku."

Terkejut dengan pernyataan Erik, Linda pun berseru. "Apa maksudmu?! Kamu tahu aku tidak mencintaimu dan kontrak pernikahan itu masih berlaku!"

Harapan Linda untuk menjauhi laki-laki itu pupus. Erik benar-benar mencintainya dan dia bersumpah akan menemukan kekasih Linda.

Erik kembali mengintimidasi Linda dengan mengancam akan melakukan sesuatu pada proyek yang dikerjakan ayahnya.

"Apa maksudmu menyeret ayahku dalam masalah kita mas?"

Erik meletakkan tangannya di daun telinga Linda, lalu menjawab pertanyaannya dengan suara lembut. "Aku bisa saja menyuruh preman untuk merusak apapun yang ayahmu kerjakan. Dengan begitu hutangnya dengan perusahaan kami akan bertambah dan kau tetap jadi milikku."

Setelah mengatakan itu Erik mencium Linda. Linda menampar Erik hingga suara tamparannya didengar oleh pembantu di luar kamar.

Sejak kecil Erik tidak pernah menerima tamparan sekeras itu. Bahaya jika lebam di pipinya sampai terekspos ke media.

Linda menatap tajam ke pipi Erik, dia juga tidak menyangka tamparannya akan membuat wajah suaminya membiru.

"Ma-maaf mas! Itu salah kamu yang tiba-tiba menciumku!!"

Erik meraba pipinya dengan kasar seraya memuji tenaga Linda yang teramat besar. "Aku mencium kamu, lalu kamu menampar aku. Kita sudah impas kan?" Seharusnya Linda menamparnya lebih keras lagi.

Bab 3

Erik terus mempermainkan dirinya. Laki-laki itu mencium disana sini, berusaha mencari titik lemah Linda.

Linda yang tidak punya kekuatan apalagi dukungan hanya bisa pasrah ketika laki-laki itu mulai menyentuhnya. Ancaman Erik membuatnya kehilangan semangat untuk melawan. Erik pun sadar akan hal tersebut. Linda berubah pasif saat mendengar kekasihnya dalam bahaya.

Meskipun menolak untuk bercinta Linda membiarkan Erik meraba tubuhnya sepuasnya. Setiap kali jari-jari kasar Erik menyentuhnya Linda akan berdebar dan jijik. "Silahkan raba aku, tapi jangan ambil keperawananku!"

"Uhuk, teganya kamu menutup aurat di depan suami sah mu."

"Untuk hari ini aku akan mengalah."

Satu persatu baju Linda dilepas dari tubuhnya. Tubuh Linda yang masih muda dan tidak pernah disentuh oleh siapapun sangat menarik minat untuk memainkannya.

Yang Linda duduk di atas ranjang, mematung dan tanpa ekspresi. Rasanya seperti memainkan manekin, sangat hambar jika si wanita tidak melawan.

"Ha ha ha ha! Ekspresi datarmu membuatku semakin semangat!" Erik bertekad akan menjadikan manekin ini wanita yang rela menyerahkan segalanya untuk mendapat cintanya. Tapi bagaimana caranya?

Erik berfantasi bahwa suatu hari nanti Linda akan datang kepadanya dengan penuh sukarela dan cinta. Cintanya belum terbalas untuk saat ini. Karena itulah Erik berniat mencari pria yang disukai Linda.

Ada tamu penting yang baru pertama kali datang ke rumah yang dijuluki emas putih itu.

Linda terkejut mendapati orang tuanya datang bersama orang tua Erik.

"Apa yang ayah dan ibu lakukan?" Tanya Linda penuh selidik.

Beliau bernama Saraswati, ibu kandung Linda. Biasa dipanggil bu Sara.

Bu Sara meletakkan tangan di ubun-ubun Linda, diikuti sang ayah yang turut memeluk Linda dengan erat.

"A-ayah... ada apa ini? "

"Kami datang untuk membahas kontrak pernikahan kalian." Jawab wanita bermantel biru. Seorang model sekaligus ibu angkat Erik.

Jantung Linda berdegup sangat kencang saat ibu Erik membacakan surat putusan yang dia tulis sendiri.

"Seperti yang sudah kita sepakati bersama. Bahwasanya, Linda Bramasta, anak dari pasangan Bagas Bramasta dan Saraswati akan menjadi istri kontrak anak kami yang bernama Erik Bayroad."

"Kontrak ini akan kadaluwarsa setelah satu tahun sejak tanggal pernikahan anak kami dan anak kalian. Sekian, terima kasih."

Ayah Linda bertepuk tangan saking senangnya dengan pernikahan anaknya. Saraswati tersenyum lembut pada Linda. Linda masih memikirkan cara mengatasi ancaman Erik sebelumnya. Entah dia akan memperingatkan kekasihnya atau malah akan kabur dari rumah ini. Segalanya masih perlu diputuskan.

"Bagaimana menurutmu Linda?" Tanya Erik tiba-tiba.

"... ... ."

"...aku senang."

Jawaban penuh keraguan Linda membuat Erik tidak tahan untuk mengganggunya.

Erik merangkul Linda sembari menyentuh dagu lancipnya. Linda berkata dalam hati. "Dia tidak akan protes kan? Keputusan impulsif nya itu tidak berdasar. Bagaimana bisa dia bersikap kekanakan padahal dirinya seorang detektif."

Linda berkata pada Erik. "Kamu dengar isi kontraknya kan? Jangan berpikir untuk memperpanjangnya!"

Linda menatap ayahnya. "Ayah bisa melunasi hutang dalam satu tahun? Kalau tidak bisa, aku akan membantu ayah mengumpulkan uang!"

Erik terdiam mendengar pengakuan Linda. Linda melanjutkan. "Aku akan mencari pekerjaan sampingan dengan menjadi streamer. Dengan wajah cantikku, pasti banyak orang yang tertarik mengikutiku. Dengan begitu uang untuk melunasi hutang akan terkumpul dengan lebih cepat."

Revan Bayroad tidak senang dengan niat Linda. Dia mendahului ayah Linda berbicara lalu mendekati menantunya itu.

"Kau tidak boleh bekerja jika suamimu tidak memberikan izin. Ingat! Istri adalah milik suaminya."

Seperti yang diharapkan oleh Revan, Erik tidak mengizinkan Linda bekerja. "Maaf sayang. Aku menikahimu karena kesepian. Jika kamu juga bekerja, dengan siapa aku harus berkeluh kesah dan bercinta?"

Erik yang kesal menunjukkan taringnya di depan orang tua Linda. Dengan gamblang menjelaskan syarat yang harus dipenuhi Linda selama menjadi istri Erik.

"Selama satu tahun, kamu harus menurut secara penuh padaku. Jangan membangkang apalagi bepergian tanpa memberitahuku. Kalau aku bilang jangan keluar kamar, maka jangan. Kamu juga tidak berhak menolak ajakanku."

Linda mengangguk. Erik belum mengeluarkan senjata rahasianya dan inilah saatnya mengeluarkan itu. "Plus! Kamu tidak boleh berhubungan asmara dengan siapapun. Jadi aku ingin kamu putus dengan pacarmu."

"... ... !"

"Semua mata tertuju pada Linda. Tentu saja orang tuanya tahu ada pria lain, tapi orang tua Erik sama sekali tidak tahu kalau Linda punya pacar.

Sara berbohong soal status Linda dan itu membuat ibu Erik sangat marah.

"APA! KAMU BILANG ANAKMU MASIH SINGLE?!"

Pertemuan hangat itu berubah ricuh saat ibu Erik membanting tas ke meja. Pecahan meja kaca berserakan di kaki Linda, membuatnya ketakutan setengah mati.

"Jangan takut, kalau ada yang akan mampus, itu ibumu bukan kamu." Hibur Erik, atau tidak.

"Tolong tenangkan ibumu! Kumohon!" Linda memohon seraya menarik dasi merah Erik.

Erik pun menunjukkan karismanya dengan menghentikan pertengkaran antar ibunya dan Sara.

"Aku tahu yang ibu khawatirkan. Tidak apa-apa. Aku sudah mengeceknya tadi malam, dia masih rapat kok."

Cindy, ibu Erik mengusap dada dengan lega.

Linda tahu itu bohong. Erik belum pernah menyentuhnya secara intim. Lebih lanjut Erik meminta pada ayah dan ibu Linda untuk memberitahu pacar Linda kalau Linda sudah menikah dan bersuami.

"Pasti. Pasti akan saya beritahu dia!"

"Ah ha ha, tidak perlu terlalu formal ayah. "

Tanpa bicara apapun lagi Erik meminta kedua tamunya pergi. Linda tentu tidak membiarkan mereka pergi begitu saja, Linda menitipkan pesan untuk pacarnya. "Ayah, tolong sampaikan ke mas Rudi. Kami tidak akan bisa berkomunikasi selama satu tahun. Tapi aku berjanji akan menemuinya lagi!"

Bagas mengangguk. "Ingat Linda! Kamu melakukan ini untuk mengurangi 50% beban hutang ayah. Jangan buat tuan Bayroad marah supaya tidak terjadi hal buruk pada kamu!"

Linda mengangguk. Begitulah semuanya dimulai. Tahun yang tidak akan pernah dilupakan Linda.

Malam harinya, untuk pertama kalinya Linda menghadiri makan malam di meja makan.

Keluarga Bayroad yang tersisa di rumah itu hanya Linda dan Erik Bayroad. Untuk beberapa alasan Linda bersyukur hanya ada mereka berdua. Linda tidak bisa membayangkan akan seramai apa rumah ini jika seluruh keluarga Bayroad berkumpul.

Khusus untuk malam itu, Erik sendiri yang memasak hidangan makan malam. Para maid sudah berusaha menggantikannya namun Erik tetap bersikukuh menyiapkan semuanya sendiri.

Erik hanya memasak 3 jenis hidangan untuk Linda dan tidak ketinggalan makanan pokok wajib orang Indonesia. "Kamu suka nasi kan?"

"Iya." sahut Linda seraya mengangkat piring dan Erik menyendok nasi ke piring Linda.

Erik mengatur ruang tengah mereka agar terasa seperti di rumah Linda. Dia sudah menyelidiki wanitanya sangat dalam tanpa bantuan siapapun. Salah satu detail yang ditambahkan adalah keberadaan boneka beruang, teddy bear, di salah satu kursi.

Keberadaan Teddy bear itu mengganggu Linda. Linda pun menanyakan maksud keberadaan boneka itu disana.

"Teddy bear itu milik adik laki-lakiku yang paling kecil. Dia selalu makan sambil memegang teddy bear. Aku menaruhnya disana karena merindukannya."

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED