Setelah menikmati ritual percampuran senjata, dua insan itu kelelahan. Tubuh Saga masih menindih Helda. Napas keduanya berimprovisasi dengan musik DJ yang masih berdendang.
“Thank you,“ ucap Helda.
“Kau menikmatinya?" tanya Saga memastikan.
“Sangat menikmati, kau cukup mahir, Manis,“ sahut Helda.
Kemudian, Saga bangkit lalu memunguti pakaiannya yang berserakan sembarang tempat. Kemudian kembali mengenakannya. Begitu pun dengan Helda. Dia mengenakan gaunnya kembali. Namun, sebelum itu Helda membersihkan lava sisa-sisa pencampuran tadi.
“Kau tidak masalah aku mengeluarkannya di dalam?" tanya Saga mastikan.
Dia takut jika suatu hari nanti ada hal-hal yang tak diinginkan terjadi.
"Jangan khawatir, aku memasang kontrasepsi,“ jawab Helda.
"Benarkah, tapi kau masih enak," celoteh Saga.
"Lain kali mau melakukan lagi?“ tanya Helda.
"Bagaimana dengan suamimu, apa tidak masalah?" kelakar Saga untuk berjaga-jaga.
"Aku janda, jadi kau tidak usah khawatir. Omong-omong, kau bekerja atau tidak?“ tanya Helda seraya mengenakan gaunnya kembali.
"Aku tidak bekerja, pengangguran, haha." Tanpa malu-malu Saga mengungkapkan keadaannya.
"Kau serius? Kupikir kau model atau aktor, kau sangat tampan tubuhmu juga bagus. Tapi, ada yang lebih bagus lagi ...“
"Apa itu?“ tanya Saga seraya menghampiri Helda yang tengah bersusah payah menutup resleting gaunnya.
Saga membantu menutupnya, lalu Helda menoleh dengan cepat. Diremasnya batang Saga yang kini sudah terkulai lemah.
"Juniormu yang membuat adikku sesak," goda Helda seraya meremas gemas dua butir bola sakti milik Saga.
"Jangan nakal, aku sudah lemas!" tepis Saga.
“Omong-omong, siapa namamu, Tampan?" tanya Helda.
"Saga.“
"Eumh, Saga, kau mau bekerja dengan enak dan dapat bayaran yang bagus, tidak?“ tawar Helda.
“Jika ada pekerjaan seperti itu, tentu aku menginginkannya,“ jawab Saga.
"Tentu ada, kau juga sangat memenuhi kriteria untuk pekerjaan tersebut, sampai-sampai membuatku merasa di surga," celoteh Helda.
“Maksudmu, pekerjaan seperti tadi?“ tanya Helda penasaran.
Helda mengangguk, lantas menyodorkan selembar kartu nama.
"Hubungi aku jika kau berminat, nanti kukenalkan kau pada kawan-kawanku,“ pesan Helda.
Lantas, dia memberi satu amplop cokelat berisi segepok uang merah. Entah berapa jumlah pastinya, yang jelas itu membuat kedua mata Saga nyaris ke luar.
Sontak, Saga tersenyum bahagia. Dalam keadaan setengah mabuk dia berjingkrak-jingkrak dan kembali memberi bonus sebuah ciuman panas pada Helda.
"Terima kasih, Honey.“
“Lain kali buat aku becek lagi, ya,“ sahut Helda.
“Akan kubuat kau banjir sampai pipis. Omong-omong mekimu enak dan wangi, aku menyukainya,“ aku Saga mulai berani.
"Tentu saja, next nikmati lagi sepuasmu, Sayang. Kita pilih tempat yang indah.“
Keduanya pun berpisah dan pulang ke rumah masing-masing. Setelah malam itu Saga mulai menikmati hari-harinya sebagai pria panggilan. Dan berkat itu pula, Saga kini menikmati hidupnya.
***
Saat ini ....
Saga memulai hari dengan berolahraga sebentar, dia pergi ke tempat gym di lantai bawah apartemennya. Kali ini Saga hanya ingin melakukan pemanasan sebelum dia melayani Helda malam nanti.
Tubuhnya yang kekar dan tinggi tegap menjadi aset baginya. Apalagi wajah tampan dengan brewok tipis ala-ala pemuda timur tengah pun membuat kesan gagah padanya. Kulitnya pun putih bersih, tentu saja Saga harus merawat dirinya dengan baik.
Setelah berolahraga, Saga pun membersihkan diri sebaik-baiknya. Dia tak ingin mengecewakan Helda. Sebab, wanita setengah tua itu adalah salah satu tambang emasnya.
Tanpa terasa, malam pun menjelang. Saga sudah bersiap dan hendak berangkat. Seperti biasa dia memilih menggunakan taksi. Tak ada alasan lain, hanya ingin privasinya lebih terjaga dan tak ada orang yang mengetahui pekerjaan dia sebenarnya.
Saga pun sampai di Hotel Diamond, dengan kemeja hitam yang dipadukan celana hitam sangat memesona. Saga melenggang menuju lobi untuk menemui Helda. Tak perlu waktu lama, Saga langsung diberi lampu hijau oleh resepsionis.
Di perjalanan menuju kamar, Saga menelepon Helda dan memberitahu jika dirinya sudah sampai di hotel. Helda menyuruhnya langsung masuk saja.
Sesampainya di depan kamar, tanpa ba-bi-bu Saga masuk seperti yang diperintahkan Helda.
Ternyata wanita cantik itu sudah menunggunya, dengan mengenakan lingerie maroon, begitu seksi. Cukup untuk membuat libido Saga bangkit.
"Sagaaa, I miss you so much,“ rintih Helga seraya menyambut tamunya itu.
“Aku tahu itu,“ sahut Saga kemudian merangkul tubuh seksi Helda.
Saga kemudian memeluknya dengan erat, mulai menciumi leher dan tengkuk Helda dengan liar. Menggesekkan jambangnya sehingga membuat Helda merasakan sensasi luar biasa bergairah.
"Enak, Sayang?" tanya Saga.
Tanpa menunggu jawaban dari Helda, Saga terus mencumbunya, bahkan di beberapa titik di leher Helda, Saga memberikan tanda merah. Setelah puas dengan leher dan membuat Helda meliuk-liuk dalam pelukan tangan kekarnya.
Saga meneruskan cumbuan pada hati kembarl Helda, dengan gemas dan penuh nafsu.
Namun, sejurus kemudian Helda yang sudah tak tahan membuka lingerie itu dan menanggalkannya di lantai. Saga mendorong tubuh seksi itu ke dinding, keduanya pun sempat menyenggol vas di nakas yang membuat vas terjatuh dan pecah.
Hal tersebut tak mengganggu kenikmatan itu, tanpa peduli keduanya terus bercumbu dengan semangat yang membara.
"Aaah, sssh, Saga," racau Helda.
“Apa, Helda? Kenapa, Honey, apa ini enak, boleh aku menggigit chocochipsmu?“ tanya Saga seraya sesekali mengerang.
"Gigit Sayang, jangan terlalu kencang, enak Sayang, ya begitu, aaah," racau Helda.
Puas dengan dada Helda, kini Saga ingin berpindah pada hal inti milik Helda. Saga memangku Helda dan mendudukkannya di meja yang ada di dekat ranjang.
Lantas, Saga melepaskan g-string yang Helda gunakan. Disentuhnya dengan lembut area sensitif itu dengan jari tengah dan menekannya perlahan.
"Aaah,“ desah Helda.
“Kau sudah basah,“ bisik Saga seraya terus memainkan jarinya di daging mentah yang memiliki aroma khas itu.
"Kau yang membuatku basah," sahut Helda, lalu memagut bibir Saga, sebentar.
"Gigit dia, Please," pinta Helda.
"Kau yakin?“ goda Saga.
Helda mengangguk seraya menggigit bibirnya.
Saga kemudian berjongkok di depan Helda, dia melebarkan kedua paha Helda. Hingga bongkahan mungil itu tampak di depan mata Saga.
Terowongan itu tak seperti milik seorang tante-tante masih menjepit dan selalu wangi. Saga tak ragu untuk mengeksekusi bahkan menggigit seperti yang Helda pinta.
Saga memainkan lidahnya dengan liar, di dalam terowongan itu. Helda merintih nikmat, menjambak Saga. Bahkan, sesekali menekan wajah Saga agar lebih masuk. Saga yang mendapatkan perlakuan itu justru lebih semangat, sesekali dia menggigit titik sensitif Helda.
Helda pun mendesah, lagi dan lagi, hingga akhirnya Helda tak bisa menahannya lagi. Lava hangat itu membanjiri lidah Saga.
"Maaf, Sayang," sesal Helda.
"Tidak apa-apa, aku menikmatinya,“ sahut Saga.
Helda pun membersihkan mulut Saga dengan tisu basah, kemudian perlahan mengecupnya.
***
“Kau puas?“ tanya Saga seraya memeluk tubuh seksi Helda.
"Cukup untuk saat ini," jawab Helda seraya mengalungkan kedua lengannya ke leher Saga.
"Bagaimana denganmu?“ tanya Helda menyadari jika Saga tak sampai klimaksnya.
"Di sini yang bertugas memuaskan itu, aku, Saga. Helda hanya sebagai penikmat saja,“ goda Saga sembari mengangkat tubuh Helda.
Mendapati perlakuan yang seolah memanjakannya, Helda pun tertawa riang seperti anak kecil yang tengah digendong ayahnya.
Helda memeluk Saga dengan erat. Lantas, Saga yang memang hasratnya belum sepenuhnya tersalurkan mulai menggoda Helda lagi. Saga membenamkan wajah berbulunya pada dada Helda yang memiliki bongkahan kenyal berisi itu. Wanita empat puluh lima tahun itu sepertinya pintar merawat diri. Sebab, seluruh anggota tubuhnya bagaikan gadis berusia dua puluh lima tahun.
Saga pun sangat puas dengan tubuh itu, pria yang usianya bertaut lima belas tahun lebih muda dengan Helga itu, tak pernah melewatkan sejengkal pun tubuh Helda untuk dijamahnya.
"Aku bisa on lagi, jika kau menggodaku seperti ini, Saga," lenguh Helda.
Wanita itu menahan suaranya, hingga membuat gairah Saga bangkit kembali.
"Kita harus bermain adil, Helda. Siapa yang akan memuaskan juniorku yang telah gagah perkasa ini? Hah?“ goda Saga seraya terus menggosok lembut jambangnya pada tengkuk Helda.
"Hentikan Saga! Bisa-bisa aku tidak ingin pulang jika kau terus mencumbuku," tepis Helda.
"Kenapa? Kau ada janji lain?“ tanya Saga.
Sepertinya pria itu harus rela menyelesaikan ritual kali ini dalam kondisi kepalang tanggung.
"Besok aku harus rapat ke luar kota, jadi malam ini aku harus menyiapkan semuanya. Sengaja aku menemuimu dulu, sebab aku tidak mau menahan rindu terlalu lama," jelas Helda.
"Kau punya pria lain. Ada pria lain yang akan menjamahmu, iya?" cecar Saga.
Nada bicaranya terkesan sedang cemburu. Padahal, keduanya sudah berkomitmen, jika tidak akan ada perasaan yang berarti di antara keduanya.
“Ayoklah Saga, bersikaplah profesional. Kau sendiri kan yang bilang jika kau hanya akan memuaskanku? Aku saja tidak pernah melarangmu untuk pergi dengan wanita lain," sergah Helda.
Wajah Saga mulai ketus. Lalu, dia menurunkan Helda dari gendongannya. Dia membiarkan Helda duduk di kasur. Jujur dalam hatinya, dia masih sangat ingin menikmati tubuh Helda. Tubuh yang selalu wangi dan bersih.
"Oke, baiklah, di sini kau bosnya," sahut Saga.
Pria muda berotot itu, berbalik badan dan pergi menuju kamar mandi. Yah, mungkin pada akhirnya dia harus menyelesaikannya secara mandiri.
“Jika kau mau pulang duluan, pulang saja! Malam ini aku akan tidur di sini, simpan saja uangnya di saku kemejaku!" pesan Saga tanpa menoleh ke arah Helda.
Helda yang menyadari kekesalan Saga pun merasa tak tega. Dia sangat tahu bagaimana rasanya jika sedang tinggi-tingginya, tetapi tak ada lawan untuk menyalurkan itu.
Helda melirik jam yang ada di dinding, setelah itu melempar tatapan lagi ke arah Saga yang semakin menjauh darinya. Merasa masih cukup waktu, Helda sedikit termenung, sampai dirinya melihat Saga hilang di balik pintu.
Helda tersenyum miring, bibir yang dipoles dengan merah delima itu tampak seksi dan anggun. Tak buru-buru dirinya pergi, hanya duduk dengan santai di kasur bersprei putih itu.
Sejurus kemudian, Helda bangkit dari duduk. Lalu dia berjalan mengendap-endap menuju kamar mandi. Wanita itu masih dalam keadaan telanjang bulat. Buru-buru dia membuka pintu kamar mandi yang tidak dikunci.
Lantas, dia masuk perlahan, menutup kembali pintu dan menguncinya. Sementara, Saga sama sekali tak menyadari kedatangannya. Mungkin tak terdengar oleh suara shower atau mungkin karena pria tinggi tegap itu tengah asyik bermain sendiri.
Helda membuka tirai pembatas. Sontak, Saga terkejut melihat Helda berada di sana. Tangannya yang sedang sibuk bermain pun seketika berhenti.
“Mau kubantu?" goda Helda seraya tersenyum manis.
Tanpa menunggu jawaban Saga, Helda masuk ke dalam area shower, lalu dia mendekatkan diri pada Saga. Membiarkan tubuhnya terguyur air hangat yang mengalir.
"Apa yang kau lakukan, katanya kau akan pulang?" tanya Saga.
“Setelah kupikir-pikir, aku tidak mau menyia-nyiakan lima belas jutaku hanya dengan bermain lidah," goda Helda seraya menggerayangi tubuh Saga.
"Tentu saja kau akan menyesal jika adikmu ini tak mendapatkan sentuhan juniorku, Sayang," sahut Saga.
Setelah saling menggoda, keduanya kemudian bercumbu penuh nafsu. Masih dalam guyuran Shower. Ketika Saga sudah tak tahan lagi, dia menghadapkan tubuh Helda ke dinding, menekannya hingga tubuh seksi itu menempel dengan dinding keramik putih.
Saga mulai mengarahkan batangnya yang sudah mengeras sedari tadi ke arah gua lembap Helda. Ditusukannya perlahan dari arah belakang. Tentu saja diiringi dengan erangan penuh gairah dari keduanya.
Saga mulai mendorong tubuhnya dan membuat batanya menembus gua Helda sangat dalam Helda merintih keenakan, bahkan pinggulnya sedikit meliuk tatkala merasakan nikmatnya cinta dari junior Saga.
Saga menaik turunkan tubuhnya teratur, lalu tangannya meremas bongkahan dada Helda seraya sesekali bermain dengan boba merah pucat, wanita cantik itu.
Lagi-lagi Helda merintih yang membuat Saga semakin bersemangat.
"Aah, eumh, ash, sh."
"Ssh, owh, ah, ah."
Keduanya saling bersahutan mengeluarkan suara pemersatu bangsa tersebut. Setelah bermain cukup lama dengan gaya tersebut. Helda sedikit menoleh ke wajah Saga yang berada tepat di samping wajahnya.
Helda menjulurkan lidah, memberikan kode pada Saga untuk mengulumnya. Tentu saja, itu bersambut dengan cepat.
Setelah puas bermain lidah, Helda pun berkata, "Aku ingin di atas.“
Saga pun mengangguk, lalu mencium bibir Helda dengan rakus. Dia mencabut juniornya sejenak.
Kemudian keduanya yang sudah basah kuyup itu mulai berpindah tempat menuju bathup. Saga mengi bathup dengan air hangat. Lantas, dia masuk lebih dulu dan duduk dengan kaki berselonjor, disusul Helda yang mendudukinya.
"Euumh."
Keduanya mendesah dengan nikmat saat alat tempur bertaut satu sama lain. Helda mulai bergoyang, membuat Saga pasrah karena rasa nikmat itu.
Perangai nikmat yang dipancarkan wajah Saga, membuat Helda tak kuasa bertahan. Apalagi, posisi itu membuat bagian di sana tersentuh dengan maksimal dan itu benar-benar membuatnya terasa di awan.
"Enak, Saga," racaunya.
"Heemh," sahut Saga.
"Helda, aku enggak tahan," rintih Saga.
"Argh, aargh, oowh."
Mendengar itu, Helda menggoyangkan pinggulnya lebih cepat lagi, lalu dinding rahimnya berdenyut kencang.
"Ah, Saga, aku keluar, Saga, tolong,“ racaunya seraya meraih tubuh Saga dan memeluknya dengan erat.
“Keluarkan, Sayang, terus,“ sahut Saga dengan napas memburu dan merasakan denyut dinding rahim Helda yang seolah menyedot batangnya.
Ritual pun selesai dengan ending yang membuat keduanya merasa puas. Saga memeluk tubuh seksi itu dan sesekali menekannya.
"Aargh,“ desah Helda.
Ya, Saga tahu jika dia menyukai hal tersebut. Memang tekanan itu terasa sangat enak ketika sesaat usai mencapai klimaks.
"Kau menyukainya?“
"Enak, Saga. Rasanya aku ingin memilikimu dan membiarkanmu setiap hari menyiksa adikku.“
***