Bab 2

Sidang skripsi pun tiba.

Sera bangun sangat pagi hari itu. Matanya masih berat, tapi semangat mengalahkan rasa kantuk.

"Hari ini... hari penentuan," gumamnya sambil menatap diri di cermin.

Ia mengulang presentasinya untuk terakhir kali di kamar kos. Beberapa kali ia menghela napas, mencoba menenangkan diri.

"Harus bisa. Harus lancar. Nggak boleh gugup."

Setelah berdandan rapi, mengenakan kemeja putih dan rok span hitam, ia segera menuju kampus. Di depan ruang sidang, Indira sudah menunggu sambil memainkan ponsel.

"Sera sini."

Sera menghampiri Indira yang tengah berdiri.

"Gimana penampilan gue? Formal enough?" tanya Sera sambil memutar sedikit tubuhnya.

Indira memandang sahabatnya dari atas sampai bawah, lalu mengangguk puas.

"Lo udah cakep banget. Elegan. Calon sarjana banget deh," jawab Indira sambil mencubit pipi Sera.

Sera nyengir, tapi tetap kelihatan tegang. "Deg-degan banget, sumpah. Tangan gue dingin nih."

Indira menggenggam tangan Sera. "Tarik napas... Buang. Lo udah siap. Gue yakin lo bisa."

Satu jam setengah Sera berada dalam ruang sidang. Sera keluar dengan wajah yang sangat bahagia dan lega. Ia lulus dalam sidangnya.

"Gue lulus." Ucap Sera.

"Aaa congrats bestii." Ucap Indira sangat senang lalu memeluk Sera.

Tidak lupa Sera mengabari orang tuanya serta kakaknya yang berada jauh di desa dengan melakukan panggilan video.

"Ibu, bapak sangat bangga sama kamu, nak."

"Kaka juga bangga."

Orang tua Sera sangat bangga putrinya itu menjadi sarjana.

Setelah mengabari keluarga Sera dan Indira berfoto ria, sampai Sera menyadari pacarnya itu tidak kelihatan bahkan chat pun tidak.

"Dia ko ngga keliatan?"

"Ngga tau juga,"

Sore itu mereka mampir ke kafe dekat kampus. Sera mentraktir Indira sebagai bentuk syukur.

Ponselnya berdering. Ada pesan dari Bagas.

Bagas: "Datang ke taman dekat kampus, ya."

Sera penasaran, tapi tetap datang. Ia duduk menunggu di bangku taman. Tak lama, seseorang menutup matanya dari belakang.

"Selamat atas kelulusannya sayang." Ucap Bagas sambil memberikan buket bunga.

"Ya ampun Bagas."

"Aku kira kamu lupa hari ini aku sidang." Ucap Sera cemberut.

"Ya ngga dong sayang masa lupa." Bagas mengelus kepala Sera.

Setelah itu, Bagas mengajak Sera berkeliling naik motor, menikmati senja di pantai. Hari itu sempurna bagi Sera.

***

Beberapa hari berlalu. Sera menikmati masa bebas sebelum wisuda. Tak ada kuliah, tak ada tugas. Tapi ponselnya terus berbunyi. Notifikasi dari grup kelas.

Ketua Kelas: "Info wisuda sudah keluar ya. Cek file, biaya dan kelengkapannya."

Sera mengeluh sambil menggaruk kepala. "Aduh, harus cari kerjaan nih..."

Perutnya keroncongan. Stok mi instan di kos sudah habis. Ia putuskan beli makan ke warteg dekat kos.

Setelah mendapat nasi beserta lauknya Sera segera pulang karena perutnya sudah sangat lapar.

Di perjalanan pulang, ia melihat seorang ibu-ibu berdiri di pinggir jalan, hendak menyebrang. Tapi dari arah kanan, motor melaju kencang.

"Bu! Awas!" teriak Sera.

Ia berlari secepat mungkin dan menarik sang ibu ke trotoar. Nasi bungkus di tangannya jatuh, isinya berserakan di aspal.

"Ibu nggak apa-apa?" tanya Sera panik.

"Alhamdulillah. Terima kasih ya, nak. Kamu udah tolong saya." ujar sang ibu sambil menepuk-nepuk dadanya.

Sera tersenyum kecil, lalu menatap nasi yang tumpah.

"Iya sama-sama bu."

"Bagaimana dengan kamu?" Tanya balik ibu.

Sera menggeleng seraya melihat ke arah nasi nya yang tumpah.

"Oh ya ampun itu nasi kamu?maaf gara-gara saya nasi kamu jadi jatuh." Ucap Ibu itu merasa tidak enak.

Restoran kharisma. Disinilah Sera sekarang berada, ibu itu mengajak Sera untuk makan sebagai ganti makanan nya yang jatuh. Sera sudah menolak tidak apa-apa padahal tapi ibu itu terus memaksa, yasudah Sera mau lagian ia juga sudah lapar sekali.

"Oh ya nama kamu siapa nak?" Tanya ibu itu.

"Nama saya Puja Sera bu, biasa dipanggil Sera. Ya memang nama saya seperti food court. Hehe. "

"Nama yang bagus ko."

"Perkenalkan nama saya Rita. Panggil saja mamih Rita." UcapRita.

Dari penampilan nya sih Sera yakin kalo ibu-ibu ini orang kaya seperti ibu-ibu sosialita.

Makanan mereka sudah habis, Sera sangat kenyang setelah makan makanan mahal yang bahkan ia belum pernah membelinya.

"Terimakasih bu traktiran nya." Ucap Sera.

"Ini mah belum seberapa dengan kejadian tadi, kamu yang sudah menolong saya."

"Apakah kamu butuh sesuatu?" Tanya Rita.

"Sebenarnya saya butuh pekerjaan." Ucap Sera.

"Kebetulan saya sedang mencari guru les privat untuk cucu saya. Bagaimana?" Tawar Rita.

"Soal gaji tenang saya akan memberikan lebih." Ucap Rita.

Sera sempat berpikir mau kemana lagi ia mencari pekerjaan dengan cepat dan gaji yang besar. Sementara ia harus segera membayar administrasi, uang kos an dan kebutuhan lainnya, selagi menunggu wisuda daripada nganggur dan cari sana-sini belum tentu dapat, lagian pekerjaan yang ditawarkan nya sesuai dengan kuliahnya. Akhirnya Sera mengiyakan tawaran itu.

"Biar saya antar pulangnya." Ajak Rita.

"Tidak usah bu." Tolak Sera.

"Udah ayo."

Rita memanggil supirnya, kini mereka dalam perjalanan ke kosan Sera.

"Kamu tinggal bersama orang tua?" Tanya Rita.

"Saya nge kos bu." Ucap Sera.

Perjalanan diisi dengan obrolan ringan. Sera menceritakan kehidupannya. Rita tampak kagum.

"Jarang saya temui anak muda seperti kamu," ucap bu Rita.

Menurut Rita, Sera adalah gadis yang sangatlah baik. Pertemuan pertama mereka aja Rita sudah sangat klop. Rita pun memberikan alamat rumahnya agar Sera bisa datang besok.

Bab 3

Malviya house

Rumah mewah dan megah, bercat putih, pagarnya pun menjulang tinggi selain itu keamanan nya pun sangat ketat. Ternyata benar dugaan Sera bu Rita itu orang kaya. Sera memasuki halaman rumah mewah itu setelah diizinkan masuk oleh satpam. Sera terus berdecak kagum, baru halamannya saja sudah sangat luas, dihiasi bunga-bunga yang cantik. Sera memencet bel rumah mewah itu.

Tak lama seorang asisten rumah tangga membukakan pintu.

"Selamat pagi, Mbak Sera ya? Silakan masuk," ucapnya.

Langkah Sera terasa ringan tapi canggung. Matanya menari-nari, mengagumi interior rumah. Langit-langit tinggi, lampu kristal menggantung indah, furniture serba elegan. Jantungnya berdegup lebih cepat.

"Eh nak Sera." Sapa Rita.

"Selamat pagi, bu." Sera tersenyum ramah.

"Ayo duduk dulu." Ucap Rita.

Sera merasa sedikit gugup duduk di sofa mewah ini.

"Santai aja Ser."

Rita memberitahu Sera bahwa cucunya itu berusia empat tahun. Rita juga memperkenalkan suaminya yang bernama Brata.

"Oma.. " Teriak anak kecil menghampiri Rita.

"Sayangnya oma."

"Nah anak ini yang akan kamu ajari, namanya Aydan Pratama Malviya."

"Hallo anak ganteng." Sapa Sera.

Aydan terus memperhatikan wajah Sera mungkin wajah yang baru ia lihat.

"Hallo, kaka namanya siapa?" Tanya Aydan.

"Nama kaka Sera." Ucap Sera gemas.

"Nah sayangnya oma kaka ini yang akan mengajari kamu berhitung, membaca dan mewarnai." Jelas Rita.

"Yey Aydan punya temen baru." Ucapnya Senang.

Rita tersenyum senang. "Aydan ini memang anaknya cepat akrab. Harusnya dia masuk PAUD, tapi Papahnya maunya privat aja dulu. Nanti umur lima tahun baru masuk TK."

Hari pertama les, Sera mulai mengajari Aydan menulis huruf abjad. Anak itu antusias, coretan tangannya memenuhi buku.

"Ini huruf A ya, Kak?"

"Iya, pintar! A buat...?"

"Aydan!" jawabnya mantap.

Tak terasa waktu berlalu. Seorang ART, Bi Wati, muncul di depan pintu.

"Aydan waktunya makan siang, kita ke bawah dulu yu." Ajak Bi Wati asisten rumah tangga.

"Tapi Aydan maunya sama kaka cantik." Ucap Aydan.

"Ayo kaka temenin." Putus Sera.

"Anak pintar." Ucap Sera sambil mengelus kepalanya gemas.

Ngomong-ngomong soal papah dan ibunya Aydan dari tadi Sera tidak melihatnya. Bu Rita juga tidak membahasnya. Tapi yasudahlah Sera kan kesini hanya untuk kerja.

Aydan nggak mau disuapin?"

"Nggak ah. Kata Papa, Aydan udah gede, bisa makan sendiri!"

Sera tersenyum bangga. "Wah, keren banget dong."

Setelah belajar selesai, Sera hendak pamit. Tapi Aydan menahan tangannya.

"Jangan pulang dulu, Kakak! Main sama Aydan dulu!"

Sera melirik Rita, ragu.

Rita mendekat. "Sera, boleh ya hari ini nemenin Aydan sebentar. Dia itu kalau udah suka sama orang, nempel banget. Kalau ditinggal, bisa ngambek sampai ngurung diri."

Sera tertawa canggung. "Ya sudah, nggak apa-apa Bu. Sekalian nemenin nonton kartun deh."

"Aydan jika sudah suka dengan seseorang seperti itu dan buruknya akibat papa nya selalu memanjakannya jika keinginannya tidak dituruti ia akan marah dan mengunci dirinya di kamar seharian tidak ada yang bisa membujuknya kecuali keinginannya dituruti."

Mereka duduk di ruang TV, menonton Spongebob dan Patrick. Aydan tertawa cekikikan, sesekali melirik Sera.

"Kak Sera, kamu suka Spongebob juga?"

"Dulu waktu kecil, Kakak nonton itu tiap pagi sebelum sekolah," jawab Sera.

"Berarti Kakak kayak Aydan dong!"

Beberapa menit kemudian, suara Aydan mulai menghilang. Sera menoleh, anak itu sudah tertidur pulas di sofa.

"Duh, tidur beneran..." gumam Sera.

Dengan hati-hati, ia menggendong Aydan ke kamarnya. Untung tubuhnya ringan. Setelah menyelimuti Aydan, Sera memperhatikan dekorasi kamar Aydan.

Warna putih abu yang bersih, penuh mainan. Tapi satu hal yang membuat Sera bertanya-tanya, tidak ada foto orangtua Aydan.

"Hm... aneh juga. Tapi bukan urusanku," batinnya

Sore menjelang. Aydan bangun, dan mereka kembali bermain ringan. Setelah Aydan mandi, Sera bersiap pulang.

Rita sempat menawarkan, "Kalau mau, kamu tinggal aja di sini. Lebih gampang."

Sera menggeleng halus. "Terima kasih Bu, tapi saya masih betah di kos."

Rita mengangguk mengerti. Sera melangkah ke pintu depan.

"Papah.. " Teriak Aydan menghampiri Papahnya yang baru pulang kerja.

Sera penasaran dengan papahnya Aydan, ia pun mendongak ke arah Aydan berlari. Mata Sera langsung melotot.

"Orang itu yang mobilnya gue tabrak?" Gumam Sera.

Ya dia adalah Aderlad Sehan Malviya. Jadi ternyata dia itu adalah papahnya Aydan sama saja dia adalah majikan Sera.

"Mampus gue." Ucap Sera menepok jidatnya.

Sera segera menutupi wajahnya dengan masker dan topi untung dia membawa masker dan topi.

Sehan segera menggendong putranya itu.

"Papah kenalin ini kaka cantik sekarang aku punya teman baru." Ucap Aydan polos.

"Huftt." Sedikit lega untung Aydan tidak menyebut nama Sera.

Sehan memang sudah diberitahu akan ada guru les privat yang mengajar Aydan sesuai permintaannya.

Sera menunduk saja.

"Kalo gitu saya pamit dulu." Ucap Sera.

Satu langkah

Dua langkah

Tiga langkah

"Tunggu." Perintah Sehan.

Sera diam mematung jantungnya berpacu dengan cepat.

"Ada apa?" Tanya Sera.

"Lain kali besok kesini nya lebih pagi." Ucap Sehan.

Sera hanya mengangguk lalu segera keluar dari rumah itu. Sera menunggu ojek online yang ia pesan karena tidak membawa motor.

Sehan yang melihat kepergian guru les anaknya itu hanya geleng-geleng kepala. Tidak mau tau urusannya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED