Bab 2

Hujan mengguyur kota sejak semalam. Seorang gadis berusia dua puluh enam tahun tampak santai menikmati sarapan paginya di unit apartemen. Dia adalah Carmen Adelia Giovanni.

Gadis yang mempunyai panggilan Adelia itu bekerja di salah satu perusahaan ternama di New York, sejak satu minggu yang lalu. Ia beruntung mendapati posisi sekretaris seorang CEO, setelah mengalahkan beberapa kandidat pilihan.

Tak lama kemudian, suara ponsel yang terletak di meja, mengalihkan perhatian Adelia dari semangkuk salad. Senyum gadis itu mengembang saat melihat nama yang terpampang di layar benda itu.

“Halo Jes? Ada apa?” tanya Adelia.

>>“Kamu udah berangkat kerja?”

“Ck, masih di unit.” Adelia melihat ke arah jam tangannya lalu berkata, “Bentar lagi aku berangkat. Kenapa?”

>>“Aku mau ke New York  besok. Ada kerjaan di sana. Boleh aku nginep di unit kamu?” pinta Jessy.

“Boleh. Jam berapa Lo dateng? Mau aku jemput?” tanya Adelia.

>>“Nggak perlu. Kamu kasih alamatnya aja. Entar aku cari begitu sampai.”

“OK! Sampai jumpa besok. Jangan lupa hati-hati.”

>> “Sayang kamu banyak-banyak. Bye ...”

Adelia meletakkan ponselnya di meja. Ia segera meneguk segelas susu hangat hingga tandas. Lalu, ia mencuci gelas itu sebelum pergi ke kantor.

Pagi ini Adelia terpaksa harus naik taksi agar lebih cepat sampai ke kantor. Ada beberapa berkas yang harus ia persiapkan sebelum meeting dan penyambutan CEO yang baru.

Dua puluh menit kemudian, Adelia telah sampai di lobi Johnson Corporation. Ia segera masuk ke lift khusus karyawan dan menekan tombol paling atas di mana ruangannya berada.

Beruntung, pagi ini hanya dirinya di dalam lift itu. Jadi, ia tak perlu mendapat tatapan intimidasi dari para kandidat yang telah ia kalahkan. Gadis itu tersenyum tipis saat teringat ada salah satu kandidat kalah melabraknya di luar kantor.

Ting

Adelia keluar dari lift dan menuju di mana mejanya berada. Ia segera duduk di kursi dan menyalakan laptop di sana. Gadis itu dengan lincah memeriksa beberapa file sebelum mencetaknya.

Sepuluh menit kemudian, Adelia segera berdiri di depan  pintu lift setelah mendapat pesan bahwa sang CEO datang. Seperti hari-hari sebelumnya, ini adalah rutinitas yang harus ia kerjakan sebelum jam kerja dimulai.

Ting...

Pintu lift terbuka, menampilkan sosok pria paruh baya yang masih tampak gagah dan tampan. Ia adalah William Johnson. Seorang CEO yang sangat terkenal di Kota New York. Namun, ada yang berbeda kali ini. Di sebelah pria paruh baya itu berdiri pria tampan yang mempunyai wajah tampan dengan kaca hitam dan satu pria lain yang berdiri di belakang keduanya.

“Selamat pagi Mr. Johnson,” sapa Adelia sopan dengan senyum tipis di bibirnya.  Gadis itu meraih tas yang berada di tangan William dengan lembut dan membungkukkan sedikit tubuhnya.

“Selamat pagi Adelia,” balas William.

Adelia berjalan lebih cepat untuk membukakan pintu ruangan William. “Silakan, Sir,” ucapnya sopan.

Setelah William yang dan kedua pria lainnya masuk, Adelia pun turut masuk untuk meletakkan tas kerja William di mejanya.

William beserta laki-laki yang tak lain adalah Alexander Felix Johnson, putra pertamanya. Alex begitu nama panggilan yang disematkan William padanya. Laki-laki berusia tiga puluh satu tahun itu mempunyai wajah tampan dan otak yang cerdas.

Sebelumnya, ia menjadi CEO di kantor cabang yang berada di California dan saat William memutuskan untuk pensiun dini, dialah satu-satunya pilihan paling tepat untuk menggantikannya.

“Kopi, Sir?” tawar Adelia sopan.

“Alex?” William memanggil nama putranya yang masih mengamati interior ruangan yang sebentar lagi akan diambil alih olehnya.

Laki-laki bernama Alex itu hanya mengangguk saja tanpa mengeluarkan suaranya. Kesan pertama yang ditangkap Adelia adalah angkuh.

‘Sepertinya aku perlu amunisi lebih banyak menghadapi manusia dingin seperti dia.’

“Buatkan dua, Adelia. Dan terima kasih,” ucap pria paruh baya itu.

Adelia mengangguk sopan. “Baik, Sir. Silakan tunggu sebentar.”

Gadis itu beranjak menuju pantri kecil yang berada di ruangan itu. Dengan cekatan, ia segera membuatkan dua cangkir latte untuk kedua bosnya tersebut.

Tanpa Adelia sadari, tatapan tajam Alex mengintai dirinya untuk beberapa detik yang begitu cepat.

“Sepertinya ruangan ini perlu di rubah pada beberapa bagian, Dad?” celetuk Alex yang sudah selesai memindai seluruh ruangan sang ayah.

“Katakan keinginanmu pada Adelia. Dia yang akan mengurus semuanya,” jawab William santai.

Alex mendengkus. Ia paling malas berhubungan dengan perempuan. “Tommy, berikan pengarahan pada sekretaris Daddy untuk merenovasi ruangan di sini seperti yang ada di California,” titah Alex kepada asisten pribadi yang dari tadi bersamanya.

“Baik Mr. Johnson,” jawab Tommy sopan.

Adelia yang baru saja menyeduh dua cangkir latte di pantri, segera memberikan kepada bos-nya tersebut.

“Silakan Mr. Johnson  dan Mr. Alex,” ucap Adelia.

Mendengar nama Alex keluar dari mulut Adelia membuat laki-laki yang mempunyai nama itu menoleh ke arahnya.

“Ulangi sekali lagi!” titah Alex kepada Adelia dengan suara beratnya.

“Yang mana?” tanya Adelia bingung.

“Ulangi saat kau memanggil namaku,” ucap Alex  datar.

“Oh, itu. Silakan Mr. Alex,” ulang gadis itu.

Laki-laki berwajah datar itu tertegun untuk beberapa saat. Telinganya begitu membenarkan panggilan dari Adelia, namun otaknya menolak untuk menerima. Ia kembali mengubah wajah datarnya, lalu berkata “ Panggil  aku Mr. Felix. Jangan menyebut nama depanku.”

William terkesiap mendengar putranya meminta Adelia memanggilnya dengan panggilan itu. Satu-satunya orang yang memanggilnya dengan nama itu hanya Mommy -nya saja selama ini. Pria paruh baya itu mengulum senyum misterius.

Sebenarnya bukan William saja yang terkejut. Itu juga terjadi pada Tommy. Sepengetahuannya bos-Nya itu akan menggunakan nama keluarga untuk panggilan di kantor. Tommy hanya diam mengamati apa yang akan dilakukan bos arogan sekaligus sahabatnya itu.

“Ikuti saja, Del,” ucap pria paruh baya itu.

“B-baik Mr. Johnson,” ucap Adelia gugup. Sial, tatapan lembut dari William membuatnya gugup.

“Kalau begitu saya pamit kembali ke meja saya Mr. Saya masih ada beberapa berkas yang perlu diteliti untuk meeting nanti.” Adelia membungkukkan badan dan segera keluar dari ruangan bos-Nya itu.

Fyuh ...

Adelia merasa lega kembali ke meja kerjanya. Ia kembali berkutat dengan dokumen yang masih belum diteliti olehnya.

Kreek...

Tommy keluar dari ruangan itu menuju meja kerja Adelia. Gadis itu tampak tak terkejut dan seolah tidak terganggu saat laki-laki itu memandangnya.

“Ada yang perlu saya bantu Mr. Tommy?” tanya Adelia tiba-tiba.

Tommy tersentak, “Ah ... Tidak. Maksudku aku ingin memberitahu tentang perubahan interior ruang CEO. Mr. Alex menginginkan ada beberapa yang perlu di renovasi dan diganti dengan yang baru. Ini sebagai  referensi untuk menata ruangan yang sesuai dengan keinginan Mr Alex.” Tommy memberikan beberapa lembar gambar kantor Alex yang berada di California.

Adelia tampak meneliti satu persatu gambar tersebut. Dengan cepat otak pintarnya mampu memprediksi waktu yang dibutuhkan untuk mengubah dekorasi interior ruangan itu sesuai dengan gambar yang ia lihat.

“Satu minggu Mr. Tommy.  Saya pastikan dalam satu minggu ruangan sudah bisa ditempati,” ucap Adelia yakin.

Tommy melongo. “Kamu yakin? Hanya dalam seminggu?” tanya Tommy gamang.

Adelia mengangguk mantap. “Tentu. Saya paling ahli memprediksi pembangunan  dan proposal dana. Saya yakin hanya butuh satu minggu.”

“OK! Akan aku katakan pada Mr Alex. Oh ya, panggil aku Tommy  saja,” ucap Tommy.

“Baiklah. Panggil aku Adelia,” Adelia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan laki-laki itu.

Tommy pun mengulurkan tangannya untuk menerima jabatan tangan tersebut.

“Jangan segan-segan bertanya padaku kalau nanti kamu menemukan kesulitan,” pesan Tommy.

“Terima kasih,” ucap Adelia singkat.

Setelah Tommy kembali ke ruang CEO,  Adelia segera menata dokumen di mejanya sebelum memanggil William untuk ke ruang meeting.

Kini Adelia mendampingi William menuju ruang meeting. Ia berjalan di belakang pria paruh baya itu sambil membawa beberapa dokumen dan I-Pad.

“Berapa lama meeting kali ini?” tanya William.

“Satu jam Mr. Meeting kali ini hanya mengoreksi kesalahan jurnal minggu lalu saja. Dan membahas pesta penyambutan untuk Mr. ... Felix,” jawab Adelia.

William menarik kedua ujung bibirnya. “Baiklah. Aku serahkan urusan pesta penyambutan padamu.”

“Saya akan berusaha menyiapkan dengan baik Mr,” jawab Adelia sopan.

Saat pintu ruangan terbuka suasana di dalam menjadi tenang seketika. William berjalan dengan tenang menuju tempat yang telah disediakan untuknya. Diikuti Adelia yang kini berdiri di sampingnya.

“Meeting kita mulai”

.

.

.

Bersambung ...

.

.

.

Halo pembaca kisah ini di Bakisah. Author ingin memberitahukan bahwa kisah Prequel dari buku ini telah rilis, eksklusif di Bakisah dan anak cabangnya. Kalian bisa mencari judul ‘Pesona Wanita Pilihan CEO’. Kisah eksklusif dari William dan Maria yang tak kalah seru dan menarik. Update setiap hari ya.

Bab 3

“Aku pikir kau tertarik dengan sekretaris Daddymu, Lex?” tanya Tommy yang kini mengikuti bos sekaligus sahabatnya meninggalkan kantor.

Tak ada jawaban, alih-alih seringai di bibir Alexander.

“Serius?” Tommy membulatkan matanya horor. Terakhir kali saat ia menawarkan wanita, dirinya harus menerima diberikan tugas lembur selama tiga hari. “Kamu tak lagi bercanda, bukan?”

“Berisik! Pulang sana!” usir Alexander tanpa perasaan. Namun, jiwa Tommy yang ingin tahu, mengabaikan perintah itu.

“Wah, setelah menemukan wanita kamu membuangku begitu? Ck ... ck ... ck.” Tommy menggeleng tak percaya.

Geram, Alexander yang terganggu oleh Tommy segera mendorong sahabatnya itu menjauh. “Kamu yang nyetir. Aku capek.” Setelah mengatakannya, ia masuk ke pintu penumpang, dan menyamankan posisinya.

Duduk termenung sambil membayangkan jika itu.

Suara musik Dj menggema di salah satu kelab malam di kota New York. Para laki-laki dan wanita tampak meliuk-liuk di dance floor  sesuai dengan iringan musik yang mengalun.

Dua pria yang baru saja datang, memesan ruang VVIP untuk sekedar menghilangkan kejenuhan di malam Minggu-nya. Mereka adalah Alexander Felix Johnson  dan sahabat sekaligus asisten pribadinya,  Tommy  Fernandez.

Alexander Felix Johnson, laki-laki berusia tiga puluh satu tahun yang merupakan anak pertama dari William Johnson dan Maria Johnson. Ia masih mempunyai adik perempuan yang berumur dua puluh lima tahun yang memilih menjadi model internasional.

Alexander Johnson, begitu orang-orang mengenal namanya. Ia masuk sebagai salah satu CEO terbaik di Benua Amerika. Namanya sudah sering kali berlalu lalang di majalah, televisi dan di berbagai aplikasi sosial media.

Seorang pelayan membawa satu botol Bombay Sapphire dan dua gelas berisi ice cube masuk ke ruang di mana Alex dan Tommy sedang bersantai.

“Silah kan Tuan. Apakah Anda perlu hiburan malam ini?” tanya pelayan itu.

Alex mengibaskan tangannya. “Tidak perlu!” jawab Alex datar.

Tommy memberikan isyarat mata agar pelayan itu segera keluar.

“Baiklah. Selamat bersantai, Tuan.” Pelayan itu segera keluar dari sana.

Tommy menuang Bombay Sapphire itu ke dalam gelas yang sudah tersedia. Memberikan satu untuk Alex dan satu untuk dirinya sendiri.

“Kelihatannya Lo perlu wanita malam ini,” celetuk Tommy.

Alex menyesap cairan mahal yang berada digelas itu tanpa menanggapi celotehan Tommy. Ia tampak memejamkan mata beberapa saat, menikmati rasa hangat yang membasahi tenggorokannya.

Laki-laki itu membuka matanya kembali. Berpaling ke arah Tommy dan berkata, “Aku tidak butuh wanita. Mereka hanya buat hidupku berantakan.”

Mendengar respon dari Alex membuat Tommy mendengkus. “Kamu belum move on juga? Oh My God!”

Laki-laki itu kembali memejamkan mata. Ia mulai bertanya pada hatinya sendiri. Tapi, nihil. Sampai saat ini ia tak pernah mendapat jawaban.

“Entahlah. Mungkin aku belum menemukan saja. Hanya masalah waktu,” balas Alex lirih.

“Aku tahu ini berat buat kamu, tapi asal kamu tahu, obat patah hati adalah cinta yang baru. Kalau kamu tidak  membuka hati, maka, sampai kapan pun, tidak akan pernah ada yang bisa masuk ke sana,” ucap Tommy panjang lebar seraya menunjuk dada Alex dengan dagu.

“Sok pintar!” desis Alex tak terima, “Kamu sendiri sampai sekarang bahkan masih jomblo!”

“Ha ha ha ... aku memang tak punya kekasih, tapi aku tahu cara bersenang-senang dengan wanita. Tidak sepertimu,” ejek Tommy telak.

Alex terdiam. Ia melupakan kapan terakhir kali ia bersenang-senang.

Sejak saat itu ...

“Aku keluar dulu deh. Nanti aku cariin yang bening buat kamu, biar muka kamu ini nggak kucel seperti baju yang tak pernah disetrika.” Tommy segera beranjak meninggalkan Alex sendirian di sana.

Tiga puluh menit kemudian, Tommy kembali ke ruang VVIP bersama tiga wanita berpakaian minim. Ia mengisyaratkan dua wanita lain untuk menghampiri Alex dan menggodanya. Sedangkan ia sendiri merangkul satu wanita pilihannya malam ini keluar dari sana mencari kamar untuk menuntaskan gairahnya.

Kedua wanita itu tampak duduk di kedua sisi Alex. Saat mereka akan melarikan tangannya ke dada dan rahang laki-laki itu, Alex membuka mata.  Kedua bola mata Alex yang berwarna biru menghunjam kedua wanita itu.

Salah satu dari wanita itu menyingkir tanpa bersuara, tapi tidak bagi satu lainnya. Wanita dengan penuh keberanian itu meraba dada Alex yang berbalut kemeja dan jas mahal. Tak mendapat penolakan membuat wanita itu semakin berani melarikan tangannya ke rahang Alex. Saat jemari tangannya hampir menyentuh bibir laki-laki itu, Alex mencekal tangan wanita itu kasar.

“Keluar!!!” desis Alex tajam.

Wanita itu segera beranjak dari sisi Alex dan keluar dari ruangan itu. Alex menghembuskan nafasnya pelan. Lalu kembali menuang Bombay Sapphire ke dalam gelasnya dan menyesapnya perlahan.

Kamu akan mendapatkan yang lebih baik suatu saat nanti. Jagalah dirimu dari para wanita yang hanya ingin singgah tanpa ada niat menetap selamanya. Kamu akan membenarkan ucapan Mommy jika waktu itu tiba. Wanita baik-baik akan menjaga martabatnya hanya untuk suaminya kelak.

Nasihat dari Maria Johnson selalu teringat di otak pintar Alex. Setelah kejadian itu, ia belum dekat dengan wanita mana pun. Mommy -nya akan menyanyi sepanjang hari bila dirinya bermain-main dengan wanita malam hanya untuk mencari kepuasan sesaat.

Tring ...

 Alex mengambil ponsel miliknya yang berada dalam saku jas. Ia membuka kunci ponselnya dengan menempelkan sidik jari salah satu tangannya. Dan membuka salah satu aplikasi pesan di sana.

Daddy

Pulanglah ke New York besok malam

Ada yang mau Daddy dan Mommy bicarakan denganmu

Daddy harap kamu tidak akan menghindar lagi

Alex mengusap kasar wajahnya. Ia merasa gusar. Kembali ke New York sama saja dengan membunuh dirinya pelan-pelan. Tapi ia tak mungkin menghindari kedua orang tuanya yang telah beberapa tahun ia tinggalkan. Laki-laki itu memberikan balasan yang telah ia pikir dengan cepat.

//Me

Alex akan pulang satu minggu lagi Dad,

Masih ada beberapa pekerjaan yang harus Alex kerjakan

Daddy dan Mommy tidak usah khawatir

Alex sudah tahu bagaimana harus bersikap

Alex tidak akan mengecewakan kalian lagi

Tak berapa lama pesan yang Alex kirimkan mendapat balasan.

Daddy

Bagus, Daddy tahu kamu pasti bisa

Mommy -mu pasti bahagia mendengar kamu pulang

Daddy akan segera memberitahu Mommy -mu

Setelah membaca pesan dari  Daddy -nya, Alex tersenyum tipis. Ia bisa membayangkan bagaimana wajah Maria Johnson saat ini.

Hari semakin larut, saat ini waktu menunjukkan pukul satu pagi. Alex berniat untuk pulang ke unit apartemen yang ia tinggali selama tiga tahun di California. Ia mengirimkan pesan singkat kepada Tommy agar sahabatnya itu tak mencarinya.

Setelah selesai membayar bill pesanannya, ia bergegas keluar menuju dimana mobilnya telah terparkir. Tapi tiba-tiba seorang wanita dengan balutan pakaian rapi yang sedang mabuk berat menabraknya. Wanita itu jatuh ke pelukannya sambil merancau dan memukul dadanya.

Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun berlalu, dadanya berdebar kencang. Wanita dengan harum vanila bercampur alkohol itu tampak pasrah saat Alex menggendong dirinya masuk ke dalam mobil laki-laki itu.

Alex sendiri seperti tak sadar dengan apa yang dilakukannya. Tanpa sadar ia terpikat pada pandangan pertama  pada wanita mabuk itu.

Dengan cepat otak pintar Alex merekam wajah dan penampilan wanita yang kini tampak terlelap dikursi samping kemudi. Alex segera melajukan mobil sportnya dengan kecepatan teratur menuju salah satu hotel berbintang di California.

Mobil sport Alex berhenti di area lobby Palace Hotel. Ia memberikan kunci pada valet parkir, sebelum menggendong wanita mabuk yang masih berada didalam mobilnya.

Pelayan hotel dengan sigap melayani pemesanan kamar Alex dengan cepat. Tentu saja, siapa yang tidak kenal dengan pemilik Johnson Corporation. Dan kebetulan hotel tersebut adalah milik salah satu relasi bisnis Alex.

Seorang pelayan mengantarkan Alex menuju salah satu kamar di lantai dua puluh enam. Di setiap lantai hanya ada dua unit kamar saja yang tentunya sangat luas. Bahkan kamar hotel itu lebih mirip rumah minimalis.

Hanya ada sebuah ranjang, lemari,  sofa dan satu kamar mandi. Tapi semuanya merupakan barang mewah. Harga sewanya pun tak main-main.

Alex membaringkan tubuh wanita mabuk itu di ranjang yang berada dikamar itu setelah pelayan yang mengantarnya keluar.  Tapi saat ia melepas kedua tangan wanita itu dari lehernya, tiba-tiba saja wanita itu menarik dirinya. Ia pun jatuh tepat di atas wanita yang kini mengumpati dirinya dengan kata-kata kasar.

‘Sepertinya ia baru saja dihianati

Dan kemungkinan dia memergoki kekasihnya dengan wanita lain.'

Tiba-tiba saja wanita itu menarik Alex untuk menempelkan bibir Alex ke bibirnya. Hanya menempel sebenarnya, tapi itu mampu memberikan efek yang luar biasa bagi Alex.

Sesuatu dalam diri Alex menggeliat dan terasa mendesak. Ada sentuhan lain yang tidak dirasakan sejak tiga tahun terakhir. Tiba-tiba Alex tak rela melepaskan bibir beraroma vanilla itu. Otaknya memerintahkannya untuk mencicipi bibir  manis itu.

Tanpa diduga Alex menggerakkan bibirnya untuk melumat bibir wanita di bawah tubuhnya sesuka hati. Rasa manis yang menyapa indra perasanya seakan membuatnya enggan melepaskan bibir wanita yang kini telah terlelap.

Tidak cukup sampai di sana, kedua tangan Alex turun meraba kedua payudara wanita itu dan meremasnya lembut. Ia tergoda untuk melakukan lebih, dirinya butuh pelepasan. Tapi saat rintihan wanita itu keluar Alex segera menghentikan pergerakannya.

‘Sial!!!

Kenapa aku bisa lepas kendali seperti ini

Fuck!!!

Wanita ini bisa membuatku gila’

Alex segera beranjak dari atas tubuh wanita itu. Ia meremas rambutnya untuk meredakan gejolak gairah yang menguasainya. Ia pun memilih pergi meninggalkan wanita itu sendirian di sana.

.

.

.

Bersambung ...

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED